Ring
Characters: Baekhyun, Chanyeol, Jongin (Kai), Kyungsoo, Xiumin, Sehun, and others
Pairing: Chankai, Chanbaek (slight), Hunkai (Slight)
Warning: BL, Making Love, Mpreg (mentioned)
Rated: T-M
Boomiee92
Halo semua… jumpa lagi dengan saya MC dadakan yang pasti tidak ditunggu-tunggu…., chapter delapan belas ada adegan Making Love maaf jika gak hot, saya emang gak bisa nulis yang hot-hot hahaha, kurang asupan Lemon, weleh! Hot-hot mungkin bukan gaya menulis saya, ini kan Making Love bukan hanya Sex (emang ada bedanya?!) ada donk…. Kalo making love itu melibatkan perasaan jadi bukan hanya napsu (ini anggapan saya sendiri, jadi abaikan) happy reading dan maaf jika ada kekurangan. See you soon….
Previous
"Hyung!" pekik Jongin kesakitan saat Kyungsoo menjitak kepalanya dengan keras.
"Kau! Jantungku hampir berhenti karena ulahmu dasar berandal!" Kyungsoo berteriak histeris sambil memukul-mukul lengan kiri Jongin.
"Sudah Hyung jangan menangis meraung-raung seperti ini, aku malu." Gerutu Jongin.
"Diam kau Kamjong brengsek! Kamjong dekil! Bagaimana kalau kau mati?! Dasar sial! Bocah sialan!"
"Hyung…," gumam Jongin lembut tangan kirinya bergerak merangkul pundak Kyungsoo menenangkannya. "Maafkan aku Hyung."
"Jongin." Jongin mengangkat wajahnya mendengar panggilan itu.
"Chanyeol," gumamnya. Chanyeol langsung berlutut di hadapannya dan memeluknya dengan erat. "Cha—Chanyeol!" bisik Jongin terkejut dengan tindakan Chanyeol.
"Syukurlah kau baik-baik saja, syukurlah, syukurlah." Jongin melepaskan tangannya dari pundak Kyungsoo dan beralih mengusap-usap punggung Chanyeol.
"Maaf aku membuatmu cemas." Bisik Jongin, ia tersenyum simpul kemudian menenggelamkan wajahnya pada bahu Chanyeol.
Bab Delapan Belas
"Kau yakin tak kedinginan?" Chanyeol hanya menggeleng pelan. keduanya duduk di kursi belakang mobil Kyungsoo. Dari lorong rumah sakit hingga di dalam mobil, Chanyeol tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari Jongin. Jongin memperhatikan Chanyeol yang hanya memakai kaos tipis cemas dia kedinginan meski di dalam mobil penghangat telah menyala.
"Apa tanganmu baik-baik saja? Maksudku tak ada yang patah kan?"
"Tidak, hanya enam jahitan lumayan sakit." Jawab Jongin kemudian diiringi dengan tawa pelan, berharap ketegangan bisa sedikit terurai.
"Bagaimana kecelakaan itu bisa terjadi."
Nyatanya, nada bicara Chanyeol tetap tak berubah, Jongin menghembuskan napas kasar sementara otaknya mencoba memanggil kejadian yang membuatnya kecelakaan. "Anjing, ada anjing yang tiba-tiba menyeberang aku menghindarinya dan membanting setir ke kanan, aku tidak tahu bagaimana lengan kananku bisa sobek seperti ini."
"Bagaimana motormu bisa hancur?"
"Dilindas truk dari belakang beruntung aku terpental ke trotoar saat itu, motor penuh kenanganku menghilang." Jongin menundukkan kepalanya, sedih mengingat motor kebanggaannya kini berubah menjadi rongsokan.
"Jangan memikirkan motormu, yang penting kau baik-baik saja."
"Aku pasti kesulitan," gumam Jongin pelan.
"Apanya yang kesulitan?" Chanyeol mendengar gumaman Jongin.
"Melakukan aktifitas," Jongin memandangi lengan kanannya yang kini terbalut perban. "Aku rasa Kyungsoo hyung harus mengubah jadwal kerjaku lagi." Ucap Jongin penuh sesal.
