Ring
Characters: Baekhyun, Chanyeol, Jongin (Kai), Kyungsoo, Xiumin, Sehun, and others
Pairing: Chankai, Chanbaek (slight), HunKai (slight)
Warning: BL
Rated: T-M
Boomiee92
Halo semua ini chapter 8, mulai chapter ini update satu-satu ya, bukan satu satu aku sayang Ibu hehehe, maaf saya sedang sibuk (sok penting dah) maaf jika cerita semakin aneh, alur terlalu cepat, kesalahan ejaan, tanda baca, bahasa tidak puitis, dan sebagainya dan sebagainya, selamat membaca, see you soon
Previous
Chanyeol tersenyum simpul, keduanya bertatapan. Tangan kanan Chanyeol bergerak, perlahan menyingkap poni Jongin. "Nah, seperti ini lebih cocok." Chanyeol mengamati wajah Jongin tanpa poni, terpesona, ia tidak sadar tangan kanannya yang tadinya bergerak untuk menyingkap poni Jongin, kini berada di wajah Jongin. "Ah! Sebaiknya kita lepas jas ini, dan—kita harus bergegas melihat ladang gandum tempat upacara pernikahan." Chanyeol melepas tangannya dari wajah Jongin, berbalik dan berjalan cepat memasuki kamar pas.
Bab Delapan
Ladang gandum yang menjadi tempat upacara pernikahan dilangsungkan, berjarak kira-kira dua jam dari Seoul. Sepanjang perjalanan Jongin menyumpal kedua telinganya dengan earphone, berharap menikmati musik kesukaan akan membuatnya mengantuk, namun, ia salah, kedua matanya memang sangat lelah, namun otaknya tak henti-hentinya memutar kejadian di butik, saat Chanyeol menyingkap poni dan menyentuh wajahnya.
"Haah…," keluh Jongin sembari bergerak menggeser posisi duduknya.
"Kau lelah? Kita bisa berhenti sebentar jika kau lelah." Ucap Chanyeol, tidak mendengar tanggapan dari Jongin, Chanyeol menoleh untuk melihat. Ia mendengus kesal kedua telinga Jongin tersumpal earphone, pantas saja dia diabaikan.
Kedua mata Jongin terpesona melihat luasnya ladang gandum yang terhampar di luar. Dan Chanyeol sepertinya sengaja melambatkan laju mobilnya. Tanpa sadar Jongin meletakkan telapak tangannya pada permukaan kaca jendela mobil. Chanyeol melirik, ia tersenyum sedikit tahu apa yang kini ada di dalam pikiran Jongin.
"Kenapa berhenti?!" pekik Jongin terkejut, ia menatap Chanyeol panik earphone kirinya ia lepas. Ia sudah berpikir yang tidak-tidak, seperti ban bocor atau Chanyeol menabrak binatang langka. Untuk kemungkinan kedua mungkin peluangnya sangat kecil, karena dia tidak merasakan guncangan jika Chanyeol menabrak binatang.
"Aku lihat kau sangat terpesona, dan sepertinya kau lelah. Kita berhenti untuk beristirahat."
"Apa di sini ada rest area?"
Chanyeol tertawa pelan. "Tentu saja tidak ada."
Jongin ingin membuka mulutnya bertanya hal lain yang mengganggunya, namun Chanyeol sudah terlebih dulu membuka pintu mobil dan keluar. Udara hangat menyambut Jongin, ladang gandum tampak berkilauan tertimpa sinar matahari. Dilihat dari posisi matahari sekarang pasti telah lewat tengah hari.
"Kau yakin kita tidak akan kemalaman kembali ke Seoul?"
"Kita bisa menginap, ada villa milik keluargaku di sana."
"Oh." Balas Jongin ragu.
"Apa kau mencemaskan sesuatu?" Chanyeol menatap tajam Jongin.
"Tidak, kenapa aku harus mencemaskan sesuatu."
"Ya—mungkin saja kau cemas sesuatu terjadi di antara kita saat menginap berdua di villa." Goda Chanyeol, Jongin melempar tatapan malas, sudah cukup ia mendapat godaan Chanyeol hari ini. "Kau tidak suka dengan candaanku rupanya," Chanyeol tertawa hambar.
"Hmm." Balas Jongin datar. "Tempat ini menakjubkan."
"Kau ingin mengambil gambar?"
"Kau mau aku potret?"
"Apa?!" Tentu saja Chanyeol terkejut dengan tawaran itu, sebab selama ini Jongin sangat jarang bersikap ramah kepadanya. "Kau kan tidak membawa kameramu."
