AITAKATTA
Belong to © Kishimotto sensei
Story Original by my Self
Rated : M
.
Warning : AU, Thypos, BadFic, and many more
.
.
Don't Like , Don't Read I warn you please dont hurt me
.
.
Happy Reading !
"Ayah hebat bisa mengalahkan ayahnya Boruto, ake senang sakali" Sarada menghamburkan pelukannya ketubuh Sasori, sementara Sakura hanya melempar senyum.
"Ibu kau lihat kan tadi saat ayah berlari lalu dia menggendong ibu ahh aku senang sekali melihat kalian bisa tertawa" Sarada mendongkakan kepalanya kearah Sakura. perempaun bersurai pink itu memalingkan mukanya lalu berlalu pergi menuju dapur.
"Ibu?"
'Sarada maafkan ibu. Sepertinya kau harus segera mengetahui ini, aku tak bisa terus menyembunyikannya'
Sakura membalikan kakinya dan berjalan ke kamar, matanya langsung menangkap satu objek yaitu bantal yang berada diatas kasur. Tangannya menjamah setiap inchi tempat tidur itu, wajahnya mengkerut, benda berharga itu tidak ditemukan. Sakura melempar bantal kelantai, mencari-cari foto pernikahan itu.
"Kemana fotoku? Kalau hilang bisa gawat itu benda terakhirku bersama Sasuke kun" Sakura membuka sprei yang membalut kasur pegasnya. Nihil masih tidak ditemukan.
Punggung Sakura sedikit panas , merasakan kehadiran seseorang. Benar, ada Sasori dibelakangnya sedang memperhatikan Sakura.
"Sasori" Ucapnya pelan namun masih terdengar, ia masih dalam posisinya memunggungi Sasori.
"Kau mencari sesuatu, anata?".
"Kemanakan fotoku, kau pasti yang mengambilnya. Iya kan?" Nadanya berubah menjadi kemarahan, Sakura sudah lama bersabar dan takar kesabaran itu suatu hari bisa habis juga kan.
"SASORI". Bentaknya seraya membalikan tubuhnya. Sasori mendekati wanita yang sedang duduk dikasur dengan posisi duduknya sedikit mengangkang. Otaknya mulai bekerja Sasori menyeringai, ia semakin mendekatkan dirinya ke Sakura.
"Apa yang kau lakukan, cepat jawab aku dimana foto pernikahanku bersama Sasuke?" ucapnya dengan lantang.
"Nanti akan ku kembalikan, sebanyak yang kau mau dan foto itu akan berubah menjadi aku dan dirimu, Sakura". kepala merah itu memiring, sudah tak sabar ingin melahap bibir ranum milik Sakura.
"Brengsek , menjauhlah dariku" Sakura menendang perutnya hingga tersungkur kelantai. Sasori memegang perutnya yang terasa ngilu dan mual.
"Dasar keras kepala, mau sampai kapan kau memikirkan lelaki itu Sakura. Sebentar lagi kita akan menikah"
"Aku tidak mau menikah denganmu, aku tidak mencintaimu lagi"
"Kalau begitu, aku akan membuat kau kembali mencintaiku. Malam ini akan menjadi malam seperti dulu dimana kita bercinta disebuah gudang itu, hemm apa kau masih ingat?"
Wajahnya merona, mata Sakura membulat seketika saat kembali terbayang-bayang dirinya bersama Sasori dulu.
"Kau kaget? Aku tidak akan melupakan kejadian itu, aku masih ingat dengan suara desahanmu itu"
Sakura menutup kedua telinganya dengan tangan. "Diaaammm"
" .. lalu kau bilang padaku, 'cepat Sasori-kun aku sudah tidak tahan' setelah itu aku kembali memasukan kejantananku kedalam liang surgamu itu. Ahh .. nikmat sekali punyamu masih sempit waktu itu" desahnya seraya menatap Sakura dengan seringai mesumnya.
"Diiaamm brengsek .!" Sakura memutarkan kepalanya secara kasar.
