Ring
Characters: Baekhyun, Chanyeol, Jongin (Kai), Kyungsoo, Xiumin, Sehun, and others
Pairing: Chankai, Chanbaek (slight), Hunkai (Slight)
Warning: BL, Mpreg
Rated: T-M
Boomiee92
Happy reading lah, maaf kalo ada yang kurang ya teman-teman
Previous
Kyungsoo sedang meneliti tawaran kontrak untuk Jongin saat pintu rumahnya dibanting dengan keras. "Jongin!" pekik Kyungsoo sebal bercampur cemas. "Chanyeol lagi?" tebak Kyungsoo.
"Ya." Jongin berjalan menghampiri Kyungsoo yang kini sedang duduk menonton karena tawaran pekerjaan untuk Jongin dirasa tak sesuai. "Hyung beberapa hari ini Xiumin hyung tak muncul, dan Hyung juga tak sering memegang ponsel lagi. Ada masalah?"
"Tidak ada." Balas Kyungsoo singkat.
"Hubungan kalian terlihat merenggang."
"Semua baik-baik saja Jongin." Kyungsoo menjawab dengan ekspresi wajah datar sementara kedua matanya menatap lekat-lekat layar datar televisi yang sedang menampilkan film pertama Fast Furious.
"Ini karena aku dan Chanyeol?" Kyungsoo tak menjawab membuat kecurigaan Jongin bertambah besar. "Hyung…,"
"Aku memilihmu dibanding Xiumin karena kita keluarga." Potong Kyungsoo cepat dan Jongin tak bisa menemukan kalimat lain untuk membalasnya.
"Sepertinya kita harus memelihara anjing penjaga." Jongin mengalihkan topik pembicaraan tak ingin merasa canggung dengan Kyungsoo dalam durasi yang lebih panjang lagi.
"Anjing penjaga?"
"Hmm, yang ganas." Kyungsoo hanya tersenyum menanggapi kalimat Jongin. "Hyung tidak setuju dengan usulku?"
"Kau itu mau anjing penjaga atau anjing pelacak sih? Yang ganas, jangan-jangan kakimu yang digigit bukannya Chanyeol."
"Hyung aku mau membeli anjing, boleh?"
"Ya, terserah saja."Balas Kyungsoo asal.
"Anjing yang paling ganas," gumam Jongin dengan seringai mengerikan menghiasi wajah rupawannya. Kyungsoo hanya menghela napas panjang, anjing yang paling ganas? Ayolah rumahnya adalah rumah mungil berada di lingkungan biasa, bukan medan perang atau ladang opium. Namun pemikiran itu tak Kyungsoo utarakan mengingat kondisi emosi Jongin sedang labil.
Bab Dua Puluh Satu
Chanyeol terkapar di atas meja makan, Xiumin hanya memandanginya tanpa mengatakan apapun. "Hyung, kenapa mendapat maaf itu sangat susah?"
"Tidak juga, tergantung kesalahannya." Chanyeol mengangkat kepalanya melihat Xiumin dengan cangkir berisi kopi di tangannya. "Kesalahanku besar?"
"Tidak, tidak besar, tapi sangat besar."
Chanyeol kembali terkapar lemas. "Bantu aku Hyung, aku tahu kesalahanku besar." Gerutu Chanyeol suaranya sedikit teredam oleh dua lengannya yang ia jadikan bantal.
"Aku juga sedang berpikir, sebaiknya isi perutmu dulu. Kau tak akan bisa berpikir dengan perut lapar."
"Tidak ada makanan yang bisa dimakan."
"Kau bercanda!" pekik Xiumin jengkel. "Ada pisang di dalam lemari pendingin."
"Aku tidak suka pisang."
"Sejak kapan kau tak suka pisang?"
"Sejak….," Chanyeol menggantung kalimatnya mencoba berpikir kapan dirinya memutuskan untuk memusuhi buah kesukaannya itu. "Mungkin seminggu yang lalu."
"Kau terlalu banyak pikiran."
"Oh begitu, tapi aku jadi menyukai makanan lain."
"Apa?" Xiumin setengah tertarik dengan pembicaraan ini meski sesekali kedua matanya masih meneliti barisan kalimat di dalam surat kabar di hadapannya.
"Aku suka acar, dan semua buah yang asam."
"Kau terdengar seperti sedang hamil."
