Ring

Characters: Baekhyun, Chanyeol, Jongin (Kai), Kyungsoo, Xiumin, Sehun, and others

Pairing: Chankai, Chanbaek (slight), Hunkai (Slight), Mpreg (mentioned)

Warning: BL

Rated: T-M

Boomiee92

Gak usah panjang-panjang dah, selamat membaca dan maaf atas segala kekurangan di cerita saya, sekian dan terima kasih

Previous

"Chanyeol!" pekik Jongin tertahan saat ia merasakan Chanyeol mulai menciumi lehernya. "Hentikan apa yang kau lakukan?"

"Aww!" teriak Chanyeol kesakitan. "Kenapa kau menjambak rambutku?!"

"Kau menggigit leherku!" balas Jongin kesal.

"Sehun saja pernah melakukannya, kenapa aku tidak boleh?! Kita kan sudah menikah? Jadi tidak masalah kan jika aku menginginkanmu?!"

"Diam atau aku akan benar-benar mengumpankanmu ke kawanan hiu." Ancam Jongin.

"Huh!" Chanyeol mendengus, ia hempaskan tubuhnya ke atas kasur lipat, memunggungi Jongin dengan selimut menutupi seluruh tubuhnya kecuali kepala. Merajuk.

"Aku tidak peduli." Dengus Jongin, iapun berbaring dengan memunggungi Chanyeol. Jongin berusaha keras menahan tawa ia puas bisa mengerjai Chanyeol. Jongin heran saat Chanyeol tiba-tiba bangun dan berjalan ke kamar mandi. "Mau kemana?"

"Kamar mandi aku harus main solo." Dengus Chanyeol.

"Park Chanyeol jaga mulutmu di sini ada anak kecil!" teriak Jongin sekuat tenaga, dia bahkan melempar bantal dan gulingnya hingga mengenai punggung Chanyeol.

"Apa kau punya solusi yang lebih baik? Mau membantuku?" Chanyeol menoleh dengan seringai mesum.

"Tidak mau! Main saja sendiri!" dengus Jongin ia langsung berdiri dan berjalan menuju pintu.

"Kemana?!"

"Melihat laut!" teriak Jongin.

"Sialan, Kim Jongin." Gerutu Chanyeol, dengan pasrah ia melangkah memasuki kamar mandi.

Bab Enam Belas

Jongin berdiri di balkon kamarnya, ia melihat seseorang duduk di tepi pantai, melukis. Jongin menyipitkan kedua matanya mencoba melihat siluet orang yang memunggunginya. "Ayah? Ya, itu Ayah." Bisik Jongin. Jongin perlahan menuruni tangga, kebetulan di beranda kamar ada tangga luar yang terbuat dari kayu, dan menghubungkan langsung dengan pantai.

Jongin perlahan mendekat melihat lukisan ayahnya dari dekat. "Aku pikir Ayah melukis laut dengan matahari yang hampir tenggelam." Dongwook sedang melukis padang bunga lengkap dengan kincir angin.

"Ini untukmu."

"Untukku?"

"Ya, dulu kau suka sekali dengan padang bunga Tulip dan kincir angin di Belanda, setiap libur sekolah kau selalu merengek agar kita berlibur ke sana."

"Itu kan dulu, sekarang tidak lagi."

"Sekarang apa yang kau sukai?" Dongwook bertanya tanpa mengalihkan perhatiannya pada kanvas di hadapannya.

"Tidak ada." Balas Jongin dengan nada datar.

"Benarkah tak ada satupun di dunia ini yang kau sukai?" Jongin menggeleng, tak sadar jika ayahnya tidak bisa melihat jawabannya itu. "Bagaimana jika sesuatu yang kau benci, ada sesuatu yang kau benci?"

"Tidak ada."

"Hidupmu hambar sekali, Dear."

"Terlalu peduli hanya akan membawa kekecewaan."

"Apa itu alasanmu mengabaikan Ayah selama delapan tahun?"

"Mungkin," bisik Jongin namun cukup keras untuk bisa didengar.

Dongwook tertawa pelan. "Bagaimana jika Ayah melukis alam liar di Afrika mungkin kau akan suka."

"Apa Ayah bermaksud untuk memperbaiki situasi kita?"

"Ya, aku berusaha memperbaikinya."