" .. aku masih ingat darah perawanmu menodai seragamku. Hampir 3 hari aku tidak mencucinya karena itu begitu berharga bagiku. Ahh ayolah Sakura aku sangat merindukanmu hampir 10 tahun lebih kita tak melakukannya lagi" Pemuda itu sudah dipenuhi hasrat birahi, ada yang sesak dibawah sana.
"Jangan mendekat, kalau mendekatiku aku akan berteriak". Tahan Sakura , namun nihil pemuda itu sudah sangat dekat bahkan sangat dekat.
"Cobalah berteriak, tidak aka nada yang menolongmu. Lagipula kita sudah tinggal serumah disini dan aku belum melakukan sesuatu padamu". Seringai Sasori masih bertahan, tetap cuek tapi terlihat manis.
"SASUKEEEEEE ..." Teriak perempuan muda itu tetapi dengan cepat Sasori menyumpal mulut Sakura dengan bibirnya. Sekali lagi emerald itu terbelalak mendapat sentuhan dari sang lelaki bejat ini. Sakura memberontak memohon memelapskan pagutan mereka, nampaknya pemuda itu tetap tak mengizinkannya. Ia malah memegang tengkuk Sakura lebih dalam dan hanyut kedalam ciumannya.
Tak ada rasa nikmat didalam ciuman itu, bagi Sakura ini merupakan suatu musibah. Sakura mengulum bibir bawah milik pria itu, dan nampaknya Sasori menikmatinya. –krek-
Sakura mengigit daging kenyal itu cukup keras. Akhirnya pemuda itu melepaskan pagutannya, ia menyeka saliva yang membasahi bibirnya.
"Tch, dasar munafik" Desis Sasori.
"Jangan harap kau bisa menyentuhku lagi" Sakura berjalan tidak dia berlari keluar dari kamarnya.
Dengan perasaan yang masih bercampuraduk antara menyesal dan terasa bersalah akhirnya syaraf didalam otak Sakura bekerja, lagi iris emerald itu mengeluarkan cairan bening.
'Hiks .. Sasuke , Sasuke' lirih Sakura penuh kesedihan.
Kaki-kaki jenjangnya telah memebawanya kesuatu tempat. Sebuah kaffe kecil yang ada dipinggir jalan, langkahnya semakin tak menentu bahkan ia hampir menabrak orang-orang disana.
"Hey kalau jalan hati-hati nona" Bentak seorang pemuda kesal , Sakura tak menggubrisnya ia terus memasuki kafe itu.
Alunan musik Jazz menggema disetiap penjuru ruangan , dijam-jam seperti ini sudah saatnya para orang dewasa berpesta sake. Sakura berniat untuk minum juga, tapi sendirian.
Ia memasuki ruang yang disekat-sekat oleh penghalang berupa bambu.
"Sakenya satu" ucapnya parau sambil menenggelamkan kepala pink nya diatas meja, tak peduli siapa disampingnya sekarang. Ia hanya ingin menyendiri dan tak ingin diganggu, itu saja.
Ada satu pria disamping Sakura nampaknya sudah mabuk berat tercetak diwajah tampannya sudah memerah sebagian.
Bahkan sepertinya mengangkat tangannya saja sudah tak mampu. Sekilas Sakura melirik pria tampan bersurai raven panjang yang menutupi sebagian wajahnya.
'Dia ..' batin Sakura kemudian ia menggelengkan kepalanya cepat.
'tidak , dia sudah tidak ada'
Pelayan yang membawa sake meletakan dimejanya kemudian ia kembali berjalan.
"Permisi tuan, anda baik-baik saja?" Tanya Sakura pada pemuda itu, ia memberanikan diri untuk bertanya pada laki-laki itu karena terlihat sangat mengkhawatirkan dengan melihat keadaannya saja.
Tak ada respon, sakura mengangkat bahunya acuh, kembali pada dirinya ia menuangkan botol hijau kedalam gelas kecil lalu Sakura meneggaknya lalu begitu seterusnya hingga tetes terakhir.
