Kyungsoo berlari di sepanjang koridor ruang latihan SM. Suara nyanyian murid-murid lainnya yang sedang latihan terdengar-hilang di telinga Kyungsoo. Kyungsoo terus berlari hingga dia sampai pada pintu keluar gedung institut SM.

Kyungsoo yang tidak memperhatikan apapun, dengan tidak sengaja menabrak keras bahu seseorang yang hendak berjalan masuk ke dalam gedung. Tubuh keduanya sama-sama terhempas. Kyungsoo segera berbalik untuk meminta maaf.

"Aku minta maaf! Aku sedang terburu-buru! Jadi...".

Ucapan maaf Kyungsoo terputus. Kini dia menatap kaget pada orang yang tadi ditabraknya. Seseorang tersebut memegang bahunya yang sakit dan memejamkan erat matanya. Suara ringisan kesakitan membuat Kyungsoo sadar dari kekagetannya.

"Maafkan aku! Aku sungguh minta maaf! Apakah sangat sakit?!".

Kyungsoo mendekati seseorang tersebut. Setelah ragu sesaat, Kyungsoo memutuskan untuk mengusap-usap dan memijat bahu sang korban. Berharap bisa mengurangi rasa sakit. Seseorang itu yang merasa aneh dengan perbuatan Kyungsoo, mendongak. Pandangan mereka bertemu dan mata orang tersebut membesar.

"Kau...? Yang kemarin di halte?" tanya lelaki itu dengan ragu-ragu.

Kyungsoo tidak menyangka bahwa lelaki ini masih mengingatnya. Yah, seseorang tersebut adalah lelaki yang memberikannya payung di halte bus delapan hari yang lalu. Walau baru sekali bertemu, Kyungsoo tidak ingin melupakan sosok lelaki yang telah rela menerobos hujan hanya untuk memberikan payung padanya.

Kyungsoo tidak tahu harus menjawab apa atas pertanyaan lelaki itu. Tidak mungkin dia menjawab kalau Kyungsoo berusaha selama beberapa hari agar mereka bisa bertemu lagi. Tanpa terduga mereka berjumpa lagi dalam keadaan yang tidak terbayangkan. Kyungsoo pun hanya bisa mengangguk.

Lelaki itu tersenyum. "Kita bertemu lagi".

"Yah kita bertemu lagi" jawab Kyungsoo tanpa ekspresi.

Lelaki itu menegakkan tubuhnya. Tangan Kyungsoo yang berada di bahunya terlepas. Mereka berdiri berhadapan masih saling bertatapan.

"Kau murid sini?" kening Kyungsoo mengkerut.

"Tidak. Aku bukan murid disini".

Tentu saja. Kalau dia murid disini, seharusnya mereka sudah pernah bertemu sebelumnya, lalu sering berpapasan dan mungkin sudah saling mengenal.

"Lalu, apa yang kau lakukan disini?" tanya Kyungsoo bingung.

"Aku menunggu temanku".

Kyungsoo masih tidak percaya lelaki yang ditunggunya selama beberapa hari kini ada di hadapannya. Kyungsoo menunggunya karena dia ingin mengucapkan terima kasih pada lelaki tersebut. Kyungsoo ingin mengembalikan payungnya. Kyungsoo ingin membalas budi atas pengorbanannya. Tapi yang terjadi justru Kyungsoo menabraknya dengan sangat kuat.

"Aku.. terima kasih atas bantuanmu kemarin!" Kyungsoo membungkuk dengan sangat sopan. "Aku juga minta maaf karena telah menabrakmu. Maafkan aku!".

Kyungsoo tidak melihat lelaki itu tersenyum lucu karena tingkah Kyungsoo. "Tidak apa-apa. Aku senang bisa membantumu. Dan... bahuku tidak sakit lagi".

Kyungsoo menegakkan tubuhnya. "Benarkah?".

"Benar" lelaki itu mengangguk.

Kyungsoo tersenyum lebar. Dia merasa lega. Bibirnya yang berbentuk hati terukir di senyumannya. Lelaki itu memperhatikan bibir Kyungsoo tanpa si pemilik menyadarinya.

