Bi Ame Chapter 6 Staying at Your House

Tetes-tetes hujan jatuh cukup keras di atas genting halte bus. Jongin yang tengah duduk di bangku tunggu, meluruskan kaki yang entah kenapa sedikit terasa pegal. Mungkin karena menari terlalu semangat.

Jangan salahkan dia jika kesenangannya terpacu karena dia masih terbayang acara kencannya dengan Kyungsoo dua hari lalu.

Kyungsoo... Sedang apa dia sekarang? Dimana dia? Dimana orang yang bisa membuatnya seperti ini?

Jongin menutup mata dan menyandarkan tubuh pada kepala bangku. Dia memikirkan Kyungsoo sambil menikmati angin hujan yang mengelus lembut kulitnya.

"Jongin!".

Jongin tersenyum geli. Dia mengenal suara yang memanggilnya dengan riang meskipun dia tidak melihat siapa orang tersebut. "Kyungsoo..."

Jongin membuka matanya dan melihat Kyungsoo tersenyum lebar padanya. Jongin mengamati Kyungsoo dengan lekat.

"Ada apa?" tanya Kyungsoo.

"Kau... terlihat ceria. Ini mengejutkan karena kau biasanya emosi ketika hujan". Jongin tersenyum jahil.

Kyungsoo nyengir. Dia melupakan emosinya terhadap hujan setelah dia melihat Jongin berada di halte bus. Jongin punya pengaruh besar untuknya akhir-akhir ini.

"Kau tidak pulang ke rumah?" tanya Kyungsoo.

"Aku terjebak disini" jawab Jongin.

Kyungsoo merogoh dalam tasnya. "Jika aku bilang aku punya payung, maukah kau pulang bersamaku?".

Kyungsoo mengambil payung berwarna merah dari tasnya. Dia menunjukkan payung tersebut pada Jongin sambil menyengir puas.

Jongin terkekeh. "Itu payungku".

"Tepat sekali! Ayo kita pulang dengan payung ini. Aku tidak mau berlama-lama di tengah cuaca hujan. Tapi kau harus mengantarku pulang terlebih dahulu".

"Tentu saja" Jongin berdiri.

Jongin mengambil payung dari tangan Kyungsoo dan membukanya. Dia memeluk bahu Kyungsoo dengan tangan lainnya. Menarik Kyungsoo mendekat ke tubuhnya yang sukses membuat korban terkejut dan tubuhnya menegang.

Jongin menyadari reaksi tersebut. "Hmm... Aku tidak mau kau kedinginan dan jadi sakit" jelas Jongin pada Kyungsoo yang melihatnya dengan bingung.

Kyungsoo hanya mengangguk paham. Dia mulai bisa membiasakan dirinya terhadap rangkulan Jongin sejak kejadian di dalam bioskop lusa lalu.

Keduanya mulai berjalan meninggalkan halte.

"Bagaimana harimu?" tanya Jongin.

"Menyenangkan! Aku bernyanyi dengan sangat baik sehingga pengajar memujiku" jawab Kyungsoo riang.

"Kau terlihat senang. Ada kabar baik?" tanya Jongin yang ikut merasa senang melihat Kyungsoo senang.

"Yah. Eomma mengirimku paket-paket makanan dan beberapa pakaian baru. Aku selalu senang ketika eomma perhatian padaku. Walaupun eomma suka salah dalam menebak ukuran tubuhku hahaha"

"Hahaha".

Jongin mengantar Kyungsoo hingga ke depan pintu apartemennya. Kyungsoo memasukkan kunci ke kenop pintu sedangkan Jongin berdiri diam.

Jongin menebak seperti apa dalam apartemen Kyungsoo. Dia tidak bisa membayangkannya dengan lebih jauh. Karena dia tahu dia tidak akan pernah masuk ke kamar tersebut.

"Kau mau mampir dulu?"

Tawaran Kyungsoo dicerna cukup lama dalam kepala Jongin. "Apa?"

