Ring
Characters: Baekhyun, Chanyeol, Jongin (Kai), Kyungsoo, Xiumin, Sehun, and others
Pairing: Chankai, Chanbaek (slight)
Warning: BL, Mpreg (mentioned)
Rated: T-M
Boomiee92
Hola semuanya saya kembali, seperti biasa sebelum membaca harap maklum jika ada banyak kesalahan ejaan, bahasa tidak baku, tidak sesuai EYD, alur terlalu cepat, dan cerita yang semakin kacau, happy reading dan see you soon, makasih untuk review dan siapa saja yang mau baca cerita aneh saya Bye, bye….
Previous
"Jangan menerima cintaku meski aku memohon. Aku hanya akan hidup bersama dengan Baekhyun. Aku akan mendapatkan Baekhyun kembali."
"Aku tahu itu."
"Terima kasih, Kai." Chanyeol menunjukkan seringaian konyolnya, Jongin tersenyum tipis kemudian menghilang di balik pintu kamar mandi.
"Haah…," desah Chanyeol, ia duduk di atas kuris dari kayu mahoni kualitas terbaik. Tangan kirinya bergerak menyentuh liontin couple ring yang melingkari lehernya. Kedua mata Chanyeol menatap nanar ke arah jendela bertirai putih.
Bab Sembilan
"Kau siap?"
"Hmm." Gumam Jongin pelan.
"Aku akan keluar terlebih dulu." Chanyeol berbalik meninggalkan kamar ganti. Sementara Jongin masih mengamati pantulan tubuhnya yang terbalut dalam jas putih.
"Ini benar-benar terjadi, kenapa aku jadi tegang, ini hanya permainan." Bisik Jongin kepada dirinya sendiri.
"Kau siap?" Kyungsoo membuka pintu sedikit, menjulurkan lehernya menatap Jongin.
"Aku siap, tentu saja aku siap." Jongin bersusah payah mengatur suaranya agar tak terdengar bergetar hingga membuat Kyungsoo curiga dirinya sedang gugup.
"Bagus, ayo." Jongin mengangguk, berjalan mendekat dan menerima uluran tangan Kyungsoo.
Upacara pernikahan berlangsung sesuai dengan keinginan Chanyeol, sederhana, di tengah ladang gandum, hanya ada dua puluh lima orang yang diundang, kedua belah pihak keluarga, sahabat-sahabat, dan perwakilan media masa.
Jongin memeluk lengan kanan pamannya, menatap altar pernikahan tempatnya mengucap janji. Altar kecil dengan kanopi bunga Lily Of The Valley sebagai lambang cinta dan kerendahan hati, dipadu dengan kain putih, ungu, dan merah muda, terjuntai menyentuh tanah. Altar indah itu menghadap langsung ke ladang gandum yang berwarna kuning muda. Kursi tamu undangan terbalut kain putih dengan hiasan buket mawar putih pelambang kemurnian dan kerendahan hati. Jantungnya bergemuruh, Jongin mempererat pelukannya pada lengan sang paman.
"Kau gugup?" ucap paman Jongin dengan suara lembut, Jongin hanya mengangguk, sekarang dia mengerti bukan rasa gugup yang ia rasakan, melainkan ketakutan, karena kebohongan besar telah ia mulai dan semuanya tidak bisa ditarik kembali. "Semuanya akan baik-baik saja." Jongin berusaha untuk tersenyum dan menampakkan semuanya sempurna dimata sang paman, tanpa kebohongan, tanpa kontrak. Hanya pernikahan wajar.
Di altar, Chanyeol berdiri tegap menunggu kedatangan Jongin dan pamannya. Jongin melangkah pelan menuju altar didampingi sang paman, pandangannya tidak bisa berpaling dari Chanyeol, yang hari ini tampak berbeda dalam balutan jas putih. Paman Jongin melepaskan lengannya dari Jongin, Jongin melangkah pelan dan berhenti di hadapan Chanyeol.
"Kalian siap?"
