AITAKATTA
(Aku Ingin Bertemu)
Disclaimer : Kishimotto Sensei
WARNING !
Typo, AU, BadFic And many more
.
.
Don't Like, Don't Read ! I Warn You !
.
.
Happy Reading
Terpisahkan beberapa kilometer dari sang putri, Sakura terus memacu mobilnya dengan kecepatan penuh. Masabodo fikirnya sekarang ada dimana yang terpenting Sarada harus kembali ketangannya, ia sudah tak bisa menyembunyikan lagi perihal ayah dari Sarada. Hatinya sudah yakin kalau ia akan memberitahukan semuanya kepada Sarada bahwa sang ayah masih hidup kemudian ia berlanjut mencari Sasuke dan kembali berkumpul seperti sedia kala.
"Fuck ! Sasori. Takkan kubiarkan kau lolos" Pekik Sakura , memukul-mukul Dashboard mobil.
.
.
Sasori yang melaju dengan kecepatan dibawah 60km/jam bersama Sarada yang masih setia dibelakangnya. Saat ini ia hampir memasuki area distrik yang disebutkan si peneror.
Berkali-kali lelaki itu menyumpah serapahi Sasuke yang telah mempermainkannya dan berani menyandera Sang putra. Hey apa kau masih belum sadar apa yang kau lakukan sekarang.
Tiba-tiba mobil sedan hitam melaju dari arah yang berlawanan. Si mobil hendak menghentikan laju motor Sasori dengan membanting setir kekiri dan berhasil menghalangi sebagian jalan. Lelaki berhelai merah darah itu dengan terpaksa mengehentikan motor sport-nya yang hampir menabrak dan hampir terjatuh. Sarada panik, begitupun Sasori. Puas campur kesal menyelimuti hatinya, karena ia rasa didalam mobil itu adalah Sasuke.
Ia melempar helm-nya kesembarang arah sekaligus menyalurkan kekesalan. Ia turun dari motornya , menghampiri sipengemudi gila yang hampir menghilangkan nyawanya.
Sasori memukul-mukul kaca jendela mobil tanpa perasaan. Sarada ketakutan, ia masih duduk diatas motor Sasori.
"A-ayah" lirih Sarada takut.
Dok … dok … dok …
"Woy keluar kau brengsek , kembalikan anakku sekarang juga" Pekik Sasori setengah teriak. Urat-urat kesal bermunculan didahi lelaki bertampang imut itu.
"Jangan sebut aku pecundang sebelum kau mengakhiri sandiwaramu itu. Cepat keluar SASUKE !"
Kaca jendela mobil yang agak gelap itu sedikit-sedikit terbuka. Sasori kaget setengah mati saat melihat sipengemudi itu. Orang itu bukan si peneror apalagi Sasuke.
"Hai Brother , lama tak jumpa" ucapnya sambil tersenyum dan mengangkat tangannya seolah meremehkan Sasori. Seringainya yang khas membuat Sasori kembali teringat dengan dia –saudaranya , yang selalu dibayangi ketakutan.
"G-Gaara !" bulir-bulir keringat bercucuran dipelipis silelaki bertampang imut itu. Ia kaget sampai jatuh ambruk kebelakang.
"Kau tidak perlu memasang tampang seperti itu , Otouto" Gaara keluar dari mobilnya yang hendak mencengkram leher Sasori. "Itu adalah ekspresimu saat membunuh Matsuri, kemudian kau melarikan diri dan aku yang terkena getahnya"
Sasori terdiam, tubuhnya bergetar. Sarada yang semakin panik tak ingin melihat ayahnya terluka.
"Ayah , larilah !" Saran Sarada setengah teriak. Gaara menoleh kesumber suara, ia kembali menyeringai.
Gaara tersenyum kearah Sarada. "Waw sungguh kejutan sekali kau sudah dipanggil ayah" Dengan cepat ia berlari kearah Sarada dan –HUP- bocah perempuan itu ditarik paksa turun dari motor lalu digendong kebahu Gaara, Sarada memukul-mukul punggung Gaara dan meronta ingin diturunkan.
"Kyaaaaaaaaaa lepaskan aku ! " Teriak Sarada meminta pertolongan tapi Gaara tetap bersikeras menggertak Sasori.
