Ring
Characters: Baekhyun, Chanyeol, Jongin (Kai), Kyungsoo, Xiumin, Sehun, and others
Pairing: Chankai, Chanbaek (slight), Hunkai (Slight), Mpreg (mentioned)
Warning: BL
Rated: T-M
Boomiee92
Maaf atas segala kekurangan ya, Happy reading update kilat karena ada ide lain yang tiba-tiba masuk ke otak aneh saya hahahaha, uhuk! Hem maaf….,
Previous
"Jongin, Kim Jongin, Kim Kai, Kamjong." Chanyeol memanggil Jongin dengan berbagai nama, sayang Jongin sama sekali tak peduli dia lebih memilih untuk memakan ayam gorengnya. "Jangan abaikan aku," gerutu Chanyeol.
"Sudah makan saja."
Chanyeol mengerucutkan bibirnya, merajuk. "Tadi kau bilang ingin saling mengenal sekarang kau justru memilih ayam dibanding aku."
"Nanti, nanti." balas Jongin cepat.
"Kapan?"
"Setelah makan. Sekarang tutup mulutmu dan makan ayammu."
Chanyeol menghembuskan napas dengan kasar, kesal bercampur gemas melihat sikap Jongin yang seperti itu. "Baiklah," ucap Chanyeol pasrah.
Bab Lima Belas
"Jadi—kita mulai darimana?"
"Mulai apa?" Jawaban Jongin benar-benar membuat Chanyeol ingin membenturkan kepalanya ke atas meja makan.
"Saling mengenal, kau sendiri yang mengatakannya, kau lupa?"
"Ah itu, maaf, aku terlalu menikmati ayam goreng. Terserahlah kau dulu, katakan apa saja yang ingin kau beritahukan padaku."
"Baiklah, aku mulai sekarang."
"Kenapa tiba-tiba?!" pekik Jongin yang risih dengan tatapan serius Chanyeol padahal dirinya sedang sibuk mengunyah ayam goreng. Jongin meletakkan potongan ayam gorengnya dengan setengah hati, kemudian ia bersihkan tangan dan mulutnya menggunakan tisu. "Aku siap." Ucapnya serius.
"Hmm, aku mulai dari keluargaku, singkat saja Ayahku meninggal saat usiaku sepuluh tahun kemudian Ibu harus berganti peran dari sekedar ibu rumah tangga biasa menjadi wanita karir yang harus menangani ratusan karyawan. Ibu bertemu dengan ayah Suho, Kim Taemoo. Mereka menikah dan BUM! Tiba-tiba aku terseret dalam lingkaran keluarga menyebalkan itu."
"Kau tidak suka dengan keluarga barumu?"
"Ya, terlalu berisik aku tidak tahu apa yang ibuku lihat dari Taemoo." Jongin mengernyit meski dirinya berandalan dia tak sekalipun pernah memanggil ayahnya dengan sebutan tak hormat seperti itu. "Kami sudah punya cukup banyak uang." Lanjut Chanyeol.
"Mungkin ibumu mencari cinta bukannya uang."
"Cih! Naif sekali, aku yakin bukan seperti itu, materi tetap menjadi prioritas utama, buktinya rencana pernikahan kita yang mendadak langsung disetujui, karena apa? Tentu saja karena keluargamu, Kim Jongin."
"Benarkah? Apa kontrak kerjasama sudah dibuat?"
"Aku yakin dalam proses. Suho itu menyebalkan dia hanya pura-pura bersikap manis terhadapku, aku sudah punya firasat buruk tentangnya tapi tentu saja aku tak akan dipercaya, aku kan hanya si bungsu pembuat onar."
"Apa kalian pernah bertengkar secara fisik atau verbal?"
"Tidak, itu tidak pernah terjadi tapi setiap kali aku menatap kedua mata Suho, tatapannya seperti…," Chanyeol menggantung kalimatnya, menatap Jongin serius. "Kau tahu kan tatapan seseorang yang menginginkan sesuatu dan akan melakukan apa saja untuk mendapatkannya."
"Dia terobsesi padamu." Jongin sebenarnya ragu mengucapkan kalimat itu, rasanya aneh memikirkan seorang Suho terobsesi pada Chanyeol.
"Ya, dia terobsesi padaku, bukan padaku tapi apa yang aku miliki. Meski menikah ibuku menolak menggabungkan perusahaannya dengan perusahaan keluarga Kim, Ibu juga masih dengan jelas menuliskan namaku sebagai daftar pewaris tunggal. Kenapa Taemoo masih bersama ibuku ya, dia pasti tak akan menyerah sampai ibuku luluh."
"Mungkin tuan Taemoo benar-benar mencintai ibumu dengan tulus, masalahnya mungkin ada pada Suho."
"Oh, mungkin saja seperti itu." Chanyeol mendesah pelan, kedua matanya menatap Jongin kemudian tersenyum simpul. "Giliranmu."