"Kami siap." Ucap Chanyeol sedangkan Jongin hanya menganggukkan kepala, ia takut suaranya akan terdengar bergetar. Jongin ingin memalingkan wajahnya dari pandangan Chanyeol atau hal lain yang lebih ekstrim, kabur dari altar. Kebohongan ini terlalu menyesakkan.
Chanyeol memegang kedua telapak tangan Jongin yang terlihat gemetar. Menggenggamnya dengan lembut. Jongin menatap kedua mata bulat Chanyeol, dan laki-laki itu tersenyum kepadanya.
"Park Chanyeol, apa Anda bersedia menerima Kim Jongin sebagai pasangan seumur hidup Anda mengasihi, mencintai, dan menghormati, dalam suka dan duka, dalam kekayaan dan kekurangan, dalam sehat dan sakit hingga maut memisahkan?"
"Saya bersedia."
Jongin merasa sesak karena jantungnya sudah berdetak di luar batas normal, keringat dingin terasa mengalir dan membasahi punggungnya yang terbalut kemeja dan jas. Hingga maut memisahkan, seandainya kalimat membebani itu tidak pernah ada, pasti rasanya tidak akan terlalu berat seperti sekarang.
"Kim Jongin apa Anda bersedia menerima Park Chanyeol sebagai pasangan seumur hidup Anda? Mengasihi, mencintai, dan menghormati, dalam suka dan duka, dalam kekayaan dan kekurangan, dalam sehat dan sakit hingga maut memisahkan?"
Jongin menelan ludahnya kasar, ia menoleh ke arah tamu undangan, bidikan kamera langsung tertuju ke arah wajahnya. Ia tidak peduli, bukan kamera yang ia pedulikan. Di sana ada paman, ibu, dan dua kakak perempuannya. Orang-orang terdekat yang harus ia dustai.
"Kim Jongin?" dan janji diulangi. Pandangan Jongin masih lekat menatap keluarganya.
"Kai," Jongin bisa mendengar panggilan lembut Chanyeol. ditatapnya kembali wajah Chanyeol yang terlihat cemas menunggu.
"Ya, saya bersedia."
Xiumin dan Kyungsoo yang sudah siap berdiri di dekat altar bergegas mendekati Chanyeol dan Jongin menyerahkan kotak beludru berisi cincin. Jongin mengambil cincin pengikat janji pernikahan itu dari dalam kotak dengan jari-jari tangan bergetar.
Chanyeol menyematkan cincin pernikahan pada jari manis tangan kanan Jongin, cincin polos dari bahan emas dengan taburan batu berlian berukuran kecil pada permukaan sebagai pemanis. Jongin melakukan hal yang sama dengan sedikit bantuan Chanyeol karena tangannya yang terlalu gemetar.
Chanyeol menoleh, menatap Baekhyun yang duduk di barisan depan bersama Suho dan anggota keluarga lainnya. Karena Jongin, ia tidak terlalu memikirkan Baekhyun akhir-akhir ini, tapi keinginannya untuk mendapatkan Baekhyun kembali masih terasa sangat kuat.
Chanyeol mendekatkan wajahnya kepada Jongin, perlahan ia kecup bibir penuh Jongin. Jongin memejamkan kedua matanya, sekarang ia sadar, permainan telah dimulai. Tidak ada jalan untuk kembali selain menyelesaikan permainan ini.
Seluruh tamu undangan bertepuk tangan meriah, Jongin membuka kedua kelopak matanya yang beberapa detik tadi tertutup. Taburan kelopak mawar mengenai wajah dan rambutnya, tanpa sadar Jongin tertawa dan hal itu diikuti oleh Chanyeol.
Setelah acara pemberkatan, seluruh tamu undangan dipersilakan untuk menikmati hidangan, namun ada juga beberapa tamu yang memilih untuk berdansa. Chanyeol dan Jongin berdiri berdampingan di dekat meja panjang berisi aneka hidangan, keduanya tampak cukup canggung.
"Apa kita harus berdansa?" tanya Chanyeol pelan.
"Entahlah, aku buruk dalam hal berdansa."
