Gintama © Sorachi Hideaki
.
Partner in Crime
.
.
.
"Jadi sudah diputuskan, kalian berdua yang akan mengikuti lomba cerdas cermat lusa."
"Tu—tunggu dulu, Ginpachi-sensei..."
Gajah yang Mati Meninggalkan Gading, Gajah yang Masuk Kulkas Meninggalkan Tanda Tanya
"Ada apa lagi, Kagura?" Ginpachi-sensei menatap malas gadis bercepol dua plus kacamata minus tebal itu sambil dalam hati bertanya-tanya kenapa di universe ini nama gadis itu tidak diganti menjadi 'Kaguhachi'* juga.
"Aku tidak mau ikut lomba, apalagi harus berpasangan dengan Baka-Sadist itu! Bisa-bisa kebodohannya akan menular padaku."
"Kebodohan tidak menular, China. Lagipula kau sudah bodoh dari sananya."
"Kau yang bodoh. Kalau aku tidak membocorkan soal yang ujian yang kulihat di ruang guru padamu demi selusin roti melon, kau tidak akan mendapat nilai seratus, Baka!"
"..."
"...!"
"Lho, jadi kalian?!"
Sougo semakin yakin, mau kacamatanya setebal kacamata kuda pun, otak Kagura memang tidak bisa berfungsi dengan benar.
Sekarang giliran Ginpachi yang garuk-garuk kepala kebingungan. Masa' dia harus melakukan ujian ulang. Ujian ulangnya sih, rapopo, tapi buat ulang soalnya itu lho...
"Sensei, ujiannya tak perlu diulang, kok. Aku ikhlas Kagura-chan dan Okita yang ikut lomba," Shinpachi berujar melihat wali kelasnya yang kelihatan seperti belum dikasih makan manisan seharian.
Yang lain (selain Kagura dan Sougo, tentunya) mengangguk-angguk tanda setuju. Sebenarnya mereka merasa ujian tadi memang tidak adil, tetapi ikut lomba itu malasnya minta ampun, jadi mereka semua oke-oke saja dengan keputusan itu.
"Serius?" Ginpachi-sensei meminta konfirmasi sekali lagi.
Sebelum Shinpachi sempat menjawab pertanyaan itu, pria berkacamata hitam yang dijuluki Madao mengangkat tangan tinggi seraya bertanya, "ano, Sensei, kira-kira kalau ikut lomba bisa dapat uang, tidak?"
"Tentu saja bisa kalau menang."
"HEEEEEEEEEEEE!"
Kalau dapet uang, sih, jangankan murid-murid kelas 3-Z, penulis fanfict ini juga mau!
"Se—Sensei, sebagai Ketua Komite Kedisiplinan Shinsengumi, saya Kondo Isao menyatakan bahwa ujian yang sebelumnya tidak valid karena ada tindak kecurangan," memang uang bisa mengubah apa saja.
"Dan saya, Hijikata Toshirou sebagai Wakil Ketua Komite Kedisiplinan Shinsengumi meminta dua nilai tertinggi yang didapat karena kecurangan itu didiskualifikasi, serta pelaku tindak kecurangannya harus melakukan seppuku!"
IYA KALI SEPPUKU.
"Maaf saja Hijikata-san, aku tidak akan melakukan seppuku sebelum berhasil membuatmu melakukan seppuku. Lagipula yang melihat soal itu kan si China. Harusnya nilai dia saja yang didiskualifikasi, jadi aku ikut lomba sendiri, semua senang."
ENGGAK GITU.
"Kau juga melihat soal itu secara tidak langsung, Sougo. Nilai kalian tetap harus didiskualifikasi, dan aku yang akan ikut lomba sendiri, semua senang."
ENGGAK GITU JUGA.
"Peraturan lombanya masing-masing sekolah harus mengirimkan perwakilan dua orang," Ginpachi-sensei berkomentar, "kalau begitu yang ikut lomba Hijikata dan Tae."
"Saya keberatan, Sensei!" dua suara terdengar tidak setuju.
"Alasan, Kyuubei?"