"Aku bisa memakai kamera ponsel, ponsel zaman sekarang sudah didukung dengan kamera yang cukup baik."
"Aku tidak tertarik." Balas Chanyeol ketus, berniat membalas perbuatan Jongin yang pernah menolak tawaran live konsernya di atap.
"Baiklah." Jongin menjawab datar, tak terpengaruh oleh penolakan Chanyeol. Ia langkahkan kedua kakinya menuruni undakan tanah, turun ke ladang gandum. Jongin berjalan menyusuri jalan tanah yang membelah ladang gandum.
"Jongin!" pekik Chanyeol, berusaha mencegah Jongin untuk melangkah lebih jauh lagi. Jongin tidak peduli, kini dirinya bahkan berjalan memasuki ladang yang dipenuhi gandum subur berwarna kecoklatan, gandum-gandum siap panen di akhir musim panas. "Jongin!" Chanyeol kembali berteriak untuk terakhir kalinya, melihat Jongin yang tak mengindahkan teriakkannya Chanyeolpun menyerah.
Chanyeol duduk di atas kap mesin mobilnya, menunggu Jongin, sampai dia memutuskan petualangannya telah cukup hari ini. Chanyeol, entah mengapa tergerak untuk mengambil ponselnya, merekam Jongin, entahlah, Jongin hanya terlihat sangat bahagia berada di tengah ladang gandum dan Chanyeol melihat hal itu sebagai sesuatu yang sangat menarik. Setelah lima menit merekam, Chanyeol merasa bosan, ia masukkan kembali ponselnya ke dalam saku dan memilih menyusul Jongin ke tengah ladang gandum.
"Apa yang kau lakukan di sini?!" ketus Jongin, "terakhir kali aku mendengarmu menyuruhku berhenti."
"Aku tidak mengatakan hal seperti itu." dusta Chanyeol yang dibalas dengusan kesal Jongin. "Di sini menyenangkan, anginnya menyegarkan." Tangan kiri Chanyeol bergerak memetik gandum muda.
"Hei!" peringat Jongin tidak suka dengan sikap merusak Chanyeol.
"Sedikit saja, aku ingin mencoba rasanya."
Jongin hanya melempar tatapan, yang benar saja? Itu kan gandum mentah pasti rasanya buruk. Chanyeol tersenyum sekilas, ia masukkan sebutir gandum mentah ke dalam mulutnya, bahkan ia tidak mengupas kulit arinya terlebih dahulu.
Jongin mengerutkan keningnya, seolah-olah lidahnya bisa merasakan sendiri bagaimana kulit ari gandum yang kasar, ia masih diam menunggu reaksi Chanyeol. Wajah Chanyeol terlihat biasa saja. "Rasanya tidak enak, aku sarankan jangan mencobanya."
Jongin menggigit pelan bibir bawahnya agar tawanya tidak meledak, sayang sekali, Chanyeol terlihat sangat lucu sekarang. "Hahaha!" Jongin tertawa lepas. Usahanya gagal.
"Kau!" protes Chanyeol, tangan kanannya sudah terangkat bermaksud memukul kepala Jongin agar dia berhenti tertawa, namun, Jongin yang tertawa lepas seperti itu, membuatnya merasa senang, maka ia turunkan tangannya, urung memukul kepala Jongin. "Kau manis saat tertawa."
"Apa?!" pekik Jongin, tidak terlalu suka dengan sebutan Chanyeol.
"Tidak, aku tidak mengatakan apa-apa." Chanyeol menampakkan wajah tanpa dosanya.
"Pembohong."
"Apa kau bilang?!"
"Pembohong! Apa telingamu tersumpal?!"
"Kim Jongin!" teriak Chanyeol kesal. Jongin tidak peduli dia memilih pergi meninggalkan Chanyeol seorang diri di tengah ladang gandum.
"Kau pikir kau bisa lolos dariku…" desis Chanyeol. Tangannya yang panjang terulur untuk menarik kerah kemeja belakang Jongin. Menyentaknya kasar.
"Hei!" protes Jongin saat tubuhnya tersentak ke belakang.
"Aku harus memberimu pelajaran karena bersikap tak sopan." Geram Chanyeol. Ia menyeringai dan kedua tangannya mulai menggelitiki pinggang dan tulang rusuk Jongin.
"Hentikan Chanyeol! Geli! Kurang ajar lepaskan tanganmu!" Jongin berteriak-teriak histeris, Chanyeol tidak peduli dia terus melancarkan serangannya. Lelah, akhirnya Chanyeol berhenti menggelitiki Jongin, namun kedua tangannya masih memeluk pinggang Jongin. "Chanyeol," gumam Jongin pelan.
