Ring

Characters: Baekhyun, Chanyeol, Jongin (Kai), Kyungsoo, Xiumin, Sehun, and others

Pairing: Chankai, Chanbaek (slight), Hunkai (Slight)

Warning: BL, Mpreg

Rated: T-M

Boomiee92

Halo semuanya, ini chapter dua puluh dua selamat membaca salah ketik, salah tanda baca, ejaan tidak baku, harap maklum hehehe. Alurnya terlalu cepat juga harap dimaklumi soalnya kalau dikembangkan terlalu panjang jadi ceritanya langsung ke inti saja. Terima kasih untuk semua yang sudah mereview dan membaca, reviewnya banyak sekali tidak bisa menyebut satu persatu (author ingkar janji) di lain cerita saya sebut per chepi dah (belajar dari kemasalan, kapok lu Thor) terima kasih untuk pembaca sekalian akhir kata…. Happy Reading and bye bye, see you soon….. ada pertanyaan, kritik, atau sebagainya bisa PM atau fb ya ni akun fb saya Onlyboomie hihihi (gak usah promo lu Thor) usaha, usaha, akhir kata…. Ya sudah bye…

Previous

"Aku ingin pindah dari sini secepat mungkin, apa Hyung bisa membantuku?"

"Kemana? Sebutkan saja keinginanmu, kita pindah bersama. Aku akan menjagamu." Kyungsoo menoleh memberikan senyuman terbaiknya untuk Jongin.

"Jangho, aku ingin tinggal berdekatan dengan ayahku. Selain itu dokter kandunganku adalah Hayate, jadi tidak terlalu jauh kan?"

"Baiklah, aku suka idemu. Akan aku urus semuanya."

"Hyung tidak perlu ikut—maksudku aku tidak ingin Chanyeol tahu, jadi Xiumin hyung juga tidak boleh tahu kemana aku pergi."

"Aku akan menjaga rahasiamu dengan nyawaku, Jongin."

"Hyung tidak perlu melakukan hal itu, sungguh."

"Aku tidak bisa membiarkanmu seorang diri, aku yakin kau tak akan tinggal bersama dengan ayahmu kan? Hanya tinggal berdekatan saja."

"Baiklah, tolong urus semuanya Kyungsoo hyung." Ucap Jongin menyerah, tak ingin berdebat lebih panjang lagi dengan Kyungsoo karena tetap saja pada akhirnya dirinya akan kalah dari Kyungsoo.

"Tentu." Kyungsoo berdiri meraih tas plastik belanjaan Jongin dan membawanya ke dapur. "Aku siapkan makan siang untukmu setelah itu kau harus tidur siang." Jongin tersenyum menanggapi perhatian Kyungsoo yang bahkan melebihi ibu kandungnya.

Bab Dua Puluh Dua

Chanyeol memandangi layar komputernya, mendesah perlahan. Memijit batang hidungnya, tubuhnya sudah mulai pegal duduk di depan komputer selama hampir sepuluh jam. Sudah sembilan bulan berlalu, Jongin pergi, tanpa jejak. Semua orang-orang terdekatnya mengunci mulut mereka. Dan sejak saat itu, Chanyeol bekerja seperti orang gila, hasilnya memang memuaskan namanya menjadi sangat terkenal di dunia musik, dia bahkan menjadi penulis lagu dan produser, akan tetapi hatinya hampa.

Chanyeol membuka ponselnya, ia tersenyum mengamati wallpaper ponselnya. USG putranya, hanya itu yang Chanyeol ketahui dan dapatkan dari dokter Hayate, kabar terakhir Jongin dan foto-foto USG bayinya yang berjenis kelamin laki-laki. Chanyeol mengusap perlahan layar ponselnya. "Kau hampir lahir, semoga ayahmu yang lain mengijinkan kita bertemu." Chanyeol tersenyum sedih, air mata tunggal mengalir dari pelupuk mata kanannya. "Ayah ingin sekali bertemu denganmu." Chanyeol meletakkan ponselnya di depan dadanya.

"Chanyeol, waktunya makan malam." Xiumin menjulurkan lehernya masuk setelah ketukannya tak ditanggapi Chanyeol.

Dengan cepat Chanyeol mengusap air matanya, menoleh ke belakang menatap Xiumin. "Baik Hyung." Ia matikan komputernya dan berjalan keluar kamar.

"Kau tak berencana untuk berlibur? Maksudku ini kan musim panas. Pekerjaanmu juga sudah hampir selesai semua Chanyeol, istirahatkan tubuh dan otakmu."

"Dia akan lahir di musim panas." Gumam Chanyeol mengabaikan saran Xiumin.

Xiumin hanya bisa diam, mendengar kalimat Chanyeol. Chanyeol selama ini sudah sangat menderita, ia berusaha sebaik mungkin untuk menyembunyikannya dan bekerja adalah pengalih dari rasa sakit dan rasa hampanya. "Hyung aku ingin ada di sana, saat dia lahir, apa itu benar-benar tak bisa dilakukan?"

"Makanlah serealmu Chanyeol, kau sudah sangat kurus sekarang."

"Hyung," Chanyeol melempar tatapan memohon pada Xiumin.

"Aku akan berusaha sekuat tenaga agar kau bisa berjumpa dengan putramu. Aku janji."

"Terima kasih Hyung."

"Sekarang makanlah sarapanmu, sedikit saja yang penting kau harus makan." Chanyeol tersenyum simpul, kemudian melakukan perintah Xiumin untuk makan. Selama sembilan bulan terakhir Xiumin berusaha keras untuk tetap menjaga kewarasan dan kesehatan Chanyeol, ia juga terus memohon pada Kyungsoo untuk membantu Chanyeol, Kyungsoo awalnya menolak namun dia luluh pada akhirnya, tapi yang Kyungsoo bisa berikan hanya kabar Jongin dan bayinya dari dokter Hayate. Hanya itu, tak ada informasi lain tentang keberadaan Jongin.

.

.

.

Jongin sudah kembali ke Seoul sejak kehamilannya memasuki awal sembilan bulan, ia tinggal dengan kakak perempuan dan kakak ipar sekaligus dokter kandungannya. Kyungsoo setiap hari menjenguk setelah pulang kuliah, dia menepati janjinya dan hingga detik ini Chanyeol maupun Xiumin tak mengetahui keberadaannya.

"Jongin bangun." Jongin menggeram pelan tidurnya diganggu, saat ia membuka mata, tentu saja sepasang mata bulat burung hantu yang menyambutnya.

"Hyung."

"Ya, ini aku. Aku datang membawa pakaian bayi titipan ibuku."

