Ring

Characters: Baekhyun, Chanyeol, Jongin (Kai), Kyungsoo, Xiumin, Sehun, and others

Pairing: Chankai, Chanbaek (slight), Hunkai (Slight)

Warning: BL

Rated: T-M

Boomiee92

Terima kasih untuk reviewnya, ceritanya mungkin agak panjang dan konfliknya gak nyampe-nyampe hehehe tapi ini yang bisa saya pikirkan harap maklum ya, happy reading dan mohon maaf atas semua kesalahan yang ada (edisi apalagi ini?) Chepi 13 ready….

Previous

"Oh, kau kenal pemilik tokonya?"

"Bisa dibilang seperti itu."

"Siapa?"

"Jongin, tempat ini terkenal kau sama sekali tidak tahu?"

Jongin menggeleng jujur. "Aku benar-benar tidak tahu."

"Ayahku."

"Begitu." Balas Jongin diluar dugaan Sehun.

"Kau tidak terkejut?"

"Lumayan."

"Tapi reaksimu biasa saja."

"Jika reaksiku luar biasa aku bisa dapat potongan harga?"

"Kau bisa dapat gratis."

"Wow hebat ini toko milik ayahmu?!"

Sehun berusaha untuk tidak tertawa terlalu keras, namun ucapan dan ekspresi wajah Jongin sungguh terlihat sangat lucu sekarang. "Terima kasih atas reaksi luar biasamu." Balas Sehun, masih berusaha keras menahan tawanya.

"Aku ingin tartlet stroberi."

"Baiklah." Sehun berdiri dari kursinya dan berjalan menuju konter, Jongin tidak tahu jika di toko ini memiliki sistem pelayanan seperti restoran siap saji, dirinya merasa tidak enak telah merepotkan Sehun. Sudah ditraktir menyuruh si pentraktir mengambil pesanan, Kim Jongin memang luar biasa.

Bab Tiga Belas

Jongin memandangi tartlet yang tersaji di mejanya dengan kedua mata berbinar. Kue yang mirip pie mini dengan permukaan bertabur buah-buahan atau bahan lainnya seperti keju dan susu itu terlihat menggiurkan. Jongin mengambil garpu kemudian memotong tartlet miliknya.

"Kau makan dengan sopan."

"Biasanya aku tidak makan dengan sopan?" Jongin menatap Sehun, tidak mengerti maksudnya.

"Ya—bukannya tidak sopan, biasanya kau akan makan dengan tergesa-gesa dan terlihat sangat membenciku."

"Karena saat itu kau sangat menyebalkan dan aku benar-benar ingin pergi dari hadapanmu." Jongin membalas dengan terus terang. Sehun hampir tersedak tartlet blueberry yang sedang ia nikmati.

Jongin memotong tartletnya ia masukkan ke dalam mulut, dan rasanya luar biasa, perpaduan manis dan segarnya stroberi yang sempurna, meleleh di dalam mulut. "Bagaimana?" Sehun bertanya, tak sabar mendengar pendapat Jongin.

"Sangat enak, kenapa aku selalu melewatkan tempat ini?" Jongin bertanya kepada dirinya sendiri. "Aku ingat, restoran siap saji dengan ayam goreng lebih menarik minatku." Sehun tertawa pelan. "Ini bisnis keluargamu?"

"Ya, begitulah."

"Kau tidak meneruskannya?"

"Aku punya pemikiran lain."

Jongin tersenyum miring. "Dan dulu kau mengejekku karena aku tidak meneruskan bisnis keluargaku."

"Aku hanya ingin menggodamu."

"Godaanmu gagal, aku ingin sekali menyumpal mulutmu saat itu."

"Oh ya!" pekik Sehun. "Aku bersedia kau sumpal dengan bibirmu."

Jongin melirik tajam. Sehun menelan ludahnya kasar, ia telah melewati batas. "Apa kau mengasuransikan wajahmu?"

"I—iya." Sehun benar-benar tidak ingin membuat masalah dengan Jongin, bukannya dia takut, hanya saja dia tidak ingin tampak lebih bajingan lagi di depan orang yang ia taksir.

"Pasti mahal sekali, beruntung wajahmu kau asuransikan jika tidak mungkin garpu ini sudah melukai kulit wajahmu yang mulus itu."

"Jongin, tolong jangan marah. Baiklah aku memang selalu terdengar brengsek. Tapi aku hanya ingin tahu, kenapa kau selalu tampak keberatan dengan hal-hal seperti ciuman atau semacamnya, apa kau belum pernah melakukannya?" Sehun menatap takut-takut kepada Jongin.

"Aku tidak suka laki-laki yang tak sopan." Balas Jongin dengan ekspresi datar. "Obrolan ini membuatku tak nyaman Sehun."

"Maaf, habiskan tartlet-mu lalu aku akan mengantarmu pulang, Kyungsoo sudah menerorku."

Jongin tak menjawab, dia sudah kehilangan selera makannya. Ia menatap keluar jendela, memikirkan Chanyeol sebenarnya, kenapa dia seolah-olah menghilang. "Antar aku pulang sekarang Sehun, tapi tunggu di sini." Jongin berdiri dari kursinya dan berjalan menuju konter. Untuk membeli beberapa tartlet. Sehun berdiri dari kursinya mengikuti Jongin.

"Kau tidak menghabiskan tartletmu tapi membeli lagi."

"Aku membawakannya untuk—siapapun yang ada di rumah."

"Kau memikirkan Chanyeol?"

"Aku mencoba bersikap baik, kami tinggal bersama. Terima kasih." Jongin menerima bungkusan tartlet yang ia pesan. Sehun hanya mendesah pelan, cemburu, tentu saja perasaan seperti itu tak perlu ditanyakan lagi.

