Ring
Characters: Baekhyun, Chanyeol, Jongin (Kai), Kyungsoo, Xiumin, Sehun, and others
Pairing: Chankai, Chanbaek (slight), Hunkai (Slight)
Warning: BL, Making Love, Mpreg (mentioned)
Rated: T-M
Boomiee92
Halo ini chapter 19, selamat membaca, makasih buat kalian yang sudah bersedia membaca cerita saya apalagi yang review makasih, makasih. Salah ketik, salah eja, EYD hancur, tanda baca lebur, harap dimaklumi, alur terlalu cepat atau cerita yang semakin tidak berbentuk (hancur lebur) hahaha, selamat membaca saja….
Previous
"Itu ide yang brilian Jongin, Chanyeol?" Baekhyun menoleh menatap Chanyeol.
"Ya, itu terdengar sangat brilian."
"Baiklah, aku rasa kalian butuh waktu untuk berdua. Aku akan pergi mengunjungi Kyungsoo hyung. Chanyeol aku tidak perlu hadir di makan malam keluarga kalian kan?"
"Tidak, Jongin."
"Kau urus saja semuanya, aku tunggu surat perceraian darimu." Chanyeol merasakan betapa dinginnya kalimat Jongin saat itu. Jongin berdiri dari sofa, membungkukkan badannya dan kembali ke kamar.
Jongin berusaha mengabaikan rasa sesaknya, ia sambar ransel miliknya memasukkan beberapa potong pakaian, dompet, dan ponsel kemudian ia bergegas keluar. Jongin hanya tersenyum melihat kedekatan Chanyeol dan Baekhyun di ruang keluarga kemudian tanpa berkata apa-apa, Jongin melangkah panjang-panjang meninggalkan apartemen Chanyeol.
Bab Sembilan Belas
Kyungsoo menggeliat pelan, suara bel pintu di pagi hari sangat mengganggunya, siapa yang dengan kurang ajar menekan bel dengan brutal. Dan mengganggu tidur lelapnya. Malas, Kyungsoo menyeret kedua kakinya keluar kamar, bersiap meneriaki siapapun yang ada di depan pintu rumahnya sekarang.
"Kim Jongin!" Kyungsoo berteriak penuh emosi, namun kemarahannya berubah menjadi kecemasan saat Jongin tiba-tiba memeluknya dengan erat dan menangis. "Jongin apa yang terjadi?"
Xiumin yang kebetulan menginap di rumah Kyungsoo ikut terbangun dan melihat apa yang terjadi sekarang. Tanpa Jongin membuka mulutnya, ia yakin apa yang terjadi berhubungan dengan Chanyeol.
"Jongin." Gumam Kyungsoo berusaha menenangkan Jongin.
"Aku akan bercerai Hyung." Ucap Jongin di sela tangisannya. Kyungsoo mempererat pelukannya pada tubuh Jongin berusaha menenangkan, ia menoleh ke belakang dan melihat Xiumin dengan tatapan tak sukanya. Xiumin mendekati Kyungsoo.
"Bawa Jongin masuk, tenangkan dia, di luar dingin."
"Kita masuk, di luar dingin." Kyungsoo menuntun tangan kanan Jongin dengan lembut. Xiumin terlihat tidak senang. "Hyung?" Kyungsoo menatap kekasihnya dengan cemas.
"Ada seseorang yang harus memberi penjelasan." Terlihat jelas Xiumin menahan amarahnya.
"Jangan membuat keributan Hyung." Wanti Kyungsoo sambil menyentuh pelan lengan kanan Xiumin. Xiumin mengangguk setuju.
"Duduklah, aku ambilkan minuman untukmu." Jongin tak menjawab, hatinya hancur dan air mata tak henti-hentinya mengalir keluar, menyedihkan sekali keadaannya saat ini.
Kyungsoo menuju dapur untuk membuat cokelat panas. Sementara Jongin memilih duduk diam memperhatikan berbagai frame foto yang tergantung pada dinding batu bata Kyungsoo, semuanya tampak indah. Jongin berdiri mendekati salah satu foto di atas lemari kaca, fotonya dan Kyungsoo di Lotte World sebelum dirinya pergi ke Afrika. Pantulan kedua matanya yang sembab tampak menjijikkan, Chanyeol, belum pernah ada laki-laki lain yang membuatnya hancur seperti ini. Dia sudah memberikan segalanya dan sekarang Chanyeol justru kembali pada Baekhyun, seandainya saat itu ia masih bersikap waspada dan tak mempercayai ucapan Chanyeol begitu saja. "Brengsek." Umpat Jongin pelan, dadanya terasa sesak sekarang, semuanya sudah berakhir tak ada yang bisa diperbaiki atau disesali.
Jongin menarik napas dalam-dalam, kemudian ia tarik lepas cincin yang melingkar di jari manisnya dan ia masukkan ke dalam saku mantelnya. "Jongin, cokelat panasmu sudah siap." Jongin berbalik setelah membersihkan air mata yang membasahi wajahnya.
"Aku meninggalkan semua barang-barangku di apartemen Chanyeol, bagaimana Hyung?"
"Biar Xiumin hyung yang membawanya kemari, aku akan mengirim pesan untukknya." Jongin mengangguk pelan kemudian berjalan mendekati Kyungsoo dan duduk di hadapannya.
"Kau mau bercerita sekarang?" Kyungsoo menatap Jongin dengan cangkir porselen dalam genggamannya.