"Aku, kau tahu sendiri aku kabur karena tidak suka dengan tekanan dari keluargaku, mereka berharap terlalu tinggi. Meski aku ini tidak bodoh di sekolah tapi sejak tahun kedua di SMA aku mulai berpikir bahwa sekolah tak ada gunanya lagi, aku tidak akan meneruskan bisnis keluarga, aku akan mengikuti jalan hidupku. Itu saja, lalu diam-diam aku bergabung dengan klub fotografi jalanan, membolos sekolah, bekerja sambilan, menabung uang jajan, mangkir dari ujian masuk universitas, lalu kabur ke Afrika." Jongin menghembuskan napas lega, menyebalkan sekali rasanya harus berbicara sebanyak itu.
Chanyeol tersenyum tulus. "Tapi rencanamu berhasil kan sekarang kau jadi fotografer terkenal dengan bayaran mahal."
"Kau pikir keluargaku peduli dengan hal itu?" Jongin menatap sinis pada Chanyeol. "Penghasilanku selama satu bulan sama dengan penghasilan perusahaan keluargaku selama satu jam, kau pikir aku bisa mengubah cara pandang keluargaku terhadap profesiku. Apa keluargamu puas dengan pekerjaanmu sekarang?" Jongin menatap lurus pada kedua mata Chanyeol.
"Ya, mereka tak setuju, tak kan pernah setuju. Setidaknya aku bisa mandiri dan mengatur kehidupanku sendiri, itu sudah cukup."
"Apa kau tahu caranya agar keluarga kita mengakui keberadaan kita?"
Chanyeol tersenyum sinis. "Tentu saja aku tahu, tentunya kau juga tahu dengan jelas."
Jongin menghembuskan napas berat, ia bersandar pada kursi kayu sementara kedua matanya memandangi langit-langit dengan lampu kristal berukuran besar menggantung di sana. "Menjadi pewaris." Bisik Jongin.
"Ya." Chanyeol membalas singkat.
"Dan kita tak kan pernah melakukannya."
"Begitulah."
"Apa kita telah menjadi anak durhaka? Jika suatu saat—kau taulah apa yang kumaksud, kemana semua itu akan pergi?" Jongin menegakkan tubuhnya menatap Chanyeol mencari jawaban.
"Suatu saat mungkin kita akan dewasa, berubah pikiran, dan menerima tanggung jawab. Untuk saat ini…, aku bahkan tak ingin memikirkannya."
Keduanya terdiam, mengamati wajah masing-masing dengan seksama. Beberapa kali Chanyeol melirik ke arah lain begitupun Jongin mencoba mencari topik pembicaraan dari konter dapur, pot palem atau apa saja yang bisa memancing inspirasi bicara.
"Ayahku pergi dengan wanita lain, ibu tidak menangis dia hanya bilang, sekali kau melangkah pergi, kau tak akan pernah bisa kembali, dan jangan menyesal." Chanyeol mengalihkan pandangannya dari konter dapur kembali kepada Jongin. "Lalu aku lupa tepatnya berapa tahun, aku melihat ayahku membuka toko kecil di pinggiran Seoul saat itu aku kabur dari sekolah." Jongin tersenyum miring. " Dia menggendong bayi dan dia terlihat bahagia. Aku tidak tahu harus merasa senang atau marah, jadi saat ayah menghampiri dan memelukku yang bisa aku lakukan hanya diam lalu pergi."
"Kau merindukannya?"
"Aku tidak tahu."
"Kau mau menemuinya?"
"Aku juga tidak tahu."
"Besok kita pergi ke sana, kau masih ingat jalannya kan? Aku masih memiliki sisa libur selama dua hari. Bagaimana menurutmu?" Jongin hanya bisa melempar tatapan bingung, menemui ayahnya? Yang benar saja, bahkan selama ini ia tak pernah sedikitpun memikirkan laki-laki itu. "Yang penting kita pergi, lalu keputusan apa kau mau menemuinya atau tidak, apa kau merindukannya atau tidak, putuskan saja nanti, saat kalian sudah bertatap muka."
"Kenapa kau yakin sekali aku akan setuju?"
"Karena kau pasti akan setuju."
"Tidak."
"Baiklah, mungkin kau hanya akan bertemu dengan ayahmu saat di pemakamannya nanti."
"Park Chanyeol!" teriak Jongin tak suka.
"Kau marah berarti kau peduli, kau peduli berarti kau bersedia."
"Sejak kapan semuanya jadi sesederhana itu." Jongin melempar tatapan sinis.
Chanyeol mengendikkan kedua bahunya. "Aku juga tidak tahu. Aku rasa cukup untuk hari ini acara saling mengenal kita, aku mau mandi dan tidur, kau?" Chanyeol menatap Jongin dengan sebuah senyuman menghias wajahnya yang tampan.
"Sama."
"Kau tidur dimana?"
"Di kamarku."
"Tidak ingin tidur bersamaku? Kita kan sudah menikah."
"Aku tidak ingin memikirkannya sekarang."