"Hik~ .. hey kau seperti suamiku , Hik~" Kata Sakura yang sedari memperhatikan pria itu , benar kata orang, seseorang yang sedang mabuk selalu berkata jujur.
Merasa terganggu akhirnya laki-laki itu mengangkat wajahnya, lihat wajah sayu nya terlihat ~errr , tampan, efek dari minum terlalu banyak.
"Ng .. kau mengganggu saja nona tidak lihat aku sedang tidur. Aku lelah sekali hari ini, bahkan hatiku juga terasa sakit saat melihat wanita yang kucintai bersama orang lain. Sakitt sekali, hik~" Ucapnya dengan nada parau, matanya sesekali menerjap-nerjap kearah Sakura.
"Hahaha benar-benar brengsek sekali wanita itu yah , mengacuhkan laki-laki setampan kau .. Hik~" Balasnya. Yah keduanya benar-benar sudah mabuk.
"Nona kau cantik sekali, apa kau mau jadi istriku?" Tawar pemuda itu tak lain adalah Sasuke, suaminya sendiri. Efek mabuk keduanya saling tak mengenal satu sama lain , mereka tak menyadarinya.
Keduanya dipertemukan dalam keadaan seperti ini, ah sudahlah takdir menentukan mereka harus bersama.
"Ah aku jadi teringat suamiku yang sudah meninggal akibat kecelakaan kereta api , hik~. Sasuke-kun aku mencintaimu huwaaaaaa" Sakura menangis dipelukan pria itu, air matanya tumpah disana. Sasuke mengusap puncak kepala Sakura dengan pelan.
"Turut berduka atas kematian suamimu yah, menangislah dipelukanku nona aku bersedia menampungnya hik~" Ucapnya diiringi cegukan kecil. "Kau benar-benar yakin kalau suami mu sudah meninggal?". Lanjutnya.
"Yah , seseorang yang memberitahuku kalau Sasuke sudah meninggal, hiks" Jawabnya sambil menyeka air matanya oleh tangan.
"Siapa dia?" Sakura terus dihujani pertanyaan oleh Sasuke.
"Kau tak akan mengenalnya, percuma kalau kubilang juga , Hik~"
"Katakan siapa ?"
"Sasori, dia yang bilang. Laki-laki itu sudah menghancurkan hatiku dan sekarang dia ada dirumahku dan mengaku sebagai ayahnya Sarada, Hik~". Tutur Sakura masih dalam pelukannya sedangkan Sasuke hanya terdiam.
Sasuke menatap irish emerald Sakura yang semakin memerah, merasa kasihan Sasuke semakin mengeratkan pelukannya. Nyaman sekali, itulah yang dirasakan sang pria.
"Nona?" Tanyanya.
"Ng .." Balas Sakura seraya menatap wajah tampan Sasuke.
-CUP- secara spontan Sasuke mencium bibir ranum milik Sakura. Bau alcohol terasa sangat menyengat dihidung mereka membuat keduanya semakin bersemangat berciuman. Ya ciuman itu berubah menjadi frenchkiss sehingga menimbulkan bunyi kecipak disana, keduanya memainkan lidah dan memagut antara satu sama lain, serta deruan nafas yang menggebu-gebu sambil memegang tengkuk Sakura supaya ciuman mereka semakin dalam. Sasuke hampir kehilangan oksigen, ia melepaskan pagutannya hingga benang-benang saliva terputus dari bibir Sakura.
Sasuke dan Sakura larut dalam kenikmatan, kepedihan yang menyelimutinya kini menghilang begitu saja. Tangan-tangan kekarnya mulai jalan-jalan, menjamah setiap inci tubuh sang wanita terutama dibagian dua buah gundukan daging kenyal yang ukurannya tak terlalu besar. Perlahan Sasuke mengusapnya , penuh kenikmatan.
'nghh .. ' Sakura melengguh , meresapi setiap sentuhan pria asing –ralat, suaminya sendiri.
