Epilog

Kyungsoo, Taemin dan lainnya telah kembali ke Seoul. Minho menjemput Taemin di bandara dan menawarkan tumpangan kepada Kyungsoo. Kyungsoo menerima karena dia sedikit lelah dan dia tidak sabar ingin berjumpa dengan Jongin.

Berada di luar negeri sangat menyenangkan dan juga menyesakkan. Menyenangkan karena melihat negeri dan cuaca baru. Menyesakkan karena Kyungsoo tidak bersama kekasih yang dicintainya.

Mereka tidak bisa menelepon atau mengirim pesan. Mereka tidak bisa berkirim email karena keduanya tidak tahu alamat email masing-masing. Mereka berpacaran dengan sangat cepat lalu langsung berpisah karena kegiatan.

Sambil memandang keluar jendela, Kyungsoo mengingat kenangan terakhir mereka. Dia mendengar ungkapan cinta dari Jongin. Jongin menciumnya untuk pertama kalinya. Dia menangis karena merasa sangat disayangi. Mereka berpelukan. Mereka jalan bergandengan tangan dan kedua tangan mereka menjadi hangat. Mereka berciuman sebelum mereka berpisah...

Astaga! Kyungsoo sangat merindukan Jongin! Dia bisa gila!

Kyungsoo duduk di kursi belakang dengan tidak sabar. Berapa lama lagi mereka akan sampai? Dimana Jongin sekarang?. Kyungsoo menelepon Jongin. Sinyal ponsel baru berfungsi setelah mereka kembali ke Seoul. Tapi ponsel Jongin tidak aktif.

Kyungsoo sungguh tidak beruntung! Bagaimana ini? Dia tidak tahu alamat Jongin.

"Kyungsoo. Kau mau turun dimana? Di apartemenmu atau di apartemen Jongin?" tanya Taemin dari depan.

Kyungsoo ragu. "Sebenarnya aku ingin turun di apartemen Jongin. Tapi.. aku pikir sebaiknya aku turun di tempatku"

"Kenapa tidak jadi?" tanya Minho.

"Aku pikir... sebaiknya aku membereskan barangku lebih dahulu lalu pergi ke tempatnya"

Sejujurnya bukan itu yang Kyungsoo pikirkan. Dia ingin ke apartemen Jongin, tapi dia merasa jika dia melakukannya, tidakkah dia akan terlihat, umm seperti agresif? Dia merindukan kekasihnya hingga begitu tiba di Seoul dia segera datang ke apartemen kekasihnya. Kenapa itu terdengar sangat memaksa?

Kyungsoo menggelengkan kepalanya dengan keras. Tidak boleh! Tidak boleh begini! Sudah seharusnya dia pulang ke rumah, mandi dan membereskan barang, lalu menelepon Jongin dan mengabarinya kalau dia sudah pulang. Yah, sebaiknya seperti itu.

Maka dengan pikiran seperti itu, musnahlah niat Kyungsoo untuk menanyakan alamat Jongin kepada Taemin. Lagipula dia malu bertanya. Taemin akan heran dia tidak tahu alamat Jongin sementara Jongin telah main ke apartemennya bahkan menginap dua kali.

Kyungsoo turun dari mobil dengan lemas. Dia mengambil tas dan beberapa bungkus cinderamata untuk keluarganya dan Jongin. Dia melambaikan tangan kepada Taemin dan Minho yang mengklakson padanya.

Kyungsoo melihat sebuah mobil sedan hitam terparkir di halaman apartemennya. Dia tidak pernah melihat mobil seperti ini terparkir sebelumnya. Apa dia punya tetangga baru?

Kyungsoo menaiki tangga dengan langkah lambat. Selain karena bawaannya berat, dia juga lelah fisik dan batin. Kyungsoo merogoh kunci kamar dalam saku celananya. Dia membuka pintu.

Kyungsoo sedikit terkejut melihat lampu kamar apartemennya menyala. Dia berjalan masuk. Dia mendengar ada musik di ruang tengah. Ketika sampai dia melihat lelaki tampan sedang duduk di sofa, sedang menggerakkan tubuhnya sambil menari.

Kyungsoo menurunkan tas dan bungkusan ke lantai pelan-pelan. Dia tidak ingin menganggu. Pemandangan di depan sana sangat indah. Kyungsoo memperhatikan lelaki yang dirindukannya. Dia terlihat sama seperti sebelumnya tanpa ada kekurangan apapun.

