Ring
Characters: Baekhyun, Chanyeol, Jongin (Kai), Kyungsoo, Xiumin, Sehun, and others
Pairing: Chankai, Chanbaek (slight)
Warning: BL
Rated: T-M
Boomiee92
Big Cola, Pocari Sweat, Club dan wifi gratis asyik, asyik…. Happy Reading
Previous
Jongin mengendikkan bahu. "Itu—terdengar menjijikkan." Chanyeol tertawa pelan. "Aku ingin kabur dari sini, kau?" Chanyeol menjawab pertanyaan itu dengan anggukan mantap.
Tangan kanan Jongin bergerak meraih tangan kiri Chanyeol, menggenggamnya erat, menarik si pemilik tangan itu keluar dari ruangan besar nan megah yang entah mengapa terasa begitu panas dan sesak.
Suara tepuk tangan dan riuh rendah para penonton terdengar semakin seru, Suho dan Baekhyun mungkin masih berciuman, namun Chanyeol kali ini akan bersikap acuh dan memilih memandangi angka 21, angka favoritnya yang tercetak pada punggung kaos Football Jongin.
Bab Tujuh
"Terima kasih sudah meminjamkan mobilmu." Jongin menyerahkan kunci mobil kepada Chanyeol. keduanya berada di atap apartemen Chanyeol, karena di dalam ada pertemuan keluarga yang pasti sangat membosankan.
"Motormu?" Chanyeol melirik Jongin yang duduk berjarak di sampingnya.
"Kapan-kapan saja, jika situasi sudah aman. Aku bisa mati jika keluargaku tahu aku masih mengendarai motor."
"Oh." Balas Chanyeol datar. Ia melirik Jongin dari ekor matanya. "Kenapa kau tidak mengatakan apa-apa tentang keluargamu?"
"Pernikahan kita hanya pura-pura, seandainya kau bukan orang terkenal pasti tidak akan serumit ini."
"Maaf." Gumam Chanyeol. "Tapi sudah terlambat untuk menarik semuanya bukan?" Jongin menghembuskan napas kasar.
"Setelah menikah—sebaiknya kita melakukan penyelidikan terhadap Baekhyun dan kakak tirimu."
"Kau benar. Jika semuanya jelas lalu…,"
"Kesepakatannya kita akan bercerai setelah satu tahun atau saat kita menemukan cinta masing-masing, jika kau punya jalan untuk kembali pada Baekhyun, kita bercerai."
"Mudah sekali kau mengatakannya."
"Kenapa tiba-tiba kau berubah pengecut Chanyeol?" Jongin melihat tatapan ragu-ragu dari Chanyeol. "Kau memikirkan nama baikmu dan juga keluargamu kan? Tidak perlu dijawab, aku sudah tahu. Seharusnya mulut besarmu tidak perlu mengatakan apa-apa saat itu."
"Cukup, aku tidak ingin bertengkar denganmu, setelah menikah kita lakukan penyelidikan, tapi darimana?"
"Serahkan saja pada Kyungsoo hyung, dia jenius."
"Benarkah?"
Jongin tersenyum tipis. "Sudah terlalu banyak orang yang meremehkan Kyungsoo hyung, aku sudah terbiasa mendapat tatapan seperti itu."
"Udaranya mulai dingin, musim gugur semakin dekat." Chanyeol mengalihkan topik pembicaraan, entah mengapa memikirkan perceraian terasa janggal sekarang.
"Kau benar." Gumam Jongin, pelan.
"Sepertinya kita melakukan hal yang hampir sama."
"Apa?" Jongin menoleh menatap Chanyeol.
"Memberontak dari keluarga. Kau kabur dan menjadi fotogafer alam liar, sedangkan aku menolak masuk universitas dan mengejar mimpiku menjadi seorang penyanyi." Chanyeol mengakhiri kalimatnya dengan sebuah cengiran lebar.
Jongin terdiam, menimbang-nimbang kalimat Chanyeol. "Ya, aku rasa kali ini kau benar. Kau dan aku sama-sama bocah pembuat onar." Chanyeol tertawa pelan mendengar kalimat Jongin.
"Maaf aku menciummu."
"Hmm."
"Kau tidak marah?"
Jongin menggaruk pelipisnya. "Aku bingung dengan semua sifat dan kelakuanmu, jadi aku juga bingung harus bagaimana." Jongin tersenyum.
Chanyeol menelan ludahnya kasar, Jongin terlihat sangat manis sekarang. Cepat-cepat Chanyeol memalingkan wajahnya. Ia tidak ingin jatuh dalam pesona Jongin, karena hatinya masih untuk Baekhyun. Dan tujuan pernikahan ini hanya untuk mendapatkan kebenaran dari pernikahan Suho dan Baekhyun, juga agar dirinya terlihat tidak kalah telak.
