Ring

Characters: Baekhyun, Chanyeol, Jongin (Kai), Kyungsoo, Xiumin, Sehun, and others

Pairing: Chankai, Chanbaek (slight), Hunkai (Slight)

Warning: BL

Rated: T-M

Boomiee92

Happy reading kalo posting satu-satu kelar akhir tahun nih cerita, happy reading mohon maaf atas segala kekurangan (author edisi sisa-sisa Lebaran) see you soon…..

Previous

"Keadaan pasien stabil, dan akan dipindahkan ke ruang rawat. Apa pasien sering kambuh?"

"Tidak." Kyungsoo menjawab dengan mantap.

"Kalau begitu pasien akan dirawat selama empat hari untuk observasi."

"Terima kasih dokter." Ucap Chanyeol dan Kyungsoo bersamaan. "Apa kami bisa menjenguk pasien?"

"Tentu saja setelah pasien dipindahkan ke ruang rawat."

Chanyeol menghembuskan napas lega, seolah-olah beban hidupnya berkurang sekarang. Ia menoleh dan melihat senyum kelegaan juga menghiasi wajah Kyungsoo. "Terima kasih Hyung." Gumam Kyungsoo. "Terima kasih sudah peduli dan sudah menolong Jongin."

"Itu hal yang akan dilakukan oleh siapapun jika melihat Jongin dalam keadaan tak berdaya." Balas Chanyeol merendah.

"Tapi, aku tetap berterimakasih." Chanyeol hanya tersenyum menanggapi kalimat Kyungsoo.

Bab Dua Belas

Chanyeol menaikkan selimut yang menutupi tubuh Jongin, ia singkap rambut Jongin yang menutupi dahinya. Jongin tertidur, wajahnya tampak lebih segar, napasnya juga teratur meski ia masih mengenakan selang oksigen. Kyungsoo hanya bisa diam dan tersenyum melihat kepedulian Chanyeol. Ia berharap Chanyeol akan membuat keputusan yang tepat suatu saat nanti, tentang siapa yang akan ia pilih.

"Tidurlah, kau terlihat sangat lelah Kyungsoo. Kau bisa menggunakan sofa."

"Hyung?"

"Aku bisa tidur sambil duduk, aku sudah biasa melakukannya saat di studio, dikejar batas waktu pembuatan lagu." Chanyeol tersenyum meyakinkan, ia tidak tega melihat Kyungsoo yang mencoba terjaga. Kyungsoo mengangguk, ia berjalan menuju sofa dan berbaring di sana terlalu lelah untuk berdebat.

Chanyeol sendiri juga merasa sangat lelah, mungkin karena jantungnya bekerja lebih keras hari ini. Ia sandarkan kepalanya pada ranjang Jongin, dan mulai memejamkan kedua matanya, posisi yang sebenarnya sangat tidak nyaman namun Chanyeol sudah cukup terbiasa dengan hal ini. Mungkin, besok pagi dia hanya akan merasa sedikit pegal.

.

.

.

Jongin membuka perlahan kedua matanya yang masih terasa berat, ia merasa sangat lelah namun ia ingin bangun dan melakukan hal lain kecuali tidur. "Hyung."

"Jongin!" Kyungsoo hampir melompat dari kursi karena sangat senang melihat Jongin sudah bangun. "Bagaimana perasaanmu? Apa ada yang sakit? Apa kau mengenaliku?"

"Hyung, aku tidak amnesia." Kyungsoo tersenyum lebar menampilkan bentuk bibirnya yang unik itu.

"Jangan duduk! Berbaring saja!" Kyungsoo langsung mencegah Jongin yang berniat untuk duduk. "Aku naikkan posisi ranjang bagian atasmu." Kyungsoo menekan tombol pengatur ranjang. "Seperti ini?" Jongin mengangguk pelan.

Jongin mengamati jarum infus yang menembus kulit lengan kirinya, ia sentuh selang oksigen yang ada di hidungnya. "Ya ampun aku seperti orang sekarat."

"Kau memang terlihat seperti orang sekarat menurut Chanyeol."

