AITAKATTA

Disclaimer : Belong to©Massashi Kisshimotto

.

.

.

Uchiha Fugaku dan Itachi memasuki sebuah Apartemen mewah milik Sasuke. Sesuai yang dikatakan Fugaku kemarin akan menemui langsung putra bungsunya yang akhir-akhir ini tidak pulang kerumah.

"Mau apa kalian kesini?". Ucap Sasuke ketus pada kedua orang itu, sementara sang ayah, Fugaku masih tetap memperhatikan Sasuke yang tak menginginkan kehadiran dirinya. Fugaku tetap bersikeras untuk membawa kembali Sasuke kerumahnya dan segera membatalkan pernikahan Sasuke dan Sakura yang sebentar lagi akan dihelat.

"Sebagai keturunan Uchiha kau yang paling mengkhawatirkan Sasuke, coba perhatikan kakakmu dia hampir saja menyaingiku. Kau jangan menambah masalah lagi, cepatlah pulang kerumah". Ucapan ayah dua anak tersebut disusul dengan tatapan tak enak dari Itachi. Menurutnya ia tak pantas mengatakan hal tersebut karena itu membuat Sasuke semakin enggan pulang kerumah mengingat sifat Sasuke yang tempramen.

"Jika ayah bangga pada anak pertamamu kenapa masih saja membutuhkan pecundang macam aku? Ini hidupku jangan ikut campur, dan sekarang juga tinggalkan ruangan ini secepatnya !". Tepat sekali ucapan Fugaku malah menyulut api amarah Sasuke.

"Apa kau lupa posisiku sebagai ayahmu? Aku yang paling berkuasa bahkan saat kau menikah akan membutuhkan aku, Sasuke !". Adu argument antara ayah dan anak kini tak dapat dihindari, terlebih lagi sifat Fugaku yang mudah marah dan tak ingin ambil selalu ambil keputusan tanpa berfikir panjang.

Sasuke sudah merasa muak atas semua ucapan-ucapan ayahnya, ia memutuskan untuk keluar tanpa sepatah katapun. Ia sudah tidak mau mendengar ocehan ayahnya yang hanya membuat dirinya semakin sakit hati.

"Hey Sasuke jangan acuhkan ayahmu !". Sergah Fugaku, ia mencoba menghalangi langkah Sasuke. "Mau kemana kau?".

"Tidak ada urusannya denganmu !". Satu kalimat yang sangat peka ditelinga sang ayah.

"Apa kau akan menemui gadis tak berguna itu lagi, hah ?".

"Ya , si pecundang ini akan menemui gadis tak berguna itu". Sasuke terus melangkah pergi diikuti oleh ayahnya dan Itachi.

"Sudah berapa kali kukatakan kau jangan menemui wanita itu. Ayah sudah memilihkan wanita yang pantas untukmu yang setingkat dengan keluarga kita".

Sasuke menghentikan langkahnya dan membalikan tubuhnya seraya berkata- "Aku hanya mencintai Sakura!"

Ayah dua anak itu semakin geram, sudah tahu Fugaku tidak menyukai Sakura yang notabenenya keturunan orang biasa. Tak ada pilihan lain Fugaku melakukan dengan cara terakhir .

PLAKKK …

"Dasar anak tak berguna !". Sang ayah menampar pipi mulus anak bungsunya itu. Itachi hanya tercengang menyaksikan pemandangan ini, tak disangka ayahnya telah melakukan hal keji.

"Kau berani melawanku Sasuke, kau seharusnya bersyukur dilahirkan dengan keadaan seperti ini. Semua yang kulakukan untukmu, ayah hanya menginginkan yang terbaik dan ayah ingin kau menjadi pewaris selanjutnya setelah kakakmu".

Fugaku menghela nafas panjang setelah berkata demikian, cucuran keringat mengalir deras Sasuke tak bergerak sedikitpun bak patung hanya saja deruan nafas yang berat keluar dari hidungnya. Ia mengepalkan tangannya dan rasanya ia ingin sekali terjun kejurang dan mati saat itu juga.