"Oh." Balas Jongin singkat kemudian iapun duduk di ranjang memandangi Kyungsoo dengan senyum lebar yang masih menghiasi wajahnya.

Kyungsoo meletakkan tangannya ke atas perut Jongin. "Dia diam."

"Karena di dalam semakin sempit itu yang Hayate katakan."

"Hmmm," gumam Kyungsoo sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.

"Bagaimana kuliahmu Hyung?"

"Merepotkan, sudah berapa lama kau tidur?"

Jongin melirik jam duduknya yang terletak di atas nakas. "Setengah jam, aku rasa."

"Kapan dia bisa lahir?"

"Lusa. Itu yang Hayate katakan."

"4 Juli, kau memilih tanggalnya?"

Jongin menggeleng pelan kemudian tersenyum. "Tidak, tapi keren juga dia lahir saat kemerdekaan Amerika Serikat."

Kyungsoo tertawa mendengar ucapan Jongin kemudian sesuatu yang selama ini ia pendam tiba-tiba muncul. "Chanyeol?"

Jongin mendesah pelan. "Ya, aku sudah memikirkannya, aku terlalu egois selama ini."

"Kau ingin bertemu dengannya?" Jongin mengangguk pelan. "Kau ingin aku menghubunginya sekarang?" Jongin kembali mengangguk. "Baiklah, aku—aku akan menghubungi Xiumin hyung sekarang."

"Kirim pesan saja, jangan membuat mereka terlalu terkejut Hyung."

"Uh, baiklah." Kyungsoo mengetik cepat pada layar ponselnya. "Kau ingin bertemu di sini?"

"Ya, memang mau dimana lagi aku tidak bisa kemana-mana Hyung."

"Kau terlihat baik-baik saja, karena posturmu tinggi, perutmu tidak terlihat besar dengan jaket orang tak tahu kalau kau sedang hamil."

"Memang, tapi dia berat." Jongin menunjuk perutnya yang memang tak terlihat terlalu besar. Kyungsoo hanya tersenyum.

"Kita tunggu jawaban dari Xiumin. Lalu apa rencanamu selanjutnya?"

"Rencana apa? setelah ini menunggu Chanyeol kurasa."

"Bukan, setelah bayimu lahir?"

"Oh, mungkin aku kuliah."

"Serius?!"

"Hmm, aku harus jadi pewaris keluarga, menyebalkan sekali."

"Dan kau menerimanya?"

Jongin mengangguk samar. "Aku punya tanggung jawab setelah ini, tidak mungkin aku pergi begitu saja untuk ke alam liar, dulu aku tak peduli apapun meski mati aku juga tak peduli karena berada di dalam liar adalah mimpiku tapi…," Jongin menghirup oksigen dalam-dalam, menghembuskannya perlahan. "Setelah aku hamil aku mengerti bagaimana perasaan orangtuaku jika aku mati."

"Dewasa itu menyebalkan." Gumam Kyungsoo.

"Ya, jadi dewasa itu menyebalkan telalu banyak pertimbangan."

"Hubunganmu dengan Chanyeol?"

"Entahlah."

"Kau tetap tidak ingin kembali padanya."

"Aku tidak pernah memikirkan hal itu lagi."

"Kau masih berpikir ada beberapa kesalahan yang tak bisa diperbaiki?"

"Kenyataannya memang seperti itu. Aku akan berusaha memperbaiki hubunganku dengan Chanyeol, aku juga tak akan melarang dia bertemu dengan anaknya hanya saja untuk tinggal bersama dalam hubungan pernikahan, itu—terdengar sedikit sulit untukku."

"Ikuti saja kata hatimu, itu selalu benar."

"Terima kasih Hyung." Kyungsoo tersenyum kemudian dia tersentak, terkejut karena getaran ponselnya. "Mereka segera sampai."

"Secepat itu?" Kyungsoo hanya mengendikkan kedua bahunya. "Wow, aku tak menyangka akan secepat ini."

"Chanyeol pasti sudah menunggu saat-saat ini." Bisik Kyungsoo.

"Mungkin." Jongin menyingkap selimutnya kemudian turun dari tempat tidur. "Aku akan memberitahu kakakku jika Chanyeol akan datang." Kyungsoo setuju dengan kalimat Jongin, ia berjalan di samping Jongin keluar kamar bersama.

.

.

.

Chanyeol sedang memandangi mangkuk serealnya dengan tak tertarik saat Xiumin tiba-tiba bertanya sesuatu yang cukup mengejutkan. "Seandainya kau dan Jongin berkesempatan untuk bertemu apa kau akan marah?"

"Tidak Hyung, marah tak akan menyelesaikan masalah aku hanya ingin hubungan kami membaik, bahkan jika Jongin masih ingin bercerai aku akan mengabulkannya, asalkan aku bisa ikut membesarkan anakku, itu saja."

"Ganti bajumu, Jongin ingin bertemu denganmu." Chanyeol mengerutkan kening, mengerjap-ngerjapkan dua mata bulatnya. "Jongin ingin bertemu denganmu." Ulang Xiumin.

"Jongin ingin bertemu denganku," gumam Chanyeol. "Jongin ingin bertemu denganku?!" kali ini Chanyeol berteriak dengan keras dan jangan lupakan suara beratnya itu. Xiumin bahkan terlonjak kaget. "Hyung!" Chanyeol berdiri di hadapan Xiumin memegang kedua pundak menejer setianya itu, mengguncangnya dengan keras. "Hyung tidak bercanda kan?! Ini benar-benar terjadi kan?! Bukan mimpi?!"

"Ganti pakaianmu cepat!" Xiumin melepas kedua tangan Chanyeol yang berada di pundaknya mengguncang dengan tak berperikemanusiaan.

"Oh,ah, baiklah—aku ganti pakaianku sekarang juga, oh ya, apa yang harus aku lakukan?"

"Ganti pakaianmu!" Xiumin akhirnya berteriak jengel.

"Baiklah…," racau Chanyeol, ia berlari menuju kamarnya dan bahkan masih sempat terpeleset karena terlalu antusias.

Lima menit kemudian Chanyeol keluar dengan pakaian yang cukup pantas. "Baiklah, ayo berangkat sekarang, aku yang menyetir." Ucap Xiumin sambil merebut kunci mobil dari tangan Chanyeol. "Aku tak ingin mengambil resiko menabrak atau tertabrak karena kau terlalu antusias dan tak fokus dengan jalanan." Terang Xiumin melihat tatapan penolakan dari kedua mata Chanyeol.