"Hamil?!" pekik Chanyeol.
"Kenapa?"
"Tidak Hyung." Balas Chanyeol cepat, tak mungkin mengungkapkan pikirannya pada Xiumin dan kehilangan dukungannya.
"Baiklah aku punya rencana, tapi kau mungkin tak setuju, karena kita akan melibatkan sedikit kebohongan."
"Kebohongan?" kedua mata bulat Chanyeol terlihat lucu sekarang.
"Aku akan menemui Jongin dan mengatakan jika kau—kecelakaan."
Chanyeol mengerutkan dahinya, tak terlalu setuju dengan rencana Xiumin. Kecelakaan itu kan tidak main-main, bagaimana jika hal itu benar-benar terjadi karena karma sedang tak ramah padanya. "Hyung tidak ada alasan lain? Maksudku—bagaimana jika hal itu nantinya benar-benar terjadi?"
"Kau punya ide lain? Aku tak bisa memikirkan hal lain saat ini. Itu pikiran terbaik yang aku punyai. Mengingat dulu kau sangat panik mendengar Jongin kecelakaan, jadi aku pikir Jongin akan bereaksi sama jika dia masih mencintaimu, aku rasa."
Chanyeol terdiam selama beberapa saat, Xiumin mengamatinya sembari menunggu. Hingga Chanyeol pada akhirnya mengangguk. "Baiklah aku setuju kalau begitu."
"Maaf aku tak bisa memikirkan solusi yang lebih baik lagi."
"Tap apa Hyung," gumam Chanyeol pasrah.
"Aku akan menghubungi Kyungsoo." Dengan itu Xiuminpun beranjak meninggalkan Chanyeol yang masih setia memasang wajah memelas dan penuh penderitaannya.
.
.
.
Jongin membuka kedua matanya, malas, dia ingin bergelung di dalam selimut dan tidur seharian mengingat tak ada pekerjaan apapun yang harus ia lakukan selama beberapa hari ke depan. Enggan, Jongin menyeret tubuhnya untuk bangun dari tempat tidur dan pergi ke kamar mandi. Jongin menggigit pelan bibir bawahnya, menatap pantulan bayangannya di dalam cermin, sudah satu bulan sejak itu.
Jongin memutuskan untuk keluar dari kamar mandi kembali ke kamar. Ia menarik laci dan mengambil plastik hitam dari sana. Ia buka tas plastik hitam itu dan mengambil sesuatu dari sana. Ia campakkan plastik hitam itu dan kembali ke kamar mandi.
Lima menit sebenarnya bukan waktu yang lama, saat main game, bercanda dengan temanmu, atau melakukan hal lain yang disukai. Namun, lima menit akan terasa sangat lama saat kau harus menunggu. "Ah!" pekik Jongin, terkejut dengan alarm ponselnya, ia matikan alarm itu dan memasukkan ponselnya kembali ke saku belakang celana training yang ia kenakan. "Baiklah, kita lihat apa hasilnya." Perlahan Jongin menjulurkan lehernya untuk melihat hasil tesnya. Tiga stick di atas wastafel itu memperlihatkan tanda yang bisa disimpulkan 99,99% keakuratannya.
Stick pertama menampakkan dua garis merah, stick kedua menampakkan tanda positif, dan stick ketiga menampakkan gambar wajah aneh bulat penuh dengan senyum lebar. "Sial." Umpat Jongin, ia langsung meraih ketiga stick itu dan memasukkannya ke dalam tempat sampah. "Sebaiknya aku mandi supaya kewarasanku kembali." Gerutu Jongin.
.
.
.
"Hyung." Jongin memanggil Kyungsoo karena ia tak mendapati laki-laki mungil itu yang biasanya sudah sibuk di pagi hari. Kedua matanya masih menyapu seluruh ruangan mencari keberadaan Kyungsoo, namun kedua kakinya memutuskan untuk melangkah menuju dapur.
"Jongin." Panggilan itu membuat Jongin menoleh dari kesibukannya mencari botol air mineral. "Hyung, oh Xiumin hyung. Tumben kesini?"
Xiumin hanya tersenyum di belakangnya ada Kyungsoo dia tak menampakkan ekspresi apa-apa dan berjalan menghampiri Jongin. Menggeser tubuh Jongin untuk mengambil telur dari dalam lemari pendingin. "Kalian sudah berbaikan?" bisik Jongin pada salah satu telinga Kyungsoo, Kyungsoo memilih bungkam.
