Ring
Characters: Baekhyun, Chanyeol, Jongin (Kai), Kyungsoo, Xiumin, Sehun, and others
Pairing: Chankai, Chanbaek (slight), Hunkai (Slight)
Warning: BL, Mpreg (mentioned)
Rated: T-M
Boomiee92
Selamat membaca, ada kekurangan mohon maaf yaa
Previous
Chanyeol berdiri dari duduknya dan merengkuh Baekhyun, keduanya menangis bersama, Baekhyun menangis karena pada akhirnya orang yang ia lindungi memilih orang lain, Chanyeol menangis karena dia telah menyakiti satu orang lagi. "Maaf," bisik Chanyeol, entah sudah berapa banyak kata maaf yang terucap dan ia tahu bahwa kata maaf itu sama sekali tak berarti, seandainya ada cara lain untuk memperbaiki segalanya. Chanyeol akan melakukan apapun. Perlahan ia lepaskan pelukannya dari tubuh Baekhyun. Memandangi kedua mata Baekhyun yang sembab.
"Dapatkan Jongin kembali, aku mendukungmu." Ucap Baekhyun parau. Chanyeol mengangguk pelan, meski di dalam hati ia tahu Jongin tak akan menerimanya kembali dengan mudah, atau dia bahkan tak akan memaafkannya sama sekali.
Bab Dua Puluh
Jongin bersorak gembira saat penderitaannya mengedit foto selesai. "Akhirnya…, kenapa harus diedit sih? Wajah mereka kan lumayan." Komentar Jongin sembari mengamati wajah Sophie dan beberapa model lain yang berpose dengan si supermodel itu. Tangan Jongin beralih pada ponselnya, memasang handsfree untuk mendengarkan radio, rasanya sudah lama sekali ia tak mendengar radio. "Turn the speaker on," gumam Jongin.
This night that found me again so sad tonight
This night I greet again without you
In the midnigh midnight a
This midnight I can't fall asleep without you…
"Kenapa Midnight dari BEAST." keluh Jongin iapun mengganti frekuensi radio.
A sad night (after letting you go)
A night without you (late regrets)
I've gotten used to you (cuz I'm stupid)
But you won't ever come back on this sad nigt….
"Kenapa Tonight," Jongin kembali mengeluh dengan lagu WINNER itu.
I didn't know we would break up so easily
My tears won't stop flowing…
"Gone not around any longer, SISTAR." Jongin mulai jengah, tangannya kembali mencari frekuensi radio, yang memutar lagu yang bernuansa ceria dan menghentak. "Hah!" pekik Jongin geram saat radio justru memutar lagu Linkin Park berjudul My December.
And I….
Just wish that I didn't feel like there was something I missed…
Dengan cepat tangan Jongin meraih ponselnya berniat untuk mematikan radio, sayang gerakan yang terlalu cepat itu justru membuat ponselnya luput dari genggamannya. PRAK! Ponsel naas itu jatuh ke atas lantai marmer keras dengan posisi layar di bawah. Jongin menelan ludahnya kasar. Dia membungkuk dan meraih ponselnya. Dengan hati-hati memeriksa ponsel ditangannya. "Baik-baik saja." Gumam Jongin saat melihat layar ponselnya berhasil selamat tanpa goresan sedikitpun.
Jongin memasang sebelah earphone untuk mendengarkan musik, hanya mengetes saja karena bagian ponsel yang rawan saat terjatuh adalah layar dan speaker. Bibir Jongin langsung mengerucut, suara ponselnya berubah aneh, seperti orang tercekik saat suara dari lagu yang ia pilih terdengar. "Menyebalkan!" pekik Jongin frustasi, ia lepas earphone dengan paksa lalu ia lemparkan ponselnya ke atas ranjang tempat tidur, ponsel itu terpental beberapa kali beruntung tak mendarat ke atas lantai untuk kedua kalinya.
Jongin berdiri dari ranjang, meraih mantel musim dinginnya dan bergegas keluar kamar. Kyungsoo sedang sibuk menonton berita saat Jongin tiba-tiba melintas di depannya. "Mau kemana?"
"Membeli ponsel baru."