"Nilai saya dan Otae-chan sama. Jadi seharusnya saya yang mendampingi dia, bukan Hijikata."
"Kalau kau Kondo? Alasanmu apa?"
"Tak ada, sih, Sensei. Saya cuma tak suka kalau ada laki-laki lain yang mendekati Otae-san selain saya."
HIH. Kira-kira sound effect itulah yang terdengar dari mulut Shimura Tae.
"Siapa juga yang mau pedekate sama gadis begituan."
"Bisa diulang yang barusan, Hi-ji-ka-ta-san?" mata Otae memicing ke arah Hijikata.
Mau dijuluki Wakil Ketua Iblis-pun, Hijikata juga tak berkutik kalau ditatap dengan tatapan membunuh dari wanita berkekuatan di atas rata-rata itu.
"Kalau begitu tetap harus dilakukan ujian ulang, Sensei," Shinpachi berusaha mengembalikan fokus kelas itu ke masalah awal. Benar-benar karakter tsukkomi teladan.
"Sensei malas sekali buat ulang soal ujiannya. Lagipula waktunya tidak cukup," Ginpachi-sensei menghembuskan asap rokoknya sambil berpikir solusi praktis apa yang bisa menjawab kekacauan ini. Kalau dia tidak segera mencari jalan keluarnya, bisa-bisa gajinya dipotong sama alien hijau penyayang satwa aneh yang mengaku-ngaku Kepsek itu.
"Ah, begini saja, Sensei akan memberikan teka teki, yang bisa jawab akan ikut lomba cerdas cermat nanti. Bagaimana?"
"OKE!"
"Ehem, soal pertama: bagaimana caranya memasukkan gajah ke dalam kulkas?"
Seisi kelas sampai tertegun beberapa detik karena tidak menduga soal teka-tekinya ternyata semudah itu.
Zura yang paling pertama sadar dari keterkejutan lalu akhirnya mengangkat tangannya duluan.
"Buka pintu kulkasnya, masukkan gajah, tutup pintu kulkasnya," jawabnya pede.
"Salah. Jawaban yang benar kita tidak bisa memasukkan gajah ke dalam kulkas karena tidak muat. Selain itu melanggar undang-undang perlindungan terhadap satwa liar."
Krik...Krik...
Iya juga sih.
"Ta... Tapi, Ginpachi-sensei..."
"Tak ada tapi-tapian. Soal selanjutnya. Bagaimana caranya memasukkan kirin** (jerapah) ke dalam kulkas?"
Kali ini anak bungsu dari Shimura yang mengangkat tangan.
"Kita tidak bisa memasukkan jerapah ke dalam kulkas karena tidak muat. Selain itu melanggar undang-undang perlindungan terhadap satwa liar," jawabnya (lebih tepatnya, sih, kutipnya).
"Salah! Buka pintu kulkas, masukkan kirin, tutup pintu kulkasnya."
LAH...
"Mana muat, Sensei," Shinpachi bingung sama jalan pikiran guru satu ini.
"Muat, kok. Kemarin Sensei bisa memasukkan dua botol kirin ke dalam kulkas."
Oh. Maksudnya beer bermerk Kirin...
Shinpachi nyaris mematahkan dirinya sendiri.
"Oke, soal ketiga. Raja singa mengadakan konferensi hewan dan semua jenis hewan menghadiri acara tersebut di tengah hutan, tetapi ada hewan yang ternyata tak hadir. Hewan apa itu?"
Sekarang seisi kelas bingung mau jawab apa. Bagaimana tidak? Teka-teki ini harusnya 'kan lanjutan dari teka-teki sebelumnya. Tapi kalau gajah atau jerapah tak masuk kulkas, hewan apakah gerangan yang tidak hadir?
Kali ini Okita Sougo yang mengangkat tangannya.
"Oke, Okita-kun. Apa jawabanmu?"
"Hewan laut, Sensei. Konferensinya 'kan di tengah hutan. Hewan laut mana bisa ikutan."
"TEPAT SEKALI. Akhirnya ada murid yang bisa menjawabnya dengan benar. Yang lain bagaimana, sih? Kalian kurang membaca, makanya kurang berwawasan."