"Biarkan seperti ini, sebentar saja." Chanyeol menjawab pelan. Ia letakkan dagunya ke atas pundak kanan Jongin. Lelah, tiba-tiba dia merasa sangat lelah dengan permainan takdir yang terasa tidak adil.
Kedua tangan Jongin yang tadinya berada di kedua sisi tubuhnya, perlahan terangkat, ia letakkan tangannya ke atas kedua telapak tangan Chanyeol yang terkunci di atas perut datarnya. Chanyeol memejamkan kedua matanya, menarik napas dalam-dalam, jantungnya kembali bergemuruh dan itu membuatnya sangat takut. "Sebaiknya kita melanjutkan perjalanan." Bisiknya di telinga Jongin, ia lepaskan kedua tangannya dari pinggang Jongin. Dan berjalan pergi.
Terasa sangat aneh saat kehangatan tubuh Jongin menghilang, Chanyeol menelan ludahnya kasar, ia berhenti, menoleh menatap Jongin yang masih berdiri di tengah ladang gandum, membalas tatapannya. "Ayo. Kita harus bergegas." Jongin mengangguk pelan.
Di sisa perjalanan tak ada seorangpun yang berbicara, Jongin memilih memasang earphone meski ia tidak sedang mendengarkan lagu. Chanyeol bersenandung pelan, sesekali jari-jarinya bergerak di atas kemudi. Keduanya merasa tidak ada topik yang cocok untuk dibicarakan.
Chanyeol memutar kemudi, mobil bergerak keluar dari jalan beraspal, menuju jalan tanah dengan ladang gandum luas di kedua sisinya. Villa berukuran sedang terlihat indah di depan, jerami-jerami gandum berbentuk silinder tertata rapi di depan villa. Jongin memperhatikan tidak ada penerangan yang cukup di sini, hanya ada satu tiang lampu penerangan. Yang menerangi jalan tanah.
"Di sini pasti sangat gelap saat malam hari." Jongin mengungkapkan kecemasannya.
"Apa kau takut gelap? Bukankah kegelapan sudah biasa di alam liar."
"Haah," desah Jongin. "Alam liar hanya ada binatang liar kau bisa mempelajari perilaku mereka, percayalah Chanyeol kehidupan modern lebih menakutkan dibanding alam liar."
"Oh, jangan cemas di dalam villa sangat aman, ada dua lapis pintu dan teralis." Balas Chanyeol santai.
Mobil terparkir di depan villa. Chanyeol langsung keluar dan berjalan menaiki undakan sedangkan Jongin seperti biasa, menyempatkan diri untuk mempelajari keadaan sekitar. "Kenapa di sini tidak ada bangunan lain?"
"Di sini tempat kakekku melepas penat, jauh dari keramaian kota."
"Semua ini milik keluargamu?!"
"Kenapa kau terdengar terkejut, aku yakin apa yang keluargamu miliki lebih banyak dari seluruh aset keluargaku."
"Jangan membahasnya." Balas Jongin ketus, ia tidak ingin terus dibayang-bayangi nama besar keluarganya. Ia langkahkan kedua kakinya menaiki undakan menyusul Chanyeol.
Chanyeol mengetikkan kode pengaman, pintu lapis pertama terbuka, pintu lapis kedua Chanyeol harus membukanya secara manual, ia keluarkan anak kunci yang diberikan kakeknya. Memasukkan ke dalam lubang kunci memutarnya, pintu terbuka, Chanyeol melangkah masuk terlebih dahulu, menyalakan saklar lampu meski keadaan masih terang, karena pasti ia akan malas nanti.
"Villa ini sangat mungil hanya ada satu kamar tidur dan satu kamar mandi, dapur, ruang makan, ruang tamu yang berfungsi sebagai ruang keluarga juga, kakek selalu datang seorang diri ke sini." Chanyeol menerangkan panjang lebar.
"Bagaimana dengan para tamu undangan yang akan menginap?"
"Mereka tidak akan menginap, tempat ini tidak jauh dari Seoul, tidak banyak yang akan diundang. Hanya orang-orang terdekat saja."
"Hmm." Kedua mata Jongin memperhatikan pajangan kepala harimau dan kepala beruang di atas perapian, dia tidak terlalu suka dengan itu.
"Itu bukan kepala binatang asli."
"Oh, syukurlah." Balas Jongin pelan.
"Kau tidak suka melihatnya? Bisa saja kan ada kepala binatang yang diambil setelah mereka mati—maksudku mati secara alami."
