'Angin berhembus begitu dingin hingga menusuk tulang rusukku, tidak … itu tidak seberapa jika mengingat apa yang ku alami saat ini. Manusia memang tak luput dari masalah, bahkan hingga detik ini pun masalah terus menghampiri kecuali jika aku mati dan tenang dialam sana'.

.

.

Aitakatta

Disclaimer : Belong to ©Massashi Kishimotto

.

.

.

DLDR

Happy Reading


Semakin lama mata sakura semakin memerah , karena air mata yang terus berjatuhan kala mengingat suami yang kini sedang didera masalah yang begitu berat. Perempuan berambut coklat itu terus mengusap air mata Sakura, hatinya begitu pilu kenapa adik tersayangnya itu terus mendapat cobaan yang begitu besar.

Rumah tangga yang mereka bina baru terjalin tiga bulan, waktu sesingkat itukah mereka merasa bahagia?. Perempuan cantik itu merangkul pundak Sakura sebagai sandarannya, ia semakin tersedu-sedu. Yah, sesama perempuan memang saling mengerti satu sama lain terlebih lagi Hana begitu menyayangi Sakura selayaknya adik kandung sendiri.

"Aku tak ingin melihatmu bersedih Sakura, kakak juga tak percaya kalau Sasuke ditahan ".

"Apa ini hukuman akibat tak mendapat restu orang tua, semuanya memang tak adil aku hanya ingin kebahagiaan itu saja". Ia berusaha berbicara ditengah tangisannya , Hana yang mendengar itu semakin mengeratkan pelukannya.

"Aku memang tak seberuntung kakak, orang tua Sasuke sangat setuju dengan kakak menikah dengan kak Itachi. Tak ada yang dibanggakan dari seorang wanita biasa macam aku. Kakak itu seorang dokter cantik, kaya raya maka tak heran jika mereka menyukai kakak". Lanjut Sakura.

"Kau jangan berbicara seperti itu, jika kau berfikiran demikan kenapa Sasuke mau menikahimu hingga ia rela dipenjara, itu adalah bukti kalau dia mencintaimu apa dengan seiringnya berjalan waktu mereka akan segera menerimamu". Hana berusaha membujuk Sakura supaya ia tidak tenggelam dalam kesedihan.

Sakura melepaskan pelukan kakaknya lalu ia beralih menatap kakaknya itu.

"Dimana suamiku dipenjara, kakak bisa beritahu , aku ingin sekali bertemu dengannya". Sakura menyimpan penuh harapan pada Hana , hanya dialah yang selalu ada buat Sakura. Yang selalu mengerti dirinya.

Namun Sakura hanya mendapatkan gelengan kepala disusul dengan raut muka sedih.

"Aku tidak tahu dimana bahkan suamiku tidak bicara padaku soal Sasuke".Ucap Hana menyesal.

"Sakura, suamiku berpesan agar aku selalu menemanimu, jika kau butuh sesuatu kau bisa panggil aku". Hana berusaha membuat wajah untuk meyakinkan Sakura. Lalu ia beranjak pergi dari rumah Sakura. Sebenarnya ia tak ingin meninggalkan Sakura sendirian dirumahnya namun Hana bukanlah orang yang santai. Belum lagi pekerjaannya yang dibilang sibuk dan lagi ia harus menjaga kandungannya.

.

.

.

Terjebak dibalik jeruji bukanlah suatu yang mudah untuk diterima oleh Uchiha Sasuke.

Ia sangat yakin kebenaran berada dipihaknya, dan segera membalaskan perbuatan si rambut merah itu.

Belum lagi sang ibu yang terus menangisi nasib anaknya kenapa keburukan selalu menimpa putra bungsunya itu. Sasuke tahu ibunya memang tidak seperti ayahnya, bahkan ia tak hadir dilapas dimana ia dipenjara.

"Ibu akan selalu mengunjungimu, nak. Bersabarlah dan berdoa semoga kau cepat keluar dari tempat ini". Rintih nyonya Uchiha dengan tatapan yang penuh kesedihan. Sasuke tak mengindahkan perkataan ibunya, ia membalikan tubuhnya dan berkata. "Aku lebih betah tinggal disini karena tak ada bedanya tinggal dirumah". Mendengar ucapan itu Nyonya Mikoto membelalakan kedua bola matanya, apakah ia benar-benar menikmati tempat ini. Ibu dua anak itu menggenggam erat besi-besi yang menghalangi antara mereka.