"Delapan tahun bukan waktu yang singkat, Ayah."

"Delapan tahun terakhir kau yang mengabaikan ayahmu ini."

"Ayah kan pengkhianat dan hubungan kita juga tak begitu dekat."

Dongwook terdiam mencerna setiap kata yang diucapkan putranya, ya, semua itu benar, tak ada yang salah. "Maaf Jongin."

"Tidak masalah, Ayah tampak bahagia sekarang, lebih bahagia dibandingkan saat bersama Ibu, itu yang kuingat."

Dongwook meremas kuas di tangannya dengan erat, ia masih berdiri memunggungi putranya. "Sekarang, apa sudah terlambat untuk memperbaiki situasi Jongin? Ayah ingin menjadi ayahmu…,"

"Aku sudah dua puluh satu tahun Ayah." Potong Jongin. "Tapi terserahlah, jika Ayah mau terlibat, aku bukan anak manis penurut."

Dongwook terkekeh pelan. "Aku tidak peduli meski kau pembuat onar, asal kau tidak meledakkan sesuatu saja." Ledek Dongwook sambil menoleh menatap wajah Jongin yang nampak kesal. "Mendekatlah kau mau melihat Ayahmu yang hebat ini melukis kan?"

"Ayah tidak hebat." Dengus Jongin namun ia tetap melangkahkan kedua kakinya mendekat.

"Mau melukis?" Dongwook menyodorkan kuasnya pada Jongin. Jongin menggeleng panik.

"Aku tidak bisa melukis!" tolak Jongin.

"Baiklah, baiklah, fotografi memang bakatmu. Tadi kau bilang lelah, kenapa tidak tidur saja?"

"Oh aku—ingin melihat laut." Jawab Jongin setengah berdusta tentu saja ia tak akan menceritakan kejadian sebenarnya yang sedikit vulgar.

"Kau datang saat musim gugur jadi tidak bisa berenang di laut."

"Ya, sayang sekali."

"Tidak apa-apa besok pag-pagi Ayah akan mengajakmu berjalan-jalan, kita bisa melihat kebun buah milik Ayah."

"Ayah punya kebun buah?!" pekik Jongin tak percaya. Dongwook mengangguk pelan.

"Ayah membelinya karena teringat dirimu, kau sangat suka dengan pepohonan apalagi yang bisa berbuah, saat kau datang tadi Ayah pikir, apa kau benar-benar nyata atau hanya bayangan saja." Dongwook menundukkan kepalanya, merasakan kedua matanya yang mulai panas. "Ya ampun, aku ingin menangis lagi, menyebalkan sekali!" kekeh Dongwook, Jongin tersenyum simpul.

"Maaf, aku tidak mengundang Ayah di pernikahanku."

"Kau masih marah karena Ayah menyebutmu si pembuat onar?"

"Tidak, sama sekali tidak karena kenyataannya kan memang seperti itu." ucap Jongin.

"Kau tahu, kau adalah anak favorit keluarga Kim. Kakekmu dia sangat menyayangimu, kau tahu kenapa?"

"Karena aku cucunya, tidak ada pilihan lain." Balas Jongin santai.

"Tidak bukan karena itu, beliau mengagumimu."

"Tidak mungkin." Kekeh Jongin geli, tidak mungkin kakeknya yang hebat itu justru mengagumi cucu ingusan seperti dirinya.

"Karena kau pemberontak, berkeinginan kuat, menentukan jalan hidupmu, keluar dari bayang-bayang kelurga besar Kim. Itu tindakan yang sangat hebat."

"Oh." Balas Jongin pelan. "Jika seperti itu berarti Kakek mendukung keputusan Ayah untuk pergi?"

"Begitulah."

Jongin menghembuskan napas perlahan, ia amati lukisan yang belum sepenuhnya selesai di atas kanvas putih di hadapan ayahnya. "Tambahkan pondok kayu di sana."

"Kenapa?"

"Kincir angin dan padang bunga terlihat membosankan, tidak ada keluarga di sana."

"Tentu akan Ayah tambahkan pondok kayu di sini." Ucap Dongwook.

"Terima kasih banyak, Ayah. Lanjutkan melukisnya, aku kembali ke kamar. Matahari tenggelamnya indah." Jongin melihat ayahnya mengangguk, Jongin menghela napas perlahan, dirinya memang bukan tipe orang yang pintar dalam mengekspresikan perasaan. Dengan cepat Jongin memeluk ayahnya, mengecup pipi kiri sang ayah kemudian berlari kabur.