"Pemburu tidak akan mengambil kepala binatang yang mati karena sebab alami, kolektor tidak akan tertarik."
"Oh." Balas Chanyeol, dia benar-benar buta tentang binatang dan alam liar. "Mungkin kita bisa pergi ke Afrika untuk bulan madu."
Jongin tertawa meremehkan. "Kau akan langsung demam di hari pertamamu."
"Kau meremehkan aku?!" pekik Chanyeol kesal.
"Percayalah, kau akan merengek minta pulang."
"Baiklah—daripada berdebat lebih baik kita ke belakang dan melihat tempat upacara pernikahan akan diadakan."
Chanyeol berjalan mendahului Jongin seperti biasa, dan Jongin mengekor di belakang. Bagian belakang villa tidak ada bedanya dari halaman depan, tanah datar dengan rumput terpangkas rapi, dan ladang gandum yang mengelilinginya. Satu hal yang membedakan dari halaman depan adalah adanya dua pohon apel berdaun rindang yang tumbuh saling berdekatan.
"Di sini akan didirikan altar menghadap langsung ke ladang gandum, lalu kursi-kursi di sebelah sini….," Jongin tak memperhatikan penjelasan Chanyeol, ia sibuk mengamati pohon dandelion yang tumbuh di bawah pohon apel.
Bunga-bunga dandelion yang berwarna putih, telah siap meninggalkan pohonnya, mencari kehidupan baru. Tumbuh di tempat lain, terbawa angin. Mengulang siklus kehidupan. "Menakjubkan," gumam Jongin pelan. Ia tak mampu menahan tangannya untuk tidak memetik sekuntum dandelion.
"Kau tidak mendengarkan penjelasanku?!" protes Chanyeol, di hadapan Jongin. Bersamaan dengan protes itu Jongin meniup benih bunga dandelion. Benih-benih beterbangan ke wajah Chanyeol. "Hei!" Chanyeol merasa terganggu dengan benih-benih yang berterbangan menerpa wajahnya.
"Maaf," gumam Jongin menahan tawa, ia menjumput benih dandelion yang mendarat ke rambut Chanyeol.
"Apa semenyenangkan itu meniup benih dandelion?"
"Ya, sangat menyenangkan."
"Sepertinya kau menyukai semua yang berhubungan dengan alam."
"Kurang lebih seperti itu."
"Haah." Desah Chanyeol, "dari sini matahari tenggelam terlihat indah, aku akan ke dalam sebentar mengambil minuman dan sedikit makanan ringan."
"Kau ingin melihat matahari tenggelam?"
"Melihat matahari tenggelam di tengah hamparan padang gandum, kurang lebih mirip alam liar kan?"
"Bahkan tidak mendekati sama sekali." Cibir Jongin, Chanyeol tak menjawab, dia memilih pergi meninggalkan Jongin untuk mengambil apa yang tadi telah ia tawarkan.
.
.
.
Chanyeol membuka lemari pendingin, isinya penuh, karena dua kali dalam seminggu penjaga villa akan datang untuk membersihkan villa, dan memenuhi suplai makanan dan semua kebutuhan lainnya. Chanyeol mengambil satu botol soda berukuran satu liter, dan sebungkus keripik kentang rasa rumput laut. Chanyeol menggunakan kakinya untuk menutup lemari pendingin karena kedua tangannya sudah memiliki pekerjaan lain, memegang botol soda dan bungkus keripik kentang.
Saat ia kembali ke belakang, Jongin sudah duduk di beranda belakang. Chanyeol duduk di samping Jongin dan meletakkan minuman dan makanan ringan yang ia bawa di antara mereka. "Sebentar lagi matahari tenggelam. Kita akan menginap di sini. Aku bisa tidur di sofa."
Jongin tak membalas karena tangan dan mulutnya sedang sibuk dengan keripik kentang. Chanyeol sendiri hanya tersenyum melihat kelakuan unik Jongin. "Kau butuh bantuan untuk membuka soda?" sebenarnya Chanyeol berniat menyindir sikap Jongin, namun tanpa diduga Jongin justru menganggukkan kepalanya. "Baiklah…," gumam Chanyeol sedikit menyesal telah menawarkan bantuan.
Jongin meletakkan bungkus keripik kentangnya ke atas pangkuan Chanyeol, mengambil botol soda dari tangan Chanyeol dan meminumnya langsung dari botol. "Apa kau lapar? Ada roti dan ramyun aku bisa mengambilkannya untukmu."
"Nanti saja, mataharinya hampir tenggelam."