"Jongin, aku ingin berbicara denganmu."
"Aku?!" Jongin menunjuk dirinya sendiri tak yakin dengan kalimat Xiumin barusan. Xiumin mengangguk pelan, Jongin menatap Kyungsoo meminta persetujuan namun Kyungsoo sudah sibuk dengan penggorengannya. "Baiklah," gumam Jongin iapun berjalan menuju Xiumin. "Aku boleh duduk?"
"Tentu, duduklah."
Jongin menarik kursi makan yang terletak di samping Xiumin kemudian duduk di sana. "Jadi, apa yang ingin Hyung bicarakan denganku?"
"Chanyeol kecelakaan."
"Oh, dimana?"
"Di rumah dia tergelincir dari tangga." Keduanya terdiam, Xiumin harap-harap cemas menunggu reaksi Jongin.
"Lalu apa hubungannya denganku?"
"Oh, ah, kalian masih terikat pernikahan." Xiumin gelagapan mendengar jawaban Jongin.
"Bagiku tidak, aku sudah menandatangani surat perceraian. Sampaikan salamku pada Chanyeol, semoga cepat sembuh."
"Kau tak berniat menengoknya?"
Jongin memutar kedua bola matanya, jengah. "Untuk apa? Kan ada Baekhyun, selain itu hubungan kami sudah berakhir. Kami juga bukan teman, tidak ada alasan untuk saling berkunjung."
"Chanyeol dan Bekhyun mereka tak memiliki hubungan lagi kecuali sebatas teman."
Jongin tak bergeming. "Kenapa kau setega itu Jongin? Bagaimana jika Chanyeol mati, apa kau tak berniat untuk memaafkan atau mengunjunginya?"
Jongin mengerutkan dahinya. "Jangan memojokkan aku Hyung, kenapa ucapanmu seolah-olah di sini aku yang bersalah?"
"Jongin…,"
"Aku bisa mengerti jika Hyung berada di pihak Chanyeol, tapi semua sudah berakhir jadi jangan berusaha untuk membuatnya tampak baik-baik saja." Jongin berdiri dari kursinya dan berlalu meninggalkan Xiumin dan Kyungsoo.
Xiumin menggeram frustasi iapun berdiri dan berjalan mendekati Kyungsoo. "Kyungsoo." Panggilnya berusaha mencari pertolongan.
"Keluar Hyung."
"Kyung…,"
" .ar." Kyungsoo memberi tekanan pada kalimat yang ia ucapkan, menampakkan betapa marah dirinya saat ini terhadap Xiumin. Tak ada yang bisa Xiumin lakukan kecuali berjalan keluar.
.
.
.
"Jongin, mau kemana?" Kyungsoo langsung bertanya saat Jongin keluar dari kamarnya mengenakan mantel musim dingin terlihat siap untuk meninggalkan rumah.
"Membeli anjing."
"Yang ganas?"
"Ya, yang ganas." Kyungsoo terkekeh pelan. "Duduklah makan sarapanmu."
"Aku bisa memakannya sambil berjalan Hyung."
"Baiklah." Gumam Kyungsoo, hari ini dia tak akan melarang Jongin, apapun yang ingin ia lakukan karena kedatangan Xiumin sudah menghancurkan seluruh kedamaian. Kyungsoo mengambil kertas makanan dan membungkus roti lapis yang ia buat.
"Kecelakaan di rumah, apa tidak ada kebohongan lain yang lebih keren?" cibir Jongin.
"Itu bohong?" Kyungsoo menyodorkan roti lapis di tangannya kepada Jongin.
"Jika ada kecelakaan seperti itu pasti beritanya sudah menyebar, mau bertaruh jika Chanyeol baik-baik saja?"
Kyungsoo menggeleng pelan. "Makan saja roti lapismu dan beli anjing yang paling ganas." Jongin terkikik pelan. "Apa kau perlu membawa botol minum?"
"Hyung, aku bukan anak TK!" pekik Jongin jengkel sebelum berbalik meninggalkan Kyungsoo di dapur dengan langkah panjang.