"Aku tidak peduli dengan pekerjaan! Yang penting kau selamat!" pekik Kyungsoo, Jongin mengerutkan keningnya benar-benar diluar kebiasaan Kyungsoo. Jongin mencoba menarik tangannya dari genggaman Chanyeol namun hal itu tak berhasil.
"Chanyeol…," bisik Jongin namun Chanyeol tak bergeming. "Tanganku kebas." Mendengar kalimat itu akhirnya Chanyeol melepaskan genggaman tangannya dari Jongin.
"Aku baik-baik saja." Ucap Jongin saat Chanyeol mengulurkan tangannya untuk membantunya keluar dari mobil.
Setelah menurunkan Chanyeol dan Jongin di tempat parkir gedung apartemen Kyungsoo langsung pergi dia harus mengurus sesuatu di kantor polisi. "Aku akan mengirim pesan apa yang polisi inginkan darimu besok pagi."
"Hyung aku sudah menjalani tes alkohol," gerutu Jongin.
Kyungsoo menggeleng pelan. "Aku juga tidak tahu bodoh, aku bukan polisi, sudahlah untuk sekarang sebaiknya kau tidur jangan lupa minum obatmu untuk meredakan nyeri."
"Ya." Balas Jongin singkat, iapun berbalik dan berjalan meninggalkan Kyungsoo juga tempat parkir, tak lama Chanyeol menyusul dan kembali menggenggam tangannya.
"Kenapa kau tiba-tiba pergi tanpa menungguku selesai mandi?"
Jongin mencoba berkilah namun tatapan menuntut yang Chanyeol lemparkan membuat Jongin tak berkutik. "Kau tahu sendiri saat marah aku tidak bisa berada di tempat yang sama dengan orang yang membuatku marah, itu kebiasaanku."
"Aku ingat, kau hampir melarikan diri di hari pernikahan kita karena bertengkar dengan Suho."
"Hmm." Gumam Jongin.
"Jangan pergi. Jangan pergi lagi dengan cara seperti itu."
"Hmm." Jongin hanya bergumam karena ia tak tahu harus menjawab seperti apalagi untuk perintah yang terlampau sulit seperti itu.
Chanyeol mengetikkan kode pengaman dengan tangan kiri karena tangan kanannya masih sibuk menggenggam tangan kiri Jongin. Chanyeol menggeser tubuhnya agar Jongin bisa masuk. "Terima kasih," gumam Jongin pelan, ia duduk di atas lantai kayu untuk melepas tali sepatunya. "Ah!" Jongin tersentak saat Chanyeol membantunya melepas simpul tali sepatu yang ia kenakan. "Terima kasih Chanyeol," gumam Jongin perlahan. Chanyeol tersenyum miring ia letakkan sepatu Jongin ke dalam rak kemudian mengulurkan tangannya untuk menolong Jongin berdiri. "Hanya tangan kananku yang terluka Chanyeol aku bisa…," Chanyeol menarik lengan kiri Jongin membungkam pemuda berkulit cokelat itu seketika.
"Pukul sepuluh malam, tak terasa sudah selarut ini. Pergilah ke kamar aku ambil minum dulu untukmu."
"Tidak perlu Chanyeol." Jongin mengambil gelas dan menuang air minumnya. "Tolong ambilkan pilnya." Jongin menyodorkan tas plastik berisi obat yang harus dia minum. Chanyeol menurut ia membuka plastik pembungkus pil kemudian menyerahkan tiga pil dengan warna berbeda kepada Jongin. Jongin menelan tiga butir pil tersebut sekaligus dengan segelas air. "Aku bosan minum obat."
"Kalau begitu jauhi masalah dan hiduplah dengan sehat."
"Kau mengejekku? Mana kutahu akan ada kejadian seperti itu." gerutu Jongin, ia letakkan gelas kosong di tangannya ke atas konter dapur, kemudian berjalan menuju kamar. Chanyeol berlari menyusul Jongin dan kembali menggenggam tangan Jongin. "Chanyeol kita tidak sedang menyeberang jalan," gerutu Jongin dan Chanyeol hanya tersenyum konyol.