"Baiklah, aku harus bercerita untuk mengurangi beban ini. Hyung tahu sendiri ini hanya pernikahan kontrak aku juga tak pernah mengharapkan apapun, lalu Chanyeol meyakinkan aku bahwa dia mencintaiku itu saja, dan semua perhatian yang dia berikan membuatku luluh, lalu sebelum aku kemari Baekhyun datang meminta hubungan mereka kembali seperti semula karena dia terpaksa menikah dengan Suho disebabkan alasan tertentu, aku, tidak ingin menceritakan aib orang lain jadi kita lewati masalah keterpaksaan Baekhyun. Dan Chanyeol setuju, aku jatuh dalam perangkap." Desah Jongin, rasa sakit di dalam dadanya kini berubah menjadi kebencian.
Kyungsoo menelan ludah kasar. "Aku ingin membunuh Chanyeol."
"Tak usah Hyung, jika kau masuk penjara gara-gara orang tak penting itu rugi sekali hidupku Hyung."
"Kau baik-baik saja sekarang?"
"Ya."
"Kau ingin menangis?"
"Aku sudah menangis tadi, sudah cukup. Sekarang aku tidak mau tahu apapun lagi mengenai Chanyeol."
"Aku setuju." Balas Kyungsoo singkat. "Xiumin hyung kan berhubungan dengan Chanyeol?" Kyungsoo menatap ragu-ragu kepada Jongin.
"Itu pengecualian, tenang saja Hyung. Aku tidak akan memintamu menjauhi Xiumin hyung." Jongin mengedipkan sebelah matanya menggoda Kyungsoo melupakan sedikit masalahnya.
"Oh ya sejauh apa hubunganmu dengan Chanyeol?"
"Itu!" Jongin terkejut, tak menyangka Kyungsoo akan bertanya tentang hubungannya dengan Chanyeol. "Itu aku.., kami…,"
"Kim Jongin." Kyungsoo menatap lekat-lekat kedua mata Jongin yang tampak bingung. "Apa kalian sudah melakukannya?"
Jongin memijit pelan batang hidungnya, keringat dingin mulai bermunculan, jika Kyungsoo tahu hal ini, akan sangat runyam. Tragis sekali di pagi yang sama setelah dirinya memutuskan untuk mempercayai Chanyeol, laki-laki itu justru mengkhianatinya. "Kalian melakukannya kan?!" tuntut Kyungsoo.
"Ya." Jongin bergumam pelan.
"Kapan?" Kyungsoo berusaha untuk menenangkan diri, menekan amarahnya dan berusaha agar tak terdengar menuntut.
"Pagi ini sebelum…,"
"Sebelum Baekhyun datang dan Chanyeol setuju untuk memulai hubungan kembali." Potong Kyungsoo cepat dan yang bisa Jongin berikan hanyalah anggukan lemah. "Apa kalian menggunakan pengaman?" Jongin menggeleng pelan. "Bagus Kim Jongin, kau tahu sendiri masa subur pada laki-laki tak dapat dihitung seharusnya kau gunakan otakmu."
"Hyung jangan menambah beban pikiranku, aku sudah cukup hancur sekarang."
"Baiklah, maafkan aku. Aku sudah mengirim pesan pada Xiumin hyung kita ke apartemen Chanyeol untuk membereskan semuanya sekarang."
"Maksud Hyung?"
"Ikut saja."
"Baiklah." Gerutu Jongin meski enggan iapun berdiri dan mengikuti keinginan Kyungsoo. "Memangnya untuk apa kita pergi ke apartemen itu lagi?" Jongin benar-benar tidak suka dengan ide Kyungsoo dan Xiumin, apapun itu jika melibatkan Chanyeol, semuanya menjengkelkan.
"Katakan, apa saja yang ingin kau katakan pada Chanyeol. Pakai sabuk pengamanmu Jongin."
Jongin hanya mendengus. "Apa yang harus aku katakan lagi? Apartemen Chanyeol dekat tak perlu pakai sabuk pengaman." Kyungsoo memberi lirikan tajam namun hal itu sama sekali tak dianggap oleh Jongin.
Sepuluh menit kemudian keduanya sampai di depan bangunan megah, apartemen Chanyeol. "Jongin." Panggil Kyungsoo perlahan.
"Ya, Hyung?"
"Aku mohon jangan melakukan tindakan bodoh."
"Maksud Hyung?"
"Jangan melakukan kekerasan, jika kau melakukannya masalahnya akan semakin runyam, mengerti?"
"Ya." Balas Jongin singkat.
Selanjutnya Kyungsoo turun dari mobil terlebih dahulu dan mengulurkan tangannya pada Jongin. "Ayo." Jongin menyambut uluran tangan Kyungsoo, menggenggamnya erat. Mencoba mencari dukungan.
.
.
.
"Xiumin hyung." Baekhyun menyambut kedatangan Xiumin dengan ramah namun Xiumin tak peduli dengan hal itu. Dia langsung berjalan mendekati Chanyeol yang tampak bingung.
"Kau akan memulai kembali dengan Baekhyun?" tak ada jawaban. "Lalu semua yang kau katakan padaku tentang mencoba dengan Jongin hanya omong kosong?" Chanyeol masih bungkam. "Baiklah Park Chanyeol terima kasih atas jawabanmu yang sangat memuaskan."
"Siapa mereka?" Chanyeol akhirnya membuka mulut setelah melihat dua orang asing masuk.
"Tunjukkan kamar Jongin, aku akan mengambil barang-barangnya. Kenapa terkejut? Apa kau berharap dia akan kembali setelah semua ini? Jangan berkhayal Chanyeol."
