Ring

Characters: Baekhyun, Chanyeol, Jongin (Kai), Kyungsoo, Xiumin, Sehun, and others

Pairing: Chankai, Chanbaek (slight), Hunkai (Slight), Mpreg (mentioned)

Warning: BL

Rated: T-M

Boomiee92

Selamat membaca dan maaf atas segala kekurangan, yang review nanti saya sebutin di akhir chapter (author seenak jidat nih!) hihihihi

Previous

"Kau belum tidur?"

"Kau bangun?" Jongin membalas pertanyaan Chanyeol dengan pertanyaan lain.

"Tiba-tiba aku haus, itu saja." Chanyeol membuka lemari pendingin dan mengambil botol air mineral kemudian Chanyeol duduk di hadapan Jongin. Ia meraih kertas kontrak yang bodohnya tak Jongin simpan. "Sophie, dia model terkenal. Dulu dia pernah bergabung dengan SM sebelum memutuskan untuk keluar."

"Hmm."

"Kau tidak tertarik dengan informasi yang aku berikan?"

Jongin menggeleng pelan. "Itu informasi yang sangat umum Chanyeol, kecuali kau memberikan informasi yang lebih spektakuler."

"Maaf, aku tidak punya informasi seperti itu." ucap Chanyeol, ia letakkan kembali kertas kontrak Jongin ke atas meja. "Pemotretan di toko kue keluarga Oh."

"Ya."

"Kau pasti sangat mengantuk hingga jawaban yang keluar dari bibirmu pendek-pendek seperti itu." tanpa menjawab Jongin berdiri dari kursinya dan berjalan menuju sofa. Ia berbaring di sana.

Chanyeol menggaruk pelan belakang kepalanya. "Kenapa menjadi canggung seperti ini," gumam Chanyeol kemudian tersenyum miris. Iapun beranjak dari kursinya dan kembali ke dalam kamar tanpa meminta Jongin untuk tidur bersama.

Bab Tujuh Belas

Chanyeol bangun pukul empat pagi, hari ini dia akan mengikuti salah satu reality show yang akan meliput kegiatannya seharian dimulai pukul lima di studio. Chanyeol memang menolak liputan di rumah dengan alasan pribadi, beruntung mereka setuju dengan syarat yang ia ajukan itu. Setelah semua persiapan selesai, Chanyeol siap untuk pergi. Xiumin sudah menunggu di pintu belakang apartemen. Dilihatnya Jongin masih tertidur di atas sofa. Chanyeol tersenyum simpul, ia kembali ke kamar untuk mengambil selimut dan bantal.

Chanyeol berjongkok di hadapan Jongin yang masih tertidur, perlahan Chanyeol mengangkat kepala Jongin dan menyelipkan bantal yang lebih nyaman dibanding bantal sofa ke bawah kepala Jongin. Kemudian Chanyeol menutupi tubuh Jongin dengan selimut. "Semoga nanti malam hubungan kita lebih baik, jangan lupa sarapan Jongin." Bisik Chanyeol, ia usap pelan puncak kepala Jongin sebelum berdiri dan berjalan pergi memenuhi kontraknya hari ini.

.

.

.

"Astaga! Kim Jongin! Kau masih tidur?!"

"Hyung!" Jongin yang kaget dengan suara teriakkan Kyungsoo ikut berteriak, ia langsung memeriksa ponselnya dan sadar kurang dari setengah jam waktunya untuk bersiap. "Kenapa Hyung tidak membangunkan aku?!" Jongin berlari panik menuju kamar, ia mencuci muka, menggosok gigi, dan melakukan bisnis lainnya di kamar mandi cepat. Berikutnya ia membuka lemari pakaian dengan kasar, suara gaduh dari besi-besi gantungan baju yang beradu terdengar hingga ruang makan. Jongin mengenakan kaos putih polos yang dilapis dengan jaket abu-abu hangat, dan jins hitam sepatu kets putih. Jongin menyambar ranselnya dan berlari keluar kamar. "Aku selesai Hyung!" pekik Jongin terlalu berlebihan.

"Bagus, ayo pergi sekarang." Kyungsoo menyerahkan termos kecil berisi teh ginseng kepada Jongin.

"Terima kasih Hyung."

"Kau sudah mempelajari konsep pemotretan hari ini kan?"

"Hmm Sophie akan berpose di depan pemanggang kue, mengangkat kue dari panggangan, melayani pelanggan itu saja, konsep yang mirip dengan pemotretan di kedai kopi tempo hari. Apa ini peniruan konsep?"

Kyungsoo mengendikkan bahu. "Mungkin, tapi tak akan ada masalah karena konsep kedai kopi, Sophie dulu yang menggunakannya dan kau sendiri yang mengambil gambar." Kyungsoo tersenyum lebar, kemudian menarik tangan Jongin untuk bergegas memasuki mobil.

