"Sarada apa kau baik-baik saja?". Tanya Sakura. Ucapan Sakura barusan membuyarkan mereka berdua sehingga mereka menoleh kearah Sakura.
"Ibu ?". Orang yang dipanggil ibu itu sedikit terkejut. Dan pria itu membalikan tubuhnya ke arah Sakura.
"Sakura , lama tak jumpa. Aku sangat merindukanmu". Ujar pria itu dengan tatapan penuh kerinduan. Wajah Sakura sempat mengeras saat melihat pria itu tapi yang ditatapnya hanya melempar senyum manis ke arah Sakura.
.
.
.
Aitakatta
Disclaimer : Belong to ©Massashi Kishimotto
Don't Like Dont Read
Sakura menerjapkan matanya sesaat dan menggeleng cepat, ia mendekatkan diri pada pria yang tengah berdiri tegak dengan raut muka sulit dipercaya.
"S-Sasori ? apa yang kau lakukan disini?". Tanya Sakura tak percaya pada pria itu. Pria yang dikenal Sakura beberapa tahun yang lalu sekarang muncul kembali. Pertemuan yang tak diharapkan olehnya membuat dirinya semakin sulit, apa dia datang disaat yang tepat ataukah sebaliknya?.
Sakura berusaha menutupi semuanya tentu saja sang anak sedang berada dihadapan mereka.
"Apa kau tidak lihat, tentu saja aku menjemput anaku". Jawabnya santai, ia mengusap puncak kepala Sarada penuh kasih sayang. Wajah Sakura mengeras saat itu , berani sekali dia berkata seperti itu.
"Kau jangan meracuni fikiran anaku, sebaiknya kau tinggalkan tempat ini sekarang juga atau-".
Grab …
Perkataan Sakura terhenti saat Sarada memeluk erat tubuh Sasori. Sakura mengerutkan dahinya, ia tak percaya apa yang dilihatnya.
"Bu , akhirnya aku bisa memeluk ayah. Akan ku buktikan pada teman-temanku kalau aku mempunyai seorang ayah". Sarada tersenyum lebar kala ia memeluk Sasori.
Sasori mengangkat bahunya , ia nampak menang saat itu dan tersenyum kearah Sakura.
"Sayang dia itu bukan ayahmu, kau harus percaya sama ibu". Sakura menghampiri mereka berdua dan berusaha melepaskan pelukannya, tapi Sarada tetap tak ingin melepaskan pelukannya.
"Tidak bu, aku sudah menyadarinya saat di Konoha Fair. Laki-laki yang telah membelikan minuman itu adalah dia, ayahku". Sarada menggelengkan kepalanya pada Sakura. "Bukankah begitu, ayah?". Ia memandang penuh harap pada Sasori, dan dia pun mengangguk.
"Jadi kau yang….". Sakura menggantungkan pertanyaannya, menatap lekat-lekat mata hazel tersebut, tangannya terkepal diudara. Mata itu yang pernah membuat hatinya luluh, mata itu yang membuat dirinya merasakan kehangatan.
Sakura menggelengkan kepalanya perlahan dan menghilangkan fikiran konyol itu. Ia membuang nafasnya secara kasar.
"Ayo kita pulang Sarada". Ia menarik tangan mungil milik anaknya. Sasori berusaha mencegahnya namun Sakura berhasil menghindar dari pria itu.
"Ibu kenapa kau melakukan itu pada ayah". Mata onyx itu mulai berkaca-kaca saat memandang jauh laki-laki yang dipanggilnya ayah.
"Jangan sebut lagi ayah pada orang itu, kau mengerti !". Ancam Sakura, kini ia lebih bertindak tegas pada anaknya.
Deruan pesawat heli dan beberapa mobil polisi melintas disekitar jalan itu. Suasana semakin gaduh membuat semua orang terlihat panik ditambah lagi mobil ambulan yang lalu-lalang membuat otak Sakura menyimpan beberapa pertanyaan. Apa yang sedang terjadi? , batin Sakura.
