Ring
Characters: Baekhyun, Chanyeol, Jongin (Kai), Kyungsoo, Xiumin, Sehun, and others
Pairing: Chankai, Chanbaek (slight), Hunkai (Slight), Mpreg (mentioned)
Warning: BL
Rated: T-M
Boomiee92
Happy reading kalo posting satu-satu kelar akhir tahun nih cerita, ceritanya jadi mengembang banget, author agak bingung jadinya ada yang minta NC, hehehe author kagak bisa Lemonan ada yang mau ngasih saran? Mohon dibantu ya… happy reading mohon maaf atas segala kekurangan (author edisi sisa-sisa Lebaran)
Previous
Chanyeol memandangi ketikan pesannya, ia mendesah pelan, kemudian menekan tombol hapus dan keluar dari aplikasi email. Chanyeol membuka menu ponselnya dengan malas, ia membuka galeri melewati beberapa foto Baekhyun yang masih tersimpan. Chanyeol melihat video, tanpa sadar tangannya menekan tombol mulai. Video Jongin saat di ladang gandum. Jongin di tengah ladang gandum, menikmati hembusan angina dan tentu saja tumbuhan gandum di sekelilingnya. "Kau sangat menikmati alam," gumam Chanyeol, ia hentikan videonya tidak ingin melihat sampai akhir.
Chanyeol melatakkan ponselnya ke atas meja kopi di hadapannya, menyebalkan sekali di sana ada ransel couple pemberian Kyungsoo. Cokelat untuknya dan ransel pasangan yang berwarna hitam sedang bersama Jongin di London. "Haaah!" Chanyeol berteriak frustasi, sepanjang hari dengan kesibukannya ia bisa melupakan Jongin, sekarang di tengah malam, seorang diri, mengusir Jongin dari otaknya ternyata tidak mudah.
Bab Sebelas
"Bagus seperti itu! Naikkan dagumu, aku ingin melihat garis tegas wajahmu! Selesai!" Jongin melihat kembali gambar-gambar Sehun yang ia ambil dengan latar belakang London Eye. Di malam hari. Sehun berjalan mendekati Jongin. Jongin memperlihatkan hasil bidikan kameranya. "Bagaimana?"
"Sempurna, aku rasa sudah sangat bagus tanpa editan."
"Karena kau modelnya, aku rasa mau dipotret seperti apapun hasilnya akan tetap bagus. Kau kan supermodel."
"Kau memujiku?"
"Mungkin."
"Kau mau naik ke atas?" Jongin mendongak menatap London Eye.
"Sepertinya menarik."
"Kau tidak takut ketinggian?" Jongin menggeleng cepat. "Sepertinya kau tidak takut apapun."
Jongin tertawa pelan. "Tentu saja ada hal yang aku takutkan."
"Apa?"
"Terlalu banyak."
"Salah satunya." Sehun menatap tajam.
"Apa itu penting?"
"Aku ingin tahu." Sehun bersikeras.
"Aku tidak ingin memberitahumu." Balas Jongin seenaknya.
"Baiklah…," desah Sehun menyerah, Jongin menatap heran seorang Oh Sehun yang pemaksa menyerah untuk mendapatkan keinginannya? Mungkin udara dingin di London telah membekukan otak Sehun.
Di akhir pekan pengunjung lumayan panjang, setelah mengantri kurang lebih lima menit Jongin dan Sehun mendapat giliran untuk menaiaki London Eye. "Kita akan menghabiskan waktu sekitar tiga puluh menit di sini." Ucap Sehun.
"Hmmm." Jongin sudah terpesona dengan pemandangan di luar, sungai Thames, semakin naik lebih banyak pemandangan yang bisa dilihat. Big Ben dan seluruh London terlihat begitu kecil dan jelas. Sehun berdiri di samping Jongin, sangat dekat, hingga bahu keduanya bersentuhan namun Sehun tidak akan mengambil resiko untuk memeluk atau menyentuh Jongin.
"Jangan katakan jika kau membayangkan kita terjatuh."
"Ya, aku membayangkannya."
"Apa?!" pekik Sehun tertahan. "Bahkan di saat seperti ini imajinasimu masih saja bermain."
Jongin tersenyum tipis. "Aku benar-benar membayangkan hal itu—saat-saat tak terduga lalu kau mulai berpikir siapa yang akan kau hubungi untuk terakhir kali."
"Kupikir kau lebih cocok jadi penulis daripada fotografer."
"Aku hanya suka berimajinasi tidak pandai merangkai kata, jika aku jadi penulis—adegan yang seharusnya dramatis pasti jadi humor murahan."
"Orang yang akan aku hubungi untuk terakhir kalinya mungkin itu kau." Sehun mendegar helaan napas Jongin. "Kau tidak percaya dengan ucapanku?"
"Entahlah."
