Aitakatta

Disclaimer : Belong to ©Massashi Kishimotto

.

.

.

DLDR

Happy Reading

"Terimakasih dokter". Karin dan Sasuke membungkuk didepan seorang dokter. Saat ini kondisi Sasuke bisa dibilang lebih baik, tapi Karin harus menerima semuanya kalau Sasuke mengalami amnesia akibat sebuah benturan dikepalanya. Ya namanya juga otak kriminal, bagi Karin ini kabar gembira. Sasuke akan menjalani kehidupan baru bersamanya.

"Jangan lepaskan peganganmu, kau masih lemah". Ucap Karin menggandeng tangan kanan Sasuke yang masih lemas.

"Terimakasih, jika tidak ada kau mungkin aku sudah mati". Sasuke tersenyum ke arah Karin.

Dan mereka bertiga pun menaiki mobil Karin. Itu memang bukan miliknya, melainkan milik perusahaan Nara, ya Sakura juga sama mempunyai mobil seperti Karin mengingat mereka bekerja ditempat yang sama.

"Tolong beritahu detil tentangku Karin karena itu sangat membantuku". Ucap Sasuke lembut.

"Tentu saja Anata". Karin menoleh sekilas kebelakang. "Dia adalah Mitsuo-kun , anak kita". Jelas Karin penuh dusta. Sasuke pun mengangguk dan menoleh kebelakang.

"Hmm". Mitsuo memalingkan wajahnya ke samping.

"Hey jangan memalingkan mukamu seperti itu, eh. Ah maaf Anata dia memang seperti itu". Ucap Karin dengan senyum yang dipaksakan. Lalu ia kembali lagi fokus mengemudi.

"Oh iya aku tidak memanggil nama depanmu, Sasuke. Aku selalu memanggilmu Anata". Lanjut Karin lagi. Dibalik itu ia menyeringai penuh kemenangan.

Saat sampai dirumah Karin yang tidak terlalu besar namun interiornya cukup megah. Karin pun turun dari mobilnya diikuti oleh Sasuke dan Mitsuo.

"Ini rumah kita?". Tanya Sasuke.

"Ya, dulu saat kita di Tokyo rumah kita sangat besar dan bagus. Kita pindah ke Konoha karena orang tuamu menyuruh kita kesini". Jawab Karin yang setiap kalimatnya merupakan sebuah kebohongan.

Aitakatta

Disclaimer : Belong to ©Massashi Kishimotto

.

.

.

"Mitsuo kemarilah biar ayah peluk". Sasuke merentangkan kedua tangannya memberi ruang untuk sang anak.

Anak itu memutarkan tubuhnya membelakangi Sasuke, dia menautkan alisnya bingung. "Hey kenapa kau membelakangi ayah. Kata ibumu kau merindukan aku, kemarilah akan kuberikan pelukan hangat untukmu". Ucap Sasuke selembut mungkin pada Mitsuo.

Mitsuo menoleh sedikit kebelakang dengan tatapan tidak suka. "Kau bukan ayahku !".

Sasuke sedikit terkejut mendengar jawaban anak berambut merah itu. Ia meraih tangan mungil itu untuk sampai kepelukannya.

"Mana mungkin aku ini bukan ayahmu. Kau ingin ayah yang seperi apa?". Sasuke mengacak gemas rambut Mitsuo namun dengan cepat ia menepisnya.

"Jangan sentuh rambutku orang asing. Ayahku itu mirip denganku, dia sangat baik selalu ada untukku". Sasuke sangat terkejut saat mendengar kalimat-kalimat mitsuo. Akhirnya ia melepaskan tangannya.

Tiba-tiba ia menundukan kepalanya. "Tapi saat ini dia pergi entah kemana, aku akan menunggunya pulang".

"Aku sudah pulang kan, kau menunggu siapa lagi?".

"Sudah kubilang kau ini bukan ayahku. Kata ibu-".

Sebuah teriakan melengking dari suatu ruangan hingga percakapan mereka terhenti.

"Mitsuo , bersikaplah sopan pada ayahmu !". Bentak Karin.