Kyungsoo mengerutkan dahinya. "Jongin, sekarang tengah malam, besok saja. Membeli ponsel juga merepotkan."
Jongin terdiam mencerna kalimat Kyungsoo yang tepat. "Baiklah, aku hanya ingin jalan-jalan sebentar."
"Butuh teman untuk pergi?"
"Tidak Hyung."
"Hati-hati dijalan jangan lupa bawa kunci cadangannya. Pakai pakaian yang hangat." Jongin mengangguk pelan sebelum kembali melangkahkan kedua kakinya meninggalkan Kyungsoo di depan televisi.
Jongin bersenandung pelan sambil melangkahkan kedua kakinya melintasi halaman depan Kyungsoo. Ia membuka kunci pagar kemudian berjalan keluar. "Kenapa keluar malam-malam seperti ini?"
Tubuh Jongin seketika menegang ia masih berdiri memunggungi si pemilik suara. Kedua tangannya sibuk mengunci pintu pagar, mencabut kuncinya dan memasukkannya ke dalam kantung mantel musim dingin. Jongin bergegas berjalan, mengabaikan orang yang ia yakini, kini tengah mengikutinya. "Jongin."
"Lepaskan tanganmu Chanyeol." Jongin menatap tajam Chanyeol sembari menarik bebas tangannya. "Bukan urusanmu aku pergi kemana, atau melakukan apa, semua sudah berakhir kita tidak memiliki hubungan apa-apa."
"Aku tidak akan menceraikanmu."
Jongin mengeraskan rahangnya kedua telapak tangannya mengepal erat. Tidak, dia tidak boleh memukul Chanyeol dan menghabiskan energinya untuk orang tak berguna seperti Chanyeol. "Menyingkirlah dari hidupku," gumam Jongin perlahan sebelum kedua kakinya kembali melangkah. Chanyeol menutup mulutnya namun dia terus berjalan di belakang mengikuti Jongin.
Jongin berbelok masuk ke dalam hypermart, Chanyeol, tentu saja mengekor di belakangnya. Sebenarnya Jongin tidak tahu kenapa dia bisa berakhir di tempat ini, mengingat tak ada satupun barang yang ingin ia beli. "Mau membeli sesuatu?" Chanyeol tersenyum lebar dengan mendorong troli belanja. Jongin hanya menghembuskan napas kasar tak mungkin memaki atau mengusir Chanyeol sekarang, saat semua orang memperhatikan mereka. Bukannya Jongin peduli dengan nama baik Chanyeol, tidak, dia peduli dengan nama baiknya sendiri.
Jongin berjalan memunggungi Chanyeol, Chanyeol berjalan di sampingnya, semua orang yang melihat mereka pasti mengira mereka adalah pasangan muda yang sedang jatuh cinta, padalah kenyataan justru berkata sebaliknya. Jongin melangkahkan kedua kakinya menuju bagian peralatan olahraga, ada suatu benda yang menarik perhatiannya.
"Tongkat baseball?" Chanyeol bertanya dengan bingung, Jongin memilih bungkam kemudian memasukkan tongkat baseball yang dibelinya ke dalam troli. Jongin kembali berjalan kali ini menuju bagian buah dan sayur. Jongin tertarik dengan buah persik atau sering disebut dengan bogsunga ia angkat kotak sterofom berisi dua buah persik, memasukkannya ke dalam troli. Jongin menggumamkan lagu kesukaannya, sejenak ia melupakan kehadiran Chanyeol.
Ada berbagai jenis buah yang selama ini tak Jongin kenal. "Buah-buahan China." Gumam Jongin membaca tulisan khusus yang diletakkan di atas rak buah. "Manisan buah Xing." Dahi Jongin berkerut namun bungkus manisan itu tetap ia masukkan ke dalam troli.
Jongin menatap Chanyeol tajam, kemudian merebut troli dari tangan Chanyeol, ia langsung pergi tanpa menoleh kepada Chanyeol. Setelah membayar semua belanjaannya di kasir Jongin langsung pergi.
"Jongin, maafkan aku. Aku mohon." Ucap Chanyeol tulus, Jongin memilih bungkam dan terus melangkah pergi.
.
.
.