"Kalian di sini rupanya. Kalian diminta masuk." Xiumin datang untuk memberitahu dua orang yang terlihat duduk dengan canggung.
"Ayo." Chanyeol berdiri dari duduknya, bergegas menghampiri Xiumin tanpa menoleh ke belakang untuk menatap Jongin. Jongin mengekor tanpa memikirkan apa-apa.
Chanyeol melangkahkan kedua kakinya menuruni tangga dengan cepat mengikuti Xiumin yang berjalan memimpin. Jongin hanya berjalan pelan, tidak terlalu antusias, apa dirinya tegang? Tentu saja tidak, ini bukan sungguhan, jadi Jongin menganggap semua ini hanya permainan dan kontrak kerja yang harus ia laksanakan.
Tangga spiral yang menghubungkan atap dengan apartemen Chanyeol berada di ruang keluarga, membuat keduanya langsung berhadapan dengan delapan pasang mata setelah anak tangga selesai dilalui. "Ikuti Chanyeol," bisik Xiumin, Chanyeol sendiri sudah melangkahkan kakinya menuju salah satu sofa yang berhadapan dengan sofa yang Suho dan Baekhyun tempati.
"Hmm," gumam Jongin, menurut.
Jongin duduk di samping Chanyeol, Jongin tahu jelas jika pandangan Chanyeol kini sedang tertuju pada Baekhyun. Jongin juga tidak mengerti kenapa Baekhyun harus selalu ada dimanapun Suho berada.
"Jadi kalian akan langsung menikah tanpa bertunangan terlebih dulu?" nyonya Kim, ibu Jongin membuka percakapan.
"Ya, kami memutuskan untuk langsung menikah."
"Kami setuju kalian langsung menikah." Kini giliran nyonya Park yang angkat bicara. "Tapi bagaimana konsep pernikahan kalian? Katakan saja akan kami penuhi semua."
"Sederhana saja dengan tamu undangan terbatas, aku ingin menikah di ladang gandum yang terletak di pinggiran Seoul." Ucapan Chanyeol membuat semua orang membelalakkan mata, tak percaya.
Jongin sendiri juga tak habis pikir, tapi dia tidak akan memprotes karena dulu dia sudah mengatakan akan menyerahkan semuanya pada Chanyeol. Tapi menikah dengan sederhana sepertinya tabu untuk para kalangan atas.
"Ehmm—kalian menikah tergesa-gesa dan ingin melakukannya secara diam-diam, maksudku tanpa pesta mewah dan sebagainya. Apa kalian sudah melakukan tindakan diluar batas?" Suho melempar tatapan penuh selidik kepada Chanyeol dan Jongin.
"Itu bukan urusanmu Hyung." Balas Chanyeol singkat.
"Ahh..," Suho bersandar pada sofa dengan angkuh. "Jangan lupa memberi kabar baik kepada keluarga kalian."
Jongin tidak tahan lagi dengan semua tindakan angkuh Suho yag memojokkan Chanyeol. "Kami tidak pernah melakukan sesutau di luar batas, mungkin aku dan Chanyeol pembuat onar tapi kami tahu batas, Chanyeol juga tidak merebutku dari siapa-siapa."
Jongin melihat tatapan amarah dari Suho, dia tidak suka dengan kalimat yang baru saja diucapkannya. "Maaf, apa aku menyinggung seseorang di sini?" Jongin bertanya dengan wajah polos. Chanyeol tersenyum tipis, di dalam hati berterimakasih atas kalimat pedas Jongin.
"Baiklah, jadi kapan pernikahan kalian berlangsung?" kali ini tuan Kim Taemoo, ayah Suho dan ayah tiri Chanyeol mengalihkan topik pembicaraan untuk meredam suasana yang mulai panas.
"Xiumin hyung." Chanyeol melirik menejer terbaiknya, atau satu-satunya menejer yang mampu bertahan dengan dirinya.
"Lima hari lagi karena pekerjaan Jongin sudah sangat banyak, jadi pernikahan tidak bisa ditunda lagi. Semua sudah dipersiapkan dengan baik. Setelah upacara pernikahan keduanya akan langsung terbang ke pulau Jeju."
Jongin berusaha untuk meredam detak jantungnya, semuanya terlalu tiba-tiba dan terlalu rinci. Dirinya mulai menyesali keputusan untuk membantu Chanyeol, melihat wajah-wajah seluruh anggota keluarga yang telah mereka bohongi, Jongin hanya bisa berharap mereka tidak akan terlalu kecewa mendengar kabar perceraian nanti.
"Baiklah, kami setuju-setuju saja, aturlah dengan baik dan beri kami kabar." Ucap tuan Taemoo.