"Mau mampir? Aku akan membuatkanmu teh dari bubuk kiriman eomma dan makanan hangat".

Jongin masih tidak percaya. "Aku boleh masuk?".

"Tentu saja! Ayo masuk!".

Kyungsoo menarik tangan Jongin dan membawanya masuk ke dalam apartemen. Kyungsoo membuka sepatu dan kaos kakinya sementara Jongin menutup dan mengunci pintu kamar.

"Anggap saja seperti berada di rumah sendiri" ujar Kyungsoo sambil melepaskan tas sandangnya dan meletakkan di atas meja.

Sedikit merasa segan, Jongin melepaskan sepatunya lalu merapikan letak sepatunya. Dia berjalan dengan langkah kecil dan ragu. Mata Jongin menelusuri segala penjuru ruangan.

Apartemen Kyungsoo, Jongin akui, terlihat nyaman. Dia sedang berada di ruang tengah apartemen sekarang. Cat dinding ruangan berwarna kuning kayu. Sebuah sofa dengan televisi di hadapannya dan dilapisi karpet lembut di bawah. Dan beberapa lampu ruangan juga hiasa lilin.

Jongin membayangkan jika ruangan ini gelap dan lampu-lampu dari ruangan dan lilin menyala. Mungkin akan menambah kenyamanan ruangan. Mungkin Jongin bisa menari di tengah cahaya kuning.

"Duduklah. Ini air putih untukmu. Aku sedang memasak air. Jika berbunyi, tolong matikan yah?. Aku mau mandi".

Jongin hanya bisa mengangguk. Kyungsoo berlari ke kamar, mengambil baju ganti lalu masuk ke kamar mandi. Jongin meminum air putih dan meletakkan tas miliknya di samping tas Kyungsoo. Jongin memutuskan untuk melihat-lihat.

Dia berjalan ke bufet sebelah televisi. Terpajang beberapa bingkai foto. Foto Kyungsoo, foto Kyungsoo dengan kedua orangtuanya dan foto Kyungsoo dengan teman-teman sanggarnya saat mereka dikirim jadi perwakilan ke luar negeri. Tidak ada foto orang lain selain Kyungsoo. Apa Kyungsoo tinggal sendiri?.

Suara pintu kamar mandi terdengar terbuka. Jongin mengalihkan pandangannya dan melihat Kyungsoo yang keluar dengan wajah merah karena siap mandi dengan air hangat.

Jongin menarik napas tertegun. Kyungsoo terlihat sangat manis. Rambutnya basah dengan handuk melingkar di lehernya. Kyungsoo mengenakan sweater biru tua dan celana panjang berwarna hitam.

"Aku akan memasak makanan. Kau mau mandi?. Mandi dengan air hangat untuk menghangatkan tubuhmu. Aku baru saja menggunakannya".

"Karena itu wajah Kyungsoo memerah. Karena air panas yang dipakainya untuk mandi" pikir Jongin sambil tetap mengamati Kyungsoo dengan lekat.

Kyungsoo mulai bingung karena tidak mendapat respon. "Jongin?"

Jongin tersadar. "Yah? Apa? Oh, iya. Iya...".

Jongin sedikit menggoyangkan kepalanya agar pikirannya tidak mengawang lagi. Walaupun Jongin sudah mencoba, tapi tetap saja dia tidak bisa. Jongin kembali mengamati Kyungsoo yang berlari melewati Jongin ke dalam kamarnya. Jongin terdiam melihat ke arah pintu kamar dimana Kyungsoo berada.

Kyungsoo kembali sambil membawa beberap kain lipat. Dia menyerahkan kepada Jongin yang cuma bisa menerima tanpa berkata apa-apa. Bahkan Jongin merasa sulit untuk mengeluarkan suara. Wangi lemon mint yang menyibak dari rambut basah Kyungsoo membuat hidungnya terasa seperti dimasuki udara segar, menyebar kesegaran dalam tenggorokan.

