Jingzhou, 219 M ...

Sungguh tidak biasanya, hari itu Jendral Guan mengunjungi dapur tempa. Segala aktivitas dihentikan karena para pekerja harus membungkukkan badan menghormati si penguasa Jingzhou. Sosok tinggi besar berwajah merah yang garang melangkah masuk ke dalam bengkel, menghampiri satu-satunya orang yang masih berdiri tegap menghadapinya. Anak muda itu mewarisi penampilannya, melihatnya seperti melihat seorang Guan Yu, buronan dari Shanxi hidup kembali. Matanya berani, dahinya berkeringat karena udara panas di dapur tempa, dan dia menyekanya tanpa mengalihkan pandangan dari Jendral Guan.

Namun yang paling menyedihkan bukan tatapan permusuhannya, melainkan rambutnya yang dia potong pendek. Saat seorang pemuda memotong rambutnya, dia telah membuang dirinya dari keluarga.

Dua sosok itu saling berhadapan, sama-sama tajam, sama-sama arogan.

"Apa yang sedang kau kerjakan?"

"Hadiah untuk seorang teman," jawab pemuda itu. Dia pasti sedang membicarakan Zhang Xing Cai.

"Aku sudah memberinya tombak bermata dua, dia tidak akan memerlukan lagi apapun darimu. Apa yang sedang kau lakukan ini, simpan saja sebagai barang pertama yang pernah kau buat." Jendral Guan mencoba membuat semuanya menjadi singkat, dia akan berlalu pergi setelahnya seakan tidak mau mendengar sanggahan apapun lagi.

"Jendral!" panggil pemuda itu. "Aku bukan prajuritmu, kau tidak bisa memerintahku. Dia temanku, dan aku akan memberinya suvenir sebelum dia pulang ke Sichuan!"

Jendral kembali menghadapi anaknya itu. Dengan kekerasan hati yang sama, dia berkata, "lupakan dia!"

"Apa telingaku tidak salah mendengar?" Guan Suo tertawa miris, "pertama, kau tidak memasukkanku ke dalam silsilah keluarga. Kedua, istrimu selalu ingin agar aku pergi selamanya dari keluargamu. Ketiga, kau membiarkan ibuku mati! Kau bukan ayahku! Kau tidak berhak atas hidup yang aku jalani!"

Mendengar situasi mulai memanas, Jendral Guan memerintahkan semua pekerja di bengkel tempa itu untuk meninggalkan mereka berdua. Dengan patuh para pekerja itu mengosongkan ruangan sehingga hanya ada tungku api yang masih membara di pojok ruangan yang hadir menonton pertikaian ayah dan anak.

"Jadi, kamu pikir semua ini demi kamu?" Jendral Guan mendekati rak senjata yang baru saja selesai ditempa. Semua itu akan segera mereka pergunakan untuk menghadapi Cao Ren di Xiang Yang dalam waktu dekat. "Anakku. Aku tidak memiliki niat untuk mengontrol dan mengendalikan hidupmu. Yang aku lakukan hanyalah menjalankan tugas sebagai negarawan yang berbakti pada kaisarku. Maka dari itu, bila masih ada sedikit rasa hormatmu untukku, aku minta kau lupakan dia."

Namun saat melihat kesungguhan dari sorot mata Guan Suo, Jendral Guan tahu bahwa dia sedang bercermin. Dan dirinya tidak akan menakhluk pada orang lain kecuali tuannya sendiri. Namun Guan Suo adalah anak sipil, dia tidak terlahir sebagai seorang negarawan maupun ksatria. Dia adalah tuan bagi dirinya sendiri, itu sebabnya dia tidak mau menjadi prajurit. Jendral Guan mengambil sebilah guandao dari rak senjata lalu menguji keseimbangannya. Setelah puas akan kebaikan senjata yang baru saja jadi itu, dia mengacunkan ujungnya kepada Guan Suo.

Perisai itu baru dua kali dihajar api dan disiram air, warnanya sudah agak kebiru-biruan, namun Guan Suo masih berencana untuk memanaskannya dan menyiramnya lagi. Tapi hanya ada itu di sekitarnya, dan dia melihat ini sebagai ujian seberapa baik hasil tempaannya itu. Dipasangnya perisai itu di tangan kiri, dan palu tempa yang berkarat di tangan kanan.

