8. Finally (END)

Jongin disambut kegelapan saat dia masuk ke dalam apartemennya. Jongin menekan saklar dan terlihat ruang apartemen miliknya masih sama persis seperti saat ditinggalkan sepuluh hari yang lalu. Jongin melempar sembarangan tas perjalanannya ke lantai. Dia duduk dengan keras di sofa.

Jongin menarik napas dalam-dalam. Dia merasa seperti kelelahan fisik dan mental. Sepuluh hari menghabiskan waktu membantu noonanya di cafe benar-benar melelahkan. Dia rindu latihan menari yang terpaksa dilewatinya setelah meminta izin dari sanggar.

Tok tok tok!

Jongin menoleh ke pintu. Siapa? Tidak mungkin Kyungsoo karena dia tidak tahu apartemen Jongin. Dengan malas Jongin membuka pintu. Dia disambut dengan dorongan keras di dadanya.

"Dasar adik sepupu bodoh! Kenapa kau kabur tanpa alasan yang jelas?!"

Seharusnya dia bisa menduga itu Taemin. Siapa lagi yang akan mengetahui masalahnya jika bukan Taemin?

"Aku punya alasan untuk pergi, Taemin" jawab Jongin malas.

"Tidak! Kau tidak punya! Kau kabur begitu saja! Kau adalah sepupu terbodoh yang pernah kumiliki!"

Jongin berang. "Jika kau ingin mengatakan aku bodoh, bukankah setidaknya kau harus berkaca dulu?"

"Kenapa aku harus melakukannya?" tanya Taemin bingung dan emosi.

"Karena kau lebih bodoh dariku!"

"Aku tidak mengerti maksudmu!"

"Haruskah aku menjelaskan padamu?!" Jongin melihat Taemin yang sungguh kebingungan. Taemin sungguh tidak tahu?. "Changmin. Kau melupakan dia. Seharusnya kau tidak melupakan dia jika dia termasuk dalam hidup Kyungsoo!"

"Changmin hyung tidak memiliki hubungan apapun dengan Kyungsoo!"

"Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri! Mereka berbicara seolah ada sesuatu terjadi di antara mereka!"

"Benar! Memang terjadi sesuatu di tahun pertama Kyungsoo masuk sanggar!" jerit Taemin putus asa.

"Aku benar kan! Telah terjadi sesuatu, di tahun pertama. Bukankah itu empat tahun lalu? Bagus sekali. Sesuatu terjadi empat tahun yang lalu dan sampai sekarang mereka masih terhubung dengan kejadian tersebut!" balas Jongin.

"Yang terjadi empat tahun lalu adalah hanya pada Kyungsoo! Tidak pada Changmin hyung!"

"Wow. Dan selama empat tahun Changmin masih mengingat sesuatu yang terjadi pada Kyungso?! Aku bisa melihat sesuatu sekarang!".

Taemin mengerang kesal. Kesabarannya habis. Dia mendorong Jongin mundur dan mereka berdua terjatuh di atas sofa. Taemin mencengkeram baju Jongin.

"Dengarkan aku Kim Jongin. Lebih baik kau menyimpan dulu rasa cemburumu karena sekarang kau harus mendengar penjelasanku! Tidak peduli kau mau atau tidak, kau tetap akan mendengarkanku!"

Jongin bisa merasakan kemarahan yang berapi-api dari suara Taemin. Wajah Taemin terlihat gelap karena emosi. Sepupunya sungguh ingin menjelaskan sesuatu. Jongin mendengus sebal karena kalah.

"Dengar Jongin. Kyungsoo mempunyai alergi. Kau dengar itu? Alergi! Oh! Kau terkejut sekarang?!" sindir Taemin.

Mata Jongin membulat kaget dan takut. Kyungsoo sakit? Kyungsoo tidak pernah bilang apapun tentang keadaannya! Seberapa parah alergi yang dideritanya?

Seolah bisa menjawab kebingungan Jongin, Taemin melanjutkan. "Dia tidak pernah bilang padamu kan? Dia tidak pernah bilang ke siapapun! Yang mengetahui hanya pelatih dan Changmin hyung. Mereka mengetahuinya saat tahun pertama Kyungsoo di sanggar"

Tidak tampak ada pergerakan dari Jongin untuk membuka mulut. Mungkin Jongin masih kaget. Taemin memutuskan untuk lanjut menjelaskan.

"Saat tahun pertama Kyungsoo masuk sanggar, dia sangat rajin berlatih dan kemampuan bernyanyinya meningkat pesat. Melihat ada banyak potensi dalam dirinya, Kyungsoo dikirim untuk menjadi perwakilan bernyanyi dari Seoul dalam sebuah kejuaraan atlet. Tapi Kyungsoo tidak pernah bernyanyi dalam kesempatan tersebut"

"Apa yang terjadi?" tanya Jongin akhirnya.

"Yang terjadi adalah ketika Kyungsoo hendak bernyanyi, suaranya tidak keluar. Dia tidak bisa mengeluarkan suaranya ketika dia telah berdiri di atas panggung"

Air mata Jongin keluar. Dia membayangkan betapa takutnya Kyungsoo yang telah berada di atas panggung, tetapi tidak bisa mengeluarkan suara. Pasti sangat menyedihkan berada diantara ribuan penonton yang perhatian mereka sedang tertuju padamu.

"Bisa kau bayangkan betapa malunya dia? Semua orang yang berada di lapangan acara tersebut berbisik tentang dirinya. Pelatih memarahinya habis-habisan. Changmin hyung terpaksa menyanyi sendirian padahal dia tidak begitu menguasai bagian menyanyi Kyungsoo. Keadaan sangat kacau. Beberapa penyelenggara acara memarahi sanggar kami"

"Tapi Kyungsoo masih tidak bisa mengeluarkan suaranya. Dia segera dibawa ke rumah sakit. Ternyata Kyungsoo menderita radang tenggorokan parah. Akibat kelelahan berlatih, kedinginan dan kurang menjaga kesehatan tubuh"

Kini Jongin tahu alasan kenapa Kyungsoo bertahan di halte bus meskipun hujan hanya berupa rintik-rintik. Kyungsoo alergi air hujan. Jika dia terkena air hujan, dia bisa sakit.

"Dia sempat ingin berhenti dari sanggar. Tapi Changmin hyung membujuknya untuk tidak berhenti bernyanyi. Kyungsoo harus tetap melanjutkan bakat menyanyinya. Setelah sembuh, Kyungsoo meminta maaf kepada pelatih. Dia bilang dia tidak berharap dia akan dipilih lagi sebagai perwakilan bernyanyi, tapi Kyungsoo ingin tetap berada di sanggar dan latihan bernyanyi.