"Hyung aku..,"
"Kenapa? Kau mau mengatakan masih ragu dengan perasaanmu? Berapa lama waktu yang kau butuhkan untuk menentukan pilihan, Chanyeol? Semakin lama kau menunggu, kau akan kehilangan lebih banyak lagi."
"Chanyeol…," Baekhyun menggumamkan nama Chanyeol. "Kau mencintai Jongin? Aku tidak memaksamu untuk…," kalimat Baekhyun terhenti saat Chanyeol memeluknya dengan erat.
"Aku akan membantumu Baekhyun." Ucap Chanyeol. "Kim Jongin." Bisik Chanyeol, terkejut dengan kedatangan Jongin.
Jongin berdiri menyaksikan semua itu, Kyungsoo menggeram pelan berniat menghajar Chanyeol melupakan nasihatnya kepada Jongin tadi, namun Jongin mencegahnya. "Jangan membuang tenagamu Hyung." Bisik Jongin, iapun berjalan mendekati Chanyeol yang masih memeluk Baekhyun dengan erat. Keduanya bertemu pandang. "Kau sudah menentukan pilihanmu, jangan lupa semua uang yang harus kau bayarkan padaku Chanyeol." ucap Jongin dengan nada datar tanpa emosi di wajahnya, Jongin melepas cincin di jari manisnya mengembalikannya pada Chanyeol. Ia dekatkan wajahnya pada telinga kiri Chanyeol. "Kau tahu pilihan yang telah dibuat tak bisa ditarik kembali."
Jongin menarik tubuhnya, menatap kedua mata bulat Chanyeol sekilas sebelum berbalik. Vas kristal dengan mawar permintaan maaf tampak mengejeknya, tangan kanan Jongin mendorong vas kristal Chanyeol, vas kristal yang rapuh itu hancur berantakan, seluruh batang mawar bertebaran ke atas lantai. Jongin sengaja melangkahkan kakinya dengan menginjak kuntum-kuntum mawar. Kyungsoo berbalik mengikuti Jongin.
Chanyeol masih memeluk Baekhyun dengan erat berharap inilah pilihan terbaik yang bisa ia putuskan. Semua pernyataan cintanya kepada Jongin, tentu saja itu bukanlah ilusi semata, ia sangat mencintai Jongin namun meminta lebih dari satu cinta, semua itu terdengar egois.
"Hyung jangan pergi, aku mohon." Ucap Chanyeol mencegah kepergian Xiumin. Ia lepas pelukannya dari Baekhyun. "Baek kau tunggu di sini, aku ingin berbicara dengan Xiumin hyung sebentar." Baekhyun hanya mengangguk perlahan. Dari tatapannya jelas-jelas Xiumin tak terlalu suka dengan kalimat Chanyeol. "Kita bicara di atap."
"Aku harap pembicaraan ini penting Chanyeol." Chanyeol mengangguk canggung, kepalanya penuh dengan berbagai hal yang siap meledak sekarang. Chanyeol berjalan terlebih dahulu menaiki anak tangga spiral, tangga yang akan membawa mereka ke atap.
"Apa yang ingin kau bicarakan? Kau ingin mengatakan pilihanmu salah dan bertanya bagaimana cara memperbaikinya?"
Chanyeol menggeleng pelan. "Baekhyun membutuhkan bantuan."
"Apa aku harus terlibat lagi, Chanyeol?"
"Sayangnya begitu, aku tahu alasan Baekhyun meninggalkan aku dan apa yang Suho lakukan agar Baekhyun setuju untuk menikah dengannya. Suho dia punya penyakit, self harm. Aku ingin mengatur makan malam yang dihadiri seluruh keluarga dalam, dan menunjukkan apa yang Suho hadapi, dia memerlukan bantuan." Terang Chanyeol panjang lebar.
"Dan kau akan kembali pada Baekhyun?" Chanyeol tak menjawab, wajahnya dipenuhi dengan kebimbangan. "Apa kau butuh bantuan untuk mengurus perceraianmu?" Chanyeol tak memberi jawaban. "Aku akan membantu semuanya, sampai tuntas, pekerjaanku memang seperti itu dari awal menyelesaikan semua masalahmu. Akan aku beri kabar secepatnya." Xiumin tersenyum simpul kemudian berlalu meninggalkan Chanyeol.
Chanyeol menghembuskan napas berat, ia genggam permukaan pagar pembatas dengan erat. Hatinya seperti tersayat. "Apa yang harus aku lakukan?" tanya Chanyeol pada dirinya sendiri.
.
.
.
Jongin dan Kyungsoo sedang berbaring santai di atas tempat tidur Kyungsoo. Setelah keduanya kembali dari apartemen Chanyeol. "Hyung apa yang harus aku katakan pada keluargaku mengenai perceraian ini?"
"Entahlah, tenang saja Jongin aku akan membantumu sampai semua masalah ini selesai. Lagipula secara tidak langsung ini semua kesalahanku jika kontrak dengan Chanyeol saat itu dibatalkan kau tak akan terjebak dalam pernikahan kontrak menyebalkan ini." Kyungsoo menggerutu panjang lebar.
"Semua sudah terlanjur Hyung, tak perlu disesali."
"Jangan menangis Jongin, berjanjilah untuk tidak menangisi Chanyeol."
"Tidak akan Hyung, sekarang waktunya menata hidup baru. Bagaimana jika aku kembali ke alam liar? Hyung juga akan masuk bangku kuliah."
Kyungsoo terdiam sejenak, mencerna kalimat Jongin dengan seksama. "Jika itu membuatmu bahagia, aku tak keberatan."