"Baiklah, Hyung kita kemana?"

"Apartemen kakak perempuan Jongin."

"Itu dimana?" Xiumin menelan ludah kasar sedikit ragu untuk menjawab pertanyaan itu. "Hyung?"

"Jangan terkejut." Chanyeol menggeleng yakin. "Hanya dua menit dari sini dengan mobil, lima menit jalan kaki."

"Apa?!" pekik Chanyeol "Jangan katakan….,"

"Ya, apartemen itu." Xiumin menunjuk bangunan apartemen lain yang terletak berhadapan dengan apartemen Chanyeol.

"Jadi selama ini sedekat itu," bisik Chanyeol.

"Tidak, Jongin baru tiba satu bulan lalu selama itu aku tidak tahu dimana dia, Kyungsoo masih belum membuka mulutnya." Xiumin menepuk pelan bahu kanan Chanyeol. "Itu jangan dipikirkan sekarang, kau ingin bertemu dengan Jongin juga calon anakmu kan? Sekarang, kita fokus pada masalah itu."

"Oh, ah, ya kau benar Hyung kita pergi sekarang."

"Jalan kaki atau naik mobil?"

"Naik mobil saja, jalan kaki terlalu beresiko, aku tidak ingin memakai penyamaran terlalu merepotkan."

"Baiklah, ayo." Xiumin berbalik dan berjalan mendahului Chanyeol, tentu saja hal itu tak berlangsung lama Chanyeol dengan cepat bisa menyusulnya.

Chanyeol terus menggigiti bibir bawahnya, tak peduli jika bibirnya terluka atau berdarah, dia hanya terlalu senang dan tak sabar untuk bertemu dengan Jongin. Setelah penantian panjang itu, kini semuanya berakhir. "Sebentar lagi kita sampai Chanyeol," Xiumin berucap dengan nada pelan berharap sedikit menenangkan Chanyeol.

Dua menit adalah waktu singkat namun Chanyeol merasa dua menit tiba-tiba berubah menjadi dua jam dengan cara yang sangat ajaib. Dia tak mampu menyembunyikan kelegaannya saat Xiumin menempatkan mobilnya di tempat parkir dan mematikan mesin. "Ayo." Ucap Xiumin sembari melepas sabuk pengamannya. Chanyeol langsung membuka pintu dan turun, dia tidak mengenakan sabuk pengaman hanya dua menit saja kan, untuk apa repot-repot? Begitu pikirnya. "Kau gugup?" Xiumin bertanya karena tiba-tiba Chanyeol menggenggam erat tangan kanannya.

"Hmm." Balas Chanyeol.

"Kita naik lift, pergi ke lantai tiga setelah itu kau bisa bertemu dengan Jongin." Chanyeol tak menjawab namun genggaman tangannya semakin erat. Semua orang yang melihat keduanya pasti berpikir jika mereka adalah pasangan, padahal kenyataannya jauh dari kebenaran.

"Hyung, apa yang harus aku katakan nanti?"

"Ini yang kau tunggu kan? Jadi hadapi saja apa yang akan terjadi jangan dipikirkan, semua akan baik-baik saja, percayalah."

"Terima kasih Hyung, selama ini kau selalu membantuku. Padahal jika aku ada di posisimu aku yakin, aku pasti sudah melarikan diri sejak lama."

Xiumin tertawa pelan. "Aku juga berpikir hal itu berulang kali."

"Tapi Hyung tetap bertahan bersamaku."

Xiumin mengendikkan bahu. "Aku juga tidak tahu bagaimana aku bisa bertahan denganmu selama itu."

"Terima kasih Hyung, aku hanya bisa mengucapkan kalimat menyebalkan itu." Xiumin hanya tertawa pelan mendengar pengakuan konyol Chanyeol.

Keluar dari lift dan sepanjang lorong Chanyeol terus menggenggam tangan Xiumin, jika Xiumin bukan tipe orang pengertian pasti Chanyeol sudah dia tendang jauh-jauh namun ia bisa memahami bagaimana perasaan Chanyeol sekarang. Xiumin menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu. "Di sini?" tanya Chanyeol, Xiumin mengangguk sebagai ganti jawaban.

"Halo, ini kami Xiumin dan Chanyeol." Xiumin berbicara di intercom.

"Oh Chanyeol!" suara perempuan dengan nada tingginya menyambut, tak lama pintu terbuka dan perempuan cantik kakak Jongin tersenyum lebar. "Kau pasti sangat sibuk hingga sama sekali tak menjenguk Jongin." Chanyeol membalas pelukannya dengan canggung. Jongin sama sekali tak menceritakan masalah mereka pada keluarganya, terbukti ayah Jongin dan ibunya yang terkadang sedikit posesif itu sama sekali tak mengancam kehidupan Chanyeol.

"Masuklah." Chanyeol melepas sepatunya kemudian melangkah masuk, entah kenapa kedua kakinya tiba-tiba terasa berat. "Jongin, Chanyeol datang!"

"Aku di ruang keluarga!" suara itu sungguh Chanyeol sangat merindukan suara itu. Kemudian langkah kaki terdengar semakin jelas mendekat.

Kyungsoo muncul. "Aku antar ke ruang keluarga, Hyung tunggu di ruang tamu." Kyungsoo menunjuk sofa biru muda yang berjarak beberapa senti di sebelah kiri tubuhnya, Xiumin hanya mengangguk menurut.

"Aku sendiri?"

"Ya, ada banyak hal yang harus kalian selesaikan." Kyungsoo tersenyum ramah namun Chanyeol merasa sangat tegang sekarang, senyuman Kyungsoo sama sekali tak menenangkan.

"Pergilah," gumam Xiumin sambil mendorong pelan punggung Chanyeol.

"Ayo." Kyungsoo menarik tangan kanan Chanyeol dan membawanya pergi.

.

.

.

"Jongin." Panggil Kyungsoo, Jongin yang tadi sibuk menonton televisi menoleh. Kyungsoo tersenyum. "Kami ada di ruang tamu jika kalian membutuhkan sesuatu, teriak saja." Tentu saja Kyungsoo mengucapkan kalimat terakhirnya dengan nada bercanda. Chanyeol tertawa pelan begitupun dengan Jongin.

Jongin berdiri dari duduknya dan berjalan menghampiri Chanyeol yang terlihat sangat canggung sekarang. "Hai," ucap Jongin sembari mengulurkan tangan kanannya.

"Hai." Gumam Chanyeol menyambut uluran tangan Jongin. Jongin tersenyum ramah kemudian menarik tangannya kembali.