Chanyeol?! Jongin langsung mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, ia ingat Chanyeol yang membantu dan membawanya ke rumah sakit. "Kau mencari Chanyeol? Dia ada acara musik pagi, mungkin nanti siang atau sore dia baru bisa datang menjenguk. Tadi Xiumin mampir untuk membawakan beberapa pakaian dan peralatan mandi."

"Hyung pasti senang." Goda Jongin sukses membuat Kyungsoo menunduk malu. "Hmm, kapan aku bisa keluar dari sini?"

"Empat hari lagi, dokter bilang kondisimu harus diawasi dulu untuk menentukan penanganan yang tepat. Kau harus istirahat total."

"Jangan bercanda Hyung."

"Siapa yang bercanda."

"Empat hari di sini, aku bukan sembuh tapi tambah sekarat."

"Hei! Jaga omonganmu." Peringat Kyungsoo tidak suka Jongin menyebut kata sekarat semudah itu.

"Maaf," gumam Jongin.

Dua orang perawat dan satu petugas rumah sakit masuk, mengantarkan sarapan untuk Jongin sekaligus memeriksa keadaan Jongin di pagi hari. Kyungsoo duduk di sofa sembari memperhatikan Jongin, ia lihat ekspresi Jongin yang tampak tak menyukai nampan berisi makanan yang kini terletak di atas meja nakas. Jongin juga menjawab beberapa pertanyaan dari perawat dengan setengah hati, dia hanya menggeleng dan menganggukkan kepala, tak berniat mengeluarkan suara.

Selang oksigen dilepas, kemudian dua orang perawat dan petugas rumah sakit itupun pergi. Kyungsoo berjalan mendekati ranjang, melirik menu makanan serta dua butir obat berwarna putih di dalam cangkir plastik kecil. "Kau harus makan sebelum minum obat?" Jongin hanya mengangguk malas. "Mau aku suapi?"

"Tidak." Balas Jongin ketus. Kyungsoo hanya tersenyum mengerti, ia seret kursi mendekati ranjang, dan memangku nampan berisi makanan untuk Jongin.

"Buka mulutmu." Kyungsoo berucap pelan.

"Aku tidak ingin disuapi."

"Jika tidak kusuapi kau tak akan makan kan?!" bentak Kyungsoo.

"Aku akan makan tapi belikan ayam goreng." PLAK! "kenapa aku dipukul? Aku sedang sakit Hyung!" protes Jongin.

"Karena kau menyebalkan." Jawab Kyungsoo ketus. Jongin mengerucutkan bibirnya. "Buka mulutmu." Jongin tak bergeming. "Kim Jongin!" peringat Kyungsoo, Jongin menyerah, ia mengernyit saat hambarnya masakan rumah sakit menyapa lidahnya.

"Aku tidak suka…," rengek Jongin setelah berhasil menelan makanan di dalam mulutnya.

"Makanya cepat sembuh jadi kau bisa makan enak. Tapi saat di alam liar kau tidak kambuh, aku heran."

"Mungkin di alam liar lebih banyak asupan oksigen dan tidak banyak hal yang rumit kecuali bertahan hidup."

"Terserahlah." Balas Kyungsoo malas, tak terlalu paham dengan kalimat Jongin. "Ayo makan, setidaknya empat sendok lagi." Dan ucapan Kyungsoo terdengar seperti vonis mati bagi Jongin. Kyugsoo meletakkan nampan dengan sisa makanan yang cukup banyak di dalamnya. "Minum obatmu, lalu istirahat."

"Aku bosan."

"Mau cepat sembuh atau tidak?!" pekik Kyungsoo jengkel.

"Jangan dimarahi terus Hyung, ingat, aku sedang sakit."

"Huh!" Kyungsoo mendengus, Jongin tertawa pelan, puas bisa menggoda Kyungsoo. Jongin menelan dua butir pilnya dengan air, rasanya memang pahit tapi lebih mengerikan rasa makanannya dibanding obat yang baru saja ia telan. "Mau kemana?!" pekik Kyungsoo histeris melihat Jongin yang bersiap turun dari tempat tidur.

"Kamar mandi."

"Butuh bantuan?"

"Tidak." Jongin melangkah pelan sambil mendorong tiang penyangga infusnya.

"Panggil aku jika ada masalah, jangan kunci pintunya, dan…,"

"Hyung tenang saja." Jawab Jongin dengan suara lembut kemudian diiringi senyuman tulus.