Jendral Guan melesat dengan guandao di tangan, dia memutar senjata itu dengan begitu hidup, begitu kuat dan cepat. Guan Suo tidak punya pilihan lain selain bertahan dari serangan bertubi-tubi itu. Perisai yang masih ditempa itu menyala merah pada tengahnya. Guan Suo khawatir perisai itu akan rusak karena perkelahian ini. Maka dia mengayunkan tangan kanannya yang memegang palu tempa itu, dan membalas serangan-serangan ayahnya.

Mereka berbagi jurus, walau Guan Suo lebih banyak bertahan, dilindungi perisai yang belum sempurna. Guan Suo mencoba melawan kembali namun guandao itu berkelebat dan merebut palu tempa di tangannya dengan cara yang terlalu cepat untuk dilihat mata amatirnya. Jendral Guan mengira bahwa dengan tidak adanya senjata di tangan, anaknya itu akan menyerah. Namun Guan Suo masih punya perisai, dan perisai itu dia gunakan sebagai senjata. Dia dorong pedang guandao itu sampai rapat ke tubuh ayahnya dan dengan sekuat tenaga mendorongnya hingga ke tembok.

Jendral Guan tersenyum bangga. Tapi itu tidak cukup untuk Guan Suo memenangkan perkelahian ini.

Dia mengerahkan tenaganya mendorong Guan Suo, mengira anak itu akan jatuh terjengkang. Tapi Guan Suo berguling ke belakang setelah terjatuh dan segera bangkit berdiri kembali dengan dua kakinya.

Sampai malam ayah dan anak itu masih saja berkelahi di dapur tempa, hingga pagi masih terjaga, dan akhirnya siang harinya, keduanya sudah duduk-duduk bersama di perpustakaan. Bilur-bilur menghias wajah Guan Suo yang lebam, untuk pertama kalinya dia mau mendengarkan ayahnya berbicara.

"Sesungguhnya kita sudah kalah." Katanya, "kita tidak pernah mengungkapkannya, tapi kita tahu bahwa kita sudah kalah. Dinasti Han sudah saatnya runtuh, kita semua sepakat itu. Bahkan kakak Liu pun demikian. Tapi kita menyangkalnya dan berduka karenanya. Mungkin besok aku akan mati, mungkin kakak Liu dan mungkin adik Zhang. Tapi kita tidak bisa menerimanya. Bila hanya kekalahan yang menjadi pilihan kita, setidaknya kita harus kalah dengan perjuangan!"

Guan Suo mengolesi obat gosok pada lengan kirinya yang memar karena guncangan dari perisai. "Aku tidak pernah berharap apapun."

"Aku juga, daripada menghabiskan tenaga dan pikiran untuk berharap, aku lebih suka melakukan sesuatu." Jendral Guan menyesap teh hangatnya sedikit. Pada saat dia meletakkannya kembali, Jendral Guan mengulurkan tangannya, "coba lihat perisai itu."

Guan Suo menyerahkan benda itu, sudah penyok dan berlubang akibat perkelahian kemarin yang berlangsung semalam suntuk. Saat Jendral Guan memandanginya, dia tersenyum kagum. Ia tampak bangga pada buah tangan yang tidak dia ciptakan sendiri.

"Dengarkan aku, Suo. Aku akan berbagi pengetahuan tentang apa itu perisai yang baik."

Untuk pertama kalinya Guan Suo melihat rupa paman Zhang Fei, sekalipun dari kejauhan. Tubuhnya besar dengan otot lengan kekar dan mata bulat yang tak kenal takut. Bila berbicara suaranya keras ke mana-mana, dia terdengar sangat galak seakan ada harimau yang sedang berkata-kata. Guan Suo pun berpikir, Zhang Xing Cai pasti sangat mirip dengan ibunya.

Sekali lagi Jendral Guan muncul di bengkel tempa. Pada saat itu adalah hari libur, kebanyakan pekerja sedang beristirahat dan turun ke kota. Hanya ada Guan Suo di sana, sibuk dengan perisai ke lima. Berharap kali ini tidak rusak seperti empat sebelumnya.

"Begitu sibuknya engkau sehingga tidak mau menemui pamanmu?"