"Anjing ganas," gumam Kyungsoo. Entah mengapa pikirannya langsung tertuju pada anjing setengah Zombie di Resident Evil. "Semoga bukan anjing seperti itu." harapnya.
.
.
.
Jongin duduk di salah satu bangku panjang terbuat dari semen yang berada di sepanjang trotoar. Ia menenggak air mineralnya, sudah beberapa toko hewan ia kunjungi tapi tak ada anjing yang ia inginkan. "Susah sekali," gerutu Jongin sambil meluruskan kedua kakinya.
"Susah apa?"
Jongin menyipitkan kedua matanya melihat Baekhyun yang kini berdiri didekatnya, tersenyum. "Oh." Balas Jongin, ia kembali menekuk kedua kakinya, menggeser tubuhnya memberi ruang untuk Baekhyun duduk. Baekhyun langsung duduk di samping Jongin.
"Kau tidak tinggal dengan Chanyeol?"
"Tidak."
"Kenapa?"
"Kami tidak memiliki hubungan apa-apa lagi." Jongin berdiri dari duduknya, berada di dekat Baekhyun saja sudah cukup canggung baginya ditambah topik mengenai Chanyeol, tentu saja ia tak berpikir dua kali untuk melarikan diri.
"Jongin, mungkin kita bisa berjalan bersama kau mau kemana?"
Jongin menggeleng cepat. "Aku ingin seorang diri, tapi terima kasih atas tawarannya Hyung."
"Ya." Bisik Baekhyun, tentu saja ia tak akan mengikuti Jongin karena pemuda berkulit kecoklatan itu sudah menunjukkan ketidaksukaannya.
.
.
.
Jongin menoleh ke belakang, merasa lega karena Baekhyun tak mengikutinya. Jongin berdiri di depan bangunan rumah sakit, sebenarnya ia tak ingin melakukan ini, tapi dia harus melakukannya. Ragu-ragu Jongin melangkahkan kedua kakinya memasuki bangunan rumah sakit.
Rumah sakit yang Jongin kunjungi tak sebesar Seoul National Hospital karena ini kan rumah sakit daerah, Jongin cukup hapal setiap lorong dan ruangan di sini. Dia sering berkunjung ke tempat ini, bukan karena sakit atau mengunjugi teman tapi karena…
"Jongin."
"Halo, Hayate."
"Kau berkunjung?"
"Hmm, hanya memastikan bahwa kau memperlakukan kakakku dengan baik."
"Hei, tentu saja. Aku ini suami yang baik."
"Kenapa dengan tanganmu?" pandangan Hayate tertuju pada bekas jahitan di tangan Jongin.
"Kecelakaan." Balas Jongin singkat.
"Di alam liar?"
"Tidak, naik motor."
"Oh, duduklah, kebetulan sekarang jam istirahatku, mau minum sesuatu?"
Jongin menggeleng pelan menjawab pertanyaan kakak iparnya, Hayate laki-laki asal Jepang yang menikahi kakak perempuannya, Hyolin. Hayate duduk di hadapan Jongin. Menatap lekat-lekat wajah adik iparnya itu. "Ada sesuatu yang mengganggumu? Oh ya, bagaimana pernikahanmu dengan Chanyeol ada tanda-tanda?"
"Heh, apa?" balas Jongin tiba-tiba linglung.
Hayate tertawa pelan. "Tentu saja apa kau sudah hamil?"
"Oh, sudah."
"Benarkah?!" Jongin mengangguk pelan, karena itulah tujuan utamanya datang ke tempat ini. Hayate berprofesi sebagai dokter kandungan dan sebagai kakak iparnya, Jongin yakin Hayate bisa menyimpan rahasia dengan baik. "Mau aku periksa?"
"Tentu."
Hayate membuka laci mejanya, dan mengeluarkan secarik kertas. Ia tersenyum pada Jongin. "Jawab pertanyaanku ya." Jongin mengangguk, karena kehamilan pada pria dan wanita berbeda mari kita lewati bagian kapan terakhir kali menstruasi." Hayate memberi coretan pada kertasnya, Jongin hanya mengernyitkan dahi. "Kapan terakhir kali kalian berhubungan?"
"Kurang lebih satu bulan." Hayate menatap Jongin selama beberapa detik setelah mendengar jawaban itu, namun perhatiannya kembali pada kertas di hadapannya.