"Jongin," gumam Dongwook pelan kemudian terkekeh pelan.

Terburu-buru Jongin menaiki anak tangga menuju balkon kamarnya, Jongin membuka pintu kayu yang menghubungkan kamar dengan balkonnya dengan kasar. "Chanyeol!" pekik Jongin kaget, melihat Chanyeol berbaring terlentang di atas lantai kayu dengan kipas angin di dekat kepalanya.

"Jika rambutmu tertarik masuk, tau rasa." Ucap Jongin sadis.

"Kenapa? Yang tertarik kan rambutku kenapa kau yang ambil pusing." Balas Chanyeol ketus, masih merajuk rupanya.

"Menyingkir aku mau tidur." Jongin menendang-nendang sisi kanan tubuh Chanyeol yang terkapar tak berarti.

"Hmm." Balas Chanyeol malas.

"Kau mirip paus terdampar." Hina Jongin, Chanyeol tetap tidak peduli. Sebal, Jongin injak perut datar Chanyeol dengan keras.

"Kim Jongin!" pekik Chanyeol sebal, ia usap-usap perut datarnya yang menjadi korban kesadisan Jongin. Chanyeol berbaring miring tak lupa membawa kipas angin mungil untuk menghadapnya.

"Bagi kipas anginnya Chanyeol, aku kepanasan!" protes Jongin.

"Tidak mau." Balas Chanyeol keras kepala.

Jongin sudah mengepalkan kedua tangannya bersiap menjitak kepala Chanyeol, tapi ia urungkan tidak mau menciptakan luka lebam di wajah Chanyeol dan mendapat pertanyaan aneh-aneh dari ayahnya. Jongin berbaring miring dan mulai memejamkan kedua matanya, ia tersenyum simpul bahagia mengingat kejadian aneh dan lucu dengan ayahnya tadi.

Jongin menendangi selimutnya karena panas, menyebalkan sekali, padahal ini musim gugur. Jongin membuka kedua matanya, di luar langit telah gelap, ia tak sadar telah tertidur. Jongin duduk meraih ponselnya. "Delapan malam." Gumam Jongin. Aneh, ia tidak merasa lapar hanya sangat mengantuk sekarang, karena itu Jongin putuskan untuk tidur kembali. Besok pagi dia akan keluar melihat kebun buah ayahnya.

Chanyeol masih tertidur dengan pulas, dengan kipas angin menyala tepat di depan wajahnya, Jongin mendengus kesal perlahan ia julurkan tangan kanannya mengambil kipas angin itu, bukan karena ia ingin mengerjai Chanyeol dan membuatnya kepanasan tapi Jongin tak ingin Chanyeol masuk angin.

"Apa yang kau lakukan?" Jongin memutar kedua bola matanya jengah, tak menyangka Chanyeol akan terbangun hanya karena dia memindahkan kipas angin.

"Aku tidak mau kau masuk angin." Balas Jongin. "Suhu udara akan turun saat malam semakin larut. Memakai kipas angin sepanjang malam juga tidak baik bagi kesehatan."

"Aku tahu tapi sekarang masih panas." Gumam Chanyeol dengan suara beratnya.

Jongin sudah mematikan kipas angin, dan menaruhnya menjauh. "Jendelanya di buka bagaimana?" tawar Jongin, Chanyeol mengangguk pelan. Jongin tersenyum iapun berdiri dan melangkahi tubuh Chanyeol untuk membuka jendela kaca yang terletak di dinding sebelah kiri mereka. "Bulannya indah, Chanyeol."

"Benarkah?"

"Hmmm."

Enggan Chanyeolpun mendudukkan tubuhnya, dan benar saja bulan purnama tersaji di hadapan mereka berpadu dengan laut memantulkan bayangan bulan yang sempurna. Tanpa sadar Jongin menggenggam tangan kanan Chanyeol. "Kita tidur sekarang." Ucap Chanyeol. "Jong..," Chanyeol tak mampu melanjutkan kalimatnya karena Jongin menciumnya, sekilas. "Jongin?" Chanyeol menatap Jongin bingung.