Itachi merangkul sang ibu lalu memeluknya. "Bu waktu kita sudah habis. Kita harus segera pulang".

Ia pun melepaskan genggamannya dan mengusap air matanya lalu menggandeng anak sulungnya itu.

Sementara itu ..

Tok tok tok …

Sakura mengampiri pintu lalu terbukalah disana nampak seorang laki-laki tengah berdiri tegak dengan menyilangkan kedua tangannya didada. Sakura segera membungkuk dihadapan laki-laki itu.

"A-ayah mertua, silahkan masuk". Sakura menggeserkan tubuhnya memberi ruang kepada tuan Uchiha masuk kerumahnya.

Tanpa membalas ucapan Sakura, ia melangkahkan kakinya masuk kedalam. Ia mengedarkan pandangan keseluruah ruangan.

"Dari mana kau dapat rumah ini?" kata Fugaku tanpa menoleh Sakura.

Sakura sedikit ragu untuk mengatakannya karena rumah ini adalah pemberian suaminya. Saat ini situasinya memang berbeda karena sang pemilik rumah tidak ada walaupun Sakura tetap istri sah nya Sasuke.

"I-itu-".

"Sasuke … Kau tak mempunyai uang sebanyak itu untuk membeli rumah ini. Pantas saja waktu itu ia bilang ingin membeli sesuatu untuk masa depannya".

Sakura tertunduk , detak jantungnya seakan berhenti. Tak disangka ayah mertuanya berkata seperti itu. Ia berusaha menyembunyikan perasaannya dan mengalihkan pembicaraan.

"Ayah mau minum? Aku bawakan jus jeruk . Mohon tunggu sebentar". Sakura pun berjalan kedapur namun Fugaku segera menyela dengan perkataan.

"Tidak usah aku tak akan lama. Ini ambilah". Fugaku menyerahkan sebuah amplop coklat entah apa itu isinya. Sakura langsung mengambil amplop coklat tersebut lalu membukanya.

"Tiket ke Konoha dan sejumlah uang?". Sakura mengerutkan dahinya tanda tak mengerti, apa maksud keinginan ayahnya itu.

"Kemasi barangmu dan tinggalkan Tokyo sekarang juga. Aku sudah memberimu sejumlah uang yang cukup banyak". Ucap Fugaku sambil menatap tajam ke arah Sakura.

"Aku akan memberitahu ibumu kalau kau akan pindah ke Konoha". Lanjut Fugaku.

Sakura menarik nafas sedalam-dalamnya dan masih belum percaya semua ucapan ayahnya. 'Meninggalkan Tokyo? Apa dia berniat menyingkirkan aku, ayah benar-benar memanfaatkan situasi ini'. Batin Sakura

"Tapi bisakah aku menemui Sasuke untuk terakhir kalinya ayah, ada yang ingin aku katakan padanya". Ucap Sakura penuh harap, ia hanya bisa memohon dan bertekuk pada ayah Sasuke.

Tak ada pilihan lain selain menerima permintaan Ayahnya itu. Fugaku bisa saja menyuruh Sakura untuk meninggalkan rumah itu karena uang itu sebagian besar milik Fugaku. Sakura mati-matian menahan hasratnya untuk membalas ucapan-ucapan pedas ayah mertuanya.

"Aku tak lagi mengijinkan kau menemui anakku. Jika ada yang ingin kau katakan pada Sasuke , katakan saja padaku akan kusampaikan". Fugaku benar-benar ingin menjauhkan Sakura dari Sasuke. Ini seolah-olah Sakura yang pergi meninggalkan Sasuke dan mencari kehidupan baru. Ya memang itulah rencana Fugaku dari awal.

"Baiklah jika ayah tak mengijinkan aku bertemu dengan suamiku". Sakura menghela nafasnya dalam-dalam. "Tolong katakan pada Sasuke kalau aku sedang mengandung anaknya". Ucap Sakura mantap ditengah pembicaraan itu.

Fugaku tampak terkejut sesaat dan Sakura dapat melihatnya sekilas. Ia segera memilih untuk keluar dari rumah itu dengan langkah kaki yang dihentakan secara kasar ke lantai. Kemudian ia memutarkan tubuhnya memandang sebentar mata hijau itu.