"Ayah, aku akan menjadi wali dipernikahan Sasuke nanti jika ayah tetap tidak setuju dengan semua keputusan Sasuke. Ayo !". Tangan kekar milik Itachi langsung menarik keluar Sasuke dan meninggalkan ayahnya sendiran.

"Kau begitu menyayangi adikmu, Itachi". Desis Fugaku disaat dua anaknya sudah benar-benar menghilang dari pandangannya.

.

.

.

"Berapa biaya yang kubutuhkan, Sasuke?". Tanya Itachi pada adiknya itu yang sedari tadi masih tetap saja diam. Kini mereka berdua sedang berada didalam mobil milik Itachi, ia tahu saat ini amarah Sasuke belum reda dan ia sangat yakin bahwa Sasuke sangat membenci sosok laki-laki yang menjadi ayahnya itu.

Itachi menghentikan mobilnya sesaat, lalu tatapannya dialihkan ke Sasuke yang ia khawatirkan. "Bilang saja jika kau membutuhkan sesuatu, aku akan membantumu".

"Kenapa kau mau mau menjadi saksi dipernikahanku? Bukankah kau juga sama membenci keluarga Haruno?". Setelah sekian lama Sasuke diam akhirnya dia membuka suaranya, ia yakin bahwa Itachi juga sepihak dengan ayahnya. Namun tanpa ia sangka sang kakak bertindak diluar dugaan, untuk apa Itachi berbicara seperti itu 'apa dia menyetujui hubungan kami' fikir Sasuke.

"Apa kau sudah lupa apa fungsinya seorang kakak, sesama saudara harus saling membantu. Dan yang terpenting kau itu mencintai Sakura". Sasuke hanya tertunduk dalam diam, ucapan pria yang berstatus sebagai kakaknya itu sedikit meringankan hati setidaknya ada salah satu keluarganya yang setuju berhubungan dengan wanita bermarga Haruno.

.

.

.

Uzumaki Karin yang tengah menanti kabar baik dari pimpinannya, Sasori. Wanita bersurai merah itu tak henti-hentinya melontarkan pertanyaan yang serupa membuat sang empunya menjadi merasa terganggu. Apakah dia lupa bahwa Sasori adalah ketua perkumpulan itu?. Ah Karin sampai melupakan hal itu saking semangatnya Sasori akan meluluhkan Sasuke untuknya.

"Sasori-sama, kapan aku mendapatkan Sasuke".

"Sasori-sama, aku sudah tak sabar lagi menunggu".

"Sasori-sama aku berjanji akan melakukan apapun demi Sasuke".

Pria berambut yang serupa dengan Karin hanya memijat keningnya, apakah wanita itu begitu menyukai pria bajingan itu, fikir Sasori.

"Bersabarlah dulu hingga tiba saatnya aku akan memberitahumu". Ujar Sasori mencoba sabar menghadapi wanita cerewet itu.

'Kau akan kembali lagi kepelukanku, Sakura'. Batin Sasori dengan aura yang menggejolak saat menlontarkan nama gadis itu.

.

.

.

Tiba dihari yang sangat penting bagi Sakura dan Sasuke. Mereka akan melangsungkan pernikahan disebuah gereja. Sebuah senyuman terpatri jelas diwajah kedua mempelai tersebut, seperti tak ada beban dan masalah. Mereka lupakan sejenak demi kebahagiaannya, terutama Uchiha Sasuke mengingat perjuangannya yang keras demi menikahi sang wanita pujaannya, Haruno Sakura.

Tanpa didampingi orang tua, yah itu sangat menyayat hati pria raven tersebut. Terkecuali ada seorang pria yang setia menemani dirinya, pria yang sangat penting diacara suci ini. Dialah Uchiha Itachi, kakak kandung Sasuke dan istrinya Hana Inuzuka.

Kedua orang tua Sakura hadir namun seperti tanpa adanya kebahagiaan sedikitpun diwajah tahu senyuman yang mereka ciptakan hanyalah sebuah topeng, mereka bersikap baik didepan kakaknya Sasuke.