Jongin membuka kunci pagar, masuk, menutup dan menguncinya kembali membiarkan Chanyeol di luar dengan tatapan memelas. Berjalan dengan cepat melintasi halaman rumah Kyungsoo, mengabaikan kehadiran Chanyeol.
"Selamat malam Hyung."
Kyungsoo berbaring di sofa menonton televisi. "Hyung belum tidur? Apa menungguku?"
"Iya, dan tidak. Aku memang menunggumu tapi aku tidak menahan diri untuk tidak tidur."
"Hmm." Jongin mendudukkan dirinya di samping Kyungsoo. "Aku membeli sesuatu, manisan buah Xing, kau pernah memakan ini?"
"Aku pernah, rasanya manis sedikit asam. Kenapa kau membelinya?" Kyungsoo melirik Jongin, curiga, jika sahabatnya itu tengah mengandung.
"Iseng, daripada aku pulang dengan tangan kosong dan hanya merasa marah karena Chanyeol mengikutiku."
"Chanyeol mengikutimu?!" pekik Kyungsoo.
"Ya, aku membeli ini." Jongin mengangkat tongkat baseball dan menunjukkannya kepada Kyungsoo.
"Kau berniat memukul Chanyeol dengan itu?"
"Tidak Hyung, hanya untuk menakuti dia saja."
Kyungsoo menghembuskan napas kasar. "Jangan bertindak bodoh, ingat itu." Jongin mengangguk pelan, ia berdiri dari sofa meninggalkan kantong plastik belanjaannya di atas meja kopi kemudian masuk kamar.
"Semoga tak ada hal buruk yang terjadi." Bisik Kyungsoo, ia matikan televisi yang tengah ditontonnya kemudian memutuskan untuk menutup malam atau tidur.
Kyungsoo baru saja selesai menggosok gigi dan mencuci muka saat ponselnya bergetar, Kyungsoo langsung meraih dan membuka pesan di ponselnya. "Chanyeol," gumam Kyungsoo malas ingin sekali ia abaikan pesan itu namun hati kecilnya berkata bahwa dia harus membuka dan membaca pesan dari Chanyeol itu. "Kenapa meminta bantuaku?" Kyungsoo melempar ponselnya malas, kemudian berbaring di atas tempat tidur dan menarik selimutnya.
Kyungsoo mengigit pelan bibir bawahnya, rasanya benar-benar tidak nyaman mengabaikan keberadaan Chanyeol, apalagi sekarang ponselnya berdering, Xiumin menghubunginya, pasti kekasihnya itu ingin dirinya membantu Chanyeol.
"Ada apa?" dengan suara pelan Kyungsoo menjawab panggilan Xiumin.
"Kali ini Chanyeol serius, aku jamin, tolong bantulah dia Kyungsoo."
"Hyung, aku tidak bisa mempercayai Chanyeol semudah itu."
"Percayalah Kyungsoo."
Kyungsoo merasa napasnya tercekat di tenggorokkan, membayangkan Jongin menderita lagi karena Chanyeol, sungguh dia tak bisa melihatnya lagi. "Baik, Hyung."
"Terima kasih Kyungsoo, aku mencintaimu!" pekik Xiumin girang.
"Hyung, seandainya ini hanya permainan saja dan Chanyeol kembali menyakiti Jongin…"
"Aku jamin kali ini Chanyeol serius." Xiumin memotong kalimat Kyungsoo dengan cepat dan penuh percaya diri.
Kyungsoo menelan ludahnya kasar. "Seandainya itu terjadi, hubungan kita berakhir." Hening selama beberapa saat, tak ada jawaban dari Xiumin. "Itu persyaratannya, kau harus setuju Hyung." Tegas Kyungsoo.
"Baik, baiklah Kyungsoo. Seandainya ini hanya permainan dari Chanyeol, hubungan kita juga berakhir."
"Terima kasih Hyung, aku keluar sebentar lagi." Xiumin mengakhiri sambungan telepon mereka, perlahan Kyungsoo menurunkan ponselnya dari telinga. Ia letakkan ponselnya ke atas tempat tidur, mengambil mantel musim dinginnya dari gantungan dan memakainya.
Kyungsoo berlari-lari kecil melintasi halaman rumahnya. Ia buka kunci pagar dengan rantai yang terasa dingin menyentuh kulit telapak tangannya yang tak terlindung oleh sarung tangan. "Apa yang kalian rencanakan?"