"Akan kusampaikan". Lalu ia melanjutkan lagi langkahnya dan memasuki mobil merahnya.

Sakura hanya bisa mengusap perutnya yang belum terlihat tanda-tanda kehamilan. "Semoga ayah menyampaikan pesan terakhirku. Sepertinya ayah memang tak akan menerimaku sebagai menantunya dan aku akan pergi ke Konoha menunggu Sasuke pulang kerumah , lalu aku menyambutnya, menyiapkan makan malam, lalu makan bersama anak kita yang tampan, ah tidak maksudku dia cantik. Aku akan menunggumu Sasuke. Maafkan aku kak Hana, Kak Itachi".

Lalu Sakura segera mengemasi barang-barangnya dan pergi ke stasiun menuju Konoha.

.

.

.

Blarrr ...

Karin menutup pintu secara kasar dan menahan pintu itu dengan tubuhnya, kedua tangannya menutupi telinganya tak ingin satu kalimat Sasori terdengar. "Mau apa kau datang kesini, pergi kau !". Teriak Karin.

Pria yang diteriaki Karin tersebut hanya tersenyum simpul, ia tahu kalau Karin masih marah padanya soal Sasuke. Ia mencoba masuk ke apartemen milik Karin dengan menggedor-gedor pintu tak bersalah itu.

"Izinkan aku masuk Karin , jika kau membukanya aku akan menebus kesalahanku. Aku berjanji".

Ceklek .. Pintupun terbuka tapi tak sepenuhnya hanya menampakan bola mata merah milik Karin saja. "Tch ..Akhirnya kau sadar juga". Karin hanya mendecih kesal , kini ia lebih hati-hati pada Sasori dengan kelicikannya. Tapi sepertinya dilihat dari wajahnya yang terlihat menyesal Karin mau membuka kan pintu itu.

"Masuklah, jangan bertindak yang aneh-aneh". Ucap Karin sambil berkacak pinggang. Lalu ia berjalan dan duduk disofa.

Sasori memasuki ruangan yang terbilang cukup luas untuk satu orang. Lalu ia duduk disofa hitam disebelah Karin. "Ya percayalah padaku, hey aku ini senpai-mu bodoh bersikaplah sopan padaku". Lanjut Sasori disusul dengan jitakan pelan dikepala Karin.

"Cepatlah katakan apa mau mu datang kesini, aku tak punya banyak waktu untukmu". Masih dengan ucapan angkuhnya Karin tetap benci melihat wajah memelas Sasori saat ini.

"Aku hanya ingin bertemu denganmu saja". Jawab Sasori santai sambil menaikan sebelah kakinya keatas kaki yang satunya. Karin yang menyaksikan itu hanya berdecih , jika saja dia bukan senpaiku akan kuhajar habis-habisan. Fikir Karin.

"Kenapa kau tak temui MANTAN mu itu". Ucap Karin dengan menekankan kalimat 'mantan' tepat ditelinga Sasori.

"Oh iya aku lupa ..sepertinya aku harus segera pergi menemuinya tapi bagaimana jadinya kalau dia sudah pindah".

"Itu bukan urusanku". Karin menaikan kedua bahunya acuh. "Dan kau kesini hanya ingin bicara ini saja? Sungguh membuang-buang waktu berhargaku. Kau bilang akan menebus kesalahanmu?". Tanya Karin.

Sasori menepuk jidatnya seolah ia melupakan sesuatu. "Oh iya aku lupa, bermainlah sebentar denganku, Karin". Ucap Sasori disusul dengan seringaian nakalnya.

Betapa kagetnya perempuan merah itu saat ini, ia tahu maksud Sasori bermain adalah bersenang-senang dengan dirinya atau melakukan hubungan intim dengannya. Karin menggelengkan kepalanya dengan kasar, ia langsung menolak mentah-mentah permintaan bodoh Sasori yang dianggap sebagai penebus kesalahan.

"Brengsek ! Aku tahu kau datang kesini tidak lain dengan otak kriminalmu itu. Sebaiknya kau pergi dari sini secepatnya atau kuhubungi polisi". Ancam Karin. Sasori hanya terkekeh mendengar ancaman bodohnya.

"Bukankah kau masih mencintai mantanmu itu Sasori?". Lanjut Karin.