Jongin duduk di pinggir tempat tidur sementara Chanyeol membuka lemari untuk mengambil bantal tambahan. "Tidurlah," ucap Chanyeol yang langsung dituruti oleh Jongin tanpa protes. Chanyeol berbaring di samping kiri Jongin agar tubuhnya tak mengenai tangan Jongin yang terluka saat mereka terlelap nanti. "Kau ingin mengganti pakaianmu?" Jongin menggeleng pelan. "Baiklah, kau lapar?" Jongin kembali menggeleng. "Bagus, kalau begitu tak ada alasan lagi untuk terjaga." Chanyeol menarik selimut untuk menyelimuti tubuhnya dan Jongin. "Suhunya sudah sesuai?" Jongin tak menjawab, Chanyeol menjulurkan lehernya dan tersenyum melihat Jongin yang telah terlelap.
.
.
.
Chanyeol membuka kedua matanya, terima kasih untuk alarm kokok ayam jantan milik Jongin, perlahan Chanyeol menjulurkan tangannya meraih jam berisik itu dan mematikannya. Saat ia menoleh Jongin masih terlelap. Perlahan Chanyeol menggeser tubuhnya untuk bangun dan menyiapkan sarapan. "Jangan pergi." Chanyeol terhenti dan menoleh menatap Jongin. "Jangan pergi." Ulang Jongin meyakinkan Chanyeol.
Chanyeol kembali merebahkan tubuhnya dan meletakkan tangannya ke atas perut Jongin. "Kenapa tiba-tiba manja?"
"Aku selalu manja saat sakit, Kyungsoo hyung sering menjadi korbanku."
"Benarkah?"
"Tentu saja, karena aku tidak punya siapa-siapa di dekatku selain Kyungsoo hyung."
"Sekarang ada aku." Jongin hanya tertawa pelan mendengar deklarasi Chanyeol. "Kau belum lapar?"
"Belum. Kau?"
"Aku juga belum, kita pesan makanan saja, kau mau apa?"
"Haejangguk."
"Haejangguk? Kau tidak sedang ingin minum alkohol kan?"
"Tidak Chanyeol, aku ingin makan itu, apa ada peraturan harus minum alkohol sebelum makan Haejangguk?"
"Tidak ada peraturan seperti itu, baiklah aku pesankan sekarang." Chanyeol mengambil ponselnya yang ia letakkan di atas nakas dan mulai menulis pesanannya. "Selesai!" pekik Chanyeol girang, berhasil mengirim pesan seperti berhasil memenangkan penghargaan. Jongin mengubah posisi berbaringnya menjadi miring menghadap Chanyeol. Chanyeol tersenyum simpul tangan kirinya bergerak membelai kulit pipi Jongin.
Ponsel di atas nakas bergetar, Chanyeol memeriksa pesan yang masuk dari restoran tempatnya memesan makanan. "Karena banyak pesanan mereka baru bisa mengantar satu jam lagi, bagaimana? Mau memesan di tempat lain atau kita tunggu?"
"Aku tidak masalah menunggu satu jam, kau bagaimana?"
"Tidak masalah, baiklah kita tunggu sejam lagi." Chanyeol bergegas membalas pesan kemudian meletakkan ponselnya ke atas nakas kembali. Chanyeol kembali berbaring miring menghadap Jongin. "Apa ini pertama kalinya kau jatuh dari motor?"
"Tidak, ini yang kedua kalinya."
"Yang pertama kapan?"
Jongin menyipitkan kedua matanya, terlihat berpikir. "Sudah lama, saat itu kira-kira aku masih tujuh belas tahun, lumayan parah rusukku patah dan aku tidak sadar selama tiga hari. Mulai saat itu keluargaku sangat melarang aku naik motor, tapi aku kan berandalan." Jongin terkekeh pelan di akhir kalimat.
"Ya, kau memang berandalan." Gemas Chanyeol menyentil pelan hidung Jongin membuat pemuda berkulit cokelat itu terkekeh diperlakukan seperti anak kecil.
Jongin merapatkan tubuhnya pada Chanyeol, menyandarkan kepalanya pada dada bidang Chanyeol. Chanyeol sendiri hanya tersenyum dan mengusap pelan punggung Jongin. Jongin mengangkat wajahnya menatap kedua mata bulat Chanyeol yang kini juga tengah memperhatikan wajahnya. Perlahan Jongin mendekatkan wajahnya pada wajah Chanyeol, dan tanpa sadar Jongin telah mencium bibir Chanyeol.
"Maaf." Ucap Jongin cepat setelah dirinya menarik wajahnya menjauh. Chanyeol tersenyum simpul melihat wajah merona Jongin.