Jongin memasang sabuk pengamannya sementara Kyungsoo menyalakan mesin mobil. "Saat kalian ke Jangho kalian menggunakan mini cooper itu milikmu?"

"Bukan milik Chanyeol, dan dari mana Hyung tahu kami menggunakan cooper?"

"Internet."

"Sial." Umpat Jongin pelan. "Ada lebih banyak foto lain?"

"Tidak, hanya beberapa orang yang berfoto dengan kalian di Jangho mengunggah foto mereka."

Jongin hanya menghembuskan napas dengan berat, tak ada gunanya mengeluh resiko pekerjaan, Jongin memilih diam dan meminum the ginsengnya. Chanyeol, soal Chanyeol sepertinya ia tak melihat Chanyeol tadi dan selimut juga bantal mungkinkah Chanyeol yang melakukan hal itu?

"Chanyeol dimana Hyung?"

"Kau tidak tahu, dia ada acara pagi sampai malam, sejenis reality show yang mengikuti kegiatannya sepanjang hari."

"Hmm." Gumam Jongin mengerti.

"Hubungan kalian sedikit canggung."

"Ya, setelah pembicaraan tentang anak tak menemukan jalan keluar dan sepertinya Chanyeol terpaksa menerima keputusanku."

"Selain alasanmu dengan firasat bahwa Chanyeol bisa saja kembali bersama Baekhyun, sebenarnya ada hal lain yang kau takutkan atau tidak?"

"Tidak ada."

"Benarkah kau sudah siap memiliki anak Kim Jongin?" Kyungsoo menatap tak yakin.

"Tentu saja aku siap Hyung, aku kan sudah cukup dewasa." Kyungsoo hanya terkekeh pelan mendengar kalimat Jongin. "Kau siap untuk gemuk, melahirkan, menyusui, dan yang lebih sulit adalah membesarkan seorang manusia dengan tingkah berandalmu itu Kim Jongin."

"Aku bukan berandalan," ucap Jongin bersungut-sungut. Kyungsoo hanya melirik sekilas pada Jongin sebelum perhatiannya kembali ke jalanan Seoul.

Lima menit kemudian mobil Kyungsoo sudah terparkir di depan toko kue HAPPY. Toko itu terlihat sama seperti saat terakhir Jongin berkunjung dengan Sehun. "Masuklah, aku akan pergi ke suatu tempat."

"Kemana? Xiumin hyung?"

"Tidak, Jongin kau tahu sendiri aku ingin melanjutkan pendidikanku di universitas."

"Baiklah Hyung, semoga lancar, apa aku akan pulang sendiri nanti?" Kyungsoo melempar tatapan penyesalan. Jongin mengerti maksud dari tatapan itu. "Tak apa Hyung."

Kyungsoo menjalankan mobilnya meninggalkan toko kue dan juga Jongin. Jongin menarik napas dalam-dalam sambil membenahi letak tas ranselnya, ia berjalan memasuki toko kue yang langsung mendapat sambutan hangat dari orang-orang yang akan bekerja dengannya seharian ini.

"Kita langsung ke intinya saja bagaimana?" salah seorang staf berjalan menghampiri Jongin.

"Tidak masalah." Staf itu tersenyum dan mulai memberikan arahan seperlunya kepada Jongin.

"Kim Jongin."

"Sophie."

"Terima kasih sudah menerima tawaran kerjasama lagi denganku."

"Tak masalah Sophie."

"Kau tidak mengundangku ke acara pernikahanmu."

"Maaf soal itu, keluarga Park yang mengatur semuanya." Jongin melirik Sophie sekilas kemudian meneruskan pekerjaannya kembali memeriksa kameranya. "Kau tampak cantik dengan pakaian pelayan itu." Sophie tersenyum mendengar pujian Jongin. "Kau siap?" Sophie mengangguk pelan, perempuan cantik itupun mulai berpose di belakang mesin kasir.

Selain mesin kasir lokasi pemotretan di lakukan di belakang display, dapur dan di depan toko kue. Seluruh pemotretan selesai pukul lima sore. Jongin membiarkan para staf meneliti dan memilah foto yang dia ambil tadi. Jongin berniat meminum teh ginsengnya, tak ada setetespun teh yang keluar. "Haah," desah Jongin menyadari minumannya sudah tak bersisa. Jongin berdiri dari kursinya dan mendekati para staf. "Semuanya sudah beres kan?"

"Ya, semuanya sudah beres." Jawab salah satu staf, Jongin tersenyum dia kembali ke mejanya untuk membereskan kameranya, dia sudah sangat lelah bekerja mulai pukul tujuh pagi sampai pukul lima sore.