"Ya , tapi saat ini dia tidak ada , sebagai gantinya kau harus menemaniku jika aku sedang ingin melakukannya".

"Dasar gila ! Aku tak sudi dijadikan pelampiasan nafsumu !". Sasori menggerakan jarinya sambil berdecak dan menggelengkan kepalanya.

" a a a~ kau mau foto ini kusebar? Dan Sasuke akan membencimu".Ya Sasori punya kartu asnya.

"Sasoriiiiii ... akan kubunuh kau". Karin menggertakan giginya. Ia hanya bisa mengepalkan tangannya , ingin rasanya menghantam wajah memelas itu.

"Jadi ... ku anggap kau menyetujui permintaanku dan hutangku sudah lunas". Ucap Sasori dengan seringaian mesumnya.

~o0o0o~

Kedua mata kelam tersebut tak lepas dari pemandangan kota Tokyo yang padat. Kota itu kembali teringat akan masa lalunya tujuh tahun kebelakang. Pria dua puluh enam tahun itu memejamkan matanya sebentar, mencoba menghilangkan fikiran negative yang selama ini terus menghantuinya. Ya siapa lagi kalau bukan sang istri tercintanya, hingga saat ini masih belum ada kabar sedikitpun. Pria berambut raven ini membuka matanya lagi dan memandang datar pemandangan kota padat itu dari atas gedung Uchiha.

Sasuke tersadar dari lamunannya saat seseorang telah menepuk bahunya lalu ia berbalik. Didapati seorang wanita cantik tidak lain adalah kakak iparnya.

"Kakak?". Ucap Sasuke. Matanya tak lepas dari sosok wanita bersurai coklat itu. Sudah lama ia tak melihat kakak cantiknya itu, ia melepas kerinduannya dengan memeluk sang kakak.

"Kau pulang, adikku". Hana mengeratkan pelukannya hingga ia merasakan sedikit gesekan dibahunya. Sasuke mengangguk.

"Aku sangat merindukan kakak". Sasuke melepaskan pelukannya lalu kembali menatap kakaknya. "Dimana keponakanku?Aku ingin sekali melihatnya". Ucap Sasuke dengan wajah yang dibilang senang. Ya sedikitnya ia terhibur dengan adanya seorang anak kecil.

Hana yang tadinya tersenyum berubah menjadi sebaliknya. Ia melengkungkan bibirnya kebawah.

"Apa kakakmu tidak bilang apapun mengenaiku, Sasuke?". Hana sedikit ragu mengatakannya saat Sasuke menggelengkan kepala. Hana mengatupkan bibirnya tanda ia tak sanggup.

"Apa terjadi sesuatu selama aku tidak ada ?". Sasuke sedikit mengerutkan dahinya. Berharap sesuatu yang buruk tidak terjadi.

Perlahan Hana membuka mulutnya dan mengatakan kalimat menyakitkan itu.

"Dia sudah pergi". Ucap Hana penuh kesedihan.

"Pergi? Maksud kakak dia-". Ia masih mengerutkan dahinya saat Hana akan mengatakan kalimat lagi. "Meninggal?". Sambung Sasuke.

"Tujuh tahun yang lalu aku selalu sibuk dengan pekerjaanku hingga tak memperhatikan diri sendiri hingga-". Hana sedikit memberi jeda saat berbicara. "Aku mengalami keguguran akibat kelelahan. Kalaupun bisa mempunyai anak maka aku harus memilih salah satu antara aku yang hidup atau anaku yang hidup. Tapi suamiku memilih aku yang hidup dan saat itu juga rahimku diangkat dan divonis tidak akan memiliki seorang anak mengingat kondisi ku yang sangat lemah saat itu. Dan aku sangat bersyukur kalau suamiku dapat menerima keadaanku yang seperti ini, dia sangat menyayangi aku dan menerima aku apa adanya".

Hening menyelimuti atmosfer di sekeliling mereka selama beberapa saat. Sasuke masih berdiri disamping kakaknya. Ia hanya bisa membayangkan perasaan kakak perempuannya itu menderita melebihi dirinya. Terlihat jelas dari sorot maatanya yang kelam mengisyaratkan sesuatu yang sulit diungkapkan.