"Jantungku—dia benar-benar membuatku panik, dasar Kim Jongin." Gerutu Kyungsoo sebelum menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa kembali.

Lima belas menit kemudian, setelah Kyungsoo menahan diri untuk tak menerobos masuk, Jongin keluar dari kamar mandi dengan wajah santai. Kyungsoo bergegas menghampiri. "Kenapa lama sekali?!" panik Kyungsoo.

"Aku kan tidak bisa bergerak dengan bebas, Hyung."

"Kau tahu?! Aku sangat panik!" cerocos Kyungsoo sembari membantu Jongin naik kembali ke atas ranjang.

"Terima kasih Hyung."

"Huh?! Untuk apa?"

"Karena Hyung sudah baik padaku." Jongin tersenyum tulus, Kyungsoo melempar tatapan bingung, Jongin benar-benar sakit buktinya dia peduli dengan perasaan orang lain.

"Kita kan saudara." Ucap Kyungsoo pelan. Ia naikkan selimut Jongin. "Tidurlah."

"Itu rencanaku, obat itu membuatku mengantuk padahal tanpa obat aku tukang tidur."

"Ya, dasar tukang tidur, di hari biasa aku akan mengomelimu sekarang kau bisa tidur dengan bebas jadi manfaatkan kesempatanmu."Jongin tertawa pelan mendengar kalimat Kyungsoo. "Mau aku turunkan ranjangmu?"

"Tidak, biar begini saja."

"Baiklah, tidur yang nyenyak Kim Jongin." Kyungsoo mengusap pelan puncak kepala Jongin. "Tidurlah yang nyenyak." Ulang Kyungsoo berbisik pada telinga kanan Jongin.

.

.

.

Jongin tidak tahu sudah berapa lama dirinya tertidur, namun ia merasa terganggu dengan suara-suara lain di dalam kamarnya, bukan suara Kyungsoo atau Chanyeol yang ia hapal. "Maaf aku membangunkanmu?"

"Sehun." Gumam Jongin."Apa yang kau lakukan di sini?"

"Menjengukmu tentu saja, maaf gara-gara kau kehujanan di London kan?"

Jongin menggeleng pelan. "Tidak juga, aku juga tidak tahu apa masalahnya." Jongin tersenyum simpul, ia tidak akan pernah menyalahkan orang lain pada apapun yang menimpanya. "Kau tahu darimana aku dirawat di sini?"

"Berita cepat menyebar, salah satu wartawan melihat Chanyeol membawamu ke tempat ini. Kau tahu, mereka berpikir kau—hamil." Sehun sedikit ragu mengatakan kalimat terakhirnya."

"Sialan." Dengus Jongin. "Tidak mungkin aku hamil, kami belum genap menikah satu bulan."

"Oh." Sehun bergumam pelan, sekarang justru dirinya yang tak begitu nyaman dengan topik pembicaraan itu. "Aku membawakanmu hadiah, Chen hyung bilang mungkin saja kau alergi serbuk sari jadi aku tak membawa bunga, sebagai gantinya ini."

Jongin melihat Sehun berdiri, dan mengambil sesuatu dari dalam tas kertas berwarna hijau tua. Sebuah selimut rajutan berwarna cokelat muda, dengan garis berpola putih pada kedua ujungnya. "Terima kasih, Sehun."

"Tidak masalah, saat di Hyde Park aku melihatmu kedinginan, jadi aku rasa ini hadiah yang cocok untukmu." Sehun menyelimuti tubuh Jongin dengan selimut hadiahnya. "Hangat?" Jongin mengangguk pelan. "Oh ya aku hampir lupa, ini." Sehun meletakkan empat majalah ke atas pangkuan Jongin. "Foto yang kita ambil di London sudah diterbitkan di majalah."

"Akan aku lihat nanti." Jongin mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, tak menemukan Kyungsoo di sana. "Kyungsoo hyung?"

"Oh, Kyungsoo hyung bilang ingin ke kantin untuk makan. Kenapa kau tidak bilang jika punya asma?"

"Untuk apa? Itu bukan hal yang penting. Aku juga jarang kambuh, siapa yang memberitahumu aku punya asma? Kyungsoo hyung?"

"Begitulah."