"Pakai pakaian ini setelah kau mandi. Ini adalah pemberian eomma yang kebesaran untukku. Aku pikir ini pas padamu. Berikan baju yang sekarang kau pakai padaku. Aku akan mencuci dan mengeringkannya".

Jongin menurut dan masuk ke kamar mandi. Dia melepas seluruh bajunya dan memberikan pada Kyungsoo yang menunggu di depan pintu kamar mandi.

Lalu Jongin hanya bisa terdiam memandangi kamar mandi Kyungsoo. Apa yang baru saja terjadi? Dia seperti orang bodoh tidak memberikan respon sedikitpun!

Kamar mandi Kyungsoo sangat bersih. Aroma lemon mint dan sabun bunga menyatu pada partikel udara lembab dan menebar ke seluruh ruangan basah.

Jongin berdiri di depan cermin wastafel, membayangkan apakah Kyungsoo sering melakukan hal yang sama. Jongin mengambil botol shampoo di hadapannya. Dia mencium harum lemont mint dari shampoo tersebut.

Jongin tersenyum. Dia segera menghidupkan shower dan menggunakan shampoo tersebut.

Kyungsoo selesai menyiapkan makanan di atas meja makan. Jongin mandi cukup lama dan memberinya waktu untuk menyelesaikan semuanya. Kyungsoo baru selesai meletakkan sumpit ketika dia mendengar suara pintu kamar mandi terbuka dan Jongin keluar dari dalamnya.

Dengan kepala menunduk Jongin mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk. Jongin tersenyum pada Kyungsoo yang berada di meja makan. Jongin berjalan mendekat, dia melihat ada banyak makanan hangat telah tersedia di atas meja.

"Dari baunya sepertinya lezat" ujar Jongin.

Kyungsoo tidak memberi tanggapan. Dia menatap rambut basah Jongin dan kulit kecoklatannya yang segar setelah selesai mandi. Sebuah harum selain masakan tercium oleh Kyungsoo.

"Kau memakai shampooku" ucap Kyungsoo.

"Ya. Shampoonya harum dan bikin kepalaku segar".

Kyungsoo tidak pernah mempermasalahkan wangi shampoonya selama ini. Tapi hal berbeda terjadi ketika dia dapat menghirup wangi shampoo miliknya dari rambut Jongin. Wangi shampoo tersebut terkesan menjadi memabukkan dan segar.

"Boleh kita makan sekarang? Aku sangat lapar!" pinta Jongin dengan riang.

Kyungsoo menghentakkan pikirannya. "Te-tentu saja. Duduklah Jongin".

Keduanya duduk berhadapan. Jongin merasa semakin lapar melihat uap makanan yang mengepul.

"Aku harap kau suka. Aku tidak tau makanan kesukaanmu. Aku juga tidak tau apakah makanan ini lezat atau tidak. Aku cuma memasaknya seperti biasa".

Jongin menyuapkan sesendok kuah dengan tenang. Raut wajah Jongin berubah setelah dia menelan kuah yang sangat lezat.

"Wah! Wah! Kyungsoo! Daebak! Ini sangat lezat!".

Kyungsoo tersenyum puas. Dia merasa sangat senang. Dan semakin bertambah senang ketika dia melihat Jongin makan dengan lahap dan terlihat sangat gembira.

.

.

.

"Kau pemasak yang handal" puji Jongin setelah meminum tehnya.

"Thanks" jawab Kyungsoo dengan sedikit malu.

Jongin dan Kyungsoo duduk bersebelahan di sofa. Mereka memegang gelas berisi teh panas yang disiapkan oleh Kyungsoo. Keduanya duduk diam sambil melemaskan tubuh mereka yang lelah akibat aktivitas seharian.

"Apa yang biasanya kau lakukan di apartemenmu jika sedang hujan?" tanya Jongin untuk memecahkan keheningan.

"Tidur. Jika aku tidak bisa tidur, aku akan membaca buku atau mendengarkan musik hingga tertidur" jawab Kyungsoo.