Chanyeol menahan wajah Jongin dengan tangan kirinya saat Jongin bermaksud untuk berpaling. "Tidak perlu meminta maaf, aku mencintaimu, terima kasih sudah menciumku."
"Bodoh." Ucap Jongin sembari memukul pelan dada Chanyeol.
Dengan cepat Chanyeol mengangkat dagu Jongin dan mencium bibir Jongin lembut. Jongin sempat terkejut dengan tindakan Chanyeol, tubuhnya menegang selama beberapa detik sebelum akhirnya ia sadar apa yang terjadi dan membiarkan Chanyeol menciumnya. Chanyeol memperdalam ciumannya pada bibir Jongin, tangan kirinya bergerak mengusap punggung Jongin perlahan, menarik tubuh Jongin untuk semakin mendekat padanya.
Merasa terganggu dengan kain yang kaos yang Jongin kenakan, perlahan tangan Chanyeol menelusup ke bawah kaos Jongin, mengusap kulit punggung yang tadi terlindungi oleh kain. Jongin mendorong pelan dada Chanyeol, Chanyeol langsung menarik tubuhnya melihat keraguan yang tercetak jelas pada kedua mata gelap Jongin. "Maaf," ucap Chanyeol tangannya kini tak lagi menyentuh kulit punggung Jongin.
"Tak apa, aku ingin melakukannya denganmu." Bisik Jongin dengan menahan perasaan malu dan wajahnya yang terasa sangat panas sekarang.
"Jongin kau tidak perlu memaksakan diri," bisik Chanyeol penuh pengertian.
"Tapi kau ingin melakukannya kan? Kita sudah dua bulan lebih menikah dan…,"
"Baiklah. Tunggu sebentar." Jongin hanya mengernyit heran saat Chanyeol meraih ponsel dan mengetik sesuatu di layarnya. "Aku mengirim pesan pada restoran untuk memperpanjang waktu pengiriman menjadi dua jam." Terang Chanyeol kemudian diiringi senyuman konyol.
"Bodoh," maki Jongin.
"Jadi kita sampai dimana, kau benar-benar ingin melakukannya?"
"Hmm." Gumam Jongin, Chanyeol langsung menindih tubuh Jongin, membuat Jongin terlonjak. "Apa yang kau lakukan?"
"Tentu saja kau tahu sendiri kan?"
"Sekarang? Tidak nanti malam?" Chanyeol menggeleng pelan dan Jongin mulai merasa sedikit menyesal.
.
.
.
Keduanya sama-sama tak mengetahui berapa lama kedua bibir itu saling bertaut, kedua mata Jongin sesekali terpejam menikmati lembutnya bibir Chanyeol yang mencumbunya serta sentuhan-sentuhan lembut namun seolah menghantarkan energi listrik, menyengat dengan cara yang menyenangkan. "Chanyeol," hanya kalimat itu yang bisa Jongin keluarkan dari bibirnya saat bibir lembut Chanyeol kini telah mendarat pada leher jenjangnya serta tulang selangka.
Jongin mengusap kulit punggung Chanyeol yang terasa lembab, tak ada lagi penghalang di antara keduanya. "Kau siap?" bisik Chanyeol dengan suara parau. Jongin hanya bisa mengangguk pelan. Chanyeol menarik napas dalam-dalam untuk menetralkan detak jantungnya. Chanyeol menatap kedua bola mata kelam Jongin, meyakinkan, menghapus keraguan di sana, sekaligus mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.
Perlahan, namun Jongin mencengkeram kedua pundaknya dengan kuat, kedua matanya terpejam. Chanyeol mengecup pelan dahi berkeringat Jongin, mencoba meyakinkan bahwa semuanya akan baik-baik saja. "Jongin," bisik Chanyeol. Tanpa perlu mengatakan kalimat lengkap Jongin tahu apa yang Chanyeol inginkan, perlahan iapun membuka kedua kelopak matanya. "Masih sakit?" Jongin hanya mengangguk perlahan dan berusaha keras untuk tidak mencengkeram pundak Chanyeol terlalu kuat, tak ingin melukai kulit Chanyeol. "Tak apa, aku akan melakukannya dengan perlahan."
"Hmm."