"Kau—terlihat berbeda." Ucap Jongin sembari mengamati penampilan Chanyeol, dengan rambut yang diwarnai silver dan tubuh yang terlihat jauh lebih kurus.

"Kau juga." Balas Chanyeol singkat.

"Mari duduk." Ajak Jongin.

Keduanya duduk saling berhadapan. "Maafkan aku Chanyeol, selama ini aku sangat egois." Jongin yang pertama kali membuka percakapan.

"Kau berhak untuk itu. Aku mengerti."

Jongin menggangguk pelan. "Maaf membuatmu menderita."

"Aku tidak menderita kok, tenang saja." Chanyeol menunjukkan cengiran konyolnya pada Jongin.

"Apanya yang tidak menderita, kau kurus seperti itu."

Chanyeol hanya tertawa pelan. "Aku tak menyangka kita tinggal berdekatan."

"Aku baru pindah ke sini."

"Lalu kau pergi kemana sebelum ini?"

"Jangho."

"Jangho? Ayahmu tak curiga?"

"Ayah tak akan bertanya macam-macam jika aku menolak memberitahu."

"Bagaimana kabar keluargamu di sana?"

"Baik, semua kabar keluargaku baik."

"Kau tak mengatakan apapun tentang kita?" Jongin menggeleng pelan.

Chanyeol tersenyum simpul. "Terima kasih." Bisiknya.

"Untuk apa?" Jongin melempar tatapan bingung.

"Karena kau masih memikirkan nama baikku." Keduanya bertatapan selama beberapa detik sebelum Jongin memalingkan wajahnya.

"Aku memikirkan nama baikku sendiri, jangan merasa berhutang."

Chanyeol menarik napas dalam-dalam, meredam gemuruh jantungnya. "Setelah ini—apa?" tanyanya ragu-ragu.

"Aku belum memikirkan hal itu, lusa aku akan melahirkan kau bisa datang. Tentu saja kau harus datang, dia juga anakmu. Anakmu laki-laki."

"Anak kita." Koreksi Chanyeol. "Aku sudah tahu, dari doktermu, Hayate aku meminta tolong Xiumin hyung, maaf aku hanya ingin tahu…,"

"Tak apa, kau berhak untuk tahu." Potong Jongin, sementara kedua matanya memperhatikan mangkuk ikan beta di atas meja kopi tak ingin menatap kedua mata Chanyeol. Keheningan menyeruak, Jongin memperhatikan ikan beta di dalam mangkuk dengan sirip berwarna ungu sementara Chanyeol menggigiti bibir bawahnya.

"Kita tidak bisa bersama lagi?" lirih Chanyeol bertanya, menyuarakan hal yang ingin sekali ia ketahui.

"Aku juga tidak tahu." Bisik Jongin, seolah-olah tak ingin menghancurkan keheningan yang tercipta.

"Aku tidak akan memaksamu, kapanpun kau minta aku akan langsung menandatangani surat cerai kita, maaf telah menahan surat itu terlalu lama." Jongin hanya menatap Chanyeol sekilas dan tersenyum tipis sebagai tanda mengerti, kemudian tatapannya kembali pada ikan beta di hadapannya. "Sekarang fokus saja pada persiapan kelahiran bayi kita setelah itu, kita selesaikan semuanya."

"Ya." Balas Jongin datar.

"Aku merindukanmu, sangat merindukanmu." Bisik Chanyeol.

Jongin hanya terpaku menatap Chanyeol, tak tau harus menjawab seperti apa. Mengenai perasaannya, Jongin juga tak mengerti selama sembilan bulan terakhir ini ia tak memikirkan tentang perasaanya terhadap Chanyeol, hanya memikirkan tentang Chanyeol adalah ayah bayinya dan dia memiliki hak yang sama dengan dirinya, memikirkan untuk berbagi hak asuh, hanya itu. "Kau tak perlu menjawabnya," ucap Chanyeol mengerti kebingungan Jongin meski dadanya terasa nyeri sekarang, ia bisa mengerti. Seperti ucapan Jongin yang lalu, tak semua kesalahan bisa diperbaiki. "Aku mengerti," bisik Chanyeol.

"Datanglah lusa, aku akan memberitahu selengkapnya lewat Xiumin hyung."

"Kenapa tidak langsung memberitahukannya padaku?"

"Lewat Xiumin hyung lebih mudah."

"Oh." Chanyeol tersenyum perih. "Kau benar-benar membenciku."

"Aku tidak membencimu." Jongin membalas cepat, keduanya kembali bertatapan. "Daripada disebut benci lebih tepat disebut kecewa." Tatapan keduanya masih bertautan, namun tak ada kata yang terucap selama beberapa saat. Hingga Chanyeol membuka mulutnya.

"Aku akan datang lusa, aku pasti datang."

Jongin membasahi bibirnya yang tiba-tiba terasa kering sebelum berucap. "Jaga dirimu baik-baik, perhatikan kesehatanmu."

"Kau peduli?"

"Kau akan membesarkan seorang anak nanti, jadi mulailah untuk lebih peduli pada dirimu sendiri."

"Kau pikir karena siapa aku seperti ini!" bentak Chanyeol tanpa sadar, Jongin hanya melempar tatapan terkejut. "Maaf," bisik Chanyeol kemudian menundukkan wajahnya.

"Kau pikir kita bisa memulainya dari awal lagi?" Chanyeol mengangkat wajahnya menatap Jongin, terkejut dengan pertanyaan yang ia ajukan. "Terlalu banyak tembok penghalang di antara kita." Chanyeol mengendikkan kedua bahunya pelan. "Aku—sejujurnya tidak ingin membesarkan anak dalam keadaan seperti ini, maksudku—kau tahu kan bagaimana pengaturan hak asuh, satu minggu bersamaku satu minggu bersamamu, liburan secara terpisah dan sebagainya, semuanya terpisah."

"Kau ingin keluarga yang utuh?" Jongin mengangguk pelan. "Bagaimana kata hatimu?"

"Sama, tapi aku tidak ingin kita bersama karena suatu alasan, alasan untuk memberikan keluarga yang utuh untuk anak kita."

"Kau ingin kita bersama?" saat Jongin menggelengkan kepalanya Chanyeol bisa merasakan hatinya hancur untuk yang kedua kalinya. "Saat dia mulai bertanya kita akan menjelaskannya bersama, kenapa orangtuanya tidak tinggal bersama, kenapa orangtuanya tidak terikat dalam pernikahan, kita akan menjelaskan semuanya tak ada yang ditutupi. Semua akan baik-baik saja." Kalimat terakhir dari Chanyeol lebih ditujukan kepada dirinya sendiri dibanding Jongin.