Suara lonceng pintu berbunyi dan para staf mulai gaduh, Jongin memiliki firasat buruk. "Jongin." Suara itu tentu saja.

"Sehun," gumam Jongin pelan.

"Kau sudah selesai bekerja?"

"Ya." Jongin berusaha menjawab sesingkat mungkin untuk mengurangi ketertarikan Sehun padanya.

"Aku ingin mentraktirmu, apa kau punya waktu?" Jongin mengalihkan perhatiannya dari kamera pada Sehun, ia melirik ke arah para staf yang terlihat jelas sedang memperhatikan interaksinya dengan Sehun.

"Aku rasa itu bukan ide yang baik Sehun."

"Kita kan teman." Sehun tersenyum ramah. Jongin mendesah pelan menolak Sehun sekarang tak akan baik bagi nama baik dan reputasi Sehun.

"Baiklah, tapi di sini saja aku sudah lelah untuk pergi jauh."

"Kita pergi ke lantai dua yang lebih tenang atau ke dapur, bagaimana menurutmu?"

"Lantai dua."

"Kau mau apa? Kedatangan pertamamu tartlet sekarang?"

"Muffin cokelat kacang ada?"

"Tentu saja ada." Sehun langsung berlari menghampiri konter dan mengambil kue yang ia inginkan "Ayo." Ajak Sehun, Jongin mengangguk pelan dan berjalan mengikuti Sehun di belakang.

Lantai dua sangat sepi pemandangan yang sebenarnya tampak aneh mengingat toko ini adalah toko kue yang terkenal. "Apa lokasi ini sudah dipesan?"

"Ya, sampai pukul tujuh malam." Balas Sehun memilih meja di dekat pagar balkon dengan tanaman bunga merambat untuknya dan Jongin. Jongin bergegas duduk di hadapan Sehun. Sehun menghidangkan Muffin yang tadi Jongin inginkan.

"Terima kasih," gumam Jongin.

"Setelah keluar dari rumah sakit kau banyak menghabiskan waktu dengan Chanyeol untuk berlibur." Jongin hanya tersenyum miring, sebenarnya ia tak ingin bertemu apalagi berbicara dengan Sehun. Bukan karena ia benci namun ada perasaan bersalah yang ia rasakan mengingat dirinya tak mungkin membalas perasaan Sehun. "Aku rasa itu sesuatu yang baik untuk pasangan menikah." Jongin hanya mengangguk pelan sebelum berdiri dari kursinya menuju mesin penjual minuman.

Jongin mendesah pelan saat dirinya tak menemukan satu koinpun di dalam kantung celananya. "Kau bisa mengambil air minum di sini." Jongin menoleh dan melihat Sehun sedang membuka lemari pendingin di belakang konter yang tadi luput dari penglihatannya. "Kau mau apa?"

"Air mineral."

"Hmm." Gumam Sehun sembari menarik keluar botol air mineral dari dalam lemari pendingin dan menyerahkannya kepada Jongin. Jongin langsung membuka tutup botol dan meminum isinya. Sehun terkekeh pelan, Jongin bingung. "Apa kau sengaja melakukannya?"

"Apa?"

"Ada krim cokelat di atas bibirmu." Sehun mendekatkan wajahnya, Jongin langsung mundur dan mengusap bibirnya dengan punggung tangan kanannya dengan kasar.

"Sebaiknya kita tak usah bertemu lagi." Jongin melihat perubahan pada wajah Sehun.

"Kenapa?"

"Tak masalah kita bertemu sebagai teman tapi jika kau masih mencintaiku aku tidak bisa melakukanya, maaf Sehun, sebaiknya hentikan perasaanmu, itu tak akan baik untuk kita berdua."

"Kau benar-benar mencintai Chanyeol sekarang?" Jongin hanya bisa mengangguk pelan.

Sehun menghembuskan napas perlahan. "Baiklah, kita tetap bisa berteman kan?"

"Ya."

"Tapi aku ingin kau tahu, kapanpun kau terluka oleh Chanyeol kau bisa datang padaku."

"Terima kasih, tapi aku tidak akan melakukannya mungkin aku akan datang sebagai teman yang butuh teman berbagi, tapi aku tak akan datang padamu karena aku butuh pengalih rasa sakit."

Sehun tersenyum miring. "Aku terima itu."

"Sehun aku minta maaf karena…," kalimat Jongin terhenti saat Sehun memeluknya dengan erat.

"Seandainya kita bertemu lebih cepat, seandainya kau bertemu denganku terlebih dulu apa kau akan memilihku?"

"Entahlah Sehun, aku tidak tahu. Sungguh aku tidak tahu."

"Hmm, semoga kau bahagia dengan Chanyeol." Jongin mengangguk di dalam pelukan Sehun, perlahan Sehun melepaskan pelukannya dan menatap lekat-lekat wajah Jongin.