"Jika hari ini adalah hari terakhirku di dunia, aku akan menghubungimu karena aku mencintaimu, tidak peduli bagaimana tanggapanmu, yang jelas aku tidak mau jadi arwah penasaran."
"Apa-apaan itu?" Jongin terkekeh pelan. "Arwah penasaran."
"Bukankah seseorang yang mati dengan urusan yang belum diselesaikan akan menjadi arwah penasaran?"
"Kau." Jongin menyikut lengan kanan Sehun karena jengkel. Sehun hanya tertawa menanggapi sikutan Jongin.
"Aku sudah menyatakan perasaanku."
"Aku sudah menikah, Sehun."
"Apa kau dan Chanyeol benar-benar menikah? Maksudku—tentu saja kalian menikah setelah melewati prosesi itu, apa kau benar-benar mencintai Chanyeol dan ini adalah pernikahan yang kau inginkan?"
Jongin memilih bungkam, pandangannya menatap jauh ke arah kota London yang terlihat indah dengan kerlap-kerlip lampunya. "Apa kau akan meneruskannya, dan membiarkan dirimu sakit hati, mustahil untuk tidak jatuh cinta pada seseorang yang selalu kau temui. Aku tidak ingin melihatmu sakit hati lagi setelah Kris Wu, aku datang menawarkan cintaku, tidak ada kesepakatan di baliknya."
Jongin ingin sekali melompat keluar, ia yakin tidak ada yang tahu antara kesepakatannya dengan Chanyeol tapi mengapa Suho dan Sehun bisa membacanya dengan jelas. "Siapapun akan curiga Jongin, Chanyeol putus dari Baekhyun, kau putus dari Kris Wu kalian membuat kesepakatan agar tak terlihat kalah telak. Untuk membalas dendam."
Jongin mengepalkan kedua tangannya, bisa ia rasakan kedua telapak tangannya yang lembab, berdiri di samping Sehun dan mendengarkan semua hipotesanya yang mendekati kebenaran, seperti berdiri di tengah pengadilan. "Berdirilah di depanku, aku akan mengambil fotomu dengan latar belakang kota London."
"Jongin." Panggilan Sehun terdengar putus asa, Jongin memilih mengeluarkan ponselnya, dan meminta Sehun berdiri di tempat yang ia inginkan. Sehun menurut, ia berdiri sesuai perintah Jongin.
"Pandangi kota London di sana, seolah-olah kau akan pergi dan tak akan kembali."
"Hmm." Gumam Sehun mengerti.
Ada lima gambar yang Jongin ambil, semuanya keluar dengan sempurna. London dan wajah sempurna Sehun menghasilkan foto tanpa cacat. "Ini bagus, akan aku kirimkan ke emailmu dan Chen hyung."
"Jongin."
Jongin menatap wajah Sehun lekat-lekat selama beberapa detik. "Akan aku pertimbangkan tawaranmu."
"Jadi—pernikahanmu dengan Chanyeol…,"
"Aku tidak ingin membicarakannya." Tutup Jongin, ia berbalik dan berjalan ke sisi lain meninggalkan Sehun.
.
.
.
"Kami mencari kalian?!" pekik Kyungsoo yang bergegas berlari menghampiri Jongin dan Sehun.
"Maaf, kami naik tanpa memberitahu kalian." Jongin membungkukkan badannya sebagai permintaan maaf, Chen, Kyungsoo dan Sehun bahkan tertawa melihat sikap sopan Jongin yang jarang ia tunjukkan.
"Kenapa dengan kalian?!" dengus Jongin. "Aku lelah, acara pemotretan hari ini berakhir, besok kita berangkat pagi kan?" Jongin melirik Sehun yang menganggukkan kepalanya.
"Sebaiknya kita kembali ke hotel sekarang." Ucap Sehun.
"Aku akan mengirimkan hasilnya pada Chen hyung langsung setelah aku sampai di kamar."
"Hmm." Gumam Sehun. Sehun berjalan mendahului Kyungsoo, Jongin dan Chen.
"Apa terjadi sesuatu?" Kyungsoo menatap Jongin dengan dua mata bulat yang menurut Jongin sangat lucu. "Tidak terjadi apa-apa."
"Jongin." Peringat Kyungsoo.
"Tidak ada, hanya—Sehun menyatakan perasaannya, itu saja."
"Kau tidak menerimanya kan?"
"Tentu tidak, Hyung tahu aku tidak bisa melakukannya."
"Baguslah otakmu bisa berpikir."
"Memang selama ini aku tidak bisa berpikir?" Kyungsoo hanya mengendikkan bahu, Jongin melempar tatapan sebal, lagi-lagi Kyungsoo memiliki sebutan baru untuknya bodoh.
"Kejar Sehun." Perintah Kyungsoo.