"Baiklah satu bulan," gumam Hayate. "Mual, muntah, sakit kepala, nyeri ulu hati?"
"Tidak ada keluhan."
"Bagus, napsu makanmu bagaimana?"
"Normal, tidak ada peningkatan atau penurunan."
"Ada menu makanan yang sangat kau inginkan?"
"Tidak ada."
"Penyakit bawaan, asma." Hayate tersenyum simpul. "Aku sudah tahu itu." berikutnya Hayate bertanya tentang tinggi dan berat badan Jongin serta dilakukan pengukuran tinggi dan berat badan, Hayate tersenyum puas. "Kalian dalam kondisi sehat." Pemeriksaan dilanjutkan dengan pemeriksaan urin dan detak jantung. "Jantungmu normal, sambil menunggu hasil tes urin kita lakukan USG untuk menentukan usia janinmu, tenang saja Jongin untukmu gratis." Hayate berdiri diikuti Jongin dia menunjuk tempat tidur untuk Jongin berbaring.
Jongin menggerakkan jempol kakinya untuk mengurangi ketegangan, entah mengapa ini terasa leih mengerikan dibanding memotret Singa Gurun. Sementara Hayate tengah sibuk mempersiapkan peralatan dibantu dua orang perawat. "Sudah, tolong singkap kaosmu." Jongin menurut. "Ini sedikit dingin."
"Hmm." Balas Jongin. Tubuhnya sedikit terlonjak ketika Hayate mengoleskan gel dingin ke atas permukaan perutnya.
"Itu janinmu, selamat Jongin. Dia terlihat sehat, usianya sekitar lima minggu." Jongin hanya bisa menatap layar di hadapannya dengan bingung, tak terlihat apa-apa. "Mata awammu mungkin kesulitan, ini dia." Hayate menunjuk dengan jari telunjuknya.
"Hanya titik?"
"Ya, hanya titik, dia baru berusia lima minggu, sangat sangat kecil. Dulu kau juga seperti itu, jangan salah Jongin. Setiap manusia dimulai dari sesuatu yang kecil dan rapuh."
"Oh." Hanya itu jawaban yang keluar dari bibir Jongin.
"Selesai, aku akan mencetaknya untukmu." Hayate tersenyum ramah, seorang perawat menyodorkan tisu pada Jongin untuk membersihkan gel di perutnya. "Tes urinmu sudah keluar, syukurlah tak ada penyakit yang mengancam, semuanya baik-baik saja, untuk masalah asmamu kita lihat perkembanganmu dulu."
Jongin mengenakan kembali mantel musim dinginnya dan duduk di hadapan Hayate. "Hubunganmu dengan Chanyeol merenggang?"
"Kira-kira seperti itu."
"Tak ingin bercerita?"
"Tidak."
"Baiklah, ini jadwal pemeriksaanmu selanjutnya, juga daftar menu makanan yang harus kau konsumsi, untuk saat ini tidak ada vitamin yang perlu aku resepkan, jaga dirimu jangan bekerja telalu keras, jangan mengangkat barang berat, jangan terjatuh, jangan terbentur, kurangi sikap ceroboh dan seenakmu sendiri itu, istirahat yang cukup, jangan merokok, hindari asap rokok, alkohol, soda, dan kopi. Oke?"
"Hmm."
"Hanya gumaman? Ya ampun, aku sudah berbicara sampai berbusa dan kau hanya menggumam." Gerutu Hayate, Jongin hanya tersenyum simpul.
"Kau ke sini dengan apa?"
"Jalan kaki, aku tinggal dengan Kyungsoo hyung, tidak jauh dari sini hanya sepuluh menit berjalan kaki."
"Baiklah, istirahat saat lelah, mengerti? Oh ya minum cukup air putih, jangan terlalu banyak mengkonsumsi gula terutama gula di dalam jus kotak dan soda, jika jus buah asli tak masalah."
"Baiklah cukup, aku bisa mencari tahu di internet jangan bicara lagi, nanti kau lelah. Terima kasih banyak kakak ipar." Jongin berdiri membungkukkan badannya, sebenarnya bukan untuk memberi hormat tapi untuk bercanda saja, Hayate tertawa geli melihat tingkah konyol Jongin. "Sampai jumpa."
"Hati-hati di jalan." Hayate melambaikan tangannya tulus, Jongin hanya menggangguk sebagai tanggapan.