"Uchiha Sasuke bersedialah kau menerima Haruno Sakura sebagai istrimu?. Selalu setia dalam ikatan janji suci dipernikahan ini. Menjaga, mencintai dalam suka maupun duka hingga maut memisahkan kalian berdua".

"Haruno Sakura bersedialah kau menerima Uchiha Sasuke sebagai suamimu?. Selalu setia dalam ikatan janji suci dipernikahan ini. Menjaga, mencintai dalam suka maupun duka hingga maut memisahkan kalian berdua".

Sebuah sumpah dan janji suci yang terlontar dari keduanya tanpa keraguan menyatakan kesediaannya. Pernikahan tersebut berlangsung secara khidmat, kedua bola mata saling memandang penuh perasaan yang tak dapat diungkapkan melalui perkataan. Ciuman dari keduanya membuat suasana semakin romantis. Tak terasa tetesan air mata terjatuh bebas dari iris emerland Sakura, sang ibu yang mempunyai ikatan dengan anak memang kuat, ia pun meneteskan air matanya. 'Maafkan ibumu sayang'. Hanya kalimat itulah yang mungkin bisa mengobati separuh rasa sakit dihati sang ibu.

Disini mereka tersenyum, menyambut para tamu yang memberikan ucapan selamat. Ah betapa bahagianya hari itu sampai mereka masih belum menyangka apakah ini sebuah kenyataan atau hanya sebuah ilusi? Hanya cinta yang dapat menyatukan mereka, segala rintangan akan mereka hadapi bahkan seluas samudra pun mereka arungi.

Yah cinta yang dapat mengubah takdir mereka hingga akhirnya dipersatukan disebuah pernikahan yang suci ini.

'Ayah, ibu, anakmu ini sedang berbahagia'

Sasuke tertunduk sejenak kembali teringat kepada orang tuanya yang begitu tega, mereka hanya mementingkan kepentingan sendiri, mereka asyik bergelut dengan masalah duniawi bahkan tak peduli pada anaknya. Ah sudahlah Sasuke ini hari bahagiamu, pergunakanlah secara baik-baik, jangan membuat Sakura bersedih, fikirnya.

"Selamat yah Sasuke-kun, kakak ikut bahagia". Ucap wanita berkuncir coklat tersebut pada adik iparnya, wanita itu tersenyum lebar kala adik iparnya tengah berbahagia, dan akhirnya mereka dapat dipersatukan walau tanpa restu sang ayah.

"Lupakanlah dulu sejenak Sasuke, lihat disampingmu dia adalah istrimu". Bisik wanita itu, Hana kakak iparnya Sasuke.

Sasuke yang mendengar itu terhenyak , yah wanita pink ini telah resmi menjadi istrinya, Sasuke masih belum percaya semua ini. Lalu Hana memberi selamat pada Sakura.

"Halo adik ipar, kau sangat cantik dengan gaun putih ini. Aku harap bayi didalam janinku ini cantik seperti bibinya". Ujar Hana sambil mengelus perutnya yang sedikit buncit.

"Wah kakak sedang hamil, selamat yah aku ikut senang".

"Terimakasih Sakura, aku doakan kau selalu bahagia dengan adiku". Lalu wanita itu pun berjalan menuju suaminya.

.

..

.

Tiga bulan kemudian …

Setelah menikah mereka berbagi kehidupan, canda tawa, kelebihan atau kekurangan, pertengkaran kecil yang mewarnai mahligai rumah tangga mereka. Namun hari itu dimana Sasuke bertingkah tak biasanya. Sakura terheran-heran mentap suaminya itu dengan gelagat yang aneh sejak malam tadi. Apa Suaminya sedang ada masalah dalam pekerjaannya?.

Oh ya Sasuke sudah mulai bekerja sejak ia menikahi Sakura. Ia bekerja sebagai asisten manager diperusahaan Senju Corp yang masih satu kerabat dengan Uchiha Corp.