"Bu , aku takut". Anak itu memeluk ibunya saat hendak memasuki mobil. Sakura berusaha menenangkan Sarada, ia memeluk erat anak itu.
"Kau jangan takut sayang, tetaplah disamping ibu". Sakura mulai menghidupkan mobilnya. Sarada mendongkakan kepalanya ke arah kaca mobil, melihat sosok laki-laki yang sedang berdiri digerbang sekolah.
Pria itu melambaikan tangannya, bibirnya terangkat keatas. Sarada tersenyum dan membalas lambaian tangannya.
"Sarada pakai sabuk pengamanmu". Titahnya sambil memegang kemudi. Sarada tertunduk lalu meraih sabuk itu dan melilitkan ketubuhnya.
Jalanan semakin macet. Rencana untuk menemui Sasuke sepertinya akan terlambat. Ia melampiaskan kekesalan dengan memukul dashboard mobil. " Tch, kenapa disaat seperti ini bisa macet" Runtuk Sakura.
Sarada terheran-heran melihat tingkah aneh ibunya membuat dirinya ingin bertanya.
"Kenapa bu? Kita tidak langsung pulang kerumah?". Tanya Sarada.
"Tidak sayang, kau akan tahu sendiri".
Sarada menhentakan punggungnya ke kursi mobil dengan kasar. Lama-lama ia bosan menunggu mobilnya bergerak.
"Sampai kapan kita akan diam disini, lebih baik kita pulang saja. Aku sangat bosan bu". Ia memajukan bibirnya dan anak itu mulai merengek manja pada ibunya. Sakura mengacak rambutnya kesal, tidakkah dia tak tahu saat ini hatinya tengah didera seribu perasaan. Ia mengambil tas lalu memberikan Tab pada Sarada.
"Jangan merengek lagi atau ibu akan menurunkanmu dijalan". Ia memberikan Tab supaya anaknya itu berhenti berbicara.
Jari-jari mungilnya tengah menjelajah Tab tersebut, yah sedikitnya ini lebih baik. Sarada memilih menonton TV.
'Pemirsa, telah terjadi sebuah kecelakaan kereta yang menyebabkan banyak korban. Kereta jurusan Tokyo-Konoha mengalami -".
Klik' . Sarada memindahkan chanelnya
Sakura membelalakan kedua matanya, ia memegang kedua dadanya. Rasanya tak sanggup untuk mendengarkan berita tersebut. Ia mendongkakan kepalanya ke Tab tersebut.
"Pindahkan lagi ke chanel sebelumnya". Perintah Sakura panik.
"Tapi bu itu cuma berita aku tak-".
"PINDAHKAN !". Teriak Sakura. Itu membuat kaget Sarada lalu ia memindahkan lagi chanel-nya
'Saat ini polisi tengah mencari korban yang selamat. Saya Kin melaporkan dari tempat kejadian'.
Cucuran air mata yang keluar secara otomatis dari mata hijaunya. Tubuhnya bergetar hebat perlahan menjadi kaku tak bisa digerakan.
"Ibu kenapa menangis?".
Sakura melepaskan sabuk dari tubuhnya dan tubuh Sarada. Ia membuka pintu mobil secara kasar dan menuntun anaknya keluar dari mobil. Mereka berdua berlarian, tangannya tak lepas memegang anaknya. Sakura berlarian diantara kendaraan yang berjejer panjang. Untung saja saat itu semua kendaraan sedang macet total karena kecelakaan itu berdampak kejalanan juga.
Beberapa kali ia mengusap air matanya, nafasnya tersenggal disana. Entah berapa banyak mobil yang ia senggol membuat orang-orang disana sedikit terganggu.
"Maaf tuan, maaf". Sakura membungkuk dan melanjutkan langkahnya.
Sarada memandang ibunya tak mengerti ia masih menyimpan pertanyaan itu karena saat ini ibunya sedang ada masalah, fikirnya. Jadi ia mengikuti kemana Sakura membawanya.