"Ah.. aku tidak membawa payungmu... maafkan aku. Aku akan segera mengembalikannya padamu" ujar Kyungsoo.

"Tidak perlu terburu-buru untuk mengembalikannya" balas lelaki itu.

"Siapa namamu?" Kyungsoo mengulurkan tangannya. Dia tidak akan melewatkan kesempatan untuk berkenalan dengan lelaki tersebut. "Namaku Do Kyungsoo".

Lelaki itu membalas jabatan tangan Kyungsoo. "Namaku Kim Jongin".

"Jongin..." gumam Kyungsoo tanpa sadar. Tersentak dia langsung memperbaiki. "Jongin-ssi. Senang berkenalan denganmu".

"Kyungsoo-ssi. Senang berkenalan denganmu juga".

Setelah mereka berlepas tangan, Kyungsoo berpikir cepat bagaimana caranya agar dia bisa tetap bersama Jongin. Dia tidak mau setelah ini mereka berpisah dan bersikap sebatas kenalan jika suatu saat mereka berjumpa.

"Apa kau masih menunggu temanmu?" tanya Kyungsoo dengan penuh harap bahwa Jongin menjawab iya. Karena dia akan beralasan ingin mengajak Jongin minum kopi bersama. Plis.. plis.. jawab iya.

"Iya".

Bagus! "Apa kau mau minum kopi bersamaku? Aku yang traktir. Sebagai balasan sudah meminjamkan payung padaku".

Plis.. plis jawab iya, atau apapun.. asalkan kau mau menerima ajakanku...harap Kyungsoo dalam hati.

"Boleh saja. Lagipula sepertinya temanku masih latihan" Jongin memasukkan satu tangannya ke dalam kantung celana.

Kyungsoo sangat senang Jongin menerima ajakannya. "Aku punya kafe favorit disekitar sini yang sering aku datangi! Apa kau mau kita mampir kesana? Atau kau punya kafe favorit yang ingin kau datangi?"

Jongin tersenyum melihat tingkah lucu Kyungsoo. Dengan mata besar yang berbinar, terlihat seperti balita berusia dua tahun baginya.

"Sebaiknya pergi ke tempat pilihanmu. Dekat dari sini. Kafe favoritku letaknya sedikit jauh" ujar Jongin.

"Oke! Ayo kita pergi".

Mereka berjalan dalam diam. Jongin diam karena mengikuti langkah Kyungsoo. Sedangkan Kyungsoo diam karena berpikir. Berpikir.

Berpikir betapa senangnya dia bertemu orang yang ditunggunya. Betapa senangnya dia sekarang mengetahui nama lelaki tersebut. Betapa senangnya dia Jongin menerima tawarannya. Betapa senangnya dia Jongin berada si sebelahnya. Dan memikirkan apa saja hal yang akan ditanyakannya hingga mereka bisa mengobrol panjang lebar.

Sesampai di kafe, setelah bersama-sama memesan minuman, keduanya memilih duduk di samping jendela yang mengarah ke jalanan.

"Apa kau seorang pelajar juga?" Kyungsoo membuka pembicaraan.

"Yah. Aku seorang mahasiswa. Dan aku salah satu murid dalam Institut SM".

Apa? Kyungsoo bersumpah dia tidak pernah melihat Jongin berada di gedung SM.

Menyadari Kyungsoo yang bingung, Jongin menambahkan. "Aku murid dari sanggar tari".

Pantas Kyungsoo tidak pernah melihat Jongin lagi. Institut SM mempunyai dua gedung berbeda. Gedung untuk sanggar tari dan sanggar drama berada di daerah timur. Sedangkan gedung untuk sanggar musik berada di daerah barat. Lokasi gedung yang berbeda jelas membuat keduanya tidak pernah berpapasan.

Sanggar yang berada di gedung timur memulai latihan mereka dari jam satu dan mereka libur pada hari minggu dan senin. Sedangkan sanggar musik yang berada di gedung barat memulai latihan mereka dari jam satu juga dan libur pada hari Sabtu dan Minggu. Tetapi untuk sementara ini jam latihan itu tidak berlaku bagi Kyungsoo. Karena dia dan dua murid lainnya mendapat latihan tambahan. Mereka akan dikirim lagi keluar negeri untuk bernyanyi sebagai perwakilan dari negara.