Chanyeol langsung mengalihkan pandangannya, benar saja, sinar keemasan dan langit yang kemerahan tampak indah, sangat indah, menakjubkan, hal sederhana yang selama ini selalu ia lewatkan. "Luar biasa," gumam Chanyeol tanpa sadar.
"Di padang rumput ukuran mataharinya lebih besar, berwarna merah, dengan latar belakang padang rumput, dan kelompok hewan yang mencari perlindungan dari pemangsa yang akan aktif setelah matahari tenggelam—begitulah." Jongin mengkahiri kalimatnya setelah sadar dia mengatakan terlalu banyak.
"Kau sangat menikmati saat itu, saat-saat di alam liar."
"Ya." Gumam Jongin pelan.
"Apa yang membuatmu terpesona berada di tempat yang jauh dari peradaban seperti itu?"
"Ketidakberdayaan."
"Aku—tidak mengerti."
"Aku tidak bisa menjelaskannya, aku bukan termasuk orang yang pintar menjelaskan situasi. Hanya saja, saat di alam liar aku merasa tidak berdaya, seorang diri, aku merasa lebih dekat dengan diriku sendiri, melihat dunia yang begitu luas— membuat semua permasalahan sehari-hari yang aku hadapi rasanya sepele, itu saja."
"Kau merasa bisa bernapas bebas?"
"Kira-kira seperti itu."
"Kau pintar menjelaskan, jangan meragukan kemampuanmu sendiri."
"Terima kasih, aku anggap itu sebagai pujian."
"Aku tidak berniat memujimu." Gumam Chanyeol, dan Jongin hanya tertawa pelan.
.
.
.
"Matahari sudah tenggelam." Ucap Jongin yang terdengar tak rela momen indah itu berakhir.
"Sayang sekali. Kenapa bintang tidak terlihat di sini?"
"Mungkin udara kotor dari Seoul sampai ke tempat ini." Balas Jongin, ia berdiri dari duduknya. "Aku mau mandi."
"Kau tahu letak kamar mandinya dimana?"
"Di samping dapur kan?" Chanyeol mengangguk pelan. Jongin membuka pintu belakang dan masuk ke dalam, Chanyeol masih duduk di tempatnya, mencoba mencari bintang. Dia berharap ada satu bintang saja yang terlihat.
Setelah merasa usahanya sia-sia ia putuskan untuk masuk, udara di luar juga cukup dingin dengan dirinya yang hanya memakai kaos berlengan pendek. Chanyeol masuk ke dalam kamar untuk mengambil kaos, ia baru ingat Jongin tidak membawa baju ganti ke sini, mereka memang tidak berniat untuk menginap. Chanyeol duduk di sofa menunggu Jongin dengan dua kaos di tangannya.
Pintu kamar mandi terbuka, Jongin keluar dengan handuk menutupi kepalanya. "Aku hanya memiliki kaos di lemari, kau bisa memakainya." Chanyeol berdiri mendekati Jongin menyerahkan salah satu kaos yang ia pegang.
"Terima kasih."
"Sekarang giliranku mandi."
"Hmm."
.
.
.
Jongin duduk di atas lantai berlapis karpet, punggungnya bersandar pada sofa dan kedua tangannya terlihat sibuk mengetik di atas layar ponsel. "Haah..," desah Jongin.
"Kenapa?" Chanyeol melemparkan handuknya ke atas sofa.
"Hanya Kyungsoo hyung dengan pertanyaan-pertanyaan menyebalkannya." Chanyeol tertawa pelan, membayangkan betapa cerewetnya Kyungsoo yang tengah menceramahi Jongin.
Tanpa sadar Chanyeol memperhatikan penampilan Jongin, kaos berwarna abu-abu miliknya tampak sedikit kebesaran di bagian bahu saat dikenakan Jongin. Menampilkan kiss mark di leher Jongin dengan jelas. Chanyeol duduk bersama Jongin, tentu saja dia mengambil jarak yang cukup aman dari pukulan Jongin jika anak itu merasa terganggu.
"Kau berkencan dengan seseorang?" Chanyeol tidak bisa menghentikan mulutnya mengeluarkan kalimat menyebalkan itu, kalimat yang membuatnya tampak jelas, peduli kepada Jongin.
"Tidak, aku tidak sedang berkencan dengan siapapun."
"Lehermu." Chanyeol benar-benar ingin membenturkan kepalanya, kenapa tiba-tiba dia sangat peduli dengan semua hal yang Jongin lakukan.
"Ini hanya pekerjaan orang menyebalkan, tidak penting."