Brummm …
Suara motor sport hitam yang berhenti tepat didepan mereka membuat langkah Sakura terhenti. Ia membuka helm nya , mengibaskan rambut merahnya membuat siapa saja yang melihatnya akan terpesona.
"Butuh tumpangan?". Sakura mengabaikan penawaran menggiurkan dari pria berambut merah itu. Walau ini situasinya memang sangat mendesak Sakura lebih memilih harga dirinya.
"Ayolah aku tahu kau sedang buru-buru menuju stasiun, naikah". Ajak Sasori. Ia menghentikan langkahnya karena ucapan itu terdengar menarik perhatiannya.
Sasori turun dari motornya dan menarik lengan Sakura juga Sarada untuk naik motor. "Jangan banyak berfikir, pegangan". Sakura sedikit ragu untuk menyentuh pinggang Sasori, tangannya sedikit bergetar. Ia memegang tangan Sakura untuk melingkarkan ditubuhnya, wajahnya sedikit memerah saat itu.
Sasori mengendarai motor dengan lihainya menyalip beberapa mobil itu membuat Sakura sedikit ketakutan, ia mengeratkan pegangannya ketubuh Sasori.
"Jangan lepaskan peganganmu". Sakura menundukan wajahnya dipunggung bidang milik Sasori, ia menangis disana.
.
.
Sesampainya di lokasi kejadian, suasana semakin mencekam. Apa Sakura sanggup menghampiri tempat itu?. Beberapa alat berat berupa Crane diturunkan untuk mengevakuasi lokomotif dan 3 gerbong kereta yang terguling.
Mereka bertiga berhimpitan diantara orang-orang yang sedang berdesakan disana, beberapa polisi sedang mengevakuasi lokasi tersebut.
Entah berapa kali ia mengucapkan kalimat yang sama. 'Sasuke, Sasuke, Sasuke apa kau selamat?'. Inner Sakura.
Sasori tak melepaskan genggamannya sejak mereka datang, Sarada semakin panic.
"Aku akan menemui tim penyelamat". Sakura berontak dari genggaman Sasori, ia nekat menerobos lokasi itu.
"Jangan Sakura disana sangat berbahaya". Teriak Sasori, seakan tuli Sakura terus melangkah dan menghilang dari pandangan Sasori.
"Ibuuu mau kemana? Ayah tolong jaga ibuku". Sarada teriak panik sambil menarik-narik lengan kekar milik Sasori.
Sakura membulatkan matanya lebar ketika mendengar penjelasan dari tim evakuasi kalau semua korban sudah diserahkan kepada keluarganya dan beberapa ada yang meninggal dunia. Ia berfikir positive kalau orang tua Sasuke menjemputnya kembali ke Tokyo. Dan jika saja kabar itu benar mungkin keluarga Sasuke akan menghubunginya.
Ia menutup wajahnya oleh kedua tangannya, beberapa air mata keluar dari sela-sela tangannya. Saat itu ia terlihat sangat lemah bahkan ia hendak terjatuh ke belakang, untung dengan sigap Sasori menangkapnya dan segera memeluknya. Sarada pun berlarian mengampiri kedua orang tuanya. Saat ini Sakura tengah berada dikeputusasaan.
Bibir Sakura bergetar, sepertinya ia akan mengatakan sesuatu.
"Sasori, terima-kasih". Lirih Sakura sebelum dirinya jatuh pingsan dan menghentikan perkataan. Ia segera membopong tubuh lemah Sakura dan menjauh dari tempat itu bersama Sarada.
.
.
.
"Anata, kau sudah melihat berita itu?". Wajah cemas terpancar jelas diraut muka Hana.
"Kenapa kau memberitahu Sasuke tanpa sepengetahuanku, kau jangan ikut campur masalah Sasuke dan Sakura. Mungkin jika kau tidak ikut campur , kecelakaan itu tidak akan menimpanya". Itachi nampak frustasi, ia mondar-mandir mengelilingi meja kerjanya. Hana hanya tertunduk menyesal atas perbuatannya.
"Kau tahu apa yang akan terjadi selanjutnya jika ayah mengetahui ini?". Bentak Itachi pada sang istri.