Ia menyesal menanyakan soal ini pada Hana tapi toh Sasuke memang tidak mengetahui kejadian itu. Setidaknya Itachi yang harus mengatakan ini, ahh ya Itachi pasti merasa sangat sedih selama ini.

"Maafkan aku kak, seharusnya aku tidak bertanya soal ini".

"Tidak apa kau juga harus mengetahui soal ini". Hana mencoba mengembalikan situasi sebelumnya saat mereka jumpa. "Oh iya Sasuke, kau terlihat lebih dewasa saat terakhir kali kakak melihatmu". Senyuman manis tercipta diwajah ayu Hana, ya walaupun pembicaraan barusan masih membuat dirinya sedih ia berusaha kuat dihadapan adiknya.

Sasuke pun langsung menanggapi Hana dan segera melupakan pembicaraan barusan. Ia pun tersenyum malu saat dipuji Hana.

Akhirnya mereka memilih mengobrol didalam ruangan kerja milik Itachi dan berpindah ke sofa. Hana mencari posisi senyaman mungkin saat duduk. "Kau akan menemuinya?". Sasuke mendongkakan kepalanya. Menatap penuh selidik kearah mata coklat milik Hana yang langsung tersenyum. Ia langsung merespon pertanyaan Hana, ia yakin Hana pasti mengetahui kabar Sakura sekecil apapun karena itu sangat berharga bagi Sasuke.

"Tentu saja kak. Dimana dia sekarang?".

Hana pun tersenyum penuh kesenangan.

'Sakura, kakak bawakan hadiah besar untukmu'. Batin Hana senang.

.

.

.

Sakura merebahkan tubuhnya diatas kasur. Otaknya kembali mengingat akan sosok laki-laki misterius yang Sarada temui tempo hari lalu.

"Dia bilang permen kapas ini untuk ibu, karena ini sangat manis seperti ibu".

Kepalanya berkedut kala kalimat itu ia ingat. Ia memijat keningnya perlahan , hampir setiap malam ia dihantui bayang-bayang seseorang yang tak ingin lagi Sakura ingat.

Tangan putihnya menjalar kebawah bantal, menelusuri setiap sisi hingga benda itu menyentuh tangannya. Ah foto pernikahan itu lagi, ia tak pernah absen memandangi foto itu setiap malam.

"Sasuke-kun, aku mempunyai firasat buruk saat ini. Apa disana kau baik-baik saja?". Sakura memeluk penuh rasa pada selembar foto itu. Perlahan mata Emerland itu pun menutup dan langsung mengantarnya kealam mimpi.

.

.

Sakura dan Sarada kini sedang berada di meja makan, Sarapan adalah rutinias mereka karena baginya sarapan adalah hal yang penting mengingat dirinya mempunyai penyakit maag namun tidak terlalu parah. Maka dari itu ia tak ingin anak tercintanya itu mengalami hal yang serupa, karena jika tidak ia akan dimarahi suaminya habis-habisan, dan pasti yang akan dikatakan Sasuke nanti 'Kau tak becus urus anak satu, bagaimana kalau dua atau tiga?' Sakura mengkhayal.

Ya membayangkannya saja Sakura sudah begidik ngeri jika Sasuke sudah marah.

"Sarada-chan … Sarada-chan". Teriak seorang anak laki-laki dibalik pintu. Sarada hendak turun dari kursi makannya namun itu ditahan oleh sang ibu.

"Ya Inojn". Teriak Sarada, itu teman sekelasnya Sarada. Mereka selalu berangkat bersama karena rumah mereka memang satu arah menuju sekolah.

"Hey habiskan dulu sarapanmu". Kata Sakura sambil melahap roti bakarnya.

"Sudah kenyang". Sarada langsung berlari dan memakai sepatunya.

Ceklek .. anak itu membuka pintu disana sudah nampak anak laki-laki sedang menunggu Sarada. "Aku berangkat bu, ayo Inojin". Mereka pun berjalan bergandengan dan berlarian layaknya anak TK.

"Namanya Sarada ya". Kedua pasang mata tak lepas dari sosok kedua anak itu. Ia tengah memperhatikan gerak-gerik mereka, ia menyeringai dan mengikuti langkah anak-anak itu.

"Anak itu sudah berapa kali kukatakan untuk mengahabiskan makan. Apa jadinya kalau ayahmu mengetahui ini". Cerocos Sakura entah bicara pada siapa. "Hahhh lupakan, dia memang tidak ada disini". Sakura pun membereskan meja makannya dan segera bersiap untuk pergi bekerja.