"Seperti inilah detik-detik kematian Matsuri setelah dibunuh olehmu, kau ingat? Dan sekarang aku akan melakukan hal yang sama seperti yang kau lakukan dulu. Kau sudah menghancurkan kebahagianku dan sekarang aku akan menghancurkan kebahagianmu juga dengan membunuh anakmu" Ancam Gaara pada adiknya. Sasori menutup telinganya dan menggeleng kasar namun nihil kata-kata Gaara masih tertangkap oleh indra pendengarnya.
Sarada semakin ketakutan, ia terus meronta hingga kacamata merahnya terjatuh bebas ketanah.
"Lalu setelah itu kau frustasi dan hampir gila , melampiaskan kekesalanmu dengan menjadi seorang pengedar narkoba" lanjutnya yang masih membopong Sarada.
"T-tidak aniki, tidak seperti yang kau bayangkan. Dulu kita salah paham, aku hanya mencoba mengehentikan Matsuri" Bela Sasori mencoba menjelaskan semuanya.
"DIAM kau mulut kotor, bukti mengatakan bahwa kau pelakunya. Harusnya kau yang mendekam dipenjara, bukannya aku !" Gaara memutar balikan fakta dan itu membuat Sasori syok. Ia mengeluarkan sesuatu dibalik jaketnya, itu adalah senjata api berupa Revolver.
Mata Hazel-nya membulat sempura , tak diduga Gaara membawa senjata api yang entah didapat dari mana dan sudah pasti ia tak punya izin memiki senjata itu.
Dengan cepat Sasori berlari menghampiri motornya , berniat untuk kabur dari sana dan kembali menyusul Mitsuo yang sedang dalam bahaya.
"Mau kemana kau , brengsek ! Jangan coba-coba lari dariku" Umpat Gaara kesal. Sasori benar-benar ayah yang buruk, ia memilih melarikan diri dibanding menyelamatkan Sarada, begitu fikir Gaara. Ya pada kenyataannya Sarada bukan anaknya, peduli dia dalam bahaya ataupun mati karena itu adalah anak Sasuke.
"Kurang ajar" Gaara membidik Sasori kemudian menarik pelatuk senjata api itu yang diarahkan ke Sasori.
DHUAARR … satu peluru melesat kesamping , beruntung tidak mengenai apa. Tak disangka Gaara benar-benar niat untuk membalaskan dendam pada dirinya. Inilah hal paling ditakutkan oleh lelaki bertampang imut itu, kembalinya sang kakak.
"Berhenti ! " Ucapnya kembali seraya mengarahkan pada Sasori. Sarada kaget , ia gemetar ketakutan sambil menutup kedua telinganya.
DHUAARR .. (sfx pistol)
"Arghhhh .."
"AYAH !" teriak Sarada.
peluru itu kembali melesat dan menimbulkan bunyi bising yang terdengar hingga radius beberapa meter. Dan peluru kedua berhasil mengenai lengan kiri Sasori, cairan kental berwarna merah pekat perlahan merembes keluar dan membasahi bajunya. Sasori mengigit bibir bawahnya menahan rasa sakit dan panas itu yang seolah-olah seperti terbakar api.
-Brummm , Sasori berhasil menyentuh motornya dan menghidupkan motor , melaju dengan kecepatan penuh sambil menahan luka tembaknya.
Gaara semakin geram , ia terus melayangkan peluru.
DHUAARR
DHUAARR
"Tch .. Kuso" umpat Gaara kesal. Ia masih tetap dala posisinya , menggendong Sarada. Kemudian ia masuk kedalam mobilnya bersama Sarada. Lalu mengejar Sasori yang berhasil kabur.
.
.
Sayup-sayup Sakura mendengar suara keras dari arah selatan. Kali ini ia mengikuti insting , mengikuti jalan dimana suara itu berasal. Ia yakin disana sedang ada sesuatu, tak disangka hari ini akan benar-benar melelahkan dari yang ia duga.
"Sarada , ibu datang nak" Raut kecemasan mulai menghiasi wajah cantik Sakura. Ia menarik gas dengan kecepatan penuh diatas 60km/jam. Ia hampir memasuki tempat asing, yaitu distrik sepi yang berada di Konoha. Jalanannya yang tak ramai membuat Sakura leluasa mengemudikan mobil.