"Apa dia memaksamu?"
"Tidak bisa dibilang memaksa, karena aku tidak sadar jika dia melakukannya." Jongin mengusap lehernya seolah-olah apa yang Sehun lakukan dapat ia rasakan kembali.
"Kau sedang apa sampai-sampai tidak sadar? Kau tidak sedang dalam pengaruh obat tidur kan?"
"Tidak!" pekik Jongin, ia tidak suka dengan pemikiran Chanyeol yang pasti sudah mengarah kemana-mana. "Kami berada di gang sempit karena melarikan diri dari para fansnya yang mengerikan, aku berniat menolongnya meloloskan diri tapi dia justru melakukan hal menyebalkan ini, aku sudah memukul perutnya dengan keras, semoga dia jera." Jongin menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya, rasanya ini pertama kalinya ia berbicara dengan tempo cepat seperti tadi.
Keduanya bertatapan selama beberapa saat, sebelum memalingkan wajah masing-masing. "Maaf, aku mencampuri urusan pribadimu." Jongin bungkam, ia juga tidak mengerti dengan dirinya sendiri, kenapa semua itu ia anggap penting untuk diberitahukan kepada Chanyeol. "Tidurlah jika mengantuk, di sini tidak ada televisi, karena ini tempat mengasingkan diri kakekku." Chanyeol melempar senyum konyol khasnya.
"Aku belum mengantuk." Chanyeol melirik jam kuno di dekat perapian, sekarang baru pukul delapan malam wajar jika dirinya dan Jongin masih merasa segar.
"Mau bermain tebak lagu di ponselku?"
"Tebak lagu?"
"Ya, jangan bilang kau tidak tahu aplikasi keren ini!" pekik Chanyeol terlalu berlebihan, menurut Jongin.
"Itu permainan yang aneh." Jongin membalas datar.
"Kalau begitu kita buat supaya menarik, siapa yang gagal menebak judul lagu dia harus meminum segelas air, bagaimana?"
Jongin menyipitkan kedua matanya, berpikir, tidak terlalu menarik baginya, pasti lebih menyenangkan jika dia bermain salah satu aplikasi game di ponselnya. Tapi, mengacuhkan Chanyeol mengingat sekarang dirinya berada di villa milik keluarga Chanyeol, sangat tidak sopan. "Baiklah," balas Jongin setengah hati.
"Bagus!" pekik Chanyeol, ia langsung berdiri dan berlari menuju dapur.
Jongin diam menunggu Chanyeol. Dengan antusias Chanyeol menarik sebotol air mineral ukuran satu liter dari dalam lemari penyimpan makanan, dan dua gelas berukuran kecil. Ia berlari menghampiri Jongin yang sudah terlihat bosan. Chanyeol duduk di atas lantai berlapis karpet menghadap Jongin, ia taruh botol air mineral dan dua gelas ke hadapannya. "Kau siap?"
"Ya." Terlihat jelas bahwa Jongin sama sekali tak tertarik dengan permainan ini, Chanyeol tidak peduli yang penting Jongin sudah setuju untuk ikut bermain.
"Kita tentukan siapa yang mulai dulu dengan batu, kertas, gunting."
"Baiklah." Jongin masih tak menunjukkan rasa antusiasnya.
Keduanya menarik tangan kanan masing-masing ke belakang punggung, menyembunyikan pilihan mereka. "Batu, kertas, gunting!" pekik keduanya bersamaan, Chanyeol mengeluarkan tangan kanannya yang terkepal, Jongin mengeluarkan tangan kanannya yang terbuka, batu dan kertas, Jongin keluar sebagai pemenang.
"Kau dulu—dengarkan lagu ini baik-baik."
Jongin menyipitkan kedua mata, menajamkan pendengarannya, alunan melodi terdengar diikuti syair lagu yang—asing di telinganya. Jongin mencoba memutar memorinya dengan keras, sayang ia sama sekali tak mengenali lagu itu. Triiiing! Tanda waktu habis. Jongin mendengus sebal. "Infinite, Paradise." Gumam Jongin membaca tulisan yang tertera pada layar ponsel pintar Chanyeol.
"Ini." Chanyeol bersemangat menyodorkan segelas air untuk Jongin. Jongin meneguk seluruh isi di dalam gelas, Chanyeol tersenyum puas. "Giliranku," Chanyeol menyentuh tombol mulai. "Ah lagu ini—Lee Hi, Rose." Ucap Chanyeol, suara tepuk tangan terdengar dari dalam ponsel.