"Aku juga."
Tiba-tiba Suho berjalan ke arah keduanya dengan senyum lebar tercetak jelas di wajah tampannya. Suho berdiri di depan Jongin, sedikit membungkukkan badannya, ia ulurkan tangan kanannya kepada Jongin. "Apa aku boleh mengajakmu berdansa?" Tentu saja Jongin bingung, ia menoleh menatap Chanyeol yang melempar tatapan tidak suka. "Chanyeol?" kali ini Suho meminta ijin kepada Chanyeol.
"Terserah Jongin." Balas Chanyeol datar, Suho tertawa pelan.
"Baiklah." Jongin memberi jawaban, karena jujur saja suasana yang tercipta antara Chanyeol dan Suho seperti perang dingin. Suho tersenyum ia genggam dengan erat tangan kanan Jongin yang menyambutnya.
"Jangan melewati batas Hyung atau Jongin akan memukulmu." Peringat Chanyeol yang ditanggapi oleh kekehan renyah Suho.
"Wow! Kau lebih tinggi dariku rupanya." Ucap Suho, yang dibalas dengusan malas Jongin. Bukankah mereka sudah bertemu dan seharusnya tinggi badan Jongin yang tidak begitu jauh dari Chanyeol, sudah cukup sebagai informasi bagi Suho.
Alunan musik yang lembut mengalun mengiringi para tamu yang berdansa, Suho melingkarkan kedua tangannya pada pinggang Jongin. Secara otomatis Jongin meletakkan kedua tangannya pada bahu Suho. "Bagaimana perasaanmu saat mengucapkan janji?"
"Tegang." Balas Jongin singkat.
"Kau bukan tipe orang yang mudah akrab dengan orang lain."
"Mungkin." Jongin membalas datar. Suho tersenyum simpul.
"Besok kalian akan terbang ke pulau Jeju, semoga berhasil."
"Untuk apa?"
"Memperoleh keturunan."
Jongin memutar kedua bola matanya malas, rasanya dia ingin sekali menonjok wajah mulus Suho. Orang seperti Suho selalu tahu bagaimana caranya mengintimidasi orang lain. "Kau sendiri kapan rencanamu memperoleh keturunan dari Baekhyun?" Jongin menyerang balik.
"Secepatnya, mungkin sebelum kami menikah."
Kedua mata Jongin membulat sempurna. "Kau tidak sedang bercanda kan?" Suho menggeleng pelan. Jongin berpikir dia harus mengatakan semua ini kepada Chanyeol. "Apa kau memaksa Baekhyun? Aku melihat Chnayeol dan Baekhyun saling mencintai lalu kau muncul. BUM! Seperti meteor."
"Apa kau penasaran dengan hubunganku dan Baekhyun, apa Chanyeol yang menyuruhmu mencari tahu, aku yakin ada sesuatu di balik pernikahan ini. Chanyeol, dia bukan tipe orang yang mudah berpindah ke lain hati." Jongin hanya diam, dia tidak tahu Suho yang berwajah polos bisa tampak mengerikan seperti sekarang. Suho mendekatkan bibirnya pada telinga kanan Jongin. "Ya, aku melakukan sesuatu pada Baekhyun karena aku sangat membenci Chanyeol, aku akan membuat Chanyeol hancur."
Jongin mengeraskan rahangnya sungguh dia harus mengeluarkan segenap tenaga untuk menahan diri agar tak mendaratkan bogem mentah pada wajah Suho. "Kau tidak marah kan? Melihat Chanyeol menikahimu, aku janji akan menjauhi Chanyeol."
.
.
.
Chanyeol menduduki salah satu kursi tamu undangan yang kosong, beberapa kali ia melirik ke arah Jongin dan Suho yang masih sibuk berdansa. "Kau tidak ingin berdansa?" Chanyeol langsung memalingkan wajahnya, dan mendapati seorang Byun Baekhyun tengah berdiri di hadapannya.
"Aku—tidak pandai berdansa."
"Tapi tradisinya mempelai harus berdansa. Mau berdansa denganku?"