Hana mengangkat wajahnya dan menatap mata kelam Itachi. "Tapi aku sangat peduli pada mereka, aku ingin sekali Sakura bertemu dengan Sasuke. Itu saja".
"Ayah akan sangat membenci Sakura. Kau tahu kan apa tujuan ayah memindahkan Sakura ke Konoha. Tch , seharusnya aku tak memberitahu mu soal kepulangan Sasuke". Itachi kembali duduk dikursinya dengan kasar dan memutarkan membelakangi Hana. "Aku akan menyita ponselmu". Desis Itachi tanpa melirik Hana sedikitpun.
Sekilas ia melihat Itachi mengepalkan kedua tangannya.
"Aku tahu kau selalu berpura-pura , Itachi. Jangan bersikap seolah-olah kau kuat dan menyembunyikannya dariku".
BRAKKKK ...
Itachi menggebrak meja dan itu sukses mengagetkan Hana. Ia menolehkan kepalanya dengan raut wajah tegang.
"Kumohon jangan memulainya lagi Hana". Itachi menghela nafas dalam-dalam. "Aku ingin kau meninggalkan ruanganku sekarang". Ia menatap tajam mata teduh milik Hana. Matanya yang berkaca-kaca , air mata bersiap turun dari pelupuknya.
Lalu Hana segera meninggalkan Itachi, saat ini ia merasakan hawa yang mencekam berasal dari pria yang berstatus sebagai suaminya. Saat Hana benar-benar menghilang dari pandangan Itachi , pintu pun terbuka lagi dan seorang pria bermata besar memasuki ruang kerja Itachi.
"Maaf tuan ada berita penting yang harus anda ketahui". Ucap pria itu, Yamato.
"Hm". Itachi masih memijat keningnya perlahan dan menutup kedua matanya. Ia mengangkat tangannya , memberi syarat. Yamato pun mengangguk.
"Tuan Fugaku akan menjual sebagian saham milik tuan Sasuke ke perusahaan Akimichi. Beliau mengetahui kalau tuan Sasuke sempat bekerja ditangan Lady Tsunade. Ia sudah menandatangani persetujuannya". Yamato menaruh berkas-berkasnya dimeja Itachi.
Itachi mendongkakan kepalanya kearah Yamato dan membuka berkas itu.
"Kenapa ayah melakukan itu? Bukankah perusahaan ini sudah sepenuhnya dikuasai olehku. Dia tak berhak menjual saham milik Sasuke karena dia sudah kemb-". Itachi menggantungkan kalimatnya. Yamato mendongkakan kepalanya.
"Jadi benar berita tuan Sasuke sudah kembali?". Tanya Yamato.
Itachi menautkan sebelah alisnya bingung. "Kau sudah mengetahuinya? Apa berita ini sudah menyebar?".
"Ya, beberapa hari yang lalu Shisui sempat bertemu dengan Sasuke".
"Berapa orang yang mengetahui ini, ah sial aku baru ingat hampir semua pegawaiku melihat dia. Sudahlah lupakan, Sasuke memang sudah pulang". Itachi menutup berkas itu dan kembali bertanya pada sekertarisnya. "Kau bilang pada ayah kalau Sasuke sudah pulang?".
"Belum. Apa tuan merahasiakan kepulangan Sasuke dari tuan Fugaku?".
Ia menunduk dan menutup matanya sebentar lalu membukanya kembali. Itachi meneguk segelas teh hangat yang berada dimejanya.
"Aku hanya ingin memulainya dari awal dan mengembalikan fikiran ayah dari kegelapan".
.
.
Karin memandang khawatir ke arah seorang pria yang tergeletak lemah diatas ranjang rumah sakit. Kondisinya masih belum stabil, dokter belum mengatakan apa-apa mengenai pria itu.
"Ibu, apa ayah akan segera bangun?". Tanya anak itu pada ibunya yang sedang menyelimuti tubuh pria itu.