"Baiklah, aku ingin pergi setelah semua masalah ini selesai. Hyung masih ingat tawaran dari National Geographic yang waktu itu kan?"
"Ya, aku masih ingat, tawaran itu berlaku selama dua tahun."
"Jika dihitung dari dimulainya tawaran sampai sekarang, belum genap satu tahun, jadi aku masih memiliki kesempatan untuk mengambil tawaran itu."
"Bagaimana jika kau hamil?"
"Ah!" pekik Jongin sedikit terkejut dengan topik yang Kyungsoo bicarakan. "Berarti aku harus mencari jalan lain. Intinya aku akan tetap pergi dari tempat ini."
"Kau tidak akan memberitahu Chanyeol seandainya itu terjadi?"
"Seandainya aku hamil?" Kyungsoo mengangguk pelan sebagai jawaban untuk pertanyaan Jongin. "Entahlah, aku masih belum memikirkan hal itu."
"Baiklah, sebaiknya sekarang kita tidur siang, kau pasti sangat lelah dengan semua hal yang terjadi hari ini."
"Hmm." Gumam Jongin, kedua matanya memang agak berat dan berada di atas ranjang yang nyaman membuat rasa kantuknya semakin menjadi. Kyungsoo berbaring miring memeluk Jongin, memberinya kenyamanan. "Hyung yakin Xiumin hyung tidak menghajar Jongin?"
"Dia sudah cukup dewasa untuk mempertimbangkan semua tindakan."
"Lebih dewasa darimu?"
"Tentu saja. Kau berharap Xiumin hyung menghajar Chanyeol?"
"Aku ingin menghajar Chanyeol."
"Jangan lakukan." ucap Kyungsoo tegas.
"Aku tahu."
"Tidurlah."
"Hmm."
.
.
.
Jongin membuka kedua matanya, Kyungsoo masih terlelap namun tangannya tak lagi ada di atas perut Jongin. Perlahan Jongin menarik tubuhnya menjauh dan turun dari ranjang. Jongin berjalan mengendap-endap tak ingin mengganggu tidur Kyungsoo. "Hyung?" Xiumin duduk di depan meja makan saat Jongin keluar dari kamar Kyungsoo.
"Hai Jongin. Kau mau kemana?"
"Hanya keluar kamar, aku lelah tidur. Apa yang Hyung lakukan di sini?"
"Oh, aku mengantar beberapa barangmu. Sudah aku masukkan ke dalam kamar yang biasa kau tempati saat menginap di sini." Jongin hanya tersenyum simpul kemudian berjalan menuju lemari pendingin untuk mengambil air minum. "Hyung sudah sering meningap di sini?"
"Ya, kira-kira seperti itu."
"Jangan menyakiti Kyungsoo hyung."
"Tentu. Ada hal lain yang ingin aku bicarakan denganmu Jongin."
Jongin masih sibuk menenggak air mineralnya namun tatpan matanya mengisyaratkan kepada Xiumin untuk mengatakan apapun yang ingin ia bicarakan. "Aku sudah mengurus semua surat yang dibutuhkan untuk perceraian kalian."
"Oh." Balas Jongin singkat, dengan botol mineral di tangan kanannya Jongin berjalan mendekati Xiumin dan duduk di sampingnya. "Kalian selalu melakukan segalanya dengan cepat ya?" komentar Jongin yang hanya ditanggapi oleh senyuman miring dari Xiumin.
Berikutnya Xiumin menyodorkan empat lembar kertas kepada Jongin. "Sudah aku gandakan, yang ini adalah persetujuan Chanyeol untuk memberikan semua hakmu, dan yang ini adalah surat perceraian yang harus kau tanda tangani."
"Hmm.., aku harus menandatanganinya sekarang?"
"Lebih cepat lebih baik kan? Kau pasti tak ingin berurusan dengan Chanyeol lagi."
"Kau benar Hyung. Hyung punya bolpoin?" Xiumin menganggukkan kepalanya kemudian merogoh ranselnya mengambil bolpoin untuk Jongin. Jongin menerima bolpoin Xiumin, tanpa ragu ia menandatangani surat cerai itu. "Selesai, terima kasih Hyung, maaf merepotkan."
"Tak apa Jongin. Kau simpan kopiannya, aku pergi dulu. Oh ya Kyungsoo dimana?"
"Masih tidur, aku bisa membangunkannya."
"Tidak usah, biarkan saja dia."
"Hyung ingin menyampaikan sesuatu untuk Kyungsoo hyung?"
"Tidak, aku akan mengirim pesan atau menelfon jika ada sesuatu yang penting."
"Baiklah. Hati-hati di jalan."
.
.
.
Chanyeol sedang duduk di depan televisi, jari telunjuknya dengan cepat menekan tombol-tombol pada remote, kedua matanya menatap kosong benda tipis dengan permukaan kaca di hadapannya. Baekhyun sudah pergi beberapa jam yang lalu. "Chanyeol."
"Xiumin hyung!" pekik Chanyeol, terkejut dari lamunannya.
"Aku sudah mengatur semuanya, malam ini pukul sembilan malam. Bersiap-siaplah, sekarang sudah pukul tujuh, untuk jas aku rasa kau sudah memiliki semua yang kau butuhkan."
"Hyung aku tak mengira semuanya berjalan secepat ini? Apa Suho hyung tak curiga?"
"Tidak, aku mengatakan sesuatu yang membuat seluruh keluarga bersedia untuk berkumpul."
"Apa Hyung?"
