Chapter 7. Troubles
Hujan tidak berhenti juga sejak sore tadi. Malah tetesan air hujan jatuh semakin deras di malam hari. Diselingi suara gemuruh petir dari kejauhan. Apa sedang ada badai di laut?
Kyungsoo sedikit takut. Tapi dia mencoba untuk tenang. Kyungsoo duduk di sofa ruang tengah. Dia sudah menyiapkan lighter dan senter di atas meja untuk berjaga-jaga jika mati listrik.
Kyungsoo memeriksa ponselnya tepat di saat pesan dari Jongin masuk.
Jongin : Kau baik-baik saja?
Kyungsoo menggeleng kepala tidak percaya. Sejak tadi sore Jongin mendeklarasikan kalau dia mengkhawatirkan Kyungsoo.
Kyungsoo : Aku tidak apa-apa
Jongin : Apa kau sudah memegang lighter dan senter?
Kyungsoo : Sudah. Jangan terlalu mengkhawatirkanku Jongin-ah...
Jongin : Aku tidak bisa menghindarinya
Kyungsoo : Terimakasih Jongin-ah :)
Beberapa menit Kyungsoo menunggu, tidak ada balasan dari Jongin. Mungkin Jongin sudah tidur atau hanya berhenti mengirimnya pesan. Kyungsoo meletakkan ponselnya di meja. Dia menyandarkan tubuhnya di sofa sambil menarik napas.
Kyungsoo mulai berpikir. Jongin menunggunya di depan apartemen tadi sore. Jongin juga sengaja membiarkan dirinya terkena hujan agar Kyungsoo tidak basah. Apa yang harus dilalukannya agar Jongin tidak melakukan hal yang sama lagi? Bukannya Kyungsoo tidak terharu ada orang yang rela melakukan itu terhadapnya. Hanya saja dia juga ingin bisa melindungi Jongin, jika kau ingin tahu.
Kyungsoo memikirkan beberapa jalan keluar untuk menyelesaikan masalah kecil tersebut. Ketika dia sedang berpikir, listrik mati. Bagus sekali. Anggapan bahwa daerah ini jarang padam listrik dapat dinyatakan salah mulai sekarang.
Kyungsoo mengambil lighter. Dia memutar-mutar benda tersebut sambil berpikir. Mungkin lebih baik dia tidur. Kyungsoo mengambil ponsel sambil berdiri. Dia menghidupkan senter sebagai bantuan untuk pergi ke kamar.
Tok tok tok tok tok!
Kyungsoo berhenti. Barusan tadi dia mendengar... tidak. Tidak mungkin. Dia pasti salah dengar.
Tok tok tok tok tok!
Suara ketukan pintu! Kyungsoo tidak salah dengar! Kali ini lebih keras!
Astaga?! Siapa itu?!
Kyungsoo tidak bisa bergerak karena takut. Dia tidak mau membuka pintu tapi ketukan pintu terus terdengar semakin keras dan semakin kencang.
Kyungsoo ingin menangis. Sebelumnya ini tidak pernah terjadi. Siapa yang datang di tengah hujan begini?! Jika itu kawannya, bukankah seharusnya menghubunginya lebih dahulu untuk memberi kabar akan berkunjung?
"KYUNGSOO! BUKA PINTUNYA!"
Kyungsoo mendengar jelas namanya dipanggil. Mungkin tamu tidak terduga itu memang seorang kenalannya? Apa Jongin?
Kyungsoo mengambil ponselnya dan menelepon Jongin. Tidak ada jawaban. Bukan, itu bukan Jongin.
"KYUNGSOO!"
Kyungsoo memaksakan dirinya berjalan meski langkah kakinya gemetaran. Dia bahkan hampir terjatuh karena lemas ketakutan. Kyungsoo berjalan perlahan. Keringat dingin mengalir di belakang lehernya.
Suara ketukan terus terdengar. Kyungsoo akan membuka pintu tersebut. Dia menyiapkan senter sebagai senjata pelindung jika seandainya itu orang jahat.
Kyungsoo tahu kalau senjata yang dia miliki sekarang tidak hebat. Tapi bagaimana jika dia memukuli salah satu kenalannya? Bagaimana jika dia memukul pakai benda keras dan orang tersebut mati? Senter ini, meski bukan senjata ampuh, tapi dia bersumpah akan memukul keras-keras jika orang di balik pintu adalah penjahat.
Kyungsoo memegang kenop pintu. Dia menelan ludah gemetaran. Kepala dan lehernya sudah basah karena keringat dingin ketakutan.
Kyungsoo membuka pintu. Matanya melebar terkejut melihat sosok gelap bertudung basah di depannya. Kyungsoo menjerit. Dia menggerakkan tangannya untuk memukul.