"Kita berdoa saja semoga dia bisa diselamatkan". Karin menyeka air matanya, dia begitu tak ingin kehilangan Sasuke untuk kedua kalinya.
"Aku akan terus disampingmu, Sasuke". Karin mencium kening Sasuke penuh cinta.
Ia sedikit menjauh dari sana dan mengambil handphone, Karin menghubungi sesorang.
.
.
Pria itu sedang memeras handuk kecil dan menempelkannya didahi Sakura, lalu ia ulangi lagi begitu seterusnya. "Kau itu terlalu memaksakan diri, Sakura". Sasori sangat khawatir saat itu.
"Kenapa kita tadi ke stasiun yah?". Tanya Sarada pada Sasori. Mereka berdua sedang duduk dipinggir ranjang besar milik Sakura.
Sasori mungkin harus sedikit berfikir untuk menjawab pertanyaan Sarada, sepertinya dia belum menyiapkan scenario untuk Sarada. Jika salah sedikit saja , mungkin rencana busuknya akan segera terbongkar.
"Ehh itu.. ibumu-".
Kriiiiiiiinggg ...
Suara panggilan masuk dari handphone milik Sasori berhasil mengalihkan topik pembicaraannya. Sasori berdiri dan memberi jarak dari sana untuk menjawab panggilan.
"Yah Karin".
"Aku menemukannya". Sasori membulatkan matanya, ia memilih keluar dari kamar Sakura, khawatir jika mereka berdua mendengar percakapannya.
"Dimana kau sekarang?". Tanya Sasori tak sabar.
"Aku berada dirumah sakit Konoha. Sepertinya dia belum sadar dan dokter belum memberitahu keadaannya. Aku akan menyembunyikan Sasuke dari Sakura, kali ini kita bekerjasama. Kau bisa manfaatkan kecelakaan ini , Uchiha Sasuke sudah meninggal dan Sakura akan segera melupakannya".
Sasori menyeringai , ia menurunkan handphone-nya dari telinga. Melirik sekilas ke kamar Sakura dan kembali lagi ke handphone-nya.
"Aku harap dia benar-benar meninggalkan dunia ini".
"Kau gila,dasar egois Sasuke itu tidak benar-benar meninggal. Berterima kasihlah padaku bodoh. Sakura bisa kau dapatkan itu berkat aku". Teriak Karin disebrang sana.
"Ah ya ya ya aku tidak peduli soal Sasuke, silahkan perlakukan sesukamu karena aku akan segera menikahi Sakura". Sasori mengangkat bahunya acuh.
"Menikah katamu? Aku tak akan mengizinkannya sebelum kau menanda tangani surat perceraian kita. Karena aku juga akan menikahi Sasuke. Mitsuo pun tau mana ayah yang baik, tidak seperti dia yang egois".
"Apa maksudmu egois? Aku tidak egois, hanya saja kau itu bukan tipe ku dan kau-"
"Cukup cukup cukup ... aku tak ingin berdebat denganmu. Aku sedang sibuk mengurus Sasuke disini"
Tut tut tut ... panggilan diputus oleh Karin.
"Tch , dasar wanita licik". Dengus Sasori.
.
.
.
Karin tersenyum penuh kemenangan.
Karin sudah menikah dengan Sasori. Kenapa dua orang yang notabenenya tidak saling menyukai bisa menikah?. Mereka diketahui kalau Karin hamil tanpa melangsungkan pernikahan dan dengan terpaksa Sasori menikahinya. Mereka berjanji satu sama lain jika sudah menemukan pasangannya masing-masing mereka akan bercerai. Yah dua orang itu memang serasi , serasi dalam hal kejahatan.
"Karin .. !". Ucap pria itu dengan suara paraunya. Orang yang dipanggil itu segera memutar tubuhnya dengan kecepatan penuh. Wajahnya tampak panik dan segera menghampirinya. Satu kata yang ada diotak Karin saat ini adalah 'Apa dia mendengar semua pembicaraannku dengan Sasori?'. Inner Karin.
"K-kau sudah sadar? Se-jak ka-pan?". Benarkan , dia sangat panik sekali sampai gagap.