"Apa yang Hyung katakan? Bukankah aku seharusnya menjauhi masalah?"
"Kita bekerjasama dengan Sehun, kau ingin dia mengatakan hal yang tidak-tidak sesampainya di Korea nanti, klien akan menurun jika itu terjadi." Jongin melempar tatapan sebal, tentu saja ini demi kepentingan pekerjaannya. "Jongin." Kyungsoo melirik tajam.
"Baiklah." Jongin menyerah, ia berlari mengejar Sehun melewati Chen. "Sehun." Panggil Jongin menarik perhatian Sehun.
"Apa?"
"Aku hanya ingin tahu apa kau selalu melakukan pemotretan pribadi seperti ini maksudku—tanpa kru, kau kan supermodel biasanya ada banyak kru yang bekerja denganmu."
"Hanya denganmu saja. Bukan karena aku menyukaimu bukan itu, tapi aku rasa bakat alamimu justru akan berkurang dengan sentuhan kru lain yang bekerja denganmu."
Jongin menggaruk pelipisnya, bingung. "Aku tidak keberatan bekerja dengan orang lain."
"Apa kau bekerja dengan orang lain saat memotret alam liar?"
Jongin menggeleng. "Tidak, aku bekerja seorang diri."
"Aku suka hal itu."
"Tapi kau kan bukan alam liar?" Sehun tersenyum geli, itu adalah pertanyaan terpolos yang Jongin ucapkan. "Aku pasti terdengar bodoh." Sehun hanya mengangkat sebelah alisnya.
"Apa kau lapar?"
"Tidak. Lelah, aku ingin langsung tidur setelah mengirim semua fotomu pada Chen hyung."
"Hmm."
.
.
.
Chanyeol duduk bertopang dagu di ruang tunggu sebuah acara televisi. Xiumin duduk di sampingnya sibuk dengan ponsel di tangannya. "Hyung jangan acuhkan aku." Chanyeol terdengar sangat menyedihkan sekarang.
"Aku sedang berkirim email dengan Kyungsoo, apa kau mau mendengar kabar Jongin di London?"
"Terserahlah." Chanyeol menjawab dengan nada tak peduli, meski dirinya sebenarnya sangat ingin mendengar kabar Jongin.
"Oh, mereka pergi Hyde Park dan bersepeda, kemudian London Eye untuk pemotretan, Jongin ingin mengunjungi kastil tempat syuting Harry Potter tapi Kyungsoo melarangnya karena mereka harus bergegas kembali ke Korea." Xiumin menerangkan panjang lebar kepada Chanyeol, namun orang disampingnya itu justru asyik dengan ponsel setelah tadi merengek menyedihkan. "Kau tidak mendengarkan aku?!" Xiumin memekik kesal.
Chanyeol tersenyum lebar, berakting seolah-olah ia tak mendengar semua kalimat Xiumin, padahal sebenarnya dia mendengarkan setiap detail kata yang Xiumin ucapkan. "Besok jangan terkejut jika ada barang-barang yang dikirim ke rumahmu, itu semua barang Jongin."
"Hmm." Gumam Chanyeol acuh.
"Kau tidak perlu repot-repot menatanya, jasa pindah rumah akan membereskan semuanya, lalu—mungkin saja Jongin membelikan hadiah untukmu di London."
Chanyeol tertawa pelan. "Dia tidak mungkin melakukannya."
"Ya, dia tidak mungkin melakukannya, dia membelikan hadiah untukku!" dengus Xiumin.
"Kenapa Hyung kesal?!" Chanyeol bertanya dengan wajah polos.
"Sudahlah, cepat sana bersiap, sebentar lagi kau masuk. Acaramu dimulai. Semoga sukses oh ya tolong pakai otakmu saat menjawab semua pertanyaan."
"Aku tahu, aku akan bicara dengan hati-hati."
Tepuk tangan penonton, menggema, Chanyeol bahkan hampir tak mendengar arahan penata acara. Dia melangkah memasuki studio, melambaikan tangannya, tersenyum ramah ke arah penonton dan kamera.
"Selamat malam semuanya, malam ini di acara talkshow Q&A bersama saya Lee Sooman kami mengundang penyanyi terkenal yang baru saja melepas masa lajangnya, Park Chanyeol."
Chanyeol membungkukkan badannya, melambaikan tangan kemudian duduk berhadapan dengan Lee Sooman. "Chanyeol apa kabar?"
"Baik tentu saja saya baik-baik saja."
"Wow, tentu saja pengantin baru selalu baik-baik saja." Studio kembali bergemuruh, Chanyeol tersenyum lebar."Kabar hubunganmu dengan Baekhyun dan kabar kandasnya hubungan kalian sangat mengejutkan, lalu kau mengumumkann pernikahanmu bersamaan dengan pengumuman pernikahan kakamu, Suho, kalian benar-benar keluarga yang penuh kejutan." Chanyeol hanya tertawa pelan. "Sayang sekali Jongin tidak bisa hadir. Dia ada di London kan?"