Jongin mengamankan resep dan foto USG ke dalam saku mantel musim dinginnya, sembari berjalan menyusuri lorong rumah sakit ia melirik ponselnya. "Wow, ternyata pemeriksaan sepele seperti itu memakan waktu dua jam. Aku harus belanja setelah ini." Jongin mengetik pesan untuk Kyungsoo, memberitahukan bahwa dia akan pulang sedikit terlambat untuk berbelanja dan Kyungsoo tak perlu cemas, dirinya dalam keadaan yang baik. Jongin tersenyum geli. "Dua puluh pesan dan aku hanya membalas dengan satu pesan, Hyung pasti uring-uringan."
.
.
.
Jongin sempat bingung kenapa dia harus masuk lewat pintu belakang untuk berbelanja, dan dia juga bingung karena pengunjung terlihat empat kali lebih banyak dari biasanya. Jongin mengambil troli belanja, ia mencoba melihat ke dalam kerumunan yang berada tak jauh darinya. "Dia, tentu saja ramai, suka sekali membuat keributan," gumam Jongin melihat semua orang sedeng mengerubungi Park Chanyeol. "Apa yang dia lakukan di sini?" Jongin melihat ke sekelilingnya mencoba melihat spanduk atau produk yang memasang tampang Chanyeol, nihil. "Tidak mengiklankan sesuatu, berarti cari mati dia." Gerutu Jongin, sebelum berbalik meninggalkan kerumunan dengan mendorong trolinya.
"Susu, apel, pisang, biskuit gandum, beras merah, daging sapi, telur, brokoli, aku mau stroberi." Jongin meneliti daftar belanja di dalam ponselnya kemudian menambahkan barang lain yang ingin ia beli. "Roti tawar dan kentang. Oke beres mari belanja." Jongin tersenyum puas. Tempat pertama yang ia kunjungi adalah bagian bahan makanan untuk membeli beras dalam plastik lima kiloan, berikutnya ke bagian buah dan sayur, bagian ikan dan daging, lalu makanan kemasan. "Ah!" Jongin terkejut karena seseorang menabrak trolinya.
"Aku juga sedang belanja." Chanyeol, tentu saja. Jongin menendang tulang kering Chanyeol, sengaja.
"Pergi." Ucap Jongin datar.
"Kenapa? Kita kan masih menikah?" Chanyeol bertanya mengabikan kaki kanannya yang bekedut nyeri karena tendangan Jongin.
"Penggemarmu mengerikan, aku tidak mau mati, sudah sana, pergilah." Jongin mendorong lengan kanan Cahanyeol menjauhi dirinya.
"Aku merindukanmu." Jongin mengernyit, sungguh, ia ingin membenturkan kepala Chanyeol supaya amnesia dan tak mengingat dirinya. Jongin tak menjawab dan memilih pergi menjauhi Chanyeol. "Aku akan melindungimu."
Jongin mendorong trolinya menuju kasir, dia menoleh ke samping dan dengan sangat menyebalkan Chanyeol sudah berdiri di sana, menghitung barang belanjaannya di kasir lain. Jongin mengerutkan dahinya, Chanyeol membeli berbagai macam buah dengan rasa asam dan tumbuh di luar musim, yang pasti sangat mahal. Tapi hal lain yang mengganggunya adalah, biasanya buah-buah itu diinginkan seseorang yang sedang mengandung.
"Selesai Tuan." Jongin menyerahkan kartunya tangannya terulur untuk mengambil plastik berisi barang belanjaannya saat seseorang menghentikannya. "Kau!" geram Jongin tertahan. Sekali lagi ia tak boleh mempermalukan dirinya sendiri di depan umum.
"Barang belanjaanmu berat, biar aku yang membawa ini." Jongin berjalan keluar mengikuti Chanyeol tanpa membawa apapun, mereka harus keluar melalui pintu belakang karena pintu depan sudah dikepung oleh para penggemar Chanyeol. Jongin melirik ke arah Chanyeol. "Di sana ada mobil Xiumin hyung yang menunggu, kita akan baik-baik saja." Jawab Chanyeol seolah mampu membaca pikiran Jongin.
Sesampainya di luar Chanyeol melangkah terlebih dahulu menaiki mobil saat ia merasakan Jongin menahan lengannya. "Berikan barang belanjaanku."