"Ya, semuanya akan baik-baik saja." Gumam Jongin.

"Aku pasti akan datang lusa, sampai jumpa Jongin." Chanyeol tersenyum sambil berdiri dari posisi duduknya, kemudian berbalik dan berjalan pergi. Jongin hanya bisa diam terlalu bingung dengan perasaan serta keinginannya sendiri.

"Jadi bagaimana?" Kyungsoo langsung bertanya. Jongin hanya mengendikkan bahu. "Baiklah," desah Kyungsoo sebelum mendudukkan dirinya tepat di samping Jongin.

"Mau main game? Tawar Jongin.

"Tentu." Jongin tersenyum kemudian mengoperkan salah satu stick PSnya kepada Kyungsoo.

.

.

.

"Chanyeol!" pekik nyonya Park di depan pintu apartemen Chanyeol. Chanyeol langsung melompat turun dari sofa, gelagapan, sepulangnya dari rumah Jongin dia memutuskan berbaring di atas sofa, bergulung-gulung tidak jelas karena pikirannya sedang buntu.

"Ibu!" pekik Chanyeol terkejut karena ibunya datang bersama lima orang pria dengan membawa berbagai macam barang-barang perlengkapan bayi.

"Bawa semuanya masuk." Perintah nyonya Park. Kemudian melangkah masuk dan menarik tangan putranya. Mereka duduk di meja makan untuk berbicara, atau lebih tepatnya nyonya Park memaksa untuk berbicara. "Kau dan Jongin?"

"Oh itu, aku rasa hubungan kami sudah membaik."

"Kalian tidak akan bercerai kan?"

"Aku tidak tahu soal itu Ibu, tapi kami akan berbagi hak asuh." PLAK! "Kenapa Ibu memukulku?!" pekik Chanyeol.

"Sejak awal semua salahmu, selalu tidak tegas."

"Untuk wanita yang akan bercerai Ibu terlihat sangat bahagia."

"Karena aku memutuskan dengan cepat dan matang, kau ini tidak cocok berbisnis, bisa rugi besar perusahaanku memiliki bos yang selalu ragu sepertimu." Cibir nyonya Park tak peduli dengan wajah putranya yang tertekuk kusut sekarang.

"Ya, aku memang seperti itu Ibu." Nyonya Park hanya bisa menggelengkan kepala. "Lusa, Jongin akan melahirkan Ibu ikut denganku ya?" Pinta Chanyeol.

"Oh, dia mengijinkanmu untuk datang?"

"Hubungan kami kan sudah cukup membaik."

"Baik, baik, Ibu akan ikut menemanimu tenang saja." Nyonya Park meraih tangan putranya, menggenggamnya penuh kasih sayang. "Untuk saat ini tak apa, setidaknya kau sudah mendapat kejelasan tentang hak asuh anak kalian. Untuk selanjutnya kita hanya bisa berharap yang terbaik."

"Hmm." Gumam Chanyeol pelan.

"Ibu yakin penantian dan kesabaranmu tak akan sia-sia."

"Tapi kesalahanku terlalu besar, Ibu." Chanyeol membebaskan tangannya dari genggaman sang Ibu, dengan telunjuknya ia menelusuri pola kayu mahoni pada permukaan meja makan. "Tidak ada maaf untuk kesalahan sebesar itu."

"Seandainya Jongin kembali padamu, kau jangan sampai menyakitinya."

Chanyeol tersenyum miring. "Itu tak akan terjadi."

"Ibu kan sudah bilang seandainya." Tegas nyonya Park.

"Tentu saja aku tak akan menyakitinya, tak akan pernah." Nyonya Park hanya tersenyum simpul kemudian tangan kanan beliau terangkat untuk mengusap pelan puncak kepala Chanyeol.

.

.

.

"Ganti pakaianmu." Chanyeol menjelma menjadi orang paling bodoh di dunia karena ia tak bisa mencerna kalimat Kyungsoo. "Ganti pakaianmu, kau akan masuk ruang operasi dengan Jongin."

"Kyungsoo, kau tidak sedang bercanda kan?"

"Apa wajahku terlihat sangat konyol bagimu?"

"Tidak, tidak, hanya saja—ini terdengar sedikit tak masuk akal."

"Mau masuk atau tidak?"

"Tentu aku mau!" pekik Chanyeol bahagia. "Tapi aku tak akan melihat semua prosesnya kan? Saat dokter kau tahulah…," Chanyeol bahkan tak mampu mengucapkan kalimatnya secara lengkap, membayangkannya saja sudah membuat perutnya melilit.

"Tidak, kau tidak akan melihat apapun. Xiumin sudah mengatakan pada Hayate hyung tentang ketakutanmu."

"Ya, itu cukup melegakan." Bisik Chanyeol, kemudian ia pun berjalan mengikuti perawat yang menghampirinya.

Gugup, tentu saja dirinya sangat gugup dan ketakutan, ia bahkan berjingkat saat seseorang membersihkan perut ikan dan sekarang…, Chanyeol menelan ludahnya kasar tak ingin memikirkan apapun. Kedua kakinya ia langkahkan dengan mantap mengikuti seorang perawat yang membawanya menuju ruang operasi setelah semua persiapan selesai.

Suhu dingin langsung menyambut Chanyeol saat ia masuk ke dalam ruang operasi. Aroma menusuk di dalam ruang operasi membuat Chanyeol mual, namun pikiran tentang berjumpa dengan anaknya lebih kuat daripada perasaan jijik.

"Chanyeol." Hayate berjalan menghampiri Chanyeol, ia buka masker penutup wajahnya, Chanyeol tersenyum mengingat wajah familiar yang ia temui saat upacara pernikahannya. "Kau ingin berbicara dengan Jongin sebelum dia dibius?"

"Bukankah pada operasi cesar pasien tidak dibius total?"

"Jongin memiliki asma, untuk menghindari kepanikan atau hal lain yang tak diinginkan. Bagaimana?" Chanyeol mengangguk. "Kami akan memberimu waktu." Hayate tersenyum sebelum berteriak lima menit kepada semua orang di dalam kamar operasi. "Kami akan kembali lima menit dari sekarang."

"Terima kasih." Bisik Chanyeol.

Chanyeol menarik napas dalam-dalam sebelum menyingkap tirai hijau di hadapannya. Jongin siap dengan pakaian operasinya dia berbaring di atas ranjang terlihat bingung, membuat Chanyeol tersenyum melihat semua itu. "Kai,"

"Oh." Jongin mengangkat wajahnya. "Sudah datang?"