"Ya, Jongin ada di London."
"Kau pasti sangat frustasi kalian baru menikah dan Jongin harus pergi ke London dengan supermodel Oh Sehun."
"Tidak, tidak, saya sama sekali tidak frustasi kami menghormati pekerjaan masing-masing." Tepuk tangan penonton terdengar bergemuruh.
"Kau suami yang sangat pengertian. Jadi rencana kalian setelah menikah apa?"
"Tentu saja tinggal serumah." Penonton tertawa keras.
"Wah kau pintar melucu juga Chanyeol."
"Terima kasih banyak." Chanyeol menundukkan kepalanya, sebagai tanda menghormati orang yang lebih tua.
"Tentang anak, apa kalian sudah membahasnya?"
"Ahh.., kami belum membahasnya. Saya dan Jongin masih sangat muda, mungkin kami akan menundanya terlebih dahulu dan fokus pada karir masing-masing."
"Tapi, jika kalian diberi anak dalam waktu dekat apa akan ditolak?"
"Tentu saja kami akan menerimanya dengan senang hati." Chanyeol merasa perutnya bergejolak, sungguh kebohongan ini benar-benar tak nyaman untuk diucapkan. Pernikahan dan anak, semoga dirinya tak terlihat mencurigakan hingga kesepakatan ini berakhir.
Saat acara berhenti karena iklan, Chanyeol menghapus keringat yang membasahi dahinya. Padahal pendingin ruangan berfungsi dengan sangat baik. Sang pembawa acara Lee Sooman menatap Chanyeol dengan iba, beliau menyodorkan sekotak tisu kepada Chanyeol. "Apa pertanyaanku membuatmu tidak nyaman?"
"Tidak, tidak, bukan itu hanya saja saya belum pernah mendapat pertanyaan seperti ini."
"Tentu saja kau kan baru saja menikah." Lee Sooman tertawa renyah sedikit meredakan ketegangan Chanyeol.
Sepuluh menit kemudian, musik sebagai tanda dimulainya acara kembali menggema, Chanyeol memperbaiki posisi duduknya. "Tiga, dua, satu, mulai!" salah satu kru berteriak memberi tanda.
"Karena durasi acara yang sangat disayangkan terbatas, hanya ada satu pertanyaan terakhir untuk Chanyeol tapi Chanyeol akan membawakan salah satu singlenya di sini." Penonton sangat antusias, mendengar Chanyeol akan menyanyikan salah satu lagunya. Lee Sooman berhenti sejenak, menunggu keadaan studio tenang kembali. "Chanyeol, Jongin mungkin melihat acara kita di London, apa kau ingin menyampaikan sesuatu untuknya?"
"Ah, sesuatu ya? Hmmm…," Chanyeol menatap canggung ke arah kamera, penonton riuh rendah, mungkin semua orang melihatnya sangat manis sekarang tapi percayalah Chanyeol ingin sekali menghilang, dia sama sekali tidak tahu harus mengatakan apa kepada Jongin. "Semoga kau bersenang-senang di London, jaga kesehatanmu, pulang dengan selamat dan jangan lupa bawakan aku oleh-oleh." Chanyeol tersenyum lebar, merasa puas dengan kalimatnya.
"Kau terdengar seperti sahabat daripada seorang suami." Chanyeol hanya tersenyum mendengar candaan yang lumayan menohok.
.
.
.
"Kau sangat menyukai tempat ini." Ucap Jongin, Sehun hanya bergumam membenarkan. Mereka berada di Hyde Park untuk melakukan pemotretan.
"Sebenarnya aku suka danau di sini."
"Sinar mataharinya bagus, angin, dan sedikit gerimis, belum banyak orang di sini, sebaiknya kita mulai sekarang."
"Ide yang bagus."
"Aku ingin pose yang natural, Sehun masuklah ke danau."
"Hah?!" tentu saja Sehun terkejut, masuk ke danau?! Apa Jongin pikir dirinya ikan?
Jongin tertawa melihat reaksi wajah Sehun yang lucu. "Tidak sampai tenggelam, kau ini apa yang kau pikirkan?" cibir Jongin sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Di tepian saja, masuklah sebatas mata kakimu atau lutut."
"Oh." Gumam Sehun, iapun mulai melangkahkah kaki mendekati pinggiran danau dan perlahan melangkah memasuki air danau yang suhunya cukup dingin itu. "Seperti ini?!"
"Tepat sekali, menengoklah ke kanan atau ke kiri terserah pilihanmu."
"Oke!"