Jika disimpulkan, karena ketidaktahuannya, selama ini Kyungsoo menunggu Jongin dengan sia-sia. Karena Jongin tiba di halte sejam lebih dahulu daripada Kyungsoo yang mendapatkan tambahan latihan jam.

Tapi hal itu tidak akan dipermasalahkan lagi oleh Kyungsoo. Menunggu Jongin, dia dulu tidak benci untuk melakukannya.

"Bukankah hari senin kalian libur? Kenapa kau pulang sangat telat?" tanya Kyungsoo.

"Aku memanfaatkan hari liburku untuk bermain bersama teman-temanku" jawab Jongin.

"Siapa nama temanmu yang berada di sanggar musik? Mungkin aku mengenalnya".

"Kau tidak akan mengenalnya. Karena dia berada di tingkat bawah darimu".

"Bagaimana kau bisa yakin?".

"Kau berada di tingkat teratas. Sedangkan dia berada di tingkat menengah. Karena itu kau mungkin tidak mengenalnya".

Kyungsoo semakin mengerutkan keningnya. "Bagaimana kau bisa tau aku berada di tingkat atas?".

"Jaketmu. Perwakilan dari Institut SM. Hanya orang yang berada di tingkat atas yang dapat dikirim menjadi perwakilan".

Kyungsoo tertunduk malu. Dia memang tidak bisa menghadapi ketika orang lain membicarakan kemampuan bernyanyinya. Terlebih lagi jika orangnya Jongin yang Kyungsoo sendiri tidak mengerti sejak kapan dia jadi begini.

Kyungsoo meminum kopinya. Ada satu hal yang sangat ingin ditanyakannya. Tapi dia terlalu ragu untuk bertanya. Hanya saja pertanyaan itu terus menganggunya.

"Boleh aku bertanya sesuatu? Setelah mendapat anggukan dari Jongin, Kyungsoo melanjutkan. "Kenapa kau... menerobos hujan hanya untuk memberikan payung padaku?" tanya Kyungsoo dengan gugup.

Jongin terdiam. Dia memandang minumannya. Mengaduknya sambil berpikir.

"Aku.. tidak tahu. Waktu itu aku hanya ingin melakukannya. Aku ingin memberikan payung padamu. Karena itu aku berlari pulang ke apartemenku meskipun hujan masih deras".

Dia hanya ingin melakukannya. Terlintas dalam hati Kyungsoo bahwa dia ingin mendengar jawaban yang lain. Tapi sepertinya itu hanya angan belaka pikirnya.

Kyungsoo memaksa tersenyum, tapi senyumannya tulus. "Aku benar-benar berterimakasih atas bantuanmu saat itu".

"Sama-sama. Kopi ini cukup" jawab Jongin.

"Berapa umurmu?" Kyungsoo melipat tangannya di atas meja.

"Sembilan belas".

"Aw, kau adikku" Kyungsoo tersenyum jahil.

"Sudah kuduga meski aku sedikit ragu awalnya. Berapa umurmu?" tanya Jongin.

"Dua puluh".

"Haruskah aku memanggilmu hyung?" tanya Jongin sambil tersenyum cengir.

"Tidak perlu. Tidak perlu seformal itu. Aku juga berharap kita bisa saling memanggil cukup dengan nama kita. Tidak ada embelan -ssi dibelakangnya" usul Kyungsoo.

"Aku setuju, Kyungsoo".

Kyungsoo tersenyum sangat lebar mendengar Jongin memanggil namanya. Cara Jongin memanggil namanya terdengar sangat seksi.

"Jongin" ucap Kyungsoo dengan perlahan yanb membuat keduanya tertawa geli.

"Jadi, kau jago menari, huh?" tanya Kyungsoo.

"Yah, tapi karena aku baru masuk sanggar tari, jadi aku belum bisa dikatakan lihai" jawab Jongin.