"Aku mencintaimu Park Chanyeol."

"Akhirnya kau mengatakan hal itu juga." Balas Chanyeol kemudian tertawa pelan. Jongin hanya tersenyum simpul, ia sandarkan kepalanya pada bahu Chanyeol. Chanyeol memilih diam, Jongin mulai bersikap manja itu bagus, begitu pikirnya. "Tadi kau mengataiku pasu dan menginjak perutku sekarang kau mencium dan bersandar pada pundakku, kau ini aneh Kim Jongin."

"Kau juga aneh Park Chanyeol."

"Kita tidur sekarang." Ucap Chanyeol yang dibalas dengan anggukan setuju oleh Jongin. Keduanya berbaring di atas kasur lipat, tanpa selimut dan mulai memejamkan kedua mata masing-masing, untuk saat ini cukup berpegangan tangan karena udara terlalu lembab dan panas untuk berpelukan.

.

.

.

"Bangun Chanyeol kita sarapan dan mulai jalan-jalan setelah ini."

"Baiklah..," gerutu Chanyeol sembari mendudukkan tubuhnya meski kedua matanya masih terpejam.

"Kau jelek sekali." Maki Jongin sambil melempar handuk ke kepala Chanyeol. "Mandilah, aku tunggu di bawah."

"Tidak, tunggu aku. Aku bisa canggung jika sendirian saat melihat keluargamu."

"Sejak kapan kau merasa canggung?"

"Sudahlah Jongin, tunggui aku."

"Baik tapi jangan lama-lama mandimu."

Jongin memilih berdiri di dekat pintu beranda, mengamati laut yang mataharinya belum terbit. "Dingin!" terdengar teriakkan Chanyeol dari dalam kamar mandi, Jongin tak peduli, ia segera mengeluarkan ponselnya dan memotret laut di hadapannya tak lupa isi kamar yang ia gunakan.

"Untuk kenang-kenangan," gumam Jongin pelan.

Lima menit kemudian Chanyeol keluar dari kamar mandi dengan berisik. "Kau tidak bilang kalau airnya dingin!" pekik Chanyeol kesal.

"Aku juga mandi air dingin." Balas Jongin santai.

"Dan kau baik-baik saja?"

"Ya, aku baik-baik saja." Jongin berbalik berusaha mengabaikan Chanyeol yang hanya mengenakan celana panjang. Mengabaikan dada bidang dan perut rata berotot Chanyeol. "Cepat pakai bajumu, di bawah Ayah, Sora, dan Herbras sudah menunggu."

"Kau bohong."

"Apanya yang bohong?!"

"Sekarang masih pukul enam pagi, aku yakin Herbras belum bangun."

"Tapi Ayah dan Sora sudah menunggu kita, aku ingin melihat kebun buah."

"Matahari terbit pukul delapan pagi. Jadi kita masih punya waktu untuk…," Chanyeol menatap Jongin menggoda.

"Aku tidak ingin melakukan itu di sini."

"Ah jadi kau mau melakukannya denganku?" Chanyeol bertanya dengan hati-hati. Jongin menundukkan wajahnya mengatur napasnya sebelum menatap Chanyeol.

"Ya, aku mau tapi tidak di sini." Chanyeol mengangguk-angguk mengerti.

"Baiklah kita pikirkan nanti saja setelah di Seoul, sekarang kita nikmati liburan ini dan kebersamaan dengan ayahmu, bagaimana?"

"Baiklah." Balas Jongin kemudian tersenyum. "Pakai bajumu."

Chanyeol memakai kemeja biru dan cardigan abu-abu ditambah jas biru senada dengan warna kemeja, sangat pantas sebenarnya tapi ada yang ganjal menurut Jongin. "Kau yakin akan memakai jins putih untuk ke kebun?"

"Aku tidak peduli yang penting penampilanku enak dilihat." Jongin hanya menggeleng pelan tak tahu kenapa akhir-akhir ini sikap Chanyeol sedikit kekanakan.

"Terserahlah." Balas Jongin menyerah, ia memilih keluar dari kamar dan secara otomatis Chanyeol mengekor di belakang.

Aroma harum Sundubu Jjigae menguar menyapa ujung-ujung saraf penciuman Chanyeol dan Jongin. Di depan meja kotak pendek Dongwook sudah duduk dengan tiga mangkuk sup lezat di hadapannya. "Dimana Sora?"