Tapi seseorang tersebut menahan tangan Kyungsoo. Tangan satunya lagi membungkam mulut Kyungsoo. Dengan sebuah dorongan kuat dia memaksa Kyungsoo masuk ke dalam apartemen. Kyungsoo terus menjerit meski mulutnya tertutup.
"Kyungsoo! Ini aku!"
Kyungsoo berhenti. Dia mengenal suara ini. Terdiam dia melihat orang tersebut membuka tudung hitamnya.
"Ini aku, Jongin!"
Emosi Kyungsoo meledak. "Brengsek! Kau menakutiku! Kenapa kau mengenakan jubah sialan begitu?!"
Mata Jongin membulat terkesan. "Wow Kyungsoo. Baru saja kau mengumpat padaku?"
"Sialan! Siapapun akan mengumpat jika berada di posisiku!" umpat Kyungsoo lagi.
"Aw. Ini yang kudapat setelah aku kehujanan datang kemari karena aku mencemaskanmu?".
Kyungsoo yang hampir teriak lagi segera berhenti setelah mendengar ungkapan Jongin. Kyungsoo mengarahkan senter kepada Jongin. Dia melihat Jongin memakai jubah plastik pelindung hujan menutupi seluruh tubuhnya. Meskipun sudah begitu, rambut dan wajah Jongin tetap basah. Celana jins dan sepatunya juga. Jongin terlihat sedikit kedinginan.
Kyungsoo menghela napas lelah. Ketakutan sebelumnya dan emosi barusan tidak terasa cukup menguras tenaganya.
"Gantilah bajumu Jongin. Kau bisa memakai baju yang kau tinggal kemarin".
Jongin mengangguk. Sementara dia melepas jubah hujan dan sepatu, Kyungsoo mengambil baju Jongin yang sudah kering -dan langsung disetrika- di lemari. Kyungsoo menyerahkan pakaian tersebut ke pemiliknya kembali. Jongin masuk ke kamar mandi dan lebih memilih untuk mandi meskipun tidak ada air hangat.
Sambil menunggu Jongin selesai, Kyungsoo menghidupkan dua hiasan lilinnya. Dia tidak bisa berpikir jernih. Rasa ketakutan belum pulih dari dirinya.
Dia hanya bisa berpikir jernih terhadap perkataan Jongin. Dia datang kehujanan karena mencemaskan Kyungsoo. Ada beberapa pertanyaan yang ingin Kyungsoo tanyakan pada Jongin. Membuat pikirannya bertambah semerawut.
Jongin keluar dari kamar mandi. Keduanya saling berpandangan. Kyungsoo tidak takut ketika padam listrik terjadi. Tapi dia mulai merasa sangat ketakutan ketika seseorang mengetuk pintunya.
Kyungsoo tidak bisa mengatakan betap leganya dia orang tersebut adalah Jongin. Jika saja orang lain... mungkin...
"Kyungsoo?"
Kyungsoo tidak sadar Jongin sudah berdiri di depannya. Mereka bisa saling melihat kedua bola mata mereka yang saling menatap. Mendadak Kyungsoo menghamburkan dirinya pada Jongin.
Kyungsoo memeluk pinggang Jongin. Dia membenamkan wajahnya pada dada bidang Jongin. Sementara tangan Jongin bergerak kaku untuk membalas pelukan Kyungsoo. Ini pelukan pertama mereka. Wajar kalau dia gugup kebingungan.
"Kau menakuti hidupku! Jangan lakukan itu lagi!" jerit Kyungsoo.
Jongin mengerti sekarang kenapa Kyungsoo memeluknya. Kyungsoo ketakutan karena ulahnya. Jongin mengusap-ngusap sayang rambut Kyungsoo. "Aku tahu. Maafkan aku"
"Kenapa kau tidak bilang dulu sebelum kau datang?! Tadi aku berpikir itu mungkin saja orang jahat! Mungkin aku akan mati! Mungkin aku-"
"Maafkan aku"
"Seharusnya kau tadi menjerit dari luar kalau itu kau! Seharusnya kau mengangkat telponku! Seharusnya kau-"
"Aku tahu. Aku tahu Kyungsoo. Maafkan aku. Ini semua salahku. Yah? Ini semua salahku".
Jongin mengeratkan Kyungsoo semakin rapat ke tubuhnya. Dia mencoba menenangkan Kyungsoo yang sedikit gemetaran di pelukannya. Tubuh Kyungsoo terasa sangat lemas dan lelah di lengannya.
