SREKKK ..
Poto berharga milik Sakura dirobek menjadi dua oleh Sasori. Ia memasukannya ke saku baju lalu kembali tertidur di sana.
Aitakatta
Disclaimer : Masasshi Kishimoto
Story Original by my self
.
.
Warning : Badfic, Typo, ide pasaran, dan lain-lain
.
.
Don't like , Don't read I warn you, please don't judge me !
.
.
Happy Reading
"Brengsek ! polisi berkeliaran dimana-mana" umpat seorang pria yang kini tengah berdiri disebuah rumah kosong , jauh dari keramaian. Pria yang memiliki tato'Ai' didahi itu saat ini tengah dicari oleh seluruh warga Tokyo, ia berusaha lari dari kejaran polisi mengingat dirinya sebagai tahanan yang kabur.
Ia memakai kaca mata hitam serta jaket yang menutupi kepala guna menutupi identitasnya sebagai Sabaku Gaara. Ia menempuh perjalanan jauh hingga sampai disebuah kota yang asing, jauh dari Tokyo , jauh dari kejaran polisi-polisi.
"Kalau tidak salah . ini di Konoha. Mungkin disini cukup aman" fikirnya. Tapi jangan salah polisi tak sebodoh yang ia fikirkan , mata mereka ada dimana-mana.
"Saudaraku, aku ingin jumpa" desisnya entah pada siapa.
.
.
AITAKATTA
"Ibu Ayah cepatlah aku sudah tak sabar lagi" Anak perempuan berkacamata menarik-narik lengan kedua orang tuanya. Sarada terlihat berbeda dari biasanya, keseharian anak itu yang selalu murung kini sekarang sudah tak ada lagi.
"Kau harus sarapan dulu sayang, ibu tidak mau kau pingsan lagi" Sakura sibuk mengolesi roti dengan selai kacangnya. Sementara Sasori sibuk menyiapkan sepatu dan tas milik Sarada, baiklah perlahan-lahan pemuda bersurai merah darah itu dapat masuk kedalam kehidupan gadis pujaannya. Walau Sakura tetap belum menerima keberadaan Sasori.
"Hey gadis kecilku , ada apa kau bersemangat sekali" Sasori mengacak rambut Sarada gemas, Sakura yang melihat itu sedikitnya merasa tertekan. Apa jadinya kalau Sarada mengetaui yang sebenarnya?
"Oh ayah aku lupa memberitahu ayah kalau hari ini ada perlombaan disekolah. Semua teman-temanku mengajak orang tua mereka juga. Aku ingin ayah dan ibu ikut perlombaan juga, ya ya ya " pinta Sarada , memohon agar kedua orangtuanya ikut dan setuju akan permintaan anakknya.
"Apa? tapi hari ini ibu harus bekerja sayang, kau pergi dengan Sasori saja emm maksudku .." ibu satu anak itu mengigit bibir bawahnya, Sakura menghentikan kalimatnya. Sasori berharap Sakura menganggap dirinya sebagai ayah Sarada dan Istrinya Sakura.
Berdasarkan pemikiran Sasori, situasi ini malah membuat dirinya semakin beruntung. Sakura seperti sudah tak ada pilihan lain, ia hanya mengikuti kemana air mengalir.
"Ayolah Sakura , kau bisa izin sehari saja. Nanti aku antar ketempat kerjamu" Sakura mengangguk, senyum mengembang diwajah Sarada dan Sasori.
"Horeee ibu ayah , arigatou" Sarada memeluk kedua orangtuanya, kini keluarganya sudah lengkap betapa bahagianya hati anak berkacamata merah tersebut.
.
.
.
Sasuke memasuki mobil milik Karin, pemuda raven itu berniat mengantar Karin ketempat kerja. Namun perempuan bersurai merah itu masih belum juga menghampirinya , Sasuke mengetuk-mengetukkan tangannya ke Dashboard mobil sekedar mengisi kekosongan. Masih tak kunjung datang akhirnya Sasuke berniat menghampiri Karin , ia keluar dari mobilnya dan berjalan memasuki rumah kecil milik mereka.