"Herbras menolak ditinggal."

"Oh." Balas Jongin pendek, ia langsung duduk di samping ayahnya disusul Chanyeol membuat posisi Jongin kini berada di tengah-tengah dua laki-laki itu, Chanyeol dan ayahnya. Sup hangat berbahan utama tahu lembut dengan kubis, udang, suiran ikan goreng dan juga cumi-cumi merupakan menu masakan terbaik. Ketiganya makan dengan tenang tanpa terlibat obrolan sedikitpun.

Setelah isi di dalam ketiga mangkuk sup ludes tak bersisa, Dongwook langsung mengajak putra dan menantunya pergi ke kebun. Ia sempat heran melihat penampilan Chanyeol namun Jongin mengisyaratkan pada ayahnya untuk diam tak memberi komentar.

Dongwook memanggul keranjang bambu di punggungnya memandu Chanyeol dan Jongin menaiki jalanan yang menanjak. Chanyeol melihat betapa indahnya Jangho, beberapa kali mereka berpapasan dengan penduduk atau wisatawan domestik yang mengenali Chanyeol atau Jongin sehingga perjalanan mereka sedikit terhambat karena diminta berfoto bersama.

"Ini pohon Azalea, saat musim semi akan berbunga dengan bermacam warna mulai merah, kuning, putih, pink, dan ungu, di sana ada Sakura terkadang Azalea pink sekilas mirip Sakura." Dongwook menjelaskan barisan pepohonan Sakura dan Azalea yang mereka lintasi.

"Tapi sekarang juga sangat indah." Gumam Jongin memperhatikan pepohonan dengan daun-daun yang berubah warna menaungi perjalanan mereka.

"Kau tidak ingin memotretnya?" bisik Chanyeol.

"Kapan-kapan saja, sekarang aku ingin menikmatinya dengan kedua mataku." Gumam Jongin. Ia tersentak dan menoleh menatap Chanyeol, saat tangan Chanyeol menggenggamnya.

"Lebih hangat kan?" Jongin hanya tersenyum simpul menjawab pertanyaan Chanyeol.

"Kita sampai." Ucap Dongwook. "Hati-hati!" wantinya karena mereka harus melompati parit sempit untuk masuk ke dalam kebun. Dongwook mendorong pintu pagar kebun yang terbuat dari bambu.

"Wow!" pekik Chanyeol dan Jongin bersamaan. Dari luar tidak terlihat pohon-pohon buah karena penduduk sengaja menanam pohon bunga di dekat jalan, selain demi keindahan juga mengurangi resiko pencurian.

Apel, Persik, dan Kesemek terlihat ranum, siap panen. Kebunnya sangat luas namun ayah Jongin mengatakan bahwa kebun di sini bukan hanya miliknya dia hanya memiliki sedikit bagian kebun. "Ayah kan bisa membeli semuanya?"

"Ayah tidak ingin bersikap egois, selain itu Ayah pergi tanpa membawa apa-apa, dan mulai dari awal."

"Maaf, aku lupa hal itu."

"Tak apa." Dongwook tersenyum lebar. "Baiklah kalian boleh memetik Apel, Kesemek, dan Persik sesuka hati kalian tapi jangan melewati pagar bambu, karena di luar pagar, bukan kebun Ayah lagi. Seluruh pohon sudah siap panen."

"Baik!" pekik Chanyeol dan Jongin, keduanya langsung melesat menjelajahi kebun.

"Ambil yang paling besar Chanyeol." perintah Jongin, Chanyeol mengangguk patuh, ia amati dengan seksama setiap buah apel yang menggantung ranum di atas pohon.

"Yang itu bagaimana?" Chanyeol menunjuk salah satu pohon apel.

"Lumayan, petik sana."

"Kau memerintahku?"

"Ini kebun ayahku." Balas Jongin dengan dua tangan terlipat di depan dada angkuh.

"Menyebalkan," desis Chanyeol.

.

.

.

Ketiganya berjongkok di depan parit dengan air jernih mengalir lancar. "Cuci apel kalian di sini sebelum di makan."

Chanyeol dan Jongin mengangguk patuh, keduanya mulai mencuci apel masing-masing. "Aaa!" pekik Chanyeol karena air dingin yang mengenai tangannya.