Jongin mengusap-ngusap rambut Kyungsoo, menepuk-nepuk bahu Kyungsoo, menenangkan tubuh Kyungsoo dari ketakutan atau kelegaan.
Setelah dirasanya Kyungsoo cukup tenang, Jongin melepaskan pelukan mereka.
"Merasa baikan?" tanya Jongin.
"Hmm" Kyungsoo mengangguk.
Jongin belum yakin kalau Kyungsoo sungguh sudah baikan. Tiba-tiba sebuah ide keluar dari suaranya. "Mau berdansa?".
"Apa? Di tengah kegelapan begini?"
"Yeah"
"Tidak"
"Kenapa?"
"Aku tidak pandai berdansa"
"Aku akan mengajarimu langkah dasarnya"
"Kenapa kita harus berdansa?" tanya Kyungsoo bingung.
"Agar perasaanmu lebih baik. Dansa membuat perasaanmu lebih baik" jawab Jongin dengan bangga.
"Tidak bisakah kita hanya bernyanyi?"
"Itu berbeda. Bernyanyi hanya mendengarkan lagu dan mengeluarkan suara. Tapi berdansa mendengarkan lagu dan menggerakkan tubuh. Itu bisa membuat tubuh kita rileks" Jongin menjelaskan.
"Jadi menurutmu aku membutuhkan sebuah dansa sekarang?"
"Tidak. Hanya... menari saja denganku. Mau yah?" Jongin berusaha membujuk.
Akhirnya Kyungsoo mengalah karena kekukuhan Jongin memang tidak bisa terkalahkan. "Oke. Tapi aku sungguh tidak tahu harus bagaimana. Dimana sebaiknya aku meletakkan tanganku?".
"Disini. Di tanganku".
Jongin menyilangkan kedua tangan mereka yang menyatu. Jongin menarik tangan Kyungsoo dan meletakkan di dadanya. Kemudian satu tangan Jongin lainnya berada di pinggang Kyungsoo dan menariknya mendekat.
Kyungsoo menarik napas kaget. Dia tertawa lepas. "Lalu bagaimana kita harus bergerak sekarang?"
"Pertama pejamkan matamu. Tenangkan pikiranmu. Bisakah kau mendengarnya? Suara gitar wedding march sedang bermain"
Kyungsoo bisa mendengar dalam pikirannya. Lagu itu terus berputar terus berputar dalam pikirannya. Lalu seluruh tubuh dia tertarik.
"Sekarang saatnya berdansa".
Jongin membawa Kyungsoo menari dengan riang. Mereka berputar ke kiri dan kanan dengan langkah lompatan kecil. Kyungsoo tidak tahu-menahu kemana arah langkah kaki Jongin menari. Dia hanya mengikuti Jongin dengan genggaman tangan yang berada di antara mereka.
Kyungsoo selalu tertawa ketika dia salah menebak arah langkah Jongin. Setelah empat kali melakukan kesalahan, Kyungsoo baru mampu menguasai langkah Jongin. Tiga langkah ke kiri, empat langkah ke kanan, dua langkah ke kiri, tiga langkah ke kanan. Keduanya tertawa setelah mereka berhasil menyamakan ritme dansa mereka.
Jongin melepaskan tangannya di pinggang Kyungsoo. Dia mendorong tubuh Kyungsoo menjauh, menahannya dengan menggenggam kedua tangan Kyungsoo. Jongin kembali menarik Kyungsoo mendekat kemudian memutarkan keempat tangan mereka di atas kepala Kyungsoo. Secara otomatis Kyungsoo berputar dan terkurung dalam pelukan Jongin yang berada di belakangnya.
Jongin memutar Kyungsoo lagi ke posisi semula. Dia menarik Kyungsoo mendekat kembali kemudian segera meletakkan kedua tangannya di pinggang Kyungsoo. Jongin menyandarkan dagunya di atas bahu Kyungsoo.
Kyungsoo yang terperangkap dalam dekapan Jongin, mengalungkan tangannya di leher Jongin. Dia menyandarkan kepalanya pada bahu Jongin.
Jantung mereka terpompa karena tarian yang mereka lakukan. Napas mereka sesak tapi mereka merasa bahagia. Sambil berpelukan, mereka menenangkan deru napas mereka.
Kini keduanya menari dengan tempo yang lambat dan pelan sambil berpelukan. Lagu dalam pikiran mereka berubah menjadi winter sonata. Mereka berdansa dengan irama langkah kaki ke kiri dan ke kanan. Tanpa lompatan, hanya berputar sekedarnya.
