Kyungsoo lagi-lagi mendapati dirinya sedang meneliti wajah lelaki yang selama beberapa hari ini dekat dengannya. Lelaki tersebut masih asyik bercerita dengan ceria. Ketika dia menyadari bahwa Kyungsoo hanya diam dan memperhatikannya, dia memiringkan kepalanya.
"Hmm? Kenapa Kyungsoo? Ada sesuatu lagi di wajahku?" tanyanya jahil.
Kyungsoo menggeleng. "Jawabannya masih sama Taemin. Tidak ada sesuatu di wajahmu".
Taemin tersenyum geli. "Jadi, kenapa kau terus memperhatikan wajahku sejak kemarin-kemarin?".
"Itu karena..." ucap Kyungsoo murung "Wajahmu mengingatkanku dengan seseorang".
Taemin diam-diam tersenyum nakal. Dia tahu siapa yang dimaksud oleh Kyungsoo. Dan Taemin sangat yakin dia tidak salah menebak. Orang itu pasti Jongin, adik sepupunya sendiri. Orang-orang yang mengenal mereka berdua pasti berkata bahwa wajah mereka sangat mirip walaupun warna kulit mereka berbeda.
"Siapa? Pacarmu?" tanya Taemin.
Kyungsoo menggeleng lemah. "Bukan".
"Lalu siapa? Teman?" tanya Taemin lagi.
"Aku bahkan tidak tahu kami berteman atau tidak" jawab Kyungsoo.
"Bagaimana bisa begitu?" Taemin mengerutkan keningnya. Sampai sekarang dia masih belum mengerti dan belum tahu apa sebenarya hubungan Jongin dan Kyungsoo.
"Aku..." Kyungsoo diam. Dia ragu.
Sesungguhnya Kyungsoo tidak ingin menceritakan kepada siapapun mengenai perkenalannya dengan Jongin. Dia ingin menyimpannya sendiri. Tapi terkadang, dia merasa sedikit kesulitan tidak ada teman yang bisa diajaknya berbicara mengenai Jongin. Kyungsoo tidak bercerita tentang dirinya dengan Jongin karena dia tidak tahu apa hubungan mereka. Kyungsoo juga tidak tahu harus bagaimana dia menjelaskan bagaimana mereka bisa berkenalan. Ini semua terlalu membingungkan.
Tapi dia pikir, dia bisa bercerita kepada Taemin. Entahlah. Mungkin karena Taemin itu mirip dengan Jongin. Ataupun karena Taemin akhir-akhir ini sangat dekat dan peduli kepada Kyungsoo. Mereka menjadi dekat karena sibuk latihan nyanyi bersama-sama untuk menjadi perwakilan dari sanggar mereka lagi. Kyungsoo, Taemin dan Changmin. Changmin sudah dewasa dan seperti hyung bagi mereka berdua. Sedangkan Kyungsoo dan Taemin seumuran. Karena itu mereka lebih dekat satu sama lain.
"Dua minggu lalu seseorang membantuku. Dia pergi sebelum aku sempat bilang terima kasih. Sejak itu aku terus menunggunya di tempat yang sama dan berharap kami bisa berjumpa. Akhirnya, seminggu kemudian kami berjumpa kembali. Kami berkenalan dan minum di kafe sambil mengobrol. Hanya saja, hubungan kami hanya sampai disitu. Sejak itu kami tidak pernah berjumpa lagi" cerita Kyungsoo dengan sedih. Sesuai dugaan, dia memang tidak bisa menceritakan tentang hubungan dia dengan Jongin ke siapapun secara menjelas.
"Hubungi saja dia. Ajak untuk bertemu" saran Taemin.
"Aku tidak punya nomor ponselnya" jawab Kyungsoo kecewa.
"Sungguh disayangkan". Taemin prihatin. Dia ingin sekali memberitahu Kyungsoo kalau dia mengenal Jongin. Agar Kyungsoo tidak sesedih ini. Tapi dia tidak bisa. Dia sudah berjanji pada Jongin.
Muncul sebuah pertanyaan dalam diri Taemin. "Apa... apa kau menyukai dia Kyungsoo?" Taemin mengutarakan pertanyaannya.
