Ring
Characters: Baekhyun, Chanyeol, Jongin (Kai), Kyungsoo, Xiumin, Sehun, and others
Pairing: Chankai, Chanbaek (slight)
Warning: BL
Rated: T-M
Boomiee92
Halo saya ingkar janji padahal kemarin mau update satu-satu tapi ternyata cerita ini jadi panjang sekali, kalo satu-satu ampe akhir tahun belum kelar nih cerita hehehe, saya sampai bingung mau bagaimana jadi maaf ya jika jalan ceritanya semakin aneh, ya, karena saya memang aneh juga sih, btw happy reading ya, selamat hari minggu…. (gk penting tolong author)
Previous
Chanyeol berjanji kepada dirinya sendiri untuk tidak menghubungi Jongin, Jongin memintanya untuk menjaga jarak, dia juga meminta agar dirinya tidak terlalu merasa rindu. "Aku sama sekali tidak merindukan bocah hitam itu," gerutu Chanyeol.
"Chanyeol!" Xiumin sudah memberi kode agar dirinya bergegas, Chanyeol berlari menghampiri Xiumin yang entah sejak kapan sudah berada cukup jauh dari posisinya berdiri, memikirkan Jongin itu membawa keburukan baginya, benar, dirinya harus menjaga jarak dari Jongin. Tidak boleh ada cinta yang terlibat dalam pernikahan sandiwara ini.
Bab Sepuluh
London, Inggris
Perbedaan waktu adalah hal yang menyebalkan bagi Jongin, ia tidak bisa tidur nyenyak di malam pertamanya. Dirinya berakhir dengan duduk di dekat jendela kamar hotel, memandangi sungai Thames yang mengalir membelah kota London.
Nada notifikasi Line Jongin berbunyi, ia melihat wajah Sehun tertera pada layar ponselnya. Entah mengapa terbersit sedikit rasa kecewa di hatinya, karena jujur dia berharap Chanyeol yang menghubunginya.
"Bersiaplah aku menunggumu untuk sarapan di bawah." Gumam Jongin malas, ia melirik ke arah Kyungsoo yang sepertinya sangat lelah, membuat Jongin tidak tega membangunkan menejer mungil nan imutnya itu, saat tertidur saja Kyungsoo jadi sangat menggemaskan, saat bangun, Kyungsoo itu si mungil menjengkelkan.
Jongin memutuskan untuk mandi agar tubuhnya segar, menghilangkan sisa kepenatan perjalanan jauh dari Seoul ke London. Sepuluh menit kemudian, Jongin sudah berpakaian pantas, ia mengenakan mantel hitam dengan syal merah melingkari lehernya, Inggris memasuki musim gugur udara terasa lebih dingin dibanding Seoul. Sebelum pergi Jongin menulis pesan dan mengirimkannya ke ponsel Kyungsoo, ia yakin Kyungsoo akan marah besar mengingat Kyungsoo sendiri yang melarangnya pergi dengan Sehun seorang diri di luar jadwal kerja.
.
.
.
"Aku tidak tahu apa rencanamu Sehun, tapi tindakanmu ini terlalu berlebihan. Kau tahu sendiri Jongin baru saja menikah dan kau—malah membawanya ke London."
Sehun hanya menyeringai mendengarkan gerutuan menejernya. "Jongin datang, Hyung diam saja biarkan aku melakukan apapun yang aku inginkan."
"Terserahlah." Ucap Chen jengah, ia angkat cangkir dan menyesap tehnya, memikirkan tingkah laku Sehun hanya akan membuatnya mengalami penuaan dini.
"Jongin!" pekik Sehun antusias. "Aku pikir kau tidak datang?" Jongin memilih bungkam, ia tarik kursi kosong di hadapan Sehun lalu duduk. "Kau tidak mengundangku ke pernikahanmu."
"Maaf, hanya orang-orang terdekat saja yang kami undang."
"Apa aku bukan orang terdekatmu?"
"Bukan." Chen hampir tersedak tehnya mendengar jawaban Jongin yang terlalu blak- blakan itu. Sehun melirik tajam menejernya yang terlihat berusaha keras untuk tak tertawa.
"Mungkin kita bisa menjadi dekat di sini." Sehun melempar senyuman terbaiknya, senyuman yang mampu melelehkan semua mata yang memandangnya, kecuali Jongin mungkin, melihat reaksi datarnya.