"Baiklah….," gumam Chanyeol ia berdiri dari kursi meletakkan piring dan gelas kotornya pada bak pencuci. "Aku di kamar mandi jika kau membutuhkan sesuatu."
"Memangnya apa yang aku butuhkan saat kau di kamar mandi." Cibir Jongin.
"Siapa tahu kau ingin mandi bersama." Goda Chanyeol.
"Diam kau!" teriak Jongin dengan gelas ditangannya yang siap ia lempar ke arah Chanyeol. Chanyeol bergegas kabur menyelamatkan diri. "Kenapa dia menyebalkan sekali akhir-akhir ini," gerutu Jongin mengabaikan rasa panas di wajahnya, ya, dia tersipu dengan godaan murahan dari Chanyeol. "Sudahlah." Putus Jongin tak ingin memikirkan sikap menyebalkan Chanyeol lebih lama lagi, maka iapun mengakhiri acara makannya, pergi ke kamar, mandi dan tidur.
.
.
.
Handuk berwarna biru muda masih menutupi kepala Jongin yang basah, ia juga belum mengenakan kaosnya sementara dirinya sudah duduk dan sibuk dengan ponselnya. Bukan mencari rute menuju Jangho, desa tempat tinggal ayahnya, ia masih hapal di luar kepala atau mencari tahu apakah ayahnya sudah pindah dia tak perlu melakukannya, karena setiap minggu sekali ayahnya akan mengirim pesan, pesan rutin selama delapan tahun terakhir yang tak pernah Jongin balas.
"Jongin aku mau…, maaf!" pekik Chanyeol melihat Jongin yang sedikit vulgar. Jongin dengan santai mengenakan kaosnya dan menatap punggung Chanyeol yang kini membelakanginya.
"Sebaiknya ketuk pintu dulu." Balas Jongin tak terpengaruh dengan sikap Chanyeol.
"Hehehe, maaf." Ucap Chanyeol cengengesan, iapun melangkahkan kedua kakinya memasuki kamar Jongin, menutup pintu kamar lalu duduk di samping Jongin.
"Kenapa kau kemari?"
"Aku ikut tidur denganmu." Sontak, Jongin melempar tatapan terkejutnya. "Tidak akan terjadi apa-apa, ini kan sebagai langkah awal untuk saling mengenal." Chanyeol memberi keterangan panjang lebar.
"Awas jika kau macam-macam!" ancam Jongin, kemudian perhatiannya kembali pada layar ponselnya.
"Apa yang kau cari…, bagaimana menghilangkan rasa canggung pada pertemuan pertama. Kau mau kencan?"
"Untuk bertemu ayahku."
"Tenanglah semua pasti akan baik-baik saja, kau pasti akan cerewet saat bertemu dengannya nanti, aku jamin." Chanyeol mengacungkan ibu jarinya meyakinkan Jongin.
"Benarkah?" Jongin bertanya dengan suara lirih ragu-ragunya. "Aku bahkan tak pernah memikirkan beliau selama delapan tahun terakhir."
"Aku yakin kalian akan cepat akrab nanti!" Chanyeol tak lelah memberi semangat. Jongin berusaha tersenyum dan meyakini ucapan Chanyeol. "Sekarang sebaiknya kita tidur sudah pukul delapan, oh ya dimana desa tempat ayahmu tinggal?"
"Jangho."
"Jangho!" pekik Chanyeol tak percaya. "Kau serius ayahmu tinggal di Jangho!"
"Terakhir kali pesan yang kubaca ayahku tinggal di sana bahkan dia mengirim alamat dan gambar rumahnya."
"Itu desa yang sangat indah dengan pantai dan laut, aku bahkan tak bisa membayangkannya Kai, kita liburan lagi besok." Jongin tak peduli dengan ocehan Chanyeol, ia sibuk menarik kasur lipat dari dalam lemari pakaian setelah sebelumnya meletakkan ponselnya di atas nakas. "Untuk apa itu?"
"Ini." Jongin menunjuk kasur lipat yang ia bawa. "Untukku, aku tidur di bawah."
"Tidak!" pekik Chanyeol terlalu histeris hingga membuat Jongin mengernyitkan dahi, Chanyeol memang berkepribadian ganda.
"Jadi kau yang akan tidur di bawah?" Jongin bertanya dengan polos.
"Tidak! Kita tidur bersama di ranjang yang sama!" pekik Chanyeol. Ia berdiri dari ranjang menghampiri Jongin dan menarik tangannya.
"Chanyeol!" protes Jongin, Chanyeol tak peduli ia terus menarik tangan kanan Jongin dan mendudukkannya di pinggir tempat tidur.
"Tidur sekarang, selamat malam Kai." Ucap Chanyeol dengan senyum lebarnya. Chanyeol bahkan mengecup kening Jongin seenaknya. Jongin masih terlihat bingung. Namun iapun merebahkan tubuhnya ke atas tempat tidur, menarik selimut meski kepalanya belum bisa memproses apa yang Chanyeol katakan dan lakukan tadi. "Selamat tidur Kai." Jongin tak menjawab dia berbaring memunggungi Chanyeol. "Seharusnya kau mengeringkan rambutmu dengan benar Kai, atau kau akan terserang flu."