"Ya tetap seperti itu jangan mengubah posemu sebelum aku beri perintah!" Jongin membidikkan kameranya, menunggu hingga saat yang tepat. Angin bertiup lebih kencang, membuat rambut Sehun berantakan, air danau beriak, dan beberapa daun yang gugur terbang ke arah Sehun. "Tepat!" pekik Jongin tertahan. Ia mengambil foto Sehun dengan cepat dari berbagai sisi. "Selesai, tetap di situ." Jongin mendongak menatap awan mendung, hujan musim gugur, tentu saja.
"Jongin! Gerimisnya mulai deras!" protes Sehun.
"Sudah diam saja disitu!"
"Dingin!"
"Kau mau gambar bagus atau tidak?!" Sehun bungkam tak bisa menjawab.
Rintikan gerimis semakin rapat, dan hanya butuh hitungan detik hingga gerimis berubah menjadi hujan deras. "Sehun, angkat wajahmu, tutup matamu, nikmati hujannya, cepat agar semuanya cepat selesai!"
Jongin tersenyum melihat Sehun melakukan arahannya dengan sempurna, Sehun pantas menjadi supermodel. Jongin mengambil gambar sebanyak mungkin dalam waktu yang sangat singkat, tetesan hujan sudah membasahi mantel musim gugur yang ia kenakan. "Selesai!" pekik Jongin, ia bergegas memasukkan kameranya ke dalam ransel khususnya, menyandangnya, kemudian berlari.
"Jongin!" pekik Sehun yang ditinggal begitu saja, Sehun berlari keluar dari danau, ia sambar sepatunya di tepian danau. Dan berlari mengejar Jongin. Hujan terlalu deras untuk ditembus, keduanya berakhir di bawah pohon rindang yang berukuran besar untuk berteduh.
Sehun berjongkok memasang tali sepatunya, jins yang ia kenakan basah hingga lutut. Tapi dia cukup tahan dingin, justru Jongin yang terlihat menggigil. "Kau meninggalkan aku." Gerutu Sehun.
"Aku menyelamatkan diri." Jongin menjawab dengan tanpa dosa.
"Kau baik-baik saja?" Sehun berdiri memperhatikan wajah Jongin dengan bibir yang sedikit membiru.
"Ya, aku hanya tidak terlalu akrab dengan suhu dingin." Sehun lepas mantel musim gugur berwarna biru tuanya, lalu ia pasangkan ke tubuh Jongin. Jongin menatap bingung.
"Bagaimana denganmu?"
"Aku memakai sweter, tidak masalah. Aku cukup tahan dingin."
"Jika kau menggigil jangan salahkan aku."
"Sebaiknya kau cemaskan dirimu sendiri." Balas Sehun, Jongin mendengus kesal, sekali ini saja ia ingin tahan dingin.
Hujan semakin deras, dan tak menunjukkan tanda akan segera berhenti, tanah di bawah Sehun dan Jongin mulai lembek, menodai sepatu mereka. Jongin mendesah pelan, ia benar-benar kedinginan. "Kapan hujannya berhenti?" gerutu Jongin tidak tahan.
"Ya ampun, kau sangat menyedihkan sekarang." Ejek Sehun.
"Tutup mulutmu! Kau sama sekali tak membantu."
Sehun memutar kedua bola matanya, ia tarik pelan tangan kanan Jongin. "Jangan melawan, aku hanya ingin kau lebih hangat." Bisik Sehun sembari memeluk erat tubuh Jongin.
"Terima kasih," bisik Jongin perlahan. Namun ia tak membalas pelukan Sehun.
.
.
.
"Hyung."
"Tidurlah lagi Jongin, kau demam. Sehun dan Chen kembali lebih dulu ke Korea karena ada pekerjaan mendadak untuk Sehun, besok atau lusa kita kembali. Sampai keadaanmu membaik."
Jongin memejamkan kedua matanya sejenak, tenggorokkannya sakit dan terasa kering, kepalanya juga berat, beruntung dia tidak merasa sesak, biasanya asmanya kambuh saat keadaan tubuhnya tidak baik. "Tidak, aku ingin kembali ke Korea hari ini."
"Jongin…,"
"Tempat ini indah, tapi bukan rumahku aku tidak ingin berlama-lama di sini."
"Kau sedang demam Jongin, aku takut asmamu kambuh. Kau merindukan Chanyeol?"
"Aku baik-baik saja Hyung, aku mohon, kita kembali hari ini. Tidak ada hubungannya dengan Chanyeol."
"Baiklah, baiklah, kita pulang hari ini beruntung jadwal pesawat kita siang. Sekarang masih pukul tujuh pagi, tidurlah aku akan membangunkanmu nanti."
"Jangan bohong."
"Kapan aku pernah membohongimu?!" pekik Kyungsoo jengkel.
Jongin tersenyum simpul. "Tidak pernah. Apa Hyung memberitahu Sehun jika aku demam?"