"Hmm." Chanyeol berjalan mendekati ranjang. "Bagaimana perasaanmu?"

"Aku?" Chanyeol mengangguk, Jongin terdiam selama beberapa detik mencoba mencari kalimat yang tepat. "Sulit untuk diungkapkan."

"Aku sangat bahagia." Bisik Chanyeol. Jongin hanya mengangguk pelan.

"Kau—sudah memikirkan nama?"

"Nama?!" pekik Chanyeol, tak percaya dengan pertanyaan Jongin. Bagaimana bisa memikirkan sebuah nama jika selama ini pikirannya terus dipenuhi dengan berbagai pemikiran buruk seperti Jongin yang akan mencegahnya bertemu dengan anaknya atau Jongin yang membawa kabur anaknya. "Belum."

"Oh, tak apa masih ada cukup waktu untuk memikirkan nama."

"Marganya bagaimana? Kim, juga tak apa, itu bagus."

"Park terdengar lebih populer." Balas Jongin, Chanyeol tak percaya dengan ucapan Jongin namun sebelum ia sempat membalas Hayate dan timnya sudah masuk ke dalam ruangan.

"Jongin kau siap?"

"Kita mulai sekarang." Ucap Hayate. Jongin menurut kemudian seluruh ruangan mulai sibuk mempersiapkan segala perlengkapan.

"Duduklah." Ucap Hayate sembari menunjuk sebuah kursi kepada Chanyeol. "Kau ingin melihat prosesnya atau tidak?"

"Tidak." Balas Chanyeol tegas, Hayate hanya tersenyum. "Jangan pasang cermin, ayahnya tidak ingin melihat."

Chanyeol hanya berjingkat, rasanya tak perlu mengatakan hal seperti itu keras-keras. Pandangan Chanyeol langsung tertuju pada Jongin yang tiba-tiba menggenggam tangannya. "Aku di sini semuanya akan baik-baik saja, aku janji." Bisik Chanyeol sambil membalas genggaman tangan Jongin yang terasa sangat dingin.

"Jika terjadi sesuatu…,"

"Tidak akan terjadi sesuatu." Potong Chanyeol cepat.

"Maafkan aku," bisik Jongin pelan.

"Aku sudah memaafkanmu sejak lama." Chanyeol melirik Hayate, dokter itu mengisyaratkan kepada Chanyeol untuk terus mengajak bicara Jongin. Seorang perawat memasangkan masker oksigen kepada Jongin. Tangan kanan Jongin masih menggenggam Chanyeol erat. Chanyeol mendekatkan bibirnya pada telingan kanan Jongin. "Kau masih ingat bagaimana kita bertemu? Konyol sekali, cincin yang aku lempar." Bisik Chanyeol, Jongin hanya tersenyum menanggapi kalimat itu. Pandangan mulai meredup, beberapa kali matanya hampir terpejam namun ia melawannya. "Saat semua orang membenci lirik laguku, kau masuk dan membacakan semua komentar negatif tentang aku. Saat itu aku benar-benar ingin memukul wajahmu dengan keras."

Kedua mata Jongin akhirnya tertutup dan genggaman tangannya terlepas, Chanyeol menahan napasnya sejenak. "Aku menunggumu, semuanya akan baik-baik saja," bisik Chanyeol pelan ia kecup kening Jongin yang lembab karena keringat. Chanyeol menggenggam tangan dingin Jongin. "Aku mencintaimu Kim Jongin."

Chanyeol memandangi wajah Jongin yang tertidur, dan semua kenangan yang telah mereka lalui kenangan baik dan buruk, muncul bersamaan, seperti rekaman film. Kedua pandangan Chanyeol mulai berkabut ia mengerjapkan kedua matanya mengusir air mata yang terus menekan untuk keluar.

Chanyeol tidak tahu berapa lama waktu terlah berjalan. Ia terus memandangi wajah Jongin yang terlihat tenang dengan napas teratur. Hingga sebuah suara tangisan yang sangat keras memecah keheningan ruang operasi. Chanyeol menoleh ke arah sumber suara. Seorang perawat membungkus bayinya dengan kain berwarna hijau dan membawanya pergi. Chanyeol mulai panik.

"Tak apa Chanyeol, dia hanya akan dibersihkan dan diukur lalu menjalani serangkaian tes apakah semuanya normal." Hayater menenangkan dengan suara yang sedikit teredam masker.

Chanyeol berdiri dari duduknya. Ketakutannya hilang seketika. "Aku ingin melihat bayiku." Ucap Chanyeol.

"Kau yakin? Dia masih penuh darah dan lendir."

"Tak masalah." Hayate mengangguk pelan kemudian ia mengisyaratkan pada salah satu perawatnya untuk memperlihatkan bayi itu pada Chanyeol.

Dengan tangan bergetar Chanyeol memeluk tubuh mungil yang masih menangis keras itu. "Duduklah," bisik sang perawat. Chanyeol menurut. "Dekap dia di dadamu." Chanyeol mengangguk pelan. perlahan menempelkan tubuh bayinya ke dada, bayi itu masih menangis keras. Chanyeol menatap si perawat bingung. "Tak, apa dia hanya kesal. Di dalam sangat hangat dan sekarang dia harus keluar." Chanyeol tersenyum simpul.

Kemudian pandangannya tertuju pada makhluk mungil di dalam dekapannya, menangis keras dan meronta. Semuanya terlihat sempurna tak ada kekurangan. "Jari-jarinya lengkap, berat badan dan tinggi badannya normal, dari caranya menangis semua berfungsi dengan baik." si perawat memberi keterangan. Chanyeol hanya bisa diam mendengarkan.

Tangisan bayinya berhenti, kedua kelopak mata mungil itu terbuka. Mata yang mirip dengannya. "Hai, aku Ayahmu yang lain, maaf kau harus keluar," bisik Chanyeol dengan suara bergetar, dadanya bergemuruh dan terasa hangat. Mata mungil itu menatapnya, mengerjap-ngerjap. Chanyeol mengangkat tangan kanannya perlahan menghapus lelehan air mata di pipi bayinya dengan jari telunjuknya.

Kecil, rapuh, berlendir, berdarah, namun sangat tampan. Dan detik itu juga Chanyeol bersedia melakukan apapun untuk kebahagian makhluk mungil dalam dekapannya. "Aku Ayahmu," bisik Chanyeol ia kecup lembut dahi bayinya yang masih dipenuhi dengan lendir dan darah. Saat perawat meminta bayinya kembali, Chanyeol benar-benar enggan untuk melepasnya.