"Jangan mengada-ada tak ada hubungannya rambut basah dengan flu kecuali kau keluar tanpa mantel di tengah suhu beku." Balas Jongin sedikit risih dengan tangan Chanyeol yang kini memegangi rambutnya. "Lepaskan tangamu aku mau tidur." Jongin mendengar tawa pelan Chanyeol, ia bersyukur Chanyeol menghentikan gerakan tangannya. Jongin memejamkan kedua matanya, Chanyeol tersenyum simpul berharap di lain hari mereka akan semakin dekat.
.
.
.
"Ya ampun!" kesal Chanyeol karena acara tidur sakralnya terganggu dengan suara kokok ayam jantan keras dan berisik. Dengan kedua mata setengah terpejam Chanyeol mencari sumber kekacauan. Tentu saja jam beker tua Jongin, ia sambar jam beker tua berisik itu dan jam beker itu akan menemui ajalnya jika bukan karena teriakkan Jongin.
"Letakkan jamku Park Chanyeol!" Jongin berteriak sekuat tenaga.
"Jam ini mengganggu sekali," gerutu Chanyeol ia matikan suara berisik jam di tangannya dan ia letakkan kembali ke atas nakas yang aman. "Kau tak punya rencana untuk memusnahkannya?"
"Dia berharga untukku." Balas Jongin. "Aku sudah memberimu bonus tidur satu jam lebih lama, tetap saja protes saat bangun."
Chanyeol mengusap wajahnya frustasi, ia lihat Jongin sudah tampak segar dengan ransel hitam di bahunya. "Wow kau sudah siap?"
"Hmm." Gumam Jongin. "Aku tunggu di luar."
"Kim Jongin!" pekik Chanyeol bingung, ia langsung melompat dari ranjang dan berlari menuju kamarnya. Saat ia melewati ruang makan tercium aroma harum, kedua matanya membulat sempurna. "Kau memasak sarapan?"
"Ya."
"Untukmu sendiri atau untuk kita berdua?" Chanyeol menatap Jongin sembari menunjuk dirinya sendiri dengan telunjuk kirinya.
"Untuk berdua, bisa dimakan tenang saja tidak beracun, aku kan sudah terbiasa hidup mandiri sebelum Kyungsoo hyung menyeretku ke Korea."
"Aku sedikit lega mendengarnya." Gumam Chanyeol.
"Apa kau mengatakan sesuatu?!"
"Tidak, aku mandi sebentar Kai!" teriak Chanyeol terburu-buru masuk ke dalam kamar, Jongin mengerutkan dahinya, curiga.
Daripada bosan menunggu Chanyeol menyelesaikan semua ritualnya, Jongin memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu dan sekali lagi memeriksa tips di internet untuk tak bersikap canggung dan bodoh di pertemuan pertama, Jongin tersenyum geli, kenapa bertemu dengan ayahnya terasa seperti bertemu orang asing. Mungkin tanpa ia sadari hubungan ayah dan anak yang seharusnya dekat kini telah berubah dingin dan beku. "Ayah," gumam Jongin, lidahnya terasa kelu rasanya telah lama sekali ia tak menyebut panggilan itu.
Chanyeol mengamati penampilannya di depan cermin, ia harus tampil menawan di depan Jongin. Apalagi Oh Sehun si supermodel itu telah terang-terangan menyatakan kecintaannya pada Jongin, Chanyeol berpikir penampilannya tak boleh lebih buruk dari Sehun.
Kemeja berwarna merah tua dengan garis-garis putih, tertutup mantel berwarna cokelat tua dengan potongan dan jahitan rapi. Jins hitam, sepatu boot cokelat beberapa senti di atas mata kaki. "Lumayan." Ucap Chanyeol ia sandang ransel cokelatnya dan melangkahkan kaki keluar kamar.
"Kau sarapan dulu?"
"Hmm." Gumam Jongin, mulutnya sibuk mengunyah dan kedua matanya menatap lekat layar ponsel.
Diam-diam Chanyeol memperhatikan penampilan Jongin. Sweter hitam dengan pola berwarna merah di bagian dada, jins biru, boot cokelat muda, ransel hitam. Jongin cukup menawan, tidak, dia sangat sangat menawan. Chanyeol duduk di samping Jongin dan mulai memakan sarapannya, roti lapis, sesekali melirik ke arah Jongin yang tak peduli dengan keberadaannya sama sekali. Dongkol padahal Chanyeol ingin mengobrol lebih banyak dengan Jongin.
"Chanyeol." Chanyeol ingin berteriak girang pada akhirnya Jongin sadar suaminya sudah duduk di sampingnya. "Apa aku harus mengenalkanmu pada ayahku?"
"Tentu saja kita kan sudah menikah."
"Kenapa kau suka sekali mengungkit soal pernikahan." Dengus Jongin. Chanyeol hanya nyengir lebar.
