Matahari bersinar sangat cerah hingga menimbulkan bayangan-bayangan di atas tanah. Awan-awan putih berarak bergerak pelan di birunya langit.
Kyungsoo yang sedang berjalan riang, mendongakkan kepalanya ke atas. Dia mengangkat telapak tangan untuk menutupi matanya dari terik matahari. Keringat mulai terasa di punggungnya.
Tapi Kyungsoo senang. Karena itu berarti hari ini adalah hari yang cerah, di hari kencannya dengan Jongin. Kyungsoo bahkan berpikir sepertinya mustahil hari ini hujan akan turun.
Berbicara mengenai kencan, Kyungsoo tidak bisa memungkiri bahwa dia sangat penasaran dengan acara kencan yang akan dijalaninya. Bukan karena dia memikirkan apa yang akan terjadi pada mereka, apa yang akan mereka lakukan. Ini Jongin kau ingat dan Kyungsoo yakin tidak akan terjadi sesuatu yang mengejutkan jika dia bersama Jongin.
Yang menjadi pemikiran Kyungsoo adalah tempat kencan mereka. Di bioskop.
Bukan masalah besar bagi Kyungsoo jika mereka berkencan dengan menonton film di bioskop. Hanya saja, bukannya Jongin bilang mereka akan membuktikan kalau mereka bisa berjumpa tanpa hujan turun? Bagaimana mereka bisa tahu hasilnya jika mereka berada di dalam gedung?
Kyungsoo sungguh tidak mengerti. Tapi dia tidak berkomentar karena hei, ini kencan pertama mereka. Kyungsoo tidak mau merusak suasana.
Kyungsoo tiba di dalam gedung bioskop. Dia celingak-celinguk mencari sosok Jongin.
"KYUNGSOOOOOO!".
Kyungsoo mendengar namanya dipanggil dengan sangat nyaring. Tapi dia tahu sepenuhnya itu bukan suara Jongin. Lagipula Jongin tidak pernah memanggilnya seperti itu dan bukan sifat Jongin yang dewasa memanggilnya dengan kekanakan seperti itu.
Kyungsoo menoleh pada sumber suara dan langsung membelalakan matanya terkejut.=
"TAEMIN?!".
"Kyungsoo! Akhirnya kau tiba juga!". Taemin memeluk gemas Kyungsoo.
"Apa yang sedang kau lakukan disini? Dan, apa maksudmu aku telah tiba?" tanya Kyungsoo heran.
Taemin tidak menjawab malah masih memeluknya dengan gemas. Kyungsoo hampir kesulitan untuk mengendalikan tubuhnya sendiri. Setelah puas Taemin melepaskan pelukannya dan mengamati Kyungsoo.
"Kau sangat berbeda hari ini. Penampilanmu tidak seperti biasanya kau pergi latihan bernyanyi. Hari ini kau sangat tampan dan manis hingga aku ingin mencubit pipimu dengan kuat!".
Tentu saja hari ini Kyungsoo berpenampilan berbeda karena hari ini dia akan berkencan!. "Apa yang kau lakukan disini Taemin?".
"Hmm? Seseorang mengajakku menonton bioskop bersama hari ini sebagai balas budi".
"Hah?" Kyungsoo tidak mengerti jawaban dari Taemin.
"Aku telah membantu seseorang dan dia membalas budi dengan mengajakku menonton bioskop hari ini".
"Siapa?" Kyungsoo mendapat suatu firasat aneh.
"Aku".
Kyungsoo membalikkan tubuh pada suara yang dikenalnya, berasal dari belakang. Jongin berdiri dengan seseorang lelaki yang tidak dikenal Kyungsoo. Apa yang sebenarnya sedang terjadi, pikir Kyungsoo. Bagaimana firasat dia menjadi benar. Dia tidak tahu harus berkata apa dan bertanya apa.
Kyungsoo mengarahkan tubuhnya kembali pada Taemin. "Tunggu. Sebenarnya ada apa ini? Kau mengenal Jongin?" tanya Kyungsoo dengan pelan.
