Sebulan sebelum pernikahan.
"Lo nggak ngerjain gue kan, No?" Cewek berambut pink gulali itu garuk-garuk kepala sambil menyipitkan mata, menatap sohibnya curiga. Nggak tahu kenapa Sakura punya firasat buruk menganai kencan buta yang diatur sahabat kentalnya untuk dia hari ini.
"Ya nggaklah!" Ino mencibir tersinggung, matanya terlihat fokus memelototi pintu masuk café. Tampak tak sabar menunggu lelaki number wahid yang ingin dia jodohkan pada sahabat kentalnya itu. "Kapan sih gue bohong sama, lo?"
"Sering," timpal Sakura sinis.
Ino mendecih.
Menyeruput minumannya santai, Sakura mengamati cowok ganteng berambut cokelat jabrik yang tengah duduk di meja seberang mereka. Cowok itu sedang bersama pacarnya, seorang cewek manis bercepol yang tampaknya masih duduk dibangku SMA, atau kuliah. Buat Sakura, cowok ganteng itu mahluk terindah ciptaan Tuhan yang nggak boleh dilewatkan, dan mubazir kalau disia-siakan. Walau udah nggak bisa dimiliki karena sudah jadi pacar orang, cukup dinikmati dengan dikecengi.
Seolah menyadari bahwa dia sedang diperhatikan. Si cowok ganteng itu mendongak, dia sedikit tertegun melihat seorang perempuan cakep, berpakaian sexy, tersenyum nakal ke arahnya sembari mengedipkan mata provokatif. Si cowok itu menjadi salah tingkah. Dia kelihatan nggak fokus menjadi lawan bicara untuk kekasihnya. Saat sang pacar nggak melihat, cowok itu diam-diam melempar senyum ke arah Sakura, kemudian balas mengedipkan mata.
Binggo! Sakura menyeringai. Flirtingan di saat menunggu kencan buta yang jam karetan emang mengasikan. Lagian Sakura udah bosan, hampir satu jam dia dan Ino nungguin tuh cowok, tapi dia belom nongol juga. Kalau aja bukan karena tuh cowok sepupunya Ino, dan si Barbie jadi-jadian itu muji calon kencan butanya ini setinggi langit, Sakura bakal ciao alias segera get out dari sana. Ngapain juga nungguin cowok yang baru kencan buta aja udah jam karet, gimana merrid-nya nanti? Pasti aku bakal lumutan nunggu dia di pelaminan.
Di umur yang udah hampir masuk kepala tiga. Sakura udah nggak mau main-main lagi kayak dulu. Dia mau serius. Si rambut pink gulali itu udah bosen, tiap ada acara hajatan ataupun kumpul-kumpul keluarga abis lebaran, dia selalu ditanya ; "Kapan kawin?" sama tante-tantenya yang rempong itu.
Dan yang paling membuat Sakura geram adalah ulah para sepupu sialannya yang super rese', yang menjulukinya sebagai 'Perawan Tua tak laku' karena sampai sekarang dia belum menikah. Sakura ingin membuktikan pada mereka bahwa dia juga bisa menikah, dan mendapatkan suami yang jauh lebih ganteng dan juga lebih tajir dari suami-suami mereka (para sepupu). Hanya saja untuk saat ini Si cewek rambut pink gulali yang doyan pake baju warna pink melinjo itu, kudu harus kerja keras, karena masih belum ada yang cocok. Yaaah. Istilah kasarnya sih nggak laku. Hiiiii ampun Sak!
"No, kapan sih sepupu lo itu datang? Pegel nih gue nungg …."
"ITU DIA!" Ino menjerit riang, terlonjak-lonjak dari kursinya sambil menunjuk ke arah pintu masuk café.
Sakura menoleh, dan tertegun. "o-em-ji," katanya pelan dengan kekaguman yang amat kentara terlihat. "Itu … sepupu lo, atau bintang Hollywood, No?" mata Sakura yang udah ijo, mendadak jadi lebih ijo lagi ngeliat cowok super ganteng itu. Ini namanya dreams come true. Sakura jadi nggak sabar buat bawa sepupunya Ino ke KUA, dan pamerin di depan keluarga, tante-tante, sama para sepupunya yang rese' itu sebagai calon misua.