Chanyeol menoleh menatap Jongin, dia tahu harus menjelaskan semuanya secara detail kepada Jongin. Dan sekarang adalah saat yang tepat, kebetulan sebagai alasan agar dirinya bisa pergi dari ruang keluarga, tidak tahan melihat kedekatan Suho dan Baekhyun. "Saya dan Jongin pergi dulu karena semuanya sudah diatur Xiumin hyung." Ucap Chanyeol seenaknya, ia berdiri dari sofa dengan menggandeng Jongin, melangkah pergi dari ruang keluarga yang terasa seperti medan perang baginya.
Xiumin hanya bisa mengumpat di dalam hati, sekali lagi dia harus menerima tanggung jawab sepihak dari Chanyeol. "Benar, Anda semua bisa bertanya detailnya kepada saya." Ucap Xiumin sambil tersenyum lebar, meski marah dia mengerti Chanyeol berada dalam situasi yang sulit, dan dia harus membantu Chanyeol sebagai seorang kakak laki-laki yang baik.
"Tunggu kalian tidak perlu pergi, kami yang akan pergi karena kami sangat sibuk." Ucap tuan Taemoo yang diangguki oleh semua orang, Suho, nyonya Kim, dan nyonya Park. Dan semua orang yang ada di ruang keluarga berdiri bersiap untuk pergi kecuali Xiumin.
Chanyeol tidak ingin mengantar semua orang ke depan pintu, namun jika tidak melakukan hal itu dia pasti dianggap tak sopan. "Chanyeol, di tempat parkir aku melihat ada motor terparkir di dekat mobilmu, kau tahu milik siapa itu?"
Jongin berharap Suho tidak bersikap lebih menyebalkan lagi atau dirinya akan lepas kendali dan melayangkan bogem mentah ke wajah mulus Suho. Dari ekor matanya, ia bisa melihat lirikan tajam membunuh khas ibunya. "Aku tidak melakukan apa-apa Ibu percayalah." Ucap Jongin pelan.
"Itu milikku Hyung, dan sekali lagi bisakah kau tidak mencampuri urusanku."
"Park Chanyeol." peringat tuan Taemoo.
"Kenapa? Apa aku salah? Kehidupan pribadiku sudah cukup banyak terekspos aku ingin memiliki sedikit privasi, jadi bisakah kalian tidak bertanya sesuatu yang tidak aku sebutkan? Jangan mendahuluiku, mungkin saja aku tidak ingin membicarakan sesuatu itu."
Chanyeol terus menggenggam tangan kanan Jongin, memaksa pemuda berkulit kecoklatan itu untuk berdekatakan. Setelah sedikit beramah tamah semua orang keluar dari apartemen. Namun, Baekhyun sepertinya sengaja berjalan lebih lambat. Suho berjalan di depan mendampingi ayah dan ibunya.
"Kau sengaja melakukannya kan?" Baekhyun tiba-tiba berhenti dan berbalik menatap Chanyeol.
"Sengaja apa?" Chanyeol melempar pertanyaan kembali dengan nada datar dan tatapan malas.
"Menggelar pesta pernikahan sederhana, di pinggiran Seoul, di ladang gandum."
"Baekhyun aku tidak mengerti dengan ucapanmu."
"Chanyeol…," geram Baekhyun. "Aku pernah mengatakan tentang impianku menikah dengan gaya pesta kebun sederhana…,"
"Kau terlalu naïf Byun Baekhyun." Potong Chanyeol cepat, ia tarik Jongin untuk pergi bersamanya meninggalkan Baekhyun.
"Chanyeol!" protes Jongin saat ia rasa genggaman tangan Chanyeol semakin kuat dan langkah kaki Chanyeol yang semakin cepat menyeretnya. "Kau mau kemana?! Jangan libatkan aku saat kau marah!"
Chanyeol tiba-tiba berhenti, ia lepaskan tangan Jongin dari genggamannya. Tawa terdengar dari mulut Chanyeol. "Aku sangat menyedihkan bukan?" Jongin hanya berdiri menatap punggung Chanyeol, tidak tahu harus melakukan apa. "Aku ingin pesta pernikahan megah di Grand Hyat, sedangkan Baekhyun ingin pesta pernikahan sederhana di ladang gandum, kebun, atau sejenisnya. Suho sudah melaksanakan pesta pernikahan mewah, mengejekku, dan ya—aku balas dendam sekarang. Kau bisa pulang, aku yakin masih banyak hal yang lebih penting yang harus kau kerjakan hari ini."
"Aku belum bisa pulang—aku ingin bertanya banyak hal pada Xiumin hyung."
"Tidak perlu, aku akan menjemputmu besok pagi untuk fitting baju dan menunjukkan padamu lokasi pernikahan kita."