Keduanya berjalan beriringan meninggalkan toko kue. Sehun membukakan pintu mobilnya untuk Jongin, Jongin ingin sekali memukul Sehun, jika seseorang mengambil gambar mereka dan mengunggahnya di internet, semuanya akan berantakan dan berisik. "Terima kasih Sehun, tapi kau tidak perlu melakukannya…,"

"Jangan membebani pikiranmu." Potong Sehun cepat.

Jongin duduk, memakai sabuk pengamannya, Sehunpun melakukan hal yang sama, mesin mobil menyala dengan suara deruman halus, bergerak pelan meninggalkan toko kue keluarga Sehun. "Apa kau mencintaiku?"

Sehun tidak siap dengan pertanyaan Jongin yang tiba-tiba. "Ya." Namun, pada akhirnya ia tetap menjawab, memberikan jawaban sesuai perasaaannya.

"Sebaiknya hentikan saja, aku tidak ingin kau sakit karena aku—aku mencintai Chanyeol."

Tanpa sadar Sehun mengeraskan genggamannya pada stir kemudi mobil. "Aku tidak bisa melakukannya Jongin."

"Kau pasti bisa, kau bisa mencari orang lain yang lebih baik dariku orang yang belum terikat."

Sehun membawa mobilnya menepi dan menghentikannya. Ia menoleh menatap Jongin tajam. "Apa pernikahanmu dengan Chanyeol adalah pernikahan sebenarnya? Katakan padaku, jika kalian benar-benar saling mencintai aku akan mundur."

"Sehun, tentu saja kami menikah karena cinta." Jongin mencoba tertawa ringan untuk meyakinkan Sehun, tapi pria yang berpredikat supermodel itu sama sekali tak percaya. "Baiklah, kau menang." Jongin memalingkan wajahnya dan menunduk. Ia bisa merasakan genggaman tangan Sehun.

"Aku tidak akan mundur Jongin, apapun kesepakatan yang kau buat dengan Chanyeol, silakan, selesaikan semuanya, tapi aku hanya ingin kau tahu bahwa aku akan selalu menunggu dan mencintaimu." Jongin menarik tangannya dari genggaman tangan Sehun. Sehun kembali mengemudikan mobilnya. Pernyataan Sehun sungguh sangat membebani.

Sehun menghentikan mobilnya cukup jauh dari apartemen Chanyeol, tidak ingin menarik perhatian para penggemar Chanyeol yang berkerumun di depan gedung apartemen. "Sebaiknya kau menggunakan pintu belakang."

Jongin mengamati keadaan di depan gedung apartemen, tidak biasanya fans berkerumun sebanyak itu. "Kau benar."

"Aku akan memutar." Ucap Sehun, tidak tega membayangkan Jongin yang baru keluar dari rumah sakit, berjalan kaki memutari gedung.

"Terima kasih," gumam Jongin perlahan.

"Kita sampai. Hati-hati." Sehun menatap Jongin tulus. Jongin mengangguk pelan, ia membuka sabuk pengamannya dan membuka pintu mobil.

"Jongin ingatlah…"

"Terima kasih Sehun." Jongin membungkukkan badannya, ia tutup pintu mobil Sehun dengan cepat sebelum Sehun sempat melanjutkan kalimatnya.

"Aku selalu mencintaimu." Gumam Sehun perih.

.

.

.

Jongin mengetikkan kode pengaman, mendorong pintu apartemen perlahan. Melepas sepatu, meletakkannya ke dalam rak dan melangkah masuk. Tak ada sambutan, padahal menurut Kyungsoo, Chanyeol tidak ada jadwal setelah pukul dua belas siang. Jongin melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga. Di sana ada Xiumin yang terlihat sedang berpikir serius hingga tak menyadari kedatangannya.

"Jong! Jongin!" pekik Xiumin melompat dari sofa yang ia duduki. "Kau datang, astaga, maaf aku tidak menyambutmu!" Xiumin bergerak panik mendekati Jongin.

"Hyung." Ucap Jongin sembari menepuk pelan pundak kanan Xiumin.
"Aku tidak butuh penyambutan, aku bawakan ini untukmu Hyung."

"Terima kasih Jongin. Wah ini dari toko kue!" pekik Xiumin senyuman kini telah kembali ke wajahnya. "Aromanya harum, aku akan membaginya dengan Chanyeol setelah dia keluar dari kamar." nada sedih terdengar jelas dari bibir Xiumin ketika menyebut nama Chanyeol.

"Kamar? apa dia sakit?" Jongin menjaga nada suaranya agar tak terdengar panik.

"Tidak, dia tidak sakit secara fisik, mungkin hatinya."

"Baekhyun?"

Xiumin menggeleng pelan. "Komentar di internet tentang lagunya. Oh aku lupa, ini ponselmu." Jongin menerima ponsel yang telah berpisah darinya selama lima hari itu. Ia mendudukkan dirinya ke atas sofa dan mulai mencari berita tentang Chanyeol, beruntung baterai ponselnya masih tersisa cukup banyak.

"Oh." Hanya itu kalimat yang bisa Jongin katakan, membaca semua komentar yang menurutnya sudah di luar batas. Jongin menggaruk tengkuknya, ia mencoba mendengar lagu yang menjadi masalah itu. Menurutnya biasa saja, syair seperti itu sudah biasa di budaya rap Amerika. "Hyung punya ruang kerja kan di sini?" Xiumin mengangguk pelan. "Ada komputer dan printer kan?" Xiumin kembali mengangguk, Jongin tersenyum. "Kamar Chanyeol dikunci?"

"Aku rasa tidak, dia tidak pernah mengunci kamarnya seburuk apapun situasinya, dia hanya akan di dalam sana berlama-lama menyalahkan diri sendiri."

"Baiklah!" Jongin berteriak girang, ia melompat dari sofa dan berlari menuju ruang kerja Xiumin. Xiumin mendesah putus asa, apapun yang Jongin rencanakan dia berharap semua itu bisa membantu Chanyeol keluar dari keterpurukannya.