"Dia memang manja Ayah." Cibir Jongin menjawab tatapan ayahnya.

"Ini memang dingin!" pekik Chanyeol membela diri. Jongin tak peduli.

Setelah apelnya selesai dicuci ia angkat apelnya kemudian ia perhatikan dengan seksama. "Bersih," gumam Jongin ia melirik Chanyeol yang masih sibuk mencuci apel dan sesekali menggerutu. Jongin menggigit dan menahan buah apel di antara bibirnya, dia melirik Chanyeol dengan tatapan menyebalkan. Kemudian dengan cepat Jongin membawa kedua telapak tangan basahnya menyentuh jas biru Chanyeol, jas biru mahal itu berakhir menjadi lap pengering tangan Jongin.

"Kim Jongin…," gerutu Chanyeol marah bercampur miris.

Jongin memegang buah apelnya, mulutnya sibuk mengunyah namun masih sempat melempar senyum jahil untuk Chanyeol. "Matahari terbit!" pekik Chanyeol heboh. Dongwook tertawa pelan, Jongin menutup sebelah telinganya, teriakkan Chanyeol sungguh luar biasa, dia memang penyanyi yang sering latihan vokal.

"Telingaku berdenging." Gerutu Jongin.

Chanyeol tersenyum lebar dan konyol mennaggapi gerutuan Jongin." Wow, indah sekali." Gumam Chanyeol, ketiganya duduk di pinggir parit menghadap ke timur, matahari terlihat terbit di antara perbukitan.

"Kalian akan pulang ke Seoul hari ini?" pertanyaan Dongwook berhasil mengubah suasana ceria menjadi muram.

"Sayangnya seperti itu Ayah Mertua," jawab Chanyeol. "Besok saya harus bekerja."

"Kau terkenal Chanyeol semoga kau selalu kuat menghadapi berita yang terkadang tak masuk akal itu."

"Ah saya sudah terbiasa Ayah." Chanyeol menjawab penuh percaya diri tak mempedulikan dengusan Jongin di sampingnya.

"Sebaiknya kalian berangkat pagi untuk menghindari macet di Seoul." Ucap Dongwook bijaksana. "Sering-seringlah berkunjung, atau aku bisa mengunjungi kalian jika kalian bersedia."

"Aku akan mengirim alamat apartemenku Ayah." Kalimat Jongin sungguh sangat mengejutkan Dongwook.

"Benarkah?" Jongin mengangguk dengan mulut yang masih sibuk mengunyah apel.

"Setelah apelku habis aku akan langsung mengirim alamatku."

"Alamatku juga?" Chanyeol menunjuk dirinya.

"Ya, alamat Chanyeol juga, jika dia macam-macam denganmu Ayah bisa langsung tahu dimana dia bersembunyi dan memberinya pelajaran." Jongin tertawa pelan mendengar kalimat ayahnya sementara Chanyeol hanya bisa menekuk wajahnya.

.

.

.

"Sering-seringlah mampir Jongin." Sora tersenyum ramah kemudian memeluk Jongin erat.

Chanyeol sibuk memasukkan keranjang buah ke dalam mobil, kemudian dia berjalan mendekati Dongwook yang langsung disambut dengan pelukan erat oleh Dongwook. "Jaga Jongin baik-baik." bisik Dongwook mengintimidasi, Chanyeol hanya terkekeh pelan.

Jongin membungkukkan badannya untuk memeluk Herbras. "Maaf Hyung tidak membawakan apa-apa," bisik Jongin, Herbras hanya tertawa lucu tak masalah dengan oleh-oleh atau semacamnya. Kemudian Jongin beralih pada ayahnya sementara Chanyeol berpamitan pada Sora dan Herbras.

"Jangan kabur ke Afrika lagi."

"Kenapa?" Jongin tertawa pelan. "Di sana menyenangkan."

"Menyangkan kepalamu! Ayah selalu bermimpi kau diterkam Singa!" pekik Dongwook kesal. "Ayah mohon jangan bermain dengan bahaya Jongin." Tatapan Dongwook memelas. Jongin menggembungkan sedikit pipinya pertanda bahwa dia tak terlalu setuju dengan larangan itu. "Chanyeol! Hamili Jongin supaya dia tidak ke Afrika!" pekik Dongwook.