Anak itu berlari ke kamarnya tanpa mendengar satu kalimatpun ibunya.

"Hey , dengarkan kalau ibumu sedang bicara Mitsuo !".

"Sudahlah biarkan saja dia. Aku mengerti Karin , mungikin sikapku sedikit berubah padanya sejak kecelakaan itu". Sasuke tersenyum sambil memegang kedua pundak Karin.

.

.

Keesokan harinya ..

.

Sakura menoleh pada sebuah pintu besar utama. Disana ada Sasori yang sedang bersandar didepan pintu. Ia melangkah mendekati Sakura yang sedang duduk termenung. Perlahan tangan kekar itu menyentuh lembut pipi Sakura. Dengan cepat Sakura memalingkan wajahnya sehingga sentuhan itu tak terasa lagi.

"Pulanglah Sasori , aku sedang ingin sendirian". Desis Sakura.

Sasori tersenyum getir pada Sakura. "Aku akan menemanimu sampai kau merasa lebih baik. Kau akan selalu membutuhkanku. Apa kau lupa janjiku dulu padamu". Sakura memutar kepalanya kasar pada Sasori dengan tatapan tak suka. Apa yang ada difikiran pria itu?

"Aku tak ingin mengulanginya lagi, pergilah !". Sasori menaruh kedua tangannya dipundak Sakura sambil memandang mata hijau itu.

"Sekarang kau sudah tidak punya siapa-siapa lagi kecuali aku dan Sarada. Apa kau tidak merasa kasihan pada anakmu, sejak ia dilahirkan belum merasakan kasih sayang dari seorang ayah. Dan saat itulah aku datang untuk menjadi peran seorang ayah".

"Jika aku menolak?". Cecar Sakura.

Sasori menghela nafas pelan. Ia duduk disamping Sakura, menaikan sebelah kakinya dan duduk senyaman mungkin. "Aku khawatir sekali padamu. Kau bukan lagi gadis kecil yang dulu Sakura. Kau seorang ibu, kau berhak mendapatkan kasih sayang. Yaitu dari aku".

Ruangan itu terlihat hening dengan keadaan yang menyelimuti mereka. Sasori terus menatap wajah Sakura penuh harap. Mengharapkan jawaban yang pasti dari sang mantan.

"Aku masih belum bisa melupakan Sasuke". Cicit Sakura, nyaris tak terdengar.

Sasori berdiri dengan cepat, sampai Sakura merasa kaget. Ia menatap wajah pria imut itu dengan tatapan menyesal. Dia pasti akan marah. Hey Sakura apa kau masih berharap pada dia?

"Relakanlah dia, kau sudah punya aku. Sebenarnya kau sudah bahagia, Sarada sudah bisa menerima keberadaanku". Ujar Sasori, ia melipat tangannya didada. "Kau jangan bersedih lagi ya". Sakura pun mengangguk pelan, ia menyeka air matanya. Sasori masih belum sadar kalau Sakura terus menangis sejak mendengar berita kematian suaminya. Ia telah menyakiti hati Sakura, bukan membuatnya bahagia.

.

.

.

Saat ini Hana tengah mengemasi barang-barang keperluannya. Ia tak sadar kalau ada seseorang yang sedang mengawasinya dibelakang. Hana melirik sekilas lalu ia mengabaikannya dan kembali melanjutkan kegiatan mengemasnya.

Hana merasakan punggungnya terbakar saat suaminya berjalan kearahnya. Ia masih tidak mempedulikannya.

"Kau mau kemana?".

Hana mendongkak. Menatap mata kelam sosok didepannya. "Ada tugas praktik diluar kota".

"Benarkah itu?". Tanyanya penuh keingintahuan. Itachi berfikir kalau Hana sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Dari gelagatnya yang mulai bertindak aneh. Pulang kerja yang selalu larut dan jarang mengangkat teleponnya.

"Aku meminta izin padamu, selama satu minggu aku pergi". Ucap Hana tanpa menatap sang suami. Kini koper besar itu sudah terisi penuh. Ia berdiri tepat didepan Itachi, melempar senyum tipis kearahnya. Mata kelamnya sempat menangkap mata teduh milih Hana.