"Semoga berita ini tak menyebar, merepotkan sekali, aku tidak butuh belas kasihan." Sehun hanya tersenyum simpul menanggapi gerutuan Jongin.

Pintu kamar diketuk perawat dan petugas rumah sakit masuk untuk memeriksa keadaan Jongin dan mengantarkan makan siang juga obat yang harus Jongin minum. Sehun berdiri menjauh, memberikan ruang untuk perawat yang tengah memeriksa Jongin. Waktu pemeriksaan tak begitu lama mungkin sekitar sepuluh menit, Sehun duduk kembali dan mengamati wajah Jongin.

"Wajahmu masih tampak pucat."

Jongin tak menanggapi kedua matanya justru melirik tajam nampan yang kini berada di atas nakas. "Setelah aku keluar dari sini, hal pertama yang akan aku lakukan adalah makan ayam sepuasnya."

"Apa yang kau bicarakan?!" pekik Sehun geli.

"Makan ayam!" balas Jongin kesal. "Lihat saja makanan itu! mengerikan."

"Kau harus makan sebelum minum obat?"

"Ya, sayangnya seperti itu." Jongin menatap putus asa. Ia raih nampan makan siangnya dengan malas. "Apa yang kau lakukan?!" pekik Jongin tertahan saat Sehun mengangkat nampan makan siangnya.

"Jika kau yang makan sendiri, tidak akan selesai sampai besok pagi." Jongin mengerutkan keningnya, benar-benar kalimat yang menyebalkan untuk didengar. "Aku akan membantumu."

"Pesawat akan lepas landas!" pekik Sehun dengan nada ceria, ia angkat sendok berisi makanan, menggerakkannya naik-turun dan terkadang berbelok.

"Aku bukan anak kecil!" protes Jongin.

"Awas! Pesawat akan mendarat!" Sehun berseru dengan nada ceria, menahan tawa, akhirnya Jongin membuka mulutnya membiarkan Sehun menyuapinya. "Yup! Anak pintar!" pekik Sehun, ia acak pelan rambut Jongin. Jongin menepis tangan Sehun, kemudian merapikan rambutnya kembali, Sehun hanya terkekeh pelan.

.

.

.

Chanyeol melangkah cepat menyusuri lorong rumah sakit, ia membawa tas kertas berwarna putih dengan nama salah satu toko boneka yang ada di Seoul. Langkahnya terhenti di depan kamar Jongin, melihat seorang Oh Sehun sedang menyuapi Jongin, dan Jongin yang tersenyum bahagia, ia urung melangkah masuk dan menghancurkan momen itu. maka di sinilah seorang Park Chanyeol, duduk di atas kursi tunggu plastik yang keras, dengan earphone menyumpal kedua telinganya, tanpa mendengarkan apa-apa.

"Aku harus pergi sekarang, besok aku akan menjengukmu lagi jika ada waktu, maaf aku tidak bisa memastikan."

"Terima kasih sudah datang. Tak perlu memaksa datang ada Kyungsoo hyung yang menemaniku." Jongin tersenyum tulus.

"Kenapa Kyungsoo hyung belum kembali? Aku tidak tega meninggalkanmu sendirian."

"Pergilah, aku baik-baik saja mungkin Kyungsoo hyung sedang mendapat ancaman dari keluargaku." Canda Jongin, tapi hal itu tidak sepenuhnya salah, keluarganya terutama ibunya pasti menceramahi Kyungsoo panjang lebar tentang betapa tidak becusnya Kyungsoo menjaga Jongin.

"Jika itu benar, bagaimana Kyungsoo hyung? Pasti dia sangat tertekan."

Jongin menggeleng cepat. "Tidak akan, Kyungsoo hyung sudah sangat terbiasa dengan hal itu, dia akan baik-baik saja."

"Sampai besok, Jongin." Sehun berdiri dengan canggung menatap Jongin, ia tidak yakin apa Jongin bersedia untuk dipeluk. Sementara Jongin sendiri sudah sibuk membuka majalah yang tadi ia berikan.

"Kenapa tidak pergi?" pertanyaan Jongin yang menusuk, sepertinya Jongin sudah mulai sembuh, pikir Sehun.