Kyungsoo berpikir sebentar untuk mencari jawaban. "Aku tidak tahu. Sungguh. Hanya saja aku menjadi perhatian padanya karena dia bersedia membantuku padahal kami tidak saling mengenal dan tidak pernah berjumpa sebelumnya".
"Apa yang dia lakukan?".Taemin sangat penasaran. Dia ingin tahu ada apa sebenarnya diantara Jongin dan Kyungsoo hingga mereka bisa seperti ini.
"Senin dua minggu yang lalu hujan turun dan aku menunggu di halte bus selama setengah jam lebih. Aku merasa sangat suntuk. Tidak berapa lama dia datang. Setelah duduk sebentar, dia pergi. Tidak terduga dia kembali ke halte, basah kuyup, menyerahkan payung kepadaku untuk kupakai pulang ke rumah" cerita Kyungsoo sambil mengenang peristiwa tersebut.
"Maksudmu, dia hujan-hujanan pulang ke rumahnya hanya untuk mengambil payung lalu kembali lagi ke halte untuk memberikannya padamu?" ujar Taemin.
"Begitulah kira-kira" jawab Kyungsoo.
"Aww! Dia sungguh manis!" seru Taemin yang membuat Kyungsoo malu.
Taemin baru tau adik sepupunya yang suka dingin sama orang lain tersebut bisa bersikap baik juga. Padahal sebelumnya dia tidak pernah begitu terhadap orang yang tidak dikenalnya. Kyungsoo pasti sangat spesial hingga Jongin rela melakukan apapun demi Kyungsoo.
"Dia sungguh manis. Tidak heran kau menjadi perhatian padanya Kyungsoo" ujar Taemin bahagia.
"Memang begitu kan. Siapapun pasti akan menjadi peduli jika ada seseorang yang rela begitu untuk kita".
"Aku yakin dia juga peduli padamu".
"Benarkah?".
"Tentu saja". Sangat. "Dia rela melakukannya. Sudah pasti dia peduli padamu".
Taemin mengangguk pasti pada Kyungsoo yang membuat dia tersenyum malu pada perkataan Taemin. Dia serasa tidak tahan lagi melihat kelakuan Kyungsoo. Taemin berharap mereka bisa segera berjumpa dan menyelesaikan kebingungan diantara mereka.
"Jadi, apa kau sedang menyukai orang lain Kyungsoo? Apa kau sudah punya pacar?" tanya Taemin sealami mungkin. Jangan sampai Kyungsoo curiga.
"Aku tidak punya pacar dan aku pikir aku sedang tidak menyukai siapapun" jawab Kyungsoo dengan pasti.
"Termasuk ke seseorang tersebut?" tanya Taemin lagi.
"Yah... mungkin..." jawab Kyungsoo ragu-ragu.
"Tapi kau ingin bertemu dengannya lagi kan?" tanya Taemin sambil merogoh dalam tasnya.
"Yah. Aku sangat ingin berjumpa dengannya" jawab Kyungsoo penuh harap.
Taemin mengetik sebentar di ponselnya. Setelah itu dia melihat Kyungsoo kembali. "Aku yakin kau akan segera berjumpa dengannya Kyungsoo".
"Kenapa kau sangat yakin?" Kyungsoo mendengus.
"Percayalah padaku" Taemin tersenyum lucu. Kyungsoo menggeleng-geleng.
"Apa yang akan kau lakukan jika bertemu dengannya lagi?" tanya Taemin.
"Aku tidak tahu. Hmm minta nomor ponsel mungkin?".
"Minta padanya Kyungsoo!" usul Taemin dengan semangat.
"Tapi sepertinya aku tidak bisa melakukannya. Dia... terlalu membingungkan dan terlalu...".
"Dingin?" potong Taemin.
"Yah. Seperti itu kira-kira" jawab Kyungsoo.
"Jangan khawatir Kyungsoo. Aku mengenal seseorang yang sifatnya sama seperti orang yang kau kenal. Percayalah, meskipun dia dingin, sebenarnya dia sangat baik. Dia hanya dingin terhadap orang yang belum terlalu dekat dengannya".
Kyungsoo berpikir. "Kau pikir begitu?".