.

.

.

Sarada dan Inojin berjalan memasuki gerbang sekolah. Mereka berdua nampak senang, tapi tidak lagi bagi Sarada saat melihat seseorang mendekati mereka berdua.

"Hey kacamata !". Teriak bocah kuning itu, Uzumaki Boruto.

"Ayo Inojin kita harus cepat-cepat masuk kekelas". Sarada mengacuhkan anak kuning itu, mereka berjalan mendahului Boruto. Ia tak sadar kalau Boruto sedang berkacak pinggang dibelakangnya.

"Hey anak belagu !". Langkah Sarada terhenti lalu ia memalikan tubuhnya. Kini ia melihat pemandangan menjijikan dari sana. Boruto mengeluarkan lidahnya sambil menari-nari tidak jelas. Rupanya anak itu senang mengejek Sarada.

"Kau jelekk !". Teriak Sarada. " Kita tinggalkan dia saja Inojin". Tangan itu menarik tangan sahabatnya dan berlari menuju kelas.

.

Sakura memasuki kantornya dan masuk keruang kerja. Sakura adalah wanita pekerja biasa, ia bekerja sebagai operator perusahaan Nara. Menarik sebuah kursi putar dan menyalakan CPU computer lalu ia mulai bergelut dengan pekerjaannya.

Seseorang perempuan duduk disebelah meja kerja Sakura, ia menoleh sedikit kearah sosok perempuan itu. Ia berambut merah dan berkaca mata. Sakura tersenyum dan ia mencoba menyapa wanita itu dan ia membalas senyuman Sakura.

"Karyawan baru?". Tanya Sakura.

"Ya , aku baru pindah dan langsung bekerja disini". Jawab perempuan itu ramah.

"Selamat datang dan selamat bergabung". Sakura menatap perempuan itu lalu kembali lagi ke pekerjaannya.

Sakura sempat melihat sorot mata merahnya yang tersirat penuh makna, entah kenapa wajah perempuan itu jadi teringat anaknya. Sakura menggelengkan kepalanya pelan dan melupakannya.

Tiba-tiba smartphone milik Sakura bergetar tapi Sakura mengabaikannya karena itu hanya pesan singkat, mungkin karena ia masih sibuk berkutat dengan computer. Tapi getaran itu terasa lama menandakan panggilan masuk akhirnya ia merogoh tas kecil miliknya lalu menatap layar handphone itu. Semburat senyum terpancar saat melihat siapa yang menghubunginya.

"Halo kak Hana".

"Sakura apa aku mengganggumu. Kakak membawa kabar baik untukmu". Sakura segera memasang pendengaran baik-baik tak ingin satu kalimatpun terlewat.

"Tidak kak. Kabar baik apa?". Tanya Sakura harap-harap cemas.

"Pergilah ke stasiun kereta Konoha dan jemput suamimu disana". Ucap Hana disebrang sana. Sakura tak mampu menahan perasaannya, senyum lebar diwajahnya merekah hingga tak terasa air mata turun dipipi mulusnya.

"Sasuke". Desah Sakura ditengah pembicaraannya. Ia tak menyadari kalau perempuan disamping Sakura tengah memasang telinga. Diam-diam mendengarkan percakapannya.

"Ya Sasuke akan tiba kira-kira 2 jam lagi. Kakak harap setelah ini kalian bisa bahagia, maaf kakak tidak bisa mengantar Sasuke kesana karena disini sangat sibuk".

"Tidak apa Kak, terimakasih sudah memberitahuku. Sekali lagi terimakasih , aku akan segera ke stasiun Konoha". Lalu sambungan telepon terputus. Sakura tak bisa berhenti menahan rasa bahagia itu. Kini hari itu tiba dimana Sasuke telah kembali tak sia-sia ia menunggu hingga tujuh tahun lamanya.

Sakura segera menyelesaikan pekerjaannya dan segera menemui sang suami. Perempuan itu tek lepas menatap Sakura dari tadi. Ia menyeringai. Namun ia tak menyadari kalau perempuan itu terus memperhatikannya karena Sakura sedang asyik berkutat dengan dunianya. 'Jadi dia yang namanya Sakura'. Desis Karin.

.

.

.