Sebenarnya Itachi menawari pekerjaan untuk Sasuke menjadi tangan kirinya Itachi di Uchiha Corp. Tapi semuanya ia tolak mentah-mentah mengingat sang ayah juga berda disana, Sasuke masih membenci ayahnya itu. Bahkan sejak ia menikah ayahnya tak pernah menemui Sasuke kecuali ibunya yang tak pernah absen menghubungi Sasuke lewat telepon.

"Sejak malam tadi kau terlihat resah , ada masalah dalam pekerjaanmu?". Sakura melontarkan pertanyaan itu sejak malam tadi namun Sasuke tetap tak menjawab. Ia yakin Suaminya itu sudak tidak berhubungan lagi dengan Suigetsu cs dan sudah meninggalkan kegiatan buruknya itu. Bahkan sedikit demi sedikit orang tua Sakura sudah bisa menerima keberadaan Sasuke.

Tapi apalagi yang masih mengganjal dihati Sasuke hingga ia bertingkah aneh tidak seperti biasanya.

"Kau sudah berjanji tidak lagi menyembunyikan sesuatu dariku. Cepat katakan apa masalahmu?". Sakura mulai mengintrogasi suaminya itu.

Namun Sasuke tetap tak akan mengatakannya. Ia tak ingin kebahagiaan yang hampir sempurna itu kembali terusik, sudah susah payah mereka bina apa masih belum cukupkah penderitaan ini.

"Yah ini menyangkut pekerjaanku ada beberapa masalah disini, dan sepertinya kau tak usah mengkhawatirkan aku, Anata. Apa kau ingat janji saat kita menikah, aku akan menerimamu apa adanya". Sasuke mendaratkan ciumannya diujung kepala Sakura.

"Sakura aku tidak akan meninggalkanmu. Aku janji, sekalipun aku pergi aku akan selalu mencintaimu". Ucapan itu terdengar seperti sebuah peringatan, kenapa Sasuke berkata 'pergi'? memangnya dia akan kemana?. Pikir Sakura.

Sakura mengeratkan pelukannya pada suami tercintanya itu seakan tak ingin ditinggalkan. "Aku lebih mencintaimu". Lalu Sakura menuju dapur untuk menyiapkan sarapan pagi.

Mereka kini tinggal disebuah rumah, bukan lagi diapartemen. Sasuke sudah menyiapkan rumah ini sebelum mereka menikah. Tidak terlalu besar namun interiornya yang cukup mewah dengan sedikit sentuhan gaya Eropa.

.

.

"Habiskan sarapanmu susah payah aku membuatnya". Ucap sang istri sambil menyantap sepiring omurice. Namun Sasuke masih belum menyentuh sedikitpun sarapan buatan istrinya, ia tetap fokus pada smartphonenya, bahkan Sasuke sesekali mengerutkan dahinya seperti ada sesuatu yang buruk.

"Sasuke"

"….."

"Sasuke !"

"….."

Tak ada pilihan lain Sakura menggebrak meja makan hingga air minum digelas tumpah bahkan ada gelas yang pecah akibat goncangan yang dihasilkan Sakura.

"Apa kau tak menganggapku Sasuke, kau ini suamiku kenapa tak mendengarkan aku. Jujur aku tak ingin ada keributan seperti ini bahkan aku hampir trauma jika ada masalah terlebih lagi akhir-akhir ini kau selalu tertutup padaku". Sasuke tertunduk saat istrinya marah, ia sadar kesalahan ada pada dirinya. Ia tak menjelaskan masalahnya pada Sakura.

Ia memasukan kembali smartphone kedalam saku bajunya.

"Maaf jika membuatmu khawatir, aku tak ingin kau menjadi beban untukku. Kau tahu tujuan kita menikah untuk mencapai kebahaiaan kan. Jadi janganlah takut aku selalu disisimu, Sakura". Akhirnya Sasuke menyantap omurice buatan Sakura.

"Baiklah aku pergi". Sasuke mencium lembut bibir istrinya sebelum melangkah memasuki mobilnya.