Kedua siku Chanyeol berada di kedua sisi kepala Jongin, menahan tubuhnya agar tak meninding tubuh Jongin. "Apa ini yang pertama untukmu?" Jongin hanya mengangguk. Chanyeol tersenyum tulus. "Terima kasih." Chanyeol menundukkan wajahnya untuk mengecup lembut permukaan bibir Jongin.
"Chanyeol!" pekik Jongin tertahan dan Chanyeol hanya membalas dengan tatapan teduhnya seolah-olah kedua mata itu berkata ya kita telah bersatu sekarang. Dan sebuah tarianpun dimulai, tarian dengan gerakan yang memiliki arti penyatuan, tarian yang dikenal lebih dulu bahkan sebelum manusia mengenal huruf, insting alami untuk mempertahankan keberadaan diiringi musik merdu dengan senar kulit dua anak manusia.
Perlahan Chanyeol menurukan tangannya mencari keberadaan jari jemari Jongin, ketika bertemu ia tautkan jari jemari mereka, masih tampak keraguan pada kedua bola mata kelam Jongin namun Chanyeol tak pernah berhenti untuk meyakinkannya bahwa semua ini adalah benar, penyatuan mereka adalah benar. "Aku mencintaimu Kim Jongin," Chanyeol menundukkan kepalanya dan berbisik pada telinga kanan laki-laki berkulit kecokelatan di bawahnya.
"Chanyeol," bisik Jongin, jari jemarinya yang bertautan dengan Chanyeol mencengkeram erat, tubuhnya memberi isyarat bahwa dirinya akan mencapai suatu titik akhir. Chanyeol mengalihkan perhatiannya pada kedua bibir merah yang indah itu, tanpa menunggu lama ia kecup bibir itu dan mengajak si pemilik untuk mengikuti gerakannya. Chanyeol tak mampu mengeluarkan kata-kata karena kenikmatan yang menyapanya sekarang melebihi segala kenikmatan duniawi yang selama ini telah ia kenal. Ia lepaskan semua hasratnya sesuai dengan insting.
Jongin menarik diri dari tarian Chanyeol, menatap kedua mata bulat yang tampak sayu itu dengan berbagai pertanyaan. "Tak apa Jongin, semuanya akan baik-baik saja." Dengan kecupan lembut pada dahi lembab Jongin, Chanyeol melepaskan penyatuan mereka. Ia berbaring di samping Jongin, mengumpulkan sisa tenaga sambil mendekap tubuh Jongin, mengusap pelan rambutnya yang terasa lembab. Chanyeol merapikan selimut yang menutupi tubuhnya dan Jongin. "Masih ada empat puluh lima menit sebelum pengantar makanan datang."
"Aku tidak ingin tidur." Bisik Jongin. "Aku sudah tidur terlalu lama kemarin malam."
"Sebaiknya kita mandi."
"Hmm." Gumam Jongin sebelum melepaskan tubuhnya dari pelukan Chanyeol dan berbaring memunggungi Chanyeol.
Chanyeol tersenyum penuh pengertian, ia usap pelan belakang kepala Jongin. "Aku akan mandi di kamarku jadi kau bisa memakai kamar mandimu sendiri."
"Ya." Balas Jongin singkat.
Perlahan Chanyeol membawa tubuhnya ke sisi ranjang, memakai pakaiannya yang tergeletak di atas lantai kayu kemudian beranjak dari tempat tidur Jongin. Dia menoleh melihat Jongin yang tak beranjak dari posisi miringnya. "Aku pergi dulu." Ucap Chanyeol yang hanya dihadiahi kebisuan oleh Jongin.
Ketika suara pintu yang tertutup menyapa telinganya barulah Jongin beranjak dari tempat tidur dan melakukan hal yang sama seperti Chanyeol, mandi tentu saja siapa yang betah berlama-lama terbalut kulit lembab penuh keringat dan cairan lain.
.
.
.
"Kau tidak ada acara hari ini?"
"Ada tapi nanti malam, kau sendiri?"
"Tidak ada hanya Kyungsoo hyung ingin mengajakku makan malam dengan beberapa klien yang mau mengulur waktu sampai tanganku bisa lebih bebas bergerak."
"Hmmm." Gumam Chanyeol.