"Setahun kemudian tepatnya di tahun kedua Kyungsoo, dia masih tidak pernah terpilih sebagai perwakilan. Kyungsoo tidak sedih. Dia tersenyum dan terus memberikan selamat kepada murid-murid yang terpilih. Kyungsoo terus berlatih. Hingga akhirnya pelatih memberikannya kesempatan di tahun ketiga. Tetapi Kyungsoo menolak. Dia bilang dia tidak ingin mengulangi kesalahan yang sama"

"Changmin hyung membujuknya kembali. Mengatakan jika Kyungsoo tidak menginginkannya tidak apa-apa. Tapi setidaknya Kyungsoo harus mencoba. Jika untuk selanjutnya Kyungsoo tidak sanggup, dia bisa mengundurkan diri. Karena itulah aku, yang berada di tahun keduaku, dipilih untuk menemani mereka"

"Aku tidak pernah tahu cerita pada tahun pertama Kyungsoo. Tidak ada yang pernah membicaraka karena ternyata pelatih yang melarang. Iya, pelatih yang sebelumnya memarahi Kyungsoo melarang untuk membicarakan kejadian tersebut. Kyungsoo menerima kesempatannya menjadi perwakilan bukan hanya karena bujukan Changmin hyung, melainkan juga karena rasa terima kasihnya pada pelatih. Kyungsoo berlatih bernyanyi, menstabilkan napasnya, menjaga kesehatannya. Jika dia terlihat berlebihan dalam beberapa sikap, itu hanya bentuk aksinya untuk menghindari alergi"

Jongin sedih. Dia tidak tahu Kyungsoo pernah mengalami hal seberat itu. Alergi dan kejadian lalu tersebut yang membuat Kyungsoo bertahan menunggu hujan reda di halte bus. Mungkin rasa takut yang membuatnya membenci hujan.

"Changmin hyung peduli pada Kyungsoo karena saat itu cuma dia satu-satunya partner bernyanyi Kyungsoo dan hanya dia yang melihat betapa menyedihkan peristiwa yang menimpa Kyungsoo. Dia peduli pada Kyungsoo yang dianggap seperti adiknya sendiri. Kita harus berterima kasih pada Changmin hyung. Kalau tidak berkat pertolongan Changmin hyung, mungkin Kyungsoo sudah berhenti bernyanyi sekarang"

Mendadak Jongin menggeram kesal. "Aku tidak mau! Jika memang mereka saling menyukai, biarkan saja mereka!"

"Apa?! Bodoh! Apa kau tidak mengerti juga ketika aku bilang tidak ada apapun diantara mereka?! Jongin, Kyungsoo tidak menyukai Changmin!"

"Bagaimana kau bisa tahu?!" lawan Jongin.

"Karena setelah kejadian bersamamu, dia menolak untuk pulang bersama Changmin hyung lagi!"

Jongin kembali terkejut dan membatu menelaah perkataan Taemin.

"Changmin hyung tidak pernah menawarinya pulang bersama! Tahun lalu kami dikirim menjadi perwakilan saat musim semi. Changmin hyung tidak pernah menawar untuk mengantarkannya pulang. Aku tahu karena aku selalu pulang bersama Kyungsoo musim semi yang lalu. Kami pulang lebih telat dari semua murid sanggar lainnya. Dan saat itu aku belum berpacaran dengan Minho. Jadi kami terpaksa hanya pulang berdua! Tapi kali ini, Changmin hyung meminta untuk mengantarkannya pulang karena hampir setiap hari hujan turun, dan dia khawatir pada kesehatan Kyungsoo! Tidak salah bukan dia berbuat baik demi kepentingan Kyungsoo?"

Tidak salah memang, tapi Jongin masih tidak mengerti satu hal. "Kenapa dia baru menawarkan antaran pulang sekarang? Kenapa dia peduli pada kesehatan Kyungsoo sekarang?". Apa Changmin mulai menyukai Kyungsoo?

Taemin mengerutkan kening. "Kyungsoo tidak bilang padamu? Kami dikirim kembali menjadi perwakilan bernyanyi. Bulan lalu kami diberitahu. Dia tidak bilang padamu?"

Jongin kembali kaget. Dia menggeleng-geleng keras. Seketika dia merasa cemas.

"Dia tidak bilang apapun! Aku sama sekali tidak tahu kalau itu sebabnya dia selalu pulang lama! Bagaimana ini? Jika dia sakit... bagaimana ini?"

Taemin bangkit dari posisi cengkeramannya. Dia merasa kasihan pada adik sepupunya yang mulai panik terjadi sesuatu terhadap orang yang dikasihinya.

"Tenang Jongin. Tadi siang aku berjumpa dengannya di sanggar. Dia kelihatan sehat. Tidak tampak sakit sedikitpun. Aku tebak dia sudah siap mental dan fisik. Ini juga yang kedua kali baginya, bukan yang pertama kali. Dia pasti tahu yang terbaik. Sejak aku tahu kejadian tahun pertamanya, aku juga ikut memperhatikan dia. Aku dan Minho bahkan mengantarnya pulang ke apartemen dengan mobil Minho. Baik itu hujan atau tidak. Kami sebisa mungkin membantu menjaga kesehatannya"

Jongin terharu. Dia bangkit dan duduk bersandar di sofa. Rasanya sangat lega. Semua kekhawatirannya kepada Kyungsoo dan Changmin tidak terbukti benar. Beban berat dalam hatinya terasa menghilang.

"Terima kasih Taemin. Terima kasih telah menjaga Kyungsoo selagi aku tidak bisa melakukannya. Aku sungguh bodoh termakan cemburu buta"

"Kau setuju padaku sekarang kalau kau itu bodoh?" sindir Taemin.

Jongin mengangguk yang membuat Taemin terkejut. Adik sepupunya ini memang... mengejutkan.

"Sekarang, apa yang akan kau lakukan?" tanya Taemin.

"Aku akan meminta maaf kepada Kyungsoo karena kelakuan bodohku. Lalu aku juga akan membantu menjaga kesehatannya sampai dia pergi"

"Kau memang harus minta maaf. Tapi kau tidak perlu lagi menjaga kesehatannya"

"Kenapa?"

"Karena kami akan pergi besok"

Tubuh Jongin langsung menegak. "Apa?! Secepat itu?! Aku belum melakukan apapun! Aku belum memastikan kalau dia cukup sehat untuk pergi! Bagaimana ini?! Aku tidak bisa ikut pergi bersamanya karena aku tidak bisa lagi izin dari latihan menari!"