"Tidak aku hanya—uhmm—aku ingin memelukmu, tentu jika kau mau, kalau tidak ya sudah!" ujar Sehun cepat.

"Memelukku?" Jongin menatap bingung.

"Tidak apa-apa jika kau tidak mau." Sehun melempar senyum canggung.

"Aku rasa tidak masalah jika hanya pelukan."

"Benarkah?!" pekik Sehun, ia benar-benar bersikap diluar kebiasannya. "Ehm." Sehun berdeham. "Benarkah? Tidak apa-apa aku memelukmu?" Jongin mengangguk pelan.

"Pelukan persahabatan." Ucap Jongin, tentu saja pelukan persahabatan memang apa yang bisa Sehun harapkan lebih dari itu.

Sehun mendekat dan memeluk Jongin dengan erat. "Semoga cepat sembuh Kim Jongin."

"Terima kasih Sehun."

Sehun tersenyum lebar, ia melambaikan tangannya sebelum berbalik dan melangkah pergi. Jongin hanya bisa melempar tatapan heran. Sehun yang bersikap canggung ternyata lucu juga.

Chanyeol yang mendengar pintu terbuka langsung berdiri dan berpura-pura sedang berbicara dengan seseorang di ponselnya. "Baik Hyung, aku sudah membaca jadwalku, terima kasih banyak Hyung." Sehun melirik Chanyeol sekilas, kemudian berjalan melewati Chanyeol tanpa mengatakan apa-apa. "Terima kasih Hyung." Chanyeol menatap Sehun yang sudah berjarak cukup jauh dari tempatnya berdiri, Chanyeol mengakhiri telepon sandiwaranya, ia masukkan ponselnya ke dalam saku belakang celana jins yang ia kenakan, kemudian ia masuk ke dalam kamar Jongin.

"Halo Kai."

"Oh! Chanyeol!" pekik Jongin, entah mengapa ia merasa bahagia melihat wajah Chanyeol sekarang.

"Di mana Kyungsoo?"

"Sehun bilang Kyungsoo hyung pergi ke kantin, tadi aku masih tidur jadi tidak tahu kapan Hyung pergi."

"Mungkin Xiumin hyung bertemu dengan Kyungsoo di kantin. Tadi Hyung bilang lapar, jadi dia mau ke kantin dulu sebelum menjengukmu."

"Pantas lama, tapi Kyungsoo hyung pergi cukup lama sebelum kalian datang ke sini aku rasa." Chanyeol melihat wajah Jongin yang tampak panik. Chanyeol mengeluarkan ponselnya karena Jongin tidak membawa ponsel dia memang dianjurkan untuk beristiraht total.

"Mau mencoba menghubunginya?" Jongin mengangguk mantap, Chanyeol menyerahkan ponselnya.

"Hyung!" pekik Jongin saat Kyungsoo menjawab panggilannya. "Hyung dimana? Hyung baik-baik saja kan?!"

"Ya, aku baik-baik saja jika kau abaikan ceramah ibumu."

"Maaf Hyung." Sesal Jongin.

"Sudahlah, itukan biasa, aku pulang sebentar untuk mandi dan ganti baju, lalu aku kembali dan berniat membeli makanan di kantin rumah sakit, sebenarnya aku ingin membawa makananku ke kamarmu dan makan di sana tapi aku bertemu dengan seseorang di sini…,"

"Xiumin hyung."

"Diam kau Kim Jongin." Kesal Kyungsoo. "Sudah, aku dan Xiumin tidak akan lama di sini, istirahatlah dengan baik Chanyeol sudah datang kan? Oh ya, kau memakai ponsel Chanyeol kenapa aku jadi bodoh. Sampai jumpa Jongin."

Kyungsoo memutus sambungan teleponnya, Jongin menatap layar ponsel Chanyeol dengan heran. "Xiumin hyung lebih penting dariku." Gerutu Jongin, ia serahkan kembali ponsel yang tadi dipinjamnya kepada si pemilik. "Terima kasih."

"Jangan kesal aku di sini menemanimu." Ucap Chanyeol ia duduk di kursi di samping ranjang yang tadi diduduki Sehun. "Aku membawa sesuatu untukmu."

"Ayam goreng?!"

"Bukan, kau tidak boleh makan itu untuk sementara."

"Tidak tertarik."