Merasa ada yang melihat, Jongin mendongak. Senyum bahagia langsung terpatri di bibirnya. Dia berdiri dengan cepat dan berlari. Kyungsoo berlari juga. Dalam sekejap keduanya telah berpelukan erat melampiaskan rasa rindu mereka.

"Aku merindukanmu. Aku sangat merindukanmu" ucap Kyungsoo.

"Aku juga merindukanmu. Benar-benar merindukanmu"

Keduanya berpelukan dengan sangat lama. Kulit mereka yang sebelumnya terasa dingin berangsur hangat. Kemudian keduanya berkecupan berulang kali dengan tangan yang masih saling memeluk.

"Kenapa kau disini?" tanya Kyungsoo senang. Rasa rindunya terobati dengan cepat.

"Aku berada disini sejak hari pertama kau pergi"

"Kenapa?"

"Tentu saja karena aku merindukanmu" Jongin membentur pelan kedua jidat mereka.

"Aku pikir kau ada di apartemenmu. Untung saja aku tidak kesana"

"Memangnya kau tahu dimana apartemenku?"

"Tidak. Tapi Minho akan mengantar kesana"

"Ah jadi Minho menjemput kalian di bandara. Maaf aku tidak menjemputmu. Aku tidak tahu kalau kalian pulang hari ini"

"Tidak apa-apa. Kau ada disini. Aku senang"

Keduanya berpelukan kembali. Pemikiran Kyungsoo bahwa dirinya kemungkinan agresif sudah hilang. Mendengar Jongin berkata kalau dia berada di apartemen Kyungsoo karena merindukannya, dia pikir itu hal yang wajar untuk dilakukan jika kita merindukan seseorang. Lagipula kenapa harus malu jika mereka telah berpacaran sekarang.

"Apa kau lapar?" tanya Jongin.

"Sangat!"

"Ayo kita pergi makan" Jongin memegang tangan Kyungsoo.

"Aduh. Aku sangat lelah. Tidak bisakah kita memesan dari rumah saja?" keluh Kyungsoo.

"Kau sering memesan makanan?"

"Tidak"

"Kalau begitu jangan lakukan. Lebih baik kita langsung makan di tempat".

Padahal alasan Jongin melarang Kyungsoo melakukannya agar tidak ada lelaki lain mengetahui apartemen Kyungsoo. Kyungsoonya sangat manis. Dia tidak mau seseorang sampai menyerang Kyungsoo di apartemen. Apa sebaiknya dia mulai tinggal di apartemen Kyungsoo juga?

Astaga! Kim Jongin! Sadarlah! Apa yang kau makan hingga bisa berpikir seperti itu? Dia memang berjanji dia akan menjaga Kyungsoo, tapi dia juga harus percaya kalau Kyungsoo bisa melindungi dirinya sendiri.

"Aku sangat lelah. Bisakah kita makan di warung soju di pinggir jalan?"

"Tidak. Kau lelah dan kita harus makan makanan yang sehat"

"Tapi aku tidak kuat berjalan kaki ke restoran..."

"Siapa bilang kita akan berjalan kaki?"

"Kita tidak akan berjalan kaki?" tanya Kyungsoo bingung.

"Kita akan naik mobil". Jongin menarik Kyungsoo pergi.

"Tunggu. Mobil siapa?"

"Punyaku"

"Kau punya mobil?!" Kyungsoo terkejut.

"Yah"

"Aku tidak pernah melihatmu naik mobil sebelumnya?"

"Aku baru membelinya. Memang bukan mobil baru, tapi mobil itu milikku sekarang"

"Bagaimana kau membayarnya?"

"Aku meminjam uang dari noonaku. Ingat ketika aku menghilang selama beberapa hari? Aku pergi ke rumah noona dan memohon padanya"

"Kenapa kau melakukan itu?"

"Karena ... aku pikir... jika aku ingin melindungimu... harus dimulai dengan aku memiliki mobil terlebih dahulu. Bisa dibilang juga karena aku cemburu dengan Changmin yang mengantarmu pulang. Aku juga ... ingin bisa seperti itu"

Kyungsoo menggigit bibir bawahnya. Dia sedih Jongin sampai melakukan itu semua. "Seharusnya kau tidak perlu berbuat seperti itu. Bagiku tidak masalah jika kita naik bus. Kau tidak perlu sampai membeli mobil hanya untukku... bahkan meminjam uang..."