"Ayah jangan macam-macam!" Jongin berteriak marah.

"Baik Ayah Mertua." Balas Chanyeol santai, semua orang tertawa kecuali Jongin dan Herbras. Jongin yang kesal dan Herbras yang sama sekali belum paham tentang arti menghamili.

"Baiklah, jaga kesehatanmu semoga kau semakin sukses di Korea dan tak perlu terbang ke Afrika." Dongwook menatap sayang putranya. Jongin mengangguk pelan, kemudian dia berjalan memasuki mobil dan duduk di kursi penumpang, Chanyeol akan mengemudi pulang.

Jendela mobil diturunkan Jongin masih menjulurkan lehernya meski mobil telah bergerak, ia ingin menatap keluarganya lebih lama lagi. "Kita bisa ke sini kapan-kapan, atau kau sendiri bisa ke sini bersama Kyungsoo jika sedang senggang." Ucap Chanyeol melihat betapa Jongin sangat enggan untuk kembali ke Seoul.

Setelah mobil berbelok dan kediaman ayahnya tak terlihat lagi, barulah Jongin memasukkan kepalanya dan menutup jendela mobil. Chanyeol melirik wajah Jongin sekilas. "Kenapa wajahmu seperti itu?"

"Hmm." Gumam Jongin.

"Ingin menangis?"

"Tidak—aku—hanya tidak pernah tahu jika aku sangat merindukan ayahku sampai kami bertemu."

"Kau merindukannya tapi kau mengabaikan perasaan itu."

"Mungkin kau benar."

"Nah, sesampai kita di Seoul nanti bagaimana kalau kita mulai membicarakan tentang anak?"

Jongin menghembuskan napas berat. "Kau benar-benar menginginkan anak ya? Padahal kau ini masih dua puluh tiga tahun."

"Tidak masalah kan, menjadi ayah di usia muda berarti saat anakku dewasa nanti usia kami tidak terpaut jauh jadi hubungan kami bisa akrab layaknya sahabat."

"Apa kau juga membahas soal ini dengan Baekhyun?" Jongin tidak mengerti kenapa pikiran tentang Baekhyun tiba-tiba melintas di benaknya.

"Ya, kami membicarakannya. Baekhyun menyukai anak kecil, aku juga, kami tidak ingin menunda soal keturunan."

"Oh." Balas Jongin singkat. "Aku belum siap Chanyeol maaf, aku belum siap sampai kau benar-benar melupakan Baekhyun." Jongin melirik sekilas wajah Chanyeol sebelum melanjutkan kembali ucapannya. "Aku hanya merasa kau akan kembali pada Baekhyun jika ada sesuatu yang salah mengenai hubungan Bakehyun dan Suho, itu saja. Dan aku tidak ingin menjadi pihak yang terlalu dirugikan."

"Ya, aku mengerti Jongin. Maaf aku terlalu memaksamu."

"Tak apa, aku juga minta maaf, hanya saja kau tahu kan kepercayaan membutuhkan waktu. Dan waktu dua bulan pernikahan kita, tidak, jika dihitung saat kau menyatakan cinta itu bahkan belum genap satu bulan, dan itu belum cukup membuktikan."

"Aku mengerti." Gumam Chanyeol pelan. Dan sisa perjalanan menuju Seoul hanya diisi oleh lagu dari stereo mobil dan Jongin yang tertidur di kursi penumpang.

.

.

.

"Wah manisan kesemek!" pekik Xiumin bahagia, Xiumin dan Kyungsoo langsung mampir ke apartemen Chanyeol setelah menerima pesan bahwa keduanya kembali ke Seoul. Chanyeol memilih langsung tidur karena dia sudah sangat lelah, Xiumin sibuk membongkar oleh-oleh di atas konter dapur, dan Jongin mengobrol di meja makan dengan Kyungsoo.

"Ini jadwal kerjamu mulai besok."

"Pemotretan dengan Sophie, supermodel berdarah Korea-Kanada itu?"

Kyungsoo mengangguk pelan. "Kanada, apa itu membangkitkan ingatanmu akan seseorang?"

"Maksud Hyung, Kris?" Kyungsoo kembali mengangguk. "Tidak, aku tidak pernah memikirkannya."

"Baguslah." Balas Kyungsoo kemudian ia masukkan buah jeruk kupasnya ke dalam mulut.