"Apa kau istriku?". Tanya Sasuke bingung sambil menatap penasaran pada Karin.
Seandainya bisa terlihat, sebuah bola lampu besar muncul dikepala Karin.
"Jangan-jangan kau ...". Karin menggantungkan kalimatnya. "Akan kupanggil dokter, tunggu sebentar. Mitsuo kau jangan kemana-mana". Ia pun berlari keluar untuk menemui dokter.
Mitsuo mengangguk pelan, ia pun menatap pria yang sedang terduduk diatas ranjang dengan tatapan kosong kedepan. "Halo ..". Ucapnya sedikit gugup, yah dia masih sangat asing pada laki-laki itu.
.
"Apa? Amnesia?".
.
.
"Permisi. Tuan Itachi ingin bertemu dengan anda". Ucap maid itu sambil menundukan badannya setengah. Ia pun pergi setelah sang majikan mempersilahkan dia pergi.
"Ayah tahu kau pasti tidak akan menandatangani berkas itu". Ucap Fugaku membelakangi Itachi, saat ini dia sedang berada dikursi roda. Sudah satu tahun terakhir ia diserang penyakit stroke dan tidak bisa berjalan.
"Kenapa ayah tidak membicarakan soal ini padaku. Sasuke masih berhak mendapatkan saham itu karena dia masih keluarga kita kecuali kalau ayah sudah tidak menganggapnya sebagai anak".
"Anak keras kepala itu berhak mendapatkannya, lagi pula sudah hampir tujuh tahun ini dia tidak ikut serta dalam perusahaan. Dan yang lebih memalukannya lagi dia bekerja di Senju Corp. Apa kau lupa perusahaan itu hampir menjatuhkan kita. Kau harus berfikir dewasa Itachi". Ucap Fugaku penuh penekanan disetiap kalimatnya. Ia masih membelakangi Itachi saat itu.
"Apa ayah fikir Sasuke akan terus selamanya mendekam dipenjara? Bagaimana kalau saat ini dia sudah dibebaskan. Apa ayah akan tetap menjualnya?".
Fugaku pun membalikan badannya dan menghadap Itachi. "Kalaupun dia bebas anak itu tidak mungkin menampakan diri dihadapanku. Dia hanya peduli pada wanita itu bukan pada sahamnya".
"Sampai kapan ayah berfikiran seperti itu ?". Teriak Itachi.
"Jangan membentaku Itachi. Kau ini banyak bicara, cepat tanda tangan berkas itu, tuan Chouza sudah menunggu". Tatapannya beralih menjadi lebih tajam dari sebelumnya namun Itachi tak ingin kalah.
"Kalau ayah akan menjual saham milik Sasuke, maka aku yang akan membelinya".
"Keterlaluan ... ". Itachi melihat ia mengepalkan tangannya dibawah. "Jangan mempermalukan dirimu !".
"Sampai kapanpun aku tidak akan pernah menjualnya karena Sasuke adalah adikku". Itachi berjalan menjauhi ayahnya dengan langkah yang kasar.
"Tak ada yang bisa ayah harapkan darimu, bahkan sampai detik ini pun". Mengerti bukan maksud perkataan Fugaku ini.
Itachi berhenti sejenak saat mendengar perkataan ayahnya yang terakhir. Lalu kembali lagi berjalan dengan menghentakan kakinya keras-keras ke lantai.
Fugaku menghela nafasnya dalam-dalam sambil memegang kedua dadanya. Maid itu berlari ke arahnya sambil membawa segelas air dan beberapa obat.
"Tuan tidak apa-apa? Mohon diminum obatnya". Fugaku meminum obat itu. Ia menyandarkan punggungnya kembali ke kursi rodanya.
.
Tuk tuk tuk ..
Seseorang mengetuk pintu ruangan kerja Itachi.
"Apa aku boleh masuk?". Kedengarannya suara perempuan.
"Ya". Itachi masih duduk termenung dan menenggelamkan wajahnya diatas meja.