"Sudah habis. Aku akan mengubungi Xiumin hyung dan menyuruhnya membersihkan apartemen. Tentu saja Xiumin hyung akan menyuruh orang lain untuk melakukannya." Chanyeol menerangakan maksudnya dengan jelas setelah melihat tatapan mengerikan Jongin. "Kau tidak suka aku merepotkan Xiumin hyung ya?"
"Bukan begitu, sekarang kita libur jadi biarkan menejer-menejer kita juga ikut libur." Balas Jongin, ia berdiri dari kursi dan menyandang ranselnya. "Mungkin kita akan menginap di sana."
"Oke." Balas Chanyeol tanpa perlawanan. Chanyeol mengikuti Jongin, mengunci pintu apartemen dan berjalan menuju tempat parkir. "Terima kasih."
"Untuk apa?"
"Untuk mengenalkanku pada keluargamu." Jongin tak menjawab dia terus melangkahkan kedua kakinya dan Chanyeolpun tak akan memaksa Jongin untuk mengatakan sesuatu jika dia tak ingin mengatakan apapun.
"Kau pikir Xiumin hyung dan Kyungsoo sekarang berkencan?" Chanyeol bertanya dengan topik lain, tidak suka dengan kesunyiaan canggung yang tercipta.
"Mungkin, Kyungsoo hyung tidak mengirim pesan terror padaku, bisa jadi mereka sibuk berkencan." Chanyeol tertawa pelan mendengar penggambaran Jongin tentang Kyungsoo, Chanyeol juga tertawa karena senang Jongin mau menanggapinya.
.
.
.
"Wow! Ini hebat! Aku tidak tahu kau memiliki ini?!" pekik Jongin girang melihat mini cooper berwarna merah dengan garis putih di hadapannya.
"Aku baru membelinya."
"Kapan?"
"Sudah lama, Xiumin hyung yang mengurusnya. Kira-kira satu minggu yang lalu."
Jongin mengerutkan dahi, apa satu minggu itu lama? Ia tak mengerti dengan pemahaman waktu Chanyeol tentang lama. "Kau membelinya bukan karena aku kan?"
"Oh bukan, bukan!" pekik Chanyeol sambil mengerjap-ngerjapkan kedua mata bulatnya, gugup. Jongin melirik tajam, sekali lagi Chanyeol kalah. "Ya, karena aku tak sengaja melihat wallpaper ponselmu."
"Kalau begitu aku harus membeli warna lain." Gumam Jongin tak peduli dengan pengakuan Chanyeol. "Ayo masuk! Mana kuncinya?! Aku yang mengemudi!" pekik Jongin kelewat antusias, Chanyeol hanya tersenyum miring sambil menyerahkan kunci mobilnya kepada Jongin.
Dengan girang Jongin membuka pintu mobil dan duduk di belakang setir kemudi, Chanyeol duduk di kursi penumpang dengan senyum yang enggan pergi dari wajahnya. "Pasang sabuk pengamanmu dengan benar." Nasihat Chanyeol, Jongin menurut tanpa banyak bicara dia terlalu senang dengan mobil yang akan ia kemudikan.
Desa jangho, bisa dicapai dengan berkendara ke arah timur dari Seoul dengan menempuh perjalanan kurang lebih selama empat jam. Ada banyak papan petunjuk arah untuk mengarahkan siapa saja yang ingin bekunjung, jadi tak sulit sebenarnya untuk mencapai desa itu. Jangho merupakan kawasan wisata yang cukup terkenal di Korea.
Tidak ada obrolan yang tercipta, Chanyeol tak membuka mulut karena ia merasa suasana hati Jongin tak begitu baik, sedangkan Jongin mulai berpikir kenapa selama ini ia tak pernah sedikitpun berpikir untuk mengunjungi ayahnya.
Chanyeol menjulurkan tangan kanannya, untuk memutar musik, memecahkan kesunyiaan dengan cara yang menyenangkan. Lagu Beautiful Night dari BEAST yang menghentak membuat Chanyeol tanpa sadar mengikuti musiknya.
"Kau mendengarkan lagu orang lain rupanya." Ucap Jongin.
"Tentu saja, aku harus melihat musik dari sudut pandang orang lain, aku rasa." Balas Chanyeol.
"Aku juga sering melihat foto-foto karya fotografer lain. Setiap orang memiliki ciri khas masing-masing, itu menyenangkan." Chanyeol tersenyum, dia melihat gedung-gedung di Seoul diiringi suara musik menghentak dari BEAST.
Dua jam perjalanan Chanyeol melirik Jongin cemas. "Kau lelah? Aku bisa menggantikanmu menyetir." Tawar Chanyeol.
"Tidak, aku baik-baik saja." Tolak Jongin, Chanyeol ingin berdebat saat dilihatnya pemandangan gedung-gedung kini telah berubah dengan perbukitan dengan pepohonan musim gugur indahnya ditambah jalanan berkelok-kelok. "Kau tidak memperhatikannya kan?" Jongin melirik Chanyeol sekilah. "Tak memperhatikan kalau gedung beton telah berganti dengan peohonan indah musim gugur."