Jongin mengerti jika Chanyeol sedang tidak ingin diganggu sekarang, jika dirinya bersikeras justru akan berakibat buruk. "Aku—permisi dulu kalau begitu, sampai jumpa Park Chanyeol." Jongin memilih menyerah. Dan kembali pada sikap acuhnya.
Mobil yang sudah dikembalikan, Kyungsoo yang sibuk mengurus sesuatu, dan motor yang masih berada di apartemen Chanyeol. Membuat seorang Kim Jongin pulang menggunakan bus umum. Dirinya langsung menjadi pusat perhatian, namun tidak ada yang melakukan tindakan esktrim seperti mengambil gambar, memeluk, atau semacamnya.
Bus berhenti, dan sepertinya para penumpang lain sengaja membuat Jongin turun paling akhir. "Apa mereka membenciku karena menikahi Chanyeol?" bisik Jongin pada dirinya sendiri.
Dari tempat pemberhentian bus, Jongin harus berjalan kaki kira-kira satu kilometer untuk sampai ke gedung apartemen tempat tinggalnya.
Red café adalah tempat favorit Sehun untuk melepas lelah setelah menyelesaikan jadwal, hari inipun tak berbeda. Sehun berada di lantai dua, ia duduk di meja yang terhalang oleh pot bunga, bersama Chen menejernya. Tidak ada yang bisa melihat keberadaan Sehun berkat jasa baik pot bunga dengan palem mini di dalamnya.
"Setelah ini ada waktu sekitar dua jam sebelum jadwal lainnya." Chen memberitahukan jadwal yang akan Sehun laksanakan hari ini, jadwal yang ia rinci dengan sangat baik, namun diabaikan dengan sangat baik pula oleh Sehun.
Sehun duduk menumpukan kedua sikunya ke atas meja, bertopang dagu, pandangannya beredar keluar kafe, memperhatikan jalanan sibuk dan gedung-gedung tinggi membosankan. Bus berhenti tidak ada yang menarik, penumpang turun, sudah biasa. "Jongin," gumam Sehun, ia menajamkan penglihatannya, dan pemuda yang tengah berjalan di trotoar itu benar-benar Jongin.
"Hei!" pekik Chen saat Sehun berdiri dari kursinya dengan tiba-tiba, Sehun acuh dan memilih berlari pergi, menarik perhatian semua pengunjung kafe, beruntung para pengunjung terlalu terkejut dengan kehadiran Sehun sehingga mereka tidak sempat meminta foto atau tanda tangan.
Sehun berlari cepat menyusuri trotoar, beruntung Jongin berjalan cukup lambat sehingga dia tersusul. "Jongin! Kim Jongin!"
Pemuda berkulit eksotis itu berhenti, menoleh, dan melempar tatapan malas. Sehun tersenyum lebar, menghampiri, merangkul pundak Jongin seenaknya. "Apa yang kau lakukan di sini?" Jongin bertanya sambil melepaskan tangan Sehun dari pundaknya.
"Aku pelanggan setia Red café, aku berkunjung untuk makan siang. Kau darimana?"
"Chanyeol." Jongin menjawab singkat, mengabaikan tatapan tak suka dari seorang supermodel Oh Sehun.
Sehun membuka bibirnya untuk mengatakan sesuatu kepada Jongin namun "Oh Sehun! Itu Oh Sehun! Dia tampan! Sehun oppa!" teriakkan kencang itu menggagalkan semuanya.
Serempak Sehun dan Jongin menoleh ke belakang, di sana sudah ada puluhan atau mungkin ratusan fans yang didominasi para kaum hawa, meneriakkan nama Sehun histeris. "Oh tidak!" pekik Sehun panik.
Jongin bisa saja bersikap acuh dan pergi, membiarkan Sehun menghadapi para fans beringasnya seorang diri. Tapi, sebagai seorang manusia yang baik, dan berjiwa sosial, timbul rasa peduli di hati Jongin untuk menolong Sehun. "Kau tidak suka dengan mereka?" Jongin bertanya, keduanya kini berjalan cepat.
"Ya, mereka cukup berbahaya." Balas Sehun.
"Hmm." Jongin hanya bergumam. Ia genggam tangan kiri Sehun dan mengajaknya berlari. Sehun terkejut, tapi dia tidak memiliki waktu untuk bereaksi.
"Sehun!" teriakkan semakin beringas. Berbanding lurus dengan kedua kaki jenjang Sehun dan Jongin yang bergerak cepat.
Jongin menolehkan kepalanya ke belakang. "Kau bisa lari lebih cepat lagi kan?!" teriakknya. Sehun mengangguk. "Bagus!" teriak Jongin di dalam hati. Sehun merasakan genggaman tangan Jongin yang semakin erat, tanpa sadar ia tersenyum bahagia. Rencananya berhasil dengan sukses.