"Tidak Baek."
"Aku memaksa." Baekhyun tersenyum manis, ia genggam tangan kanan Chanyeol, menariknya. Chanyeol hanya bisa menutup mulutnya dan menurut.
Jongin melihat Chanyeol yang kini bergabung ke lantai dansa dengan Baekhyun. "Apa kau cemburu?" goda Suho.
"Tidak, kau cemburu?"
"Tidak, Baekhyun sudah menjadi milikku kenapa aku harus cemburu, Chanyeol tidak akan menang melawanku."
"Jangan meremehkan orang lain." Balas Jongin datar.
"Apa kau rela melepaskan Chanyeol untuk Baekhyun." Suho menatap tajam kedua mata hitam Jongin. "Jika kau dan Chanyeol bercerai hanya dalam waktu yang singkat, paling lama satu tahun, dan kalian tidak memiliki keturunan, atau Chanyeol mendapatkan Baekhyun kembali. Pernikahan kalian hanya setingan belaka."
Jongin menarik napas dalam-dalam, menghembuskannya perlahan, ia harus menghadapi situasi ini dengan tenang dan cerdas. "Untuk orang yang berbuat curang kau tidak pantas mengancamku Kim Junmyeon."
"Jika dalam waktu tiga bulan kau tidak hamil, aku pantas curiga Jongin, siapa yang bisa menolak tubuh seksimu, bahkan Oh Sehun bertekuk lutut di hadapanmu." Suho kembali mendekatkan bibirnya pada telinga Jongin. "Aku tidak keberatan menikmatimu."
Cukup! Jongin tidak bisa menahannya lagi. Dia tidak sadar jika tinju kerasnya sudah melayang dan mendarat pada rahang kanan Suho. Seluruh pasang mata tamu undangan tertuju kepada Suho yang terjengkang ke atas tanah, Baekhyun dengan panik berlari menghampiri tunangannya.
"Maaf tanganku licin." Ucap Jongin santai, kemudian dia putuskan untuk meninggalkan halaman belakang, sebelum emosinya tak terkendali dan dia memutuskan untuk menghajar Suho. Chanyeol memutar tubuhnya cepat mengikuti langkah panjang-panjang Jongin memasuki villa.
Jongin membanting pintu kamar keras, ia lepas jas putihnya dan ia lemparkan ke sembarang tempat. Ia acak rambutnya, dia harus benar-benar pergi dari tempat ini karena udara sekarang terasa sangat menekan.
"Jongin…,"
"Jika kau mau memulai ceramah jangan sekarang!" pekik Jongin menghentikan apapun yang ingin Chanyeol ucapkan.
"Aku tidak akan menceramahimu apa-apa, tenangkan dirimu."
Jongin duduk di pinggir tempat tidur, mengacak rambutnya frustasi. "Suho sudah curiga, sungguh dia sangat cerdas. Dia juga bilang jika dia melakukan sesuatu kepada Baekhyun. Chanyeol." Jongin berdiri menatap tajam Chanyeol. "Aku akan menyuruh Kyungsoo hyung menyelidiki semuanya, dan—dan aku bingung harus melakukan apa?! Kakak tirimu mengerikan, dia orang yang sangat mengerikan dan licik."
"Aku tahu itu Jongin, aku akan mengatasinya sendiri, terima kasih atas bantuanmu."
"Maksudmu? Kau akan mencari kebenarannya tanpa bantuan Kyungsoo hyung?"
Chanyeol mengangguk pelan. "Aku sudah cukup merepotkanmu Jongin. Apalagi yang Suho katakan, bagaimana kau bisa berpikir dia mencurigai pernikahan ini?"
"Itu tidak penting. Sudahlah." Jongin melihat ke arah jendela. "Aku membuat kekacauan hari ini dengan memukul Suho."
"Dia pantas mendapatkannya."
"Jika ada berita yang menyebar bagaimana?!" pekik Jongin, kesal dengan sikap santai Chanyeol.
"Ada keluargaku di sini, tidak akan ada berita yang menyebar. Kau tenang saja."