Pelayan datang mengantarkan pesanan Sehun. Tiga waffle dengan selai di atasnya terhidang di atas meja, ditambah cangkir berisi teh hangat. "Wafle dengan selai apel, yang terbaik di sini. Apa kau suka?"
"Aku bisa memakan apapun." Balas Jongin malas.
"Aku bisa mengajakmu jalan-jalan setelah ini, kau belum pernah ke London kan? Ini keempat kalinya aku datang ke kota indah ini."
Jongin memilih memotong-motong waflenya tak peduli dengan gombalan Sehun yang terdengar membosankan. "Jongin." Panggil Sehun.
"Terima kasih atas tawarannya, tapi aku ingin tidur seharian dan bangun saat makan siang."
"Kau bisa gemuk."
"Aku harus gemuk." Balas Jongin. Sehun terdiam, dia berpikir mungkin Jongin harus menggemukkan badannya karena anjuran dokter jika dia dan Chanyeol ingin cepat memiliki keturunan, sementara Jongin berpikir dia harus menggemukkan badan karena kesal dengan sebutan papan penggilasan ala Kyungsoo.
"Apa kau suka dengan hadiahku?"
Susah payah Jongin menelan waflenya, tentu saja Sehun tidak akan melewatkan pertanyaan itu. Jongin ingat dengan jelas, dia menendang kotak hadiah Sehun. "Sejujurnya aku belum membuka hadiah apapun selain dari Kyungsoo hyung." Jongin tidak melihat ada alasan penting untuk membohongi Sehun. Dia tidak harus menjaga perasaan Sehun, toh mereka bukan teman baik.
"Sayang sekali padahal aku sudah memilih yang terbaik untuk kalian." Nada sedih yang dibuat-buat terdengar menjijikkan di telinga Jongin.
"Akan aku buka setelah sampai di Seoul. Melihat ukuran kotaknya aku yakin kau tidak memasukkan kunci mobil, motor, atau rumah."
"Kau menginginkan hadiah seperti itu dariku?" Jongin hanya mengendikkan bahu.
"Aku bisa memenuhi semua permintaanmu jika kau jadi milikku."
"Benarkah?!" pekik Jongin. "Aku mau Pluto." Bibir Sehun terbuka namun tak ada kalimat yang tercipta, Chen berusaha keras untuk tak tertawa. Sungguh Jongin bisa memukul telak Sehun.
Jongin memasukkan potongan waffle terakhirnya, ia sesap tehnya. Setelah perutnya merasa puas, ia berdiri dari kursi membungkukkan badannya kemudian berbalik dan pergi. Sehun hanya bisa mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, tidak percaya dengan tindakan Jongin.
"Hyung jujurlah." Sehun menoleh setelah dirinya kembali ke dunia nyata, menatap Chen serius.
"Apa?" Chen mengerutkan dahinya, bingung.
"Apa aku kurang tampan? Apa aku kurang tinggi? Apa aku kurang seksi? Apa aku kurang kaya? Apa yang kurang dariku, kenapa Jongin mengabaikan aku?"
"Kau…," Chen menyipitkan kedua matanya. Sehun menatap penuh harap. "Kurang ajar." Ucap Chen sembari menyentil dahi Sehun.
"Hyung aku serius."
"Aku juga serius, jauhi Jongin dia sudah menikah, jangan cari gara-gara kau ini suka sekali bermain dengan api."
Sehun menumpukan kedua sikunya ke atas meja. "Aku yakin pernikahan Chanyeol dan Jongin hanya main-main."
"Tahu darimana?!" tantang Chen.
"Hanya firasat, aku ingin memiliki Jongin. Harus, dia harus jatuh cinta padaku."
"Mungkin kau hanya penasaran Sehun, siapa yang bisa menolak pesona Jongin, mungkin apa yang kau rasakan hanya kekaguman bukan cinta. Jangan terburu-buru menyimpulkan perasaanmu."
"Aku kesal sekali kenapa Jongin memilih Chanyeol, Park Dobi!" ucap Sehun jengkel tak peduli dengan nasihat Chen tentang perbedaan antara kekaguman dan rasa cinta.
"Jangan terlalu agresif, Jongin sepertinya tipe orang yang menahan diri, maksudku—aku tidak tahu bagaimana mengatakannya, dia suka diperhatikan hanya saja dia tidak ingin menunjukkannya, tarik ulur saja, aku rasa jika kau terlalu bernapsu dia akan menjauh dan menghadiahimu pukulan." Chen tersenyum mengejek. Sehun merengut kesal. Mengingat memar di perutnya yang belum sepenuhnya hilang.