"Tidak, tidak sempat dia pergi dengan tergesa-gesa."
"Hmm, syukurlah." Jongin memejamkan kedua kelopak matanya yang terasa sangat berat sekarang. Kyungsoo mengusap pelan lengan kanannya, membuat Jongin merasa nyaman dan terlelap kembali dengan cepat.
.
.
.
Seoul, Korea Selatan
Setelah menempuh penerbangan selama kurang lebih delapan jam. Delapan jam penuh penderitaan karena Jongin harus menahan pening di kepalanya, sekarang di sinilah dirinya berada di depan apartemen Chanyeol, setelah Xiumin memberi kabar mengejutkan bahwa seluruh barang-barangnya telah berpindah tempat dan mulai sekarang dirinya akan tinggal bersama Chanyeol, sampai kontrak berakhir.
Jongin mengingat-ingat kode pengaman apartemen Chanyeol yang Chanyeol kirimkan lewat pesan. "21212121. Kode apa ini?" gerutu Jongin. "Wah terbuka!" pekik Jongin girang, ia seret kopernya masuk. Melepas sepatu, menaruhnya ke dalam rak, dan berjalan masuk.
"Wah, kau sudah tiba rupanya?" ucap Chanyeol datar, sambutan yang kurang ajar menurut Jongin, Chanyeol sedang duduk di depan televisi yang menyala padalah dia sedang bermain game dalam ponselnya. Benar-benar pemborosan energi. "Bagaimana London?"
"Big Bennya masih utuh." Balas Jongin asal. "Dimana kamarku?" Chanyeol menunjuk pintu di hadapannya dengan dagu, kedua tangannya sibuk bermain. "Terima kasih, saat pulang aku pikir aku dirampok, barang-barangku menghilang semua, ternyata dipindahkan ke sini."
"Kyungsoo tidak mengatakan apa-apa?"
"Tidak, dia terlalu sibuk dengan Xiumin hyung, aku rasa."
"Mereka sudah resmi?"
"Aku rasa sudah, kita tunggu saja berita dari mereka langsung." Jongin membuka pintu kamar, ia masuk dan menutup pintu kembali. Chanyeol hanya memandangi pintu yang tertutup itu dengan perasaan tak menentu.
Chanyeol mengakhiri permainannya, duduk di depan pintu kamar Jongin membuat pikirannya tak karuan, ia memilih pergi ke dapur dan memasak sesuatu karena dirinya lapar. Hari ini jadwalnya kosong, ia ingin menjemput Jongin di bandara sebenarnya, namun ia ingat kalimat Jongin bahwa mereka harus menjaga jarak, dan juga permintaannya sendiri jika Jongin tak boleh menerima cintanya meski dirinya memohon. Hatinya, untuk Baekhyun.
Jongin meletakkan kopernya di sudut ruangan, ia membuka lemari untuk mengambil baju ganti. Dia putuskan untuk mandi lalu melakukan hal lain, apapun agar ia tidak tidur. Sebelum masuk ke kamar mandi, Jongin melihat buku catatan Chanyeol di atas meja di dekat laptop, sungguh Jongin tidak ingin membaca tulisan yang sepertinya lirik lagu, namun buku itu terbuka jadi bukan kesalahannya jika dia bisa membaca.
Aku harus menahan perasaan ini, saat kau datang mendekat,
kau menggodaku, aku ingin menghindar kau terlalu menggoda
Kesalahanku jika akhirnya aku jatuh cinta padamu
Kau menarikku dengan cepat kau menarikku dengan cepat
Aku harus memalingkan wajahku saat kau berbicara
Kau menarikku dengan cepat kau menarikku dengan cepat
Perasaan ini tak seharusnya ada
Karena aku telah berjanji
Tapi kenapa kau menarikku terlalu cepat
Aku terpesona olehmu
Aku terpesona olehmu
Jongin mengerutkan dahinya, ia berjalan ke kamar mandi dan tak ingin memikirkan tulisan konyol Chanyeol yang dengan bodohnya ia baca.
.
.
.
Chanyeol sedang mengaduk masakan yang baru saja ia tuangi saus, saat Jongin menghampirinya di dapur. "Kau bisa memasak?"
"Hanya masakan sederhana."
"Hmm. Aku membawakanmu sesuatu dari London. Kenapa kau meminta oleh-oleh lewat acara TV?"
"Apa seharusnya aku menghubungimu langsung?"
"Seharusnya kau tidak mengatakan apa-apa." Keduanya terdiam, menciptakan suasana yang sangat canggung. Jongin menggigit pelan bibir bawahnya dia merasa kalimatnya terlalu kasar.
"Seharusnya aku tak mengatakan apa-apa, maaf merepotkanmu."
"Aku letakkan hadiahanya di meja makan." Ucap Jongin kemudian pergi dari dapur.