Priiittt …

Suara peluit berbunyi, anak-anak pun belarian memutari lapangan. Ada yang sudah kelelahan, ada yang bersemangat bahkan ada yang tidak ikut berlari.

"Hey Chou-chou kenapa kau berhenti, ini baru satu putaran". Teriak guru itu pada anak gemuk yang sedang berjongkok dengan nafas terengah-engah.

"Tapi sensei ini sangat melelahkan .. hahh .. hahh … padahal aku tidak banyak makan hari ini". Ucap anak itu berjalan mendekati gurunya.

"Hahahaha kalau kau berlari sekali lagi maka lapangan ini akan gempa Chou-chou". Ejek anak itu siapa lagi kalau bukan Boruto. Anak itu memajukan bibirnya sehingga terlihat lucu.

Priiiittt …

Semua anak-anak berhenti dan beristirahat. Sarada terlihat sangat kelelahan, keringatnya terus mengalir dipelipisnya, ia mengusapnya dengan tangan. Bibirnya nampak pucat.

"Kau tak apa Sarada chan?. Tidak seperti biasanya kau kelelahan padahal tubuhmu tidak segemuk Chou-Chou". Tanya Inojin. Sedangkan anak yang disebutkan Inojin barusan tengah menatapnya penuh intimidasi. "Hehehe". Ia menggaruk kepalanya yang tak gatal.

Sarada mengacungkan jempolnya. "Tidak , aku baik-baik saj-". BRUUKK …

"Sara-Chan !". Teriak Inojin panik. Sarada pingsan akibat kelelahan. "Shino sensei Sarada pingsan". Lalu Shino segera membopong Sarada ke ruang UKS.

[At Konoha's Station]

Sakura duduk terdiam disebuah bangku stasiun yang sudah disediakan. Ia menatap seluruh penjuru tempat tersebut tak ingin sosok yang dicarinya telah lolos dari pandangannya. Satu persatu ia terus memperhatikan orang yang lalu-lalang disana terutama pada sosok laki-laki. Ya Sasuke mungkin sekarang sudah merubah penampilannya, mungkin. Fikir Sakura.

Duduknya yang tak bisa diam, ia sedikit gelisah sudah tak sabar lagi menunggu padahal ini sudah lebih dari dua jam. Waktu sudah menunjukan pukul 11 siang, bahkan ia rela izin dari pekerjaannya demi menemui sang suami.

Drrrrtt Drrrrtt …

Smartphone Sakura kembali bergetar, dirinya sangat terkejut disaat situasi seperti ini masih saja ada yang menelpon. Berharap itu panggilan dari suaminya. Sakura merogoh tasnya dan melihat panggilan dari sekolahnya Sarada. Sakura menautkan alisnya bingung, ia langsung menjawab panggilan tersebut.

"Halo".

"Apa ini dengan ibunya Sarada".

"Ya betul".

"Bisa jemput Sarada sekarang, sepertinya dia sakit tadi sempat pingsan".

Wajah Sakura berubah menjadi pucat. Kenapa disaat seperti ini Sarada sakit. Sakura menggigit bibirnya , ia panik. Apa yang harus ia lakukan saat ini, disisi lain Sakura menunggu suaminya tapi Sarada juga membutuhkan dirinya.

Lalu Sakura melanjutkan lagi pembicaraannya.

"Baiklah saya akan segera kesana menjemput anak saya".

Sambungan telepon pun terputus.

Sakura sedikit berfikir , mungkin jika ia menjemput dulu Sarada kesekolah lalu kembali lagi ke stasiun mungkin hanya memakan waktu tiga puluh menit.

Akhirnya ia beranjak dari sana, langkahnya terhenti sejenak dan memalikan tubuhnya. Sekali lagi ia menatap ke arah dimana Kereta datang dan berharap suaminya muncul disana saat itu juga. "Sasuke, cepatlah pulang Sarada sangat merindukanmu". Lirih Sakura, ia kembali lagi melanjutkan perjalanannya dan memasuki mobil.

.

.

Perempuan itu menyeringai dibalik kerumunan orang-orang. Matanya tak lepas dari sosok wanita yang semakin jauh dari sana. Ternyata perempuan itu menguntit Sakura saat dari tempat kerja tadi, keberuntungan memang sedang berpihak pada Karin sehingga ia lebih leluasa berada disana. Dan satu hal Karin masih menyimpan hati pada Sasuke.