Taemin menggeleng-geleng tidak percaya melihat kelakuan Jongin. "Jongin, aku tidak tahu apakah aku harus terkesan padamu atau aku harus menganggapmu orang terbodoh sedunia karena kau benar-benar bodoh. Kami hanya pergi selama lima hari, bukan setahun! Kau bisa menebus kesalahanmu setelah kami kembali nanti!"

"Tapi tetap saja...". Jongin berhenti protes karena Taemin sedang mempelototinya.

"Mungkin sebaiknya aku pergi ke tempatnya..." gumam Jongin.

"ITU JUGA TIDAK BOLEH!" Taemin mendengar dan langsung mendorong Jongin yang berdiri untuk pergi keluar.

"Kenapa?!" protes Jongin.

"Kau benar-benar bodoh! Kau pikir jam berapa sekarang?! Kau mau menganggu Kyungsoo dari mimpi indahnya?!"

Jongin melirik jam di dinding. Jam 22:45. Taemin benar. Dia tidak boleh menganggu tidur Kyungsoo.

"Lebih baik kau tidur sekarang dan bangun pagi sekali esok hari. Lalu susul Kyungsoo. Kami akan berangkat jam tujuh pagi naik bus dari sanggar. Jadi sebaiknya kau tidak telat. Dan usahakan 'Bukan orang di pagi hari' mu jangan kambuh. Atau kau akan menyesal Jongin"

"Siap!"

Taemin terkekeh mendengar jawaban prajurit dari Jongin. Taemin berjalan ke depan pintu bersama Jongin.

"Istirahatlah Jongin"

"Baik. Bagaimana denganmu Taemin? Bagaimana kau pulang?"

"Tuh" Taemin menunjuk ke bawah karena apartemen Jongin berada di lantai dua. Taemin menunjuk ke arah satu mobil yang lampunya menyala. Minho membunyikan klakson saat dia melihat Jongin.

"Bagaimana kau tahu aku akan pulang hari ini?" tanya Jongin.

"Aku tidak tahu. Aku setiap hari datang kesini menunggumu. Kaunya saja yang bodoh tidak melihat mobil Minho terparkir di depan"

"Aku sedang... tidak fokus" jawab Jongin asal.

"Karena memikirkan Kyungsoo, huh?. Tadinya aku langsung ingin menyambarmu saat aku melihatmu. Tapi Minho menahanku karena dia tidak ingin ada pertengkaran saudara di luar dan mengundang perhatian banyak orang. Kau sangat bodoh, tahu? Bersembunyi di rumah Noona tanpa..."

Omelan Taemin terhenti karena Jongin memeluknya. Dia tidak tahu kalau Jongin sudah bertumbuh tinggi sekarang.

"Terimakasih banyak Taemin. Kau sepupu terbaik di dunia!"

Taemin mendecih. Jongin masih bisa memujinya padahal dari tadi dia menyebut Jongin bodoh. Padahal juga, selama ini hubungan mereka penuh pertengkaran mulut. Tapi situasi saat ini berbeda dan sikap mereka pun berbeda. Jongin memang... menakjubkan? Sepertinya kata-kata menakjubkan lebih cocok untuk Jongin.

Taemin menepuk-nepuk pundak Jongin. "Aku mengerti. Sekarang lepaskan aku dan masuklah ke dalam".

Jongin melepaskan pelukannya. Taemin menepuk sayang kepala Jongin. Lalu dia pergi menuju mobil kekasihnya dan Jongin menutup pintu.

.

.

Meskipun pagi ini tampaknya cuaca akan terus cerah sepanjang hari, Kyungsoo berjalan dengan langkah sedikit terlalu cepat. Dia akan berangkat ke luar negeri hari ini sebagai perwakilan untuk yang kedua kalinya dan dia tidak ingin sampai terlambat tiba di sanggar. Kyungsoo memakai jaket pemberian sanggar SM untuk siswa perwakilan yang sedikit kebesaran di tubuhnya, untuk berjaga-jaga jika mendadak cuaca cerah berubah.

Sebelumnya Taemin menelepon, menawarkan untuk menjemput. Kyungsoo menolak. Dia ingin menikmati waktu sendirian sebentar sebelum dia menyibukkan diri dalam kegiatan mereka.

Kyungsoo melihat-lihat jalan sekitar. Dia tidak akan melewati jalanan ini selama lima hari ke depan. Dia akan merindukan jalan yang punya kenangannya tersendiri dengan Jongin.

Kyungsoo menunggu bus di halte. Dia memperhatikan tempat halte tersebut. Kursi yang sedang dia duduki sekarang adalah kursi tempat dimana dia dan Jongin biasanya duduk dan kadang bermain game. Di pojok halte adalah tempat dimana dia dan Jongin berdiri berhadapan, lalu Jongin mengajaknya kencan. Di halte ini tempat dia dan Jongin bertemu pertama kali. Di halte ini dia menunggu Jongin selama beberapa hari untuk mengucapkan terima kasih atas pertolongannya.

Sudah beberapa kali Jongin menjemputnya di halte lalu mereka pulang sepayung bersama. Jongin akan memberikannya jaket. Saat mereka pulang, Jongin akan membiarkan dirinya sebagian terkena hujan, melindungi Kyungsoo sepenuhnya di bawah payung.

Bus tiba. Kyungsoo segera naik. Dia mengambil tempat duduk di tengah. Kyungsoo duduk di dekat jendela. Tas perjalanan yang besar diletakkan di sebelah kursi agar tidak ada orang yang duduk di sebelahnya. Kyungsoo menutup mukanya dengan topi hoddie. Lalu dia berpura-pura tidur tapi sesungguhnya dia memikirkan Jongin saat dia memejamkan mata.

Tidak berapa lama Kyungsoo sampai di tempat pemberhentiannya. Kyungsoo turun. Dia memeriksa jam tangan. Jam setengah tujuh. Memerlukan waktu sekitar sepuluh menit berjalan kaki ke sanggar. Kyungsoo belum telat.

Saat Kyungsoo sedang dalam perjalanan menuju sanggar, Kyungsoo melihat seseorang berdiri agak sedikit jauh di depannya. Mata Kyungsoo menelusuri dari sepatu ke celana jins ke kaos lengan panjang dan akhirnya ke wajah orang tersebut. Mata Kyungsoo melotot kaget melihat orang tersebut.

Di depan sana berdiri seorang Jongin. Jongin menarik sedikit ujung bibirnya untuk tersenyum. Senyumannya pahit. Jongin maju selangkah.

"Hai Kyungsoo" sapa Jongin.