Keduanya duduk berhadapan di meja makan dengan dua mangkuk Haejangguk, sup dari kuah tulang sapi rebus ditambahkan irisan tebal daging sapi rebus, telur rebus, serta kecambah. Sup ini biasanya dimakan setelah minum alkohol, karena itu Chanyeol sempat bertanya apakah Jongin ingin minum sebelum memesan makanan ini.
"Kau pulang jam berapa?"
"Mungkin sampai pagi."
"Aku menginap di rumah Kyungsoo hyung ya?" Chanyeol tertawa pelan mendengar kalimat yang baru saja Jongin ucapkan. "Kenapa?"
"Kau meminta ijin benar-benar istri yang baik." canda Chanyeol, Jongin hanya menggerutu pelan kemudian memilih menikmati supnya dibanding menanggapi godaan Chanyeol yang menjengkelkan.
"Besok pagi aku akan menjemputmu."
"Tidak usah..,"
"Aku akan menjemputmu." Chanyeol bersikeras.
"Terserahlah." Balas Jongin menyerah tak ingin mendebatkan masalah sepele lebih panjang lagi.
Setelah sup di dalam mangkuknya hampir tak bersisa, Jongin meminum obatnya bersama air lalu berdiri dari kursi dan tersenyum pada Chanyeol. "Kau yang mencuci ya." Ucapnya ramah.
"Tentu." Balas Chanyeol datar namun wajahnya tampak menahan senyuman. "Mau kemana?"
"Menyiapkan barang untuk menginap nanti."
"Baiklah, baiklah." Gumam Chanyeol ia memandang sekilas punggung Jongin yang menjauh sebelum perhatiannya kembali pada mangkuk dan tumpukan gelas kotor di dalam bak pencuci. "Aku ini penyanyi terkenal, di rumah harus mencuci peralatan makan." Chanyeol menghembuskan napas beratnya. Meratapi nasib, menucuci adalah hal sepele namun tidak begitu bagi Chanyeol, dia jarang sekali mencuci jadi pekerjaan sederhana ini terasa berat baginya bahkan mungkin lebih berat dibanding begadang semalaman untuk menulis lirik lagu.
Chanyeol baru membersihkan satu buah gelas dan menaruhnya ke dalam rak pengering saat bel pintu berbunyi nyaring, ia raih lap untuk mengeringkan kedua tangannya kemudian berjalan menuju pintu dengan lap yang masih berada di tangannya. "Baekhyun…," bisik Chanyeol tak percaya.
"Halo Chanyeol, apa aku boleh masuk? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu."
"Ah, tentu masuklah." Chanyeol berjalan di depan Baekhyun menunjukkan letak ruang keluarga yang sebenarnya pasti masih diingat Baekhyun dengan baik, namun Chanyeol hanya ingin menunjukkan sikap baiknya kepada tamu. "Duduklah, kau ingin minum sesuatu?"
Baekhyun menggeleng. "Duduklah Chanyeol kita bicara langsung." Melihat keseriusan Baekhyun membuat Chanyeol berfirasat ada sesuatu yang terjadi, ia pun duduk di samping Baekhyun tentu saja dengan memberi ruang jarak di antara mereka.
"Aku—datang, karena aku butuh bantuanmu Chanyeol, maaf, aku sebenarnya berusaha untuk tidak melibatkanmu setelah apa yang aku lakukan." Chanyeol hanya melempar tatapan bingung kepada Baekhyun yang kini tengah menatapnya lekat-lekat.
"Katakan, Baek, bantuan apa yang kau butuhkan?"
"Suho dia…,"
"Apa dia menyakitimu?!"
Baekhyun menggeleng pelan. "Aku tidak bisa menikah dengan Suho, karena aku mencintaimu Chanyeol. Aku bersama Suho untuk melindungi keluargamu. Suho dia.., dia.., dia menderita penyakit self harm. Kau tau maksudku kan?"
"Self harm, benarkah? Tapi dia terlihat baik-baik saja."
"Kau harus melihatnya sendiri, keluargamu juga, mereka harus tahu. Apa kau tahu apa alasan Suho selalu mengenakan kaos atau kemeja lengan panjang?" Chanyeol menggeleng pelan. "Karena ada banyak luka sayatan di lengannya yang harus ia sembunyikan."
"Tapi apa hubungannya denganmu dan kenapa kau mau bersamanya?"