"Ibu , kenapa kita kesini?". Ucap anak laki-laki berambut merah tersebut.

Karin merangkul sang anak dan tersenyum lembut padanya.

"Sayang , hari ini ayah pulang. Makannya ibu ajak kamu kesini".

"Benarkah ? aku sangat merindukan ayah". Anak itu tersenyum lebar kala mendengar perkataan ibunya.

"Sebentar lagi ayah akan tiba, persiapkan dirimu Mitsuo". Karin mengacak gemas rambut anak itu.

Karin sudah tak sabar lagi menunggu, matanya tak lepas dari sana.

.

.

Sakura berlari menuju ruang guru dan segera mencari anaknya. Kebetulan dirinya berpapasan dengan wali kelasnya Sarada saat di halaman sekolah.

"Ah Nyonya Haruno, mau menjemput Sarada?". Tanya Shino pada Sakura.

Sakura membungkuk. "Betul, apa dia baik-baik saja? Aku akan membawanya pulang sekarang". Jawab Sakura dengan nafas yang masih tersenggal karena berlarian.

"Sepertinya dia sudah sadar karena ada suami anda yang sudah berada disana".

Sakura menautkan alisnya bingung. Suami katanya?. Tunggu bukankah seharusnya dia berada distasiun. Kenapa dia berada disekolahnya Sarada?'. Batin Sakura. Ia kembali tersenyum pada Shino.

"Ah Syukurlah , dimana dia sekarang?".

"Ada di UKS".

"Terimakasih banyak". Sakura membungkuk dan melanjutkan langkahnya ke ruang UKS. Otaknya terus berputar saat berjalan, bukankah Sasuke tidak mengetahui Sarada sebelumnya. Ia menggelengkan kepalanya pelan dan langkahnya dipercepat.

Sakura sempat berhenti didepan pintu, tangannya gemetar saat hendak memegang gagang pintu. Sakura menghela nafas panjang ia menyiapkan segalanya.

Mata hijau itu tak lepas dari sosok pria yang sedang membelakanginya ia menyipitkan matanya, perasaan antara senang, gugup dan canggung tercampur menjadi satu. Namun apakah benar sosok pria itu adalah suaminya?.

Sepertinya ia sedang berbicara dengan seseorang. Sakura tak dapat mendengarnya , ia melangkah lebih dekat kearah mereka. Rupanya dia sedang berbicara dengan Sarada.

"Sarada apa kau baik-baik saja?". Tanya Sakura. Ucapan Sakura barusan membuyarkan mereka berdua sehingga mereka menoleh kearah Sakura.

"Ibu ?". Orang yang dipanggil ibu itu sedikit terkejut. Dan pria itu membalikan tubuhnya ke arah Sakura.

"Sakura , lama tak jumpa. Aku sangat merindukanmu". Ujar pria itu dengan tatapan penuh kerinduan. Wajah Sakura sempat mengeras saat melihat pria itu tapi yang ditatapnya hanya melempar senyum manis ke arah Sakura.

To Be Continue


Ini dia update juga Chapter 5, gimana menurut kalian?. Oh iya maaf Mei gak paham soal yang keguguran ituloh, ya ampunn jadinya malah ancur banget #nangiss T_T

Pasti chap selanjutnya udah ketebak deh sama readers sekalian.

Oke deh Mei mau bales Review kalian

Guest : ini udah update kok , makasih udah review ya. Chap selanjutnya dibikin nyesek kokoro deh :D

Sukez : Dilanjutt bet dilanjut :D semoga fic ini aku tamatin dan pengen lanjutin fic lainnya

Wedusgembel41 : Maap lama update :( .. tapi aku usahain update kilat kalo banayk waktu . makasih udah review. Kalo mau review lagi juga boleh kok #plaaakk . hehehe

Suket alang alang : yay makasih review nya ya itu membuat aku semangat nulis. Saat itu emang dia lagi panik jadi berabe deh Sasu nya, hehe. Seiring berjalannya chap pasti dia ketemu kok. Iya hehe typo susah ilang #mewekk T_T

Sekali lagi makasih udah review . Semoga dan semoga lagi chap ini menarik minat kalian me-review atau kritik.

Bye ... salam cinta dari Mei no Kawai :*