"Aku haru pergi Sehun, aku traktir Muffin-nya."

"Tentu."

Jongin mengangkat tangannya dengan canggung untuk berpamitan sebelum dia berbalik dan berjalan meninggalkan Sehun. "Maaf," bisik Jongin tak terdengar oleh Sehun.

Sehun menyandarkan punggungnya pada mesin penjual minuman, mengamati meja-meja kosong. Seulas senyum terbentuk di wajahnya yang nyaris sempurna. "Jadi, ini rasanya patah hati."

Jongin berjalan menyusuri trotoar dengan pikiran tentang Chanyeol yang memenuhi otaknya, ia ingat sepanjang perjalanan pulang dari Jangho tak ada obrolan sama sekali yang tercipta hingga membuatnya harus pura-pura tertidur, sepulang dari Jangho keadaan juga tak berubah menjadi lebih baik Chanyeol masuk ke dalam kamar terlebih dulu, saat akhirnya bicarapun sama sekali tak ada keakraban yang tercipta, bahkan Chanyeol mengacuhkannya. Tapi selimut dan bantal, mungkinkah itu permintaan maaf dari Chanyeol?

Jongin menelan ludahnya dengan kasar, dia bukan tipe orang yang pandai dalam mengutarakan perasaan, dia juga selalu canggung jika harus mengakui kesalahan. Jongin mengerutkan kening, dia merasa tak melakukan kesalahan apa-apa pada Chanyeol, tapi jika meminta maaf bisa mengubah situasi menjadi baik, bukankah hal itu patut untuk dicoba? Jongin mulai berlari-lari kecil menuju suatu tempat yang sudah terbayang di dalam benaknya.

Jongin berjalan memasuki toko bunga yang terletak kira-kira dua kilometer dari toko kue milik keluarga Oh. "Selamat datang." Sambutan ramah dari pelayan langsung membuat suasana hati Jongin menjadi baik. Jongin membungkukkan badannya dan mulai meneliti sekilas berbagai bunga yang ada di dalam toko.

Ada berbagai macam bunga dengan wangi berbeda menyambutnya, Jongin langsung berjalan menuju konter untuk memesan bunga yang ia inginkan. Kyungsoo pernah mengatakan jika bunga bisa menyampaikan banyak pesan, itulah alasan Jongin masuk ke toko bunga ini.

"Buket bunga untuk permintaan maaf pada seseorang." Ucap Jongin sopan.

"Apa Anda sedang bertengkar dengan seseorang itu?"

"Situasinya kurang lebih seperti itu."

"Kekasih, pasangan, atau teman?"

"Pasangan." Balas Jongin singkat, perempuan di belakangkonter itu hanya tersenyum kemudian mulai berjalan menuju rak-rak pajangan berisi berbagai macam bunga.

Dulu dengan bodohnya Jongin pernah mengirim Mawar hitam dengan harga selangit untuk Kyungsoo di hari ulang tahunnya, dan Kyungsoo justru mendiamkan Jongin selama dua minggu. Setelah Jongin mencari tahu di internet ternyata mawar hitam itu tanda duka cita, sekarang dia tak ingin mengulangi kesalahan yang sama dengan memilih bunga yang terlihat paling indah dan paling mahal tanpa tahu artinya.

Jongin menunggu dengan sabar sambil memperhatikan televisi layar datar yang tergantung di atas dinding. "Chanyeol," gumam Jongin melihat wajah suaminya di dalam televisi, Chanyeol terlihat bahagia dan tertawa lepas di depan konter Tteokbokki. "Orang itu," cibir Jongin pelan.

"Selesai, ini bunga Anda." Jongin memperhatikan buket cantik berisi mawar merah, putih, dan kuning.

"Ini bunga untuk permintaan maaf?"

"Ya, ini bunga untuk permintaan maaf."

"Terima kasih." Jongin menyerahkan kartunya untuk membayar, setelah menandatangani persetujuan, Jongin melangkah keluar meninggalkan toko bunga. Ia menghentikan taksi untuk membawanya pulang karena Kyungsoo sedang sibuk seperti yang tadi pagi dia katakan.

.

.

.

Kim Jongin sampai di apartemen seperti dugaannya Chanyeol belum pulang, Jongin meletakkan buket bunganya di atas meja makan dan pergi mandi. Lima belas menit di dalam kamar mandi ternyata Chanyeol belum juga menampakkan diri. Jongin duduk di depan meja makan, mulai bosan, dan perutnya mulai lapar, malas keluar dan malas memasak, Jongin memilih untuk memesan makanan.