Matanya menyipit kedepan seperti sedang melihat sesuatu. Ada cahaya menyilaukan ditengah jalan. Ia berniat untuk berhenti dan melihatnya.
Itu adalah benda berharga milik sang anak, kacamata merah milik Sarada.
"SARADA !" Sakura mencengkram keras kacamata itu. Fikiran-fikiran negative berhasil menghantui dirinya. Naluri seorang ibu memang sangat kuat, ia tahu Sarada sedang dalam bahaya.
Keadaan disana kacau , ada bekas seperti gesekan mobil dijalan yang direm secara paksa dan ada noda darah. Sakura semakin khawatir , ia tak mau ditinggalkan sang anak. Cukup sudah Sasuke dulu meskipun sekarang sudah kembali tapi tetap saja peran anak sangat penting disini.
Sakura kembali ke mobilnya dan melanjutkan perjalanannya menuju Sarada.
.
.
.
Sasori memarkirkan motornya dipinggir jalan. Disana sudah ada Sasuke yang sedang berkacak pinggang menatap Sasori penuh amarah.
"Aku tahu dari awal kalau kau hanya pura-pura saja, ahh" Ucap Sasori parau karena ia masih merasakan sakit yang terus menjalar disekitar tangannya.
"Aku sedang tidak meminta kau untuk membahas ini. Mana istriku? Kenapa kau tidak membawanya" pinta Sasuke kasar. Secara tidak langsung dia sudah membuka topengnya sebagai si penderita amnesia.
"Sial, mana kutahu dimana dia berada" Jawab Sasori tak sabaran.
"Hoy apa kau lupa perjanjiannya. Aku akan membebaskan Mitsuo setelah Sakura kembali padaku apa kau sudah lupa atau kau memang benar-benar bodoh". Pekik Sasuke meracau disana. "Aku sengaja mengikuti permainanmu sampai kau nekat akan menikahi Sakura. Kau tahu Mitsuo akan sangat benci melihat kelakuan ayahnya yang seperti ini".
"K-kau tahu dari mana aku akan menikahi Sakura?"
"BAKA .. aku tahu semuanya saat kau menelepon Karin. Apa kau lupa aku tinggal dirumahmu semata untuk mengawasi pergerakanmu" Sasuke menyeringai penuh kemenangan. "Bahkan usahamu untuk menyingkirkan Sakura dariku itu sudah gagal. Aku sudah bertemu dengannya di kafe. Dia berkata kalau kalau aku sudah meninggal akibat kecelakaan kereta api"
Sasori diam.
"Ironis sekali bukan, kau membuat yang permainan tetapi kau sudah Game Over dipermainanmu sendiri. Sudahlah akhiri saja Sasori cepat kembalikan Sakura".
Sasori termangu, diam tanpa ada perkataan, tiba-tiba ia tertawa seolah kecewa seperti orang yang tak tahu malu.
"Mbbhahahahaha … SAKURA , kenapa wanita itu sulit sekali aku lupakan. Kenapa kau menikahi lelaki ini bukannya aku" Teriak Sasori setengah kesetanan seraya menunjuk-nunjuk Sasuke, sebesar itukah dia mencintai Sakura hingga nekat melakukan kejahatan dan memalsukan ststus orang yang masih hidup telah meninggal.
"AYAHH …" Mitsuo berteriak keras didalam mobil saat mendengar teriakan Sasori barusan. Keadaanya sangat kacau, keringat terus bercucuran dipelipis Mitsuo, ia kepanasan didalam mobil.
'dok .. dok ..dok' Mitsuo memukul-mukul kaca mobil Sasuke, tidak mobil Karin maksudnya.
"Tolong aku ayaaaahhh"
Sekilas ia mendengar suara bocah laki-laki yang tak asing telinga Sasori. Itu adalah anaknya sendiri yang sedari tadi ia cari dan itu tujuannya dari awal datang kemari untuk menyelamatkan Mitsuo.