"Aku akan mengantarmu."
"Berikan Park Chanyeol." suara Jongin terlihat jelas menahan amarah.
"Kali ini saja Jongin, lihat para penggemarku sudah hampir berlarian ke sini." Jongin menoleh arah yang Chanyeol tunjuk dan benar apa yang dikatakannya. Jongin tak memiliki pilihan lain kecuali masuk ke dalam mobil, Chanyeol tersenyum tipis hampir tak terlihat.
Chanyeol menggerakkan tangannya perlahan, mencoba menggenggam telapak tangan Jongin. "Jangan." Ucap Jongin dingin sambil menggeser tangannya menjauh. Jongin bahkan tak menunggu hingga mobil benar-benar berhenti untuk membuka pintu. Ia sambar kantung belanjaannya dan keluar dari mobil.
"Jongin." Panggil Chanyeol mencoba menghentikan langkah Jongin.
Jongin tak peduli ia masukkan tangan kirinya ke celah pagar, memasukkan anak kunci, memutarnya, membuka kunci. "Jongin." Panggil Chanyeol sekali lagi. "Apa kau hamil? Itu anakku? Jongin aku punya hak untuk tahu, Kim Jongin."
Jongin menutup pagar besi dengan kasar, menguncinya, tak peduli dengan keberadaan Chanyeol. "Jongin, apa kau berencana untuk menyembunyikan kehamilanmu dariku, aku berhak…"
"It's over." Potong Jongin. Tanpa sadar kedua kaki Chanyeol melangkah mundur, tatapan Jongin sangat mengerikan, Chanyeol yakin meski dirinya mati sekalipun Jongin tak akan peduli.
Chanyeol memandangi punggung Jongin dengan putus asa, kedua telapak tangannya mengepal kuat selama beberapa detik. "Chanyeol!" pekik Xiumin terkejut dengan tindakan Chanyeol. Pagar itu hanya setinggi dua meter, bukan sesuatu yang sulit untuk Chanyeol panjat dan lompati. Xiumin melompat turun dari mobil dan berlari menuju pagar, namun ia tak mampu melakukan apa-apa kecuali menghubungi Kyungsoo.
"Jongin." Gumam Chanyeol, ia tarik lengan kanan Jongin menghentikan langkah Jongin kemudian memeluknya erat. "Aku mohon maafkan aku, saat itu aku benar-benar bingung menentukan perasaanku. Sekarang semuanya sudah jelas, Jongin. Maafkan aku, kita mulai semuanya dari awal, aku mohon." Chanyeol mengucapkan kalimatnya dengan cepat.
Jongin memejamkan kedua matanya selama beberapa detik, menghirup aroma tubuh Chanyeol yang sangat ia rindukan, dan jujur tawaran itu sangat menggoda. "Semua sudah berakhir Chanyeol, semuanya berantakan, tak bisa diperbaiki lagi. Maaf." Jongin berusaha melepaskan dirinya dari pelukan Chanyeol, namun Chanyeol mencegahnya. "Tidak semua kesalahan bisa diperbaiki Chanyeol, mengertilah, aku tidak bisa menerimamu lagi. Kebohonganmu terlalu dalam menyakiti hatiku, aku tak ingin terluka lagi."
"Jongin, tidak. Kita bisa memulainya lagi. Aku mohon Jongin, beri aku kesempatan."
"Maaf aku tidak bisa, lepaskan aku Chanyeol."
"Lepaskan Jongin, Park Chanyeol." suara tegas Kyungsoo entah mengapa membuat Chanyeol melepaskan pelukan eratnya dari Jongin, Jongin melangkahkan kakinya menaiki undakan beranda dan masuk ke dalam rumah. Kyungsoo mendekati pintu untuk menutup dan menguncinya kemudian dia beralih mendekati Chanyeol. "Aku bukakan kunci pagar untukmu." Ucap Kyungsoo datar. Chanyeol memutar tubuhnya berjalan kaku bak mayat hidup mengikuti Kyungsoo.
Kyungsoo membuka pagar dan mempersilakan Chanyeol untuk keluar, ia bahkan sama sekali tak memandang wajah Xiumin yang berdiri di hadapannya. "Jangan memanjat pagar lagi, itu tidak sopan." Kyungsoo berucap datar sebelum menutup dan mengunci pintu pagarnya kembali.