"Dua porsi Jjajangmyeon, terima kasih, pembayarannya dengan kartu, baik akan saya kirimkan alamatnya." Jongin mengakhiri panggilannya kemudian mengetikkan alamat apartemen Chanyeol dan mengirimkannya. Selanjutnya, dia kembali terkapar di atas meja makan, bosan, sesekali memandangi buket bunga, sesekali memutar-mutar ponselnya. Bosan, Jongin memilih untuk memainkan salah satu aplikasi game dalam ponselnya.

Bel pintu berbunyi, dengan malas Jongin menyeret kakinya mendekati pintu, tentu saja itu bukan Chanyeol karena dia kan tahu kode masuknya. "Ini pesanan Anda Tuan."

"Ah terima kasih." Jongin menandatangani tanda penerimaan kemudian mengambil pesanannya. "Terima kasih," ucap Jongin sekali lagi sambil menundukkan kepalanya. Jongin berbalik, bermaksud menutup pintu dengan kakinya.

"Tunggu!" suara berat itu milik Chanyeol, Jongin mengurungkan niatnya untuk menendang pintu masuk, Chanyeol masuk dengan tergesa-gesa dan menutup pintu.

"Kenapa kau berantakan?"Jongin memperhatikan wajah Chanyeol yang memerah, keringat membasahi dahi dan turun dari pelipisnya, dan jangan lewatkan napas Chanyeol yang memburu. "Kau baik-baik saja kan?"

Chanyeol mengangguk pelan. "Hanya mencoba meloloskan diri dari fans."

"Oh." Balas Jongin singkat iapun berjalan menuju meja makan dengan Chanyeol mengekor di belakangnya. "Aku memesan Jjajangmyeon kau mau makan atau sudah kenyang?"

"Aku mau makan." Ucap Chanyeol kemudian tersenyum lebar.

"Cuci tanganmu dulu."

"Hehehe, kau mulai menjadi istri yang baik ya." Ledek Chanyeol, Jongin tak peduli, Chanyeol menelan ludahnya kasar bercanda dengan Jongin itu terkadang membutuhkan trik khusus.

Jongin membuka pembungkus mie bersaus hitam itu dan menyajikannya ke atas meja makan. "Ambil air mineral dari dalam lemari pendingin." Perintah Jongin yang diangguki Chanyeol.

"Wow, ada buket bunga dari siapa?" Chanyeol bertanya sambil meletakkan dua botol air mineral ke atas meja makan.

"Untukmu." Balas Jongin tak terlalu nyambung dengan pertanyaan Chanyeol sebenarnya.

Chanyeol duduk di hadapan Jongin tangan kanannya meraih buket bunga dan memperhatikannya, ada mawar merah, putih, dan kuning, terlihat indah, tapi dari siapa dan untuk apa buket itu dikiramkan dia sama sekali tak mengerti. "Aku tidak pernah menerima hadiah dari para fansku, pengelola apartemen juga sudah aku beritahu, sekali aku menerima hadiah dari para fans pasti yang lainnya akan iri dan apartemen ini bisa-bisa tak muat menampung semua hadiah yang para fans berikan. Selain itu aku tidak ingin mereka membuang-buang uang, membeli album dan tiket konserku saja sudah lebih dari cukup." Chanyeol menerangkan panjang lebar sementara Jongin mulai memakan mienya. Chanyeol menatap Jongin di hadapannya. "Ini darimu?"

Jongin menggangguk pelan, Chanyeol hanya bisa melongo melihat jawaban yang tak terduga itu. "Benarkah ini darimu?"

"Ya, itu dariku. Itu bunga dengan arti permintaan maaf."

"Meminta maaf? Untuk apa?"

Jongin mengendikkan bahu. "Aku juga tak terlalu yakin, tapi kemarin kau mengacuhkan aku sepulang dari Jangho jadi aku pikir pasti ada yang salah, makanya aku minta maaf."

Chanyeol mengangguk sementara kedua matanya masih sibuk meneliti buket di tangannya. "Terima kasih, aku juga tak terlalu yakin apa salahmu, tapi aku maafkan." Chanyeol berdiri dari kursi diikuti tatapan ingin tahu Jongin. "Aku akan menaruhnya ke dalam vas." Terang Chanyeol.

Jongin melanjutkan acara makannya, sementara Chanyeol mulai mengisi vas panjang dari kristal dengan air. Ia lepas pita dan kain serta kertas pembungkus batang-batang mawar itu, kemudian ia masukkan batang-batang mawar ke dalam vas, menatapnya selama beberapa detik, mengaguminya. "Ini indah, terima kasih Jongin." Chanyeol tersenyum puas vas kristal dengan mawar tampak cocok di atas konter dapurnya.

"Apa harimu menyenangkan?" Chanyeol mengangguk dengan mulut yang sibuk menarik mie. "Kau suka jenis acara seperti itu ya? Menunjukkan kebiasaanmu tanpa perlu berpura-pura."