"Semoga kau benar." Jongin berniat untuk pergi namun Chanyeol menahan lengannya dengan erat. "Aku harus pergi, kepalaku ingin meledak."
"Jangan membuat situasi memburuk Jongin."
"Aku sangat marah pada kakakmu, apa aku boleh menghajarnya?"
"Aku tidak keberatan sama sekali, tapi ada banyak orang di luar sana aku yakin mereka tidak ingin menyaksikan pertunjukkan gulat di upacara pernikahan." Chanyeol mencoba bercanda untuk menurunkan kadar kemarahan Jongin.
"Seharusnya aku tersenyum dengan leluconmu, sayang aku terlalu marah sekarang."
"Hmm, kau boleh memukulku."
"Apa?!" pekik Jongin tak percaya.
"Kau ingin memukul Suho, karena itu tidak mungkin maka pukul saja aku, anggap aku Suho."
"Jangan bercanda."
"Aku tidak bercanda."
"Haah… ya ampun." Keluh Jongin, ia sentak kasar lengannya dari genggaman Chanyeol. "Lebih baik aku mandi air dingin sekarang." Jongin meninggalkan kamar, beberapa saat kemudian Chanyeol bisa mendengar bantingan keras pintu kamar mandi, ia berharap pintu kamar mandi tidak akan rusak karena ulah Jongin.
"Jadi ada sesuatu di balik alasan Baekhyun memutuskan hubungannya denganku dan memilih Suho." Chanyeol menyeringai. "Aku akan mengetahui kebenarannya." Chanyeol menggenggam liontin cincin di balik jas yang ia kenakan, keyakinannya penuh, ia akan mendapatkan Baekhyun kembali.
.
.
.
Pukul delapan malam seluruh pesta perayaan pernikahan Jongin dan Chanyeol berakhir dan seluruh undangan telah pergi dari villa kecil tempat kakek Chanyeol melarikan diri. Keduanya duduk di depan perapian yang menyala kecil. "Sebaiknya kita tidur, besok pagi-pagi buta sopir ayahku akan datang untuk menjemput kita untuk terbang ke Jeju."
"Hmm." Balas Jongin datar. "Tas?!" pekik Jongin, benar, keduanya sedang duduk sambil sibuk membuka bungkusan hadiah pemberian para tamu undangan. "Kyungsoo hyung memberikan tas couple."
Chanyeol memperhatikan dua tas ransel dengan model yang sama satu berwarna hitam dan yang lain berwarna cokelat. "Aku ambil yang cokelat." Ucap Chanyeol tanpa basa-basi.
"Baiklah, aku suka hitam." Jongin melempar tas ransel pilihan Chanyeol dengan kasar ke pangkuan Chanyeol. "Sehun?"
"Dia menitipkan hadiahnya kepada Xiumin."
Jongin menendang kotak hadiah Sehun menjauh. "Kita buka kapan-kapan saja." Ucapnya datar.
"Apa ada sesuatu yang mengganggumu?"
"Tidak ada, hanya saja—kenapa kau tidak mengundang Oh Sehun?"
"Tidak ingin, tidak ada alasan lain."
"Kau mempersulit hidupku," gerutu Jongin, ia yakin saat bertemu dengan Sehun nanti si makhluk menyebalkan itu akan menagih janji undangan pernikahannya serta bertanya apakah dirinya suka dengan hadiah yang ia berikan.
"Bilang saja kau lupa, jangan terlalu dipikirkan, Sehun memang menyebalkan. Katakan padaku jika dia bertindak kurang ajar."
Jongin menyeringai. "Memang apa yang akan kau lakukan pada Oh Sehun?"
"Kita sudah menikah, aku harus melindungimu."
"Wow, kau membuatnya terdengar seperti kita menikah sungguhan. Terima kasih aku bisa melindungi diriku sendiri. Dan satu hal aku tidak bisa terbang ke Jeju untuk bulan madu."
"Kenapa?"
"Sehun mengubah jadwal kerja kami. Aku harus ke London."