"Perceraianmu dengan Jongin, tenang saja Suho tidak tahu bagian itu aku sudah mengatakan pada ibumu hal yang sebenarnya jadi dengan sedikit bantuan beliau, aku pastikan Suho akan datang." Xiumin menyerahkan selembar kertas yang telah ditandangani Jongin. "Tanda tangan dan semuanya selesai."
"Ya, tinggalkan saja di sini."
"Besok pengacaramu yang akan mengambil surat perceraian itu. Aku pergi dulu Chanyeol."
"Hyung, maaf aku mengecewakanmu."
Xiumin tersenyum miring. "Permintaan maaf itu seharusnya untuk Jongin, bukan untukku."
"Hyung, aku benar-benar tidak tahu apa yang harus aku lakukan? Kupikir aku sudah berhasil melupakan Baekhyun, nyatanya saat dia kembali, pertahananku runtuh. Aku mencintai Jongin tapi aku juga—belum bisa melupakan Baekhyun, setelah mendengar alasannya pergi. Jika aku memilih Jongin itu tak adil untuk Baekhyun…,"
"Jika kau memilih Baekhyun itu juga tak adil untuk Jongin. Sejak awal semua ini salah Chanyeol, karena kau terlalu egois, maaf aku tak bisa membantumu kali ini."
"Hyung…," gumam Chanyeol dengan suara parau.
"Kau tahu Chanyeol, di kehidupan ini, kau tak bisa memiliki semuanya. Buatlah pilihan sesuai dengan kata hatimu dan jangan menyesal, kau tak bisa kembali karena pilihan telah kau putuskan."
"Hyung tidak ikut makan malam?" Xiumin menatap wajah Chanyeol yang tampak sendu, kemudian diapun berbalik dan memutuskan untuk pergi. "Terima kasih atas jawabannya, Hyung." Gumam Chanyeol sedih.
Chanyeol menyandarkan kepalanya ke atas sofa, menatap langit-langit apartemennya, sunyi, sekarang apartemennya benar-benar sunyi. Tak ingin tenggelam dalam kesendirian Chanyeol memutuskan untuk bersiap-siap menghadiri makan malam. Ia berdiri dan menyeret kedua kakinya menuju kamar, tanpa sadar Chanyeol melirik pintu kamar Jongin yang kini tertutup dan kosong.
Chanyeol membuka lemarinya yang dipenuhi dengan pakaian-pakaian serta stelan berharga mahal. Ia memilih jas berwarna abu-abu, Chanyeol menyempurnakan penampilannya dengan dasi panjang abu-abu dengan garis horizontal tak simetris, berwarna hitam. Chanyeol berbalik menatap ranjang tempat tidurnya, tidak ada yang istimewa di sana, kecuali meja nakas yang di sana terletak boneka beruang cokelat, boneka yang ia beli saat Jongin sakit, ia perhatikan boneka itu selama beberapa detik lebih lama sebelum memutuskan untuk pergi.
.
.
.
Makan malam keluarga di lakukan di kediaman megah keluarga Tuan Kim Taemoo, Chanyeol tak pernah menginjakkan kakinya di tempat ini lagi sejak dia memutuskan untuk pergi dan mengejar impiannya. Pengawal langsung menyambut kedatangannya dan mengantarkan Chanyeol menuju ruang makan di rumah ini yang ukurannya menurut Chanyeol berlebihan. Sepanjang perjalanannya melintasi lorong-lorong rumah dengan hiasan lukisan, patung, dan vas-vas kristal mahal berisi mawar, Chanyeol memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jas, telapak tangannya lembab berkeringat, karena gugup.
Pintu kembar terbuka dan ruang makan mewah nan megah menyambut penglihatan Chanyeol. Ia langkahkan kedua kakinya dan mengambil tempat duduk di samping sang Ibu, tempat yang selalu menjadi miliknya. "Apa kabar Chanyeol?" bisik nyonya Park.
"Baik." ucap Chanyeol pelan. Chanyeol menatap ayah tirinya dan membungkuk memberi salam, kemudian duduk kembali. Suara langkah kaki terdengar Chanyeol menoleh, masuklah Suho dengan Baekhyun tentu saja. Tuan Taemoo memberi isyarat makan malam bisa dimulai.
Pelayan-pelayan rumah mulai masuk, mereka memakai stelan jas formal. Chanyeol hanya mendengus malas, dia ingin makan malam seperti keluarga normal, dengan ukuran meja normal, hidangan normal, dan pakaian normal. Bodoh, ini semua normal untuk keluarga berlebihannya.
Makanan pembuka dihidangkan, tentu saja masakan ala Perancis. Hal yang sangat disukai oleh Kim Taemoo dan putranya Kim Junmyeon. Escargot atau siput dalam saus mentega bawang putih. Mulai dihidangkan. Jantung Chanyeol semakin bergemuruh, dia tak bisa menunggu lebih lama lagi. "Ayah, Ibu."
"Chanyeol tunggulah sampai kita menyelesaikan hidangan pembuka." Ucap Suho dengan nada tenang dan berwibawa yang sesungguhnya sangat memuakkan.
"Suho memaksa Bekhyun untuk menikahinya, dia mengancam akan melukaiku jika Baekhyun tak bersedia."
"Chanyeol, Ayah tahu kau dan Baekhyun pernah memiliki hubungan, sekarang kau sudah menikah dengan Jongin jadi sudahlah, kalian mulai lembaran hidup masing-masing." Kim Taemoo mencoba menasihati Chanyeol.
Chanyeol menggeram pelan ia berdiri dari kurisnya dan melangkah menuju Suho. "Chanyeol!" pekik Kim Taemoo geram melihat tingkah barbar Chanyeol.