"Aku mengirim bunga permintaan maaf untuk Jongin."
Kyungsoo menjulurkan lehernya melihat entah berapa ratus atau ribuan kuntum mawar merah, kuning, dan putih dalam keranjang-keranjang rotan yang cantik. "Apa Jongin sudah melihat semua ini?"
"Belum, truk bunganya baru tiba beberapa menit setelah Jongin masuk rumah." Terang Chanyeol.
"Baiklah bawa masuk, Jongin sudah masuk kamar. Biasanya dia tak akan keluar lagi karena malas. Jangan berisik untuk menghindari hal yang tak diinginkan. Mungkin Jongin belum tidur." Chanyeol tersenyum lebar, Kyungsoo berbalik dan berjalan mendahului Chanyeol dan Xiumin, tak berniat membantu mereka mengangkati keranjang-keranjang bunga, bantuannya cukup memberi mereka ijin masuk.
.
.
.
Jongin mengerjapkan kedua matanya, keadaan sudah terang di luar jendela, ia baru ingat belum menyetel alarmnya dan ponselnya tak bisa bersuara dengan normal karena terjatuh. "Kenapa Kyungsoo tidak membangunkan aku?" heran Jongin, ia turun dari tempat tidur, menguap lebar, malas bangun sebenarnya tapi dia sedang lapar, jadi terpaksa harus bangun, makanan tidak akan datang sendiri secara ajaib.
"Wow!" pekik Jongin tertahan, saat kedua matanya menangkap puluhan keranjang cantik dengan batang-batang mawar di dalamnya. Menyambutnya saat ia membuka pintu kamar.
"Cantik, apa ada pesta di rumah ini? Tapi pesta apa?" Jongin menyipitkan kedua matanya, dia berjalan mendekati keranjang rotan dengan batang-batang mawar merah, tersenyum membayangkan semua mawar ini kiriman Xiumin untuk Kyungsoo. "Tunggu." Jongin mengamati mawar-mawar di dalam keranjang lain. Mawar merah, kuning, dan putih. Otaknya memanggil memori dengan cepat. "Permintaan maaf," gumamnya, dengan cepat Jongin memeriksa keranjang-keranjang bunga mencari petunjuk pengirim. "Maafkan aku Jongin," gumam Jongin saat menemukan sebuah kartu pada salah satu keranjang, tulisan tangan itu tak salah lagi, tulisan tangan Chanyeol.
Jongin menggeram pelan. "Jongin, tunggu sebentar aku siapkan sarapan. Maaf aku terlambat bangun." Jongin menoleh menatap Kyungsoo.
"Hyung tahu semua ini kan?" Jongin berusaha keras menahan ledakan amarahnya.
"Maaf, Chanyeol terlihat sangat tulus," bisik Kyungsoo kemudian menundukkan wajahnya.
Jongin berbalik dan bergegas keluar. Chanyeol masih bediri di depan pagar, Jongin keluar dengan tergesa-gesa bahkan dia melupakan mantelnya. "Kau benar-benar tak memiliki pekerjaan lain?" cibir Jongin sambil membuka pagar rumah Kyungsoo.
"Jongin, mantelmu! Kau bisa kedinginan!" pekik Chanyeol cemas.
"Hentikan dramamu Chanyeol, masuk dan singkirkan semua bungamu. Itu mengganggu." Jongin berucap dengan dingin kemudian berbalik dan pergi dengan cepat tak memberi kesempatan Chanyeol untuk mengatakan hal lain.
Chanyeol bergegas berlari menyusul Jongin, ia berhenti di hadapan Jongin dengan cepat menghadangnya. "Jongin aku mohon maafkan aku, aku tidak akan pergi sampai kau memberi maaf."
"Kau benar-benar menginginkan maaf dariku?" Chanyeol tak menjawab namun kedua matanya sudah mampu menjawab keinginan terbesarnya. Jongin tersenyum miring. "Tunggu di di luar pagar." Jongin berjalan melewati tubuh Chanyeol dengan ekspresi wajah yang sulit untuk diartikan.