"Kalau aku, aku akan bermain game dengan volume keras"

"Maniak Game" Kyungsoo nyegir.

"Atau aku akan menari. Menari di kegelapan sangat mendebarkan"

Kyungsoo terkekeh. "Apa yang menyenangkan dari itu? Kau bisa terjatuh jika kau tidak sengaja menyentuh barang"

"Aku membuat jarak kosong di dalam kamarku untuk menari"

Kyungsoo sedikit kagum mendengarnya. Kecintaan Jongin dalam menari sangat besar. Mungkin Kyungsoo harus memasang set karaoke di apartemen untuk berlatih bernyanyi.

"Ketika aku menari dalam kegelapan, aku merasa seperti bersatu dengan angin. Aku merasa tubuhku lebih hidup dan ringan. Aku bisa bergerak sesukaku"

Kyungsoo tersenyum mendengar penuturan Jongin. "Penari Lihai"

Jongin tertawa. "Suara Dalam".

Kali ini Kyungsoo yang tertawa karena balasan Jongin.

"Kenapa kau suka menari?" tanya Kyungsoo mulai menyandarkan kepalanya di sofa.

"Aku suka menggerakkan tubuhku. Aku ingin mengekpresikan perasaanku lewat tarian".

Jongin meletakkan gelasnya ke atas meja. Dia mengambil gelas di tangan Kyungsoo dan meletakkan di atas meja juga. Jongin menyandarkan kepalanya di sofa, mengarah kepada Kyungsoo.

"Kenapa kau suka bernyanyi?"

"Aku tidak tahu sebelumnya. Tapi ketika aku berumur dua belas, seonsangnim mengatakan kalau aku punya suara yang bagus. Aku bisa menjadi seorang penyanyi. Aku harus rajin latihan agar suaraku menjadi lebih bagus lagi"

"Jadi seonsangnim yang menemukan impianmu?" tanya Jongin.

"Sebelumnya aku tidak pernah tahu aku akan menjadi apa. Aku tidak tahu apa yang ingin kulakukan. Tapi sejak seonsangnim berkata seperti itu, aku sering menyanyi dan mulai menyukainya. Lalu aku memutuskan akan melatih vokalku"

Kyungsoo melihat ke arah Jongin. Kyungsoo melihat Jongin yang memandanginya dengan tatapan dalam. Mereka sering bertatapan seperti ini. Hanya saja suasana yang tenang membuat keduanya merasa sangat nyaman. Mungkin mereka bisa tertidur hanya dengan saling berpandangan seperti sekarang.

"Bagaimana kau menemukan keinginanmu dalam menari?" giliran Kyungsoo bertanya.

"Aku sedang menonton televisi ketika aku berumur enam tahun. Aku melihat grup boyband sedang menari sambil bernyanyi. Aku bertanya pada Appa jenis tarian apa itu. Aku senang melihat mereka menari. Lalu aku memutuskan aku ingin menjadi seorang penari"

"Tarian apa yang kau pelajari pertama kalinya?"

"Aku belajar balet dan jazz"

"Kau bisa balet?!" seru Kyungsoo takjub.

"Yah. Bagaimana menurutmu? Apa terdengar feminin?"

Kyungsoo menggeleng. "Tidak. Justru sebaliknya. Balet dapat dikatakan sebagai jenis tarian yang cukup sulit. Tapi kau memilih langsung mepelajarinya. Kau hebat".

"Aku tau"

Kyungsoo tertawa. "Dan sangat percaya diri"

"Aku menyenanginya".

.

.

.

Kyungsoo terbangun dalam kegelapan. Dia hanya melihat bayangan remang-remang di sekitarnya. Petir yang menggelengar membuat keringatnya mengalir di belakang leher.

"Dimana aku? Di sofa? Apa aku tertidur? Apa hujan bertambah deras lagi?" gumam Kyungsoo.

Kyungsoo mencoba mengingat apa yang terjadi sebelum dia tertidur di sofa. Dia ingat dia dan Jongin sedang bertanding game di ponsel hingga mereka jatuh tertidur.