"Nona apa kau tidak marah?" Tanya Sasuke seolah meminta izin pada Sakura.
Perempuan itu hanya menggeleng pelan , bibirnya sedikit cemberut berharap Sasuke kembali menyentuhnya.
"Baiklah , kita anggap ini sebagai melepaskan rasa sakit kita. Lupakan semua masalahmu, tenangkan fikiranmu nona"
Aroma itu , yah aroma mint milik seseorang yang begitu dikenalnya. Begitu khas sekali, dan itu mengingatkan dirinya pada sang suami tercinta, Sakura terus menyesap aroma Mint yang memabukan itu. Kemudian Sasuke kembali mencium bibirnya , kini sedikit lebih keras dari sebelumnya.
"Ngghh .. ahhh" Sakura menjambak rambut raven milik Sasuke yang sedikit panjang. Menahan sensasi nikmat yang tercipta secara alami dari tubuhnya, sungguh nikmat.
Setelah sang pria puas menginvasi bibir Sakura , kini ia mencari jajahan lain. Sasuke tahu betul titik kelemahan sang istri, dirasa ia sedang bercumbu dengan istrinya Sasuke mengigiti cuping telinga Sakura.
"Ahh .. ahh " Desah sakura dan itu bagai irama indah di indra pendengaran Sasuke. keduanya benar-benar sudah larut dalam kenikmatan bercumbu. Dengan memberanikan diri Sakura membuka kancing kemeja baju miliknya satu persatu seolah menyuruh Sasuke menyentuhnya lebih dalam lagi.
Mata onyx itu bergulir menatap dua buah dada yang masih ditutupi bra berwarna hitam. Ah begitu menggoda.
Tanpa aba-aba , Sasuke segera menyentuhnya. Menarik tali bra hingga terputus sehingga menimbulkan bekas warna merah dipundak Sakura akibat tarikan Sasuke.
Sang pria dengan gemas melahap daging kenyal milik Sakura yang sudah menegang dan berwarna merah muda.
"Ahhh ,, " Sakura mengigit bibir bawahnya agar suara-suara aneh itu tidak lolos dari mulutnya. Namun Sasuke terus bermain dengan dada putih Sakura, ia meremas memilin meremas dan begitu seterusnya.
Tanpa mabuk saja seseorang pasti akan lupa diri ketika mereka sedang bercumbu, apalagi mereka yang terlebih dahulu dipancing oleh minuman beralkohol.
Sakura meremas dada bidang milik sang pria , rasanya begitu tak asing saat ia menyentuh otot-otot Sasuke yang masih terbalut kemeja biru dongkernya.
Ia mengerti itu isyarat kalau Sakura ingin lebih menjamah tubuh pria atletis ini.
Waktu menunjukan pukul satu dini hari. Mereka masih berada disana , ah lihatlah kedua pasang yang sedang dimabuk cinta itu masing-masing sudah setengah telanjang. Sasuke hanya membuka kancing bajunya saja begitupun Sakura.
"Nona , kau mengingatkanku pada istriku. Rasanya aku adalah pria yang paling brengsek dan berdosa telah bercumbu dengan wanita lain. Aku siap diceraikan istriku bahkan aku siap dibunuh oleh istriku sendiri hik~" Ucapnya dengan nada parau dan bicara sudah sangat kacau sekali.
Saat ini Sasuke sedang berada diatas tubuh Sakura sedangkan sang wanita saat ini sedang tertidur terlentang, ah lebih tepatnya duduk diatas tepat dikewanitaan Sakura, kedua alat vital mereka saling bertemu namun sepertinya tak ada pergerakan, Sasuke tidak melakukan in-out pada kewanitan Sakura.
Mata onyx nya mulai berkaca-kaca, ada nada menyesal disana.
"Tidak, tidak salahkan aku yang memintamu untuk bercinta denganku. Jika kau mati dibunuh istrimu maka aku juga akan ikut mati bersamamu, hiks .. huwaaaa .." Jawab Sakura mulai kemana-mana.