.
.
.
Jongin tidak kembali ke kamar setelah acara sarapannya dengan Sehun dan menejernya, dia mampir ke toko di seberang hotel untuk membeli donat. Dia yakin Kyungsoo akan sangat lapar saat dia bangun nanti, dan dia terlalu malas untuk keluar hotel.
Pemandangan sungai Thames menarik perhatian Jongin, ia yakin Kyungsoo akan langsung menghubunginya jika dia bangun. Jongin melangkahkan kakinya menyusuri trotoar bergabung dengan para pejalan kaki lainnya. Dia tidak terlalu jauh berjalan kaki, Jongin belum pernah ke London, dia tidak ingin mengambil resiko tersesat.
Dari tempatnya berdiri sekarang, London eye dan menara Big Ben terlihat dengan jelas. Jongin tentu tak menyiakannya, ia mengambil ponsel dan mengabadikan dua bangunan yang termasuk ikon London itu. "Cukup, sebaiknya aku kembali sebelum Kyungsoo hyung bangun." Gumam Jongin kepada dirinya sendiri.
Jongin memeriksa ponselnya, berharap Chanyeol mengubunginya. Ia mendesah pelan, jengkel dengan dirinya sendiri yang terus berharap Chanyeol akan menghubunginya. "Kau harus menjauh Jongin," peringat Jongin, ia berlari-lari kecil kembali ke hotel.
.
.
.
Jongin menggesek kartu kuncinya, saat pintu terbuka Kyungsoo sudah bangun, ia duduk di atas tempat tidur dengan laptop di pangkuannya. "Sudah bangun?"
"Hmm." Gumam Kyungsoo pelan.
"Aku membawakanmu donat untuk sarapan, aku tidak tahu dimana membeli masakan Korea."
"Terima kasih," gumam Kyungsoo pandangannya masih tertuju ke layar laptop.
"Makanlah Hyung apa kau tidak lapar?"
"Lumayan lapar, aku ingin menyelesaikan obrolanku dengan Xiumin hyung dulu."
"Kau pasti sangat senang," gumam Jongin, sembari melepas syal dan mantel yang ia kenakan dan menyampirkannya ke atas sofa.
"Tidak juga, kami lebih banyak membicarakan hubunganmu dan Chanyeol."
"Aku?!" pekik Jongin tak percaya dengan apa yang didengarnya. "Apa yang kalian bicarakan?" Jongin tiba-tiba tertarik dan mendekatkan dirinya pada Kyungsoo.
Kyungsoo melirik tajam. "Kenapa tiba-tiba tertarik?"
"Hanya tertarik saja, sudahlah tidak penting, makan sarapanmu." Jongin merebahkan tubuhnya, menarik selimut hingga sebatas leher. Ia ingin tidur, tubuhnya sangat lelah efek dari perjalanan panjang. "Mau tidur lagi?"
"Ya, besok aku mulai bekerja, sekarang aku mau memanfaatkan semua waktu untuk tidur dan istirahat."
"Chanyeol ingin menghubungimu tapi dia menahan diri, apa yang kau katakan padanya?"
Jongin menahan napasnya, ucapan Kyungsoo sulit untuk dipercaya. Chanyeol ingin menghubunginya, berarti dia peduli. "Jongin?" panggil Kyungsoo.
"Oh itu—kami harus menjaga jarak atau semuanya akan sulit."
"Kau takut jatuh cinta pada Chanyeol?"
"Chanyeol yang jatuh cinta padaku, dia harus menjaga jarak atau rencananya untuk mendapatkan Baekhyun gagal." Jongin mengungkapkan semuanya kepada Kyungsoo, kemudian ia menutup kelopak matanya. Tidak ingin memikirkan Chanyeol dan perasaannya yang membingungkan. "Aku mau tidur, jangan membangunkan aku kecuali ada keadaan yang mengancam nyawa." Kyungsoo hanya tertawa pelan mendengar kalimat Jongin.
"Tadi kau sarapan bersama Oh Sehun kan?"
"Ya, tidak ada yang terjadi dia datang dengan menejernya setelah sarapan aku langsung pergi. Sudah Hyung jangan mengajakku mengobrol aku ingin tidur."
"Baiklah, baiklah, maaf, tidurlah sekarang."