"Jongin!" Kyungsoo mengerutkan keningnya saat Jongin berlari masuk dan keluar dengan tergesa membawa tongkat baseball. "Apa yang dia lakukan?" curiga, Kyungsoo langsung berlari menyusul Jongin.
Chanyeol sedang mengamati keadaan di sekitar tempat tinggal Kyungsoo yang sepi dan nyaman, saat suara pintu pagar menarik perhatiannya. Jongin kembali. "Jongin." Panggil Chanyeol mengabaikan tongkat baseball di tangan Jongin.
Jongin tersenyum miring. "Kita lihat apa kau masih hidup setelah kepalamu aku pukul, jika kau masih hidup mungkin aku bisa mempertimbangkan pemberian maafmu."
"Jongin," bisik Chanyeol tak percaya dengan apa yang didengarnya, namun jika itu satu-satunya cara untuk mendapat maaf Jongin. "Baiklah." Ucap Chanyeol ia melangkah mundur memberi ruang bagi Jongin untuk mengayunkan tongkatnya.
Jongin menggenggam tongkat baseball dengan kedua tangannya, ia melempar tatapan tajam pada Chanyeol. Chanyeol memejamkan kedua matanya, Jongin tak peduli apapun sekarang, yang terpenting adalah memberi Chanyeol pelajaran atas rasa sakit yang harus ditanggungnya.
CLANG! Suara tongkat kayu yang terhempas terdengar nyaring. Chanyeol membuka matanya, Kyungsoo berdiri di hadapannya dengan napas terengah, Jongin kini sudah berada di jalanan tak lagi berdiri di trotoar, Kyungsoo mendorongnya. Jongin masih berdiri tegap menepis kecemasan Chanyeol jika Jongin terjatuh. Tongkat baseball sudah tergeletak di atas aspal. Napas Kyungsoo memburu. "Masuk ke dalam Jongin." Perintahnya. Jongin tak bergeming dari posisinya. "Masuk sekarang!" teriak Kyungsoo sekuat tenaga. Dua orang lain yang ada di sana terkejut selama beberapa saat, Jongin akhirnya bergerak menuruti ucapan Kyungsoo.
Kyungsoo beralih menatap Chanyeol. "Kenapa kau tak melawan?"
"Itu satu-satunya cara mendapat maaf Jongin."
"Kau pikir Jongin hanya bercanda? Kau pikir dia tak akan memukulmu? Dia akan memukulmu."
"Jika itu satu-satunya cara mendapatkan maaf Jongin."
"Jika ingin saling bunuh lakukan di tempat lain, aku tak ingin melihat mayat di depan rumahku." Kyungsoo berbalik kasar meninggalkan Chanyeol yang terpaku.
Jongin masih berdiri di tengah ruangan, terlalu marah untuk bergerak ke tempat lain. Ia melihat Kyungsoo masuk namun dia tak sedikitpun melirik ke arah keberadaannya. Kyungsoo menyambar dua keranjang bunga, dan berjalan cepat menuju halaman belakang. "Hyung!" pekik Jongin yang cemas dengan tindakan Kyungsoo. "Hyung!" panggilnya sekali lagi, namun Kyungsoo tak menjawab, ia lempar keranjang berisi bunga itu ke dalam lubang pembakaran sampah. Kyungsoo berlari ke dalam rumah dan mengulangi semua tindakannya, Jongin hanya berdiri terpaku, dalam situasi seperti ini tak ada gunannya mencoba berbicara kepada Kyungsoo.
Hal terakhir yang Kyungsoo lakukan adalah menyiramkan bensin dan menyulut api. Jongin berlari menghampiri Kyungsoo setelah semuanya selesai dan emosi Kyungsoo terlihat lebih baik, ia dekap tubuh mungil Kyungsoo kemudian dapat ia rasakan tubuh Kyungsoo yang mulai bergetar, suara isakanpun terdengar dengan jelas. "Hyung," bisik Jongin.
"Maaf Jongin." Bisik Kyungsoo disela tangisnya.
"Tak apa Hyung."
"Kau selalu membantuku, mendukungku, menemaniku, dan apa? Yang bisa aku lakukan hanya membuat Chanyeol menyakitimu lagi."