"Yah. Dia sepupuku".
"Apa?!" seru Kyungsoo kaget. Ternyata dugaannya selama ini kalau Taemin mirip dengan Jongin tidak salah! Mereka sepupu!
"Kenapa kau tidak bilang kepadaku Taemin?" tanya Kyungsoo sebal.
Selama berminggu-minggu Kyungsoo gundah karena tidak bisa bertemu Jongin. Ternyata, selama ini ada cara mudah baginya untuk bertemu dengan Jongin jika saja Kyungsoo mau lebih terbuka mengenai Jongin kepada Taemin.
"Aku tidak tahu kalau Jonginlah lelaki yang selama ini sering kau ceritakan... hmph!".
Kyungsoo segera menutup mulut Taemin. Aduh, kenapa Taemin berkata seperti itu? Dia bisa malu besar kalau Jongin mendengarnya dan bertanya apa maksud ucapan Taemin.
Kyungsoo berbalik lagi untuk melihat apakah Jongin memdengarnya atau tidak. Sepertinya tidak karena Jongin hanya tersenyum manis padanya.
"Hai Kyungsoo" sapa Jongin.
"Hai Jongin".
Lelaki di sebelah Jongin terlihat ingin mengatakan sesuatu tapi dia tidak tahu bagaimana memulainya. Taemin segera menyadari dan menolongnya.
"Kyungsoo, perkenalkan. Ini Minho, kekasihku" Taemin tersenyum lebar. Kedua tangannya masih memeluk pinggang Kyungsoo.
Keduanya berjabat tangan. Kyungsoo teringat pada Taemin yang bercerita ceria tentang hubungan dia dengan Minho. Bagaimana Minho selalu memanjakan Taemin, sangat menjaganya dan membuatnya bahagia. Kyungsoo senang mendengarkan ceritanya. Taemin sungguh terlihat bahagia ketika dia bercerita tentang Minho.
Dan akhirnya Kyungsoo bisa bertemu muka dengan Minho. Tapi kenapa sekarang?! Di hari kencannya?!
"Taemin sering membicarakan dirimu, Kyungsoo. Kurasa aku mengerti sekarang kenapa Taemin sangat gemas padamu" ujar Minho.
"Kau tidak cemburu padaku bukan?" tanya Kyungsoo jahil karena ucapan Minho.
"Tidak pernah. Tidak perlu karena aku tahu kau milik seseorang" jawab Minho sambil menyeringai.
"Apa?" tangap Kyungsoo.
"Tidak" elak Minho. Minho menarik tangan Taemin yang berada di pinggang Kyungsoo. Taemin meronta pelan tidak mau lepas. "Lepas sekarang juga. Aku akan membelikanmu sekotak popcorn besar jika kau mau berjanji tidak menganggu Jongin seharian ini".
Taemin segera melepaskan tangannya dari pinggang Kyungsoo. Mata Taemin membulat senang. "Benarkah? Benarkah?".
"Benar. Ayo" Minho terkekeh lalu merangkul leher Taemin. Keduanya berjalan pergi menuju kantin bioskop.
Kyungsoo dan Jongin yang ditinggal berdua menjadi kikuk. Jongin tidak tahu harus bagaimana menjelaskan kepada Kyungsoo kenapa Taemin ada disini. Ya, karena balas budi, tapi di hari kencan mereka.
Sedangkan Kyungsoo tidak tahu harus bersikap bagaimana terhadap Jongin. Haruskah dia marah? Kecewa? Jongin mengajak orang lain di hari kencan mereka, demi Tuhan!
"Aku tidak tahu kalau Taemin sepupumu. Pantas kalian hampir mirip". Kyungsoo memutuskan untuk bersikap tenang.
Jongin tersenyum mengingat memang banyak orang yang berkata kalau dia dan Taemin itu memiliki wajah yang hampir mirip.
"Jadi dia teman yang kau bilang berada di sanggar musik?" tanya Kyungsoo.