Jongin memasang earphone untuk mendengarkan musik pada volume rendah, mendengarkan musik akan mencegahnya memikirkan hal-hal yang tak ingin ia pikirkan, salah satunya Chanyeol.
.
.
.
"Akhirnya kau bangun juga..," gumam Kyungsoo.
Jongin mengerjap-ngerjapkan kedua matanya, agar penglihatannya lebih jelas. Kyungsoo sudah terlihat rapi dan segar, duduk di sofa dengan televisi menyala.
"Hyung mengerti bahasa Inggris?"
"Tidak, hotel ini dilengkapi TV satelit aku melihat acara Korea, ada siaran ulang acara musik Chanyeol, dia menang penghargaan."
"Hmm." Balas Jongin tak tertarik, ia tarik lepas earphonenya. "Hyung yang mematikan musikku?"
"Ya, sudah berapa kali aku katakan, tidur dengan mendengarkan musik tidak baik bagi kesehatan telingamu." Jongin mendesah, bosan dengan nasihat Kyungsoo.
"Jam berapa sekarang?"
"Tiga waktu Inggris, mau menghubungi Chanyeol?"
"Tidak. Aku mulai lapar."
"Oh, ada sisa donat di atas nakas."
Jongin mengangguk pelan, tangan kanannya membuka kotak donat yang tadi pagi ia belikan untuk Kyungsoo. Ada satu setengah donat, satu dengan siraman cokelat mengkilat di permukaannya, yang setengah bertabur gula halus.
"Aku memotongnya tidak menggigit donatnya." Terang Kyungsoo.
"Aku tidak masalah jika Hyung menggigitnya, kita kan bersaudara." Ucap Jongin kemudian tersenyum tulus.
"Makanlah, setelah itu cuci mukamu aku sudah mengemasi barangmu."
"Mengemasi barang? Kita kemana?"
"Besok pagi-pagi kita pergi ke lokasi pemotretan."
Jongin tak menjawab, ia comot setengah donat di dalam kotak. Memakannya, membuat kedua sudut bibirnya kotor oleh gula bubuk. "Sehun ingin mengajak kita berdua jalan-jalan di sekitar sini, kau mau ikut?"
"Terserah Hyung."
"Aku bersedia, karena kurasa tidak baik menolak ajakannya. Meski kau tidak terlalu menyukai Sehun dia klien kita."
"Ya. Sayangnya dia klien kita." Kyungsoo hanya tersenyum simpul, dia tidak tahu harus menanggapi apa.
"Bersiaplah, aku sudah siap tinggal kau saja."
"Memang kapan Sehun mengirim pesan ajakannya?"
"Tiga jam yang lalu."
"Wow." Ucap Jongin membayangkan betapa bosannya Sehun menunggunya. Dan betapa kesalnya Sehun, membayangkan kekesalan Sehun sedikit menghibur Jongin.
Jongin mengambil mantel dan syalnya, dia memakainya dengan cepat, masuk ke kamar mandi sekedar untuk mencuci muka dan berkumur. Tidak ada hal lain. "Aku siap!" pekik Jongin lega, dia tidak terlalu suka melakukan sesuatu dibatasi waktu. "Hyung!" protes Jongin saat Kyungsoo dengan seenaknya menyemprotkan minyak wangi.
"Nah, ini baru pantas." Gumam Kyungsoo sembari memegangi dagunya memperhatikan penampilan Jongin. "Ayo bergegas, jangan sampai Sehun berubah menjadi fosil."
.
.
.
Sehun berdiri di lobi hotel menunggu Jongin, sepuluh menit yang lalu Kyungsoo sudah mengirim email bahwa Jongin sudah bangun dan menerima tawarannya, Sehun sudah mengirim email balasan namun Kyungsoo belum menjawabnya.
"Mungkin Jongin berubah pikiran."
"Tidak." Balas Sehun datar.
"Ayolah, Hun, mungkin kita bisa duduk di suatu tempat kakiku pegal."
"Tidak, aku tidak mau melewatkan Jongin."
"Tidak akan terlewat hanya ada satu jalan keluar dari hotel kecuali Jongin ingin melalui pintu darurat yang pasti aksesnya tidak dibuka bebas." Chen menerangkan panjang lebar, kedua kakinya sudah kebas menunggu dalam posisi berdiri selama kurang lebih tiga jam di lobi, mirip orang pandir, atau patung penyambut tamu. Terima kasih untuk tuan Oh Sehun yang terlalu terobsesi dengan fotografer seksi dan menyeretnya dari acara tidur siang ke lobi hotel.