"Aku pikir dia sengaja melakukannya."
"Mungkin."
"Kita bisa mengubah jadwal bulan madu, atau pergi ke tempat lain yang lebih dekat, pulau Nami, Lotte World atau…,"
"Atau sebaiknya kita mulai menjaga jarak sebelum kau benar-benar jatuh cinta padaku, ingat tujuan awal pernikahan kontrak ini Park Chanyeol." ucap Jongin dingin, ia berdiri dan berjalan meninggalkan Chanyeol. "Aku tidur dulu, selamat malam."
"Selamat malam." Ucap Chanyeol tanpa mengangkat wajahnya untuk menatap Jongin.
.
.
.
Chanyeol menggeliat pelan, sungguh tidur di atas sofa yang panjangnya tidak cukup untuk menampung seluruh tinggi badannya, sangat tidak nyaman. Chanyeol menggeliat, merenggangkan seluruh ototnya yang terlalu kaku. Api di dalam perapian telah padam, menyisakan abu. Ia berdiri, berjalan menuju pintu kamar yang Jongin tempati, ia ketuk pelan pintu kamar. Tidak ada jawaban, Chanyeol putuskan untuk mendorong pintu kamar, ia dapati kamar yang telah kosong dengan sprei tempat tidur dalam keadaan rapi, selimut terlipat. Ransel Jongin juga sudah tidak ada di sana.
"Jongin!" Chanyeol benar-benar panik, ia bergegas mengambil ponsel di dalam saku jinsnya untuk menghubungi Jongin atau Kyungsoo. Kedua ponsel orang itu tidak aktif. Chanyeol bergegas keluar kamar, dia berniat menghubungi Xiumin untuk mencari keberadaan Jongin saat kedua matanya menangkap sesuatu yang tertempel di pintu lemari pendingin.
Kau terlihat sangat lelah Chanyeol, aku tidak tega membangunkanmu (aku bohong) Kyungsoo hyung menjemputku setengah lima pagi, aku langsung terbang ke London untuk bekerja bersama Sehun, aku di sini selama seminggu jangan terlalu merindukan aku
Kim Jongin
Chanyeol menelan ludahnya kasar, Jongin pergi ke London tanpa berpamitan kepadanya. Seharusnya itu tidak menjadi masalah, namun entah mengapa ada suatu perasaan yang kini mengganggu Chanyeol. "Kau tidak sempat berpamitan pada suamimu, dasar bocah." Dengus Chanyeol, ia remas kertas berisi catatan itu, kemudian melemparkannya ke sembarang tempat. Semuanya sudah jelas, ia harus mandi, mengisi perutnya, dan bergegas kembali ke Seoul. Kepergian Jongin mungkin ada baiknya, karena dirinya dan Jongin bisa sedikit membuat jarak.
.
.
.
"Chanyeol aku butuh cuti, sungguh, kau selalu membuatku terkena serangan jantung ringan." Chanyeol hanya tertawa pelan mendengar protes Xiumin. "Aku serius!" pekik Xiumin gemas. "Kau membatalkan rencana bulan madumu ke Jeju, dan aku harus membuat semua alasan yang cukup masuk akal untuk semua pembatalan tiba-tibamu."
"Maaf Hyung, tapi ini bukan murni kesalahanku, seharusnya Hyung juga memarahi Oh Sehun yang seenak jidatnya mengubah jadwal kerjanya dengan Jongin."
"Terserahlah Chanyeol kepalaku pening." Xiumin memijit pelan pelipis kanannya. "Ini jadwalmu selama empat hari ke depan, sekarang pikirkan jawaban seperti apa yang akan kau berikan pada para wartawan. Kenapa pengantinmu justru pergi dengan seorang supermodel tampan, Oh Sehun dibanding bulan madu romantis dengan suaminya." Xiumin meletakkan kertas berisi jadwal Chanyeol ke atas meja kopi kemudian beranjak pergi.