"Sudahlah Hyung, jangan dipikirkan lagi, jangan menangis lagi. Aku mohon."
"Aku tak akan membiarkan Chanyeol menyakitimu lagi, aku janji Jongin."
"Hmm." Jongin bergumam pelan sembari mengusap-usap pelan punggung Kyungsoo. "Kita masuk sekarang, di sini dingin Hyung."
"Ya kau benar, di sini dingin."
.
.
.
Mendapat maaf dari Jongin ternyata sangat sulit, sudah dua pekan lamanya Chanyeol selalu menunggu di depan rumah Kyungsoo setelah dirinya menyelesaikan semua jadwal pekerjaan. Dan entah bagaimana caranya Jongin dan Kyungsoo tak pernah keluar rumah, awalnya Chanyeol cemas jika mereka telah pindah namun Xiumin mengatakan jika keduanya masih tinggal di sana. "Apa yang harus aku lakukan Hyung?" Chanyeol melirik kepada Xiumin dengan putus asa.
"Kita masuk saja, biar aku yang masuk terlebih dulu." Chanyeol mengangguk pelan terlalu putus asa untuk berpikir ulang, mereka juga datang menggunakan mobil Xiumin untuk menghindari pengusiran dari Kyungsoo karena Kyungsoo sudah memperingatkan Chanyeol untuk tak kembali dan Xiumin tak boleh membantu Chanyeol atau hubungan mereka berakhir.
Jongin merubah posisi tidurnya, ia tak bisa memejamkan kedua matanya entah apa yang kini sedang dipikirkan otaknya. Jongin turun dari tempat tidur, berjalan mendekati jendela, ia singkap tirai penutup jendela. Dengan jelas, Chanyeol terlihat duduk di atas kap mesin mobilnya di luar pagar. "Aku tidak peduli." Dengus Jongin, ia tarik kasar tirai penutup jendelanya lalu kembali berbaring. Jongin memutuskan untuk keluar kamar dan bergabung dengan Kyungsoo yang tengah menonton televisi di ruang keluarga.
"Belum tidur?" Jongin menggeleng pelan.
"Chanyeol ada di luar, aku malas melihatnya."
"Kau ingin pindah? Aku bisa mengurusnya untuk sementara supaya hidupmu tenang."
"Hyung ikut denganku?"
"Tentu saja aku akan ikut."
Jongin menyipitkan kedua matanya, mempertimbangkan. "Baiklah, itu ide yang bagus. Tapi rencananya dimana?"
"Banyak, mau yang jauh, agak jauh atau dekat?" Kyungsoo bertanya dengan ekspresi wajah lucu dan dua mata bulat burung hantunya itu. Jongin terkikik pelan. "Jongin!" pekik Kyungsoo jengkel.
"Baiklah, baiklah, sebenarnya mudah saja Hyung. Tempat yang tak dipikirkan Chanyeol, hindari kota-kota besar." Keduanya terdiam larut dalam pikiran masing-masing.
"Bali."
"Huh?"
"Bali, di sana indah kita bisa tinggal di salah satu desa yang ada di sana." Jongin mengerutkan dahi, tak terlalu yakin dengan nama yang Kyungsoo sebut, apa itu pulau? Negara, kota, atau distrik. Menyadari kebingungan Jongin, Kyungsoo langsung mengambil ponsel dan mengetikkan Bali pada mesin pencari. "Ini." Kyungsoo menyodorkan ponselnya membiarkan Jongin memeriksa tempat yang ia sebutkan tadi.
"Indah, aku tak keberatan tinggal di sana selama beberapa waktu. Kau yakin Chanyeol tak akan tahu?"
"Dia tak akan mencari sampai ke pelosok, kita hindari tempat wisata populer di sana."
"Hmm." Gumam Jongin, ia serahkan kembali ponsel di tangannya kepada Kyungsoo.
"Kita update berita harian!" pekik Kyungsoo ceria, ia sambar remote di atas meja dan mulai menyalakan televisi, Jongin hanya menggeram pelan, ia ingin melihat saluran olahraga namun Kyungsoo akan menolak permintaannya mentah-mentah. "Drama terbaru!" Kyungso berteriak antusias, Jongin hanya bisa pasrah sekali lagi.