Kyungsoo tidak membalas. Dia masih tidak mengira Jongin kini ada di hadapannya. Kyungsoo tidak tahu sudah berapa lama dia tidak berjumpa dengan Jongin. Rasanya seperti sudah lama sekali tidak melihat wajah tampan itu.

Jongin berjalan mendekati Kyungsoo. Dia lega karena dia berhasil menyusul Kyungsoo sebelum terlambat. Jongin bangun sangat pagi dan segera bersiap-siap. Dia berencana akan langsung pergi ke sanggar, menunggu Kyungsoo disana. Taemin meneleponnya dan memberitahu bahwa Kyungsoo menolak tawaran jemput dari dia dan Minho. Jongin jadi mengetahui kalau Kyungsoo akan naik bus. Dia memutuskan untuk menunggu Kyungsoo di jalanan menuju sanggar.

Jongin akan menemani Kyungsoo berjalan kaki ke sanggar. Mungkin mereka bisa mengobrol dan membahas beberapa hal. Ada banyak hal yang ingin dia katakan. Ketika saat itu telah tiba, Jongin justru tidak tahu harus mulai dari mana.

"Hai... sudah siap untuk berangkat?". Jongin mengutuk dalam hati. Sekian banyak yang ingin dikatakannya, tapi semua tertahan dan yang keluar malah basa-basi.

Kyungsoo mendongak ke wajah Jongin yang lebih tinggi darinya. Kyungsoo mengangguk pelan sebagai jawaban.

"Apa kondisimu baik? Kau tidak sakit bukan?". Jongin mulai bisa menuju ke inti pembicaraannya.

Kyungsoo mengangguk kembali. Jongin menarik napas. Dia tidak tahu kenapa Kyungsoo tidak mengeluarkan suaranya. Dia sedang tidak kehilangan suaranya seperti beberapa tahun lalu bukan?

"Kyungsoo..."

Keduanya bertatapan dalam seperti yang sering mereka lakukan. Walaupun ada banyak yang ingin Jongin sampaikan, tapi satu yang dia butuhkan. Penjelasan.

"Kyungsoo... kenapa kau tidak bilang padaku? Tentang... tentang penyakit alergimu... dan ketakutanmu..."

Kyungsoo terperanjat. "Bagaimana kau bisa tahu... tentang hal itu?"

"Aku tahu penyakitmu cukup parah. Tapi rasa takutmu ebih parah dari penyakitmu. Aku tidak percaya saat Taemin menyampaikan padaku bahwa yang kau alami selama ini adalah alergi. Aku yakin ada sesuatu yang lain yg lebih berat. Kau takut, benar kan? Kau takut dengan kejadian tahun pertamamu?"

"Bagaimana kau bisa tahu tentang peristiwa tahun pertama?" tanya Kyungsoo cemas.

"Taemin yang beritahu kepadaku..."

"Tapi aku tidak pernah mengatakannya... aku hanya bilang tentang alergiku... astaga. Changmin hyung. Changmin hyung yang memberitahu Taemin"

Changmin lagi? Jongin membuat catatan bahwa dia harus memastikan sebenarnya bagaimana perasaan si Changmin lelaki ini kepada Kyungsoo. Tapi sekarang dia harus lebih percaya kepada Kyungsoo.

"Kyungsoo, kenapa kau tidak pernah memberitahukan semua itu kepadaku? Kumohon, jawab pertanyaanku"

Kyungsoo menggigit bibirnya. Dia ingin menjawab. Tapi dia takut.

"Ketahuilah Jongin. Aku ingin sekali memberitahukannya kepadamu. Hanya saja aku tidak bisa. Selain karena peristiwa itu menjadi ketakutanku, aku juga tidak tahu... bagaimana... hubungan kita... Aku pikir kita hanya berteman biasa. Seperti aku dan Taemin. Jadi aku pikir... tidak perlu menceritakan hal tersebut kepadamu..."

"Aku tidak ingin hanya menjadi teman biasamu Kyungsoo" Jongin berkata. "Aku ingin lebih. Aku ingin berada di sampingmu. Aku ingin menjadi seseorang yang penting bagimu. Aku sangat ingin melindungimu dengan sekuat tenagaku. Aku ingin memastikan kalau kau selalu baik-baik saja dalam setiap langkahmu. Aku tidak ingin kau sakit. Aku tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk padamu. Aku... aku mencintaimu Kyungsoo"

Kyungsoo tidak pernah mendapat pengakuan cinta seumur hidupnya. Ini pertama kalinya dan disampaikan oleh orang yang telah banyak membantu dirinya. Ternyata alasan Jongin melakukan banyak hal selama ini karena Jongin mencintainya. Pernyataan cinta Jongin terdengar sangat tulus dan Kyungsoo ingin menangis.

Jongin menangkup kedua pipi Kyungsoo. Dengan cepat Jongin mempersatukan bibir mereka. Bibir Jongin bergerak ragu, tapi kemudian dia memulai tempo lembut dalam gemulai lumatan.

Mata Kyungsoo melebar melihat Jongin berada sangat dekat dengannya. Sesuatu yang basah dan hangat menempel di bibirnya. Jongin melumat bibirnya dengan sangat lembut, penuh kasih sayang.

Mata Jongin tertutup seperti sangat menikmati ciuman mereka. Terbuai, Kyungsoo pelan-pelan memejamkan matanya juga. Dia tidak pernah merasa sangat disayangi seperti ini sebelumnya. Air mata Kyungsoo keluar dengan sendirinya.

Setelah cukup lama, Jongin melepaskan ciuman mereka. Jongin terpaku melihat air mata di pipi Kyungsoo. Dia belum pernah melihat Kyungsoo menangis sekalipun Kyungsoo dalam keadaan takut. Jongin menghapus air mata Kyungsoo dengan ibu jarinya. Mungkin dia menakuti Kyungsoo dengan pernyataan cintanya.

Tapi dengan Kyungsoo yang mendadak menghempaskan tubuhnya kepada Jongin, kedua tangannya memeluk pinggang Jongin, membuat Jongin menghembuskan napas lega. Jongin membalas pelukan Kyungsoo yang kini menangis tersedu-sedu di dadanya. Tangan kekar Jongin yang berada di punggung Kyungsoo bergerak mengusap-usap.

"Kenapa kau menangis Kyungsoo?" tanya Jongin ikut merasa sedih.

"Aku sedih. Aku pikir kita tidak akan berjumpa lagi. Aku pikir kau akan pergi dari hidupku. Tapi sekarang, kau disini. Aku senang dan juga sedih" jawab Kyungsoo dengan suara serak karena menangis.