"Iya".
"Apa kau tidak tahu kalau kami berada di tingkat yang sama?".
"Aku tahu. Ingat saat aku menonton videomu? Aku tahu kalian saling mengenal"
"Kenapa kau tidak bilang?" tanya Kyungsoo habis pikir.
"Aku mau bilang, tapi saat itu kau tertidur".
Kyungsoo teringat ketika dia tertidur di bus dengan Jongin di sebelahnya. Saat itu, ketika dia bangun, jaket Jongin membungkus tubuhnya dari dinginnya udara hujan.
"Hmm... Kyungsoo, tidak apa-apa kan, Taemin dan Minho hyung bersama kita?" tanya Jongin dengan pelan-pelan.
Kyungsoo pun mengalah dalam hatinya. Mesti dia tidak mengerti kenapa Taemin dan kekasihnya ada disini, dia juga tidak mungkin marah kepada Jongin. "Tidak apa-apa. Semakin banyak orang semakin seru".
"Bagus. Ayo kita ke kantin. Aku akan membelikanmu popcorn yang besar juga".
Jongin berjalan lebih dahulu. Kyungsoo sedikit berharap Jongin seperti Minho. Merangkulnya atau mengenggam tangannya lalu mereka jalan bersama. Tapi sepertinya itu tidak akan terjadi. Toh mereka tidak berpacaran.
"Kyungsoo?".
Jongin memanggil Kyungsoo yang berdiri diam. Jongin melihatnya dengan bingung. Kyungsoo menggelengkan kepalanya. Dia tersenyum paksa lalu mendekati Jongin.
Setelah Jongin membayar tiket nonton untuk mereka berempat, dia membelikan popcorn ukuran jumbo dan pepsi untuk Kyungsoo. Tidak sengaja mata Kyungsoo menangkap pada daftar menu snack tersedia nachos dan dia langsung menginginkannya.
Dia bisa membeli sendiri, tapi itu berarti sama saja dia tidak menghargai perasaan Jongin yang telah membelikannya popcorn. Kyungsoo menatap lemah pada tulisan nachos di daftar menu.
Jongin menyadarinya setelah beberapa saat dia memperhatikan Kyungsoo yang diam. "Ada snack lain yang kau inginkan?".
Kyungsoo panik dan segera menggeleng. "Tidak ada!". Jangan sampai Jongin tahu.
"Aku tahu kau menginginkan sesuatu. Apa? Aku akan membelikannya" ujar Jongin.
"Tidak ada, Jongin" jawab Kyungsoo.
"Begitu. Karena kau tidak mau jawab, aku akan membeli semua snack yang ada di daftar menu. Jadi kau tinggal makan yang mana kau mau".
"Apa?!" seru Kyungsoo kaget.
Jongin bersiap mengatakan sesuatu pada pelayan kantin dan Kyungsoo pun segera menghentikannya sebelum terlambat.
"Baiklah! Baiklah! Aku ingin nachos!" jawab Kyungsoo menyerah.
Jongin tersenyum nakal. "Pesan nachosnya satu" pintanya pada pelayan.
"Apa mau ditambah dengan krim keju?" tanya si pelayan.
"Oh, kita harus membeli krim kejunya lagi? Kau mau Kyungsoo?". Jongin bertanya pada Kyungsoo yang menjawab dengan ekspresi kebingungan, dan itu sudah cukup menjadi jawaban bagi Jongin. "Tambahkan krim kejunya. Dua buah".
"Pesanan Anda akan segera siap" pelayan itu pun pergi untuk membuat pesanan.
Kyungsoo masih kebingungan dengan kesingkatan Jongin membelikannya snack dan bagaimana Jongin tidak perlu jawaban Kyungsoo tapi tahu apa yang Kyungsoo inginkan.
"Lalu bagaimana dengan popcornnya?".
"Aku akan memakannya" ujar Jongin.
"Apa kau yakin?"
"Tentu"
"Seharusnya kau tidak perlu membelikanku nachos".