Setelah yakin Kyungsoo sudah merasa lebih tenang, napas mereka juga sudah tidak sesak lagi, dan tubuh mereka juga sudah cukup lelah, Jongin mengajak Kyungsoo untuk tidur. Kyungsoo setuju tapi sebelum itu Kyungsoo memaksa Jongin untuk minum teh terlebih dahulu agar dia tidak masuk angin karena kedinginan kehujanan. Jongin berkata dia akan membawa teh itu ke dalam kamar dan meminumnya sambil berbaring di ranjang.
Kyungsoo segera membuat teh. Setelah siap, Jongin mematikan lilin di ruang tengah. Kyungsoo membawa segelas teh dengan satu tangan dan tangan lainnya di genggam oleh Jongin menuju ke kamar Kyungsoo. Ketika mereka telah berbaring nyaman di kasur hangat Kyungsoo, dia meminta penjelasan dari Jongin.
Ternyata karena cemas Jongin langsung pergi ke apartemen Kyungsoo tanpa berpikir untuk memberitahunya terlebih dahulu. Dia hanya memakai jas hujan karena angin di luar cukup kencang. Dia tidak memakai payung karena sulit untuk berlari jika payung yang kau pegang terus bergerak seperti akan tertarik oleh angin. Jongin juga tidak membawa ponsel karena takut ponselnya basah dan rusak. Dia terburu-buru untuk mencegah jalanan akan gelap jika saja mendadak terjadi padam listrik. Jadi Jongin berlari sekencang-kencangnya menuju apartemen Kyungsoo.
Kyungsoo sangat terharu ada orang yang mencemaskan keadaanya dan rela melakukan sesuatu demi drinya. Kyungsoo berterima kasih pada Jongin yang dibalas dengan kebingungan kenapa Kyungsoo mengucapkan itu. Kyungsoo menggeleng sambil tertawa kecil.
Kyungsoo menyamankan posisi tidurnya kemudian menguap pelan. Jongin menyuruh Kyungsoo untuk tidur. Seperti malam kemarin, Jongin mengusap-usap halus tangan Kyungsoo.
Kyungsoo merasa sangat nyaman dan mulai mengantuk. Tidak berapa lama dia tertidur terbuai atas belaian lembut Jongin.
Jongin memanggil Kyungsoo dengan pelan. Mendengar tidak ada jawaban, Jongin tahu kalau Kyungsoo telah tertidur nyenyak. Jongin menghabiskan teh yang berada di nakas samping ranjang. Lalu dia kembali berbaring. Sambil menggenggam tangan Kyungsoo, Jongin masuk ke dalam dunia mimpinya.
.
.
.
Kyungsoo sedang berada di ruang latihan bersama Taemin dan Changmin. Kedua murid lainnya fokus latihan bernyanyi bersama. Sementara Kyungsoo sibuk melamun memikirkan kejadian tadi malam. Kyungsoo menghela napas panjang.
Ahhh... rasanya Kyungsoo sangat bahagia setiap pagi dia terbangun ada Jongin di sebelahnya. Rasanya sangat bahagia mengingat Kyungsoo dan Jongin tidur bersama sepanjang malam. Cukup membingungkan bagaimana hal sederhana seperti itu dapat membuatnya sangat bahagia.
Mungkin karena dia senang Jongin mencemaskannya?
Atau mungkin... dia sedang jatuh cinta?
Jatuh cinta?
"KYUNGSOO!"
Kyungsoo terlompat dari lamunannya. Dia memegang jantungnya yang agak sedikit ngilu karena kaget mendengar panggilan seruan mendadak.
"Kau mengagetkanku Taemin!"
Taemin tertawa nakal. "Aku sengaja agar kau sadar dari lamunanmu"
"Kau bisa melakukannya dengan mencolek pelan tubuhku!" protes Kyungsoo.
"Hahahaha. Aku minta maaf! Tadi kau sangat lucu saat kau melamun! Aku jadi ingin menganggumu!"
Taemin duduk di hadapan Kyungsoo. "Jadi... mau cerita padaku apa yang kau lamunkan? Apakah itu tentang Jongin?"
Kyungsoo tersenyum malu. Taemin kegirangan.
"Jadi itu benar tentang Jongin?! Ceritakan padaku Kyungsoo! Apa yang terjadi?! Sudah lama aku tidak mendengar cerita tentang kalian! Apa ada kemajuan? Apa terjadi sesuatu?"
Kyungsoo menundukkan wajahnya karena malu. Taemin bertambah gemas dan penasaran. Pasti terjadi sesuatu dengan perkembangan hubungan mereka.
"Terjadi sesuatu! Ya kan? Terjadi sesuatu! Ceritakan padaku Kyungsoo! Cuma kaulah yang bisa menjawab rasa penasaranku! Jongin sangat kukuh tidak mau menjawab ketika aku bertanya padanya. Dia tidak mau menceritakan hubungan kalian sudah sampai tahap mana. Jadi, ceritakan padaku!"