Jongin memperhatikan jadwal pekerjaannya, Sophie adalah model terkenal, tapi yang menjadi masalah adalah pemotretan akan dilakukan di toko kue HAPPY. "Ini toko kue keluarga Oh."

"Benar, itu toko yang terkenal di Seoul. Mungkin Sehun tidak ada di sana." Dengan jelas Kyungsoo bisa melihat keengganan di wajah Jongin dan kalimat itu terucap untuk sekedar meringankan rasa enggan dalam diri Jongin.

"Ya, mungkin saja." Gumam Jongin pelan. "Kenapa Hyung tidak marah? Aku sudah keluar dan jalan-jalan padahal Kyungsoo hyung ingin aku istirahat."

"Itu juga termasuk istirahat." Ucap Kyungsoo sembari tersenyum. " Aku senang kau jalan-jalan dan lebih dekat dengan Chanyeol." Jongin tersenyum simpul, ia letakkan kertas kontraknya di atas meja makan dan mulai memakan jeruk kupasnya. "Aku juga senang kau menemui ayahmu. Kenapa kau tiba-tiba mau bertemu dengannya?"

"Chanyeol yang memaksaku." Kyungsoo tersenyum miring mendengar jawaban Jongin.

"Chanyeol bisa membawa pengaruh baik padamu ternyata." Ucap Xiumin yang bergabung di meja makan dengan sepiring manisan Kesemek. "Tapi dia terlihat kesal saat pulang tadi."

"Dia hanya lelah." Xiumin melempar tatapan sangsi kepada Jongin.

"Aku mengenal Chanyeol sangat lama Jongin, dia tidak sedang lelah."

"Dia menginginkan anak dan aku belum siap." Ucap Jongin tak mungkin membohongi Xiumin. UHUK! Kyungsoo langsung terbatuk, Xiumin membulatkan kedua matanya. "Memang itu yang Chanyeol inginkan.

"Kenapa kau belum siap?" Kyungsoo bertanya setelah pikiran jernihnya kembali.

"Aku hanya merasa Chanyeol bisa kembali pada Baekhyun, itu saja."

"Ikuti kata hatimu." Ucap Kyungsoo bijaksana. "Sekarang sebaiknya kau tidur, besok kita berangkat pagi ke lokasi pemotretan. Kami juga akan pergi." Jongin hanya mengangguk perlahan.

Setelah Xiumin dan Kyungsoo pergi, Jongin membersihkan meja makan dari kulit jeruk, dia juga membalas pesan dari ayahnya. Belum ada niatan untuk tidur, sebenarnya dia bingung harus tidur dimana, kamar Chanyeol dikunci dan Chanyeol tidur dikamarnya, tidur bersama Chanyeol terlalu canggung setelah sedikit perdebatan mereka tadi.

"Kau belum tidur?"

"Kau bangun?" Jongin membalas pertanyaan Chanyeol dengan pertanyaan lain.

"Tiba-tiba aku haus, itu saja." Chanyeol membuka lemari pendingin dan mengambil botol air mineral kemudian Chanyeol duduk di hadapan Jongin. Ia meraih kertas kontrak yang bodohnya tak Jongin simpan. "Sophie, dia model terkenal. Dulu dia pernah bergabung dengan SM sebelum memutuskan untuk keluar."

"Hmm."

"Kau tidak tertarik dengan informasi yang aku berikan?"

Jongin menggeleng pelan. "Itu informasi yang sangat umum Chanyeol, kecuali kau memberikan informasi yang lebih spektakuler."

"Maaf, aku tidak punya informasi seperti itu." ucap Chanyeol, ia letakkan kembali kertas kontrak Jongin ke atas meja. "Pemotretan di toko kue keluarga Oh."

"Ya."

"Kau pasti sangat mengantuk hingga jawaban yang keluar dari bibirmu pendek-pendek seperti itu." tanpa menjawab Jongin berdiri dari kursinya dan berjalan menuju sofa. Ia berbaring di sana.

Chanyeol menggaruk pelan belakang kepalanya. "Kenapa menjadi canggung seperti ini," gumam Chanyeol kemudian tersenyum miris. Iapun beranjak dari kursinya dan kembali ke dalam kamar tanpa meminta Jongin untuk tidur bersama.

TBC