"Tapi kau menginginkannya".
"Aku bisa memakan popcorn yang sudah dibeli"
"Tapi kau menginginkannya".
Kyungsoo kalah berdebat. "Jongin, apa kau sungguh-sungguh akan membeli semua snack jika aku tetap tidak menjawabmu?"
"Aku akan melakukannya".
"Kenapa?".
"Karena aku ingin melakukannya".
Harusnya Kyungsoo tidak bertanya lagi. Seharusnya dia sudah tahu jawaban Jongin dari dulu sampai sekarang akan tetap sama. Seperti memberi harapan palsu.
Keempatnya masuk ke theater bioskop. Kursi yang mereka ambil berada di bagian dekat dinding. Minho mengambil tempat duduk terdalam, Taemin disebelahnya, disusul Jongin dan diakhiri oleh Kyungsoo. Film yang ditonton adalah film action yang kebetulan favorit mereka berempat.
Kyungsoo memakan dengan lahap nachos lezatnya. Dia membagikan kepada tiga orang lainnya, tetapi mereka menolak karena tidak tega mengganggu kesenangan Kyungsoo memakan nachosnya dengan sangat menggemaskan.
Saat film sedang berada dalam adegan tenang, Kyungsoo mulai merasa tubuhnya lemas karena perutnya yang penuh. Kyungsoo mencari posisi aman pada kursinya untuk dijadikan sandaran kepala. Dia mengubah-ubah posisi duduknya sambil menggerakan kepalanya.
Jongin menarik tubuh Kyungsoo ke arahnya. Dengan berani Jongin melingkarkan tangannya pada bahu Kyungsoo. Jongin menyandarkan kepala Kyungsoo di bahunya. Kyungsoo yang terkejut langsung bergerak bangkit untuk melepaskan dirinya dari dekapan Jongin.
Jongin menariknya kembali. Dan kali ini Jongin tidak hanya merangkul, tapi juga mengelus-elus rambut halus Kyungsoo. Kyungsoo menjadi gugup tetapi juga merasa nyaman bersandar pada Jongin. Lambat laun, tubuhnya melemas dan dia membiarkan dirinya terlena pada rangkulan dan tubuh hangat Jongin.
.
.
Setelah selesai menonton film, keempatnya bermain di arena permainan gedung bioskop. Jongin dan Minho sedang bertanding ring basket, sedangkan Taemin dan Kyungsoo duduk di kafe yang letaknya tidak jauh sambil meminum kopi. Keduanya mengamati Jongin dan Minho yang bertanding dengan serius. Keduanya sama-sama tidak mau kalah. Taemin menggeleng terkekeh.
Meski awalnya Kyungsoo sedikit kecewa karena kencan yang diharapkannya hanya mereka berdua malah jadi berempat, kini dia tidak mempermasalahkannya lagi. Karena Jongin bersikap sangat manis seharian ini. Itu membuat Kyungsoo lupa kalau Taemin dan Minho ada bersama mereka. Sepertinya Kyungsoo mengerti maksud Minho berkata Taemin jangan mengganggu Jongin.
"Taemin, apa kau dan Jongin sering jalan bersama?" tanya Kyungsoo.
"Iya dan tidak. Kami hanya bertemu ketika kami ada waktu kosong dan hanya ketika kami ingin bermain bersama. Kadang aku juga mengajak Minho. Karena itu mereka berdua cukup dekat".
Kyungsoo mengangguk. Tapi, walaupun mereka bertiga dekat, haruskah kedua pasangan ini diajak serta,di hari kencan mereka?! Astaga! Kyungsoo mulai mempermasalahkan hal tersebut lagi! Lupakan Kyungsoo!
"Kyungsoo, apa yang kau pikirkan terhadap Jongin?" tanya Taemin sambil menatap Kyungsoo untuk membaca reaksinya.
"Apa yang kupikirkan mengenai Jongin? Jongin..." Kyungsoo melirik Jongin sebentar. "...baik, manis, perhatian".