"Jongin? Kau dimana? Jongin?".

Kyungsoo menggerakan tangannya untuk meraba-raba. Dia menyentuh sebuah anggota tubuh yang dilapisi kain. Kyungsoo meraba lagi dan mengetahui itu sepasang kaki.

"Jongin?".

"Hmm?".

Suara sofa berderak menandakan tubuh Jongin sedang bergerak. Kyungsoo sedikit bisa melihat sosok Jongin di depannya.

"Ada apa Kyungsoo?" tanya Jongin mencoba mulai sadar setelah terbangun tidur.

"Kenapa sangat gelap?"

"Mungkin mati listrik. Dimana ponsel? Sangat gelap".

Jongin dan Kyungsoo mencari ponsel mereka di sofa. Tapi ponsel keduanya mati habis baterai akibat bermain game.

"Ba-bagaimana ini? Tidak ada cahaya. Semuanya... semuanya sangat gelap. Aku... aku tidak bisa melihat apapun".

Jongin merasa ada yang aneh dari cara Kyungsoo berbicara. Jongin mencoba menyentuh tangan Kyungsoo. Dia terkejut mendapati tangan Kyungsoo bergetar.

"Ada apa Kyungsoo? Kau takut?". Jongin menggengam tangan Kyungsoo.

"Tidak. Hanya saja... aku tidak suka hujan deras disertai mati listrik".

"Apa pernah terjadi sesuatu?" tanya Jongin khawatir.

"Tidak pernah. Aku cuma tidak menyukai suasana gelap seperti ini. Perasaanku selalu tidak enak berada dalam kegelapan".

Jongin teringat ketika dulu dia menanyakan kenapa Kyungsoo tidak menyukai hujan. Karena hujan membuat suasana gelap. "Kau sungguh tidak menyukai hujan...".

Jongin berdiri. Sambil menggenggam tangan Kyungsoo, dia mengajak Kyungsoo untuk masuk ke dalam kamar. Jongin menggunakan insting, ingatan dan penglihatannya yang mulai sedikit terbiasa dengan kegelapan.

Setelah memasuki kamar, Jongin menyuruh Kyungsoo untuk naik ke tempat tidur terlebih dahulu. Sambil tetap berpegangan tangan Kyungsoo merangkak ke atas tempat tidur dan berbaring. Yakin Kyungsoo sudah aman, Jongin kemudian ikut berbaring di sebelah Kyungsoo yang menyisakan ruang tempat untuk dirinya.

Meskipun masih gelap, keduanya tahu mereka saling berbaring berhadapan. Samar-samar mereka bisa melihat bola mata mereka yang berwarna putih saling bertatapan. Jongin mengenggam satu tangan Kyungsoo. Mengusap lembut berharap Kyungsoo menjadi tenang.

"Merasa baikan?" tanya Jongin penuh perhatian.

"Yah"

"Apa yang akan kau lakukan jika kau sendirian di saat listrik padam?"

"Aku akan menghidupkan lilin jika belum waktunya jam tidur"

"Karena itu ada banyak hiasan lilin di kamarmu... Kau mau aku menghidupkan lilin untukmu?".

"Jangan. Jika kita tertidur, akan bahaya membiarkan lilinnya tetap menyala"

"Kau tidak punya lampu dari baterai atau apapun sejenisnya?"

"Aku tidak punya. Aku tidak tahu aku membutuhkannya. Aku tinggal di daerah ini karena disini jarang mati listrik"

"Mungkin karena hujannya sangat deras hingga membuat listrik padam".

Jongin masih tetap mengelus tangan Kyungsoo. "Kau terdengar sangat ketakutan tadi... tangan dan suaramu bergetar"

"Itu karena aku terbangun dalam keadaan tidak sadar. Aku sangat takut karena semuanya gelap. Aku tidak bisa melihat apapun. Semakin parah ketika aku tahu aku tidak berada di atas tempat tidur"

"Aku ingat ada beberapa orang yang merasa aman jika dia berada di atas tempat tidur ketika mati lampu... Maafkan aku. Seharusnya aku tidak mengajakmu bermain game tadi hingga kita tertidur"

"Tidak apa-apa. Toh kau menolongku"

"Apa kau mengantuk?" tanya Jongin sambil mengelus rambut Kyungsoo dengan tangannya yang bebas.