"Ya sepupu guelah, Sak!" Ino nyengir bangga, "gimana? Keren kan?"
"He's so damn hot. H-O-T-nya pakek huruf kapital semua," jawab Sakura masih terpesona, "No, gue nggak mau kencan buta sama sepupu lo."
Ino tersentak bingung mendengar perkataan Sakura. "Lha, kok …?"
"Gue mau dikawinin aja sama dia."
Ino nyengir lebar. Matanya berbinar licik, "Emang itu tujuan gue," katanya pelan. "SASUKE! DISINIII!" Ino berseru, melambaikan tangan pada sepupu gantengnya yang lagi celingak-celinguk nyari keberadaan mereka.
Dan ketika mata hijaunya bersirobok dengan mata gelap milik Uchiha Sasuke, Sakura tahu dia sudah tidak punya harapan. Dia jatuh cinta pada pandang pertama dengan sepupu ganteng Ino itu.
(Back to Sakura POV, di masa kini)
Kalau aja sebulan lalu aku tahu bahwa sepupunya Ino itu gay. Aku nggak bakalan merrid, dan ogah jatuh cinta sama dia! Tega amat si Barbie jadi-jadian itu, jebak aku buat nikah sama sepupunya yang gay. Awas aja kalau ketemu lagi, ta' empos tuh cewek!
Sayang banget, takdir nggak dapat ditolak. Dan perasaan cinta nggak bisa ditarik kembali. Aku udah terlanjur cinta sama Sasuke. Walau Sasuke nggak cinta sama aku, dan nikahin aku cuma karena paksaan pihak keluarga yang malu sama pilihan orientasi seksualnya dia.
Aku nggak mendiskreditkan kaum gay, aku menghormati mereka. Cuma … tolong deh bayangin diri kalian ada di posisiku. Menurut kalian gimana perasaanku saat tahu bahwa suami sekaligus lelaki yang kucintai adalah gay? Sakit tahu! Sakiiiiiit. Sakitnya tuh bukan hanya di hati, tapi juga di sini (nunjuk kepala), dan juga di sini (nunjuk perut). Aku selalu mual dan mules pengen ke toilet, setiap kali mergokin Sasuke ngecengin Om Kakashi, dan juga flirtingan sama guru Guy, pasangan gaynya Rock Lee yang tinggal empat rumah jaraknya dari sini.
Pengen cerai sama Sasuke, tapi aku nggak bisa. Aku terlalu cinta sama dia, dan bukan cinta namanya kalau nggak ada perjuangan dan pengorbanannya.
Geliat-geliaut, grasak-grusuk gelisah di atas tempat tidur, mikirin cara gimana biar Sasuke bisa nggak gay lagi. Atau minimal bisa suka sama ceweklah. Hari masih siang, lakiku masih di kantor. Biasanya sih dia pulang abis magrib.
"Oh ya! Kenapa aku bisa lupa?" bangun dari tempat tidur, aku berjalan menuju meja nightstand yang ada di samping ranjang, dan mengeluarkan tablet apple dari laci. "Biasanya sih, Mbah gugel selalu punya solusi untuk semua permasalahan," aku bergumam sendiri sambil naik ke kasur dan duduk bersila.
Semangat empat lima buka internet. Ketik kata kunci ; Terapi untuk gay, agar bisa suka cewek.
Banyak artikel solusi dari berbagai situs yang muncul. Sekarang tinggal aku yang harus pinter-pinter milih.
Dalam ilmu psikologi, penyebab menjadi gay secara umum ada dua :
Trauma masa kecil.
Ketika kecil pernah mendapatkan perilaku kekerasan, atau pelecehan seksual sejenis. Maka akan bisa mempengaruhi pola pikir dan orientasi seksual ketika dewasa.
Misalnya ketika kecil dia pernah disodomi oleh Kakak atau pamannya.
Kalau 'misalnya' pada opsi pertama menjadi gay, benar-benar terjadi pada Sasuke di dunia nyata … KATAKAN PADAKU SIAPA YANG SUDAH MELAKUKANNYA? SIAPA YANG SUDAH BERANI NYEROBOT JATAH MALAM PERTAMA GUE?! Oke. Lanjut baca.