"Hnn." Gumam Chanyeol. Jongin diam memberi waktu pada Chanyeol untuk menikmati makanannya, iapun memutuskan untuk meneguk air mineralnya, mendorong makanannya dari kerongkongan menuju lambung.

"Pemotretanmu?"

"Berjalan dengan baik."

"Kau bertemu dengan Sehun?" Alis Jongin berkerut samar sementara ia berpikir apakah pertemuannya dengan Sehun perlu dikatakan atau tidak. "Apa yang kau pikirkan?" tanya Chanyeol.

"Aku bertemu dengannya." Tatapan Chanyeol terlihat menuntut. "Kami berbicara dan makan Muffin, itu saja." Tatapan Chanyeol masih menuntut. "Tidak ada lagi Chanyeol, apa yang kau harapkan dari pertemuanku dengan Sehun?"

"Banyak, jelas-jelas Sehun sangat tergila-gila padamu."

"Aku mengatakan padanya jika aku mencintaimu. Aku yakin Sehun bukan orang bodoh untuk mengerti kalimatku."

"Ya, dia tidak bodoh tapi dia juga bukan tipe orang yang akan menyerah dengan mudah."

"Terserahlah," balas Jongin tak peduli. Ia berdiri dan mengambil mangkuk Jjajangmyeon sterofomnya untuk dimasukkan ke dalam tempat sampah.

"Padahal kita baru saja saling memaafkan tapi kau merajuk."

"Aku tidak merajuk Chanyeol, aku hanya membuang mangkuk sterofom ke tempat sampah, apanya yang merajuk?"

"Kau mengacuhkan aku."

"Karena kau terus saja berpikiran buruk tentang Sehun, bukannya aku tak peduli, memang apa yang bisa aku lakukan? aku tidak bisa mengubah pandanganmu terhadap Oh Sehun kan?" KRAK! Jongin meremukkan mangkuk sterofom di tangannya kemudian ia jejalkan ke dalam tempat sampah plastik. "Mandilah, kau berkeringat." Ucap Jongin sebelum berlalu.

"Kapan-kapan kita bisa mampir ke toko kue HAPPY! Jadi Sehun tahu kau milikku!" pekik Chanyeol.

Jongin terkekeh pelan. "Sungguh, sekarang kau terdengar sangat kekanakan Chanyeol." Chanyeol mengacak rambutnya frustasi sementara Jongin kembali ke kamar melakukan entah apa yang ingin ia lakukan di dalam sana.

Chanyeol membuka ponselnya dan dia melihat foto-foto yang tak ingin ia lihat, Chanyeol meninggalkan Jjajangmyeon yang tersisa separuh, kemudian ia makan dengan cepat dan berlari menyusul Jongin ke kamar.

Jongin melepas jaketnya dan kini berbaring di atas tempat tidur yang nyaman, dia sangat mengantuk sekarang dan tidur adalah pilihan terbaik yang bisa dilakukan sekarang. BRAKK! Suara keras pintu terbanting membuat Jongin terlonjak kaget dari atas ranjangnya. "Astaga!" pekik Jongin.

"Kau berpelukan dengan Sehun di Hyde Park London?" geram Chanyeol sembari mendekati Jongin dan menunjukkan layar ponselnya.

"Aku kedinginan, saat itu hujan deras di sana." Balas Jongin santai.

"Aku tidak suka melihatnya."

"Jangan dilihat kalau tidak suka."

"Kim Jongin!" Chanyeol akhirnya meledak namun Jongin bukan tipe orang yang akan mengkerut takut hanya dengan teriakkan itu.

"Kau cemburu? Aku punya banyak foto lain yang sejenis tentu dengan orang berbeda Chanyeol, kau juga kan? Saat itu kita bahkan tak peduli satu sama lain, jadi berhentilah bersikap konyol seperti ini, memuakkan." Jongin berniat keluar kamar meninggalkan Chanyeol seharusnya permintaan maaf itu membuat semuanya menjadi lebih baik namun yang terjadi justru kebalikannya.

"Tunggu." Chanyeol menahan tangan kanan Jongin. "Maaf, kecemburuanku tak beralasan."

"Hmm." Gumam Jongin terlalu marah untuk menjawab.

Perlahan Chanyeol lepas genggamannya dari tangan Jongin. "Aku pikir lebih baik aku mandi sekarang." Jongin tak bergeming, dia bahkan memilih untuk tak menatap Chanyeol saat laki-laki itu pergi dari kamarnya.

Jongin menarik napas dalam-dalam, ia tak mungkin tidur sekarang dengan suasana hati buruk. Iapun memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar kompleks apartemen menggunakan motornya yang masih berada di tempat parkir apartemen Chanyeol.