Jongin melirik Kyungsoo. "Kenyataannya aku masih jauh level dari kau yang sudah dikirim sebagai perwakilan dari negeri kita"

"Kesempatan itu memang hal yang besar bagiku. Tapi percayalah aku sudah menjalani latihan selama bertahun-tahun untuk mendapatkan prestasi tersebut".

"Berapa tahun?".

Kyungsoo mengingat. "Hmm... setelah tiga tahun?. Yah, setelah tiga tahun".

"Jadi kau sudah menjalani latihan selama tiga tahun di SM?" tanya Jongin terkejut.

"Yah. Ini jalan tahun keempat. Kenapa kau kaget begitu?" tanya Kyungsoo balik.

"Tidak. Aku hanya terkejut" Jongin menggeleng.

"Bagaimana denganmu? Sudah berapa tahun kau belajar nari di SM?".

"Ini tahun pertamaku" jawab Jongin singkat.

"Dan kau sudah berada di tingkat menengah?!" jerit Kyungsoo. "Kau pasti sangat jago menari hingga langsung naik tingkat! Biasanya butuh satu atau dua tahun lebih untuk naik tingkat!".

Kyungsoo takjub. "Waahh... diam-diam kau menutupi kemampuanmu sendiri".

Jongin melihat Kyungsoo yang tersenyum iseng. Jongin menjadi malu.

"Aku tidak tahu kalau sebenarnya dibutuhkan waktu yang lama untuk naik tingkat. Aku pikir aku hanya dinaikkan karena aku rajin latihan dan kata pelatih aku mengalami banyak kemajuan".

"Kalau kau semakin rajin melatih tarianmu di tahun ini, mungkin tahun depan kau sudah bisa dikirim sebagai salah satu perwakilan dari SM".

"Benarkah?".

"Tentu! Ada beberapa murid yang seperti itu" Kyungsoo meyakinkan Jongin. "Suatu saat nanti aku ingin melihatmu menari. Boleh kan?"

Jongin mengangguk. "Tentu saja boleh".

Kyungsoo tersenyum sangat manis mendengar jawaban dari Jongin. Sepertinya hal apapun itu, selama tetap bisa membuat mereka dekat, Kyungsoo merasa sangat senang.

Mereka berdua lanjut mengobrol. Saling menjelaskan tentang diri mereka masing-masing. Ditemani dengan canda tawa dan keisengan. Keduanya merasa sangat nyaman hingga tidak sadar kalau mereka menghabiskan waktu berjam-jam di kafe tersebut, dengan tambahan beberapa gelas kopi tentunya. Dan mereka tidak mempedulikan kalau diluar sana hujan turun dengan lembut.

.

.

.

Jongin dan Kyungsoo duduk bersebelahan di bangku bis. Hujan masih turun. Mood Kyungsoo langsung memburuk dan Jongin tidak banyak berbicara karena merasakan suasana hening mencekam yang dihantarkan oleh Kyungsoo. Tapi Jongin mulai merasa bosan hanya duduk berdiam tidak melakukan apapun.

"Hmm.. hei Kyungsoo" panggil Jongin dengan pelan.

Panggilan Jongin membuat Kyungsoo menoleh. Jongin meneliti ekspresi wajah Kyungsoo untuk memastikan. Emosi tapi tidak marah. Lebih seperti suntuk.

"Aku penasaran. Apa kau punya rekaman saat kau dan murid yang lainnya berada di luar negeri tahun lalu? Saat kalian dikirim menjadi perwakilan".

"Aku punya. Kusimpan untuk jadi kenangan di ponselku. Kenapa?".

"Boleh aku melihatnya? Aku penasaran. Pasti sangat seru".

Kyungsoo tersenyum tipis. "Itu memang pengalaman paling seru".

Kyungsoo mengeluarkan ponsel dan earphone. Jongin mengambilnya dan mulai menonton keseruan pada video. Jongin sangat kagum dan iri melihat murid-murid SM bersama-sama berada di luar negeri menunjukkan bakat mereka.