"Maafkan aku. Ini salahku. Seharusnya aku tidak marah tanpa alasan yang jelas lalu pergi begitu saja. Seharusnya aku bertanya padamu sebelum aku mengambil pilihan yang kekanakan. Maafkan aku".

"Kenapa kau pergi? Kenapa kau tidak berkata apapun?"

"Aku cemburu. Melihatmu dengan Changmin. Aku cemburu"

Kyungsoo sedikit menjauhkan tubuhnya dengan kedua tangannya masih memeluk pinggang Jongin. Dia melihat Jongin dengan bingung.

"Aku tidak memiliki hubungan apapun dengan Changmin hyung. Jika yang kau maksud adalah pembicaraanku dengan hyung dalam mobil, sebenarnya kami membahas kejadian empat tahun lalu"

"Aku tidak ingat apa yang kalian bicarakan dalam mobil. Saat itu, aku hanya langsung tidak suka saat melihatmu bersama Changmin. Mungkin itu yang dinamakan cemburu karena aku bertindak sangat bodoh. Sebelumnya aku tidak pernah bersikap seperti itu"

Jongin mendorong kepala Kyungsoo untuk bersandar lagi di dadanya. Jongin memeluk Kyungsoo kembali dengan sedikit posesif.

"Aku ingin kau menjadi milikku Kyungsoo. Aku mencintaimu. Aku berjanji tidak akan meninggalkanmu lagi. Aku berjanji akan selalu melindungimu dengan segala kekuatan diriku. Apa kau mencintaiku?"

"Iya..." Kyungsoo berhenti. "Sejak pertama kali kita berjumpa"

"Apa?" tanya Jongin terkejut.

"Saat pertama kali kita bertemu, aku sudah jatuh cinta padamu. Kau menarik perhatianku saat kau duduk di sebelahku ketika kita di halte. Kau membuatku jatuh hati saat kau berlari mengambil payung untukku. Mungkin kau tidak tahu, tapi sehari setelah kejadian itu aku terus menunggumu di halte di jam yang sama. Aku menunggu selama beberapa hari. Tapi kau tidak pernah muncul. Ternyata yang salah adalah aku. Aku tidak tahu kalau kau pulang lebih awal, tidak seperti aku yang pulang lebih lama satu jam karena harus latihan tambah"

"Kau... kau menungguku? Kenapa kau tidak pernah mengatakan hal ini kepadaku?" tanya Jongin termangu.

"Tentu saja aku akan malu jika aku mengatakannya!"

Jongin terkekeh. Dia melepaskan pelukannya pada Kyungsoo. Jongin memegang kedua pipi Kyungsoo. Kyungsoo masih melingkarkan tangannya di pinggang Jongin. Kyungsoo bahkan seperti tidak ada keinginan untuk melepaskan. Jongin terkekeh atas keagresifan Kyungsoo. Jongin mengaitkan kening mereka.

"Kita harus berhenti salah paham seperti ini Kyungsoo. Kita harus mengakhiri ketidakjelasan status hubungan kita. Jadi... kau mau menjadi pacarku Kyungsoo?"

Kyungsoo tidak perlu lama berpikir. Dia segera menganggukan kepalanya dengan cepat. Jongin tersenyum senang.

"Aku berjanji akan selalu melindungimu"

"Kau yakin? Karena aku akan mulai memanggilmu setiap aku mulai merasa ketakutan"

"Jangan sungkan-sungkan".

Mereka berdua tertawa ringan. Jongin mengusap-usap halus pipi lembut Kyungsoo. Pandangannya tertuju pada bibir Kyungsoo.

"Aku akan menciummu, Kyungsoo" Jongin menggigit bibirnya.

"Maka cium aku. Kau tidak meminta izin sebelumnya" jawab Kyungsoo.

"Aku takut membuatmu menangis lagi. Siapa yang mengira kau akan menangis karena dicium" ganggu Jongin.

Kyungsoo cemberut dan mencubit pinggang Jongin. "Aku tidak menangis karena dicium! Aku menangis karena aku merasa bahagia!"

Jongin terkekeh. Jongin bergerak maju untuk mempertemukan bibir mereka. Ciuman kedua mereka manis, lembut, basah dan hangat. Bibir balas bibir. Lumatan berbalas lumatan. Hingga ketika mereka memutuskan untuk berhenti, keduanya merasa bibir mereka sangat penuh.

Jongin kembali memeluk Kyungsoo. Kali ini dengan lebih erat. Melampiaskan kerinduan yang melanda selama sepuluh hari.

"Astaga. Aku sangat lega telah mengatakan semuanya. Aku selalu merindukanmu di masa kita tidak bersama"

"Tidak ada lagi kerinduan tidak masuk akal, setuju?" tanya Kyungsoo.

"Setuju. Sekarang aku akan merindukanmu sebagai pacarku"

Jongin melirik Kyungsoo yang masih berada di pelukannya. Dia meneliti pakaian yang Kyungsoo kenakan di dalam jaketnya. Sejak tadi dia merasa dia pernah melihat baju Kyungsoo entah dimana.

"Kau memakai bajuku!" seru Jongin ketika sadar. Dia melepaskan pelukannya.

"Kau sadar? Ini baju yang kau tinggal di hari terakhir kau menginap"

"Aku baru saja sadar. Sejak tadi aku berpikir sepertinya aku pernah melihat baju yang kau pakai. Aku menyadarinya setelah melihat merek di belakang"

"Kau keberatan?" tanya Kyungsoo cemas.

"Tidak. Tapi kenapa?"

"Karena aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu hingga tidak tahu harus bagaimana. Aku pikir dengan memakai baju ini aku bisa mengurangi rasa rinduku"

"Bagaimana jika aku tidak datang?"

"Aku akan mendatangimu setelah aku pulang nanti. Aku berencana akan bertanya ada masalah apa dan menyatakan perasaanku padamu"

Jongin sedih. Ini kesalahan dia membuat Kyungsoo seperti orang putus asa. Jongin memeluk Kyungsoo lagi. Keinginan untuk selalu merengkuh tubuh kecil itu menjadi-jadi dalam diri Jongin.

"Maafkan aku. Aku sangat bodoh. Kau merana karena aku. Aku sungguh minta maaf Kyungsoo"

Kyungsoo menggelengkan kepala di dada Jongin. "Tidak apa-apa Jongin. Aku memaafkanmu"

"Aku janji tidak akan melakukannya lagi"

"Aku percaya"

Jongin melepaskan pelukannya teringat sesuatu. Dia melihat jam tangannya dan melotot. "Gawat Kyungsoo! Waktumu hanya tinggal sepuluh menit sebelum berangkat!"

"Apa?! Aku telat!". Keduanya segera berpegangan tangan dan pergi dengan langkah cepat.