Jongin duduk di depan komputer menyimpan semua komentar-komentar pedas untuk lagu Chanyeol, ia cetak semua komentar yang menurutnya paling parah. "Wow sepuluh lembar!" pekik Jongin tak percaya. "Mereka punya banyak sekali waktu luang sampai menulis hal-hal tak penting seperti ini." Kertas terakhir keluar dari mesin pencetak, Jongin menyambarnya dan dia keluar dari ruang kerja Xiumin menuju kamar Chanyeol.

"Jongin!" pekik Xiumin berusaha menghentikan Jongin, mungkin saja apa yang ia rencakan tak akan berakhir baik, dan Xiumin cemas akan hal itu.

Jongin berdiri di depan pintu kamar Chanyeol, tangan kanannya bergerak untuk menggenggam knob pintu, perlahan ia putar knob tersebut dan mendorong pintu ke dalam. Chanyeol terlihat duduk di depan komputer, dengan kedua tangan menopang dagu, kompter di depannya menyala namun Chanyeol terlihat jalas sedang memikirkan hal lain, hanya sesekali tangannya bergerak menggeser mouse agar layar komputer tidak memasuki mode sleep. "Chanyeol." panggil Jongin pelan.

"Oh Kai!" Chanyeol membulatkan kedua matanya, ia masih duduk di kursi kerja beroda, ia putar tubuhnya menatap Kai. " Kau sudah pulang? Maaf aku tidak menjengukmu selama beberapa hari—aku juga tidak menjemputmu."

"Tidak masalah."

"Istirahatlah, aku juga sangat lelah sekarang."

"Berapa lama kau di industri ini Chanyeol?"

"Kenapa tiba-tiba kau tertarik?"

Jongin mengendikkan bahu. Ia mulai membaca kertas-kertas ditangannya. "Lagu itu membuat telingaku sakit, sungguh syairnya benar-benar mirip kotoran babi. Lagu itu membuatku ingin muntah kenapa orang yang membuat lagu itu tidak mengasingkan diri saja ke hutan dan menyanyi untuk kawanan kera. Kenapa Chan-Yeol tidak mati saja, ini sangat menjijikkan, aku akan membakar semua hal yang berhubungan dengan Chanyeol dan mulai detik ini aku tidak akan menjadi penggemarnya lagi, aku…,"

"Cukup Kim Jongin!" Chanyeol berteriak murka, ia mendekati Jongin dengan tatapan berbahaya, bersiap merebut kertas yang Jongin baca namun Jongin menyelamatkan kertas itu di belakang punggungnya. "Keluar sebelum aku hilang kesabaran." Geram Chanyeol.

"Aku bertanya berapa lama kau berada di industri ini?"

"Diam dan keluarlah." Suara rendah Chanyeol terdengar mengintimidasi.

"Tidak, sebelum aku mendapatkan jawabanmu."

"Kim Jongin! Aku bisa meledak kapan saja! Jadi tutup mulutmu dan keluar dari kamarku sekarang juga."

"Kalau begitu jawab pertanyaanku, Park Chanyeol." Jongin membalas tatapan tajam Chanyeol.

"Delapan tahun. Aku sudah menjawab pergilah sekarang."

Jongin tersenyum miring. "Delapan tahun dan kau masih terpuruk dengan komentar-komentar sampah seperti ini? Kalau begitu kau benar-benar harus berhenti menjadi penyanyi." Chanyeol menatap tajam kedua bola mata hitam Jongin. "Jika ini impianmu seharusnya kau tidak membiarkan siapapun merebutnya darimu. Kau tidak perlu terpuruk membaca semua komentar-komentar mereka, aku sudah mendengar lagumu, aku rasa tidak ada yang salah dengan semua lirik itu karena itu lirik yang kau inginkan. Apa kau menulis lirik itu sendiri?" Chanyeol mengangguk pelan, amarahnya sedikit demi sedikit mulai mereda. "Kau merasa senang saat menulisnya?"

"Ya, aku menikmatinya."

Jongin mendesah perlahan. "Sekarang bersikaplah untuk tak terlalu peduli, peduli itu bagus tapi jika kepedulianmu justru membuatmu terpuruk tidak ada salahnya sedikit acuh."

Chanyeol tersenyum miring. "Aku benar-benar berniat memukulmu tadi, Kai."

"Aku sudah membacanya, sekarang kau sobek saja semua kertas-kertas tidak penting ini." Chanyeol menurut, ia ambil kertas di tangan Jongin kemudian menyobeknya kasar, melemparkannya ke udara.

"Seperti hiasan saat aku memenangkan pengharagaan." Gumam Chanyeol.

"Saat kau berpikir akan menyerah pikirkan kenapa kau bersedia memulai semua ini, impianmu tidak akan padam hanya dengan komentar-komentar seperti itu, mustahil semua orang menyukaimu kan? Atau tetap menyukaimu, seperti musim yang berganti. Kau harus lebih kuat."

"Kau lebih pintar bicara sekarang, apa di rumah sakit mereka memberimu obat?" canda Chanyeol.

"Tentu saja mereka memberiku obat. Jangan biarkan mereka merebut impianmu."

"Terima kasih Kai, aku merasa lebih baik sekarang."

Jongin memutar salah satu lagu di dalam ponselnya, membesarkan volumenya. "EMINEM?" tebak Chanyeol, Jongin mengangguk pelan sembari tersenyum.

"Not Afraid ini lagu yang istimewa untukku."

"Kenapa?"

"Kau dengar saja sendiri."