"Kau mengurung anaku dimobil? Kembalikan kuncinya" Pinta Sasori, ia berlari menuju mobil yang ditumpangi Mitsuo. Dengan cepat Sasuke segera menghampirinya, menahan Sasori menyentuh mobil itu.
Dan akhirnya , JDUAKK .. Sasuke melayangkan tinjunya kemuka memelas Sasori. Mitsuo menutup mulutnya kaget, ia melihat ayahnya sendiri dihajar orang kurang ajar tepat didepan matanya.
Ia terpuruk ketanah , mengusap cairan kental merah yang keluar dari sudut bibirnya dengan punggung tangan, kemudian Sasori bangkit dan membalas pukulan Sasuke. Dalam keadaannya yang tak stabil akibat luka tembakan yang dibuat Gaara tadi, tubuhnya sedikit lemas.
Sasuke berhasil menahan tangannya. Ia meremas kepalan tangan Sasori, namun kakinya melayangkan tendangan ke kaki Sasuke tepat ditulang kering nya.
-DUAAK .. Sasuke melepaskan cengkramannya , ia meringis kesakitan. "Brengsek" umpat Sasuke kesal.
"Ayaahh , tolong aku" teriaknya lagi didalam mobil. Sedangkan Sasori dengan Sasuke sedang berjibaku melampiaskan emosi yang mereka tahan dari dulu. Sangat dulu ketika Sasuke belum dipenjara.
Sasuke terus melayangkan pukulan demi pukulan menghantam wajah memelas Sasori begitupun lelaki itu ia terus memberikan perlawanan walau harus menahan sakit dilengan kirinya. "KEMABALIKAN KUNCI MOBILNYA !" Teriak Sasori disela kegiatan berkelahinya.
"TIDAK AKAN !" –BUK- , Sasuke meninju pelipis Sasori hingga menimbulkan luka lebam kemudian Sasori melawannya dengan menerjang tubuh Sasuke hingga mereka berdua kehilangan keseibangan jatuh kelimpungan ke tanah. Sasori berusaha merampas kunci mobil yang berada di saku baju Sasuke tapi usahanya gagal kunci itu terlempar karena tubrukan barusan. Keduanya berebutan mengambil kunci yang jaraknya hanya satu meter dari mereka, Sasori dan Sasuke merangkak meraih kunci mobil, Sasuke membanting tubuh Sasori kemudian ia memberi perlawanan dengan menarik tubuh Sasuke yang terus merangkak.
-DHUAARR- bersamaan dengan bunyi suara senjata api, kunci mobil itu terlempar semakin jauh beberapa meter. Mereka berdua sontak menghentikan perkelahiannya, menelusuri dari mana suara keras itu berasal.
Benar dugaan Sasori, itu adalah suara senjata api Gaara. Tak disangka Gaara cepat menemukan Sasori disana yang sedang adu jotos dengan Sasuke. Lihat keduanya sangat kacau sekali terutama Sasori, Sasuke hanya mengalami luka lebam saja serta bajunya kotor akibat bergulat dengan sirambut merah.
"GAARA ?!" Ucap mereka bersamaan. Sasuke kaget begitupun Sasori kenapa ia mengenal lelaki bertampang preman itu?
"SASUKE kebetulan sekali bertemu kau disini. Cepat habisi si bajingan itu" Teriak Gaara sambil menunjuk Sasori dari kejauhan, tangannya masih memegang senjata.
"JANGAN BUNUH AYAHKUUU … !" Cegah Sarada setengah teriak pada lelaki berhelai raven yang serupa dengannya namun awut-awutan itu, tangan-tangan kecilnya dicengkram keras oleh Gaara.
Gaara kesal karena bocah ini berusaha ikut campur dengan urusannya, ia menempelkan pistol dikepala sang bocah.
Sasuke mengangkat alisnya tak mengerti, otaknya mencoba mencerna kata-kata dari bocah perempuan itu. Bukankah anak Sasori sedang ia kurung didalam mobilnya? Dan lagi kenapa anak itu berada ditangan Gaara, itu kan teman sekelasnya Mitsuo tadi, apa yang sebenarnya terjadi? Sasuke dihujani pertanyaan dibenaknya.