"Kapan mereka datang?" Chen bertanya tak sabar.
"Sebentar lagi."
"Ayolah Hun kau sudah mengatakannya puluhan kali. Aku bosan mendengarnya, kau bisa pergi sendiri aku yakin kau tidak akan tersesat di London." Chen semakin malas melayani obsesi Sehun.
"Tidak, Kyungsoo hyung ikut. Hyung juga ikut."
"Untuk apa?!" pekik Chen semakin suntuk.
"Untuk ngobrol dengan Kyungsoo hyung sementara aku mendekati Jongin."
Chen menghentakkan kakinya kesal, ia berharap Kyungsoo dan Jongin segera datang atau ia akan menyeret Sehun pergi dari lobi dengan cara apapun. "Mereka datang!" pekik Sehun, ia tarik lengan Chen kuat-kuat, membuat Chen hampir kehilangan keseimbangan.
"Dasar bocah!" pekik Chen tertahan. Ia lirik Sehun dengan kedua mata berbinar-binar menatap Jongin yang menurut Chen—ya, Kim Jongin dia memang sangat seksi. Tapi reaksi Sehun terlalu berlebihan. "Dimana Oh Sehun yang dingin itu?" sindir Chen.
"Dia tertinggal di Korea." Balas Sehun asal. Sehun menarik napas dalam-dalam, menekan rasa antusiasnya, menata wajahnya, atau apalah sebutannya agar dia tak terlihat terlalu menginginkan kehadiran Jongin.
"Maaf membuat kalian menunggu." Ucap Kyungsoo ramah sembari membungkukkan badannya, Jongin juga melakukan hal yang sama tentu atas paksaan Kyungsoo yang meletakkan tangannya di kepala belakang Jongin. "Sudah lama menunggu kami?"
"Tidak, baru sepuluh menit." Balas Sehun dengan nada datar dan dingin khas Oh Sehun. Sementara Chen sendiri dia berusaha keras untuk tak berteriak marah, sepuluh menit?! Demi suara indahnya, mereka sudah berdiri di sini selama tiga jam.
"Jadi kita akan kemana?" Kyungsoo bertanya, Jongin hanya diam dan lebih memilih memandangi sepatu kets hitamnya.
"Berjalan-jalan di sekitar hotel, atau jika kalian tidak keberatan aku ingin pergi ke Hyde Park." Jawab Sehun, matanya mencuri pandang kepada Jongin berharap suaranya menarik perhatian Jongin, gagal, Jongin lebih tertarik dengan sepatu dan lantai marmer hotel.
"Aku rasa itu ide bagus, iya kan Jongin?" Kyungsoo menyikut lengan kanan Jongin.
"Oh, ya!" balas Jongin dengan nada antusias yang palsu. "Tapi aku masih lelah, bisakah kita mengunjungi satu tempat saja?" Sehun terlihat tidak terlalu senang dengan permintaan Jongin, sungguh ia ingin menghabiskan banyak waktu dengan Jongin.
"Baiklah, kita ke Hyde Park saja." Ucap Sehun, ia melangkahkan kedua kakinya mendahului Sehun dan Kyungsoo, Chen bergegas menyusul setelah sebelumnya tersenyum kepada Jongin dan Kyungsoo.
"Kau membuatnya kesal." Bisik Kyungsoo.
"Kenapa? Aku memang lelah Hyung. Hyung tahu sendiri aku mudah sakit jika kelelahan dan udara dingin." Ucap Jongin membela diri.
Keempat orang itu berjalan beriringan keluar dari hotel, Sehun berjalan berdampingan dengan Chen. Jongin dengan Kyungsoo tentu saja, mereka berjalan kaki hingga ke tempat pemberhentian bus yang berjarak kurang lebih dua ratus meter dari hotel. Chen, berjalan menghampiri Kyungsoo, lama-lama ia tak tega melihat wajah Sehun yang mirip anak kucing terbuang.
Jongin mengeratkan syalnya, dan memakai hoodie mantel musim gugurnya, udara di London lebih dingin menurutnya dibanding Seoul. Atau mungkin karena tubuhnya yang masih lelah. "Kau kedinginan?"
"Lumayan."
"Mau memakai syalku?" Jongin memandangi syal abu-abu yang melingkari leher Sehun. Jongin menggeleng pelan, syalnya berwarna merah tidak akan cocok jika ditumpuk dengan syal milik Sehun. Sedikit banyak Jongin memperhatikan penampilannya sendiri jika berdekatan dengan supermodel seperti Sehun. "Kita akan naik bus North London 16, tapi Hyde Park bisa ditempuh dengan semua rute bus sebenarnya."