"Iya. Percayalah. Kau pasti segera bertemu dengannya". Taemin tersenyum lembut.
Kyungsoo langsung mempercayai perkataan Taemin. Kyungsoo memperhatikan kembali wajah Taemin yang sedang mengetik di ponselnya lagi. Mungkin karena wajah Taemin dan Jongin mirip, Kyungsoo merasa dia seperti berada di dekat Jongin. Seperti Jongin ada di dekatnya, mengawasinya.
Lalu Kyungsoo memutuskan bahwa itu pemikiran seperti itu sangatlah bodoh. Jongin dan Taemin mempunyai sifat yang berbeda. Bagaimana dia bisa berpikir bahwa Taemin adalah Jongin yang lain. Itu sungguh bodoh.
.
.
.
Hari ini hujan turun lagi. Tidak begitu deras tapi bisa membuat basah kuyup jika kita nekat melawannya. Kyungsoo turun dari bus berlari-lari melompati air menuju ke bangku halte. Dia tidak menyadari bahwa ada sepasang mata yang menatapnya sambil menahan tawa. Kyungsoo baru menyadarinya saat dia sedang menepis titik-titik hujan yang mengenai tubuhnya.
Kyungsoo menoleh dan seketika senyumnya mengembang. "Jongin!" serunya kesenangan. Jongin tertawa gemas.
Kyungsoo mendekati Jongin dan berdiri depannya. Dia mengamati Jongin. Jongin masih terlihat sama seperti minggu lalu. Baguslah. Berarti dia tidak terluka ataupun terjadi sesuatu padanya. Astaga. Dia tidak percaya dia begitu menginginkan berjumpa dengan Jongin hanya untuk memastikan Jongin baik-baik saja.
"Kenapa kau disini? Bukankan kau libur.. ah aku ingat. Kau bermain lagi dengan teman-temanmu kan?" tebak Kyungsoo.
Jongin mengangguk-angguk. "Duduklah Kyungsoo".
Kyungsoo duduk di sebelah Jongin. Kyungsoo membersihkan tasnya yang basah. Jongin mengambil kesempatan tersebut untuk memperhatikan Kyungsoo. Setelah Kyungsoo selesai, dia melemaskan tubuhnya di bangku sambil menghela napas panjang.
Itu membuat Jongin khawatir. "Ada apa? Hari yang buruk?".
"Tidak" jawab Kyungsoo sejujurnya.
"Lalu kenapa kau terlihat kecewa?".
Kyungsoo melihat Jongin. Dia menggigit bibirnya, ragu untuk menjawab. "Hujan... aku tidak menyukainya".
Jongin mengerutkan keningnya dengan penuh ketertarikan. "Kenapa? Bukankah semua orang suka hujan?".
"Aku tidak" jawab Kyungsoo. "Dan apa kau tahu, kalau setiap kali kita bertemu, akan selalu turun hujan".
"Jadi kau tidak senang bertemu denganku?" tanya Jongin sedikit kecewa.
Kyungsoo menegakkan tubuhnya dengan panik. "Bukan begitu! Aku tidak bermaksud seperti itu! Aku hanya mengatakan pendapatku!".
Jongin tersenyum pahit. Kyungsoo merasa sangat bersalah.
"Jongin. Aku sungguh minta maaf. Aku tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja yang selalu terjadi adalah seperti itu. Setiap kita bertemu hujan selalu turun".
Kyungsoo melihat tidak ada perubahan pada wajah Jongin. Kyungsoo berkata lagi untuk menjelaskan.
"Aku tidak menyukai hujan. Aku akui itu. Tapi bukan berarti aku tidak ingin bertemu denganmu. Sejujurnya aku sangat ingin berjumpa denganmu".
Mata Kyungsoo melotot. Dia tidak sadar dia keceplosan. Astaga bodohnya, pikirnya. Tapi Kyungsoo melihat Jongin yang sekarang tersenyum sangat manis dan dia langsung berubah pikiran. Dia tidak merasa menyesal sudah kelepasan.
"Benarkah? Kau ingin berjumpa denganku?" tanya Jongin sambil tersenyum nakal.
Kyungsoo malu. "Yah... aku ingin berjumpa denganmu".