"Pastikan ponselmu selalu aktif, aku selalu mengawasimu". Hana mengangguk lalu memberikan satu kecupan di bibir Itachi sebagai ucapan perpisahan. Ia melangkah pergi dengan tangan yang menggenggam sebuah koper. Saat ia rasa tubuh mungil milik Hana mengilang dari pandangannya, Itachi segera merogoh Smartphone disaku bajunya.

Dengan gesit Itachi mencari sebuah kontak nama. Setelah nomor itu ditemukan , gadget itu ditempelkan ditelinganya.

"Yamato , datanglah kesini secepatnya !".

"Baik tuan". Jawab Yamato disebrang sana.

.

.

Drrrttt drrrttt ..

Ponsel milik Sasori bergetar. Diambilah ponsel itu, saat dilihat siapa yang menelpon ia mengerutkan dahinya. Ia berjalan menjauhi sakura yang sedang duduk. Sakura sempat melihat wajah Sasori mengeras saat menatap layar handphone.

"Ada apa lagi Karin?". Ucap Sasori kesal dengan nada yang ia pelankan.

"Kau bisa datang kesini sekarang. Dari kemarin Mitsuo tak keluar dari kamarnya, aku sangat khawatir sekali. Sepertinya dia merindukanmu". Suara Karin terdengar ada nada kekhawatiran disana. Sasori membulatkan kedua matanya , tak ingin anak tercintanya terjadi sesuatu.

"Aku akan kesana, tunggulah sebentar".

Piip .. Sasori memutus sambungan telepon lalu berlari keluar rumah Sakura tanpa pamitan padanya.

.

Sesampai dirumah Istrinya, Sasori tak langsung memasuki rumah itu, dia mengeluarkan ponselnya dan mengirimi pesan singkat pada Karin.

'Disana aman?' . Sent to Karin

Dan selang beberapa menit dia mendapat balasan dari Karin.

'Ya masuklah, Sasuke sedang tertidur dikamarnya'

Ia menyeringai saat membaca pesan dari Karin dan segera masuk kerumahnya.

Benar saja, tercetak jelas diwajah cantiknya Karin ada raut kekhawatiran. Sasori langsung berjalan kearah kamar anaknya.

Tuk tuk tuk ...

"Sayang, bukalah pintunya ayah sudah pulang".

Belum ada jawaban membuat kedua orang tua itu semakin khawatir. Karin sadar apa yang ia lakukan itu salah, membawa Sasuke kerumahnya malah bertambah buruk. Lihat saja Mitsuo sangat membenci Sasuke sampai ia tak ingin keluar dari kamarnya.

"Mitsuo, apa kau sedang tidur? Maafkan ayah sayang, ayo keluarlah". Sasori sudah membujuk anak itu , ia sudah tak mempedulikan lagi rencananya yang terpenting anaknya bisa seperti dulu lagi.

Krrriieett ... Suara decitan pintu terbuka, Karin dan Sasori segera terfokus kesana. Sang anak memang memiliki ikatan batin yang kuat dengan orang tuanya. Mitsuo mengenal betul suara ayahnya, ia langsung memeluk penuh kerinduan pada Sasori. Hingga ia meneteskan air mata. Karin yang menyaksikan itu sampai tak tega melihatnya, sekejam itukah seorang ibu pada anaknya. Sudahlah Karin akhiri rencana busukmu itu ...

"Ayah jangan pergi lagi. Aku tak ingin ayah itu, dia berbeda denganmu hiks". Mitsuo mengeratkan pelukannya keleher Sasori. Ia merasakan ada cairan yang membasahi lehernya. Baru kali ini Sasori merasakan kebahagiaan yang sebenarnya saat menjadi seorang ayah, dia sangat menyangi anaknya itu. Tidak bertemu beberapa bulan saja serasa sangat lama baginya. Tapi kenapa dia belum mendapatkan cinta dari istri sahnya? Entahlah mereka berdua memang egois.

"Kau bercanda, ayah tidak akan kemana-mana. Mana mungkin ayah meninggalkan jagoan kecilku". Sasori mengacak gemas rambut merahnya yang mirip dengannya. Mereka berdua tertawa bahagia. Karin sempat meneteskan air mata, sudah lama ia menginginkan senyuman itu diwajah tampan anaknya.