Kyungsoo senang karena kini dia dan Jongin berjalan sambil berpegangan tangan. Dia teringat ketika di bioskop dia menginginkan Jongin memegang tangannya, seperti Taemin dan Minho, saat mereka pergi ke kantin bioskop. Sekarang Jongin menggengam tangannya dengan erat.

"Apa kau pernah berpacaran dengan orang lain?" tanya Jongin. Dia tidak akan percaya lelaki semanis Kyungsoo belum pernah berpacaran.

Kyungsoo menggeleng. "Tidak pernah". Dia tidak malu lagi mengakui dia single selama ini karena dia telah tahu Jongin juga.

"Tidak pernah?! Wow" Jongin takjub. "Kenapa? Apa kau punya tipe?" tanya Jongin menyelidik.

Kyungsoo segera menyergah. "Tidak! Aku tidak memiliki tipe. Aku hanya... mungkin aku tidak menyukai mereka seperti mereka menyukaiku"

"Apa aku pacar pertamamu?"

"Kuakui saja itu benar. Kau pacar pertamaku"

"Apa aku juga ciuman pertamamu?" tanya Jongin penuh harapan.

"Yah. Dan aku tahu aku juga pacar pertamamu karena itu aku tidak malu mengakuinya"

"Bagaimana kau tahu?" tanya Jongin terkejut.

"Taemin yang memberitahukan kepadaku"

"Dia memang sepupu yang sangat baik" sindir Jongin.

"Dia informan yang baik"

"Yah. Aku harus berterimakasih banyak padanya" ujar Jongin.

"Dia bilang dia akan marah jika kita berpacaran tanpa dia ketahui"

"Kita akan segera memberitahunya"

"Apa aku juga ciuman pertamamu?" Kyungsoo penasaran karena Jongin bertanya sebelumnya.

"Untuk yang satu ini tidak. Aku pernah mencium orang lain sebelumnya. Karena itu aku selalu suka memperhatikan bibirmu"

"Kau suka bibirku?" mata Kyungsoo membulat.

"Bibirmu adalah bibir terindah yang pernah aku lihat"

Kyungsoo merona malu. Jongin menangkap tingkah Kyungsoo dan terkikik gemas.

"Mengingat ketakutanmu, apa yang sebenarnya kau takutkan saat kejadian tahun pertamamu?"

"Suara"

"Suara?"

"Aku mendengar suara"

"Siapa?"

"Suara kerumunan penonton yang membisikkanku saat aku tidak bisa bernyanyi. Aku tidak tahu apakah mereka berbicara buruk atau tidak. Aku tidak mengalami trauma. Aku bisa membuktikan kalau aku bisa tampil kembali di atas panggung dan bernyanyi di tengah kerumunan penonton. Hanya saja saat itu, setelah kejadian, aku pingsan dan kegelapan menyelimutiku. Tapi suara-suara mereka terus terdengar. Sejak itu aku mulai ketakutan. Ketika gelap, aku mendengarkan suara mereka"

Jongin menarik napas tertahan. Awalnya dia tidak mengerti. Jika Kyungsoo takut, bagaimana selama ini dia bisa tampil? Jongin berpikir Kyungsoo takut tidak bisa mengeluarkan suaranya lagi. Ternyata yang Kyungsoo takutkan adalah suara. Suara bisikan dari penonton. Suara-suara itulah penyebab Kyungsoo gemetaran ketika mati listrik dan gelap.

"Kau sudah melakukan hal yang terbaik demi dirimu Kyungsoo. Kau tidak boleh kalah dan akan tetap berjuang mengatasi rasa takutmu. Aku akan membantumu". Jongin mengeratkan genggamannya. Menyiratkan pada Kyungsoo bahwa dia berada disini, dia serius dengan janjinya.

Kyungsoo tersenyum lemah. "Aku mengerti"

"Kau punya suara yang indah. Orang-orang akan melupakan masa lalumu setelah mereka mendengarkan suaramu. Mereka akan mengerti kalau saat itu kau hanya mengalami gugup yang cukup parah"

"Kau terlalu memujiku. Kau bahkan tidak pernah mendengarkan aku bernyanyi"

"Tentu saja aku pernah!"

"Kapan? Ah... dari video di ponselku? Dimana aku bernyanyi bertiga sama Taemin dan Changmin hyung?"

"Iya dan tidak. Aku punya video lain kau sedang bernyanyi"

"Yang mana yang kau maksud... tunggu! Jangan bilang..." mata Kyungsoo membulat gugup.

"Iya yang itu. Video dimana kau bernyanyi lagu expectation" jawab Jongin santai.

Kyungsoo serasa mau meledak malu. "Jangan! Hapus video itu Jongin!"

"Kenapa?"

"Karena aku malu!"

"Kenapa harus malu? Kau bernyanyi dengan sangat merdu"

"Itu video pribadi! Kau seharusnya tidak membuka video lain dengan sembarangan!"

"Percayalah aku tidak sengaja melakukannya. Aku hanya salah tekan lalu videonya pindah ke video lain. Jadi aku menontonnya. Aku suka videonya maka aku kirim ke ponselku"

Kyungsoo menutup wajahnya dengan satu tangan. "Seharusnya aku menghapus video itu..."

"Jika kau menghapusnya, kemudian kau rindu dengan video itu, kau bisa meminta dariku. Aku punya banyak salinannya"

"Kenapa kau menyalinnya dengan banyak?" Kyungsoo sedikit mengangkat tangan dari wajah.

Wajah Jongin tampak berpikir. "Karena aku suka dengan si penyanyi? Oh! Aku juga mengubahnya jadi mp3 dan mendengarkan setiap malam. Suara si penyanyi membuatku tertidur nyenyak"

Kyungsoo menempelkan kembali telapak tangan di wajahnya. "Aku sangat malu..."

Jongin tersenyum gemas. "Tapi aku tertidur sangat nyaman di tempat tidurmu"

"Kau suka ranjangku?" tanya Kyungsoo bingung.

"Iya dan aku juga suka denganmu! Ranjangmu penuh dengan aroma tubuhmu!"

"Hentikan! Sepertinya kau sangat senang sekali menggombaliku!"

"Aku tidak menggombalimu. Aku berbicara dengan sejujurnya" Jongin menajamkan kata-kata akhirnya sambil tersenyum nakal.

"Kenapa kau jadi seperti ini? Siapa kau?"

"Pacarmu hahaha"

Kyungsoo tertawa juga. Dia mendadak teringat sesuatu. Kyungsoo merogoh kantong jins dan mengeluarkan sebuah benda terukir dari besi.