Mau baca buku apa juga biar bisa menjawab soal begituan.
"Oke, soal selanjutnya. Kalian harus menyeberangi sungai yang dipenuhi buaya dengan sebuah perahu. Bagaimana cara kalian menyeberangi sungai itu?"
Nyaris setengah kelas mengangkat tangan karena bisa menebak skenario lanjutan dari teka-teki barusan. Sisanya yang tidak mengangkat tangan sudah terkena trust issue terhadap Sensei berambut ikal itu.
"Hmm... Hasegawa?"
Pria yang dari wajahnya saja sudah terpancar aura kemiskinan menurunkan tangannya dan mulai menjawab, "menyeberang langsung saja. Buayanya kan ikut konferensi di hutan."
"Sebenarnya Sensei mau mengizinkanmu ikut lomba ini karena kelihatannya kau sangat butuh uang. Sayangnya jawabanmu salah karena yang ikut konferensi di hutan hanya perwakilan buaya saja."
Untung tadi tak jadi jawab, batin beberapa anak. Madao sendiri cuma bisa merenungi kesalahannya.
"Ada yang lain?"
"Ano, Sensei..." gadis bercepol dua mengangkat tangannya.
"Ya, Kagura? Apa jawabanmu?"
"Naik perahu seperti biasa. Nanti kalau di tengah sungai buaya mulai mendekat dan hendak menyerang, lempar satu per satu orang yang ikut naik perahu untuk mendistraksi buayanya hingga perahunya berhasil sampai ke seberang."
Jawaban manusia S memang beda.
"Hm, sepertinya bisa," lah Sensei-nya juga ragu ternyata, "oke, jawabanmu benar. Berarti yang akan mewakili sekolah kita untuk ikut lomba cerdas cermat adalah Okita Souichirou dan Kagura."
"Okita Sougo, Sensei..."
Ini sih balik lagi ke awal kondisinya.
"Okita, Kagura, kalian harus belajar bekerja sama dari sekarang. Semoga kalian berhasil menang lusa nanti."
Ginpachi-sensei kemudian berpamitan mengabaikan dua anak yang mulai bergelut karena tak senang dipasangkan.
Shinpachi hanya bisa geleng-geleng kpala sambil bertanya-tanya entah apa yang akan terjadi lusa nanti.
—tbc—
*Kaguhachi: maksudnya perubahan nama karena karakternya berkacamata. Seperti Gintoki yang di sini berkacamata menjadi Ginpachi (pachi atau hachi berarti angka 8, sama seperti bentuk kacamata).
**Kirin: dalam bahasa Jepang berarti jerapah, tetapi bisa berarti juga merk dari minuman di Jepang seperti beer iatau soft drink.
Pojok Reply Review Nonlogin:
Re: Okitalover
Sip, makin dibanyakin chap depan. Makasih karena udah baca ya :3
Re: Missty
Iya, kan ceritanya badboy ehe. Emang mencurigakan xD udah lanjut nih, ya.
Re: Rini desu
Ini udah kejawab, ya, alasannya. Tapi emang pada dasarnya mereka sama2 pinter sih, liat soal sekilas aja bisa jawab semua hehe. Okedeh
Re: simplegirl
Makasih. Udah, ya, :3
A/N:
Oke, saya tau ini sampah banget buat dibilang komedi. Maapkeun ketidakbecusan saya dalam membuat cerita humor T^T
Maap juga karena apdetnya lama x'D
Chapter ini dibuat dua sesi karena saya sempet bingung bikin teka-tekinya. Trus akhirnya saya pake teka-teki jayus yang pernah ditanya sama temen2 (saya enggak bisa jawab sampai akhir teka teki ini btw, payah banget emang hahaha).
Eniwei, momen OkiKagu-nya saya mundurin jadi di chapter 3 biar lebih nyambung plotnya *lah?* Tapi di sini udah mulai keliatan interaksi dari mereka, kan? :3
Last but not least, untuk yang masih setia membaca, terima kasih, ya xD