"Sedikit"

"Tidurlah. Aku akan menjagamu"

"Benarkah?"

"Benar"

"Baiklah". Kyungsoo memejamkan matanya.

"Selamat tidur Kyungsoo..."

Ketika pagi harinya Kyungsoo mulai terbangun, matahari bersinar cerah di luar sana dan masuk ke dalam ruangan kamar melalui jendela yang tertutup tirai. Keadaan sudah tidak gelap lagi dan Kyungsoo merasa lega. Dia tersenyum dengan mata yang masih terpejam.

Kyungsoo perlahan membuka matanya. Dia terkejut ketika melihat Jongin berada di depannya, tengah tertidur nyenyak dengan sangat imutnya. Tangan Jongin masih tetap menggenggam tangan Kyungsoo. Dan Kyungsoo tidak ada niat untuk menarik lepas tangannya sedikitpun.

Kyungsoo terkekeh pelan melihat wajah tidur Jongin yang imut. Wajah yang begitu polos seperti meminta untuk dimanja dan disayang. Siapa yang mengira Jongin yang dewasa bisa semanis ini ketika dia tertidur.

Kyungsoo tidak tahan untuk menggerakkan tangannya. Dengan pelan-pelan dia mengelus surai halus milik Jongin yang masih tercium wangi shampoo lemonnya. Kyungsoo tersenyum bahagia.

Jongin bergerak dalam tidurnya. Kyungsoo segera menarik tangannya. Jongin memejamkan matanya erat-erat, sebelum akhirnya dia berhasil membuka matanya dengan jelas. Jongin melihat Kyungsoo sedang menatapnya.

"Kau baik-baik saja?" tanya Jongin.

"Ya". Awalnya Kyungsoo tidak mengerti dengan maksud Jongin. Kemudian dia mulai mengingat apa yang terjadi tadi malam di tengah mati listrik. "Terima... kasih... Jongin"

"Sama-sama. Aku akan melakukan apapun itu asal kau aman" lalu Jongin memejamkan matanya lagi.

Kyungsoo baru mengetahui kalau Jongin bukanlah orang yang suka bergegas di pagi hari. Berbeda dengan Kyungsoo yang ingin langsung bergerak ketika dia bangun.

"Apa kau lapar?".

"Ya" jawab Jongin setengah tidur.

"Aku akan membuat sarapan. Kau mau ikut?"

"Tidak. Aku masih ingin tertidur sebentar. Tempat tidurmu nyaman".

Kyungsoo tersenyum geli. "Oke. Tidurlah. Aku akan membangunkanmu nanti".

.

.

.

Hujan turun kembali. Kali ini hanya berupa rintik-rintik yang membuat tanah dan jalanan basah tetapi tidak menimbulkan genangan air.

Hal ini membuat Kyungsoo kesal dan sedikit cemas. Beberapa hari ini hujan terus turun. Kyungsoo mencemaskan kesehatan tenggorokannya yang sering tidak begitu baik jika terjadi pancaroba.

Kyungsoo tidak ingin dia sampai jatuh sakit. Beberapa hari lagi dia akan pergi keluar negeri untuk menjadi perwakilan bernyanyi dalam sebuah pertandingan. Dia tidak mau tenggorokannya dalam keadaan tidak baik. Kyungsoo mau hari besar tersebut berjalan dengan lancar.

Meskipun cuma hujan rintik, Kyungsoo memutuskan untuk menunggu di halte. Tubuh kecilnya sudah terbungkus dengan jaket. Kepalanya juga sudah tertutupi dengan hoodie. Kyungsoo duduk sambil menunduk. Kedua tangannya menutupi seluruh wajah. Dia tidak mau orang-orang melihatnya aneh menunggu rintik-rintik hujan berhenti.