"Hmmm, hmmm…," Chanyeol bersenandung pelan suasana hatinya menjadi lebih baik setelah mandi dan mencuci rambut. Chanyeol mengeringkan rambut dan berjalan menuju kamar Jongin. "Jongin!" pekik Chanyeol kaget, tadinya dia berpikir Jongin tidur karena dia terlihat sangat lelah tadi. "Kemana dia?" gumam Chanyeol. "Ponselnya ditinggal. Ceroboh sekali."

"Chanyeol!"

"Oh Hyung!" pekik Chanyeol berlari keluar dan menghampiri Xiumin yang sedang berjalan menuju dapur. "Kau kesini?"

"Ya, untuk melihat keadaanmu dan Jongin, kalian tidak bertengkar kan? Semuanya baik-baik saja kan?"

"Ya, lumayan." Balas Chanyeol seadanya. Xiumin mengangguk pelan dan tersenyum kemudian mengambil jus kotak dari dalam lemari pendingin.

"Bunganya indah, dapat darimana?" komentar Xiumin setelah melihat vas berisi bunga mawar di atas konter dapur yang tadi belum sempat ia perhatikan.

"Dari Jongin." Xiumin terkekeh pelan dengan sedotan jus masih berada di dalam mulutnya. "Hyung bisa tersedak." Peringat Chanyeol.

"Aku tidak menyangka Jongin bisa bersikap manis. Dimana Jongin sekarang?"

"Entahlah, dia pergi tanpa pamit dan tak membawa ponselnya."

Dahi Xiumin berkerut. "Kalian bertengkar?"

"Bukan bertengkar mungkin sedikit salah paham, itu saja."

"Jangan lupa minta maaf, setelah Jongin pulang."

"Ya." Chanyeol duduk di hadapan Xiumin.

"Wajahmu terlihat bahagia, kenapa?"

"Karena berita-berita buruk itu sudah menghilang dan saat aku mengikuti acara reality show tadi sambutannya sangat meriah, jadi menyenangkan sekali."

"Kau ini," ucap Xiumin gemas ia acak rambut Chanyeol yang masih setengah kering itu. "Singlemu juga mendapat sambutan baik, aku rasa mengalihkan isu dengan merilis single hanya kau yang melakukannya." Chanyeol nyengir lebar.

"Jongin melakukan pemotretan di toko kue HAPPY, coba kau lihat." Xiumin mengoperkan ponselnya pada Chanyeol, dan Chanyeol menerima ponsel itu dengan patuh. Telunjuk kanannya dengan cepat memindahkan foto-foto yang terpampang dalam layar ponsel pintar di tangannya.

"Dia sangat berbakat," gumam Chanyeol tanpa sadar ia tersenyum memandangi foto-foto hasil jepretan Jongin. "Oh Sehun patah hati, apa-apaan ini?" gumam Chanyeol, iapun tergelitik untuk membuka judul berita itu. Chanyeol mendesah pelan terlalu malas untuk membaca semua huruf yang tertera. "Hyung tolong bacakan." Perintah Chanyeol seenak jidatnya sambil mendorong ponsel Xiumin kembali pada si pemilik.

"Kau ini..," gerutu Xiumin. "Dengarkan baik-baik bocah malas. Oh Sehun supermodel berparas bak dewa ini mengaku telah patah hati, pangakuan yang mengejutkan siapa orang yang mampu menolak pesona seorang Oh Sehun, namun hal itu diutarakan oleh Sehun sendiri dalam wawancaranya dengan majalah ELLE empat jam lalu…,"

"Empat jam?!" potong Chanyeol menyebalkan. "Wah! Berita yang masih segar Hyung."

"Mau dilanjut tidak?" Xiumin melempar lirikan tajam, Chanyeol mengangguk patuh. "Sehun mengatakan jika dia baru-baru ini patah hati, hal pertama yang baru saja ia rasakan mengingat selama ini tak ada yang pernah menolak cintanya bahkan Sehunlah yang selalu menolak pernyataan cinta dari banyak orang. Sehun berharap orang yang menolaknya bahagia bersama pilihan hatinya, namun Sehun juga berharap dirinya masih memiliki kesempatan untuk bersama orang tersebut. Nah, Netizen siapakah orang yang menolak supermodel Oh Sehun? Mungkinkah Kim Jongin, fotografer rupawan yang baru-baru ini bekerjasama dengan Sehun, beberapa orang juga melihat bahwa Sehun dan Jongin sempat menikmati waktu berdua di toko kue milik keluarga OH, sebelum Sehun melakukan wawancara dengan majalah ELLE, mungkinkah saat itu terjadi pernyataan dan penolakan cinta? Selesai!" Xiumin memekik girang.