"Hmm." Jongin hanya menggumam, ia tidak mengerti apa yang Sehun katakan yang penting mereka sampai ke tempat tujuan sesegera mungkin dan kembali ke hotel secepatnya.
Bus berwarna merah tiba lima menit kemudian, tidak banyak wisatawan di dalam bus, karena sekarang memang bukan musim liburan. Jongin berjalan di belakang Sehun. Sementara Kyungsoo dan Chen memilih masuk dari pintu belakang bus. Jongin duduk di dekat jendela bersama dengan Sehun, ia menoleh ke belakang untuk mencari keberadaan Kyungsoo. Menejernya itu terlihat akrab mengobrol dengan Chen, mereka memilih bangku panjang di bagian belakang bus.
Bus mulai bergerak, Jongin tidak bisa menghentikan pikirannya untuk memikirkan salah satu adegan di film Harry Potter, sejujurnya dia sangat antusias pergi ke London, dia ingin mengunjungi tempat syuting Harry Potter. Sayang, waktunya hanya terbatas di sini.
"Indah," gumam Jongin tanpa sadar, saat kedua matanya menyaksikan kemegahan gedung-gedung tua London yang berpadu dengan bangunan-bangunan baru.
"Menakjubkan bukan? Aku selalu terpesona setiap kali ke tempat ini. Aku ingin menikah di London. Kau?"
"Apa?" Jongin menoleh menatap Sehun.
"Kau punya impian untuk menikah dimana?"
Jongin mengerutkan keningnya, ia kembali mengagumi bangunan-bangunan di luar. "Aku tidak pernah memikirkan hal semacam itu."
"Kau tidak punya impian tentang masa depan?"
"Tentu saja aku punya tapi tidak pernah tentang pernikahan dan keluarga." Jongin mendengar tawa pelan Sehun.
"Tapi kau menikah sekarang."
Mendengar kalimat Sehun tanpa sadar Jongin melirik cincin yang melingkari jari manis tangan kanannya. "Hmm." Balasnya perlahan.
.
.
.
Gerbang megah menyambut para pengunjung yang memasuki kawasan Hyde Park. Jongin dengan cepat mengambil ponsel dan memotret gerbang di hadapannya dengan kedua mata berbinar. "Gerbang di hadapan kita bernama, Triumpal Screen dibuat oleh Decimus Borton tahun 1824 hingga 1825." Sehun berucap pelan di dekat telinga Jongin.
"Kau tahu banyak rupanya." Sehun hanya tersenyum simpul. "Pintu gerbang dibuat besar agar kereta kuda bisa masuk kan?"
"Kau benar."
"Tempat ini indah. Sepanjang perjalanan ke sini aku tidak bisa berhenti membayangkan berada di London, di masa lalu."
"Maksudmu?"
"Aku pikir sangat indah London dengan bangunan-bangunan kunonya, kereta kuda, dan orang-orang memakai gaun dan jas. Bukan berarti London sekarang tidak mempesona hanya saja—begitulah." Jongin mengakhiri kalimatnya, dia selalu berbicara lebih banyak dari yang ia inginkan jika hal itu menyangkut imajinasi dan fotografi.
"Kenapa berhenti? Aku senang mendengarmu bicara."
Sehun pikir Jongin akan mendengus atau mengeluarkan ucapan menohok, namun sebaliknya Jongin justru tersenyum manis. Sehun harus menahan diri untuk tidak mengecup bibir penuh Jongin. "Ada banyak hal yang bisa kita lakukan di sini," Sehun mencoba menyingkirkan pikirannya untuk mencium Jongin dengan mencari topik lain untuk dibicarakan.
"Apa saja? Kau bisa menyebutkannya, mungkin aku tertarik."
"Piknik, aku rasa piknik tidak bisa dilaksanakan sekarang."
"Ya, coret piknik, kita datang tanpa persiapan."
"Hmmm…," Sehun menyipitkan kedua matanya. "Bersepeda, berkuda, naik perahu di danau Serpentine tapi aku rasa sekarang udaranya terlalu dingin jadi lupakan opsi naik perahu." Kalimat Sehun yang entah mengapa terdengar lucu membuat Jongin tertawa, rasanya Sehun memiliki sisi lain bukan lagi Sehun yang menyebalkan dan pemaksa. "Berenang, tenis, golf, dan bowling."