"Apa kau suka padanya?".
Mata Kyungsoo melotot kaget. "Apa?! Aku...!". Wajah Kyungsoo perlahan-lahan melemah. "... tidak tahu...".
"Aku benar-benar tidak mengerti kalian. Kalau begitu, apa yang membuatmu tidak tahu? Apa yang membuatmu tidak tahu apakah kau menyukai Jongin atau tidak? Kau tidak percaya padanya?".
"Aku percaya padanya. Aku mempercayainya lebih dari siapapun" jawab Kyungsoo dengan pasti.
"Lalu?".
"... entahlah, aku tidak tahu...".
Taemin menghela napas lelah. "Dia sangat perhatian padamu, kau tahu? Dia menanyakan tentang dirimu setiap saat...".
"Bertanya tentangku... padamu?" tanya Kyungsoo tidak paham.
"Tentu saja! Kau masih belum tahu kalau kalian bisa berjumpa lagi karena aku! Sekarang kalian sudah berjumpa dan berkencan juga berkat aku!".
"Karenamu?" Kyungsoo semakin bingung.
Taemin menggeleng lemah melihat kepolosan Kyungsoo. "Saat kau bercerita tentang temanmu padaku, sore harinya kau berjumpa dengan Jongin kan? Itu karena aku yang memberitahu kepada Jongin kalau kau ingin berjumpa dengannya".
Kyungsoo merasa janggal. "Tunggu, bagaimana kau bisa tahu kalau teman yang kumaksud itu Jongin?".
"Dengarkan dulu aku bercerita dan baru bertanya, oke?". Kyungsoo mengangguk yang membuat Taemin tersenyum manis.
"Malam hari setelah kita dapat pengumuman kalau kita akan menjadi perwakilan untuk bernyanyi lagi, Jongin meneleponku. Kalian baru saja berjumpa kan?. Dia bertanya tentangmu. Dan juga meminta bantuan".
Kyungsoo hendak bertanya apa bantuan yang diminta oleh Jongin, tapi dia teringat kalau dia akan mendengarkan Taemin bercerita lebih dahulu.
"Setiap malam dia menelepon untuk bertanya tentangmu. Apa yang kau lakukan hari ini. Kau berasal dari mana. Bagaimana pendapatku menurut dirimu. Bagaimana latihanmu di sanggar. Apa lagu yang sering kau nyanyikan. Dan banyak pertanyaan lainnya! Beruntung bagi dia kita sedang latihan bersama. Sehingga pertanyaan dari dia yang tidak bisa kujawab, bisa kutanya padamu lalu kusampaikan kepadanya... Dia juga meminta padaku untuk mempertemukan kalian. Karena dia sangat ingin berjumpa denganmu, tapi dia tidak tahu kau menginginkan hal yang sama atau tidak. Ketika aku tahu kau juga ingin bertemu dengannya, aku segera memberitahunya dan dia menunggumu di halte. Kau ingat kan waktu kau sedang bercerita, aku mengetik pesan di ponselku, lalu aku bilang kau pasti akan segera berjumpa dengannya... Kyungsoo?"
Taemin melihat Kyungsoo yang mata bulatnya membelalak lebar, terlihat sungguh terkejut dan tidak menyangka setelah mendengar penjelasan Taemin.
"Kyungsoo? Kau baik-baik saja? Matamu seakan mau keluar dari tempatnya" ujar Taemin cemas.
Kepala Kyungsoo mengangguk, tetapi pikirannya tidak merespon pertanyaan Taemin dengan baik. Karena dia masih mencoba untuk memahami penuturan Taemin. "Aku tidak apa-apa. Aku hanya... masih tidak mengira kalau Jongin melakukan semua hal tersebut".
Taemin juga berpikir demikian. "Dia sungguh memperhatikanmu, kau tahu? Dia tidak seperti itu kepada orang lain. Ini pertama kalinya dia berbuat begitu banyak hal demi orang lain".