'Maafkan aku'. Inner Karin.

.

.

Malam pun tiba. Saat ini Sasori masih berada dikediaman Karin.

"Kau memang sangat pintar berbohong Karin". Sasori memulai pembicaraannya disana. Saat ini mereka sedang berada diruang keluarga.

Karin mengangkat sebelah alisnya bingung. "Aku tidak berbohong".

"Kau bilang Mitsuo tau mana ayah yang baik. Buktinya dia sampai tidak ingin keluar kamar karena merindukan aku". Sasori menyeringai, ia merasa menang saat itu. Karin memalingkan wajahnya kesal.

"Ya aku memang berbohong, kau puas sekarang".

Sepertinya sekarang Sasori masih ragu berada disana mengingat Sasuke berada dirumah itu. Sasori mengeser tubuhnya hingga ia mendekati Karin. "Kau yakin dia amnesia?". Bisik Sasori.

"Tentu saja, mana mungkin dokter berbohong padaku". Bentak Karin pada suaminya itu. "Tidak biasanya kau terlihat ketakuatan"

"Aku tidak merasa takut sedikitpun. Si Uchiha itu jangan sampai kembali ingatannya, jika tidak semua rencana kita gagal. Oh ya setelah kita bercerai nanti aku ingin Mitsuo bersamaku".

Karin terkejut, ia tak terima anaknya diambil oleh Sasori. "Kau tak berhak membawanya, aku yang merawatnya hingga sekarang".

"Apa kau ingin dia terus mendekam dikamarnya? Kau tahu sendirikan dia sangat menyukai aku dibanding kau". Sasori menatap lekat-lekat iris merah milik Karin.

Suara keras mereka sukses membangunkan Mitsuo, ia keluar dari kamarnya sambil mengucek kedua matanya.

"Ayah … aku ingin tidur denganmu". Ucap anak itu manja dengan suara paraunya.

"Kau lihat, dia tak ingin dipisahkan dengan ayahnya. Dia harus bersamaku". Ia menyeringai penuh kemenangan. Sasori segera menggendong anaknya menuju kamar.

"Tch, awas kau". Karin merasa kepala mendapat pukulan keras. Ia berdecih mendapat respon kemenangan dari suaminya.

"Sekarang aku tahu kelemahanmu…". Seseorang sedang mengawasi mereka disana. Laki-laki itu menyeringai.

.

.

Saat ini Hana sedang berada dipejalan menuju kota tujuannya dengan mobil mewah miliknya. Matanya memandang hamparan jalanan luas dan ramai disana. Namun fikirannya hanya satu, yaitu kedua adiknya. Hana sedikit berbohong pada suaminya , ia sengaja tak memberitahu suaminya dimana ia melakukan praktik. Konoha adalah tujuannya saat ini.

"Sasuke, kakak yakin kau baik-baik saja disana. Aku akan segera menemuimu". Desis Hana entah pada siapa.

Sekilas ia melirik jam tangan mewahnya yang melingkar dipergelangan tangannya. Waktu menunjukan pukul 2 dini hari. Hana merasa saatnya untuk beristirahat, tangannya sudah merasa pegal.

Kakinya membawa masuk kesebuah kafe mewah dipinggir jalan. Suara dentingan piano mengalun indah disana, Hana sedikit merasa nyaman disana setidaknya ia mendapat sensai nikmat disebuah kafe ini setelah lelah berkendara. Ia duduk disebuah kursi yang sudah disediakan berdekatan dengan jendela yang memantulkan indahnya pemandangan malam dikota Konoha.

.

.

"Kita kehilangan nona Hana, bagaimana ini?". Yamato nampak panik, ia sempat mengentikan mobilnya. Namun Itachi segera menyuruh Yamato untuk terus melaju.

"Aku tahu kemana dia pergi. Ikuti saja perintahku, kita ke konoha". Yamato melirik tuannya sekilas lalu kembali lagi memfokuskan diri menyetir.