Luar biasa, tentu saja, dunia sudah mengakui kualitas musik dan lirik seorang EMINEM, Chanyeol ingin seperti laki-laki hebat itu, mungkin tak sepadan, tapi mimpi adalah sesuatu yang membuatmu bertahan melewati hari-hari berat karena kau masih percaya bahwa ada saat yang membahagiakan menantimu. "I'm doing this for me, so fuck the world feed beans, it's gassed up, if it thinks it's stopping me. I'ma be what I set out to be, without doubt undoubtedly. And all those who look down on me I'm tearing down your balcony…,"

Jongin mengikuti lirik lagu kesukaannya, Chanyeol hanya bisa diam dan terpesona. Lagu yang indah, suara yang indah, dan Jongin membuatnya sempurna. Lagupun berakhir menyisakan perasaan takjub pada diri Chanyeol. "Aku pikir, kau punya bakat bernyanyi."

"Menjadi fotografer adalah impianku."

"Jangan biarkan kalimatku merebut impianmu."

Jongin tertawa pelan. "Aku sudah pernah mengalami yang terburuk, kalimatmu tidak ada apa-apanya. Aku bawakan tartlet untukmu, sebaiknya kau keluar kamar sebelum Xiumin hyung menghabiskan semuanya." Jongin berjalan menjauhi Chanyeol, dia berniat keluar karena rencananya berhasil.

Chanyeol tahan lengan kanan Jongin, menariknya, perlahan menarik tubuh Jongin mendekat. Chanyeol tersenyum tulus. "Terima kasih banyak." Chanyeol peluk erat tubuh Jongin. "Jika kau tidak merangsek masuk dan mengobarkan amarahku lalu memadamkannya seperti guyuran hujan, aku pasti masih terpuruk sampai satu minggu ke depan."

Jongin tersenyum di dalam pelukan Chanyeol. "Memadamkannya seperti guyuran hujan, kau benar-benar pintar menulis lirik lagu."

"Itu bukan lirik lagu Kai."

"Lalu?" tanpa sadar Jongin membalas pelukan Chanyeol.

"Entahlah, hanya sesuatu yang aku pikirkan." Bisik Chanyeol. memeluk Jongin benar-benar nyaman. Perlahan Chanyeol melepas pelukannya. "Aku ingin makan tartlet sekarang."

"Tentu, makanlah sepuasmu." Balas Jongin, iapun melangkah keluar dari kamar mendahului Chanyeol.

"Hyung tidak menghabiskan tartletnya kan?!" pekik Chanyeol dengan heboh sambil melangkahkan kedua kakinya dengan cepat menuju ruang makan.

"Tentu saja tidak. Kau tahu aku sedang diet sekarang. Saat kau berteriak aku hampir saja masuk ke kamarmu, kau ini selalu berhasil membuatku merasa panik."

Chanyeol memutar kedua bola matanya malas, ia berjalan mendekati meja dan duduk bergabung dengan Xiumin. Jongin tersenyum melihat Chanyeol yang sudah melupakan bebannya. "Kau tidak ikut bergabung?" Chanyeol menoleh menatap Jongin.

"Aku sudah makan tadi di toko kue, aku ingin tidur sekarang."

"Astaga!" pekik Chanyeol, ia lupa jika Jongin baru saja keluar dari rumah sakit. "Apa kau baik-baik saja?!" Chanyeol berlari mendekati Jongin kini dia telah berdiri di hadapan Jongin, memegang kedua pundak Jongin, menatapnya dengan penuh perhatian.

"Aku baik-baik saja, makanlah tartletmu." Jongin mendorong pelan dada Chanyeol kemudian dia melangkah menuju kamarnya. Chanyeol menoleh menatap punggung Jongin, bibirnya terbuka namun kepalanya tak mampu menemukan kata atau kalimat yang tepat untuk diucapkan. Dan saat pintu kamar Jongin tertutup kembali, Chanyeol hanya bisa mendesah putus asa, merutuki kebodohannya.

Chanyeol kembali ke meja makan dengan Xiumin yang masih setia menunggunya. Xiumin mengeluarkan satu persatu bugkus tartlet dari dalam tas kertas berwarna hijau bertuliskan Happy dengan warna huruf emas. "Kau mau rasa apa? Lemon chessecake, sweet potato, lemon cream, fresh cheery, atau berries and cream."

"Mungkin lemon cream."

"Kau memikirkan Jongin?"

"Huh?!"

"Sekarang kau sadar kau memikirkan Jongin lebih banyak daripada kau memikirkan Baekhyun."

"Aku hanya mencintai Baekhyun dan aku akan mendapatkannya."

"Jika itu yang kau inginkan, bersikaplah acuh pada Jongin. Percayalah Chanyeol saat kau terikat pada Jongin lalu kau harus melepaskannya." Xiumin tatap kedua mata bulat Chanyeol. "Rasanya lebih sakit dibanding saat kau kehilangan Baekhyun."

"Hmm." Gumam Chanyeol. "Ia meraih tartlet pilihannya, membuka plastik pembungkusnya. "Dari toko kue ayah Sehun, Jongin pergi dengan Sehun sebelum pulang."

"Kau peduli pada Jongin, hentikan itu jika masih menginginkan Baekhyun."

Chanyeol mengigit tartletnya, mengunyahnya perlahan. Rasanya benar-benar nikmat, dia tidak membenci setiap hal yang berhubungan dengan Oh Sehun. Atau mungkin dirinya tidak pernah membenci Sehun selama ini. "Mungkin—aku akan belajar melepaskan Baekhyun."

"Perlahan-lahan saja." Balas Xiumin. Ia tersenyum simpul merasa keputusan Chanyeol adalah sesuatu yang baik.

"Hmm."

"Mungkin kau bisa mengajak Jongin kencan, atau hal lain yang seharusnya dilakukan pasangan. Kalian kan sudah menikah, jadi ada lebih banyak hal yang bisa dilakukan." Goda Xiumin, Chanyeol hanya tertawa pelan menananggapi godaan itu.

Chanyeol membereskan meja makan dengan bantuan Xiumin tentu saja, dia tidak akan pernah bisa melakukan pekerjaan rumah dengan baik tanpa bantuan menejer terhebatnya. "Aku pulang ya Chanyeol."