'Rasanya aku tak rela dia pergi bekerja, padahal ini selalu terjadi setiap pagi'. Ucapnya sambil sesekali mengelus perutnya. "Aku akan memberi kejutan untukmu, Sasuke".

.

.

.

Brakkkk !

"Keluar kau Sasori !". Sasuke mendobrak pintu tak berdosa itu dengan kasar lalu mengobrak abrik tempat yang dulunya pernah menjadi pusat kesenangan Sasuke. Sudah lama sejak dirumah tadi ia menahan emosi akhirnya disinilah ia melampiaskan nafsunya.

Tempat itu kembali membuka kenangan dirinya saat menjadi pecandu namun ia sudah mengubur dalam-dalam kenangan pahit itu, Sasuke sudah kembali kejalan yang lurus, berkat siapa lagi kalau bukan Sakura.

Tapi kenapa dia berada ditempat itu, bukankah dia pergi bekerja? Sebenarnya ia tak ingin datang kesana namun ada sedikit masalah dengan pria merah itu.

"Dasar pengecut , keluar kau !". Sasuke sudah seperti orang berdemo, ia teriak-teriak diruangan sepi itu. Alasan Sasuke datang kesini karena Sasori memberinya pesan singkat tempo hari dulu.

'Sasuke , bagaimana malam pertamamu? Ah aku yakin kau tidak merasa puas, atau jangan-jangan kau sudah mengetahuinya sebelum menikah. Sakura itu sangat nikmat sekali, silahkan nikmatilah bekas aku'.

Siapa yang tak marah jika mendapat pesan itu. Ia tahu yang dimaksud Sasori adalah Sakura adalah mantannya bahkan ia masih belum percaya bagaimana bisa Sakura menemukan si merah bajingan itu? pikir Sasuke.

Sakura memang tak pernah cerita soal mantannya karena ia tak mau mengungkit-ungkit masa lalu karena dirinya sudah bahagia bersama Sasuke.

"Aku tahu kau bersembunyi disini". Ucap Sasuke entah pada siapa ia bicara. Ia memilih untuk menghubungi Sasori yang sejak tadi pagi terus memberinya pesan singkat.

Nomor yang anda tuju sedang sibuk. Silahka-. Tuut- "Sialan !". Umpat Sasuke.

"Sa-su-kehh … ". Desahan seorang wanita terdengar samar-samar disalah satu ruangan. Suara itu memancing rasa penasaran Sasuke dan ia segera mencari asal suara itu.

"Karin apa itu kau?". Sasuke sudah mengetahui suara perempuan itu adalah Karin.

Sasuke membuka pintu kamar dan nampaklah sesosok wanita merah dengan setengah telanjang. Dengan spontan ia kembali keluar dan memalingkan wajahnya namun Karin berhasil menahannya.

"Kau mau kemana, sayang. Aku tahu masalahmu kau pasti sangat kecewa pada istri barumu kan. Aku bersedia menjadi istri mu bahkan belum tersentuh sedikitpun oleh laki-laki lain". Jadi ini maksud Sasori, ia sengaja memberi tahu Sasuke soal Sakura setelah menikah.

Flashback:

"Sasori-sama kapan aku bisa mendapatkan Sasuke?". Ucap Karin menggelayut manja dilengan kekar milik Sasori, wanita itu bertingkah baik jika ada maunya.

"Apa kau bisa sabar sebentar Karin"

"Aku sudah tak sabar lagi".

"Tunggu hingga Sasuke dan Sakura menikah". Karin melepaskan pegangannya dan ia membelakan bola matanya. Masa iya Karin harus menunggu Sasuke duda?.

"Aku tak rela dia menikah".

"Aku juga sama tak rela Sakura menikah. Aku begitu senang mendengar kau menyukai Sasuke kita sekarang berada diposisi yang sama. Ketahuilah Sakura itu adalah mantan kekasihku". Sasori mendekatkan tubuhnya pada Karin dan merangkul wanita berkacamata itu.