"Aku," Jongin menyambar ponsel Chanyeol, menekan tombol mulai. "Sial," rutuknya, lagi-lagi melodi dan syair lagu yang sangat asing terdengar. "Aku menyerah." Tringg! Waktu habis. "Shinee, Noona Is So Pretty. Aku pernah tahu judulnya." Gerutu Jongin. Dengan pasrah Jongin meminum segelas air untuk yang kedua kalinya.
"Aku." Dengan antusias Chanyeol menyentuh tombol mulai. "Ini mudah! Shinee Ring Ding Dong!"
"Kenapa lagumu mudah-mudah?" gerutu Jongin. "Apa ini!" Jongin berteriak frustasi karena lagu yang didapatnya adalah lagu asing menurutnya. GLAM, I Like That." Jongin mengerutkan kening.
"Hihihihi…," Chanyeol terkikik geli melihat Jongin meminum gelas ketiganya.
"Apa?!" pekik Jongin kesal, Chanyeol hanya nyengir lebar.
"Aku, aku…," senandung Chanyeol. "SUJU, Sorry Sorry."
Ingin sekali rasanya Jongin melempar ponsel Chanyeol yang sepertinya berpihak kepada majikannya, buktinya, Chanyeol selalu mendapatkan lagu mudah, dan dirinya mendapatkan lagu yang tak dikenalinya. "Ayo giliranmu." Ucap Chanyeol dengan senyum nistanya.
Perut Jongin benar-benar penuh dengan air sekarang. "Apa ini?" Jongin mengusak rambutnya frustasi. "Aku tidak tahu!" pekiknya sembari mendorong ponsel Chanyeol menjauh.
"ft Island, Stay." Gumam Chanyeol. "Tepat." Chanyeol menghadapkan ponselnya pada Jongin, suara tepuk tangan terdengar dari dalam ponsel, Jongin mendengus sebal, ia tuang airnya sendiri dan meminumnya dengan rasa jengkel. "Kau tidak pernah mendengar lagu ya? Lalu fungsi earphonemu apa?"
"Aku tidak pernah mendengar lagu Korea."
"Baiklah kita ganti dengan lagu barat."
"Aku setuju." Jongin menegakkan tubuhnya, ia mendapatkan kembali rasa percaya dirinya, kali in Chanyeol yang akan kembung karena minum banyak air.
"Kau yang pertama, aku kasihan kau terlalu banyak minum air mineral." Seringai Chanyeol yang dibalas tatapan tajam Jongin.
Musik mulai terdengar, Jongin menampilkan senyum percaya dirinya. "Avril Lavigne, Hot." Jongin hampir melompat bahagia, jawaban pertamanya yang tepat. "Giliranmu."
Jongin ingin berteriak menyebutkan judul lagu yang kini mengalun indah, sementara itu wajah Chanyeol terlihat jelas menampakkan kesukaran. "Apa ini…," gumam Chanyeol pelan.
"Deng! Waktu habis. Avenged Sevenfold, Gunslinger." Jongin menunjukkan seringai kemenangannya, dengan pasrah Chanyeol mengangkat gelas pertamanya dan meminumnya. Jongin memulai gilirannya. "EMINEM, not afraid." Jongin menjawab cepat.
"Aku rasa ini—Maroon 5, Night." Chanyeol menjawab dengan ragu.
"Bodoh, One More Night." Jongin tersenyum puas saat Chanyeol mengangkat gelas keduanya. "Aku!" pekik Jongin antusias. "One Republic, Fear."
"Aku menyerah." Chanyeol mengangkat kedua tangannya tinggi-tinggi. "Kau menang, aku mau ke kamar mandi."
"Dasar!" cibir Jongin. "Jangan lama-lama, aku juga butuh kamar mandi!" pekik Jongin sekeras mungkin.
"Ya! Aku tidak tuli Kim Jongin." Jongin hanya cekikikan mendengar protes Chanyeol.
.
.
.
"Sekarang apalagi yang akan kita lakukan?" Jongin bertanya kepada Chanyeol sementara kedua matanya sibuk meneliti pola karpet yang kini mereka duduki.
"Entahlah. Mungkin kita bisa tidur sekarang, sudah pukul sembilan malam."
"Hmm. Kau tidak ada konser atau semacamnya?"
"Kenapa tiba-tiba kau tertarik?"
"Mau menjawab atau tidak?" Jongin balik bertanya.
"Aku tidak ada acara sampai bulan madu kita."
"Di pulau Jeju, selama berapa hari? Aku ada pekerjaan juga dengan Sehun."