"Gaara sedang apa kau disini? Dan kenapa bocah itu ada ditanganmu" Tanya Sasuke masih dengan posisinya , tengkurap bersama Sasori.
"Aku sedang melakukan balas dendam pada orang yang disampingmu" Jawab Gaara sambil menodongkan pistol dikepala Sadara. Anak itu sungguh ketakutan, lututnya bergetar air matanya turun membasahi pipi manisnya.
Sasuke tak mengerti. "Apa masalahmu dengan bocah itu?" Sasuke sedikit iba melihat anak perempuan tak berdaya itu, entah rasanya ia begitu tak rela melihat bocah perempuan itu dalam bahaya ditangan seorang tahanan yang kabur.
Tiba-tiba satu mobil lagi datang menghampiri mereka. Mobil yang sama dengan milik Sasuke, mobil perusahaan Nara. Sipengemudi turun , ia berlari sambil memegang kacamata merah anaknya.
"SARADAAA .. !" Pekik Sakura keras , panik. Ia tak fokus dengan keadaan disana, difikirannya hanya sang anak yang dalam bahaya.
"Tch , siapa lagi dia SASORII !" Teriak Gaara seraya menunjuk Sakura yang baru tiba di TKP. Sakura menoleh kesumber suara pria itu, otaknya baru konek, Sarada tidak kecelakaan tapi ini lebih buruk dia ada dalam genggaman pria asing.
"IBUUU TOLONG AKU , Hiks .." Sarada mencari pertolongan pada ibunya karena pada akhirnya sang ayah-Sasori tak kunjung menolong.
Betapa senangnya hati Sasuke, tanpa ia sangka sang istri muncul dihadapannya. Walaupun tidak tercantum dinaskah rencana Sasuke tapi ini kabar gembira.
Pria itu bangkit dari acara gulat berebut kunci dengan Sasori, ia beralih kepada istrinya. Melupakan kejadian barusan, Sasuke mencoba memanggil Sakura.
"SAKURAA ..uhukk " Sasuke melambaikan tangan kearah sang wanita. Senyum lebar merekah diwajah tampan si bungsu ini. Ia belum sadar seseorang disampingnya sudah menghilang.
Orang yang dipanggil menoleh kesumber suara, matanya menyimpit mencoba melihat orang itu. Nihil semua tak jelas karena terhalangi oleh mobil yang serupa dengannya, itu adalah mobil yang didalamnya ada seorang bocah ber-rambut merah, tapi telinganya masih sama seperti dulu. Suara itu , yah suara baritone milik seseorang yang ia rindukan selama ini.
"Jangan-jangan dia .." Sakura menyimpulkan. "SASUKEEEE … SASU ,, ehmppp " Sakura dibekap oleh Sasori dari belakang. Ia menyeret perempuan itu mencoba masuk ke mobil Sakura tetapi nihil , dia melupakan kehadiran Gaara disana.
"Bajingan , jangan lari kau !" Gaara mengarahkan senjatanya ke arah mereka dalam jarak yang cukup dekat.
Saat hendak menarik pelatuk, Sarada tak tinggal diam. Dengan seluruh keberanian yang ia miliki, Sarada mendorong tubuh Gaara kebelakang hingga terhuyung.
-DHUAAARR- peluru lolos ke udara dan Revolver tersebut terlempar.
"Sialan" umpat Gaara kesal. Sarada berhasil lolos dari cengkraman paman bertato kanji 'Ai' itu. Bocah itu berlari menuju orang tua mereka, tapi alangkah terkejutnya ia melihat pemandangan langka. Kenapa sang ayah bertindak kasar pada istrinya sendiri.
"A-ayah kenapa?" Tanya Sarada bingung. Sakura meronta-ronta minta dilepaskan dari Sasori.
"Bocah , ayahmu disebelah sana. Dan mulai detik ini jangan panggil aku ayah lagi" pekik Sasori kesal seraya menunjuk Sasuke yang lemas tak berdaya. Rupanya ia menyerah juga mengingat keadaan Sasori sudah sangat kacau sekarang. Ia memberitahukan semuanya pada Sarada bahwa ayahnya alias Sasuke masih hidup. Hati Sakura sedikitnya lega karena Sasori telah memberitahukan rahasianya yang selama ini ia pendam. Tapi apakah semua itu benar-benar akan menjadi lebih baik?