"Aku ingin bersepeda dan mungkin jika waktunya tersisa aku ingin mencoba berkuda." Jongin menentukan pilihannya dengan antusias.
"Baiklah!" pekik Sehun bahagia. Ia langkahkan kedua kaki jenjangnya menuju tempat penyewaan sepeda yang rutenya sudah ia ingat di luar kepala. Sehun sering ke London bukan hanya empat kali seperti yang ia katakan pada Jongin, hampir setiap hari libur dia pergi ke London.
Sehun terpikat dengan London, impiannya yang lain ia ingin mengunjungi London dengan orang yang ia cintai. Kini impian itu terkabul, meski tak begitu sempurna. Karena Jongin telah terikat dengan orang lain, Sehun sesak sendiri membayangkannya. Dia masih menaruh harapan besar bahwa pernikahan Jongin hanya pernikahan palsu.
Sehun menyewa empat sepeda di stasiun penyewaan sepeda yang ada di dalam taman. Ia membayar sewa dengan kartu kredit karena itu memang cara membayar yang dianjurkan. Sehun dan Jongin memilih rute bersepeda di sekitar danau Serpentine sementara Kyungsoo dan Chen memilih rute lain.
"Kalian bersenang-senanglah!" pekik Kyungsoo dan Chen sebelum mengayuh sepeda masing-masing menjauh. Jongin menatap kepergian Kyungsoo dengan tidak rela.
"Chen hyung sudah beberapa kali ke sini, Kyungsoo-mu tidak akan tersesat percayalah." Ucap Sehun memahami kecemasan Jongin.
"Hmm." Gumam Jongin mencoba mempercayai ucapan Sehun. "Ayo mulai, jangan jauh-jauh aku tidak tahu rutenya." Peringat Jongin, Sehun hanya tersenyum tanpa dimintapun dia tidak akan meninggalkan Jongin.
Birunya danau dan pepohonan yang daun-daunnya mulai berubah warna adalah pemandangan yang menakjubkan. Rute bersepeda juga sangat mulus, Jongin harus menahan diri untuk tak mengayuh pedal sepedanya terlalu cepat. "Kau sangat dekat dengan Kyungsoo hyung."
"Ya, kami sudah seperti saudara."
"Kau tidak mencintainya?"
"Kami tidak pernah memiliki perasaan seperti itu satu sama lain, entahlah, aku hanya sangat menyayanginya sebagai saudara."
"Oh." Gumam Sehun mengakhiri obrolan. Pemandangan yang tersaji sangat sayang untuk dilewatkan.
Jalanan mulai menurun, Jongin berniat mengurangi kecepatannya sayang ia tak menemukan rem tangan. "Sehun! Bagaimana cara melambatkan sepedanya?!" pekik Jongin yang kini berada di depan Sehun.
"Tarik pedalnya ke belakang!" Sehun berteriak panik, ia pikir kecepatan Jongin akan semakin bertambah dan dia akan terjatuh.
Jongin mencoba petunjuk Sehun, berhasil. "Aku bodoh sekali." Gerutu Jongin kesal. Ia hentikan sepedanya di pinggir jalan menunggu Sehun.
"Kau cepat sekali!" pekik Sehun.
"Aku biasa ngebut." Jongin menjawab tanpa dosa. "Bisakah kita mencari sesuatu untuk dimakan dan diminum?"
Sehun tertawa pelan mendengar permintaan Jongin yang terkesan kekanakan, padahal Sehun yakin Jongin mengucapkannya dengan tujuan untuk membuatnya kesal. "Ikut aku." Sehun mengayuh sepedanya mendahului Jongin, Jongin mengikuti di belakang.
Lido Bar and Café. Sehun dan Jongin memarkir sepeda sewaan mereka di tempat parkir khusus sepeda, Sehun melangkah terlebih dulu mendorong pintu kaca dan menahannya untuk Jongin. Keduanya melangkah bersama dan memilih meja di dekat jendela. "Aku tidak ingin minum sesuatu yang mengandung alkohol."
"Aku juga." Timpal Sehun. Keduanya meneliti daftar menu masing-masing, tanpa sadar Sehun melirik cincin pernikahan Jongin, dia ingin sekali melepas dan membuang cincin itu dari jari Jongin.