Jongin melihat Kyungsoo yang seperti ingin menangis. Kyungsoo menjadi sensitif sejak mereka jadian. Apa dia tidak bahagia?

"Kyungsoo... apa kau tidak bahagia bersamaku?"

Mata Kyungsoo membulat kaget. "Tidak! Kenapa kau bertanya seperti itu?!"

"Kau mulai menangis sejak kita berpacaran. Sebelumnya saat mati lampu meski kau gemetaran ketakutan kau tidak menangis. Tapi sekarang... kau menangis dalam setiap hal yang kulakukan. Apa kau merasa tersiksa bersamaku?"

Air mata Kyungsoo jatuh. "Tidak! Aku tidak merasa tersiksa bersamamu! Aku bahagia bersamamu! Hanya saja... ini... ini terlalu banyak Jongin. Aku menangis karena tidak pernah ada yang melakukan ini kepadaku sebelumnya. Kau membuatku merasa sangat disayangi"

Hati Jongin berteriak kegirangan mendengar pengakuan Kyungsoo. Dia memang melakukan banyak hal demi Kyungsoo. Tapi dia tidak pernah melakukan hal tersebut dengan tujuan membuktikan dirinya hebat dalam segala hal. Dia hanya ingin melindungi Kyungsoo karena itu dia melakukan beberapa hal.

"Aku memang menyayangimu Kyungsoo. Aku mencintaimu"

Jongin menghapus air mata Kyungsoo. Dia memeluk Kyungsoo dengan sayang. Kyungsoo mulai berhenti menangis karena tidak ingin membuat Jongin lebih khawatir lagi. Kyungsoo mengusap air matanya. Jongin menyadari pergerakan Kyungsoo.

"Aku tidak melarangmu menangis, Kyungsoo sayang. Tapi, aku mau apapun itu yang membuatmu menangis, kau akan mengatakannya dengan jujur kepadaku. Seperti tadi. Aku sangat senang mendengar pengakuanmu"

"Kau senang?"

"Ya. Sering-seringlah mengatakan hal seperti tadi Kyungsoo. Jika itupun bukan tentang kita, aku akan lega mendengarkan keluhanmu. Jadi aku bisa tahu apa yang membuatmu sedih, apa yang membuatmu takut"

Jongin menjauhkan badannya. Dia melihat ke bawah, ke Kyungsoo yang memeluk pinggangnya. Persis seperti saat mereka mulai berpacaran, Kyungsoo tidak mau melepaskan. Jongin gemas. "Lagipula, kita tidak mau ada kebingungan lagi kan?"

Kyungsoo terkekeh pelan. Dia hendak memeluk tapi segera dihentikan Jongin. Kyungsoo cemberut bingung.

"Ini bukan saatnya pelukan. Ini saatnya ciuman"

Jongin mencium Kyungsoo dengan lembut. Ah.. dia merindukan bibir manis Kyungsoo. Ciuman mereka bergerak pelan, menggoda. Dan terhenti karena suara perut Kyungsoo berbunyi. Keduanya melepaskan ciuman mereka dan bertatapan heran. Keduanya tertawa lepas.

"Ayo kita makan. Aku tidak bisa membiarkan kekasihku kelaparan".

Kyungsoo menerima ajakan Jongin. "Tapi, apa kau yakin kau bisa menyetir?"

"Dungu. Jika tidak, bagaimana aku bisa membawa mobilnya kesini?"

"Kau punya SIM kan?" tanya Kyungsoo memastikan.

"Aku punya"

"Kau sudah lama belajar menyetir kan?". Kyungsoo memasang sepatunya.

"Sudah hampir delapan tahun. Tenang saja Kyungsoo. Aku akan membawa mobil dengan pelan jika kau cemas". Jongin berdiri setelah mengikat tali sepatunya.

"Aku percaya padamu. Aku hanya memastikan"

Keduanya keluar dari apartemen. Jongin mengunci pintu kamar dengan kunci miliknya. Dia memegang tangan Kyungsoo kemudian mereka menuruni tangga.