"Mau kemana?" cegah Chanyeol.
"Aku ingin keluar dan membeli sesuatu untuk dimakan."
"Masakanku cukup untuk kita berdua, aku memasukkan sosis ayam. Kau suka ayam kan?"
"Aku suka ayam, tapi aku ingin makan diluar."
"Baiklah, hati-hati di jalan."
"Ya." Balas Jongin singkat. Jongin berniat mengambil mantelnya di gantungan, saat dadanya terasa berat, rasa sakit yang sudah lama tak ia rasakan itu muncul. Asmanya kambuh, dan dia tidak pernah memiliki inhaler dan obat asma lagi. Bodoh, hal yang sangat bodoh. Jongin mencoba menenangkan diri, biasanya serangan asmanya tidak berlangsung lama.
Jongin melangkahkan kakiknya kembali ke dapur, Chanyeol duduk di meja makan menikmati masakannya seorang diri. Jongin menampakkan wajah baik-baik saja, ia membuka lemari pendingin untuk mengambil air mineral. "Kau tidak jadi makan di luar?" Jongin hanya menggeleng, dia sedang meminum air untuk melegakan napasnya, begitu harapnya.
"Duduklah kita makan bersama." Jongin hanya mengangguk ia tidak bisa menjawab sekarang, paru-parunya sedang sibuk mengumpulkan oksigen yang kini terasa sangat terbatas. Chanyeol mengambil piring lain dan membagi masakannya untuk Jongin, ia juga menuangkan air putih untuk Jongin. Jongin tersenyum sebagi ganti ucapan terima kasihnya.
"Terima kasih hadiahmu, gantungan kunci Big Ben sangat lucu. Makanlah, lalu kau bisa istirahat, wajahmu terlihat sangat lelah."
Jongin mengangkat garpunya, ia menusuk sosis ayam berbalut saus dari dalam piringnya, perlahan ia masukkan ke dalam mulut, Jongin mengunyahnya perlahan. Keringat dingin mulai muncul, panik, dan ini bukan situasi yang menguntungkan. Asmanya tidak juga membaik.
Chanyeol menajamkan pendengarannya, dia mendengar suara aneh. Kemudian dia sadar suara aneh itu adalah suara napas Jongin yang terdengar sangat berat dan menyakitkan. "Jongin, kau baik-baik saja kan?" Chanyeol bertanya dengan nada tenang dan perlahan. Ia lihat Jongin menarik napas dalam-dalam, memejamkan kedua matanya selama beberapa detik sebelum menjawab.
"Ya, hanya asmaku kambuh," bisik Jongin hampir tak terdengar.
Terkejut tentu saja, namun Chanyeol tidak ingin memarahi Jongin atau panik, karena itu akan membuat keadaan semakin parah. "Tunggulah di sini." Ucap Chanyeol, ia berlari menuju kamar mengambil mantel miliknya dan juga milik Jongin. Chanyeol kembali dengan cepat, ia sudah mengenakan mantelnya, dan kini ia sedang membantu Jongin mengenakan mantel, awalnya Jongin menolak, namun Chanyeol bersikeras untuk membantu. "Kau bisa berjalan?" Jongin mengangguk pelan. Chanyeol tidak tega, ia papah Jongin perlahan.
Chanyeol juga membantu Jongin mengenakan sepatunya. "Aku akan membawamu ke rumah sakit, aku tidak tahu bagaimana membantu penderita asma, rumah sakit adalah pilihan terbaik, kau mengerti?" Jongin mengangguk pelan. "Sekarang naiklah ke punggungku karena jarak tempat parkir cukup jauh kau tidak akan kuat berjalan sendiri, jangan menolak Jongin, aku hanya ingin membantumu dan sekarang kau butuh bantuan." Tatapan kedua mata Chanyeol sangat teduh, Jongin mengangguk patuh, Chanyeol tersenyum tulus.
.
.
.
Chanyeol melihat sisi lain dari seorang Kim Jongin, Jongin yang rapuh, bukan Jongin si pembuat onar, Chanyeol menggenggam tangan kiri Jongin sementara tangan kirinya sibuk menyetir mobil. Tangan Jongin lembab karena keringat, Chanyeol tahu Jongin pasti sangat kesakitan sekarang, napasnya terdengar semakin berat dan tersengal. "Sebentar lagi kita sampai." Hanya kalimat itu yang bisa Chanyeol ucapkan, dan dia berharap kalimatnya mampu menenangkan Jongin.
Sepuluh menit kemudian mereka sampai di rumah sakit, Chanyeol tidak bisa merasa lebih bahagia dari ini, ia memarkir mobilnya dan bergegas menolong Jongin keluar. "Jongin, kita sampai sabarlah sebentar." Wajah Jongin sangat pucat, keringat membasahi seluruh wajahnya, dia juga terlihat sangat lemas.