"Namaku tidak ada dalam silsilah keluarga, aku bukan anak siapa-siapa. Aku tidak punya paman," jawab Guan Suo sambil merendam lempengan perisai ke dalam tumpukan arang yang menyala. Bunga-bunga api berpendar dan beberapa mendarat di tangannya yang tak terlindungi.

"Kemana sarung tanganmu?"

"Aku lebih suka begini. Aku cinta api." Pemuda itu memandangi api yang membara di dalam tungku, api menari-nari dalam bola matanya. Wajahnya terlihat sangat hidup ketika sedang menonton lidah-lidah api itu menari.

"Mungkin kamu akan punya banyak anak kelak, dan mungkin juga anak-anakmu akan ada di mana-mana. Tapi sekalipun mereka tidak ada dalam silsilah dari garisku, langit pun tak bisa ingkar bahwa kau adalah darah dagingku."

"Kenapa aku lahir?" tanya Guan Suo secara tiba-tiba. Suara palu menghantam perisai menyala telah berhenti. "Kau sudah punya Guan Xing. Kenapa masih harus ada aku?"

"Dapatkah kau tahu kenapa masih turun hujan? Padahal sudah ada sungai dan danau, kenapa hujan masih saja turun?" jawab Guan Yu, "aku tidak bisa menolak berkah dari langit."

Jendral Guan meninggalkan dapur tempa, kembali ke ruang tamu dimana Zhang Fei dan putrinya menanti dengan barang-barang mereka yang sudah terkemas rapi. Mungkin di antara mereka yang paling kecewa adalah Zhang Xing Cai. Di mulut dia berkata, "ya sudah kalau dia terlalu sibuk. Dia sangat ingin menciptakan senjata paling hebat di dunia, aku harap cita-citanya itu tercapai."

Namun mendengar ucapan itu, ayahnya terlihat sedikit terganggu. "Pamannya datang jauh-jauh dari Sichuan, dan dia sama sekali tidak muncul hanya untuk memberi salam memperkenalkan diri. Kakak, kalau dia tidak kau ajari sopan santun sekarang, aku jadi mencemaskan masa depannya."

"Guan Suo sangat menyayangi putrimu, tidak mungkin dia tidak memandang ayahnya. Nanti bila pekerjaannya sudah selesai, kusuruh dia berkunjung ke tempat kalian untuk memperkenalkan diri. Bagaimana, Xing Cai?" tanya Guan Yu.

"Tidak perlu repot. Kita masih bisa bertemu lagi," Xing Cai tersenyum, memeluk kipas bulat bermotif burung hong di pangkuannya.

"Ya, kalian pasti akan bertemu lagi. Aku melihat Suo dan Xing Cai sangat dekat dan kalau sudah bergurau tidak ada yang paham apa yang sedang mereka bicarakan. Kadang aku merasa lucu melihat kalian berdua. Jodoh sedekat itu tidak mungkin akan berpisah selamanya," jawab Guan Xing tanpa menyadari bahwa ucapannya itu adalah ucapan yang benar-benar harus dihindari, terutama di hadapan Zhang Fei.

"Ayo pulang!" Zhang Fei bangkit dari tempat duduknya, terdengar seperti hendak mengajak seseorang berkelahi. Sebenarnya alasan dia datang sendiri menjemput putrinya adalah untuk melihat seperti apa anak ilegal yang berani kurang ajar mendekati putri kesayangannya itu. Tapi sepertinya bocah itu terlalu penakut untuk menampakkan diri di hadapannya, satu minggu dia berdiam menunggu di Jingzhou, tak sedikitpun terlihat batang hidungnya.

Guan Ping dan Guan Xing membantu membawakan barang-barang Xing Cai ke dalam kereta, menyuruh para pelayan yang hendak melakukannya itu minggir. Mereka berdua senang melakukan sesuatu demi keluarga. Ketika berpamitan, Xing Cai membungkuk dalam-dalam dan menangis sambil berterima kasih.

Sais memecut kuda, kereta bergerak meninggalkan istana. Dulu saat dia datang ke Jingzhou, Xing Cai merasa dirinya dibuang oleh keluarganya. Anak yang tidak diinginkan. Tapi kini saat meninggalkan Jingzhou, dia kembali merasa ada serpihan hatinya yang tertinggal, menyisakan kehampaan. Dia tahu dirinya akan merindukan istana Jingzhou, merindukan amarah Paman Guan, merindukan latihan pagi bersama Ping dan Xing, merindukan dayang jahil bernama Xiao Er, dan segalanya tentang Guan Suo.