"Ha'i". Yamato mengangguk. Mobil mewah tu melaju cepat. Menembus kemacetan yang menghalangi mereka.

.

.

'Sabaku no Gaara telah melarikan diri dari penjara bawah tanah. Polisi tengah mencari keberadaannya , siapa saja yang menemukannya segera lapor 087xxxx …. '

Televisi yang berada di kafe itu menayangkan sekilas info, itu tak mengganggu selera makan Hana saat ini. Ia masih asyik menyantap hidangannya. Tapi rasa penasaran membawa Hana untuk menyaksikan sekilas berita tersebut.

"Ya ampun pintas sekali orang itu. Wajahnya sangat menyeramkan. Hemmmm pantas saja". Ucapnya. Hana kembali menyantap hidangannya.

.

[Sakura POV]

Sudah selarut ini tanda-tanda mengantuk belum saja menghampiriku. Dan sepertinya itu tidak akan datang. Hampir setiap malam aku selalu memikirkanmu, dan aku berasumsi kalau orang yang selalu difikirkan akan pulang kerumahnya. Ya kau memang sudah pulang Sasuke, tapi bukan kerumahku.

Aku selalu berharap jika aku tertidur dan kembali membuka mataku, kau sudah berada disampingku. Memeluku, menciumku, aku sangat merindukannya Sasuke. Tapi sekarang aku harus melupakanmu, kau sudah benar-benar pergi. Aku mencintaimu …

.

.

Sinar mentari pagi menembus jendela kamar. Perlahan aku buka mataku, ah tidak aku masih sendiri diatas ranjang ini. Yah aku memang sudah terbiasa sendiri. Dengan malas aku kembali menarik selimutku untuk menutupi wajahku. Aku membalikan tubuhku kearah yang berlawanan. Tunggu seperti ada yang sesuatu dibelakangku. Apa dia …..

Aku menggeleng cepat, sadar Sakura Sasuke sudah tidak ada.

Oh kami-sama tapi ini sungguhan ada seseorang yang memeluku dari belakang. Dengan cepat aku berbalik.. aah Astaga pria ini sejak kapan dia disini. Apa jangan-jangan dia tidur denganku !.

"Selamat pagi hime, kau tidur sambil menangis lagi ya". Ucap pria merah itu dengan mata yang masih tertutup. Dengan sigap aku membuka selimutku. Haaahh syukurlah bajuku masih utuh.

"Sejak kapan kau disini?".

"Tadi malam. Kau bilang kau sangat ingin dipeluk". Jawab Sasori dengan nada manjanya. Sungguh diluar dugaan. Orang ini beraninya memasuki ruang pribadiku.

"Aku tidak berkata seperti itu".

"Kau mengigau Sakura dan aku mendengar semuanya. Kemarilah akan kupeluk kau". Sasori merentangkan kedua tangannya sambil tertidur. Aku segera beranjak dari sana dan pergi ke ke kamar mandi. Sial , aku tak percaya bisa mengatakan kalimat-kalimat itu.

[End Sakura POV]

Sasori menyeringai. Ia merasa bahagia saat itu bisa memeluk Sakura lagi. Ia merentangkan kedua tangannya, menggeliat penuh nikmat diatas ranjang king milik Sakura.

Sasori sangat menyukai aroma cheery di kamar Sakura, ya aroma yang menyejukan hatinya. Wangi ini kembali membuka kenangan lamanya.

Saat tangannya terangkat keatas, ia menyentuh sesuatu dibawah bantal Sakura. Dengan cepat diambilah benda itu.

Sasori mengerutkan dahinya.

SREKKK ..

Poto berharga milik Sakura dirobek menjadi dua oleh Sasori. Ia memasukannya ke saku baju lalu kembali tertidur di sana.

To be Continue


Author Note

Maap telat update, hehe udah gitu aja #dihajar readers.

ini lagi puasa sih takut batal kalo ada lemon2nya gitu. kasih saran nya ya minna hehe.

Silahkan cek PM aku uah bls reviewnya kok :)

mau nge-Review lagi?

bay see you next chap #pelukcium dari Mei no kawai (no dalam arti bhs inggris) :3