"Bersabarlah aku sudah menyiapkan skenarionya lalu setelah itu kau mulai beraksi".

"Ahh aku mengerti sekarang, kau sudah bermain-main dengan gadis pinky itu ya. Baiklah aku serahkan semuanya padamu". Mereka berdua menyeringai jahat dan segera menyusun rencana buruknya.

Flashback End .

"Apa maksud semua ini? dimana Sasori?". Sasuke mengguncang-guncang tubuh wanita itu tapi wanita itu malah membalas sentuhan Sasuke. Ia segera menepis tangan Karin.

"Apa yang yang akan kau lakukan, dimana Sasori aku tahu dia sedang bersama kau".

"Kenapa kau malah menanyakan dia, Sasori tidak ada disini hanya kita berdua". Sial wanita ini semakin diluar kendali, jika ada orang yang melihat bisa gawat, pikir Sasuke. Tentu saja ditambah ruangan itu dihiasi beberapa botol minuman yang bertengger indah di meja dan lemari juga bau alcohol yang menyengat.

"Kau sedang mabuk". Sasuke menjauhkan Karin kelantai, tapi tak ada tanda-tanda mabuk yang tergambar diwajah ayu nya.

"Aku tak mabuk Sasuke-kun. Lihat aku sekarang apa kau tidak tertarik padaku, dan kenapa kau memilih Sakura yang sudah disetubuhi oleh Sasori?". Ujar Karin dengan posisinya yang masih tertungkup akibat dorongan Sasuke.

"Jangan katakan itu lagi, aku tak segan membunuhmu". Ah ya api kemarahan Sasuke tak dapat dihindari, rasanya ingin sekali Sasuke mencabik-cabik orang yang berambut merah.

"Sodara Sasuke angkat tanganmu !". Suara seorang pria ah bukan seorang tapi beberapa pria berseragam kini tengah mengerumuni Sasuke bahkan ada yang menodongkan pistol kearahnya. Mereka polisi !

"Tunggu ada apa ini, biar kujelaskan semuanya aku tak bermaksud membunuh wanita ini". Ahh shitt kenapa bilang membunuh Sasuke hanya menggertak Karin saja, ini malah membuat masalah baru.

"Anda terlibat dalam pengedaran narkoba dan sekarang ditambah membunuh wanita yang sudah diperkosa. Ini adalah kejahatan beruntun, cepat tangkap dia". Ucapan itu bagai ditusuk seribu pisau lalu terjatuh kedalam jurang, Sasuke terbelalak kaget mendengar itu. Bahkan dia sudah berhenti menjadi pengedar. Mimpi apa dia semalam, berawal dari pesan singkat lalu berujung dengan penangkapan.

Kita beri nilai 100 buat Sasori. Dia adalah dalang dibalik semua ini, rencana jahatnya berjalan sesuai rencana. Tapi tidak dengan Karin , dia yang meyaksikan itu merasa tak terima Sasuke ditangkap polisi padahal ini diluar rencana Karin. Ia hanya ingin mendapatkan sasuke saja.

"Biar kujelaskan semuanya, aku tidak menyentuh wanita itu sedikitpun". Sasuke mulai berontak.

"Jelaskan semuanya pada hakim nanti. Cepat ikut kami ke kantor polisi". Polisi-polisi itu tengah memborgol kedua tangan Sasuke.

"Jangan tangkap Sasuke-kun, dia tidak bersalah". Cegah Karin menghampiri orang-orang itu. Ia melilitkan beberapa kain untuk menutupi setengah badannya. Itu merupakan bukti yang kuat, salah Karin sendiri berpenampilan seperti itu. Padahal Sasori tidak menyuruhnya.

"Aku tahu ini semua sudah direncanakan kalian berdua, jelaskan semuanya KARIN !". Teriak Sasuke bahkan ia sempat memohon pada Karin.

Sasuke terus berontak saat para polisi menahannya.

"Sungguh aku tidak melakukan apapun Sasuke, aku tak mungkin melaporkanmu kepolisi".