"Hyung tidak menginap?!" pekik Chanyeol, terkejut dengan keputusan Xiumin.

"Ayolah Chanyeol kita hampir bertemu setiap hari, masa kau masih merindukanku?" goda Xiumin.

"Bukan begitu Hyung, pasti canggung hanya bersama Jongin."

"Jangan canggung kalian kan sudah menikah."

"Maksud Hyung apa!" pekik Chanyeol kesal terus digoda, Xiumin hanya terkikik geli melihat reaksi malu-malu Chanyeol itu.

Xiumin melemparplastik pembungkus tartlet ke dalam tempat sampah, kemudian ia simpan sisa tartlet ke dalam lemari pendingin. "Aku pulang sekarang Chanyeol."

"Hmm, hati-hati Hyung."

"Kau tidak mengantarku sampai ke depan?"

"Aku mau gosok gigi, dan sejak kapan Hyung memintaku mengantar sampai ke depan? Tolong jangan bersikap manja dan merepotkan Hyung, ingat umur."

"Kau bilang apa Park Chanyeol?!" pekik Xiumin ia gulung kedua lengan kemejanya bersiap memberi pelajaran.

"Ampun Hyung!" pekik Chanyeol panik, meski mungil Xiumin itu jago bela diri, bisa habis Chanyeol dihajar. "Ampun Hyungku sayang aku hanya bercanda kok." Chanyeol melempar senyum lebar tanpa dosanya.

"Baiklah, kali ini kau ku ampuni." Balas Xiumin dengan nada mengancam padahal di dalam hati dia sudah tertawa nista, puas mengerjai Chanyeol.

"Terima kasih Hyung!" Chanyeol memekik gembira, ia berlari menghampiri Xiumin dan memeluknya erat.

"Ya, ya, aku juga menyayangimu Chanyeol, sudah lepaskan bayi besar." Gerutu Xiumin. Chanyeol melepaskan pelukannya kemudian tertawa.

"Hyung yang terbaik." Puji Chanyeol jujur.

"Baiklah, sudah cukup pujiannya, aku bisa melayang, cepat gosok gigimu dan tidur, jangan memikirkan apapun."

"Ya." Chanyeol membalas singkat sebelum berlari menuju kamarnya.

"Anak itu, aku tak percaya dia bisa memutuskan untuk menikah." Keluh Xiumin, heran dengan kelakuan ajaib Chanyeol.

.

.

.

Chanyeol menatap pantulan dirinya di dalam cermin, ia menarik napas dalam-dalam mencoba mengenyahkan berbagai pikiran negatif yang kembali datang untuk melemahkannya. Chanyeol bergegas berkumur dan mencuci mukanya, Xiumin memutuskan untuk pulang jadi sebenarnya Chanyeol bingung akan melakukan apa setelah ini. Akhirnya ia keluar kamar tanpa memutuskan kegiatan apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

Chanyeol berdiri di tengah ruang keluarga, menonton TV tidak mungkin dilakukan karena berita tentang dirinya pasti masih hilir mudik, internet sangat terlarang, game , tidak dia sudah cukup bermain. Chanyeol mengigit pipi bagian dalamnya, kedua matanya menatap pintu kamar Jongin yang tertutup. "Mungkin dia mau mengobrol denganku," gumam Chanyeol.

"Jongin." Panggil Chanyeol pelan diiringi ketukan.

"Masuk." Chanyeol tidak bisa menahan senyumnya saat mendengar jawaban dari si penghuni kamar.

"Kau sedang apa?" dilihatnya Jongin duduk di atas tempat tidur dengan posisi memunggunginya. "Aku pikir kau sudah tidur."

"Aku juga berpikir untuk tidur, tapi ini menggangguku." Penasaran, Chanyeol mendekati Jongin, ternyata dia sedang berusaha melepaskan plester dan gelang rumah sakit dari tangannya.

"Butuh bantuan?" Chanyeol menawarkan diri.

Jongin mendesah putus asa. "Ya aku butuh bantuan, menggelikan sekali aku bahkan tidak bisa menyelesaikan pekerjaan sepele seperti ini." Keluh Jongin panjang lebar.

Chanyeol tersenyum simpul. "Tidak ada salahnya membutuhkan pertolongan, kau bukan makhluk ajaib yang bisa hidup sendiri." Jongin tak menjawab, Chanyeol berjalan menghampiri meja nakas, membuka laci mengambil gunting dari sana. Kemudian dia duduk di sebelah Jongin. Hal pertama yang Chanyeol lakukan adalah menggunting lepas gelang rumah sakit yang melingkari tangan kiri Jongin.

"Ini, besok atau lusa saja biarkan plesternya terkena air akan mudah lepas dan tidak akan menarik kulitmu." Terang Chanyeol, Jongin hanya mengangguk patuh.

"Terima kasih banyak." Ucap Jongin.

"Kau mengantuk?" Jongin mengangguk. "Sudah menggosok gigi dan mencuci muka kan?"

"Kenapa kau terdengar seperti ibuku." CibirJongin, Chanyeol hanya tertawa pelan. "Ya, aku sudah melakukannya."

"Tidurlah kalau begitu, selamat malam." Chanyeol tersenyum tulus, ia berdiri menarik laci nakas untuk mengembalikan gunting yang tadi diambilnya.

"Kau ingin membicarakan sesuatu?" Jongin berdiri menghampiri.

Chanyeol mendesah pelan, Jongin terlalu cerdas untuk dibohongi. "Tadinya, tapi kau terlihat sangat lelah."

"Hmm, jika sebentar tidak apa-apa kok."

"Aku hanya ingin meminta tolong, tentu jika kau bersedia."

"Apa?"

"Mendengarkan lagu baruku. Aku membuat perubahan mungkin menulis bebas itu menyenangkan, tapi aku juga perlu mempertimbangkan banyak hal seperti usia pendengarku, dan budaya di sini."