"Ini hadiah untukmu" Kyungsoo menyodorkan benda tersebut dengan tangannya yang bebas.

Tanpa ragu Jongin langsung menerima benda tersebut. Dia akan menerima apapun pemberian dari Kyungsoo. Dia terdiam menatap benda yang kini berada di atas telapak tangannya yang terbuka lebar.

"Kunci?" tanya Jongin.

"Kunci apartemenku"

"Apa?! Kau memberikanku hadiah kunci apartemenmu?!" seru Jongin kaget dan girang.

"Yah? Kau tidak suka?"

"Aku bahkan mencintainya! Kenapa kau memberikanku ini?".

"Agar kau tidak menungguku di depan apartemen lagi"

Jongin berhenti berjalan. Dia menarik tangan Kyungsoo untuk berhenti juga. Jongin menatap Kyungsoo dengan sangat serius. Ada sesuatu yang menganggu pikirannya. Kyungsoo melihat bingung ke Jongin.

"Apa ini kunci utama?" tanya Jongin.

"Tidak. Ini kunci cadangan"

"Ah... apakah kau selalu punya kunci cadangan? Apa kau tipe orang yang sering lupa barang?"

"Tidak"

"Lalu untuk apa ini?!" suara Jongin sedikit tinggi. Dia mengeratkan tangan mereka yang menyatu.

Dalam pikiran Jongin mulai berkecamuk bayangan orang lain entah siapa pernah mendapatkan kunci cadangan juga dari Kyungsoo. Apa seseorang pernah masuk dengan bebas ke apartemen Kyungsoo? Bagaimana bisa Kyungsoo dengan mudahnya memberikan kunci cadangan ke orang lain? Padahal Kyungsoo sendiri belum pernah mampir ke apartemen Jongin.

Kyungsoo tidak mengerti kenapa Jongin memegang tangannya dengan sangat kuat. Rasanya sakit tapi sakit yang baik. Dia merasakan kepedulian Jongin di tangannya.

"Untuk apa? Tentu saja aku memberikannya untukmu karena kau pacarku"

"Kita berpacaran baru saja lima menit yang lalu, Do Kyungsoo. Apa kau memunculkan kunci ini dengan sihir?. Bagaimana kunci ini bisa ada sebelum kita berpacaran?!"

Kyungsoo benar-benar tidak mengerti kenapa Jongin setengah berteriak. Ini kedua kalinya dia mendengar Jongin meninggikan nadanya. Yang pertama adalah saat di mobil Changmin kemarin. Yang kedua adalah sekarang. Kyungsoo tidak tahu kalau Jongin bisa seperti itu.

"Aku... aku... kuncinya sudah ada sejak beberapa hari yang lalu"

"Apa?" tanya Jongin kebingungan.

"Aku memesan kunci cadangan di pagi hari setelah kau menginap untuk yang kedua kalinya. Kuncinya siap sore hari. Sore itu Changmin hyung menawarkan untuk mengantar pulang dan hujan cukup keras dan aku juga harus menjaga kesehatanku, jadi aku menyetujuinya. Aku bilang kalau aku ingin mampir ke toko reparasi kunci terlebih dahulu. Lalu aku melihatmu di halte dan aku meminta Changmin hyung untuk mengantarkanmu juga. Aku ingin memberikan kuncinya kepadamu, tapi kau tiba-tiba keluar dari mobil"

Jongin menggigit bibirnya kuat. "Kau me-memesan kunci untukku? Kenapa?"

"Kau bilang kau menungguku hari itu. Aku pikir aku harus memberikanmu kunci jadi kau tidak perlu menungguku lagi..."

Mendadak Jongin menunjuk ke arah Kyungsoo dan berseru. "Kau! Apa kau memberikan kunci ke semua orang yang menunggumu?!"

"Tidak! Aku hanya memberikannya untukmu! sergah Kyungsoo cepat. "Lagipula tidak pernah ada yang menungguku sebelumnya..." Kyungsoo menunduk.

Jongin geram dan gemas karena dia dibuat panik oleh kepolosan seorang Do Kyungsoo. "Jangan pernah memberikan kuncimu dengan mudah ke orang lain hanya karena dia pernah menunggumu! Bagaimana kalau orang itu orang jahat? Kau seharusnya bersyukur orang itu adalah aku..."

"Maafkan aku. Kalau begitu aku minta kembali kunciku" tangan Kyungsoo bergerak untuk mengambil kunci di tangan Jongin.

"Tidak! Aku tidak akan mengembalikannya!" Jongin menarik tangannya ke belakang. Dia segera menyimpan kunci dalam saku celana jinsnya.

"Kenapa? Kau bilang aku tidak boleh memberikannya ke orang lain..."

"Tapi aku bukan orang lain lagi. Aku pacarmu sekarang. Aku boleh memiliki kunci apartemenmu"

"Lalu kenapa kau memarahiku tadi?"

"Karena kau..." Jongin terdiam melihat Kyungsoo yang cemberut. Dia menarik napas. Bagaimanapun juga ini adalah kesalahannya. Jongin menarik Kyungsoo dalam pelukannya.

"Tidak. Bukan karenamu. Tapi salahku. Aku terlalu cemburu buta"

"Dengan siapa?" tanya Kyungsoo.

"Dengan orang lain"

"Siapa?"

"Orang lain".

Orang lain yang bahkan tidak pernah ada. Jongin cemburu mengira Kyungsoo pernah memiliki orang lain sebelumnya dan sering keluar-masuk apartemen Kyungsoo. Kenyataanya, orang lain tersebut tidak pernah ada. Jongin tidak bisa mengatakan itu semua kepada Kyungsoo karena Kyungsoo yang polos tidak akan mengerti perasaan cemburu buta yang dirasakannya. Atau mungkin memang Jongin sendirilah yang memiliki sifat cemburuan terlalu berlebihan.

Jongin melepaskan pelukannya lalu mencium singkat kening Kyungsoo. "Kau bisa telat"

Jongin menggenggam tangan Kyungsoo kemudian mereka lanjut berjalan pergi. Tepat ketika sampai di sanggar, bus yang akan mengantar ke bandara sudah dipenuhi para murid. Taemin membuka jendela bus dan berteriak.

"Kyungsoo! Cepat! Kau sudah terlambat!". Lalu Taemin melihat Jongin dan Kyunsoo yang berlari sambil berpegangan tangan. Senyuman Taemin mengembang. "Astaga! Kalian sudah berpacaran sekarang! Kalian sudah berpacaran! Selamat Kyungsoo! Selamat Jongin! Akhirnya kebingungan kalian berakhir juga!" Taemin menjerit-jerit heboh bagaikan suporter.