"Menyingkir." Perintah Chanyeol tegas saat beberapa pengawal keluarga Kim mencoba mencegahnya.
"Hentikan dia!" pekik Kim Taemoo.
"Jangan sentuh anakku." Ucap nyonya Park tegas.
"Nana?" Taemoo menatap sang istri memelas.
"Sekali kau menyentuh Chanyeol habislah." Nana membalas dengan suara santai, dia bahkan masih menikmati hidangan pembukanya tak sedikitpun terpengaruh dengan keributan yang sedang terjadi.
Chanyeol menarik kerah Suho dengan kasar, mengabaikan perlawanan Suho kemudian dengan cepat ia singkap jas yang menutupi lengan kanan Suho, memperlihatkan berbagai luka sayatan di sana. "Self harm, dia mengancam Baekhyun dengan ini. Anakmu membutuhkan bantuan tuan Kim Taemoo, maaf anakmu ternyata tak sesempurna seperti bayanganmu selama ini." Chanyeol berkata dengan nada datar kemudian menghempaskan tubuh Suho kembali ke atas kursi dengan kasar. Ia berbalik pergi diikuti Baekhyun di belakangnya.
"Chanyeol!" pekik Suho penuh amarah.
"Duduklah, Kim Junmyeon." Ucap Nana dengan tatapan tajam. "Lee." Nana menjentiikan jarinya, pemimpin pengawalnya mendekat, pria bertubuh kecil dengan rambut poni menutupi hampir seluruh matanya. "Pastikan keamanan Chanyeol dan Bekhyun jangan biarkan Suho atau pengawal keluarga Kim mendekati mereka."
"Baik, Nyonya." Lee berjalan keluar meninggalkan ruang makan yang masih dipenuhi dengan ketegangan.
"Nana?"
"Untuk itulah aku tak bisa menggabungkan perusahaan keluarga kita. Aku tidak bisa mempercayai Suho, aku pasti menjadi Ibu yang sangat buruk jika mewariskan perusahaanku pada orang lain."
"Suho bukan orang lain, Nana." Ucap Taemoo.
"Tapi kami tak memiliki hubungan darah, aku menyayangi Suho seperti putraku sendiri, tapi untuk memastikan bahwa kau menyayangi Chanyeol itu butuh waktu. Aku pikir Suho tak pernah menyayangi Chanyeol, benarkan?" Nana melirik Suho dengan wajah penuh amarahnya. Nana menyelesaikan hidangan pembuka, mengelap mulutnya dengan elegan kemudian berdiri dari kursinya. "Aku akan mencari jalan keluar yang terbaik bagi Suho, tenang saja Taemoo."
Taemoo melirik sang putra menggenggam tangan kanan Suho. "Kau butuh bantuan, Nak."
"Tidak!" pekik Suho. "Aku tak membutuhkan bantuan dari siapapun!" Suho berteriak dengan amarah memuncak, ia berniat untuk meninggalkan ruang makan namun para pengawal keluarga Kim menahannya.
"Bawa dia ke kamar, awasi jangan sampai melukai diri sendiri dan panggilka dokter Han." Perintah Taemoo.
"Baik Tuan."
Taemoo menarik napas dalam-dalam tak peduli dengan teriakkan Suho. Ia pandangi wajah cantik Nana, istrinya. "Aku tidak pernah meminta penggabungan perusahaan, Nana."
"Surat itu?"
"Surat apa?"
Melihat kebingungan di wajah Taemoo, Nana menanggapinya dengan senyum simpul. "Sudahlah, kita pikirkan bagaimana penanganan Suho selanjutnya dan rencana perceraian Chanyeol.
"Chanyeol bercerai?!" pekik Taemoo.
"Sayangnya seperti itu, kita pikirkan jalan terbaiknya tapi untuk saat ini biarkan Chanyeol dan Jongin yang menyelesaikan masalah mereka."
Taemoo mendesah pelan. "Bagaimana caranya berbicara dengan keluarga Jongin?"
"Kita pikirkan bersama-sama jika waktunya tiba."
"Kau benar, sayang."
"Surat itu kau yang menandatanganinya, apa masih berkilah? Aku sudah lama diam dan bersabar, semuanya ada batas Taemoo." Nana berdiri dari kursinya. "Besok pagi surat cerai ada di meja kerjamu, selamat malam. Hidangannya lezat, terima kasih banyak."
.
.
.
"Chanyeol!" panggil Baekhyun. Chanyeol menghentikan langkahnya menatap wajah cemas Baekhyun.
"Ibu sudah mengatur semuanya, kau akan baik-baik saja. Suho tak akan mengganggumu lagi."
"Terima kasih sudah membantuku Chanyeol." Chanyeol hanya mengangguk pelan. "Aku—bolehkah aku pergi ke apartemenmu dan menginap di sana malam ini, aku takut."
"Tentu." Chanyeol mengajak Baekhyun berjalan bersama menuju mobilnya.
"Mino cooper. Aku boleh menyetirnya? Kau tampak lelah."
"Hmm." Gumam Chanyeol sembari menyerahkan kunci mobilnya, Chanyeol menelan ludahnya kasar sebuah kenangan menyeruak, Jongin pernah melakukan hal yang sama seperti Baekhyun.
"Kau kenapa Chanyeol?" Baekhyun yang menerima kunci mobil Chanyeol, heran melihat Chanyeol yang jelas-jelas sedang memikirkan hal lain, atau lebih tepatnya melamun.
"Ah, tidak ada. Di luar sangat dingin cepat masuk." Ajak Chanyeol sebelum berlari memutari mobil menuju kursi penumpang.