Chanyeol terdiam, mencerna isi berita yang baru saja Xiumin bacakan. "Jongin benar-benar menolak Sehun." Gumamnya.

"Jongin! Benarkah orang yang menolak Sehun itu Jongin?!"

"Ya, Hyung, apa selama ini Xiumin hyung tidak tahu atau pura-pura tidak tahu sih? Sehun kan tergila-gila dengan Jongin."

"Oh seperti itu ya, maaf aku benar-benar tak tahu. Banyak hal yang harus aku lakukan selain membaca berita-berita tak penting macam itu."

Chanyeol sedikit mengerucutkan bibirnya tatapan Xiumin seolah-olah mengatakan padanya bahwa dia bertanggungjawab atas sedikit waktu luang yang dimiliki sang menejer. "Akhir-akhir ini kan aku jarang menyuruh-nyuruh Hyung." Chanyeol melakukan pembelaan.

Xiumin hendak menjawab namun suara ponsel dari saku kemejanya menunda maksudnya. "Kyungsoo." Chanyeol hanya memutar kedua bola matanya jengah, Kyungsoo akan mengalihkan dunia Xiumin, tentu saja.

"Apa?! Baik-baik kami akan segera ke sana, ya tenanglah Kyungsoo."

Nada suara Xiumin tak terdengar baik. "Jongin kecelakaan kita ke Seoul National Hospital sekarang." Ucap Xiumin dengan wajah tegang. Chanyeol langsung berjalan di belakang Xiumin tanpa mengambil baju hangat, dia juga keluar dengan menggunakan sandal rumah, semuanya terlupakan yang ia pikirkan hanyalah keadaan Jongin sekarang.

Keduanya berlari menuju tempat parkir, Chanyeol melirik tempat yang seharusnya ada motor Jongin telah kosong. Chanyeol melompat ke dalam mobil, mengenakan sabuk pengaman, dan Xiumin tanpa mengucapkan apa-apa langsung menjalankan mobil. Berulang kali Chanyeol harus menggenggam tangannya sendiri agar tak gemetar.

Delapan menit kemudian Xiumin menghentikan mobilnya di depan kantor polisi. Letak gedung rumah sakit berhadapan dengan kantor polisi. "Kau pergilah duluan ada beberapa hal yang harus aku urus, Kyungsoo meminta bantuanku." Chanyeol mengangguk pelan. "Kyungsoo menunggumu di liring rumah sakit di depan ruang emergency."

"Ya Hyung." Ucap Chanyeol singkat, iapun keluar dan berniat berlari menyeberangi jalan, saat ia melihat sesuatu yang hampir membuatnya berlutut ke atas tanah. Motor Jongin yang remuk di atas truk evakuasi. Semua pikiran buruk langsung menyerang Chanyeol, melihat keadaan motor itu mustahil Jongin…,"Tidak, Jongin, tidak mungkin…," gumam Chanyeol dengan bibir gemetar menahan tangis. Ia langsung berlari sekuat tenaga, tak peduli apapun bahkan saat menyeberang jalan, beruntung semua kendaraan yang ada tak pernah melewati batas kecepatan, meski beberapa makian diterima Chanyeol semua itu tak penting sekarang.

Chanyeol berlari di sepanjang lorong rumah sakit jalan menuju ruang emergency cukup dia hapal mengingat Jongin pernah dirawat di sana sebelumnya, saat asmanya kambuh.

"Hyung!" pekik Jongin kesakitan saat Kyungsoo menjitak kepalanya dengan keras.

"Kau! Jantungku hampir berhenti karena ulahmu dasar berandal!" Kyungsoo berteriak histeris sambil memukul-mukul lengan kiri Jongin.

"Sudah Hyung jangan menangis meraung-raung seperti ini, aku malu." Gerutu Jongin.

"Diam kau Kamjong brengsek! Kamjong dekil! Bagaimana kalau kau mati?! Dasar sial! Bocah sialan!"

"Hyung…," gumam Jongin lembut tangan kirinya bergerak merangkul pundak Kyungsoo menenangkannya. "Maafkan aku Hyung."

"Jongin." Jongin mengangkat wajahnya mendengar panggilan itu.

"Chanyeol," gumamnya. Chanyeol langsung berlutut di hadapannya dan memeluknya dengan erat. "Cha—Chanyeol!" bisik Jongin terkejut dengan tindakan Chanyeol.

"Syukurlah kau baik-baik saja, syukurlah, syukurlah." Jongin melepaskan tangannya dari pundak Kyungsoo dan beralih mengusap-usap punggung Chanyeol.

"Maaf aku membuatmu cemas." Bisik Jongin, ia tersenyum simpul kemudian menenggelamkan wajahnya pada bahu Chanyeol.

TBC