Para petugas medis yang sudah terbiasa melihat keadaan darurat langsung berlarian untuk menolong Jongin. Chanyeol berlari mengikuti, para petugas medis yang membawa Jongin. "Tuan, Anda tunggu di luar kami akan berusaha yang terbaik untuk menangani pasien." Chanyeol hanya bisa mengangguk pelan, pintu ruang emergency tertutup, Chanyeol merasa lututnya sangat lemas, dan hal terakhir yang bisa ia lakukan adalh duduk di atas kursi plastik rumah sakit yang keras.
Chanyeol mengeluarkan ponselnya, ia rasa dirinya harus menghubungi Kyungsoo dan memberitahunya. Satu kali nada sambung panggilannya langsung di jawab. Suara Kyungsoo terdengar serak, Chanyeol menduga Kyungsoo sedang tidur sebelum dia menghubunginya.
"Maaf mengganggumu Kyungsoo."
"Tidak apa-apa Hyung, ada apa? Ada masalah?"
"Asma Jongin kambuh, kami di Seoul International Hospital."
"Dia pasti kelelahan, aku akan datang ke sana." Suara Kyungsoo terdengar tenang mendengar kabar itu, pasti ini bukan pertama kalinya Jongin kambuh.
"Terima kasih Kyungsoo, maaf mengganggumu."
"Tidak apa Hyung, sampai bertemu."
"Ya."
Chanyeol memutar-mutar ponsel yang ia pegang, memainkannya. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, kedua tangannya juga gemetar, cemas tentu saja dia sangat cemas sekarang.
Sepuluh menit kemudian Kyungsoo tiba dengan wajah yang terlihat sangat lelah. "Aku sudah berusaha datang secepat mungkin."
Chanyeol tersenyum mengerti. "Kau sudah cepat Kyungsoo, duduklah." Kyungsoo duduk di samping Chanyeol.
"Berapa lama Jongin di dalam?"
"Dua puluh menit, mungkin. Apa dia sering kambuh?"
"Tidak, aku hanya sekali melihatnya saat Jongin berusia tiga belas tahun, makanya dia tidak mengkonsumsi obat atau memakai inhaler lagi karena asmanya memang jarang kambuh bahkan hampir tidak pernah kambuh, kita lihat saja apa saran dokter setelah ini."
"Hmm."
"Kau panik Hyung?"
"Lumayan, aku belum pernah melihat orang terkena serangan asma."
Kyungsoo tersenyum simpul, tangannya bergerak untuk mengusap punggung Chanyeol, mencoba menenangkannya. Chanyeol sedikit mengerti mengapa Jongin sangat menyayangi Kyungsoo. "Jadi kapan kau akan memberitahuku kabar gembira?" Chanyeol beralih pada topik pembicaraan lain untuk mengurangi kecemasannya.
"Kabar gembira apa Hyung?" Kyungsoo sama sekali tak mengerti apa yang Chanyeol bicarakan, bukankah Jongin masuk rumah sakit? Apanya yang kabar gembira? Begitu pikir Kyungsoo.
"Kabar kau dan Xiumin hyung." Chanyeol bisa melihat wajah Kyungsoo yang bersemu merah.
"Ah itu—itu—kami menunggu waktu yang tepat. Sekarang bukan waktu yang tepat untuk membahas itu Hyung."
"Kau benar Kyungsoo."
Satu jam kemudian yang Chanyeol rasa seperti seumur hidup, pintu ruang emergency terbuka. Seorang dokter laki-laki melangkah keluar, dengan senyuman yang dapat diartikan sebagai pertanda baik. "Apa Anda keluarga pasien?" Chanyeol dan Kyungsoo spontan mendekat dan menganggukkan kepala masing-masing.
"Keadaan pasien stabil, dan akan dipindahkan ke ruang rawat. Apa pasien sering kambuh?"
"Tidak." Kyungsoo menjawab dengan mantap.
"Kalau begitu pasien akan dirawat selama empat hari untuk observasi."
"Terima kasih dokter." Ucap Chanyeol dan Kyungsoo bersamaan. "Apa kami bisa menjenguk pasien?"
"Tentu saja setelah pasien dipindahkan ke ruang rawat."
Chanyeol menghembuskan napas lega, seolah-olah beban hidupnya berkurang sekarang. Ia menoleh dan melihat senyum kelegaan juga menghiasi wajah Kyungsoo. "Terima kasih Hyung." Gumam Kyungsoo. "Terima kasih sudah peduli dan sudah menolong Jongin."
"Itu hal yang akan dilakukan oleh siapapun jika melihat Jongin dalam keadaan tak berdaya." Balas Chanyeol merendah.
"Tapi, aku tetap berterimakasih." Chanyeol hanya tersenyum menanggapi kalimat Kyungsoo.
TBC