Baekhyun menyetir mobil Chanyeol dan berusaha keras untuk mengajak Chanyeol berbicara meski laki-laki di sampingnya itu terlihat jelas sedang memikirkan hal lain. "Sepertinya beritamu dan Jongin belum tersebar." Ucap Baekhyun.
"Ya, itu belum resmi. Setelah resmi pasti semuanya akan berisik." Chanyeol tersentak saat Baekhyun menggenggam tangan kirinya.
"Aku akan membantumu."
"Terima kasih Baek."
Sesampainya di tempat parkir, Chanyeol keluar terlebih dulu dan menunggu Baekhyun untuk berjalan di sampingnya. "Musim dingin sudah dekat."
"Hmm." Gumam Chanyeol sembari melirik ke arah langit. Dan tak menemukan apapun di sana kecuali warna hitam. Di depan pintu apartemen, Chanyeol mengetikkan kode pengamannya, membuka pintu dan mempersilakan Baekhyun untuk masuk.
"Terima kasih Chanyeol."
"Kau tidur di kamar yang biasa ditempati Xiumin hyung." Baekhyun melirik pintu kamar yang terletak tepat di depan ruang keluarga. Chanyeol mengerti maksud yang ingin Baekhyun utarakan. "Kamar itu ditempati Jongin, aku belum sempat membersihkannya."
"Tak masalah." Ucap Baekhyun. Chanyeol berjalan menuju lemari pendingin untuk mengeluarkan sebotol jus jeruk.
"Apa kau lapar? Kita bisa memesan makanan, tadi kan kita tidak sempat makan malam."
"Aku tidak lapar." Baekhyun berjalan mendekati Chanyeol yang berdiri di belakang konter. Chanyeol terkejut saat Baekhyun tiba-tiba memeluknya dari belakang. "Terima kasih sudah membantuku Chanyeol." ucap Baekhyun suaranya sedikit teredam punggung Chanyeol, karena ia tenggelamkan wajahnya pada punggung tegap itu.
Baekhyun melepaskan pelukannya pada pinggang Chanyeol, menarik lengan kanan Chanyeol membuat mereka berhadapan. Perlahan tangan kanan Baekhyun bergerak ke leher belakang Chanyeol, membuat pria jangkung itu merendahkan wajahnya.
"Sebaiknya kita tidur sekarang." Ucap Chanyeol menarik tubuhnya menjauhi Baekhyun. Baekhyun tersenyum tipis kemudian diiringi anggukan. Chanyeol melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Baekhyun di dapur, Baekhyun merasa kecewa dengan penolakan Chanyeol, ia tahu dengan pasti apa yang terjadi dengan Chanyeol. Baekhyun tersenyum sedih, ia tak ingin menjadi penghalang antara Chanyeol dan Jongin.
.
.
.
Chanyeol berbaring terlentang di atas tempat tidurnya, jas resminya telah berganti dengan kaos dan celana training. Ia menoleh ke kanan melihat boneka beruang cokelat, ia ambil boneka itu dan tanpa sadar menekan perut si boneka. Suara Jongin terdengar jelas.
Chanyeol hyung, maaf tidak pernah memanggilmu Hyung padahal kau lebih tua, mari berteman. Tanpa sadar Chanyeol tersenyum mendengar suara Jongin yang sebenarnya terdengar menyebalkan itu, ia peluk boneka beruang cokelat itu dengan erat, kemudian ia teringat kado pernikahan dari Sehun yang belum sempat ia buka. Chanyeol bangun dan duduk di pinggir ranjang, ia buka laci nakas dan mengeluarkan kotak hadiah berukuran kecil terbungkus indah. "Apa yang dia berikan?" gumam Chanyeol, perlahan kedua tangannya membuka bungkus kado itu.
Dua kalung emas dengan liontin cincin, di dalam dua cincin itu tercetak nama Chanyeol dan Jongin. "Kenapa dia memberikan ini? Bukankah dia tergila-gila pada Jongin." Chanyeol mengerutkan dahinya, kemudian sebuah pikiran mendatanginya. "Aku rasa dia ingin mengejek kami, dia curiga dengan pernikahan ini." Berikutnya, Chanyeol melempar kedua kalung itu ke dalam laci dan menutup laci dengan kasar.
Chanyeol kembali berbaring ke atas tempat tidur, ia raih ponselnya dan mulai memutar lagu sebagai pengalih pikiran, sayang, lagu yang menarik perhatiannya justru lagu-lagu dengan lirik menyedihkan. Semua lirik yang terdengar seolah menyindir keadaannya sekarang.
I want a sleep tonight in the midnight midnight midnight
How are you? Do you think of me from time to time?
In this long night, I close my eyes again, I think of you, I can't sleep
This is how I'm doing
The night especially longer tonight, this night without you
I'm regretting that day I let you go….
"Menyebalkan," gumam Chanyeol pelan, mendengar alunan lagu BEAST berjudul Midnight itu. Ia putuskan untuk mengakhiri lagu yang sedang ia dengar, memejamkan kedua matanya, memaksa dirinya untuk tidur.
.
.
.
"Kau sudah bangun?"Baekhyun menyambut kedatangan Chanyeol dengan ramah, ia sedang menyiapkan sereal untuk sarapan. "Aku tak menemukan bahan-bahan untuk dimasak di dalam lemari pendinginmu."
Chanyeol tersenyum tulus. "Tak apa Baek, aku jarang belanja, biasanya aku dan Jo.., aku memesan makanan atau makan diluar." Chanyeol langsung meralat kalimatnya saat bibirnya hampir menyebut nama Jongin di depan Baekhyun.