"Punyamu sudah terlanjur masuk, lebih baik kita teruskan saja" Pinta Sakura, bibirnya menyeringai seksi membuat Sasuke ingin lebih puas menikmati tubuh Sakura –err istrinya.
Sasuke sedikit menggeram tepat ditelinga Sakura.
"Siap ya hime , aku akan masuk lagi"
"Ahhhh ...ahhh ahhh .. " Jerit Sakura saat Sasuke mulai memainkan kejantanannya didalam liang kewanitaan Sakura yang sudah sangat basah. Cairan-cairan cinta mereka sudah keluar entah berapa kali dan ini sudah kedua kalinya mereka klimaks. Suara bising dikafe tak mengganggu aktifitas bercinta mereka. Ya inilah yang mereka inginkan, inilah yang mereka rindukan setelah sekian tahun lamanya tak jumpa.
'BRUKK' .. Sasuke ambruk ditubuh Sakura. Tubuhnya menghimpit dada Sakura yang masih polos tak ditutupi sehelai benang pun.
Mata Sakura tertutup seketika, ada dengkuran halus. Ya Sakura tertidur pulas sehabis lelahnya berhubungan intim bersama sang suami.
.
.
Sinar matahari menorobos masuk melalui setiap celah-celah jendela disebuah kafe. Dengan terpaksa Sakura harus bangun dari tidur nyenyaknya.
"Hoaaammm". Sakura itu menguap , perlahan tapi pasti kesadarannya kembali dan mata emerld itu terbuka. Sakura menguap lebar, menngeliat nikmat ia menutup mulutnya. Pungungnya terasa sedikit sakit karena ia tertidur dilantai yang beralaskan karpet saja terutama dibagian selangkangan.
Tunggu tidur dilantai, mata Sakura melebar kala melihat sekeliling ruangannya.
"Dimana aku?" Ucapnya panik. Sakura bangkit dari acara tidurnya dengan cepat. "Kenapa aku bisa ada disini? Ah kepalaku pusing sekali" ucapnya sambil memegang kepalanya.
Tiba-tiba seseorang menepuk bahunya dari belakang, -puk-
"Permisi nona, semalam anda tidur disini" ucap orang itu yang diketahui seorang pelayan.
"APA? yang benar saja kenapa kau tidak membangunkan ku"
Pelayan itu bukannya menjawab hujatan Sakura ia malah tersenyum tipis. "Maaf saya tidak bisa mengganggu anda semalam nona. Silahkan tinggalkan tempat ini sekarang juga karena kaffe ini akan tutup".
'Apa yang dibicarakan pelayan ini? tidak bisa mengganggu, apa maksudnya itu?' Sakura terus dipenuhi seribu pertanyaan. Sakura kembali mengingat-ngingat kejadian sebelumnya, tadi malam Sakura dicium paksa oleh Sasori kemudian dia datang ke kafe ini lalu minum sake. Itu saja yang dia ingat.
"Maaf, saya akan segera pergi" Sakura beranjak, membawa tas selempang kecil miliknya kemudian ia berjalan.
.
.
"Ibu semalam kemana?" Sarada mengercutkan bibirnya seraya melipat tangannya didada.
"Sara-chan , ano .. semalam ibu menginap dirumah bibi Hinata, maaf tidak memberitahumu sayang" Ah dapat ide darimana Sakura.
Kepalanya masih terasa pusing akibat minum alcohol terlalu banyak, dan yang paling ia rasakan sejak tadi, tubuhnya terasa sedikit sakit dang ngilu. Apa yang sebenarnya sudah terjadi selama aku mabuk? Batinnya.
"Kau sudah sarapan? Ayo ibu akan mengantarmu kesekolah".
Sayup-sayup Sakura mendengar seseorang yang sedang berbisik-bisik tidak, dia sedang bicara. Ah itu Sasori yang sedang bicara lewat telepon.
" ... kau masih tidak mempercayaiku, Karin? Seseorang telah menerorku lewat pesan singkat"
Sakura mengerutkan alisnya tanda tak mengerti, ia patut dicurigai.