"Hmm begitulah. Oh ya siapa nama ayahmu dan keluarga barunya?" Gumam Chanyeol.
"Ayahku Lee Dongwook dan istrinya Sora. Kau terlalu sibuk memikirkan aku." Goda Jongin.
"Ya, aku memang sibuk memikirkanmu." Balas Chanyeol.
"Apa-apaan itu," gerutu Jongin dengan tangan kirinya Jongin mematikan musik yang sedang mereka dengarkan, kemudian ia tekan tombol untuk membuka atap mobil.
Udara dingin dan menyegarkan langsung menyapa saat atap mobil terbuka, bahkan beberapa guguran daun masuk ke dalam mobil. Chanyeol tertawa lepas sambil memunguti dan membuang daun-daun yang masuk ke dalam mobil. "Ini menakjubkan," gumam Chanyeol sambil memandangi pepohonan di atas perbukitan yang mengapit jalanan yang mereka lalui. "Seharusnya namamu Lee Jongin kan?"
"Ya, margaku seharusnya Lee tapi saat ayah memilih pergi margaku langsung berganti dengan Kim. Kau pasti jarang jalan-jalan dan menikmati keindahan alam."
"Begitulah."
"Kalau begitu nikmatilah." Ucap Jongin, ia sengaja melambatkan laju mobilnya. Chanyeol tersenyum simpul, ia pejamkan kedua matanya, perasaan yang sangat menakjubkan kini ia rasakan. Chanyeol melihat jari manis kanannya, mengamati cincin pernikahannya ia menoleh ke arah Jongin dan melihat cincin yang sama tersemat di sana. Dadanya bergemuruh karena perasaan bahagia.
"Itu laut!" pekik Chanyeol dengan sekuat tenaga.
"Kau ini, tenanglah sedikit." Gerutu Jongin sambil tertawa pelan. Laut sudah terlihat dengan jelas, berwarna biru, dengan garis cakrawala membentang luas. "Sebentar lagi kita sampai." Ucap Jongin. "Aku tambah kecepatannya ya?"
"Tak masalah tapi tutup atapnya, mulai dingin."
"Kau benar juga." Keduanya tertawa dengan keras, Chanyeol menekan tombol untuk menutup atap mobil agar Jongin tetap fokus dengan urusannya, menyetir mobil.
"Sayang, sekarang musim gugur, jadi kita tidak bisa berenang."
"Ya sayang sekali."
"Lain kali kita pergi ke laut saat musim panas dan berenang di laut."
"Terserahlah." Balas Jongin sedikit malas menanggapi imajinasi Chanyeol.
"Mungkin kita tidak pergi berdua, kita ajak Xiumin hyung, Kyungsoo dan anak-anak kita." CKIIT! Gesekan antara ban dan aspal menimbulkan suara berdecit yang mengganggu. "Astaga Jongin! Jangan mengerem mendadak, beruntung jalanan sedang sepi kalau tidak apa kau tahu kecelakaan bisa saja terjadi!" omel Chanyeol panjang lebar.
Jongin melempar tatapan datar. "Karena itu berhentilah bicara yang tidak-tidak."
"Memang kenapa? Aku ingin punya keluarga dan memiliki anak, apa itu salah?"
"Ya itu salah jika kau bicara di depanku."
"Kau tidak ingin memiliki anak denganku."
"Park Chanyeol tutup mulutmu atau aku lempar kau ke jurang." Ancam Jongin dengan wajah sadis. Chanyeol melempar tatapan kecewa. "Baiklah kita bicarakan nanti saja, nanti setelah kita berdua siap." ucap Jongin tak ingin melihat tatapan kekecewaan itu lebih lama lagi, iapun menjalankan kembali mobilnya.
.
.
.
"Ini tempat tinggal ayahmu?"
"Hmm." Keduanya masih duduk di dalam mobil sambil mengamati bangunan dua lantai berukuran sedang dengan lantai bawah difungsikan sebagai toko souvenir dan toko kebutuhan pokok. "Aku keluar dulu hanya untuk memastikan apakah ini benar."
"Kau tidak yakin?!" pekik Chanyeol hampir frustasi.
"Begitulah. Tunggu di sini."
"Tidak mau! Aku ikut." Rajuk Chanyeol, Jongin mendesis kesal.
"Cepat." Ucap Jongin malas, keduanya melangkah keluar, Chanyeol berjalan di belakang Jongin karena sambil menikmati pantai dan laut yang berjarak sangat dekat. Jongin mendorong pintu kaca ke dalam, seorang wanita paruh baya menyambut kedatangan keduanya dengan ramah.
"Selamat datang silakan memilih atau apa Anda berdua membutuhkan perlengkapan menyelam atau snorkeling, kano, arung jeram atau, astaga Jongin!" wanita paruh baya di belakang konter itu langsung berlari menghampiri Jongin dan memeluknya dengan erat.
