Disclaimer: Saya bukan pemilik sah dari series Naruto. Naruto adalah milik Masashi Kishimoto. Dan tidak ada keuntungan komersil yang saya dapat dari pembuatan fanfiction ini.

Warning: singkat, no plot, ide klise, not-edited.

For ShikaIno Fan Days 2015. [2/2]

.

.

.


Waktu telah menunjukan angka sebelas ketika mobil mungil Ino telah terparkir lurus di parkiran.

Ino menguap lebar; mengabaikan tata krama dan sopan santun yang wajib ia jaga di depan publik. Gadis itu memutuskan untuk segera turun, sebelum dirinya tergoda untuk menyandarkan kepalanya dan pergi mengunjungi dunia mimpi.

Setelah keluar dari mobilnya, barulah gadis pirang itu menyadari betapa sudah larut saat ini.

Dengan langkah percaya diri, gadis itu memasuki bangunan bertingkat empat puluh, membawa serta sebuah bungkusan besar, sekantung plastik, dan tas tangannya.

Lobi gedung itu telah sepi, dengan hanya beberapa orang yang berlalu lalang. Gadis itu tak membutuhkan waktu yang lama untuk menemukan lift, dan naik ke lantai tiga puluh dua.

Ketika pintu lift terbuka, lorong panjang dengan deretan pintu yang bernomor urut menyambutnya. Gadis itu menyusuri lorong itu, baru berhenti tepat di pintu berplat angka 146.

Ia dengan segera menekan bel yang ada di sebelah plat 146.

Satu menit terlewat tanpa ada jawaban maupun respon.

Pasti sedang tidur, Ino menghela napas sebal, sebelum akhirnya gadis pirang itu memutuskan untuk mencoba mengetikan enam digit password untuk membuka kunci pintu itu. Tak butuh waktu lama untuk membukanya; Ino segera memasuki apartemen itu, berjalan menuju kamar utama yang ada di sebelah kiri.

Dan sesuai dugaannya, kamar itu tak dikunci.

Mengendap-endap, gadis itu memasuki ruangan seluas empat kali lima meter itu. Lalu dengan sigap menarik selimut yang membungkus sesosok tubuh yang tengah tertidur lelap.

"Astagaa! Jam berapa ini?" seru Ino heboh, melihat dibalik selimut, sosok Nara Shikamaru masih berbaring dengan mata yang terkatup dan dahi mengernyit samar akibat cahaya ruangan yang tiba-tiba masuk.

"Berisik, Ino," keluh Shikamaru yang kemudian langsung berupaya bangkit dan duduk sebelum Ino berinisiatif memaksa ia bangun dengan cara yang tak terduga lainnya. Sementara Ino berdiri di pinggir tempat tidur dengan tangan yang terlipat menandakan kekesalannya.

"Bagaimana kau bisa ada disini?" tanya Shikamaru ketika kesadarannya telah kembali sepenuhnya. Pemuda itu menatap sosok Ino penuh selidik.

"Huh, apa ini kata sambutanmu ketika menemui sahabat yang sudah tak kau jumpai selama berbulan-bulan?" tanya Ino sinis. "Aku baru kembali," jawab si pirang, singkat.

Shikamaru menguap. "Kenapa tidak bilang kalau akan pulang?"

Ino memutar matanya malas, "Ini kejutan, bodoh!" ujarnya sebal. Usahanya untuk cepat-cepat kembali ke Jepang demi merayakan ulang tahun sang sahabat nyatanya terasa tak setimpal dengan respon yang pemuda itu beri. Oh—Ino baru ingat betapa Shikamaru dan sikap datarnya itu begitu menyebalkan.

"Oh ya?" Shikamaru terlihat terkejut. Tapi Ino tahu, itu hanyalah salah satu usaha pemuda itu untuk menghargai rencananya. Well, Ino akan sangat senang kalau Shikamaru menghargai usahannya dengan akting yang lebih, umm ... meyakinkan.

"Ya," ketus si gadis Yamanaka.

Shikamaru tertawa tipis melihat reaksi sang sahabat yang ngambek. "Aku sungguh terkejut kok."

Ino mendengus kesal. "Iya, kau sangat terkejut." Gadis itu tiba-tiba melemparkan bungkusan besar yang sedari tadi ia bawa ke arah Shikamaru yang asyik menguap. Shikamaru yang tidak siap menangkap bungkusan itu harus rela hidungnya ditabraki benda yang untungnya empuk itu.

Ino nyengir lebar—nyaris tertawa terpingkal. "Terkejut?"

"Astaga." Pemuda itu mengelus hidungnya. "Apa Amerika membuatmu jadi semakin kasar?" Shikamaru mengeluh, tak terima hidungnya jadi pelampiasan keusilan Ino. Benda yang dibungkus oleh plastik tebal berwarna cokelat itu berbentuk persegi panjang besar dan terasa begitu empuk.

"Itu hadiaahh!" Ino cemberut. "Kubeli langsung di Paris! Bantal besar yang nyamaaann untuk tidur!"

Shikamaru terdiam. Bingung harus berkomentar apa. Pada hari-hari biasanya, Ino akan mengomelinya ketika ia mencuri-curi waktu untuk tidur, kadang juga sahabatnya itu melarang keras dirinya untuk tidur di siang hari. Namun sekarang, di hari ulang tahunnya, kenapa malah benda penunjang aktivitas tidur—bantal— yang Ino hadiahkan untuknya? Sedikit banyak pemuda itu merasa bingung dengan kelabilan seorang Yamanaka Ino, namun, toh, Shikamaru memilih tak berkomentar banyak; takut ada benda yang lebih keras lagi dilemparkan tepat ke wajahnya.

"Iya, iya. Terima kasih," balas Shikamaru pada akhirnya.

Ino tersenyum sumringah, "Sama-sama!"

Shikamaru melirik jam di dinding kamarnya, dan seolah teringat sesuatu, pemuda itu berkata, "Oh, ngomong-ngomong ..." Pemuda nanas itu sengaja menggantungkan ucapannya.

"Ngomong-ngomong apa..?" Ino berjengit penasaran.

Shikamaru bangkit dari tempat tidurnya, berdiri tepat dihadapan Ino. Dan, tanpa tendeng aling-aling, pemuda itu merengkuh hangat sang sahabat. Lalu berbisik tepat di dekat telinga si gadis.

.

.

.

"Selamat ulang tahun, cerewet."

.

FIN.


A/N:

HAPPY BIRTHDAY MY LOVELY YAMANAKA INO! Cinta saya gaakan pudar sama karakter kuat yang satu ini:'''''))) Meskipun Ino jarang muncul dan kadang di anak tirikan(?) tetep she's the only one for me. Karakter yang keren bangeett aaa kuat sekaligus penuh tjintah dengan temen dan orangorang disekitarnya:'''''))

Udah deh gaada yang bisa menggambarkan tjinta saya ini(?)

.

.

LOL. Mind to review?