"Lihat dulu." Chanyeol mengangkat dan meletakkan tasnya ke atas pangkuannya. "Tada!" pekik Chanyeol bahagia, ia menunjukkan dua boneka beruang lucu kepada Jongin.

"Untuk apa boneka itu? kau berniat melakukan voodoo, yang satu untuk Suho dan satunya untuk Baekhyun?"

"Bukan!" pekik Chanyeol, sambil menghadiahi pukulan pelan ke atas kepala Jongin menggunakan salah satu boneka yang dia pegang.

"Aku sedang sakit!" protes Jongin, Chanyeol sama saja seperti Kyungsoo, suka main tangan.

"Makanya berhenti bersikap menyebalkan."

"Siapa yang bersikap menyebalkan? Aku hanya menebak."

"Jangan asal menebak."

"Terserahlah, jadi untuk apa boneka-boneka itu?" Jongin mengembalikan percakapan pada topik awal.

"Tentu saja untukmu." Chanyeol menekan perut boneka beruang putih. Semoga cepat sembuh Kim Jongin, suara Chanyeol terdengar.

Jongin mengerutkan keningnya. "Itu boneka yang bisa merekam! Menjijikkan. Tapi terima kasih sudah memberikannya untukku, akan aku simpan, aku usahkan."

"Aish! Kau ini!" geram Chanyeol. Ia sodorkan boneka beruang cokelat kepada Jongin. "Katakan sesuatu untukku."

"Apa?! Aku juga harus melakukannya?!"

"Ya, kau harus melakukannya. Tekan perutnya untuk mulai merekam, tekan lagi untuk menyimpan dan berhenti."

"Baiklah, akan aku pikirkan kalimat yang tepat." Chanyeol tersenyum puas, Jongin menyipitkan kedua matanya mencoba memikirkan kalimat apa yang akan ia katakan kepada Chanyeol. Jongin menekan perut beruangnya. "Chanyeol hyung, maaf tidak pernah memanggilmu Hyung padahal kau lebih tua, mari berteman." Jongin menekan perut beruangnya untuk berhenti dan menyimpan rekamannya. "Sudah."

"Hanya itu?!" pekik Chanyeol kesal mendengar kalimat tak bermutu dari Jongin.

"Hanya itu yang bisa aku pikirkan." Jawab Jongin tanpa rasa bersalah.

"Baiklah, terima kasih banyak Kim Jongin, mari berteman." Gerutu Chanyeol sembari mengambil boneka beruang yang ada di pangkuan Jongin, Jongin tersenyum lebar. "Sudahlah tak ada gunanya memaksamu." Chanyeol duduk kembali, ia pandangi selimut Jongin. "Selimutnya bagus."

"Dari Sehun."

"Oh." Tentu saja dari Sehun, selimut rumah sakit tak akan sebagus itu. Chanyeol mengambil salah satu majalah dari atas nakas, membukanya langsung bagian daftar isi, dan membuka halaman yang menampilkan Oh Sehun. "London Eye, ini hasil jepretanmu."

"Hmm." Balas Jongin datar.

"Lumayan juga."

"Terima kasih. Chanyeol, kenapa hubunganmu dengan Sehun tidak baik?"

"Kenapa ya? Aku juga tidak tahu mungkin kepribadian kami memang tidak cocok."

"Apa kalian pernah bertemu dan saling bicara sebelumnya?"

"Belum."

"Apa karena persaingan? Karena kau dan Sehun adalah dua artis di bawah bendera SM dengan penghasilan tertinggi untuk agency dan pribadi?"

"Mungkin."

"Kau tidak ingin mencoba berteman dengannya? Mungkin tidak buruk."

"Entahlah Jongin."

"Baiklah, sepertinya kau tidak ingin membicarakannya." Chanyeol tak menjawab ia memilih membaca isi majalah.

"Jongin! Chanyeol!" kedatangan Kyungsoo dan Xiumin mengakhiri suasana canggung yang tercipta. Kyungsoo langsung menghambur memeluk Jongin erat. "Aku membawakanmu ayam goreng." Ucap Kyungsoo sembari mengedipkan sebelah matanya.

"Hyung yang terbaik." Balas Jongin, ia peluk Kyungsoo semakin erat.

"Kim Jongin."