Jongin berbelok tajam memasuki gang sempit yang tercipta akibat dibangunnya dua gedung tinggi dalam jarak yang berdekatan. Gang itu sangat sempit, lembab, tanpa sinar matahari, keduanya berdiri berhadapan, berhimpitan. Sehun tersenyum simpul, sementara kedua mata Jongin dengan awas melihat keadaan di sekitar. Gang yang gelap membuat siapapun yang melintas di depan tidak akan tahu ada orang yang bersembunyi di sana. Namun, Jongin belum bisa merasa lega sebelum para fans itu pergi.
"Sehun oppa!" teriakkan fans menggila, Jongin berharap mereka lolos dari drama mengerikan ini.
Sehun bisa mendengar detak jantung Jongin yang bergemuruh, napas Jongin yang hangat dan memburu. Kedua matanya sudah beradapatasi dengan tempat yang minim cahaya. Ia mampu melihat Kulit leher Jongin yang kecoklatan, lembab karena keringat, berkedut karena aliran darah, dengan cukup jelas, menggodanya untuk menikmati leher jenjang itu.
"Sehun oppa!" suara derap langkah semakin terdengar kencang, Jongin menutup kedua matanya, jika para fans itu melihat, habislah.
Sehun dengan lancang melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Jongin, menarik tubuh Jongin mendekat, memeluknya erat. Jongin yang terlalu cemas tidak menyadari hal itu.
Aroma manis parfum Jongin yang bercampur dengan keringat memenuhi seluruh rongga penciuman Sehun. Memabukkan, aromanya lebih nikmat dibanding wine terbaik yang pernah Sehun cicipi.
"Sehun menghilang!"
" Dimana dia?"
" Sepertinya aku melihat dia dengan seseorang."
"Bukan Chen oppa sepertinya."
"Siapa ya?! ah kita kehilangan jejak."
Jongin menghembuskan napas lega, saat mendengar derap-derap langkah yang kian menjauh. Lehernya terasa lembab dan geli, awalnya Jongin berpikir bahwa itu adalah tetesan air pendingin udara dari gedung. "Aman, kita kelu…," Jongin menghentikan kalimatnya. "Sehun apa yang kau lakukan?!" pekik Jongin, berusa mendorong tubuh Sehun menjauh, sayang, tenaga Sehun lebih kuat, gang yang sangat sempit, membuat Jongin tak berdaya.
Sehun abaikan protes Jongin, mulutnya sibuk menciumi dan menikmati leher jenjang dengan kulit eksotis di hadapannya. "Hentikan!" geram Jongin, Sehun menulikan kedua telinganya. "Oh Sehun berhenti, atau kau tanggung sendiri akibatnya."
Sehun tersenyum miring, itu hanya gertakan kosong. Jongin tidak akan melakukan apa-apa. Begitu pikirnya. "Ugh!" pekik Sehun tertahan, perut datarnya terasa nyeri, Jongin mendaratkan pukulan di sana.
"Aku menikah lima hari lagi, aku pastikan kau mendapat undangannya." Jongin berucap datar, ia dorong tubuh Sehun sedikit menjauh, memanfaatkan celah kecil yang tercipta untuk keluar dari gang.
Kedua mata tajam Sehun memandangi punggung Jongin yang menjauh, perutnya masih terasa nyeri pukulan Jongin cukup kuat rupanya. Mungkin akan membekas, Sehun mencecap bibirnya, mengingat rasa kulit leher Jongin. "Manis," gumamnya, rasa nyeri di perut adalah hal sepele dibanding rasa manis di bibirnya, Jongin adalah candu bagi Sehun.
Jongin melihat sepatu Kyungsoo tertata rapi di rak sepatu, tidak ada yang aneh, justru dia merasa senang mendapatkan teman disaat suntuk seperti sekarang. Hanya Kyungsoo orang yang tahu kode pengamannya, anggota keluarganya tidak ada yang tahu. Toh, mereka juga terlalu sibuk untuk sekedar berkunjung menanyakan kabar.
Karena itu, tidak aneh jika Jongin lupa memberi kabar atau menyampaikan berita penting seperti pernikahannya dengan Chanyeol.
Jongin menghempaskan tubuhnya kasar ke atas sofa. Kyungsoo yang melihat wajah kesal Jongin hanya bisa melempar tatapan bingung. "Sebaiknya kau ganti baju dan makan siang, aku memesan ayam."
"Hmm." Gumam Jongin malas. Kyungsoo membulatkan kedua matanya, sejak kapan seorang Kim Jongin tidak tertarik pada ayam?! Perlahan Kyungsoo mendekat, kemudian duduk di samping Jongin.