Sehun dan Jongin berakhir dengan memesan dua gelas Sprite ditambah fish and chips. "Aku mengirim email untuk Kyungsoo hyung." ucap Jongin yang ditanggapi gumaman oleh Sehun.
Jongin menatap nama Chanyeol di kontak, ia telan ludahnya kasar, ia ingin sekali menghubungi Chanyeol. "Kau sudah selesai mengirim pesan? Cepat cicipi Fish and chips ini, rasanya enak, sungguh, aku tidak bohong."
Jongin mengangkat wajahnya menatap Sehun yang sedang tersenyum, ia tekan tombol kirim, untuk mengirim pesan kepada Kyungsoo. Jongin campakan ponselnya ke atas meja, ia singkirkan keinginannya untuk menghubungi Chanyeol.
Musik cadas yang tadinya memenuhi seluruh ruangan bar dan kafe kini berganti dengan suara petikan gitar yang lembut, dan suara penyanyi wanita yang sangat Jongin kenal. Taylor Swift. "Aku suka lagu ini, sayang dia sekarang memilih jalur populer." Komentar Sehun.
"Jalur populer maksudmu? Bukannya dia sudah populer?"
"Oh, kau suka dengan Taylor Swift juga? Populer ya mulai memakai pakaian kurang bahan dan memilih musik pop."
"Aku hanya menyukai beberapa lagunya saja."
"Termasuk I Almost Do?" Sehun menatap penuh selidik kepada Jongin. Jongin menggeleng pelan.
"Bukan lagu ini." Jongin hanya menyukai Blank Space namun entah mengapa lagu yang sekarang sedang mengalun seolah-olah berbicara langsung kepadanya.
And I just wanna tell you
It takes everything in me not to call you
And I wish I could run to you
And I hope you know that every time I don't
I almost do
I almost do
Jongin mencoba bertahan, namun lagu yang mengalun itu terlalu mengganggunya. Ia kunyah potongan Fish and chips dengan cepat, kemudian meminum sprite tanpa esnya. "Kau sudah selesai?" Jongin menatap Sehun tidak sabar.
"Kenapa?"
"Aku ingin bersepeda lagi." Dusta Jongin.
"Masih ada banyak waktu, taman tutup sampai tengah malam."
"Aku tidak ingin berada di sini sampai tengah malam."
Sehun menatap Jongin, meneliti raut muka Jongin. Dia tahu Jongin sedang merasa tidak nyaman, hanya saja Sehun tidak tahu apa alasannya. "Baiklah, tunggu di luar aku bayar makanan kita."
"Terima kasih." Dugaan Sehun terbukti, Jongin berdiri dari kursinya dengan tergesa-gesa dia juga melangkah keluar dengan cepat seolah-olah bangunan ini mengganggunya.
.
.
.
Chanyeol mendesah pelan, ia sedang berbaring di atas sofa ruang keluarganya, jam sudah menunjukkan angka dua belas malam namun ia masih belum bisa memejamkan kedua matanya. Mungkin, karena dia kelelahan. Hal itu sudah biasa terjadi, saat tubuhnya benar-benar lelah dan butuh istirahat, insomnia justru menyerang. Chanyeol membuka ponselnya, melihat nama Jongin di dalam kontak.
Hai Jongin apa kabarmu di London? Apa di sana menyenangkan? Apa Sehun bersikap baik padamu?
Chanyeol memandangi ketikan pesannya, ia mendesah pelan, kemudian menekan tombol hapus dan keluar dari aplikasi email. Chanyeol membuka menu ponselnya dengan malas, ia membuka galeri melewati beberapa foto Baekhyun yang masih tersimpan. Chanyeol melihat video, tanpa sadar tangannya menekan tombol mulai.
Video Jongin saat di ladang gandum. Jongin di tengah ladang gandum, menikmati hembusan angin dan tentu saja tumbuhan gandum di sekelilingnya. "Kau sangat menikmati alam," gumam Chanyeol, ia hentikan videonya tidak ingin melihat sampai akhir.
Chanyeol melatakkan ponselnya ke atas meja kopi di hadapannya, menyebalkan sekali, di sana ada ransel couple pemberian Kyungsoo. Cokelat untuknya dan ransel pasangan yang berwarna hitam sedang bersama Jongin di London. "Haaah!" Chanyeol berteriak frustasi, sepanjang hari dengan kesibukannya ia bisa melupakan Jongin, sekarang di tengah malam, seorang diri, mengusir Jongin dari otaknya ternyata tidak mudah.
TBC