"Bibi Sora."
"Kau sudah tumbuh dewasa dan sangat tampan, Bibi tak menyangka kau datang. Tunggu di sini aku panggilkan ayahmu." Jongin menahan tangan Sora.
"Aku ikut, kita pergi bersama." Sora tersenyum ramah kemudian mengangguk setuju. Jongin dan Chanyeol berjalan di belakang Sora, ketiganya menaiki tangga sempit menuju lantai dua.
Jongin berdiri mematung melihat seorang laki-laki duduk memunggunginya dengan seorang anak perempuan dengan rambut sepunggung di kepang. "Dongwook ada tamu untukmu." Ucap Sora.
"Sebentar ya Herbras, Ayah ada tamu."
"Herbras, Ayah…," gumam Jongin. Dongwook berdiri dari duduknya menemani sang putri mewarnai, saat dia berbalik wajah yang sangat ia rindukan berdiri di sana.
"Jongin," bisik Dongwook ia peluk erat putra yang sangat ia rindukan dan menangis tersedu-sedu sedangkan Jongin dia membalas pelukan ayahnya dan tersenyum simpul, tanpa air mata. "Terima kasih kau sudah datang."
"Hmm." Bisik Jongin.
Dongwook melepas pelukannya, membersihkan air mata yang membasahi wajahnya dan terkekeh pelan. "Aku terlihat menyedihkan sekarang. Oh ya kenalkan, dia adikmu Herbras." Dongwook tersenyum sambil memanggil nama putrinya.
Jongin berlutut dan menyambut seorang gadis cilik mungkin berusia tujuh tahun dengan wajah cantiknya. Gadis cilik itu mengulurkan tangannya. "Lee Herbras."
"Nama yang indah, nama bunga di musim gugur. Aku Jongin, aku Hyungmu jadi panggil aku Jongin hyung."
Herbras mengangguk pelan gadis kecil itu rupanya pemberani, tanpa canggung dan ragu Herbras memeluk Jongin. Jongin mengangkat kedua tangannya memeluk tubuh kecil Herbras, Jongin mendongak menatap ayahnya dengan kedua mata yang tampak sembab. Sekarang, sedikit demi sedikit Jongin mulai mengerti kenapa ayahnya memilih untuk pergi dan memulai semuanya dari awal. Jongin melepaskan pelukannya dan kembali berdiri.
"Herbras bantu Ibu di dapur." Sora memanggil putrinya ia sadar suaminya ingin berbicara lebih banyak dengan putra yang telah lama tak ia temui.
Jongin menurunkan ranselnya kemudian ia duduk di seberang ayahnya, ada meja pendek berbentuk oval di tengah-tengah mereka, Chanyeol duduk di samping Jongin. "Jadi Tuan Park ini, suamimu?"
"Kira-kira seperti itu." balas Jongin, Chanyeol tersenyum sopan sambil menundukkan kepalanya.
"Jaga putraku dengan baik."
"Aku bisa menjaga diriku sendiri Ayah, terima kasih." Balas Jongin dengan nada tak suka, Dongwook hanya tertawa menghadapi kekesalan anaknya.
"Sudah hampir dua bulan kan kalian menikah?"
"Darimana Ayah tahu?"
"Tentu saja dari berita Jongin, kau ini." Chanyeol terkikik pelan dan Jongin menahan hasratnya untuk tidak menendang bokong Chanyeol dengan keras, tapi ia tak ingin tampak buruk di depan ayahnya. "Kapan kalian akan memberikan aku cucu?"
Jongin mengernyit, benar-benar, kepalanya ingin meledak sekarang kenapa semua orang selalu mengatakan anak, anak, keturunan, dan keturunan. "Tenang saja ayah mertua secepatnya kami akan memiliki anak." Suara bass Chanyeol sungguh menjengkelkan apalagi ditambah kekehan ayahnya, Jongin ingin sekali menggulung dua orang itu menjadi Kimbap dan melemparnya ke laut.
"Cukup kalian berdua." Seketika Chanyeol dan Dongwook menutup mulut mereka melihat aura hitam yang mengelilingi tubuh Jongin. "Kalian pikir memiliki anak itu semudah membeli kotak cokelat di toko? Benar-benar menjengkelkan." Kedua orang di hadapan Jongin hanya diam dan menelan ludah kasar.
"Makan siang sudah siap." Sora muncul menyelamatkan situasi.
"Ayo makan lalu kalian bisa istirahat!" pekik Dongwook canggung. Ia langsung berdiri menghampiri istrinya membiarkan Chanyeol seorang diri menerima amukan Jongin.
"Jongin ayo makan aku sudah lapar!" Chanyeol tersenyum lebar ia gandeng lengan Jongin, didepan Sora dan Herbras Jongin tidak bisa berbuat apa-apa, tidak mungkin memukul Chanyeol dan ayahnya terutama di depan Herbras yang berusia tujuh tahun.