"Sudah aku katakan, aku melakukannya untuk melindungimu dan nama baik keluargamu. Suho dia mencintaiku sejak lama, mungkin itu bukan cinta anggap saja itu obsesi. Dia bilang jika aku tidak mau bersamanya dia akan bunuh diri dengan cara yang tak bisa dilupakan oleh siapapun, dia juga bersumpah akan membuatmu dan ibumu menderita."
"Ya ampun…," bisik Chanyeol tak tahu harus bereaksi seperti apa.
"Awalnya aku tak percaya, tapi dia menyayat lengannya di depan mataku, aku takut, dan saat itu aku sadar Suho bisa melakukan semua yang dia ancamkan."
Chanyeol terdiam mencoba mencerna semua informasi yang baru saja ia dapatkan. "Jadi—apa yang harus aku lakukan?"
"Tolong Suho, dia membutuhkan bantuan kita."
"Baiklah, akan aku pikirkan caranya. Bagaimana mengatur seluruh anggota keluarga dalam agar mereka tahu masalah Suho tanpa membuat Suho curiga."
"Chanyeol, apa kita bisa bersama lagi?"
Sesuatu terasa menekan dada Chanyeol, kenapa Baekhyun harus memberi tawaran yang tidak tepat seperti sekarang. "Aku… Baek..,"
"Maaf, anggap saja aku tidak pernah mengatakannya. Kau sudah menikah dengan Jongin."
Tidak, tatapan rapuh Baekhyun itu melemparkan Chanyeol ke jurang keraguan. Jantungnya berdetak dua kali lebih cepat, ia sadar masih tersisa perasaan untuk Baekhyun dalam hatinya. "Ya, kita bisa kembali bersama."
"Jongin?"
"Aku akan menceraikannya." Chanyeol tidak tahu apa yang diucapkan oleh bibirnya, terlambat untuk menarik semua kalimat yang terucap. Baekhyun mendekapnya erat, dan dia melihat Jongin sudah berdiri di depan kamar, mendengarkan semua kalimat terakhirnya. Tatapan Jongin kosong, dia berjalan mendekat. Dan kini Jongin mengambil tempat duduk yang sama dengan yang di tempati oleh Baekhyun.
"Jo—Jongin..," Chanyeol mencoba memperbaiki situasi.
"Jongin." Baekhyun melepas pelukannya dari Chanyeol, menoleh menatap Jongin.
Jongin tersenyum simpul. "Hyung tenang saja pernikahan ini memang untuk menyelidiki apa yang sebenarnya terjadi di antara Hyung dan Suho hyung."
"Jongin." Panggilan Chanyeol terdengar putus asa.
"Aku punya rencana bagaimana kalau kalian menggelar makan malam dan mengundang semua keluarga dalam atau keluarga terdekat, dengan begitu Suho hyung tak akan curiga, lalu di tengah-tengah acara Chanyeol akan mendekati Suho hyung, menyingkap kemeja lengan panjangnya, menunjukkan kepada semua orang apa yang Suho hyung hadapi dan bagaimana Suho hyung membutuhkan bantuan secepat mungkin, bagaimana?" Jongin memandang ke arah Baekhyun dan Chanyeol mengabaikan hatinya yang tersayat-sayat.
"Itu ide yang brilian Jongin, Chanyeol?" Baekhyun menoleh menatap Chanyeol.
"Ya, itu terdengar sangat brilian."
"Baiklah, aku rasa kalian butuh waktu untuk berdua. Aku akan pergi mengunjungi Kyungsoo hyung. Chanyeol aku tidak perlu hadir di makan malam keluarga kalian kan?"
"Tidak, Jongin."
"Kau urus saja semuanya, aku tunggu surat perceraian darimu." Chanyeol merasakan betapa dinginnya kalimat Jongin saat itu. Jongin berdiri dari sofa, membungkukkan badannya dan kembali ke kamar.
Jongin berusaha mengabaikan rasa sesaknya, ia sambar ransel miliknya memasukkan beberapa potong pakaian, dompet, dan ponsel kemudian ia bergegas keluar. Jongin hanya tersenyum melihat kedekatan Chanyeol dan Baekhyun di ruang keluarga kemudian tanpa berkata apa-apa, Jongin melangkah panjang-panjang meninggalkan apartemen Chanyeol.
TBC