Karin yang terus berusaha mencegah Sasuke pergi namun nihil para polisi sudah menggusur Sasuke.

Sebagian dari polisi sudah memasang police line di tempat itu.

"SASORIIII AKU TAK AKAN MELUPAKANNYA…".

Teriakan Sasuke perlahan menghilang saat mobil polisi menjauh dari tempat itu.

.

.

Tap … tap … tap …

Suara langkah kaki itu mendekati Karin yang tengah menangis tersedu-sedu akan kepergian Sasuke.

Jduaakkk ….. ! Karin membogem muka tampan Sasori saat ia menghampiri.

"Dasar bajingan !". Deruan nafas yang keluar dari mulut Karin menandakan tingkat kemarahannya yang sudah diambang batas. Namun Sasori tak menunjakan ekpresi marah atau kesal bahkan ia malah tersenyum. Cihh senyuman itu.

"Kenapa kau menghajarku, bukankah dia sudah masuk jebakanmu?". Sasori menyeringai pada Karin dan mengelus-ngelus pipinya bekas hantaman.

"Kau bilang dia akan bertekuk lutut padaku tapi kenapa kau memanggil polisi? Aku tak meminta dia dipenjara aku hanya ingin Sasuke menjadi kekasihku".

"Bukankah dia barusan bertekuk lutut dihadapanmu?".

JLEB …

Yang dimaksud Sasori bertekuk lutut adalah memohon penjelasan pada Karin. Ya dia memang bertekuk lutut tapi bukan itu yang dimaksud Karin. Sasori tampak tenang-tenang saja bahkan ia sempat-sempatnya mengeluarkan sebatak rokok lalu menghisap nya.

'Hoooss ..' . Lagi-lagi ia menghebuskan asap rokok kemuka Karin sama seperti yang ia lakukan pada Sasuke dulu.

"Dasar licik , kau pembohong !". Tunjuk Karin serta tatapan intimadasi pada pria merah itu, tapi Sasori tetap stay cool.

"Pembohong katamu? Aku tak pernah berbohong, Sasuke sudah bertekuk lutut padamu kan".

"Tapi yang kumaksud adalah Sasuke menjadi kekasihku".

"Aku tak bilang dia menjadi kekasihmu. Jadi dimana letak kesalahanku, coba jelaskan Karin. Dan aku berterimakasih padamu kau memang umpan yang bagus". Sasori melangkah mendekati Karin dan mencium sisi bibir wanita cantik itu. Karin tak tinggal diam ia memukul dada pria merah itu.

"Akan kulaporkan kau kepolisi".

"Silahkan , kau tak punya bukti apa-apa kecuali kau yang kulaporkan tentang apa yang kau lakukan bersama Hidan". Wajah Karin kembali menjadi pucat saat Sasori berkata demikan. Ya kelakuan mereka dengan saat menkosumsi barang haram dipotret oleh Sasori. Bahkan foto itu ada dalam genggamannya.

'Sialan pria ini sangat pintar memeras'. Umpat Karin.

.

.

.

To be continue

Haduh kenapa jadi seperti ini ya. Maaf banget kalo gaje, masih banyak kurangnya ya. Updatenya juga telat. Banyak typo disana sini. Mohon saran di review ya, dan Mei harap ada yang Review di chapter ini. Satu kali lagi Mei minta maaf ya dichapter 3 sangat pendek. makannya dichapter ini dipanjangin, hehe.

Sasori kun disini dibuat selicik mungkin. Oh iya Mei kasih tahu Sasori sama Sakura melakukan hubungan 'ahem' cuma sekali sih jadi gak mungkin hamil kan, hehehe. Nanti juga dijelasin dichapter selanjutnya kenapa dulu mereka putus.

Chapter 5 masih Flashback dimana Sakura dipindahkan ke Konoha oleh ayah Sasuke, kota yang sangat jauh dari tempat tinggalnya dulu.

Makasih udah baca, kotak Review udah nunggu diklik noh. Dan yang udah review silahkan review lagi #Muehehehe

Salam cinta dari Mei no kawai :*