Ketika video mulai sampai di bagian dimana Kyungsoo dan kedua orang lainnya bernyanyi, Jongin menoleh pada Kyungsoo. Dia ingin menyampaikan sesuatu, tetapi yang dilihatnya adalah Kyungsoo yang tertidur bersandar pada jendela bus.

Jongin menggeleng lucu. Dia mengambil jaket dalam tasnya. Jongin membungkus tubuh mungil Kyungsoo dengan kehangatan jaket Jongin. Jongin mengamati wajah Kyungsoo sebentar. Menurutnya, wajah tidur Kyungsoo sama manisnya dengan wajah senyuman Kyungsoo yang seharian ini menjadi pusat perhatiannya.

Jongin memastikan sekali lagi kalau Kyungsoo masih nyaman, lalu dia kembali melihat video. Tidak sengaja salah menekan, video berpindah ke yang lain. Kini Jongin sedang menonton Kyungsoo yang bernyanyi lagu Na Yoon Kwon - Expectation.

Jongin mendengarnya dengan penuh perhatian. Suara Kyungsoo memang sangat bagus dan lembut. Bagi Jongin, walaupun diakui dia tidak banyak mengerti tentang musik, lagu ballad yang dinyanyikan Kyungsoo meskipun tanpa iringan musik tetap terdengar merdu. Jongin merasa nyaman mendengar nyanyian Kyungsoo.

Jongin mengeluarkan ponselnya. Dia mengirim video rekaman Kyungsoo ke ponselnya lalu menyimpannya. Lalu Jongin kembali lagi menonton video sebelumnya, tentang murid-murid SM di luar negeri. Sesungguhnya Jongin ingin melihat lagi apakah ada video Kyungsoo sedang bernyanyi lainnya. Tapi dia merasa tidak nyaman memeriksa barang pribadi Kyungsoo. Jongin memutuskan untuk mengabaikan keinginannya dan fokus pada video yang sedang ditontonnya.

.

.

.

"Apa Jongin?".

Jongin bisa mendengar nada kekesalan pada suara di seberang telepon. Tapi dia tidak peduli.

"Ayolah Taemin! Aku tau kau mengenal Kyungsoo. Aku melihat sendiri kau, Kyungsoo dan seorang lelaki lainnya bernyanyi saat kalian dikirim keluar negeri tahun lalu! Dan lagi, kau dan Kyungsoo sama-sama sudah berlatih di SM selama empat tahun! Mustahil kau tidak mengenalnya!" protes Jongin panjang lebar.

"Aku tidak bilang aku tidak mengenalnya, sepupu. Aku bilang padamu kau harus menjawab pertanyaanku lebih dulu, lalu aku akan menjawab pertanyaanmu. Apa susahnya sih menjawab pertanyaanku? Padahal aku hanya bertanya apa hubunganmu dengan Kyungsoo" jelas Taemin.

"Aku tidak mempunyai hubungan apapun dengannya".

"Oh benarkah? Lalu kenapa sepupuku sangat bersemangat ingin mencari tahu tentang Kyungsoo? Kau tidak pernah seperti ini sebelumnya terhadap siapapun! Bahkan kau tidak melihat video itu saat aku menyuruhmu untuk menontonnya tahun lalu!" gerutu Taemin.

"Aku tahu dan aku menyesal. Aku baru melihatnya tadi dan kuakui itu memang seru".

"Kenapa kau baru menontonnya setelah kau mengenal Kyungsoo? Apa dia pacarmu?" tanya Taemin bingung.

"Tidak! Aku baru mengenalnya tadi!" jerit Jongin.

"Jadi kalian berteman sekarang?". Taemin menarik napas kaget. "Astaga! Apa kau menyukainya?! Kau jatuh cinta padanya?!".

"TIDAK!" elak Jongin dengan cepat.

"Aku sudah mengenalmu sejak kecil Jongin. Aku tahu kalau kau sedang panik sekarang walaupun aku tidak melihatmu. Sekarang beritahu aku, apakah itu jatuh cinta pada pandangan pertama?!".

"Aku tidak mau menjawab pertanyaanmu! Kau sama sekali tidak membantu!".