"Ah! Maaf Hyung." Jongin bergegas melepas pelukannya menyadari kehadiran Xiumin, Xiumin tertawa keras melihat wajah lucu Jongin.

"Aku hanya mengerjaimu kok." Ucap Xiumin renyah.

"Kalian sudah datang, baguslah, aku harus pergi."

"Kemana? Bukannya jadwalmu sudah selesai untuk hari ini Chanyeol?!" pekik Xiumin.

"Aku harus melakukan hal lain Hyung, sampai jumpa Jongin." Chanyeol berjalan meninggalkan kamar, seketika pandangan Xiumin dan Kyungsoo langsung tertuju kepada Jongin.

"Aku tidak tahu apa-apa. Aku tidak melakukan apa-apa!" pekik Jongin, kesal disudutkan. "Aku hanya bertanya tentang Sehun."

"Oh itu, pantas dia kesal. Hubungan mereka memang tidak baik, aku juga tidak tahu alasan pastinya." Ucap Xiumin yang kini sedang mendudukkan dirinya di samping Kyungsoo.

"Bagaimana bisa membenci seseorang tanpa asalan?"

"Bukankah ada pepatah kau tidak perlu alasan untuk mencintai seseorang dengan tulus, aku rasa hal itu berlaku sebaliknya." Ucap Xiumin.

"Aneh." Balas Jongin singkat. Ia kembali berbaring, merasa mengantuk karena obatnya mulai bereaksi. "Aku mau tidur, jangan tinggalkan aku."

"Dasar manja!" ejek Kyungsoo yang diabaikan Jongin.

"Apa dia seperti itu saat sakit?"

"Kurang lebih begitu." Jongin menulikan telinganya, tak peduli dengan dirinya yang dijadikan topik pembicaraan oleh Xiumin dan Kyungsoo.

.

.

.

Jongin memandangi boneka beruang putih di pangkuannya, Chanyeol dan Sehun tidak menjenguknya karena alasan kesibukan masing-masing. Bukan dirinya berubah cengeng, bukan, dia hanya merasa penasaran dengan apa yang dua orang itu lakukan.

"Kau siap?"

"Ya." Jongin melompat turun dari tempat tidur, dia serahkan boneka beruangnya kepada Kyungsoo tidak ingin terlihat manis dengan membawa boneka keluar rumah sakit. Jongin menyandang ranselnya, padahal Kyungsoo sudah menawarkan diri untuk membawakannya namun Jongin menolak.

Sekarang terlihat seperti Kyungsoolah pasien yang baru keluar dari rumah sakit dengan boneka beruang di dalam pelukannya, dan Jongin adalah kerabat yang membawakan barang-barang Kyungsoo.

"Jongin!" Sehun tiba-tiba muncul dengan tergopoh-gopoh.

"Ada apa?!" Membuat Kyungsoo dan Jongin panik. Mereka berpikir ada sesuatu yang luar biasa sedang terjadi.

"Tidak ada…," Sehun menarik napas dalam-dalam menenangkan diri. "Aku pikir kalian sudah pergi, beruntung kita bertemu."

"Kenapa kau berlarian?"

"Untuk bertemu denganmu." Jongin memutar kedua bola matanya, malas, mendengar kalimat manis Sehun. "Biar aku bawakan." Sehun mengambil ransel Jongin dan menyandangnya. "Hyung aku boleh membawa Jongin jalan-jalan kan?" Sehun melempar tatapan memohon terbaiknya.

"Baiklah, jangan pulang malam-malam Jongin belum sembuh benar, dan antarkan dia ke apartemen Chanyeol kau tahu tempatnya kan?"

"Apartemen Chanyeol," gumam Sehun pelan, dia tidak terlalu suka dengan ide itu namun jika itu adalah syarat dirinya bisa keluar dengan Jongin. Mungkin, tidak masalah. "Baiklah." Balas Sehun setengah hati. "Kau mau kan Jongin?"

"Ya." Menolak Sehun setelah usahanya, tidak pantas untuk dilakukan.

"Bagus ayo!" seru Sehun antusias, tanpa sadar ia menggandeng tangan kanan Jongin. Jongin menarik tangannya lepas dari genggaman Sehun. "Maaf." Gumam Sehun.