Taemin merengek sambil menarik-narik tubuh Kyungsoo yang membuatnya bergoyang.
"Kau menyebalkan sangat menuntut. Bagaimana aku bisa bercerita padamu sementara sepupumu sendiri menolak?"
"Jongin menolak karena dia malu aku akan menganggunya. Lagipula kau tidak percaya padaku?" Taemin cemberut. "Kau harus percaya padaku Kyungsoo! Aku berjanji tidak akan membocorkan ke siapapun! Termasuk kepada Jongin!"
Kyungsoo memperhatikan Taemin dengan curiga. Sebenarnya dia ingin, ingin sekali bercerita kepada Taemin. Dia ingin membagi kabar bahagia ini ke semua orang. Dia ingin berbagi cerita dengan orang lain sehingga orang lain bisa memberi penjelasan atau saran atas kebingungannya.
Tapi setelah Kyungsoo berpikir lagi, sebaiknya dia tidak melakukan itu. Karena... hubungan dia sama Jongin... statusnya masih belum jelas.
Taemin masih menarik-narik lengan Kyungsoo. Sang korban menarik napas lagi.
"Aku akan memberitahu kepadamu. Tapi hanya intinya saja, tidak secara mendetail. Setuju?"
Taemin yang tadi telah semangat mendengar Kyungsoo akan memberitahunya, menjadi cemberut karena Kyungsoo menolak bercerita secara lengkap.
"Baiklah aku setuju" ujarnya walau sebenarnya dalam hati dia tidak terima.
"Oke. Hanya intinya kan? Oke. Hmm... bagaimana aku menceritakannya... well, aku dan Jongin... kami... kami..." Kyungsoo melihat Taemin yang masih semangat menanti jawabannya. "Umm... kami.. menginap bersama..."
"Apa?!" jerit Taemin.
Kyungsoo memukul lengan Taemin. Dia menoleh ke arah Changmin. Untung saja Changmin sedang pakai hadset. Mungkin sedang mendengarkan lagu latihan mereka.
"Pelankan suaramu!"
"Aku tidak bisa! Ini bukan hal biasa! Kalian menginap bersama adalah hal yang sangat mengejutkan ketika faktanya kalian masih sama-sama canggung! Dan..., hubungan kalian bahkan belum jelas! Bagaimana kalian bisa menginap bersama?!".
Kyungsoo segera menutup mulut Taemin sebelum dia bersuara lebih lanjut. Dia tidak menyangka Taemin akan berlebihan seperti ini!. "Berhenti Taemin! Kau membuatku malu!"
Akhirnya Taemin mengangguk. Dia menunjuk-nunjuk tangan Kyungsoo yang berada di mulutnya. Mengerti maksud Taemin, Kyungsoo melepaskan bekapannya.
Taemin menarik napas dalam-dalam. "Maafkan aku Kyungsoo. Aku tidak bermaksud membuatmu malu. Aku hanya refleks akibat terkejut"
"Aku tahu"
Taemin memandang Kyungsoo dengan takjub. "Kalian tidak melakukan sex, bukan?"
Kyungsoo kembali memukul keras lengan Taemin. "Tentu saja tidak! Apa yang dalam pikiranmu?!"
Taemin mengangguk-angguk mengerti. Dia lega karena Jongin dan Kyungsoo tidak melakukan suatu hal yang bodoh. Dia percaya mereka tidak akan melakukannya. Hanya saja Taemin sangat penasaran tadi.
"Jadi..."
"Aku tidak akan menjelaskan padamu" potong Kyungsoo yang dapat menebak perkataan Taemin.
Taemin cemberut lagi. "Bagaimana kalian bisa sampai menginap bersama?"
"Yah... memang terjadi suatu hal. Tapi bukan hal yang besar".
"Aku pikir kau akan menjawab kalau kalian sudah pacaran. Jika kalian sampai pacaran tapi aku tidak tahu sama sekali, aku akan sangat marah"
Kyungsoo mengerutkan kening bingung. "Kenapa kau sangat yakin kami akan pacaran? Apakah Jongin berkata sesuatu?"
"Tentu saja tidak ada! Sama sepertimu, Jongin juga kebingungan dengan hubungan kalian. Begitu pula denganku! Kalian berdua bertindak lebih cepat untuk tingkat orang yang sedang pendekatan"
"Kami... sedang pendekatan?" tanya Kyungsoo tidak mengerti.
"Tentu saja kalian sedang pendekatan!"
"Kami bukan... hanya teman biasa?"