Kyungsoo semakin terkejut. Dia mengingat semua pengorbanan Jongin untuknya selama ini. Menjemputnya ketika hujan. Memperhatikan Kyungsoo ketika dia mulai kesal pada hujan. Memberikan jaket agar dia tidak kedinginan. Hati Kyungsoo mulai berdebar. Semakin tidak karuan menyadari bahwa Jongin melakukan itu semua hanya kepada dia, tidak pernah terhadap orang lain.
Kyungsoo memegang dadanya. "Wow. Wow. Dia melakukan itu semua untukku. Wow. Apa dia... menyukaiku?".
Taemin tersenyum geli melihat kelakuan Kyungsoo memegang jantungnya sendiri, yang Taemin yakin mulai berdebar. "Aku tidak tahu. Kenapa tidak kau tanyakan sendiri?".
Kyungsoo berkata dalam hatinya bahwa dia tidak akan melakukannya. Dia akan sangat malu jika dia menanyakan itu pada Jongin. Dan bagaimana kalau ternyata bagi Jongin mereka hanya teman tanpa ada perasaan lain? Bahwa rasa pedulinya hanya sebagai teman? Berbicara mengenai itu, mungkin saja mereka memang berteman. Buktinya adalah Jongin mengajak Taemin dan Minho di hari kencan mereka. Tidak, ini bukan kencan. Ini acara jalan-jalan bersama teman-teman.
Kyungsoo menghela napas berat. Mengapa ini semua begitu membingungkan? Hubungan mereka sejak awal memang sulit dimengerti. Mungkin kami ditakdirkan untuk berteman... batin Kyungsoo.
"Ngomong-ngomong, apa kau tahu alasan kenapa dia mengajak kita pergi bersama-sama hari ini?".
"Kau tahu?" tanya Kyungsoo kembali.
"Jongin ingin agar kau lebih percaya padanya. Kalian baru mengenal beberapa minggu. Kalian sama sekali tidak tahu bagaimana sifat, kepribadian dan kehidupan kalian masing-masing. Jadi dia mengajak aku dan Minho agar kalian lebih saling mengenal dan nyaman satu sama lain. Kau jadi tahu kalau aman untuk berdekatan dengan Jongin".
Taemin melirik sebelum Kyungsoo sempat merespon. "Kau percaya padanya kan?".
"Tentu saja! Jongin sangat baik dan perhatian. Aku tidak pernah sekalipun berpikir kalau dia itu orang jahat" jawab Kyungsoo dengan pasti. Taemin tersenyum mendengarnya.
Kemudian pembicaraan mereka terhenti karena Jongin dan Minho datang untuk mengajak mereka bermain basket ring bersama. Taemin langsung lompat dan menerima uluran tangan Minho. Sedangkan Kyungsoo yang menggeleng ragu karena sedang malas bermain, langsung ditarik oleh Jongin. Tanpa bisa menolak, Jongin telah menggengam tangannya dan membawa Kyungsoo ke arena permainan menyusul Taemin dan Minho.
.
.
Akhir dari hari yang menyenangkan bagi mereka berempat telah tiba. Keempatnya telah bermain-main dengan senang. Kini mereka pulang dengan tubuh lelah tapi puas.
Minho yang membawa mobil menawarkan tumpangan pulang untuk Jongin dan Kyungsoo. Tetapi Jongin menolak. Dia ingin naik bus dan bersama lebih lama dengan Kyungsoo berduaan saja. Tapi dia juga tidak akan keberatan jika Kyungsoo menerima tawaran Minho.
Betapa senangnya Jongin ketika Kyungsoo menolak tawaran Minho. Kini dia duduk di bus dan Kyungsoo berada di sebelahnya. Hati Jongin terasa sangat senang karena mereka sendiri kini, tidak ada orang lain.
Tapi... kenapa Kyungsoo berdiam diri?
"Kau jadi diam..." ujar Jongin sambil mengamati Kyungsoo yang melihat keluar jendela. Kyungsoo tidak menjawab, Jongin bisa merasakan ada sesuatu.