Chanyeol berjalan menuju mobil Xiumin, masuk, tanpa berucap sepatah katapun. Xiumin melakukan hal yang sama. entahlah, namun ia merasa tindakan Jongin terlalu berlebihan permintaan maaf seperti apalagi yang Jongin inginkan? Toh Chanyeol tak menunggu lama untuk meminta maaf, setelah ia yakin perasaannya terhadap Baekhyun salah dia langsung meminta maaf, tapi Jongin bersikap seolah-olah Chanyeol telah menelantarkan dirinya berpuluh-puluh tahun.
"Aku akan memikirkan jalan lain agar kalian bisa bersama." Chanyeol tak menjawab namun Xiumin bisa melihat bahwa dia menganggukkan kepalanya. "Sekarang mari pulang dan memikirkan hal lain." Xiumin mencoba mengatakan kalimatnya dengan ceria, Chanyeol hanya melirik sekilas tak terlihat tertarik. "Chanyeol, kau punya tanggung jawab lain. Mengerti?"
"Ya, Hyung."
"Baguslah, jangan sampai kewarasanmu hilang karena masalah ini, kita pasti menemukan jalan keluar, kau hanya perlu sedikit bersabar."
"Hmm." Gumam Chanyeol, mencoba untuk mempercayai kalimat yang Xiumin ucapkan.
.
.
.
"Kau berbelanja?" Kyungsoo duduk di samping Jongin, kedua matanya menangkap plastik dengan prin salah satu nama Hypermart di letakkan di atas meja kopi.
"Ya."
"Kau baik-baik saja kan?"
"Ya, hanya sedikit terkejut dengan tindakan Chanyeol tadi."
Kyungsoo menjulurkan kedua tangannya meraih plastik belanjaan Jongin, membukanya dan mulai memeriksa semua barang yang Jongin beli. "Wow, kau mau hidup sehat? Tak ada soda, mie instan, dan semua makanan sampah yang biasa kau beli." Jongin hanya tertawa pelan menanggapi Kyungsoo yang menyebutkan kebiasaan lamanya. Kyungsoo mengambil kotak susu dengan rasa stroberi memandanginya selama beberapa detik. "Apa kau benar-benar tak bisa memaafkan Chanyeol? Jangan marah, aku hanya berpendapat apapun keputusanmu aku akan mendukung sebisaku."
"Aku tidak tahu, tapi untuk saat ini aku belum bisa melakukannya."
"Chanyeol terlihat menderita." Jongin tak membalas. "Kau tak ingin memberitahu Chanyeol tentang bayi yang kau kandung?" Kyungsoo memandangi kotak susu hamil di tangannya.
"Aku ingin pindah dari sini secepat mungkin, apa Hyung bisa membantuku?"
"Kemana? Sebutkan saja keinginanmu, kita pindah bersama. Aku akan menjagamu." Kyungsoo menoleh memberikan senyuman terbaiknya untuk Jongin.
"Jangho, aku ingin tinggal berdekatan dengan ayahku. Selain itu dokter kandunganku adalah Hayate, jadi tidak terlalu jauh kan?"
"Baiklah, aku suka idemu. Akan aku urus semuanya."
"Hyung tidak perlu ikut—maksudku aku tidak ingin Chanyeol tahu, jadi Xiumin hyung juga tidak boleh tahu kemana aku pergi. Hyung juga akan masuk universitas."
"Aku akan menjaga rahasiamu dengan nyawaku, Jongin."
"Hyung tidak perlu melakukan hal itu, sungguh."
"Aku tidak bisa membiarkanmu seorang diri, aku yakin kau tak akan tinggal bersama dengan ayahmu kan? Hanya tinggal berdekatan saja."
"Baiklah, tolong urus semuanya Kyungsoo hyung." Ucap Jongin menyerah, tak ingin berdebat lebih panjang lagi dengan Kyungsoo karena tetap saja pada akhirnya dirinya akan kalah dari Kyungsoo.
"Tentu." Kyungsoo berdiri meraih tas plastik belanjaan Jongin dan membawanya ke dapur. "Aku siapkan makan siang untukmu setelah itu kau harus tidur siang." Jongin tersenyum menanggapi perhatian Kyungsoo yang bahkan melebihi ibu kandungnya.
TBC