Perempuan itu mendeketkan diri ke Itachi hingga jarak mereka sangat dekat. Ia mengelus punggungnya dengan lembut lalu memeluknya dari belakang.
"Kau baik-baik saja Anata?". Bisik Hana ditelinga Itachi.
"Kenapa kau kesini, bukankah kau sedang bekerja?". Ucap Itachi masih dengan posisinya tertunduk.
"Aku mendengar kau bertengkar lagi dengan ayahmu makannya aku segera kesini". Hana semakin mengeratkan pelukannya hingga menyentuh dada bidang milik Itachi.
"Itu bukan bertengkar. Lagipula ini tak ada kaitannya denganmu, kau harus kembali lagi bekerja. Saat ini aku sangat lelah". Hana menarik tubuh pria tampan itu sehingga wajah mereka saling bertemu. Hana membingkai wajah Itachi dengan tangannya, menatap mata kelam itu. Ia melihat cahaya kesedihan didalam sana.
"Apa ayah berbicara itu lagi?".
Itachii tidak merespon pertanyaan istrinya, ia masih senang menatap mata coklat milik Hana.
Sepertinya ia sudah mengerti jawaban suaminya itu hanya dengan melihat sorot matanya saja Hana dapat mengartikan itu adalah 'Iya'.
Ia menutup matanya, disana Itachi melihat air mata keluar dari kedua matanya.
"Maafkan aku, Itachi aku tidak bisa memberi-".
Ia segera mengusap air mata itu dan memeluk erat istrinya.
"Sudahlah kau jangan menangis. Aku akan tetap mencintaimu sampai kapan pun. Memilikimu adalah kebahagiaan untukku, Hana. Maaf kemarin aku membentakmu". Itachi melepaskan pelukannya dan kembali menatap wajah itu lalu mencium bibirnya dengan hangat.
To Be Continue
A/N
Jujur pas ngetik tanganku ikutan mengeras, gregett banget. Rasanya gak tega gitu, tapi Mei gak akan bikin adegan-adegan romantis antara SasuKarin. Tahu kan Naruto Gaiden Chap 7 bikin kokoro nyesek. Mei galau banget nih sampe tengah malem #lebay . Dan Chapter ini agak pendek dari sebelumnya, gomen TwT soalnya paketku hampir abis :'(
Dan semua prediksi kalian tepat, yaaa chapter ini sebagian udah ketebak kan sama readers.
Dichapter selanjutnya dan chapter ini semoga unpredictable.
.
Selanjutnya Sasuke akan menunjukan sesuatu buat kedua pasutri gila itu #DihajarSasoKarin . Dan bakalan muncul tokoh baru, siapakah dia?
Oke Mei mau bales review kalian.
Sasara Keiko : Yay tebakannya tepat, tapi beda dikit kok. hehehe. Tapi jangan sebel sama Mei yang kecehh ini ya #DitimpukSasara :D . ini juga lumayan cepet updatenya (menurutku) . makasih udah review.
wedusgembel41 : Oke ini dilanjut :)
suket alang alang : Sasori itu licik, tapi dia tetep kece :) hehe. sabar ya Sasuke akan muncul kok
: Ha'i memez chan ini dilanjut kok. Mei Usahain update kilat hehe. Waahh suka Fic aku? makasih memez :* #pelukhangat :)
.129357 :Bener banget, tuh kan ketebak .. tapi aku jamin happy ending deh. Hahaha jangan hajar sasori danna ku :D wkwkwkwk. Sip ayah yang jahat pantes menerima itu.
Bekas tapi ... mhehehe :D
Queenshila : Wahh pendek ya? ada yang bilang kepanjangan FB nya. hehehe , makasih sarannya. Aku usahain next chap unpredictable. sekali lagi arigatou Queen-san :*
Hari Widi : Arigatou #pelukpeluk .. kalau Hari-san review lagi aku pasti semangat nulisnya. :)
Aku senang ada yang review lagi Fic ini. Ariagatou minna-san
salam cinta dari Mei no Kawai :* ;)