Jongin mematikan sambungannya. Dia sebal bukan main terhadap sepupunya yang memang sangat perhatian padanya. Entah bagaimana sejak dulu dia bisa menebak dengan mudah apa yang dipikirkan Jongin.

Jongin sedang bersiap-siap untuk tidur ketika sebuah pesan masuk. Dari Taemin. Dia membaca pesan dalam kegelapan kamarnya.

Dari : sepupu menyebalkan

Untuk : jongin sepupu terimut

Aku tahu apa yang kau minta. Aku akan mengusahakannya sebisaku. Jangan marah lagi sepupu. Aku menyayangimu!

Jongin menggeleng. Dia membalas pesan Taemin.

Dari : jongin sepupu terimut

Untuk : sepupu menyebalkan

Aku tidak marah. Aku menyayangimu juga

Setelahnya Jongin meletakkan ponsel di nakas. Dia meletakkan mp3 player di samping bantalnya setelah dia mengatur gadget tersebut dengan aturan repeat dan volume sedang. Jongin merebahkan kepalanya di atas bantal. Tidak berapa lama dia tertidur ditemani lagu yang tidak berhenti berputar pada satu lagu.

Judul lagu yang tertera di layar mp3 adalah "Expectation - Kyungsoo version"

TBC

.

.

.

Hayooo. Pada kecewa yah? Harapnya Jongin itu hantu atau sosok misterius yang muncul hanya pada saat hujan? Maaf mengecewakanmu hahaha. Kalau aku bikin jalan cerita gitu harusnya aku bikin tanda fantasy atau horor ya kan. Kalau dibikin jalan cerita gitu juga kesannya komik banget. Lagipula tema fantasy itu berat, gak gampang karena daya imajinasi benar-benar harus digunakan. Dan tema seperti yang kalian harapkan itu, percayalah, cocoknya itu angst dengan akhir yang menyedihkan. Sedangkan ini romance dan fluff. Kapan2 deh kalau dapat ide aku bikin ff angst wakakakak.

Oh yah Bi Ame itu artinya hujan hujan. Chapter ini masih pengenalan. Selanjutnya baru nampak cerita mereka bersama hujan. Tapi jujur aja, kok aku jadi agak malas yah untuk lanjut karena banyak yang salah paham sama cerita ini hahaha

Terimakasih buat

mrblackJ (udah lanjut bebh) ,

beng beng max (gapapanya gimana? Mau lanjut baca tau tidak? :p ),

vidyafa11 (singkat jelas padat. Udah dilanjut :) ),

Zheazhiioott (bukan hantu. Manusia. Hantu gak bisa basah hehehe. Udah dilanjut :) ),

Kyungmiie (rahasia :p ) ,

Little kyung kyung (lelaki itu Jongin. Horee! Udah diupdate :) ),

Princechangsa (singkat jelas padat. Udah dilanjut :) ),

Rizd.o12 (gak hilang. Cuma gak ketemu hehehe. Udah dilanjut :) ) ,

Panda cherry ( hahaha udah dilanjut :) ) ,

Gyurievil (akhirnya penantian kyungsoo berakhir. Horee! Udah dilanjut :) ) ,

Elsadafebryanti (hana juga suka :* ) ,

An ( rahasia :p . gini. Jam 4 siang itu sama artinya kayak jam 4 sore. Tapi dalam bahasa inggris sore itu Afternoon (siang), sedangkan malam itu Evening. Makanya jadi gitu. Siang yang hana maksud matahari bersinar, gak mendung kayak sore) ,

Nisakaisa ( hana juga senang bisa buat ff kaisoo lagi. Happy ending kok. Udah ada tulisan romance dan fluffnya :D terimakasih. Ayo semangat!) ,

n13zelf (gak ketemu karena jam pulang beda hahaha. Iya dia jongin) ,

ViraaHee (penasaran kamu terjawab. Udah lanjut :) ) ,

Zulfah wu ( hahaha kai bukan hantu. Kalo dia hantu ff ini jadi hurt beneran dong. Udah lanjut :) ) ,

Elyzabeth kim ( hahaha emang dia sok misterius. Udah lanjut :) )

Terimakasih atas reviewnya!

Wish You Have a Happy Life Everday !