"Ada apa? Apa aku melakukan kesalahan? Apa kau marah kepadaku?" tanya Jongin cemas. Kyungsoo masih mengacuhkannya.
"Jawab aku..." pujuk Jongin sambil mencondongkan tubuhnya ke depan untuk melihat wajah Kyungsoo lebih jelas.
Akhirnya Kyungsoo menoleh pada Jongin. Dia menghela napas lemah.
"Kesalahanmu adalah: satu, kau tidak bilang padaku kalau Taemin itu sepupumu (kalau aku tau lebih dulu, aku tidak perlu gelisah hanya untuk ingin berjumpa denganmu). Dua, kau tidak bilang kalau kita akan berjalan berempat. Tiga, jalan berempat itu bukan kencan. Tapi kencan ganda. Ada kata ganda setelah kata kencan. Empat, hujan".
Jongin ingin tertawa keras mendengar omelan panjang Kyungsoo. Aww dia sungguh menggemaskan! Membuat Jongin tersenyum sangat lebar karena bahagia.
"Aku akan jawab satu-persatu. Pertama, aku sudah bilang aku ingin memberitahumu, tapi kau tertidur saat itu. Aku tidak tega membangunkanmu. Kedua dan ketiga, aku minta maaf karena kita tidak hanya berdua, melainkan berempat. Apa kau tidak senang kita jalan-jalan bersama? Apa kau tidak menikmati acara kita tadi? Apa kau merasa tidak nyaman?"
Mendengar Jongin yang begitu perhatian, hati Kyungsoo pun luluh seketika. Ugh. Mana rasa kesalku tadi yang awalnya terjadi karena hujan yang turun tiba-tiba? Hilang begitu saja.
"Uhmm... bukan begitu. Aku menikmatinya. Aku sangat senang dan aku juga merasa nyaman. Hanya, ini hanya tidak sesuai dengan dugaanku"
"Apa yang kau duga? Kita hanya berduaan?" Jongin tersenyum nakal karena dalam hatinya sangat berharap bahwa itu benar.
Kyungsoo menjadi sangat malu. Wajahnya tersipu lebih dahulu sebelum sempat menghindar. Dia tidak bisa mundur kalau sudah begini. "Ya... iya...".
Jongin tertawa keras. Kyungsoo yakin dia tidak memiliki kebiasaan pipi merona merah jika dia sedang malu. Tetapi kini dia teramat malu dan mungkin saja bisa membuat wajahnya menjadi merah.
Jongin masih ingin tertawa atas pengakuan Kyungsoo. Tapi sebaiknya dia tidak melakukannya karena dia tidak mau sampai membuat Kyungsoo marah. Atau mungkin marah karena ini kesalahan dia mengajak Taemin dan Minho jalan bersama.
"Maafkan aku. Aku tidak akan melakukannya lagi. Aku janji kencan berikutnya hanya kita berdua".
Kyungsoo berpikir. Kencan atau acara jalan-jalan lagi yang dimaksud Jongin?. Mengingat hal tersebut...
"Kenapa kau mengajak Taemin hanya agar aku bisa lebih mempercayaimu? Apakah kau berpikir kalau aku masih menganggapmu orang asing?".
Jongin mengutuk dalam hatinya kepada Taemin yang telah membocorkan rahasia Jongin. Apa yang Taemin katakan? Seberapa banyak yang telah Kyungsoo ketahui? Apa Kyungsoo tahu kalau Jongin ingin Kyungsoo lebih percaya agar dia mau mengajak Jongin masuk ke dalam apartemennya?.
Jongin tidak ingin melakukan sesuatu yang buruk kepada Kyungsoo. Dia bersumpah dia tidak ingin melakukan apapun terhadap Kyungsoo. Jongin hanya ingin agar Kyungsoo lebih percaya sama dia agar tidak ada kesenjangan diantara mereka, tidak ada barikade tembus pandang diantara mereka. Jongin ingin mereka bisa lebih terbuka. Jongin ingin lebih dekat lagi dengan Kyungsoo.