Tidak berapa lama Jongin tiba. Dia mendapat firasat tidak enak ketika melihat rintik hujan dari luar jendela. Jongin berpikir tentang keadaan Kyungsoo tapi dia tidak menghubunginya karena malu.

Jongin akan malu jika Kyungsoo sampai menganggapnya aneh karena dia menelepon untuk menanyakan keadaan Kyungsoo, padahal di luar sana hanya hujan rintik. Lagipula Jongin juga malu mengingat tadi malam dia menginap di apartemen Kyungsoo tanpa direncanakan. Tidak pernah terbayangkan olehnya dia bisa tidur di ranjang Kyungsoo.

Karena masih cemas Jongin memutuskan untuk pergi ke apartemen Kyungsoo. Jongin menunggu di depan pintu. Dia duduk di lantai sambil memeluk kakinya. Dia menunggu dan menunggu tapi Kyungsoo tidak muncul juga.

Jongin menjadi khawatir. Jongin memegang payung merah miliknya -yang telah dikembalikan oleh Kyungsoo, dibawa untuk berjaga-jaga jika hujan mendadak deras-, kemudian berjalan ke halte. Dia memutuskan untuk menunggu Kyungsoo disana.

Betapa terkejutnya Jongin menemukan Kyungsoo sendirian menunggu di halte dengan kedua tangan yang menutupi seluruh wajah. Jongin mengerutkan kening bingung. Saat ini hanya rintik-rintik hujan. Tidak akan membuat Kyungsoo basah kuyup jika dia pulang berjalan kaki. Kenapa Kyungsoo harus menunggu? Apa ada sesuatu yang membuat Kyungsoo khawatir?

Jongin ingin menjerit dan bertanya. Semua ini benar-benar membingungkan. Awalnya dia pikir Kyungsoo hanya tidak menyukai hujan. Jongin mengira alasan yang disampaikan Kyungsoo adalah alasan klise orang-orang umumnya.

Tapi merasakan Kyungsoo yang bergetar kemarin malam membuatnya menyadari kalau hujan berdampak cukup besar bagi Kyungsoo. Jongin ingin menjerit kepada Kyungsoo untuk memberitahunya semuanya, semuanya tentang alasan Kyungsoo sangat membenci hujan. Apa Jongin salah jika dia khawatir pada Kyungsoo?! Dia hanya ingin melindungi Kyungsoo!

"Kyungsoo!" panggil Jongin dengan keras.

Kyungsoo mengangkat wajahnya. Dia melihat Jongin yang menatapnya dengan serius. Kyungsoo tersenyum manis. Tidak lupa kan kalau Jongin punya sihir hebat yang bisa membuat Kyungsoo melupakan kekesalan pada hujannya seketika?

"Jongin! Hai! Apa yang kau lakukan disini? "

Dan tidak lupa juga Jongin yang sering luluh melihat senyuman Kyungsoo. Emosi Jongin langsung lenyap digantikan dengan kekhawatiran.

Kyungsoo tidak berani menjawab dengan jujur. Dia malu. "Hmm... karena aku ingin menunggu disini?"

Hati Jongin melemah melihat Kyungsoo dalam keadaan menyedihkan. Dengan lembut Jongin berkata "Apa yang menyenangkan menunggu disini?"

Untuk sesaat Kyungsoo terlihat gugup. "Hm... menyenangkan menunggu hujan berhenti?".

"Kau memang mau melawan hujan huh?". Jongin terkekeh pelan. "Kita pulang sekarang. Oke?"

Seolah terhipnotis, Kyungsoo langsung mengangguk setuju. Jongin membuka payung dan Kyungsoo masuk ke bawahnya. Mereka mulai berjalan pulang.

"Bagaimana kau tahu aku di halte?" tanya Kyungsoo.

"Aku... tadi aku menunggu di depan apartemenmu...".