"Ada yang mengganggumu? Kau bisa bercerita jika mau, itu bisa membantu mengurangi beban." Kyungsoo berucap lembut, penuh perhatian seperti seorang kakak yang baik dan teladan.
"Tidak ada Hyung."
"Jangan bohong Jongin, wajahmu itu mudah sekali dibaca." Kyungsoo menghembuskan napas perlahan. "Makanlah, mandi, ganti bajumu." Nasehat Kyungsoo.
"Ya." Jawab Jongin singkat.
"Maaf aku tidak bisa ikut bersamamu ke apartemen Chanyeol." sesal Kyungsoo yang meyakini bahwa sesuatu di apartemen Chanyeolah yang kini mengganggu Jongin.
"Tenang saja Hyung, tidak ada yang penting kecuali pertemuan keluarga yang menyetujui pernikahan kami, dan upacara pernikahan lima hari lagi, oh ya besok Chanyeol akan menjemputku untuk fitting baju dan melihat lokasi upacara pernikahan." Jongin menjelaskan panjang lebar dalam sekali tarikan napas.
"Kau—benar-benar sedang kesal." Ucap Kyungsoo. Jongin tersenyum miring.
"Baiklah!" pekik Jongin sembari berdiri dari duduknya. "Sebaiknya aku mandi dan berganti baju."
"Aku siapkan makan siangmu."
Sepuluh menit kemudian Jongin keluar dari kamar menuju ruang makan, dengan tubuh segar dan aroma sabun menguar dari tubuhnya, ia mengenakan celana cokelat selutut dan kaos hitam bertuliskan Shake that Brass berwarna putih tercetak dalam huruf kapital.
"Lebih baik?" Kyungsoo bertanya sebelum menyesap jus jeruk kotaknya.
"Ya, lumayan." Mungkin karena terlalu kesal, tawaran ayam goreng Kyungsoo tadi tidak begitu penting. Namun, setelah dirinya melihat potongan-potongan ayam berwarna cokelat dengan saus tomat dan mayonnaise, oh, ya, jangan lupakan aroma gurihnya. Jongin sadar betapa lapar dirinya sekarang.
Jongin duduk mengambil potongan paha, mencelupkannya pada saus, mengabaikan tatapan Kyungsoo. "Hyung aku baru mandi, tidak apa tidak mencuci tangan." Ucap Jongin membela diri.
Kyungsoo hanya memutar kedua bola matanya, malas. Tidak mungkin memaksa Jongin mencuci tangan sekarang saat potongan ayam sudah masuk ke dalam mulutnya. Kyungsoo menajamkan penglihatannya. Tidak salah lagi. Kyungsoo berdiri dari kursi yang ia duduki, mendekati Jongin.
"Hmm?" Jongin bermaksud bertanya, namun mulutnya sibuk mengunyah daging ayam untuk memuaskan perutnya.
"Jongin, ini…," Kyungsoo menggantung kalimatnya, ia tarik leher kaos Jongin agar sesuatu yang belum terlalu jelas nampak. "Kiss mark."
"Sial!" umpat Jongin, potongan paha ayam menggiurkannya seketika terlupakan. "Apa tampak jelas?!" kepanikan tampak jelas di wajah Jongin.
"Lumayan, ukurannya kecil kau bisa menutupnya dengan plester." Kyungsoo tersenyum menggoda.
"Kenapa dengan wajahmu Hyung?"
"Apa Chanyeol yang melakukannya?"
Dahi Jongin seketika berkerut. "Bukan. Dan kenapa Hyung berpikir ini perbuatan Chanyeol?"
"Ah, sayang sekali, aku pikir kalian benar-benar jatuh cinta."
"Bukannya dulu Hyung ingin aku menjalin hubungan dengan Sehun?"
"Iya—tapi setelah diperhatikan kau dan Sehun tidak terlalu cocok. Sehun itu sepertinya tipe pria yang posesif, kau bisa mati muda jika mendapat pasangan seperti dia. Tunggu! Kita di luar topik, jika bukan Chanyeol lalu siapa?"
Jongin memilih bungkam, ia ambil potongan ayamnya yang sempat terlupa. Memakannya kembali. "Jongin—jangan sampai nama baikmu dan Chanyeol tercemar, meski kalian hanya menikah kontrak tapi yang semua orang ketahui termasuk keluarga kalian adalah pernikahan sesungguhnya."
"Aku tahu Hyung, tenang saja aku tidak akan mencemarkan nama baik siapa-siapa." Jongin berharap kejadian di gang tadi tidak tertangkap kamera Sasaeng fans Sehun.
"Jadi—siapa yang melakukannya?"