Menjadi gay karena pelarian.
Lari dari suatu masalah, misalnya seorang laki-laki pernah ditolak tujuh kali oleh seorang gadis, atau beberapa gadis lain menolaknya, atau putus dari kekasih yang sangat ia cintai. Ketika perlahan-lahan ia menjadi gay, ia merasakan kenyamanan dan kebahagiaan sehingga ia benar-benar memutuskan untuk menjadi seorang gay.
Adapun terapi secara psikologi dan kedokteran yang bisa ditempuh, adalah sebagai berikut.
Menjauhi segala macam yang berkaitan dengan gay, misalnya teman, klub, aksesoris, bacaan dan segalanya. Ini adalah salah satu factor yang bisa membantu.
Merenungi bahwa gay masih belum diterima sebagian masyarakat. (Aku nerima kok. Cuma kalau lakiku yang jadi gay … maaf, nggak ikhlas. Hiks)
Terapi sugesti.
Berusaha melakukan kegiatan dan aktivitas khas laki-laki.
Terapi hormon.
Menjauhi bergaul dengan laki-laki yang menarik.
Yang paling penting adalah dukungan orang-orang terdekat, keterbukaan dan menerima masukan. Jangan sampai ada yang mencela di depannya, atau mengejek perjuangannya untuk menjadi normal.
Belum ada psikoterapi yang sungguh-sungguh efektif untuk memulihkan gay. Tapi psikoterapi berguna untuk mengembalikan kepercayaan dirinya,cobalah menjadi teman bicara dan pendukung yang baik, dengan mengajak mereka untuk berdamai dengan masalalunya.
Tutup internet, dan balikin tablet ke atas meja.
Hening.
"Sebagai istri yang baik. Aku harus membantu memulih suamiku, betapapun menyebalkannya dia. Berarti mulai sekarang kudu harus nguatin mental dan hati buat gali masa lalu Sasuke, kenapa dia bisa jadi gay seperti itu," bergumam sendiri sambil menatap cicak yang lagi kawin di dinding. Ah, cicaknya bikin aku envy aja. mereka enak bisa langsung tancep kawin, lah aku? Udah nikah tapi belum dikawinin sama suami.
Iya sih, aku percaya semua pasti ada waktunya. Dan sekarang aku mesti cari cara bagaimana biar bisa jadi teman bicara dan pendukung yang baik buat Sasuke.
Meraih ponsel yang juga ada di atas meja, aku kemudian menelponnya.
"Halo. Sakura?" Iiiih. Lakiku suaranya seksi bingit walaupun cuma lewat telepon. Ah, iya. Nggak boleh lupa sama tujuan utamaku buat nelpon Sasuke.
"Halo. Sasuke?" bingung mikirin pertanyaan apa yang harus ditanyain biar bisa jadi temen deket suami, dan biar bisa diajakin curhat.
"Hn?"
"Aku mau nanya …." Duh, ada yang tahu pertanyaan apa yang harus kutanyakan, biar bisa akrab sama suami?
"Hn?"
"Kamu gay kan?"
Mendadak merinding dengan keheningan yang tercipta antara kami berdua di telpon. "Sampai kapan kita mesti ngebahas ini terus, Sakura?" dia terdengar kesal.
"Iiiih. SasukeKU jangan marah dulu," rajukku dengan suara manja, "aku kan cuma mau nanya … kalau kamu gay, waktu ML sama pacar cowok kamu. Kamu biasanya yang nusuk atau ditusuk?"
Kali ini Sasuke diamnya lumayan lama, sampai lebih dari lima menit. Dan kemudian ….
"KAMU GILA YA?!" teriak Sasuke murka sambil menutup telpon brutal.
Emang aku salah ngomong ya?
#ToBeContinue
#Terimakasih Banyak : NikeLagi, ai, SHL7810 (Kayaknya iya deh, menjurus O.o.), Wona-chan, Nohara Rin, Gadiezt Uchiha, Whitte Apple Clock, dan Ao Yukihara.