.
.
.
Ponsel di atas meja kopi itu terus menampakkan panggilan pada layarnya, namun pemuda berkulit cokelat yang duduk di atas sofa putih gading itu tak terlihat tertarik.
"Siapa?"
"Chanyeol."
Kedua mata bulat Kyungsoo menajam, dengan cepat tangan kanannya meraih ponsel Jongin dan menjawabnya. "Park Chanyeol hentikan semua ini, jauhi Jongin. Biarkan dia hidup tenang. Aku akan sangat berterimakasih jika kau melakukkannya!" dengan kasar Kyungsoo menekan tombol merah untuk memutus sambungan teleponnya, napas Kyungsoo terengah, lelah setelah ledakan emosi.
"Sudahlah Hyung, abaikan saja." Ucap Jongin santai.
"Dia ingin meminta maaf padamu."
"Aku tak peduli. Kenapa dia selalu memiliki cara untuk mengganggu hidupku." Keluh Jongin jengah.
"Setidaknya Sehun tak mengganggumu sekarang." Jongin hanya mengerutkan dahinya mendengar kalimat Kyungsoo.
"Aku ingin mencari udara segar."
"Di luar sangat dingin."
"Sekarang kan sudah dekat musim dingin Hyung."
"Butuh teman?" Jongin menggeleng pelan kemudian beranjak dari kursi yang ia duduki. Sambil menggumamkan lagu yang akhir-akhir ini ia sukai, Jongin memakai mantel musim dingin dan melilitkan syal ke lehernya. "Sudah hangat," gumamnya pada diri sendiri. "Hyung aku keluar!" pekik Jongin yang dibalas oleh senyum serta anggukan Kyungsoo.
Saat pintu rumah Kyungsoo terbuka, udara beku menyapa Jongin, namun suhu tubuhnya aman di balik mantel tebal yang kini ia kenakan. Perlahan ia berjalan menuruni undakan setelah menutup pintu kembali. "Wow." Gumam Jongin saat menyadari salju pertama sudah turun sekarang. Kedua kakinya melangkah perlahan, meninggalkan pekarangan berukuran sedang milik Kyungsoo. Setidaknya dengan tinggal bersama Kyungsoo, bisa menekan hasratnya untuk tak melarikan diri ke Afrika.
"Jongin."
Kedua alis Jongin langsung bertaut melihat siapa manusia tak penting yang kini berdiri di hadapannya. "Apa kau menunggu di depan rumah Kyungsoo hyung lagi?" Chanyeol hanya menampakkan tatapan memelas. "Dengar Chanyeol, jika besok aku masih melihatmu di depan rumah ini, aku tak segan melaporkanmu pada Polisi." Jongin berjalan melewati tubuh Chanyeol yang menghadangnya.
"Jongin, saat itu aku benar-benar bodoh. Maaf, maafkan aku bisakah kita memulainya dari awal lagi?"
Jongin hanya tersenyum miring, permintaan maaf bagi Park Chanyeol mungkin sekedar permainan belaka, semudah membalik telapak tangan. "Semua yang terjadi tak akan hilang hanya dengan permintaan maaf, Chanyeol."
"Jongin aku tidak tahu harus melakukan apalagi untuk membuktikan keseriusanku."
"Aku muak denganmu Chanyeol, tolong menyingkirlah aku harus bergegas."
"Jongin." Chanyeol menahan tangan kanan Jongin mencegahnya pergi.
"Chanyeol sudahlah, semua sudah berakhir, sebaiknya kita mulai menjalani hidup masing-masing. Tandatangani surat perceraian itu lalu…,"
"lalu apa?" potong Chanyeol cepat.
"Saat kita bertemu di lain kesempatan, jangan memanggil namaku, jangan memandangku, kau dan aku sama sekali tak saling kenal." Jongin menarik lepas tangannya dari genggaman Chanyeol. "Aku mohon." Tatapan Jongin terlihat putus asa. "Aku tidak ingin tahu semua tentangmu lagi, sudah cukup."
"Jongin aku mohon." Chanyeol bersikeras dan kembali menghadang tubuh Jongin. "Setelah makan malam itu aku langsung meminta maaf padamu, aku tak menunggu lama untuk melakukannya. Kenapa sangat sulit mendapat maaf darimu?"