Jongin menatap Kyungsoo sesaat, lalu menunduk. Tidak yakin apakah hal seperti ini penting untuk diberitahukan kepada Kyungsoo. Dan sebelum Jongin menyadarinya, bibirnya telah berucap. "Sehun."
"Oh, kalau begitu saat di London nanti kita tidak boleh berpisah."
"Hmm." Gumam Jongin, mengakhiri pembicaraan.
Chanyeol hanya tersenyum mengamati penampilan Jongin, dengan kacamata hitam bertengger manis di hidungnya. "Kau mengikuti tren?" goda Chanyeol.
"Tidak, tadi malam aku begadang untuk mengedit foto. Mataku sembab. Terima kasih sudah bertanya. Apa kau peduli?"
Chanyeol menggeleng pelan. "Masuklah, sebelum fans melihat wajahku." Jongin menaikkan sebelah alisnya, jengah, menghadapi kesombongan Chanyeol atas ketenarannya.
Jongin duduk, memasang sabuk pengamannya dan menutup mulut. Suasana hatinya tidak terlalu baik, karena durasi tidur yang berkurang. "Kita akan fitting baju, ingat kau tidak boleh protes."
"Tenang saja, aku akan diam asal kau tidak memintaku memakai gaun."
"Jika aku memintamu memakai gaun?" Chanyeol kembali menggoda. Jongin diam, tidak ingin menanggapi. "Maaf, kau bisa tidur jika mengantuk. Jarak butik tiga puluh menit. Aku tidak akan ngebut."
"Hmm." Tentu saja Jongin tidak akan menolak tawaran emas seperti itu, cepat-cepat ia sandarkan kepalanya. Kedua kelopak matanya sudah sangat berat tak sabar untuk ditutup.
Chanyeol melirik sekilas ke arah Jongin yang sepertinya telah terlelap. Ia melihat kiss mark di sana, Chanyeol merasakan sesuatu yang ganjal pada dirinya. Hanya sekejap saja, sebelum pandangannya kembali tertuju pada jalanan. Untuk apa ia peduli, selama tidak ada berita yang merugikan dirinya, dia tidak perlu peduli dengan siapa Jongin berkencan.
Tiga puluh menit ternyata terlalu lama, perkiraan waktu Chanyeol salah. Bahkan dalam kecepatan normal ia telah sampai di depan bangunan mewah, butik Chaerin, dalam waktu lima belas menit. Chanyeol diam, membiarkan mesin menyala mengalirkan udara dingin ke seluruh mobil.
Ia bisa mengguncang tubuh Jongin kasar, melempar tatapan acuh, berkata kasar dan sarkas, membangunkannya. Namun, melihat Jongin yang terlelap dan nampak sangat lelah, ia urung membangunkan Jongin. Jongin dengan kulit kecoklatannya berbeda dengan kulit Baekhyun yang putih, bibir penuh Jongin, bibir tipis Baekhyun, kedua mata lebar Jongin, kedua mata sipit Baekhyun, Jongin yang tinggi dengan kedua kaki jenjangnya, Baekhyun yang mungil dan tampak rapuh, Baekhyun yang selalu membuatnya tertawa bahagia, Jongin yang membuatnya marah, jengkel, penasaran, dan antusias dalam waktu bersamaan.
Baekhyun ibarat ayunan, aman dan nyaman, Jongin itu roller coaster berbahaya dan memacu adrenalin.Tunggu! Chanyeol tersenyum simpul, kenapa pikirannya justru membandingkan Jongin dengan Baekhyun. Chanyeol mengalihkan pandangannya kepada orang-orang yang hilir mudik, sesekali mencoba melihat ke dalam jendela mobilnya namun lebih banyak yang acuh.
Jongin bergerak dalam tidurnya, Chanyeol diam memperhatikan. Kedua mata Jongin yang tertutupi kacamata hitam, membuat Chanyeol tidak bisa melihat apakah Jongin terbangun atau sekedar menggeliat. "Sudah sampai?" Jongin bertanya dengan suara paraunya.
"Ya."
"Sudah lama?"
"Baru saja, ayo turun." Chanyeol membuka pintu mobil, melepas sabuk pengamannya, ia turun meninggalkan Jongin, menampakkan sikap tak pedulinya.
Jongin meninggalkan kacamata hitamnya, dan turun menyusul Chanyeol. Butik mewah dengan dominasi warna putih, etalase yang memajang gaun dan jas mahal tanpa potongan harga, diperuntukkan bagi kalangan atas. Kalangan menengah harus menabung bertahun-tahun, dan kalangan bawah hanya bisa bermimpi. Sejujurnya Jongin sudah muak dengan semua kemewahan palsu seperti ini.