Jongin mengangguk mengerti. "Tidak masalah akan aku dengarkan."

"Meski musikku bukan seleramu?"

"Tidak ada salahnya menolong kan?" Jongin tersenyum menatap kedua bola mata bulat Chanyeol.

"Terima kasih banyak Kai." Chanyeol menggigit pelan bibir bawahnya, ia ingin mengatakan ini namun ragu. Sementara tatapan Jongin terlihat jelas ia paham ada sesuatu yang sedang ditahannya.

"Ada hal lain?"

Sial! Pekik Chanyeol di dalam hati. Jongin benar-benar cerdas. "Ah itu—itu, aku ingin mengajakmu jalan-jalan besok."

"Apa? Jalan-jalan? Aku tidak salah dengar kan?"

"Tidak Kai, kau tidak salah dengar. Aku ingin mengajakmu jalan-jalan besok, kau mau?"

"Aku tidak bisa, maaf, Kyungsoo hyung menyuruhku istirahat dia bahkan membatalkan beberapa pekerjaanku jika aku keluar besok, kau tahu apa yang akan terjadi kan?" Jongin melempar tatapan penuh penyesalan.

"Oh, tidak masalah kita bisa melakukan berbagai hal di rumah."

Jongin menelan ludah kasar, ia berharap wajahnya tak memerah sekarang, berbagai hal di rumah merupakan kalimat ambigu yang bisa diartikan menjadi berbagai macam pengertian.

"Maksudku kita bisa main game atau bersih-bersih rumah, aku mungkin bisa memasak untukmu. Sudahlah." Chanyeol mengakhiri kalimatnya yang terlalu canggung untuk dilanjutkan.

"Kedengarannya menarik."

"Oh, ah, terima kasih, sebenarnya itu tak menarik kan?" Chanyeol tertawa hambar sembari menggaruk tengkuknya, salah tingkah.

"Sungguh itu terdengar menarik kok." Chanyeol menatap Jongin, menginginkan kejujuran. "Baiklah, tidak terlalu menarik sebenarnya. Aku memilih tidur sampai siang lalu bangun untuk makan dan mandi dan tidur lagi."

Kedua bola mata Chanyeol membulat sempurna. "Aku suka idemu."

"Hah?! Apa?"

"Tidur, makan, mandi, tidur lagi. Terdengar seperti acara bermalas-malasan seharian yang sempurna." Jongin tertwa pelan, ini pertama kali ide konyolnya mendapat persetujuan. Jika ia mengutarakannya pada Kyungsoo, pasti dirinya akan mendapat ceramah seharian penuh.

"Kau libur besok?"

"Ya, aku libur, kau tahu setelah serangan itu, banyak program acara yang membatalkan kerjasama denganku."

"Hei, jangan sedih aku yakin itu akan cepat berlalu, itu bukan skandal besar menurutku. Yang memprotes kan hanya para orang tua, aku yakin banyak anak remaja mereka yang memberontak." Jongin mencoba meyakinkan Chanyeol.

"Apa kau pernah memberontak?" entah mengapa Chanyeol tertarik dengan semua hal tentang Kim Jongin detik ini juga.

"Aku rasa, aku selalu memberontak sepanjang hidupku."

"Aku juga." Gumam Chanyeol menimpali kalimat Chanyeol. Perlahan Chanyeol mendekatkan wajahnya pada Jongin. Jongin tak melawan saat bibir keduanya bersentuhan.

Chanyeol menarik tubuh Jongin, memeluknya erat dengan tangan kanannya, tangan kirinya bergerak menekan tengkuk Jongin. Kedua tangan Jongin bergerak pelan mengusap punggung Chanyeol. Chanyeol memperdalam ciumannya, bibir Jongin memberi ijin kepadanya untuk melakukan lebih. Chanyeol tak menyiakan kesempatannya, Jongin menutup kedua kelopak matanya, perutnya terasa geli, hal yang tak pernah ia alami selama ini, bahkan tidak dengan Kris sekalipun.

Chanyeol membaringkan tubuh Jongin perlahan ke atas ranjang tempat tidur, menindihnya, sementara kedua bibir mereka masih bertautan. Jongin tahu apa yang di inginkan Chanyeol, dan sejujurnya diapun membutuhkan hal itu. Kedua kelopak mata Jongin perlahan terbuka, ia melawan hasratnya dan perlahan ia dorong kedua bahu Chanyeol menjauh.

Chanyeol mengakhiri ciuman itu, ia pandangai wajah Jongin dengan napas yang terengah di bawahnya. "Aku mencintaimu," bisik Chanyeol.

Jongin menggeleng pelan. "Kau memintaku untuk tak menerimamu meski kau memohon. Baekhyun?"

"Aku ingin melupakan Baekhyun."

"Aku tidak menerima emosi sesaat Park Chanyeol."

Chanyeol menelan ludahnya kasar, ia bangun dan duduk di tepi ranjang tempat tidur Jongin. Jongin melakukan hal yang sama, keduanya terdiam tenggelam dalam pikiran masing-masing. "Aku tidak ingin ada penyesalan," ucap Jongin memecah kesunyian.

"Ya, aku tahu. Maafkan aku Kai." Chanyeol berdiri memunggungi Jongin. "Selamat malam." Ucapnya kemudian melangkah pergi. Jongin berdiri dan berjalan beberapa langkah di belakang Chanyeol. Jongin menutup pintu kamar, kedua telinga Chanyeol menangkap sebuah suara, tentu saja suara itu berasal dari putaran anak kunci. Jongin mengunci kamarnya. "Aku akan meyakinkanmu Jongin," gumam Chanyeol.

Jongin berdiri dengan punggung bersandar pada daun pintu kamarnya yang terkunci. "Tidak boleh ada cinta, hentikan semuanya Kim Jongin." Perintah Jongin pada dirinya sendiri.

.

.

.