"Karin cepatlah kau akan terlambat beker –" Kedua mata Sasuke melebar kala menyaksikan kejadian tak wajar. Karin hampir melayangkan tamparan kewajah sang anak. Sasuke pun berlari dan segera menahannya.
"Cukup Karin , kau tidak harus melakukan ini pada Mitsuo !" Bentak Sasuke, nampaknya keluarga baru ini tidak setenang keluarga Sasori disana. Wajah Karin sempat mengeras saat menatap anaknya sendiri, tadinya ia akan membawa Mitsuo untuk pergi kesekolah barunya mengingat mereka baru saja pindah ke Konoha.
"Sudah berapa kali ibu katakan , mulai sekarang Sasuke itu ayahmu. Kau harus menuruti apa kata ibu" Ucap Karin sesaat sebelum melayangkan tamparan namun dengan cepat sasuke menahannya
"Kenapa kau menahannya , biarkan ibu menamparku SASUKE !" ucap Mitsuo kasar kearah Sasuke seraya mengangkat dagunya keatas seolah menantang. Dahi Sasuke berkerut , tak disangka Mitsuo bersikap sekasar itu padanya. Apa yang membuat dirinya benci pada Sasuke.
"Mitsuo .." Desis Sasuke
"Cukup Mitsuo , ikut kami sekarang juga. Sekali lagi kau berkata seperti itu maka ibu akan bertindak lebih dari ini" Ancam Karin , ia menyeret tangan-tangan kecil Mitsuo kedalam mobil.
"Kanapa kau tidak membiarkan aku ditampar oleh ibu sendiri, HAH" ujar Mitsuo kearah Sasuke.
"Karena aku ini ayahmu" balasnya tenang. Anak bersurai merah menatap lama kearah Sasuke, setahu dirinya hanyalah Sasori ayahnya yang selalu menyayangi sepenuhnya.
Mereka pun memasuki mobil dan melaju dengan kecepatan rendah menuju tempat kerja Karin. Masih belum ada percakapan antara ketiganya, Mituso nampak semakin geram pada ibunya yang selalu memaksakan dia untuk bersikap baik pada Sasuke. Anak-anak juga tahu mana ayahnya, dia tak mungkin mudah dipengaruhi terlebih lagi Mitsuo itu anak laki-laki yang mudah marah.
Dia duduk sendiri di kursi belakang mobil sedangkan Karin berada didepannya bersama Sasuke yang status mereka masih dipertanyakan.
"Jika ibu sudah ditempat kerja, pergilah ke sekolah dasar Konoha bersama ayahmu. Mulai besok kau sekolah disana" Tutur Karin tanpa menatap sang anak, nadanya sedikit rendah karena emosinya belum reda.
"Baik , ibu" Balasnya pelan.
.
.
Perusahaan Nara sudah didepan mata, Karin turun dari mobilnya dan berpamitan pada Sasuke.
"Sasuke-kun , aku pergi dulu ya. Jaga anakku baik-baik, maafkanlah dia mungkin Mitsuo masih belum terbiasa padamu" Ucap Karin seraya membungkuk kedalam kaca jendela mobil yang berdampingan denganSasuke.
"Iya aku mengerti , kami akan segera berangkat ke sekolahnya Mitsuo"
-CUP- Karin mengecup puncak kepala Sasuke sekilas, lalu ia berjalan memasuki gedung Nara.
.
.
Suara langkah kaki menggema didalam koridor kantor Nara, Karin melenggang berjalan memasuki kantornya. Ada suara yang seseorang yang tak asing bagi Karin, ia berjalan dengan sangat pelan guna menelisik siapa pemilik suara tersebut.
'Terimakasih tuan Shikaku , kami mohon izin sebentar karena ada keperluan keluarga, ya sekali lagi terimakasih'
"Sasori ? sedang apa dia ditempat kerjaku" Desis Karin sambil menempelkan daun telinga didepan pintu. Dengan cepat ia kembali ke posisinya khawatir jika ada seseorang yang melihat , Karin berlari dan bersembunyi dibalik sekat tembok menunggu orang-orang itu keluar.