"Hanya sebentar setelah itu dia akan bersamamu kembali," ucap si perawat penuh pengertian. Chanyeol mengangguk ragu, ia serahkan bayinya dengan tangan yang masih bergetar. Dan seolah mengerti, bayinya langsung menangis keras saat tubuhnya dipindahkan. Chanyeol menahan diri untuk tak berlari dan mengambil bayinya lagi.

.

.

.

Satu jam setelah operasi, Jongin masih tertidur. Chanyeol duduk di sofa menunggunya dengan bayinya tentu saja. Setelah diberi susu biasanya bayi akan tidur tapi tidak dengan putranya, mata bulatnya terus bergerak dan mengerjap-ngerjap lucu. "Tidurlah," bisik Chanyeol sambil mengusap pelan punggung bayinya yang terbungkus selimut nyaman berwarna biru. "Kau menunggu ayahmu yang lain?" dan bayinya menjawab dengan menjulurkan lidahnya lucu, Chanyeol tertawa pelan.

Belum ada yang masuk ke ruangan, Chanyeol sengaja melarang semua orang untuk masuk. Ia ingin menghabiskan waktu bersama dengan bayinya dulu. "Lucu sekali," gemas Chanyeol ia cium pipi gembul bayinya yang masih merah itu. Chanyeol terdiam memperhatikan wajah bayinya.

Mata bulat itu mirip dengannya, hidungnya lebih mancung dari Jongin, bibirnya mirip Jongin, kulitnya lebih gelap dibanding kulitnya namun lebih putih dibanding Jongin. Perpaduan yang sempurna. "Beruntung kau tidak punya telinga lebar sepertiku, aku suka telingaku tapi menyebalkan sekali saat semua orang memanggilmu dengan telinga peri." Chanyeol tersenyum, bayinya menguap lebar. "Tidurlah kau sudah lelah." Bisik Chanyeol, seolah mengerti kedua mata mungil itu mulai tertutup.

"Sebaiknya kau mulai berpikir tentang nama."

"Jongin." Chanyeol pasti akan berteriak karena terkejut jika dia tak ingat bayi di dalam dekapannya. "Kapan kau bangun?"

"Hmm, aku rasa saat kau berkata beruntung dia tidak mempunyai telinga yang mirip denganmu." Chanyeol menatap Jongin heran. "Kenapa?" Jongin menanggapi tatapan Chanyeol.

"Kau tidak ingin menggendong bayi kita?"

"Kau bodoh atau apa? Perutku sakit." Gerutu Jongin.

"Oh aku lupa!" pekik Chanyeol tertahan, perlahan ia berdiri dari duduknya dan mendekati ranjang Jongin. Chanyeol membungkukkan badannya supaya Jongin bisa melihat wajah bayi mereka.

"Dia—tampan." Bisik Jongin perlahan Chanyeol tersenyum lebar. "Tapi—kenapa dia lebih mirip denganmu daripada aku?!" protes Jongin.

"Aku juga tidak tahu masalah itu," balas Chanyeol tentu saja dengan suara rendah.

"Yang lain pasti sudah menunggu, biarkan mereka masuk."

"Kau yakin?"

"Hmm."

"Baiklah aku akan mengirim pesan untuk Xiumin hyung."

"Terserah caramu."

Pintu ruang rawat terbuka pelan, nyonya Kim masuk terlebih dahulu kemudian disusul ibu Jongin, ayah Jongin, ibu tiri Jongin, dan duo kekasih dimabuk cinta yang telah berhasil menghadapi badai percintaan siapa lagi jika bukan Xiumin dan Kyungsoo. "Ibu ingin menggendongnya." Ucap nyonya Kim antusias dengan nyonya Park yang sudah berdiri di samping beliau dengan tak kalah antusias.

Chanyeol menoleh pada Jongin, Jongin mengangguk memberi ijin. "Baiklah." Perlahan Chanyeol meletakkan tubuh bayinya ke dalam gendongan ibu mertuanya. Bayi kecilnya menggeliat tak nyaman, kedua mata mungilnya terbuka semua orang yang ada menahan napas, menunggu jerit tangis. Ruangan langsung diselimuti aura ketegangan, namun bayi Chanyeol dan Jongin hanya menggeliat kemudian tertidur kembali.

"Mirip sekali dengan Jongin," ucap nyonya Kim tanpa sadar. Jongin hanya bisa mendesah fruastasi mendengar martabatnya dijatuhkan sendiri oleh sang ibu. "Kami culik ya," ucap nyonya Kim dengan nada bercanda, namun semua orang langsung keluar kamar.

"Ya!" pekik Chanyeol tak ingin bayinya dibawa jauh darinya.

"Biarkan saja, dia pasti baik-baik saja. Mereka kan sudah berpengalaman kecuali Xiumin dan Kyungsoo hyung." Ucap Jongin meredam kecemasan Chanyeol. Chanyeol masih memandangi pintu di hadapannya dengan tak rela, namun dia teringat akan sesuatu yang harus dibicarakan dengan Jongin.

Chanyeol berbalik tatapan keduanya berserobok. "Selanjutnya apa? Hubungan kita bagaimana?"

"Mungkin—kita bisa mencobanya dari awal."

"Be—benarkah? Kau tidak sedang dalam pengaruh bius kan?"

"Jika perutku tidak sakit sudah aku tendang kau!" pekik Jongin sebal. Jongin terkejut saat Chayeol tiba-tiba mendekapnya erat, namun tetap lembut untuk tak menyakitinya. "Jangan menangis Chayeol, aku merasa canggung jika kau menangis." Bisik Jongin sambil menepu-nepuk pelan punggung Chanyeol.

Chanyeol menarik tubuhnya kemudian duduk di tepi ranjang Jongin. "Terima kasih, ini seperti mimpi." Ucap Chanyeol dengan suara bergetar menahan tangis.

"Sudah hapus air matamu ayolah kau tampak menyedihkan." Balas Jongin kemudian tertawa pelan. tangan kanannya bergerak menyentuh sisi kiri wajah Chanyeol yang basah karena air mata.

Chanyeol menggenggam tangan Jongin dengan erat. "Aku tidak akan menyakitimu Jongin dan kau—kau jangan menghilang seperti itu lagi, aku hampir gila, jika Xiumin hyung tak mendapatkan gambar USG bayi kita, saat itu aku pasti memutuskan untuk mati."

"Cukup Chanyeol jangan membahas masa lalu yang buruk, kita mulai dari awal lagi, jadi singkirkan semua hal-hal buruk di masa lalu, setuju?"