Jongin terkekeh. Hal itu membuat Kyungsoo menundukkan kepalanya malu-malu. Tidak apalah asal Jongin tidak kecewa lagi seperti tadi.
Jongin meletakkan satu tangannya di sandaran bangku Kyungsoo. Tangannya nyaris bersentuhan dengan tubuh Kyungsoo. Sedikit saja Jongin memajukan tangannya, dia bisa merangkul bahu Kyungsoo dari belakang.
Kyungsoo bisa merasakan tangan Jongin di belakangnya. Kyungsoo merasa gugup. Tubuhnya menegang dan berdiri tegak. Kyungsoo takut jika dia menggerakkan tubuhnya sedikit saja dia bisa mengenai lengan Jongin. Jongin bisa saja berpikir Kyungsoo sengaja agar dia bisa bersandar di lengan Jongin dan Kyungsoo tidak mau hal itu sampai terjadi. Sudah cukup dia malu karena hal tadi.
"Kenapa kau tidak suka hujan?" tanya Jongin sambil menikmati kegugupan Kyungsoo. Dia tidak masalah jika Kyungsoo memang ingin bersandar di lengannya. Jongin memang sengaja melakukannya. Tapi sepertinya Kyungsoo tidak mau.
"Aku tidak suka basah. Aku tidak suka hujan membuatku tidak bisa pergi kemanapun. Aku tidak suka suasana gelapnya dan gemuruh petir. Aku tidak suka cuaca dingin menggigilnya yang membuatku lebih mudah terserang flu. Suaraku bisa hilang jika aku menderita flu" jelas Kyungsoo.
"Ah..jadi karena itu kau memutuskan untuk memakai jaketmu saat itu" ujar Jongin.
"Yah. Awalnya aku tidak mau. Tapi aku harus menjaga kesehatan tenggorokanku. Karena itu aku memakainya".
"Tapi karena itu aku mengenalmu. Aku merasa kasihan melihatmu yang memakai hoddie untuk menutup kepalamu".
"Jadi kau bukan hanya karena ingin melakukannya, tapi juga karena kasihan padaku. Kenapa kau baru mengatakannya sekarang? Hei apakah ada alasan lain selain dua hal itu?" tanya Kyungsoo ceria.
Jongin tampak berpikir. "Sepertinya ada..". Kyungsoo segera semangat untuk mendengarnya. "Tapi aku lupa".
Kyungsoo meninjunya gemas. Jongin tertawa terbahak-bahak. Dia mulai menyukai menganggu Kyungsoo.
"Aku akan mengatakannya padamu ketika aku ingat. Aku janji" ujar Jongin sambil tersenyum lebar akibat tertawa.
Kyungsoo memperhatikan Jongin. "Kau berubah".
"Berubah bagaimana?" tanya Jongin sambil tersenyum lembut.
"Kau... lebih terbuka. Tidak dingin. Kau juga lebih ceria dan mulai iseng" jawab Kyungsoo dengan tulus.
"Kau tidak suka?" canda Jongin.
"Tidak! Aku menyukainya. Aku suka melihatmu seperti ini. Hanya saja kau berubah". Padahal baru beberapa menit yang lalu Kyungsoo berpikir bahwa Jongin tidak berubah sedikitpun sejak terakhir mereka berjumpa. Ternyata ada yang berubah, sikapnya.
"Itu karena kita sudah mulai mengenal. Aku akan menjadi seperti yang kau katakan ketika aku sudah lebih dekat dengan orang lain" jawab Jongin jujur.
Kyungsoo tidak tahu kenapa dia merasa sangat lega. "Baguslah".
"Bagus kenapa?" tanya Jongin bingung.
"Yah bagus. Karena kita mulai saling mengenal. Kau mulai terbuka kepadaku. Aku merasa lebih mudah berhadapan denganmu".
"Aku tahu. Bukan cuma kau yang bilang bahwa sikap dinginku sulit dihadapi. Banyak yang bilang begitu".
Kyungsoo merasa dia sangat beruntung. Dia bisa mengubah sikap dingin Jongin. Dia bisa berdekatan dengan Jongin dan melihat sisi lain dari Jongin. Kyungsoo bertanya-tanya apakah Jongin juga seperti itu ke orang lain.