"Yang mana mobilmu?"

"Sedan hitam"

"Yang itu? Pantas saja! Ini pertama kali aku melihat mobil itu. Aku pikir aku punya tetangga baru"

"Ah, aku lupa mengatakan kepadamu. Sebenarnya, keluargaku memberikanku mobil sebagai hadiah kelulusan masuk ke sanggar tari. Mereka bilang akan lebih gampang jika aku pergi ke sanggar naik mobil. Tapi aku menolak. Lalu setelah bertemu denganmu, aku berpikir untuk meminta hadiahku kembali. Aku baru tahu kalau mobil yang akan diberikan keluargaku adalah sedan model lama. Sejujurnya aku tidak malu jika harus membawa mobil lama. Tapi aku ingin membuatmu terkesan. Jadi aku membantu noona di Café dan sisanya aku meminjam uang dari noona. Bisa dibilang, mobil ini bukan sepenuhnya kubeli karenamu"

"Kau tidak perlu membuatku terkesan" ujar Kyungsoo setelah mendengar penjelasan Jongin.

Jongin mengangkat tombol kunci mengarah ke mobil. Terdengar suara beep beep dan kunci pintu mobil terbuka. Mereka masuk.

"Yang paling penting bagiku sekarang adalah aku bisa mengantarmu kemanapun, aku bisa menjemputmu. Kita bisa pergi kemanapun. Kita tidak perlu kedinginan saling menunggu di halte. Kau tidak perlu takut kehujanan. Yang penting kau aman dan sehat". Jongin mengusap sayang rambut Kyungsoo.

Kyungsoo tersenyum manis kepada Jongin. Dia merasa sangat bersyukur bisa memiliki pacar penuh perhatian seperti Jongin. "Terimakasih Jongin".

"Sama-sama"

Jongin mengendarai mobil menuju restoran. Kyungsoo sedikit cemas lantaran ini pertama kalinya dia melihat Jongin mengendarai mobil. Jongin membawa mobil dengan mulus dan lancar. Lima menit kemudian Kyungsoo tenang dan melupakan kekhawatirannya.

"Apa acara disana berjalan lancar? Apa kau bernyanyi dengan baik?" tanya Jongin sambil tetap melihat ke depan.

"Acara disana sangat menyenangkan! Kami bernyanyi dengan baik dan acara berlangsung dengan sukses. Para menteri Seoul yang datang kesana untuk menyaksikan acara memuji kami. Kami merasa bangga dipuji langsung oleh pemerintah!"

"Kalian pantas mendapatkannya. Aku melihat video kalian di youtube. Kalian hebat!"

"Benar! Kami sangat hebat, ya kan?"

"Sangat hebat!"

Kyungsoo menyengir puas. Jongin melihatnya. Kyungsoo terlihat sangat gembira karena dia telah menyanyi dengan baik. Hal itu membuat Jongin senang juga.

.

.

.

Sekitar dua setengah jam kemudian keduanya telah pulang ke apartemen Kyungsoo dengan perut kenyang. Keduanya duduk dengan malas di sofa. Mereka diam dan mendengarkan suara hujan yang mulai turun di luar sana. Mereka beruntung masuk ke apartemen terlebih dahulu sebelum hujan.

"Kau mau minum teh?"

"Boleh"

Kyungsoo pergi ke dapur untuk menyiapkan teh. Dia ingin menahan Jongin lebih lama. Dia masih merindukan Jongin. Lagipula sedang hujan di luar sana dan dia tidak akan membiarkan Jongin pulang malam-malam dengan hujan deras.

Tidak berapa lama teh siap dan Kyungsoo membawa ke ruang tengah. Keduanya minum teh sambil memandang ke arah jendela. Menatap kilatan cahaya petir yang terbias samar-samar di lipatan tirai jendela.

Kyungsoo menoleh kepada Jongin kemudian bergerak mendekati. Jongin segera meletakkan gelasnya di meja melihat Kyungsoo mengarah kepadanya. Mata Jongin membulat ketika Kyungsoo memilih untuk duduk di bagian tengah antara kedua kakinya. Kyungsoo menyandarkan punggungnya pada dada bidang Jongin. Jongin memeluknya dari belakang dengan gemas dan sayang. Kyungsoo menarik napas merasa nyaman dan hangat.