Taemin mendecak. "Yang benar saja Kyungsoo! Tidak ada teman biasa bertingkah seperti kalian!"
Kyungsoo masih belum bisa memahami dengan baik apa yang sedang mereka bahas. Taemin menggeleng kecewa melihat kebingungan Kyungsoo.
"Kyungsoo. Apa kau pernah pacaran sebelumnya?"
Kyungsoo menggeleng malu. Untuk seseorang yang sudah berumur dua puluh tahun tapi belum pernah pacaran, Kyungsoo sadar dia sangat malu jika harus mengakuinya.
"Well... sama seperti Jongin".
Mata Kyungsoo melebar mendengarnya. Sulit dipercaya oleh Kyungsoo bahwa lelaki setampan Jongin belum pernah pacaran. Dan Kyungsoo mulai bertanya-tanya dalam hati sejak kapan dia mulai berpikir Jongin itu tampan.
"Pantas perkembangan hubungan kalian aneh. Tidak ada yang pandai untuk memimpin jalan hubungan ke depan. Kalian berdua tidak tahu apa yang harus dilakukan"
Kyungsoo semakin tidak mengerti apa yang dikatakan oleh Taemin. Mendadak jari telunjuk Taemin berada di depan wajah Kyungsoo.
"Karena sepertinya kau, Kyungsoo, sangat polos, aku akan memberi saran kepada Jongin. Dia lebih mudah digertak kacau dibandingkan dirimu Kyungsoo"
"Apa maksudnya 'digertak kacau' ?"
Yang dimaksud Taemin adalah cara curang agar Jongin mengakui perasaannya kepada Kyungsoo. Bisa saja dengan berpura-pura mengatakan kepada Jongin kalau Kyungsoo mengatakan kepada Taemin Kyungsoo sedang menunggu ungkapan cinta dari Jongin. Taemin yakin jika dia berbohong seperti itu, Jongin akan senang dan mungkin segera menembak Kyungsoo.
Tetapi berbeda dengan Kyungsoo yang naif. Apapun rencana jebakan Taemin terhadapnya, pasti akan dibalas dengan kebingungan oleh Kyungsoo.
"Percaya saja padaku, oke? Aku akan membantu kalian keluar dari kebingungan. Ketika saatnya tiba, aku mau kau tidak takut dan ikuti kata hatimu. Kau mengerti Kyungsoo?"
Kyungsoo masih belum mengerti. Tapi dia cukup mengerti pada bagian ikuti kata hati. Dia selalu mengikuti kata hatinya. Jika tidak, mungkin ketika hari dimana pertama kali Jongin menolongnya, jika seandainya dia cukup keras kepala untuk pulang lebih awal dengan menerobos hujan, mungkin... mungkin dia tidak akan berjumpa dengan Jongin.
"Taemin, Kyungsoo. Pelatih bilang kita sudah bisa pulang" ujar Changmin menghampiri keduanya.
"Yeay! Akhirnya! Aku akan langsung pulang! Minho sudah menunggu. Bye Kyungsoo! Bye Changmin!"
Taemin mengambil tas lalu segera berlari pulang. Changmin menggeleng-gelengkan kepala melihat keaktifan Taemin. Sangat berbeda dengan Kyungsoo yang tenang.
"Mau kuantar pulang Kyungsoo? Diluar sedang hujan"
Kyungsoo berpikir sebentar. "Boleh! Tapi aku ingin mampir dulu. Tidak apa-apa kan hyung?".
"Tidak masalah"
.
.
.
Jongin duduk di bangku halte bis dengan tidak sabaran. Bukan karena dia sedang kesal, tapi dia gugup menunggu kedatangan Kyungsoo tiba. Jongin merindukan Kyungsoo. Padahal baru semalam mereka berjumpa, bahkan tidur bersama. Itu sebabnya dia rela menunggu Kyungsoo selama satu jam di halte demi mengobati rasa rindu yang mendadak singgah.
Jongin tersenyum memandangi payung yang dipegangnya. Dia tidak sabar ingin pulang berjalan kaki sepayung dengan Kyungsoo. Lalu jika Kyungsoo mengajak, dia akan makan malam masakan Kyungsoo yang lezat. Kemudian dia bisa saja kembali menginap di apartemen Kyungsoo meskipun tidak mati listrik.
Jongin akui tempat tidur Kyungsoo sangat nyaman dibandingkan ranjang di apartemennya sendiri. Ditambah jika dia berada di ranjang Kyungsoo, pria mungil tersebut selalu ada di sampingnya. Jongin tidak pernah merasa senyaman itu ketika dia hendak tidur dan terbangun dari tidur.
"JONGIN!"