Kepalanya yang tadi sedang menunduk , menguping pembicaraan Sasori dibalik tembok kini Sakura telah kembali kesemula karena Sasuke tak bicara lagi lebih tepatnya ia sudah selesai menelepon.
"Kemana saja kau semalam , Hah !" Ucapnya seraya mengangkat dagu keatas, ruapanya pria itu sedikit kesal.
"Bukan urusanmu" jawabnya singkat seraya melenggang pergi keluar guna mengantar Sarada pergi sekolah. "Ayo Sara-chan"
Sarada menatap sang ibu dengan ekspresi cemas, berharap ibunya tak terjadi sesuatu dengan ayahnya , err bukan tetapi orang asing.
"Ibu" Lirih sang anak
"Tidak sayang ibu baik-baik saja" ucapnya sambil menghidupkan mobil.
.
.
Elementary School, Konoha, Japan.
"Ohayougozaimasu". Pria berkacamata hitam dengan gagah memasuki kelasnya dengan menenteng beberapa buku ditangannya. Sang guru masuk kekelas tidak seorang diri, ia diikuti oleh orang asing yang sebaya dengan mereka.
"Ohayougozaimasu , sensei" Jawab semua murid serempak. Dengan cepat , murid-murid disana berbisik membicarakan orang itu.
"Pasti dia murid baru, aku jamin itu" Inojin menopang dagu seraya menatap anak yang bergender laki-laki itu.
"Tch , murib baru ya. Akan kubuat dia tidak betah tinggal dikelas ini" Ucap Boruto sinis, merasa paling berkuasa ia tak mau ada saingan lai terlebih lagi anak itu terlihat begitu menarik atau lebih tepanya tampan.
Chou-Chou mengguncang-guncangkan tubuh mungil Sarada yang sedang asyik membaca buku. "Sarada lihat , kurasa aku pernah melihat dia disuatu tempat tapi dimana yaa".
Dengan malas sarada terpaksa menoleh kearah yang dimaksud sahabatnya itu. "Memangnya siapa?".
"Entahlah kupikir mereka memang saudara atau apa. Oh astaga kenapa otakku susah sekali mencerna sesuatu" Chou-Chou menjambak rambutnya kesal.
Shino selaku wali kelas mempersilahkan anak itu untuk memperkenalkan diri. "Nah kau tinggal sebut namamu saja dan apa kesukaanmu". Dia mengangguk , anak bersurai merah itu sedikit melangkah kedepan.
"Watashi mo namae wa , Akasuna no Mitsuo desu. Aku tak akan mengatakan apa yang kusuka dan apa yang aku tidak suka, hm. Yoroshiku onegaishimasu". Mitsuo membungkuk dihadapan teman-teman barunya. Wajah datarnya itu membuat seisi kelas gaduh terutama dikalangan perempuan.
"Sial kita hanya mengetahui namanya saja"
"Bicaranya menyebalkan sekali ya, apa hanya itu kosa kata yang dia bisa katakan?"
"Wajahnya imut sih tapi kelihatannya dia anak yang sedikit angkuh"
Shino menggelengkan kepalanya pelan , tersenyum simpul didepan murid baru itu. "Kau tak mau memperkenalkan dirimu lebih banyak lagi pada teman-temanmu, yah seperti makanan favoritemu atau film kesukaanmu atau-"
"-Itu tidak penting" potong Mitsuo.
"Hey siluman berrambut merah, jaga bicaramu itu !" Boruto marah , ia berdiri dari kursinya .
"URUSAI" Balasnya singkat seraya berjalan melewati Boruto lalu duduk dibangku kosong paling belakang, sekilas ia melihat Boruto mengepalkan tangannya. Sarada yang sedari tadi memperhatikan Mitsuo, rasanya ada sesuatu dengan teman barunya itu. Apakah ini pertanda baik ataukah sebaliknya ..
"Dia ... aku melihat matanya sama denganku. Dia ... "
To Be Continue