"Hujannya deras"

"Yah"

"Kenapa terjadi hujan padahal kita sudah berpacaran?"

"Mungkin dia sedang membantu pasangan lain"

Dia membantuku juga, ujar Kyungsoo dalam hati. Sampai sekarang Kyungsoo masih tidak begitu menyukai hujan. Tapi hujan membuat Jongin bersamanya, berada di sampingnya, seperti saat ini. Kyungsoo yakin Jongin akan pulang jika hujan tidak turun.

Kyungsoo memeluk tangan Jongin yang memeluk perutnya. "Jongin". Jongin menjawab dengan gumaman.

"Sampai kapan hujan ini akan terus berlangsung?"

Jongin mengerut terhadap pertanyaan aneh Kyungsoo. "Aku tidak tahu. Mungkin selama satu jam?"

"Bukan itu. Maksud dari pertanyaanku adalah sampai kapan hujan akan sering turun seperti beberapa minggu ini?"

"Mungkin sampai musim panas berakhir. Kenapa? Kau mencemaskan tenggorokanmu?" tanya Jongin sambil mengusap-usap tangan Kyungsoo untuk menghangatkannya dari rasa dingin.

Kyungsoo menggeleng. "Tidak. Aku hanya berpikir...jika hujan berhenti turun... apa kau akan tetap ada disini?"

"Apa maksudmu?"

"Aku juga tidak tahu apa maksudku. Aku hanya...". Kyungsoo memutar kepala untuk melihat Jongin di belakangnya.

"Aku berpikir kau selalu muncul di saat hujan turun. Kau selalu ada untuk membantuku menghindari hujan. Kau membuatku melupakan kekesalanku terhadap hujan. Aku berpikir jika hujan tidak turun lagi, apa kau akan masih tetap sama seperti sebelumnya?"

"Tentu saja"

"Kau tidak akan berubah kan?"

"Tidak"

"Apa kau... tetap akan menginap disini seperti sebelumnya? Jika tidak hujan, kau masih akan sering mampir ke tempatku?"

Jongin menyeringai. "Apa kau secara tidak langsung mengajakku untuk tinggal bersama?"

"Tidak!" sergah Kyungsoo. "Bukankah pembicaraan mengenai tinggal bersama itu terlalu cepat..."

"Aku tahu". Jongin memutar badan Kyungsoo. Dia memeluk Kyungsoo dengan erat dan gemas.

"Aku tidak akan berubah. Aku pacarmu. Sudah menjadi tugasku untuk menolongmu, melindungimu dan menyayangimu. Untuk melakukan itu aku perlu sering mampir kemari"

"Bagus. Aku merindukanmu setiap saat. Aku merasa kesepian jika tidak bertemu denganmu dalam sehari"

"Aku akan datang setiap hari"

"Berjanji?"

"Janji. Tapi dengan satu syarat"

Kyungsoo memutar kepalanya lagi. Keningnya melipat penasaran.

"Kau harus memasak untukku. Sebagai balasan aku menjemputmu di sanggar" ujar Jongin.

Kyungsoo terperanjat. "Kau akan menjemputku setiap hari?" ujarnya takjub.

"Tentu saja! Apa gunanya aku mempunyai mobil?"

"Jadi... kita tidak akan menunggu di halte lagi?"

"Tidak perlu"

"Apa itu tidak berat untukmu? Maksudku... sanggarku dan sanggarmu cukup jauh..."

"Itu tidak menjadi masalah buatku. Jadi, berhentilah memikirkan masalah karena semuanya baik-baik saja. Oke?"

"Baiklah..."

"Kyungsoo? I love you"

"I love you t..." Balasan kata cinta dari Kyungsoo terputus karena Jongin menyambar bibirnya.

Mereka berdua bersatu dalam sebuah ciuman manis.

.

.

.

Tamat.

Terimakasih kepada teman-teman yang bersedia meluangkan waktu untuk membaca sampai habis, memfollow, memfavorite, dan mengomentari yaitu NHAC, Sofia Magdalena, Kyungsooxeveryone, Kyungie, HappyHeichou, Ryaauliao, Cactus93, Kaisekseh, BangMinki, BabyCofee99, Yusi865, Skymoebius, Guest, Meliarisky7, Lovesoo .

Terimakasih banyak!

Wish You Have A Happy Life Everyday!