Warga kota menepi untuk memberi jalan kereta Zhang Fei melewati jalan besar dan keluar dari pintu gerbang barat. Saat pintu gerbang Jingzhou yang megah itu terlihat kian menjauh, Zhang Xing Cai tidak sanggup lagi menahan air matanya.

Sehelai sapu tangan putih sutra diberikan oleh Zhang Fei, "hapuslah air matamu itu, anakku. Aku tahu, berat rasanya berpisah dengan orang-orang yang kita cintai. Tujuh tahun hidup di sana pasti telah membuat hubunganmu dengan mereka erat, tapi kau harus pulang sekarang."

"Aku tahu, ayah."

"Jingzhou bukan lagi tempat yang aman. Kau pasti sudah dengar, Kaisar Zhaolie memerintahkan Guan Yu untuk menyerang Xiang Yang. Pertempuran besar akan segera terjadi di sana."

"Sebenarnya, aku tidak keberatan tinggal dan berperang bersama mereka."

Zhang Fei menatap anaknya dan berkata dengan tegas, "tidak bisa, anakku! Ada tugas lain yang menantimu di Chengdu."

"Apa gunanya menjadi panglima perang di tempat yang damai? Chengdu merupakan pusat kota dan seorang panglima perang harusnya berada di garis perbatasan, ayah. Aku anak Zhang Fei, si jendral hebat yang bertarung tanpa takut di medan perang! Aku lebih dari sekadar penjaga ibukota." Kata Zhang Xing Cai.

Zhang Fei memegang kedua bahu putrinya, "anakku. Kamu akan menikah. Dengan seorang calon kaisar. Kelahiranmu telah dipersiapkan untuk menjadi pemimpin dari negeri ini dan mempertahankan kejayaan Dinasti Han!"

Kata-kata itu bagaikan air danau yang membanjiri sekujur tubuh Zhang Xing Cai di musim dingin yang beku. Untuk beberapa saat, Zhang Xing Cai merasakan dunianya tenggelam, dan dia tidak mengenali lagi apa yang ada di sekelilingnya.

Dia sampai tidak mempercayai telinganya saat mendengar kembali suara itu, bila ayahnya tidak bergidik dan melongok keluar kereta kuda untuk melihat siapa yang berteriak-teriak memanggil nama anaknya. Dia menyingkap tirai. Dari kejauhan terlihat seorang anak muda memacu kudanya sekencang-kencangnya. Usianya mungkin hanya enam belas tahun, dan Zhang Fei yakin belum pernah bertemu dengannya. Namun segala yang dia lihat dari anak itu mengingatkannya kembali jauh di masa muda. Pada seorang buronan dari Hebei yang waktu itu masuk ke kedai, memesan arak karena akan bergabung dalam kesatuan tentara untuk menumpas pemberontakan turban kuning. Guan Yu muda dalam pelarian kembali hidup dalam kenangannya. Kulit pemuda itu merah kehitaman, matanya yang menyerupai burung phoenix, perawakannya yang tinggi besar. Dan rambut setinggi rumput yang tumbuh dikepalanya, memberitahu Zhang Fei bahwa pemuda ini pastilah anak haram kakak keduanya.

"Zhang Xing Cai! Keluar kau! Aku tahu kau mendengarku!" seru pemuda itu, suaranya terbawa angin sampai ke dalam kereta. Di punggungnya tergantung sesuatu yang berwarna perak.

Mau dibentak, tidak enak rasanya karena itu anak kakaknya. Tapi kalau dibiarkan, dirinya sendiri merasa dongkol karena anak ini hampir saja membuatnya gagal menjadi besan kaisar. Zhang Fei memandang putrinya, gadis itu menatapnya lekat. Seperti sedang menunggu izin darinya.

"Jendral Zhang! Sepertinya ada yang mengejar kita. Haruskah kuhentikan kereta?" tanya sais dari kursinya.

"Tidak usah. Berhenti hanya akan memperlambat waktu. Kita harus bergegas ke Chengdu, Kaisar sudah menunggu." Kemudian Zhang Fei berkata pada putrinya dengan berat hati, "temui dia."

Kereta kuda masih bergerak, Zhang Xing Cai bergegas keluar dari balik tirai dan melihat sahabatnya yang belakangan ini terlalu sibuk di dapur tempa.