Pasangan tersebut hanya tertawa. Kyungsoo melepaskan tangan Jongin lalu berlari masuk ke dalam bus. Jongin sedikit kecewa karena Kyungsoo tidak mengucapkan salam perpisahan kepadanya. Tapi dia bisa mengerti kalau Kyungsoo sudah telat.

Dan Jongin tidak bisa berpikir cepat ketika Kyungsoo mencampakkan tasnya kemudian berlari keluar dari bus. Tiba-tiba saja Kyungsoo sudah berdiri di hadapannya. Kyungsoo tersenyum lebar.

"Aku mencintaimu" ujar Kyungsoo kemudian melompat untuk mencium bibir Jongin.

Semua murid dalam bus berteriak-teriak heboh melihat adegan langsung tersebut. Bahkan ada murid bersiul dengan bantuan tangan di mulutnya untuk menyoraki pasangan tersebut. Taemin bertepuk tangan kesenangan.

Pikiran Jongin baru bisa merespon setelah beberapa detik kemudian. Dia tersenyum senang dalam ciuman mereka. Kyungsoo tidak melupakan salam perpisahan dan kini semua orang tahu bahwa Kyungsoo adalah miliknya. Siapa yang nyangka Kyungsoo akan melakukan hal seperti ini di hadapan orang-orang.

Jongin menarik pinggang Kyungsoo dengan posesif untuk lebih mendekat kepada tubuhnya. Dia memperdalam ciuman mereka. Semua orang harus tahu bahwa mereka saling mecintai, Kyungsoo memiliki Jongin sebagai pacarnya, dan Jongin tidak akan melepaskan Kyungsoo sampai kapanpun.

Setelah merasa puas keduanya melepaskan diri untuk berpelukan erat. Jongin mengusap sayang rambut Kyungsoo. "Aku juga mencintaimu"

Setelah mendengar kata tersebut, Kyungsoo melepaskan pelukan mereka meski berat. Dia sudah sangat telat.

Jongin mengusap lembut pipi kanan Kyungsoo yang tampaknya ingin menangis. Bibir Kyungsoo sangat merah akibat ciuman mereka. Jongin ingin menciumnya lagi tapi dia tidak boleh melakukannya.

"Jangan menangis. Kita akan berjumpa minggu depan. Pergilah" Jongin tersenyum lembut dan berhasil menenangkan pikiran Kyungsoo.

"Baiklah. Satu hal lagi Jongin. Hari ini tidak hujan!". Kyungsoo berlari kembali masuk ke dalam bus.

Jongin tertawa. "Itu pasti karena dia tahu kita hari ini akan berpacaran!". Kyungsoo yang membalikan badan ke arah Jongin tersenyum geli.

Mungkin cuaca hujan yang selama ini terjadi diakibatkan oleh perasaan mereka. Hubungan mereka yang penuh kebingungan membuat hari mendung dan awan-awan gelap karena keresahan hati mereka. Mungkin hujan turun untuk selalu membuat mereka terjebak, sehingga dapat memudahkan jalan hubungan mereka dan berharap mereka segera bisa bersatu.

Kini setelah hujan berhasil membuat mereka menjalin hubungan, cuaca mulai bersahabat dengan mereka. Hari ini sangat cerah seolah memberikan tanda permulaan bahwa cuaca akan kembali membantu mereka untuk menjalani hari-hari yang baik.

"Annyeong Jongin!" Kyungsoo melambaikan tangan.

"Annyeong Kyungsoo! Saranghae!"

"Nado!" teriak Kyungsoo sebelum pintu bus tertutup.

Kyungsoo mengambil tasnya di lantai dan segera berlari ke tempat duduk kosong di sebelah Taemin. Keduanya berpelukan dengan gemas karena bahagia. Sementara Jongin mengawasi seseorang yang duduk di bangku terdepan.

Changmin berfirasat ada seseorang yang memperhatikannya. Dia melongok keluar jendela dan melihat Jongin sedang menatapnya tajam. Jongin terlihat sangat galak. Jongin menunjuk ke arah Changmin, lalu ke dirinya sendiri, kemudian Jongin membuat gerakan memotong di lehernya (Kalau kau sampai berjumpa denganku, kau akan mati). Itu adalah ancaman agar Changmin tidak mendekati Kyungsoo secara romantisme.

Changmin tertawa. Sambil tersenyum geli dia menggerakkan kedua jarinya di area pelipis. Sebagai tanda bahwa dia tidak ingin mencari masalah dan dia menghormati hubungan Jongin dan Kyungsoo. Changmin tidak menghiraukan Jongin setelahnya. Dia menarik topi menutupi kedua matanya. Dengan melipat tangan di dada Changmin mencoba tertidur.

Jongin mengalihkan pandangannya pada Kyungsoo dan Taemin. Keduanya sedang melambaikan tangan. Jongin membalas dengan semangat. Minho datang dan merangkul bahu Jongin. Sejak tadi Minho telah berdiri di sekitar menunggu bus berangkat.

"Akhirnya Jongin, akhirnya" ucap Minho kemudian dia melambaikan tangan pada Taemin. Sedikit banyak, dia tahu perjalanan cinta Jongin dan Kyungsoo dari Taemin. Dia turut senang melihat kedua orang tersebut akhirnya bersatu.

Jongin tersenyum senang. Dia masih sulit percaya kalau dia dan Kyungsoo telah berpacaran. Tidak heran karena baru beberapa menit yang lalu mereka mulai menjalin hubungan. Setelah sekian lama mereka saling memendam rasa, akhirnya perasaan tersebut tersampaikan juga.

Manis bibir Kyungsoo masih terasa asing di bibirnya, tapi dia menyukainya. Dia mencintai Kyungsoo dengan segalanya yang ada . Dia akan menjaga Kyungsoo dan melindunginya dengan segala kemampuannya.

.

.

.

End

Ada yang mau epilog? Gak asyik juga yah kalo akhirnya begini.

Terimakasih kepada semua teman-teman yang sudah berkomentar. Dan bertahan dengan ff fluff ini hahaha xD

Jawaban untuk HappyHeichou kenapa mereka selalu bertemu saat hujan? Karena hujan membantu mereka.

Jawaban untuk dokydo91 sebenarnya karena ff ini ada caption Fluff, jadi sepanjang cerita fluff dan datar.

Jawaban untuk kyungsooxeveryone maaf, hana nggak bisa bikin hunsoo. Aku cuma bisa bikin kaisoo. Soalnya aku ngeship berat!

Jawaban untuk Sofia Magdalena konflik kecil untuk penegasan gimana cemburunya Jongin.

Wish You Have A Happy Life Everyday!