"Oh, aku rasa hanya tiga hari karena aku tidak bisa memperpanjang cutiku lagi."
"Syukurlah." Gumam Jongin, merasa punggungnya lelah, Jongin memutuskan untuk berbaring dan menggunakan bantal sofa sebagai alas kepalanya.
"Kenapa syukurlah? Kau tidak suka menghabiskan waktu denganku?"
"Memang kau suka?"
"Tidak juga."
"Kalau begitu tutup mulutmu dan berhentilah bersikap seolah-olah kau peduli padaku selain didepan kamera."
"Kau yang peduli padaku!" protes Chanyeol.
"Siapa yang mencium dan memeluk?" sindir Jongin.
"Itu—aku hanya—entah kenapa ingin melakukannya."
"Cih, kau pendusta yang sangat buruk, katakan saja kalau kau mulai tertarik padaku."
"Tidak." Balas Chanyeol singkat, iapun berbaring mengikuti Jongin menggunakan bantal sofa sebagai alas kepala, dia memunggunggi Jongin tidak ingin berbicara lagi dengan Jongin, membahas topik yang menurutnya sangat tidak penting untuk dibicarakan.
Jongin menoleh, mencuri pandang ke arah Chanyeol. Melihat Chanyeol yang memunggunginya, Jongin tidak peduli lagi, ia memilih memejamkan kedua matanya dan mencoba untuk tidur.
.
.
.
Hangat, Jongin mendekatkan tubuhnya pada sesuatu yang membuatnya merasa nyaman. "Sudah siang kita harus kembali ke Seoul." Suara berat itu membuat Jongin terjaga, tidak ada kokok ayam jantan yang dengan setia membangunkannya. Otak Jongin perlahan berfungsi kembali, ia ingat pergi ke pinggiran Seoul dengan Chanyeol, memeriksa tempat upacara pernikahan, bermain tebak lagu, sedikit berdebat, dan tidur.
"Chanyeol…," gumam Jongin tak percaya, saat kedua kelopak matanya terbuka, wajah Chanyeol sangat dekat dengannya.
"Hmmm.., tentu aku siapa lagi."
Jongin melirik ke bawah, tangan Chanyeol memeluknya, mereka berpelukan dalam tidur. "Ya, kau benar kita berpelukan saat tidur." Jawab Chanyeol seolah-olah mengerti apa yang sedang Jongin pikirkan sekarang.
"Lalu kenapa kau tidak melepaskannya sekarang?"
Tanpa mengucap sepatah katapun, Chanyeol melepas pelukannya, ia langsung berdiri dan berjalan pergi. "Aku mau mandi, jika lapar periksa saja apa yang ada di dalam lemari pendingin, makan apapun yang kau inginkan." Ucap Chanyeol.
"Hmm." Gumam Jongin, dia masih berbaring miring, memandangi tempat yang Chanyeol tinggalkan. Suhu hangat dari tubuh Chanyeol, samar-samar masih terasa. Jongin memilih untuk menyingkirkan segala pemikirannya tentang Chanyeol, ia bangun, menyeret tubuhnya ke dapur untuk memeriksa lemari pendingin seperti perintah Chanyeol.
Jongin menemukan roti tawar dan selai stroberi, tanpa basa-basi lagi ia ambil bungkus roti tawar dan selai stroberi dari dalam lemari pendingin, ia letakkan ke atas meja makan. Perutnya sudah mengeluarkan protes, namun entah mengapa kedua tangannya menolak untuk menjamah makanan yang tersedia di hadapannya itu.
"Apa kau menungguku?"
"Tidak, aku mau mandi dulu sebelum sarapan."
"Pergilah. Tidak ada baju ganti lagi."
"Tidak masalah."
"Jongin." Panggilan Chanyeol menghentikan langkah Jongin yang hanya berjarak beberapa senti lagi dari ambang pintu kamar mandi. "Aku mengakui jika tertarik padamu. Tapi ada permintaan dariku yang harus kau kabulkan."
"Apa?"
"Jangan menerima cintaku meski aku memohon. Aku hanya akan hidup bersama dengan Baekhyun. Aku akan mendapatkan Baekhyun kembali."
"Aku tahu itu."
"Terima kasih, Kai." Chanyeol menunjukkan seringaian konyolnya, Jongin tersenyum tipis kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Haah…," desah Chanyeol, ia duduk di atas kuris dari kayu mahoni kualitas terbaik. Tangan kirinya bergerak menyentuh liontin couple ring yang melingkari lehernya. Kedua mata Chanyeol menatap nanar ke arah jendela bertirai putih di hadapannya.
TBC