"Selamat pagi Kai." Chanyeol menyambut kedatangan Jongin dengan nada ceria. Jongin mengedarkan pandangannya pada meja makan.

"Kau memasak?"

"Begitulah."

"Cobalah, jika tidak enak kita bisa memesan makanan."

"Di mana Xiumin hyung?"

"Kencan dengan Kyungsoo."

"Benarkah?!" pekik Jongin tak percaya, cepat-cepat ia ambil ponselnya dari saku celana, dan memeriksa satu-satunya media sosial yang Kyungsoo miliki. "In relationship. Menyebalkan, apa?! Mereka pergi ke Lotte World!" Chanyeol hanya bisa memicingkan sebelah matanya, mendengar lengkingan suara Jongin.

"Apa yang kau lakukan?!" kali ini giliran Chanyeol yang berteriak.

"Menghubungi Kyungsoo hyung tentu saja."

"Kau mau mengganggu kencan mereka?"

"Tidak, aku ingin Kyungsoo hyung ke sini sekarang juga. Aku terpenjara dan dia dengan seenaknya sendiri keluar, kencan lagi." Gerutu Jongin panjang lebar.

"Jangan mengganggu mereka, Kyungsoo berhak memiliki kehidupan lain Jongin."

"Kau memihaknya?"

"Aku memihak Xiumin hyung, dia menejerku, jika kencannya berantakan aku yakin dia akan sedih dan aku tidak suka dengan hal itu."

Jongin menggenggam ponselnya mempertimbangkan kalimat Chanyeol yang tak biasanya terdengar cerdas. "Kau benar, aku pasti mati bosan selama lima hari ke depan."

"Kita bisa keluar bersama."

Jongin melirik tajam. "Maaf, tawaran Anda ditolak mentah-mentah." Balas Jongin dengan nada kasar.

"Makanlah dulu, setelah itu kau bisa melakukan apa saja yang kau inginkan, apapun yang membuatmu merasa senang."

Jongin mengerutkan dahinya, berpikir keras, apa yang akan membuatnya merasa senang hari ini. Genggaman tangan Chanyeol mengejutkannya. "Makanlah dulu Jongin, kau baru keluar dari rumah sakit."

"Baiklah." Balas Jongin ketus.

.

.

.

Setelah acara sarapan selesai, beginilah nasib Chanyeol dan Jongin duduk di atas karpet ruang keluarga, tanpa melakukan apapun. Terkadang Chanyeol akan bergulung-gulung tak jelas dan Jongin yang jengkel akan menendang bokong Chanyeol. Seperti sekarang ini. "Hentikan kau sangat mengganggu!" pekik Jongin sambil mendaratkan kaki kanananya ke atas bokong Chanyeol dengan cara yang lumayan kasar.

"Kalau begitu berikan ide yang cerdas." Ucap Chanyeol pasrah.

"Oh ya, kau bilang ingin menunjukkan lagu barumu padaku."

"Wah! Aku hampir lupa, ini! Ini!" pekik Chanyeol antusias dia langsung duduk dan memasang earphone pada ponselnya. "Pakai ini!"

"Iya!" ketus Jongin. "Santailah Park Chanyeol." cibir Jongin, jengkel.

Chanyeol menekan tombol mulai, ia menatap wajah Jongin dengan seksama mencoba membaca setiap ekspresi Jongin tetang lagunya. Tiga menit yang terasa puluhan kali lebih cepat membuat Chanyeol hampir berteriak frustasi, Jongin melepas earphonenya, Chanyeol ingin kabur, baiklah memang terdengar sangat berlebihan.

"Bagus, aku suka musiknya, liriknya aku rasa baik-baik saja."

"Benarkah?"

"Percayalah aku tidak akan menjerumuskanmu." Jongin menyodorkan ponsel di tangannya kepada si pemilik. "Aku suka petikan gitarnya, mau mengajariku?"

"Mengajarimu bermain gitar?" Chanyeol melempar tatapan tak percayanya.

"Kau tidak sedang meragukan permintaanku kan?"

"Tidak, baiklah aku ajari tapi sebagai gantinya ajari aku teknik fotografi bagaimana?"

"Aku setuju."

Chanyeol tersenyum lebar. "Kita ke atap pemandangan di sana indah."

"Oke, aku ambil kameraku dulu.

"Aku ambil gitarku." Keduanya berdiri dari lantai, melangkah menuju kamar masing-masing.

.

.

.

"Jadi bagaimana?" Chanyeol menatap Jongin, keduanya kini berada di atap, Chanyeol dengan gitarnya dan Jongin dengan kameranya.

"Sebaiknya yang tua mengajari yang muda bagaimana?"

"Aku rindu Xiumin hyung," gerutu Chanyeol sedikit tak suka dengan panggilan yang lebih tuadari Jongin.

"Jika Xiumin hyung di sini kau akan merasa tak terlalu tersiksa kan? Karena ada yang lebih tua darimu." Jongin melempar tatapan penuh selidik, Chanyeol tertawa hambar. "ternyata kau ini menyebalkan."

"Baiklah aku ajari duduk di sini." Chanyeol menunjuk tempat kosong dari bangku taman yang kini ia duduki. Jongin berjalan mendekati Chanyeol dan duduk di sampingnya. Ia operkan kameranya pada Chanyeol untuk sementara waktu. "Pegang gitarnya." Jongin menurut. "Kita mulai dari kunci yang paling sederhana. A mayor. Lemaskan jarimu."

Chanyeol menggerakkan dan memposisikan jari-jari tangan kanan Jongin untuk menekan senar yang tepat. "Tekan lebih keras."

"Ah! Ini sakit." Keluh Jongin.

"Suaranya tidak akan keluar dengan baik jika tekanan jarimu tak sempurna."

"Baiklah, baiklah, sekarang lanjutkan dengan kunci yang lain."

"Kita ke kunci C mayor dan D mayor."