"Aku sudah mengatakan padamu sekali pilihan dibuat, kau tak bisa menariknya kembali."
"Jongin maafkan aku."
"Diam Chanyeol! Menyingkirlah." Jongin mendorong tubuh Chanyeol dengan cukup keras membuat punggung Chanyeol membentur tiang lampu jalan. Dia tak peduli dengan Chanyeol, apapun yang terjadi. Jongin melangkahkan kedua kakinya dengan cepat menyusuri trotoar. "Sepertinya aku harus memiliki anjing penjaga, biar Park sialan itu digigit!" Gerutu Jongin.
"Jongin."
"Kenapa kau tidak menyerah juga?!" rasanya Jongin ingin sekali memukul Chanyeol dengan keras atau berlari menjauh darinya. Jongin langsung memutar balik, ia memutuskan untuk pulang karena mustahil bisa menikmati jalan-jalan dengan santai jika Chanyeol dapat dipastikan akan mengikutinya.
"Jongin, Jongin, Kai, Kai." Jongin sengaja menulikan kedua telinganya, ia anggap panggilan Chanyeol itu adalah gonggongan anjing tak bermutu. Ia langkahkan kedua kakinya semakin cepat, pergi dari Chanyeol secepat mungkin adalah hal terbaik.
SRET! Kaki Jongin terpeleset, dan dengan menyebalkan Chanyeol menahan tubuhnya, mencegahnya terjerembab ke atas trotoar yang keras dan dingin. "Kau baik-baik saja?"
"Semua gara-gara kau! Dasar sial! Tinggalkan aku sendiri, jika kau tak menggangguku aku pasti berjalan dengan aman!" dengus Jongin, ia membuka pagar halaman Kyungsoo dan menutupnya kembali dengan kasar. Tak peduli dengan keberadaan Chanyeol.
Kyungsoo sedang meneliti tawaran kontrak untuk Jongin saat pintu rumahnya dibanting dengan keras. "Jongin!" pekik Kyungsoo sebal bercampur cemas. "Chanyeol lagi?" tebak Kyungsoo.
"Ya." Jongin berjalan menghampiri Kyungsoo yang kini sedang duduk menonton karena tawaran pekerjaan untuk Jongin dirasa tak sesuai. "Hyung beberapa hari ini Xiumin hyung tak muncul, dan Hyung juga tak sering memegang ponsel lagi. Ada masalah?"
"Tidak ada." Balas Kyungsoo singkat.
"Hubungan kalian terlihat merenggang."
"Semua baik-baik saja Jongin." Kyungsoo menjawab dengan ekspresi wajah datar sementara kedua matanya menatap lekat-lekat layar datar televisi yang sedang menampilkan film pertama Fast Furious.
"Ini karena aku dan Chanyeol?" Kyungsoo tak menjawab membuat kecurigaan Jongin bertambah besar. "Hyung…,"
"Aku memilihmu dibanding Xiumin karena kita keluarga." Potong Kyungsoo cepat dan Jongin tak bisa menemukan kalimat lain untuk membalasnya.
"Sepertinya kita harus memelihara anjing penjaga." Jongin mengalihkan topik pembicaraan tak ingin merasa canggung dengan Kyungsoo dalam durasi yang lebih panjang lagi.
"Anjing penjaga?"
"Hmm, yang ganas." Kyungsoo hanya tersenyum menanggapi kalimat Jongin. "Hyung tidak setuju dengan usulku?"
"Kau itu mau anjing penjaga atau anjing pelacak sih? Yang ganas, jangan-jangan kakimu yang digigit bukannya Chanyeol."
"Hyung aku mau membeli anjing, boleh?"
"Ya, terserah saja."Balas Kyungsoo asal.
"Anjing yang paling ganas," gumam Jongin dengan seringai mengerikan menghiasi wajah rupawannya. Kyungsoo hanya menghela napas panjang, anjing yang paling ganas? Ayolah rumahnya adalah rumah mungil berada di lingkungan biasa, bukan medan perang atau ladang opium. Namun pemikiran itu tak Kyungsoo utarakan mengingat kondisi emosi Jongin sedang labil.
TBC