Jongin tersenyum mendengar nada suara panggilan yang sangat dikenalnya. Tetapi senyumannya segera memudar setelah melihat Kyungsoo berada dalam mobil dengan seorang lelaki di balik setir di sebelahnya.
"Jongin! Naiklah! Changmin hyung dengan senang hati akan mengantarmu pulang juga!" ujar Kyungsoo dengan riang.
Jongin berdiri. Dia menyembunyikan payung di balik badannya dan mengenggam payung tersebut dengan keras. Jongin menatap Kyungsoo dengan emosi. Dia tidak suka melihat Kyungsoo sangat riang bersama lelaki lain. Tetapi Kyungsoo yang polos tidak menangkap emosi di wajah Jongin.
Kesal karena tidak tahu siapa lelaki yang bersama Kyungsoo, Jongin membuka pintu belakang mobil, dengan cepat dia masuk ke dalam, lalu menutup pintu dengan bantingan keras. Namun sang pemilik mobil beserta Kyungsoo mengira bantingan Jongin hanya untuk memastikan pintu tertutup rapat.
Jongin langsung melihat wajah si pengemudi. Dia tahu siapa lelaki tersebut. Dia adalah Changmin, satu diantara ketiga penyanyi yang pernah dikirim untuk menjadi perwakilan korea selatan. Dia ingat wajahnya dari video yang dilihatnya di ponsel Kyungsoo.
Apa Changmin mengejar Kyungsoo? Apa Changmin menyukai Kyungsoo? Sudah berapa lama mereka dekat? Seberapa dekat mereka? Damn! Kenapa Taemin tidak memberitahunya sama sekali tentang lelaki Changmin ini?!
"Hujannya cukup deras" ujar Changmin membuka obrolan sambil mengemudi.
"Yah hyung" ujar Kyungsoo setuju.
"Apa kau ingat kejadian saat tahun pertamamu di sanggar?"
"Aku masih mengingatnya dengan jelas".
"Aku sangat mengkhawatirkanmu saat itu. Seandainya hari itu aku mengantarmu pulang, mungkin kau tidak akan sakit"
Kyungsoo melihat kepada Changmin. Dia tersenyum sedih. "Saat itu kita belum terlalu saling mengenal hyung. Jangan menyalahkan diri sendiri. Itu semua salahku"
"Tapi tetap saja seandainya aku membantumu mungkin..."
"Berhenti" ujar Jongin mendadak.
Sudah cukup dia berada dalam situasi memuakkan ini. Jongin merasa sudah cukup setelah dia melihat bagaimana kelakuan Kyungsoo kepada Changmin.
"Apa Jongin?" tanya Kyungsoo.
"Aku bilang berhenti!" kali ini Jongin berseru.
Changmin segera berhenti. Dia dan Kyungsoo memutar badan ke belakang untuk melihat Jongin. Tapi segera kaget melihat Jongin membuka pintu dan bersiap keluar dari mobil.
"Jongin?! Ada apa?! Jongin!"
Jongin mengabaikan jeritan Kyungsoo. Dia keluar dan berjalan menjauh dari mobil. Menerobos hujan yang langsung membuat seluruh tubuhnya basah kuyup. Jongin masih menggenggam payung, tapi dia tidak ada keinginan untuk menggunakannya.
Kyungsoo ingin menyusul Jongin, tetapi segera ditahan oleh Changmin. Kyungsoo melihat Changmin yang menggeleng diam kepadanya. Kyungsoo melepaskan pegangannya pada pintu mobil dengan sedih. Dia hanya bisa memandangi kepergian Jongin dengan kebingungan yang sangat besar.
Sementara Jongin yang sengaja berjalan lambat, berharap Kyungsoo akan mengejarnya, hanya bisa kecewa. Kyungsoo tidak mengejarnya. Jongin terus berjalan tanpa sedikitpun menoleh ke belakang. Jongin merana ditemani air yang jatuh ke membasahi tubuhnya.
Mungkin hubungan mereka sudah terlambat sejak awal. Mungkin Jongin kalah cepat. Mungkin Jongin salah memilih langkah.
.
.
.
Kyungsoo sangat cemas. Dia mondar-mandir di kamar sambil berulang kali menelepon Jongin. Masih tidak ada jawaban.
Kyungsoo mengerang putus asa. Dia tidak mengerti! Apa yang telah dilakukannya hingga membuat Jongin marah kepadanya? Seingatnya dia tidak melakukan kesalahan apapun! Kenapa Jongin pergi begitu saja dari mobil Changmin tanpa berkata apapun?!