Tapi yang paling membuat Kyungsoo merasa sangat beruntung yaitu dia bisa bertemu dengan Jongin. Dia sungguh beruntung meskipun hujan yang tidak disukainya sedang turun.
Mereka berdua lanjut mengobrol sambil diiringi hujan yang jatuh ke tanah dan suara rentakan yang berasal dari atas atap halte bus. Biasanya Kyungsoo mulai merasa suntuk jika sudah seperti itu. Tapi kali ini Kyungsoo tidak merasakannya karena Jongin ada di sebelahnya.
Kyungsoo berpikir mungkin tidak apa-apa jika hujan turun selama itu bisa membuatnya bertemu dengan Jongin.
.
.
.
"Bagaimana? Kau sudah menemuinya?" tanya Taemin ketika Jongin sedang meneleponnya malam harinya.
"Sudah. Terima kasih Taemin. Kau benar-benar membantu".
"Aku sudah bilang aku akan membantumu sebisaku".
"Tapi kenapa sangat lama?! Kau membuatku menunggu selama seminggu! Hampir setiap hari aku berharap bisa segera bertemu dengan Kyungsoo!" gerutu Jongin.
"Jangan salahkan aku! Untuk bertanya seperti itu pada Kyungsoo tentu saja membutuhkan proses! Kau berpikir aku mendekatinya dan langsung bertanya 'Kyungsoo, kau punya pacar tidak?' itu tidak akan membuatnya curiga?!" protes Taemin.
"Aku tentu saja perlu proses untuk mendekatinya terlebih dahulu! Buat dia percaya padaku! Dan sekarang kau lihat hasilnya? Dia mempercayaiku hingga dia bisa menceritakan tentang dirimu kepadaku" ucap Taemin dengan bangga.
"Yah yah kau hebat. Tunggu... apa dia menyebut namaku? Apa dia menceritakan secara detail tentang kami?" tanya Jongin mulai panik.
"Tidak". Taemin mendengar Jongin menghela napas lega. "Tapi setidaknya sekarang aku tau ternyata Jongin, adik sepupuku, rela berlari melawan hujan hanya untuk mengambil payung demi Kyungsoo. So sweet!" ganggu Taemin.
Jongin malu. Syukur Taemin tidak bisa melihatnya atau tidak Taemin akan meledeknya.
"Siapa sangka Jongin yang dingin terhadap orang lain, langsung luluh kepada Kyungsoo yang tidak dikenalnya sama sekali?" ganggu Taemin lagi.
"Diamlah Taemin" ujar Jongin kasar.
"Dia pasti spesial, ya kan Jongin? Kyungsoo pasti spesial untukmu kan?".
"Aku tidak tahu!" seru Jongin lansung.
"Bukankah sudah kubilang aku mengenalmu sejak kecil hingga aku tau kalau seruanmu barusan mengartikan jawaban 'iya'?".
Jongin mengerang. "Aku membencimu".
"Aku menyayangimu" jawab Taemin tenang. "Lalu bagaimana? Kau berhasil mendapatkan nomor ponselnya?".
"Tidak. Aku lupa karena kami asyik mengobrol".
"Bodoh" Taemin menggeleng.
"Tapi aku bisa memintanya padamu sekarang!" ujar Jongin senang.
"Aku tidak akan memberikannya padamu!" bentak Taemin.
"Kenapa?!" teriak Jongin.
"Kau harus berusaha sendiri untuk meminta nomornya!".
"Aku tidak bisa. Aku.. malu..."
Taemin tertawa keras. "Serius Jongin. Sebenarnya ada apa dengan Kyungsoo hingga kau seperti ini. Tapi aku senang melihatmu seperti ini. Segeralah sadar perasaanmu kepada Kyungsoo".
"Perasaan apa?" tanya Jongin bingung.
"Astaga. Kalian sama saja" ucap Taemin penuh dramatis.
"Sama bagaimana?" tanya Jongin masih tidak mengerti.
"Sudahlah" jawab Taemin untuk mengelak. "Apapun itu, temui dia lagi dan kali ini berusahalah untuk mendapatkan nomor ponselnya. Bagaimanapun caranya. Kau mengerti?".
"Yah aku mengerti".