Benar dugaannya , itu sang Suami bersama Haruno Sakura serta anak perempuannya. Nampaknya mereka akan melakukan suatu kegiatan penting hingga Sakura tak masuk kerja.
"Apa yang akan dilakukan Sasori sekarang, brengsek awas kau. Berani sekali dia memegang tangan Sakura sedangkan aku ini masih istri sahnya. Aku harus segera mengurusi surat perceraiannya" Umpat Karin entah pada siapa. Perempuan egois ini masih belum sadar akan posisinya sekarang kalau dirinya juga tinggal bersama Sasuke.
.
.
.
Elementary School, Konoha, Japan.
"Ayo ayah cepat kalahkan papanya Chou-Chou" Teriak Sarada menyemangati sang ayah saat melakukan lomba lari antar orang tua murid. Acara ini dilakukan setiap tahun disekolah dasar untuk mempererat hubungan antara anak dan orangtua. Baik disekolah maupun dirumah.
Adapun berbagai macam lomba seperti lomba lari, lomba merias, tariktambang dan perlombaan lainnya yang menyangkut dengan kekompakan.
Tak ada raut kegembiraan diwajah cantik Sakura. Ibu satu anak itu masih duduk termenung memandang kosong kedepan. Entah apa yang dilihatnya yang jelas hati Sakura begitu sakit sekali.
'Sasuke-kun, aku harap kau itu Sasuke'
"Horeeee ayah menangg" Sarada berlari kearah Sasori dan berlari kepelukannya. Pria berambut merah itu mengacak-ngacak puncak kepala sang anak gemas, mereka tertawa bersama-sama mengekspresikan kebahagiaan.
Perlombaan sederhana mampu menyatukan mereka secara cepat , Sakura yang menyaksikan mereka hanya tersenyum tipis.
"Sarada , beruntunglah kau mempunyai ayah bertubuh kurus" cibir Chou-Chou yang tak terima atas kekalahan ayahnya. Salahkan Chouji yang memiliki tubuh gemuk.
"Hahahaha kau jangan marah padaku, sudahlah akui saja kekalahanmu" kata Sarada senang diikuti tawaan.
Laki-laki bersurai kuning kini mendekati Sarada, ia hendak membisikan sesuatu.
"Selamat yah kau sudah dapat ayah baru" Bisik Inojin pada Sarada.
"Hemm , aku sangat senang sekali"
"Bicara soal keluarga kenapa tidak ada mirip-miripnya denganmu Sarada. Kukira ayahmu mempunyai rambut hitam sepertimu" Balas Chou-Chou seraya memperhatikan ayah baru Sarada.
Anak berkacamata itu tersenyum hambar pada sahabatnya. Setelah difikir-fikir memang benar apa kata Chou-Chou. "Ahh itu aku tidak tahu".
Sasori yang sedari tadi mendengar perkataan anak-anak itu , ia mencoba membantu sarada untuk meluruskan kebenaran.
"Hey hey hey , asal kalian tahu anak-anak. Ini trend model rambut baru, dulu rambutku hitam seperti Sarada loh. Dan aku orang tua paling gaul disini, hahahah" Ucap Sasori narsis didepan anak-anak.
"Orang tua Sarada memang gaul ya, ibunya berwarna Pink sedangkan ayahnya berwarna merah. Kau cat saja rambutmu menjadi Hijau Sarada, hahaha"
-Pletak- Sarada menjitak kepala Chou-Chou. "Itu tidak lucu"
Panitia pelaksana perlombaan telah mengumumkan lomba selanjutnya, yaitu menggendong istri. Boruto, Inojin, dan lain-lain begitu antusias mengajak kembali orang tuanya untuk ikut serta dalam lomba itu.
"Apa? ibu tidak mau Sara-chan" Tolak Sakura. Mana mungkin ia mau digendong oleh Sasori toh pria itu bukan suaminya kan.
"Ayolah ibu , sekali saja aku belum pernah melihat ayah dan ibu bermesraan"
-BLUSH- wajah Sakura mendadak memerah saat Sarada bilang begitu.