Suara gemerincing lonceng menyambut pendengaran keduanya, saat pintu kaca terdorong ke dalam. Seorang wanita muda berpakaian seksi namun tetap berkelas menyambut kedatangan Chanyeol dan Jongin.
"Chanie!" pekik wanita muda itu ceria. Keduanya berpelukan erat selama beberapa saat kemudian tertawa bersama. "Dia calon mempelaimu?"
"Ya, namanya Kim Jongin."
"Aku sudah tahu. Aku Chaerin. Wah, kau lebih tampan dari yang kulihat di televisi dan majalah." Chaerin mengedipkan sebelah matanya, Jongin tersenyum simpul, bingung harus menanggapi seperti apa.
Chaerin memeluk pinggang Chanyeol. "Kau pintar memilih pasangan, ayo semuanya sudah siap." Meski Chaerin tidak menoleh untuk menatapnya, Jongin cukup cerdas untuk melangkahkan kedua kakinya mengikuti dua orang yang tampak akrab itu.
Ketiganya menaiki tangga menuju lantai dua, tempat para tamu mencoba pakaian pesanan mereka. Chanyeol masuk terlebih dulu ke kamar pas, Jongin duduk di sofa bergaya retro bersama Chaerin. "Kemarikan tanganmu." Ucap Chaerin.
"Kenapa?"
"Chanyeol terlalu sibuk, Xiumin juga, jadi mereka memasrahkan semuanya padaku mulai dari pakaian, dekorasi, lokasi pernikahan, dan tentu saja— cincin pernikahan." Chaerin menyematkan cincin emas dengan taburan berlian berukuran kecil pada jari manis Jongin. Jongin bahkan tidak tahu dimana Chaerin menyembunyikan kotak beludru tempat cincin itu.
Cincin terpasang dengan mudah pada jari manis kanan Jongin. "Wah, pas sekali. Sepertinya kalian berjodoh." Chaerin tersenyum lebar menatap kedua mata Jongin.
"Bagaimana penampilanku? Chaerin berhenti menggoda Jongin."
Chaerin tertawa, Jongin berusaha keras untuk tak tersipu. Ia menoleh mengikuti arah pandangan Chaerin. Chanyeol dalam balutan jas putih. "Berputarlah." Perintah Chaerin, Chanyeol menurut.
"Bagaimana?"
"Tampan." Jawab Chaerin mantap.
"Jongin? Kai?" Chaerin dan Chanyeol melempar pertanyaan secara bersamaan.
"Lumayan." Balas Jongin singkat.
"Ayo, sekarang giliranmu!" pekik Chaerin antusias, ia dorong punggung Jongin. Jongin berdiri dari sofa dan masuk ke dalam kamar pas melewati Chanyeol yang sedang tersenyum.
"Cincinnya pas di jarimu." Jongin menyingkap tirai kamar pas, bungkam, tidak ingin menanggapi kalimat Chanyeol.
Jongin melepas kancing teratas kemejanya, ia berhenti untuk mengamati cincin yang kini menghiasi jari manis kanannya. Ia sentuh permukaan cincin itu perlahan. "Bodoh," gumam Jongin, ia lepas kemejanya dengan cepat, stelan jas telah menunggunya begitu pula dengan Chanyeol dan Chaerin. Pernikahan kontak tak perlu dipusingkan, peringat Jongin kepada dirinya sendiri.
"Manis!" pekik Chaerin bahkan Jongin belum sempat bertanya. Chanyeol hanya diam, Chaerin berlari menghampiri Jongin, memandanginya lekat-lekat. "Cocok sekali, kau sangat mempesona."
"Terima kasih." Balas Jongin pelan.
"Oh!" pekik Chaerin saat kedua telinganya menangkap suara gemerincing pintu. "Ada tamu, aku harus menyambut mereka. Nikmati waktu kalian." Jongin berdiri menatap lekat-lekat Chaerin yang melangkah anggun menuruni anak tangga, hingga akhirnya wanita muda itu menghilang dari pandangannya.
"Syukurlah jasnya cocok. Kau suka?"
Jongin berbalik menghadap Chanyeol. "Aku tidak bisa protes."
Chanyeol tersenyum simpul, keduanya bertatapan. Tangan kanan Chanyeol bergerak, perlahan menyingkap poni Jongin. "Nah, seperti ini lebih cocok." Chanyeol mengamati wajah Jongin tanpa poni, terpesona, ia tidak sadar tangan kanannya yang tadinya bergerak untuk menyingkap poni Jongin, kini berada di wajah Jongin. "Ah! Sebaiknya kita lepas jas ini, dan—kita harus bergegas melihat ladang gandum tempat upacara pernikahan." Chanyeol melepas tangannya dari wajah Jongin, berbalik dan berjalan cepat memasuki kamar pas.
TBC