"Hmm." Balas Jongin dengan gumaman.

.

.

.

"Kita kemana?"

"Aku akan mentraktirmu makan ayam."

"Aku tidak ingin makan ayam, Kyungsoo hyung sudah membelikannya tempo hari."

"Oh." Sehun membalas kecewa, ia memutar otaknya dengan cepat. "Bagaimana jika sesuatu yang manis, kau tahu sesuatu yang manis akan membawa keberuntungan?"

Jongin mengendikkkan bahu. "Ya, boleh."

"Baiklah, aku akan membawamu ke toko kue terbaik di Gangnam." Sehun menyalakan mesin mobil sportnya, perlahan mobil meninggalkan halaman parkir rumah sakit.

"Apa tidak masalah keluar di siang hari seperti ini? Atau kau memesan seluruh restoran? Aku harap kau tidak melakukannya, itu menyebalkan makan di restoran yang sepi."

"Aku tidak melakukan hal itu, jangan pedulikan orang-orang, mereka pasti berpikir jika kita bertemu untuk menjalin kerjasama lain, ya—setidaknya mayoritas berpikir seperti itu, aku harap."

"Jadi kau sendiri juga tak yakin?" Sehun tertawa pelan. "Semoga semuanya berjalan dengan baik." harap Jongin.

"Aku juga mengharapkan hal yang sama."

Letak toko kue yang Sehun maksud sebenarnya tidak jauh dari Red Café, Jongin sendiri heran kenapa dirinya tidak pernah menjejakkan kakinya ke sana. Bangunan toko kue itu terlihat elegan, dengan jendela kaca mengelilingi bangunan, menampilkan semua hal yang bisa dilihat di dalam bangunan, tiga meja di dalam, dan dua meja di luar, meja display dari kaca.

"HAPPY." Jongin membaca huruf kapital yang tercetak di depan toko.

"Kau bisa membaca abjad?"

"Ya."

"Bahasa Inggrismu bagus?"

"Tidak juga, ayolah aku ingin makan kue bukan membahas kemampuan bahasa Inggrisku, ini bukan tes masuk universitas kan?" Jongin kembali bertanya dengan sarkas.

Sehun tersenyum lebar. "Kau sudah sembuh."

"Terserah." Jongin melepas sabuk pengaman, membuka pintu mobil dan berjalan memasuki toko meninggalkan Sehun. Sehun berusaha untuk tak tertawa iapun bergegas menyusul Jongin.

Kehadiran Jongin dan Sehun tentu saja menarik perhatian pengunjung lain, namun mereka hanya tersenyum dan memanggil Sehun serta Jongin dengan panggilan sopan. Jongin memilih meja di dalam, di dekat display. Sehun duduk di hadapannya. "Ini menarik," gumam Jongin.

"Apanya?"

"Para pengunjungnya sangat sopan."

"Karena pemilik toko kue ini akan marah jika pengunjung bertindak barbar dan tak segan mengusirnya."

"Oh, kau kenal pemilik tokonya?"

"Bisa dibilang seperti itu."

"Siapa?"

"Jongin, tempat ini terkenal kau sama sekali tidak tahu?"

Jongin menggeleng jujur. "Aku benar-benar tidak tahu."

"Ayahku."

"Begitu." Balas Jongin diluar dugaan Sehun.

"Kau tidak terkejut?"

"Lumayan."

"Tapi reaksimu biasa saja."

"Jika reaksiku luar biasa aku bisa dapat potongan harga?"

"Kau bisa dapat gratis."

"Wow hebat ini toko milik ayahmu?!"

Sehun berusaha untuk tidak tertawa terlalu keras, namun ucapan dan ekspresi wajah Jongin sungguh terlihat sangat lucu sekarang. "Terima kasih atas reaksi luar biasamu." Balas Sehun, masih berusaha keras menahan tawanya.

"Aku ingin tartlet stroberi."

"Baiklah." Sehun berdiri dari kursinya dan berjalan menuju konter, Jongin tidak tahu jika di toko ini memiliki sistem pelayanan seperti restoran siap saji, dirinya merasa tidak enak telah merepotkan Sehun. Sudah ditraktir menyuruh si pentraktir mengambil pesanan, Kim Jongin memang luar biasa.

TBC