"Duduk dan makanlah, sebentar lagi aku rasa pengacaramu akan tiba."
"Pengacara?" Chanyeol sempat bingung namun sebuah ingatan menyadarkannya. "Oh pengacara."
Baekhyun membawa dua mangkuk sereal, menyajikan satu mangkuk di hadapan Chanyeol dan satu mangkuk untuk dirinya. Ia duduk di samping Chanyeol, Baekhyun melirik dari ekor matanya, Chanyeol mulai memakan serealnya dan wajah Chanyeol terlihat tak ingin mengatakan apapun atau mengobrol, hal yang selama ini tak pernah Chanyeol lakukan setiap kali mereka bersama.
Baekhyun ingat, Chanyeol akan selalu bertingkah konyol, membuatnya tertawa dengan lelucon yang terkadang tak lucu, Chanyeol akan sangat cerewet. "Apa kau memikirkan Jongin?" Baekhyun sesungguhnya tak ingin bertanya hal itu, namun entah mengapa pertanyaan itu keluar begitu saja seolah tanpa melewati persetujuan otaknya. Chanyeol bungkam. "Apa kau memikirkan Jongin lebih banyak dari aku?" Baekhyun melirik ragu-ragu pada Chanyeol.
"Habiskan sarapanmu." Ucap Chanyeol dengan nada lembut dan pelan. Baekhyun mengangguk pelan menahan rasa sesak di dadanya.
"Kalian sedang sarapan?" tanya Xiumin yang tiba-tiba masuk, tentu saja karena dia tahu kode pengaman apartemen Chanyeol. Dua orang berpakaian santai mengikuti Xiumin. "Selesaikan dulu, kami tunggu." Ucap Xiumin kemudian memimpin dua orang di belakangnya meninggalkan dapur.
Sesungguhnya sereal itu sudah terasa hambar di mulut Chanyeol, namun menyisakan sereal atau membuang serealnya tak mungkin dilakukan, tentu saja Chanyeol memikirkan perasaan Baekhyun. Chanyeol hampir melakukan tarian kemenanangan, saat dirinya berhasil menelan sendokan terakhir sereal rasa cokelatnya.
"Sudah habis?" Baekhyun langsung bertanya, Chanyeol mengangguk bangga. "Baiklah kau temui mereka, aku akan membersihkan peralatan makan."
"Tidak, biar aku yang melakukannya nanti. Kau sudah bangun pagi dan menyiapkan sarapan, sekarang giliranku." Baekhyun tersenyum bahagia, Chanyeol yang pengertian selalu berhasil membuatnya jatuh cinta, pada pria jangkung itu. Chanyeol berjalan meninggalkan Baekhyun, namun Baekhyun berlari mengikutinya. "Kau tidak perlu ikut, ini hanya tanda tangan saja."
"Aku ingin mendukungmu." Ucap Baekhyun bersikeras.
"Baiklah jika itu yang kau mau."
"Terima kasih Chanyeol." Chanyeol diam tak membalas.
.
.
.
"Tinggal tanda tangan di sini Chanyeol." ucap Key dengan nada halus, Onew terlihat tenang duduk diapit Baekhyun dan Xiumin.
"Ya." Gumam Chanyeol singkat. Ia menerima bolpoin dari tangan Key. Surat perceraiannya dengan Jongin, hanya dengan tanda tangan singkat semuanya berakhir. Chanyeol menatap wajah Baekhyun lekat-lekat. Namun ingatan tentang Jongin menyeruak, bagaimana dia tersenyum, marah, tertawa, dan semua hal-hal kecil tentang Jongin. Chanyeol menggenggam erat bolpoin di tangannya sebelum dia jatuhkan. "Aku tidak bisa, maaf Baek. Aku tidak bisa meninggalkan Jongin, saat itu aku sangat bingung tapi sekarang aku—aku yakin, aku mencintai Jongin. Maaf aku tak menepati janjiku."
Beakhyun terkejut dengan ucapan Chanyeol, namun hanya beberapa detik saja sebelum akhirnya ia tersenyum tulus. "Aku mengerti Chanyeol."
Pandangan Chanyeol mulai kabur karena air mata yang menggenang. "Maaf, maafkan aku. Aku menyakiti banyak orang."
"Tak apa aku juga salah, tak jujur sejak awal. Aku mengerti jika kau pada akhirnya jatuh cinta pada Jongin. Dapatkan Jongin kembali Chanyeol." Baekhyun berusaha tersenyum namun hatinya terlalu sakit untuk melakukannya.
Chanyeol berdiri dari duduknya dan merengkuh Baekhyun, keduanya menangis bersama, Baekhyun menangis karena pada akhirnya orang yang ia lindungi memilih orang lain, Chanyeol menangis karena dia telah menyakiti satu orang lagi. "Maaf," bisik Chanyeol, entah sudah berapa banyak kata maaf yang terucap dan ia tahu bahwa kata maaf itu sama sekali tak berarti, seandainya ada cara lain untuk memperbaiki segalanya. Chanyeol akan melakukan apapun. Perlahan ia lepaskan pelukannya dari tubuh Baekhyun. Memandangi kedua mata Baekhyun yang sembab.
"Dapatkan Jongin kembali, aku mendukungmu." Ucap Baekhyun parau. Chanyeol mengangguk pelan, meski di dalam hati ia tahu Jongin tak akan menerimanya kembali dengan mudah, atau dia bahkan tak akan memaafkannya sama sekali.
TBC