"Bagaimana dengan B?"

"Aku rasa itu terlalu rumit untuk pemula, tiga kunci itu dulu kau hapalkan." Jongin hanya mengangguk pelan, setuju-setuju saja dengan ucapan Chanyeol.

Menghapal tiga kunci gitar yang kelihatannya sepele ternyata bukan perkara mudah, Jongin menyerah, jari-jarinya terasa berdenyut-denyut nyeri, dan kini garis-garis merah hasil menekan senar gitar sudah menghiasi ujung jarinya. "Sudah, singkirkan gitarmu, ini menyebalkan." Gerutu Jongin.

"Aku juga mengalami hal yang sama saat pertama kali berkenalan dengan gitar, percayalah hanya butuh latihan rutin kau pasti mahir."

Jongin mengernyitkan hidungnya. "Sudahlah mungkin gitar bukan duniaku." Putus Jongin. "sekarang giliranmu."

"Oke." Jongin menaruh gitar Chanyeol di atas bangku, ia mengajak Chanyeol berdiri menghadap ke arah jalanan dan gedung-gedung.

"Mudah saja tekan tombol ini saat kau menemukan sesuatu yang menarik untuk dipotret, aku tidak pernah menggunakan auto focus atau efek, aku suka yang alami, gunakan nalurimu." Jongin tersenyum sekilas kemudian melangkah mundur membiarkan Chanyeol melakukan hal yang ia inginkan seorang diri.

Chanyeol mengarahkan kameranya kepada Jongin. "Potret hal lain atau aku banting gitarmu!" ancam Jongin.

"Ya! Ya!" pekik Chanyeol gugup bercampur jengkel ia langsung mengalihkan lensa kamera di tangannya kemanapun asal bukan Jongin, siapa yang rela gitar kesayangannya menjadi rongsokan kayu tak berharga.

Lima belas menit kemudian Chanyeol merasa puas dengan semua gambar yang telah ia ambil, ia berjalan mendekati Jongin yang sedang duduk di bangku dengan wajah SANGAT BOSAN. "Periksalah."

Jongin menerima sodoran kamera Chanyeol. "Hmmm," gumam Jongin sambil memeriksa satu persatu gambar hasil jepretan Chanyeol. "Lumayan."

"Terima kasih."

"Tapi kau membelakangi cahaya, fotonya jadi tak jelas, lalu apa sih yang ingin kau tonjolkan, fotomu terkesan terlalu ramai dan sesak, seperti lemari pakaian yang dipenuhi berbagai model pakaian, tapi karena berantakan kau tidak tahu harus mulai mencari dari mana. Foto seharusnya bercerita, hanya sekilas saja dilihat dan setiap orang tahu apa yang ingin kau sampaikan bukan sekedar memotret…,"

"Sudahlah Kai, aku tahu fotografi bukan keahlianku." Potong Chanyeol tak ingin mendengar hinaan Jongin lebih panjang lagi.

Jongin tersenyum. "Tapi jika sekedar mengambil gambar, hasil jepretanmu lumayan kok. Bubuhi tanda tangan dan aku yakin penggemarmu mau membeli dengan harga mahal."

"Apa hanya itu yang ada di otakmu?" cibir Chanyeol.

"Itu kan bermanfaat apa yang salah." Gerutu Jongin. Dan Chanyeol hanya bisa tertawa pelan menanggapi kepolosan Jongin.

Keduanya kembali duduk bersama di bangku taman, tak berniat untuk masuk ke dalam meski udara cukup dingin. "Aku mendengar dulu kau sempat ditawari Suho hyung untuk menjadi fotografer prawedding-nya." Chanyeol memecah kesunyian.

"Hmm, tapi aku menolaknya."

"Karena kau tau Suho hyung akan menikah dengan Baekhyun?"

"Tidak, aku menolak bukan karena hal itu, juga bukan karena dirimu."

"Lalu kau menolak karena apa?"

"Aku tidak suka saja dengan tawarannya."

"Bayarannya lumayan kan."

"Kau mulai terdengar seperti Kyungsoo hyung."

"Katakan saja harga dirimu jatuh, dari fotografer alam liar menjadi fotografer pernikahan."

"Diam." Geram Jongin tertahan. "Jangan mengejekku, aku sedang tidak ingin bertengkar denganmu."

"Maaf." Ucap Chanyeol mengalah.

"Daun-daun mulai berubah warna. Musim gugur tiba." gumam Jongin sembari mengedarkan pandangannya ke seluruh taman atap Chanyeol.

"Ya, musim gugur sudah tiba." Chanyeol rangkul pundak Jongin, mendekatkan tubuh keduanya.

"Apa yang kau lakukan?"

"Kau kan tidak terlalu tahan dingin, itu yang Kyungsoo katakan pada Xiumin hyung dan Xiumin hyung mengatakannya padaku. Aku akan belajar merelakan Baekhyun, karena itu beri aku kesempatan Kim Jongin."

Jongin memilih bungkam, pernyataan Chanyeol terlalu mengejutkan belum lagi tawaran Sehun, kenapa hidupnya tidak pernah berjalan dengan sederhana. Jongin menghembuskan napas dengan kasar. "Aku tidak ingin membahas perasaan siapapun."

"Apa Sehun juga menyatakan cinta padamu? Aku tau kau tak akan menjawab tapi dia kan terlihat sangat jelas menyukaimu."

"Aku benar-benar tidak ingin membahas perasaan siapapun sekarang."

"Kau ingin pergi ke Pulau Nami? Di musim gugur pemandangannya pasti menakjubkan di sana."

Jongin menggigit pelan bibir bawahnya, mencoba mempertimbangkan tawaran Chanyeol, terdengar menarik daripada terkurung selama lima hari ke depan. "Tapi Kyungsoo hyung bagaimana?"

"Aku akan mencari jalan keluarnya, percayakan padaku saja."

"Baiklah."

TBC