Kyungsoo bingung. "Kenapa kau menungguku?".

"Aku... aku mencemaskanmu. Kau tidak menyukai hujan dan kemarin kau terlihat sangat panik. Jadi aku... begitulah. Aku cemas".

Kegagapan Jongin membuat Kyungsoo percaya kalau Jongin bersungguh-sungguh. Oh Jongin, apa yang sudah Kyungsoo lakukan hingga dia bisa mendapatkan orang perhatian sepertimu?

Kyungsoo melirik Jongin. Matanya menangkap sesuatu yang ganjal sedang terjadi.

"Jongin! Kau kehujanan!" seru Kyungsoo.

Rintik-rintik hujan jatuh ke atas pakaian Jongin yang tidak terlindungi oleh payung. Kaos lengan panjang sebelah kanan Jongin hampir basah. Kyungsoo memeriksa lengan kirinya tidak ada satupun genangan air.

Sudah berapa lama Jongin mengarahkan payung di atas tubuh Kyungsoo agar dia tidak basah? Sementara Jongin merelakan salah satu sisi tubuhnya terkena hujan? Sudah berapa lama?

"Jongin kau kehujanan..."

Jongin hanya melihat sekilas pada baju lengan kanannya yang sudah cukup basah. "Tidak apa-apa. Aku sudah kena hujan sejak tadi. Ini bukan masalah besar".

Kyungsoo cemberut. "Ini tidak seimbang".

"Tidak apa-apa. Aku mau kau aman jadi aku... yah... aku tidak apa-apa".

Jongin merangkul bahu Kyungsoo dan merapatkan diri mereka. Memastikan tidak ada satupun titik hujan yang menyentuh Kyungsoo. Sekaligus ingin melindungi Kyungsoo. Sementara Kyungsoo tidak tahu satupun dari niat Jongin tersebut.

Kyungsoo tidak protes lagi. Dia bahkan tidak bisa karena gugup yang kembali merasuki dirinya. Dia juga tidak bisa karena banyak pertanyaan yang berkecamuk di dalam pikirannya.

Setidaknya untuk saat ini, lebih baik Kyungsoo diam dan menjalani saja apa yang sedang terjadi. Toh dia juga harus menjaga kesehatan tenggorokannya. Jadi tidak apa-apa selama Jongin tidak keberatan.

Ketika dia sudah sendirian dan tenang nanti, dia akan menemukan sendiri jawaban atas pertanyaan-pertanyaannya.

.

.

Long time no see! Sudah berapa lama aku gak update? Lama banget yah? Maaf! Tapi aku mau umumin kalo dua chap lagi ff ini tamat. Horrreeee!

Re-Panda68 : ne! Terimakasih!

Byul Hun.K : Maaf. Hana sibuk kuliah :'( . Terimakasih sudah kangen sama bi ame. Hubungan mereka masih dalam proses. Tunggu aja yah. Terimakasih.

beng beng max : Terimakasih :)

: mungkin dua chap lagi? Hehe. Terimakasih!

Siscaoct : ini nextnya! Terimakasih!

Kaisoo32 : ff ini bakal lanjut sampai tamat! Terimakasih!

PandaCherry : udah 5 bulan gak update :'( . Mari kita berdoa bersama-sama supaya cowok kayak Jongin itu ada :) Terimakasih!

SognatoreL : hana akan berjuang update cepat! Terimakasih!

Guest88 : ini udah lanjut. Terimakasih!

Kjidks : hana akan berusaha next kilat. Ditunggu yah! Terimakasih!

BangMinki : iya hana sedih :'( . Terimakasih!

Adeknyakyungsoo : hana juga gregeeeettt. Terimakasih!

Ketro : wah baguslah ff ini bisa buat kamu tersenyum hehe. Ff ini bakal dilanjut sampai tamat. Terimakasih!

Terimakasih atas komennya. Hana aka berjuang agar bisa update cepat. Thank you so much!

Wish you have a happy life everyday!