Chanyeol melihat sekilas jadwalnya tanpa ada niatan untuk membacanya lebih teliti. Ia masukkan jadwal itu ke dalam ransel yang ia bawa. Chanyeol memilih untuk pergi ke kantin membeli secangkir kopi daripada duduk seorang diri di ruangan kosong seperti sekarang.
Sesampainya di kantin, Chanyeol memilih duduk di dekat jendela, secangkir kopi hitam mengepul menguarkan aroma khas kopi yang kuat. Dulu dia tidak terlalu suka dengan kopi, namun pengaruh Xiumin membuatnya menyukai cairan hitam pekat dengan rasa pahit yang khas itu.
Chanyeol mengamati jalanan dan trotoar yang padat khas kawasan Gangnam di bawah sana. "Kau seorang diri?" Chanyeol langsung menoleh, Baekhyun tersenyum kepadanya. "Boleh aku duduk?" Chanyeol hanya mengangguk.
Baekhyun meletakkan jus jeruk yang ia pesan ke atas meja. "Aku hanya ingin meminta maaf atas sikapku yang kasar padamu Chanyeol."
"Ya." Balas Chanyeol datar.
"Baiklah, aku pasti terdengar konyol sekarang, aku yang memutuskanmu tanpa alasan, bersikap kasar, kemudian meminta maaf." Chanyeol tidak membalas, ia memilih bungkam dan memperhatikan cairan hitam di dalam cangkirnya.
"Uhm.., bagaimana malam pertama kalian, maaf aku lancang."
"Tidak ada yang istimewa, kami langsung tidur Jongin berangkat ke London pagi ini, dia ada kontrak dengan Sehun."
"Oh jadi kalian belum…,"
"Baek, apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku? Katakan, mungkin aku bisa membantumu. Sejujurnya aku tidak bisa melepaskanmu, dan aku berencana untuk mendapatkanmu kembali." Chanyeol bisa melihat keraguan pada kedua bola mata Baekhyun.
"Aku rasa aku harus pergi sekarang, ada beberapa hal yang harus aku kerjakan." Baekhyun langsung berdiri dan pergi dengan tergesa-gesa, dia bahkan meninggalkan jusnya di atas meja begitu saja.
"Aku harus mendapatkanmu kembali Byun Baekhyun." Tekat Chanyeol.
"Chanyeol! cepatlah kita harus bergegas ke acara radio!" Xiumin selalu datang dengan cara yang menghebohkan, bahkan semua orang yang ada di kantin langsung menatap Xiumin. Tentu saja Xiumin tidak peduli.
"Hyung…," rengek Chanyeol yang merasa malu dengan perbuatan Xiumin. Ia berdiri dan berjalan menghampiri menejernya. "Bisakah Hyung menghubungi Jongin."
"Kau rindu padanya?"
"Tidak, aku hanya penasaran dengan apa yang dilakukannya di London."
"Lusa saja Chanyeol, kau pikir jarak London dan Seoul itu dekat, pikirkan juga perbedaan waktunya."
Chanyeol menggaruk tengkuknya. "Kirimkan email untuk Jongin."
"Kenapa tidak kau sendiri yang melakukannya?"
"Hyung…," rengek Chanyeol.
"Kalian sudah menikah, Jongin milikmu." Xiumin menggoda Chanyeol kemudian tertawa terpingkal-pingkal, mengabaikan seluruh tatapan aneh orang-orang yang berpapasan dengan dirinya dan Chanyeol.
Chanyeol berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak menghubungi Jongin, Jongin memintanya untuk menjaga jarak, dia juga meminta agar dirinya tidak terlalu merasa rindu. "Aku sama sekali tidak merindukan bocah hitam itu," gerutu Chanyeol.
"Chanyeol!" Xiumin sudah memberi kode agar dirinya bergegas, Chanyeol berlari menghampiri Xiumin yang entah sejak kapan sudah berada cukup jauh dari posisinya berdiri, memikirkan Jongin itu membawa keburukan baginya, benar, dirinya harus menjaga jarak dari Jongin. Tidak boleh ada cinta yang terlibat dalam pernikahan sandiwara ini.
TBC