"Ikuti saja kemauan Sarada. Jika tuan Shikaku mengetahuinya kau akan dipecat loh. Ayo , punggungku sudah menunggumu" Ucap Sasori sambil berjongkok menunggu Sakura untuk digendong.
"Cieeee ... " Sarada malah mengompori mereka , lihat ibunya semakin memerah bak kepiting rebus.
Sakura kembali berfikir , jika ia terus mengacuhkan Sasori maka Sarada akan bersedih lalu ia akan curiga siapa pria itu sebenarnya. Hey Sakura apa kau sudah benar-benar melupakan Sasuke?
"Baiklah aku melakukan ini untuk Sarada , bukan untukmu. Mengerti kau Sasori" Desis Sakura penuh penekanan pada Sasori membuat pria itu terkekeh geli.
"Hahaha , aku tak percaya itu. Ayolah akui saja kalau kau masih menyimpan hati padaku" Tanpa menunggu aba-aba lagi Sasori dengan cepat menggendong Sakura.
.
.
"Disini tempatnya?" Tanya Sasuke yang masih berada didalam mobil bersama Mitsuo. Matanya memandang lurus kedepan melihat aktifitas disekolah itu.
"Iya" jawabnya singkat tanpa menoleh sedikitpun pada Sasuke.
Pria bermata Onyx tersebut membukakan pintu mobil lalu turun diikuti sang anak dari belakang.
"Disini sedang ada perlombaan, kau mau ikut Mitsuo?" Tanya Sasuke seraya melihat-melihat sekeliling sekolah Konoha.
"Aku akan ikut bersama ayahku , bukan dengan kau"
Heran anak itu masih marah pada Sasuke namun ia tetap tenang saja dan melakukan tugasnya untuk mendaftarkan Mitsuo di sekolah dasar tersebut.
'3 .. 2 .. 1 .. Goo'
Beberapa pasang suami istri berlarian sambil menggendong pasangannya mengeliling lapangan. Nampak keseruan dan deruan tepuk tangan menggema disana.
Sasuke yang penasaran berniat untuk melihat sekilas perlombaan itu bersama Mitsuo.
"Ahh ayah payah dia lamban sekali" Keluh Chou-Chou
"Cepatlah ayah kalahkan orang tua Sarada" Teriak Boruto menyemangati orang tuanya.
"Ayah ayolahh terus berlariii" Terak Sarada mengacuhkan ocehan Boruto.
Kedua pasang mata Onyx membulat seketika saat menyaksikan seorang perempuan dengan helaian merah mudanya. Ya dialah wanita pujaannya, dialah wanita yang selama ini ia cari, dialah istrinya. Ia merasa bahagia ketika menemukan istrinya , tetapi hatinya merasa tercubit ia tak mengharapkan pertemuan seperti ini.
"SA-KU-RA" Ucap Sasuke pelan. Kebahagiaan itu sepertinya akan segera sirna , kenyataannya Sakura sudah berama pria lain. Dia tertawa bebas bersama pria itu, ya pria yang selama ini Sasuke benci.
Sasuke mengepalkan kedua tangannya dibawah, betapa marahnya ia saat ini. Tapi Sasuke harus bisa menahannya dan segera melancarkan aksinya saat tiba waktunya. Bersabar itulah intinya.
'Sasori , tak akan kubiarkan kau menyentuh istriku. Tunggu pembalasannku, aku sudah tahu kelemahanmu sekarang' Umpat Sasuke dalam hati, hasratnya bergejolak seketika ingin rasanya menghantam wajah memelas milik Sasori. Namun Sasuke mati-matian menahannya.
Rencana demi rencana ia susun secara rapi , mulai dari Amnesia hingga kembalinya Sakura ketangan Sasuke.
To Be Continue
A/N : Hai minna Aitakatta jumpa lagi hehe, satu kata dari Mei , maaf lamaaaa updatenya. Fic ini udah lama Hiatus selama ramadhan hehe dan sekarang akhirnya bisa update juga.
silahkan coret-coret dikotak review aku udah kangen sama review kalian semua hehe.