Chanyeol tersenyum simpul. "Ya, tentu saja. Karena di masa lalu aku sangat brengsek dan bodoh."

"Sekarang dewasalah kau sudah dipanggil Ayah." Canda Jongin.

"Kau juga. Impianku menjadi ayah di usia muda terwujud, terima kasih Jongin." Chanyeol tersenyum lebar. "Kalau aku Ayah lalu kau siapa, Ibu?"

"Mati sana Park Chanyeol!"

"Aku bercanda, wajahmu lucu saat marah. Panggilanmu apa? Dia bisa bingung jika memanggil kita berdua dengan Ayah?"

"Daddy aku rasa keren, dia kan lahir tanggal 4 Juli jadi dia bisa memanggilku Daddy."

Chanyeol tertawa terbahak-bahak. "Kai, kita tidak memiliki darah campuran sama sekali."

"Tidak masalah." Balas Jongin keras kepala.

"Baiklah, baiklah, aku Ayah dan kau Daddy." Chanyeol menyerah. Chanyeol melepas kalung yang ia pakai sejak Jongin memutuskan untuk pergi. Ia lepas liontin cincinnya dan memberikannya pada Jongin. "Cincinmu, yang kau berikan saat…, ya saat itulah." Chanyeol tidak ingin mengingat masa lalu yang tak terlalu baik.

"Terima kasih." Gumam Jongin tangannya terulur namun Chanyeol mencegahnya untuk mengambil cincin itu.

"Biar aku pakaikan." Ucap Chanyeol membuat wajah Jongin terasa panas benar-benar menggelikan. "Nah, masih muat."

"Sialan!" umpat Jongin sambil berusaha memukul tubuh Chanyeol, sayang, Chanyeol menghindar dengan cepat.

"Jongin—dulu kau bilang ada beberapa kesalahan yang tidak bisa diperbaiki." Tatapan Chanyeol berubah serius.

"Ya, karena tidak bisa diperbaiki maka harus dimulai dari awal."

"Kau..," gerutu Chanyeol berpura-pura sebal, karena perasaannya sekarang jauh dari kata sebal.

"Aku pikir kau akan memberikan cincinku kembali dengan mawar biru."

"Kau ingin yang seperti itu?"

"Tidak ah, aku hanya meledekmu saja kalau kau benar-benar melakukannya…,"

"Awalnya aku berpikir seperti itu." potong Chanyeol dengan penuh semangat, berharap Jongin terkesan.

"Tidak kreatif, itukan adegan di video musik yang kau bintangi." Cibir Jongin membuat Chanyeol mengerucutkan bibirnya karena kesal dikatai tidak kreatif, Jongin selalu susah ditebak, ayolah dirinya penyanyi dan penulis lagu dari sisi mana tidak kreatif? Adegan di video musik itu lumayan romantis. "Jangan memasang tampang seperti bebek!"

"Ya." Balas Chanyeol datar masih sedikit kesal namun mendengar tawa Jongin yang bahagia membuat kekesalannya menguap seketika. "Jadi kita mulai semuanya dari awal?" Chanyeol menatap Jongin lekat-lekat.

"Ya, kita mulai lagi dari awal." Bisik Jongin.

Chanyeol tersenyum tulus, ia condongkan tubuhnya mendekati wajah Jongin, lima senti, empat senti, tiga senti, dua senti, satu senti, dan…. Suara tangisan keras serta pintu yang dibuka tergesa membuat Chanyeol menegakkan tubuhnya dengan cepat.

"Chanie! Bayimu menangis keras sekali!" pekik nyonya Park panik. Jongin tertawa pelan, Chanyeol menatap wajah Jongin selama beberapa detik sebelum berdiri dari ranjang dan berjalan mendekati ibunya.

Chanyeol mengambil alih bayinya. Mendekapnya erat. "Hei, kenapa sudah bangun? Tadi Nenek, dan paman-pamanmu, ssttt…, jangan menangis lagi." Gumam Chanyeol. Dan tangisan itu seketika berhenti, semua orang menatap Chanyeol takjub.

"Coba aku." Kyungsoo mengulurkan tangannya, Chanyeol melonggarkan dekapannya. Kyungsoo tersenyum lebar sebentar lagi keinginannya untuk menggendong keponakannya terwujud.

Bayi tampan itu mulai menggeliat tak nyaman, wajahnya yang tadi tenang mulai berkerut. "Oh, oh, oh." Chanyeol sedikit panik, cepat-cepat ia tarik bayinya menjauhi lengan Kyungsoo dan mendekapnya kembali.

"Dia ingin bersamamu, sepertinya dia tahu siapa kau." Ucap Kyungsoo sambil melirik tajam Chanyeol, Chanyeol hanya tersenyum lebar. Kyungsoo mengusap pelan pipi gembul nan lembut bayi laki-laki yang belum memiliki nama itu. "Kau senang dipeluk ayahmu kan…," bisik Kyungsoo gemas.

"Ayah juga bahagia bersamamu." Bisik Chanyeol.

Semua orang yang ada di ruangan tersenyum bahagia, Xiumin memeluk pinggang Kyungsoo, lega semuanya berakhir dengan baik. "Kyungsoo kapan kuliahmu selesai?" bisik Xiumin.

"Aku baru masuk."

"Hah, aku ingin segera menikah dan memiliki bayi."

"Hyung pikir mereka akan baik-baik saja?" Xiumin mengikuti pandangan Kyungsoo yang tertuju pada Chanyeol, Jongin, serta bayi mereka.

"Aku yakin mereka akan baik-baik saja." Gumam Xiumin. "Jadi bagaimana, mau menikah dan memiliki bayi?" goda Xiumin.

Kyungsoo hanya mendengus dan melepaskan tangan Xiumin dari pinggangnya. Xiumin mendesah fruastasi. "Terlalu sering bergaul dengan Jongin, mereka jadi mirip."

Kesalahan besar telah ia lakukan, namun ia telah mencoba untuk memperbaikinya, Chanyeol hanya ingin menjadi seseorang yang lebih baik, bukan seseorang yang sempurna, sebab mustahil menemukan kesempurnaan di dunia ini karena kesempurnaan tergantung dari cara pandang akan sesuatu.

Kesalahan di masa depan mustahil untuk dapat dihindari, hanya saja dia berharap tak akan ada lagi orang-orang yang ia cintai merasa kecewa akan tindakannya. Dia telah belajar dengan cara yang sangat sulit tentang arti cinta, dan sekarang dia hanya ingin menjadi teman hidup Jongin dan ayah yang baik.

END