"Zhang Xing Cai! Kenapa tidak menungguku? Pesananmu baru saja jadi!" seru pemuda itu.

"Tidak perlu, itu hanya puisi buruk yang tenggelam di danau," jawab Zhang Xing Cai.

"Omong kosong! Jangan mempermainkan aku. Kau sudah pesan, kau harus terima!"

"Kamu bodoh! Kenapa tidak menunggu besok-besok saja datang ke tempatku? Kenapa harus mengejar?" seru Zhang Xing Cai.

"Aku akan ikut ayah! Aku ikut ayah menyerang Xiang Yang, ... seperti sumpah kita! Tidak tahu kapan akan sempat memberimu perisai ini!" Guan Suo menarik perisai yang tergantung di punggungnya itu. Dia mendesain perisai itu agar cukup ringan untuk diayunkan sebagai senjata, namun cukup kuat untuk mempertahankan diri dari serangan senjata.

Mereka cukup dekat agar Guan Suo bisa menyerahkan perisai itu dengan Zhang Xing Cai menerimanya dalam kereta kuda yang sedang melaju. Namun berhubung Zhang Fei merasak muak mendengar percakapan kedua remaja itu, dia menyuruh kusirnya untuk memacu kereta lebih cepat lagi.

Zhang Xing Cai hampir saja terjatuh dari kereta karena kecepatan yang naik secara mendadak. Kuda yang ditunggangi Guan Suo tergelincir, menerbangkan debu-debu kering ke udara. Dia sudah sangat lelah berlari. Guan Suo meninggalkan kuda itu dan berlari sekuatnya mengejar kereta.

"Zhang Xing Cai!" panggilnya sambil berlari sekencang yang dia bisa.

Entah kenapa Xing Cai merasa lucu melihat sahabatnya terlalu emosional seperti itu, wajah merahnya terlihat semakin merah. Akhirnya gadis itu malah meledek sahabatnya sambil tertawa, "ayo Suo, kau bisa! Kau pasti bisa mengejar kereta ini! Kau terlihat menyedihkan! Payah! Ayo cepat!"

"Kurang ajar! Aku susah payah begini, kau malah menertawakan aku?" Guan Suo melempar perisai itu kuat-kuat. "Tangkaapp!"

Lempengan perak itu melayang di udara, mendarat tepat di tangan Zhang Xing Cai dalam kereta kuda. "Sudah, pulang sana!" seru Zhang Xing Cai.

Melihat hasil jerih payahnya itu telah sampai dengan selamat di tangan yang berhak, Guan Suo berhenti berlari dan tersenyum puas.

Dengan senyum terkembang di wajahnya, Zhang Xing Cai kembali duduk dalam kereta kudanya, meraba perisai barunya. Ada motif burung hong sedang mengembangkan sayapnya dengan anggun, dikelilingi api yang membara. Zhang Xing Cai mengetuknya, sangat padat.

"Kelihatannya dia serius sekali," ujar Zhang Fei dengan wajah kecut.

Zhang Xing Cai hanya memberi respon dengan tawa ringan, kemudian dia membalikkan perisai itu untuk melihat bagian dalamnya. Selain pegangan untuk tangan, ada rangkaian kata-kata yang diukir di sana.

"Demi kampung halaman."

Zhang Xing Cai meraba tulisan itu dan tersenyum. Teringat kembali sumpah yang mereka ucapkan bersama saat mereka mengikrarkan sumpah untuk bersaudara sampai mati—seperti ayah mereka dulu—di tepi kolam bebek.

Mereka merasa seperti dua anak yang dibuang keluarga. Sendirian di istana megah yang rasanya bukan milik mereka. Satu hal yang sama-sama mereka rasakan; tak ada tempat untuk disebut rumah. Mereka butuh tempat untuk disebut rumah, dan mereka menciptakan rumah mereka sendiri.

Guan Suo mencuri seguci arak kecil, rasanya salah sekali saat meminumnya. Mereka masih remaja, katanya belum cukup umur untuk mencicipi minuman ternikmat di dunia itu. Tapi seperti biasa, bersama Guan Suo rasanya sangat menyenangkan.

"Walau kita lahir di waktu dan tempat yang berbeda, namun kita dipersatukan di kampung halaman yang sama; medan perang."