Dia melihat Kyungsoo yang bibirnya cemberut merajuk. Jongin mengalah. Dia harus menjelaskan sesuatu pada Kyungsoo. Taemin akan dia urus nanti.
"Kau tahu kalau kita punya hubungan membingungkan yang dimulai dengan cara membingungkan. Kau bingung dengan penjelasanku? Sama, aku juga bingung. Karena itu aku mengajak Taemin dan Minho. Dengan kau tahu kalau Taemin, temanmu adalah sepupuku, kau bisa lebih terbuka denganku, lebih nyaman. Aku hanya ingin lebih dekat denganmu Do Kyungsoo"
"Aku merasa nyaman denganmu. Aku merasa... aman. Kau telah banyak menolongku, membantuku. Aku percaya padamu lebih dari siapapun".
"Tidakkah kau ingin lebih dekat denganku?". Jongin bertanya karena Kyungsoo melewatkan hal tersebut. Hatinya serasa tertekan menunggu jawaban dari Kyungsoo.
"Aku...". Jantung Kyungsoo sedikit berdebar. Kyungsoo akan mempertanyakan debaran jantungnya nanti begitu dia tiba di rumah. "... aku mau...".
Jongin merasa sangat lega. Dia tersenyum lebar yang membuat Kyungsoo senang dan ikut tersenyum juga.
"Salam kenal Do Kyungsoo. Aku Kim Jongin".
"Salam kenal Kim Jongin. Aku Do Kyungsoo".
Keduanya terkekeh geli. Jongin menatap lekat pada Kyungsoo yang membalas dengan pancaran cahaya dari kedua bola mata Kyungsoo. Tersirat ketidakmengertian dari pandangan mereka. Masih ada kebingungan dalam pikiran mereka. Tapi mungkin... mereka akan mulai mengubahnya sekarang.
"Hei, kau curang!" ujar Kyungsoo tiba-tiba.
"Kenapa kau mengataiku seperti itu?" tanya Jongin.
"Kau bilang kita akan membuktikan kalau kita bisa bertemu tanpa hujan! Tapi kau malah membuat acara kencan di dalam gedung bioskop! Bagaimana kita bisa membuktikannya kalau begitu?".
Jongin tertawa renyah. "Sebenarnya aku ingin mengajakmu pergi ke taman hiburan. Tapi bukankah tujuanku mengajak mereka supaya kau lebih percaya terhadapku? Jika kita pergi ke taman hiburan, bagaimana aku bisa mendapat tujuanku jika kita berada di tempat yang terang dan terbuka? Jika aku mengajakmu ke tempat yang lebih gelap, tujuanku bisa tercapai".
"Kau berpikir panjang tapi kau melewati sesuatu. Kalau kita pergi ke taman hiburan, kau bisa menjalani misimu dengan menjagaku sepanjang permainan. Pasti akan ada banyak orang disana. Cukup dengan menjagaku saja kau bisa meraih tujuanmu!".
Jongin hendak menjawab tapi segera dipotong Kyungsoo. "Dan, terima saja kenyataan kalau kita bertemu, hujan akan turun. Ini sudah terjadi berkali-kali, masih mau menolak? ".
Keduanya menghabiskan waktu mereka dalam bus dengan mengobrol sepanjang perjalanan. Mereka menebus waktu yang seharusnya mereka nikmati berduaan.
.
.
Hai. Udah berapa bulan aku gak update? 2 atau 3 bulan? Maaf, banyak sekali tugas yang harus kuselesaikan dalam waktu beberapa bulan ini. Dan inilah yang terjadi, aku baru bisa update. Dan kalau ada kesalahan, dimaklumi aja yah.
Terimakasih banyak bagi yang telah bersedia meluangkan waktu untuk mereview. Terimakasih banyak. Jangan malu-malu dan jangan sungkan-sungkan.
Mind to review again?
Wish you have a happy life everyday!