"Oke. Sekarang tutup teleponnya. Minho sudah menunggu untuk berbicara padaku".
"Ck. Baiklah. Terima kasih Taemin".
"Sama-sama Jongin".
Telepon pun terputus. Jongin membaca sekali lagi pesan yang tadi siang diterimanya dari Taemin.
Dari : sepupu menyebalkan.
Untuk : jongin sepupu terimut.
Kyungsoo sangat ingin berjumpa denganmu. Dia juga ingin mendapatkan nomor ponselmu. Dan, buanglah sifat dinginmu jika bersamanya. Dia toh bukan orang asing lagi bagimu. Jika tidak, hubungan kalian akan semakin sulit.
Nb : Dia tidak punya pacar dan tidak sedang naksir siapapun. Kau bisa bebas menemuinya.
Jongin tersenyum. Dia sangat gemas memikirkan Kyungsoo ingin bertemu dengannya dan mendapatkan nomor ponselnya. Dia tahu itu memang salahnya bersikap dingin tapi itu tidak bisa dihindari. Jongin memang begitu kepada orang yang baru dikenalnya.
Tetapi Kyungsoo, yang suaranya didengarnya hampir setiap malam dan dia banyak mendengar cerita tentang Kyungsoo dari Taemin, mulai dirasanya dekat dengan dirinya. Yang dibutuhkannya hanyalah menenangkan diri dan bersikap apa adanya di dekat Kyungsoo. Mengingat komentar Kyungsoo tadi siang, sepertinya dia berhasil melakukannya.
Kini tinggal bagaimana mendapatkan nomor ponselnya dan membuat Kyungsoo tidak suntuk jika hujan turun.
Kyungsoo bilang jika mereka bertemu hujan akan turun. Dan Kyungsoo tidak menyukai hujan. Jongin berpikir betapa uniknya Kyungsoo. Dia sangat berbeda dengan orang lain. Mungkin itu yang menjadikan Kyungsoo spesial baginya, seperti yang sebelumnya dikatakan Taemin bahwa Kyungsoo spesial bagi Jongin.
Jongin harus mencari cara agar Kyungsoo tidak suntuk jika hujan memang turun ketika mereka bertemu. Jongin pikir dia bisa melakukan sesuatu demi Kyungsoo. Agar Kyungsoo tersenyum. Karena Kyungsoo itu spesial.
TBC
.
.
.
Terimakasih kepada
beng beng max ( oke. Terimakasih :D . btw, aku juga geli pas ngetik bagian saying-sayangan itu. Tapi hana bikin di cerita ini Taemin itu suka ganggu Jongin, terutama ngucapin saying yang paling dia suka. Jadinya gitu hehehe)
vidyafa11 ( udah next. Ditunggu aja ya ceritanya)
SognatoreL ( udah dilanjut. Makasih yah :D )
Lugalugalugalu ( terimakasih. Udah dilanjut :D )
Pandacherry ( iya ceritanya emang masih ngambang. Tapi lama-lama jelas kok. Tunggu aja yah hehehe. gak sanggup, jadi saya melambaikan tangan ke kamera hahaha XD gak, member exo yang lain gak muncul maaf yah. Entar kalo ada ff lain dimunculkan deh hehe)
Insooie baby ( terima kasih sudah menyukai ff hana hehehe. Diusahakan bikin semanisnya hehe. Oke hana bakal tetap semangat ('_')9 ! ditunggu aja yah hehehe. Iya gakpapa, terimakasih reviewnya *cup)
N13zelf ( hana juga suka fluff, tapi lebih suka psychological hehehe. Ini konfliknya ringan kok, tenang aja hehehe. Oke, tunggu aja yah)
11lollyaiko ( halo, selamat datang )
MrblackJ (Oke)
Kkamjjong baby ( hahaha awalnya dia gitu, tapi lama-lama gak. Karena biasanya semisterius apapun orang dan sependiem apapun, pasti dia lebih terbuka sama orang di dekatnya. Menurut haan gitu, jadi deh si Jongin gitu hehehe. Ini fluff sih hehehe)
BangMinKi ( iyaa. Kita tengok aja yah)
Terimakasih atas reviewnya.
Wish You Have A Happy Life Everday!