Sora menghidangkan tiga jenis masakan yaitu sup rumput laut, Ganjang Gejang atau kepiting saus, dan Nakji Bokkeum yaitu gurita goreng kering yang ditumis bersama sayuran dan bumbu. Chanyeol menelan ludah, semuanya tampak menggiurkan.
"Makanlah." Ucap Sora ramah, Chanyeol langsung mengambil mangkuk memenuhinya dengan nasi dan menyiramnya dengan saus gurita goreng, dia ambil piring dan mengambil potongan kepiting, Jongin dan semua orang yang ada di meja hanya bisa menatap takjub.
"Aku lapar." ucap Chanyeol canggung, ia tersenyum sekilas kemudian memilih untuk menyantap makanannya.
Jongin menggaruk tengkuknya, biasanya yang selalu kelaparan kan dirinya. Jongin menatap heran, ia ambil nasi dan mulai memakannya bersama gurita goreng dengan sopan."Dulu waktu Sora mulai hamil Herbras, justru nafsu makanku yang bertambah."
"Ayah, aku tidak sedang hamil. Chanyeol memang rakus." Balas Jongin dengan nada tak bersahabat. Sora tertawa pelan, Herbras dengan kedua mata bulatnya tampak bingung, Chanyeol hampir tersedak nasinya, dan Dongwook harus mencatat bahwa anaknya sangat sensitif membahas isu keturunan.
.
.
.
"Jongin kau tak ingin melihat matahari tenggelam?"
"Tidak, punggungku serasa mau patah, aku mau tidur sekarang." Keduanya kini berada di salah satu kamar berukuran sangat sempit bila dibanding kamar Chanyeol dan Jongin di apartemen, kipas angin menyala meski ini musim gugur karena suhu ruangan yang panas. Tanpa ranjang, keduanya berbaring di atas kasur lipat.
"Benarkan apa yang aku katakan, kau akan cepat akrab dengan ayahmu juga keluargamu."
"Hmm. Kau berbakat jadi cenayang mungkin."
"Seharusnya kau bilang terima kasih padaku." Gerutu Chanyeol. "Melihatmu dengan ayahmu aku jadi iri, aku ingin bertemu dengan ayahku."
"Ajak aku ke makam ayahmu kapan-kapan."
"Tentu."
Jongin menatap langit-langit kamar menunggu kalimat Chanyeol selanjutnya, namun saat Chanyeol tak juga mengatakan sesuatu Jongin menoleh. "Kau menangis?"
"Tidak, ada debu masuk ke mataku."
Jongin bangun dari posisi berbaringnya, dia duduk menatap wajah Chanyeol dengan tatapan penuh pengertian. "Tidak apa-apa menangis di depanku, aku janji tak akan bicara pada siapapun." Chanyeol ikut duduk, menatap Jongin sekilas kemudian tersenyum perih.
"Aku rindu ayahku, sangat rindu, terkadang rasanya sesak." Bisik Chanyeol dengan suara bergetar. Kedua mata Chanyeol membulat sempurna saat ia rasakan tubuh hangat Jongin yang kini memeluknya.
"Tidak perlu ditahan Chanyeol."
"Terima kasih," Chanyeol menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher Jongin yang hangat dan nyaman.
"Chanyeol!" pekik Jongin tertahan saat ia merasakan Chanyeol mulai menciumi lehernya. "Hentikan, apa yang kau lakukan?"
"Aww!" teriak Chanyeol kesakitan. "Kenapa kau menjambak rambutku?!"
"Kau menggigit leherku!" balas Jongin kesal.
"Sehun saja pernah melakukannya, kenapa aku tidak boleh?! Kita kan sudah menikah? Jadi tidak masalah kan jika aku menginginkanmu?!"
"Diam atau aku akan benar-benar mengumpankanmu ke kawanan hiu." Ancam Jongin.
"Huh!" Chanyeol mendengus, ia hempaskan tubuhnya ke atas kasur lipat, memunggungi Jongin dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepala. Merajuk.
"Aku tidak peduli." Dengus Jongin, iapun berbaring dengan memunggungi Chanyeol. Jongin berusaha keras menahan tawa ia puas bisa mengerjai Chanyeol. Jongin heran saat Chanyeol tiba-tiba bangun dan berjalan ke kamar mandi. "Mau kemana?"
"Kamar mandi aku harus main solo." Dengus Chanyeol.
"Park Chanyeol jaga mulutmu di sini ada anak kecil!" teriak Jongin sekuat tenaga, dia bahkan melempar bantal dan gulingnya hingga mengenai punggung Chanyeol.
"Apa kau punya solusi yang lebih baik? Mau membantuku?" Chanyeol menoleh dengan seringai mesum.
"Tidak mau! Main saja sendiri!" dengus Jongin ia langsung berdiri dan berjalan menuju pintu.
"Kemana?!"
"Melihat laut!" teriak Jongin.
"Sialan, Kim Jongin." Gerutu Chanyeol, dengan pasrah ia melangkah memasuki kamar mandi.
TBC