Kyungsoo sangat kebingungan dan sangat cemas hingga mengacaukan konsentrasinya saat latihan bernyanyi. Pelatih menyuruh Kyungsoo berhenti untuk beristirahat. Tetapi setelah beristirahat pun, Kyungsoo masih tidak bisa fokus. Akhirnya pelatih menyuruhnya pulang dan mendinginkan kepala.
Taemin yang menyadari kejanggalan tersebut menghampiri Kyungsoo.
"Kyungsoo! Ada apa? Apa kau punya masalah? Kau bisa bercerita padaku Kyungsoo. Apapun itu masalahnya!"
Wajah Kyungsoo terlihat sedih, tapi dia tidak menangis. "Jongin, Taemin..."
"Ada apa dengan Jongin?"
Kyungsoo menceritakan kejadian yang terjadi kemarin hari. Kyungsoo bercerita tentang lengkap tanpa ada satupun yang ditutupinya.
"Aku tidak mengerti! Kenapa dia begitu? Dia bahkan tidak mengangkat teleponku! Apa dia marah? Tapi kenapa?!" seru Kyungsoo frustasi.
Taemin menghela napas. "Dia tidak marah kepadamu Kyungsoo. Jongin hanya... Mungkin Jongin hanya cemburu"
"Cemburu? Kenapa?" tanya Kyungsoo.
"Well, ketika kau sedang menjalani pendekatan dengan seseorang, tapi kau melihat seseorang tersebut bersama orang lain, kau akan cemburu. Kau akan merasa orang lain tersebut adalah sainganmu" Taemin menjelaskan.
Kyungsoo berpikir sebentar. "Jadi, menurutmu Jongin cemburu sama Changmin hyung? Kenapa? Aku dan Changmin hyung tidak mempunyai hubungan apapun!"
"Tapi kau tidak tahu Jongin mengetahui kenyataan tersebut atau tidak, bukan?"
"Tapi dia harusnya tahu kalau tidak ada apa-apa diantara aku dan Changmin hyung! Kami tidak melakukan apapun di depannya ketika kami berada di dalam mobil!"
"Meskipun kalian tidak melakukan apapun, tapi bagaimana dia bisa tahu jika kenyataannya dia melihat kau naik mobil bersama Changmin hyung? Jongin bisa saja berpikir kalau kau dan Changmin hyung mungkin saja punya hubungan dekat sehingga Changmin hyung bisa mengantarmu pulang. Kalau itu aku, aku juga akan berpikiran yang sama"
"Dia tidak tahu alasan aku setuju menerima tawaran Changmin hyung! Dia harus tahu alasan kenapa aku menerima diantar pulang sama Changmin hyung!"
"Apa yang kau bicarakan Kyungsoo? Alasan apa?"
.
.
.
Taemin sangat tidak sabar untuk menyampaikan berita besar kepada Jongin. Taemin mencoba menelepon Jongin, tapi bocah keras kepala tersebut tidak mau menjawab. Taemin mencoba mengirimnya pesan. Tapi berita yang akan disampaikannya sangat panjang dan dia tidak sanggup mengetik sebanyak itu.
Taemin memutuskan datang ke apartemen Jongin. Tetapi apartemen tersebut terkunci dan gelap. Taemin bertanya kepada tetangga Jongin. Tetangga itu mengatakan sudah beberapa hari Jongin tidak tampak pulang ke apartemennya.
Taemin mengutuk. Dia menelepon rumah orangtua Jongin untuk bertanya apa beliau tahu dimana keberadaan Jongin. Imo mengatakan kalau Jongin sedang berada di rumah noona tertuanya. Dia memutuskan untuk menginap disana selama beberapa hari dan dia sedang tidak ingin diganggu.
Taemin menggeleng tidak percaya. Jongin sangat cerdik memutuskan untuk menetap di rumah noonanya. Dia tahu kalau Taemin tidak akan bisa mengejarnya kesana. Karena Taemin sejujurnya sangat takut pada kakak sepupunya yang sangat overprotektif dengan Jongin adik lelaki satu-satunya.
Taemin mengalah. Dia tidak bisa melakukan hal lain kecuali menunggu Jongin kembali. Taemin berharap Jongin segera pulang sebelum dia terlambat.
.
.
.
Sejujurnya aku paling gak bisa bikin hubungan mereka sedih begini. Huaaakkkhh :'O . Maafkan aku Jongin dan Kyungsoo. Bersabarlah :'O . Semua akan indah pada akhirnya.
Ceritanya jadi sedikit menyedihkan gini yah? Tenang saja. Kyungsoo bukan mengalami hal yang besar.
Tinggal chapter terakhir. Tunggu yah. Terimakasih banyak sudah membaca!
Wish you have a happy life everday!