Sasuke termangu , diam tanpa kata. Rasa tak percaya mungkin saja karena selama ini Sasuke tak mempunyai anak dari Sakura. Selama ini ia menganggap anak hanya Mitsuo saja, itupun hanya sandiwara. Tapi sekarang ia mendengarnya sendiri dari Sasori bahwa bocah perempuan itu anaknya, darah dagingnya sendiri, putri yang dikandung Sakura.
"Sakura , benarkah itu?" Tanya Sasuke megharapkan jawaban pasti.
"Ya Sasuke, dia Sarada, Uchiha Sarada anak kita. Jangan bilang kau lupa pada anakmu sendiri" Jawab Sakura yang masih dalam genggaman Sasori. Sakura takut kalau Sasuke benar-benar melupakan anaknya sendiri, itu sangat ironis sekali bukan. Sakura mana mungkin lupa dulu saat Sarada masih dalam kandungannya ia sempat memberitahu ayah mertuanya kalau Sakura sedang hamil. Sakura masih ingat itu terkecuali jika Fugaku tak menyampaikan pesan Sakura.
-BRUK .. lutut Sasuke mendadak lemas. Ia ambruk ketanah, tak percaya apa yang ia dengar dari mulut Sakura.
"A-aku punya anak?" desis Sasuke tak percaya. "Kenapa kau tidak memberitahuku Sakura?" ada nada kecewa disana.
"Bukankah ayah sudah memberitahumu saat dipenjara?" jawab Sakura.
"KENAPA KAU BILANG PADA AYAH? DIA ITU SANGAT MEMBENCIMU, SAKURA" teriak Sasuke masih dengan posisinya terduduk, Sakura bodoh, innernya. Sasuke menyimpulkan kalau ayahnya sengaja tak memberitahu dirinya perihal Sakura yang mengandung, besar kemungkinan Fugaku membenci Sakura yang sudah mempunyai anak dari Sasuke. Jadi dia menjauhkan Sakura dari Tokyo ke Konoha guna menjauhi Sasuke.
Sasuke meremas tanah yang ada disekitarnya, perasaan apa yang mesti dia ungkapkan sekarang. Senang, kecewa, sedih, semua bercampur menjadi satu.
"HEYYYY , Sasori kau jangan melupakan aku disini" Gaara merasa diacuhkan.
'Tes .. tes ..' Air mata turun membasahi wajah tampan dari bungsu Uchiha ini. Ya, anak perempuan yang masih memakai seragam sekolah itu sedang berdiri memunggunginya, terlihat begitu cantik, rambutnya yang serupa dengan miliknya.
Sarada yang berarti Salad , nama yang begitu indah dan lucu, dia sudah tumbuh besar tanpa sepengetahuannya. Mungkin perannya sebagai ayah disini Sasuke sangatlah buruk. Andai saja dulu ia tak mendekam dipenjara, andai saja dulu ia tak menjadi seorang pecandu, mungkin Sasuke yang akan menjaga putri kecilnya itu, mengantarnya sekolah, menjemputnya, menemani tidurnya setiap malam.
Membanyangkannya saja sudah sangat terharu, hatinya sakit sekali bahkan terlalu sakit.
"Sa-ra-da" Sasuke mencoba memanggil sang anak.
"Enghhh .. lepskan akuhh .. Sasoriii" Sakura kembali meronta.
"DIAAAAAMMMMM" Sarada berteriak ditengah percakapan kedua orang tuanya. Tak mereka sangka, Sarada mengmbil Revolver Gaara tadi yang terlempar. Ia menodongkan ke arah mereka semua secara bergantian. "Sekali lagi ada yang bicara akan kutembak kalian" Ancamnya.
Sarada merundukan kepalanya seperti menhan marah dan tangis namun ia tak mampu membendungnya, ada tetesan airmata disana, kemudian ia menurunkan senjtanya. "Ibu aku ingin bertanya satu hal pada ibu"
Sakura dengan cepat meresponnya. "Iya sayang"
"Apa Ibu menyayangiku?"
"Tentu saja Sarada" jawab Sakura
"Kalau begitu kenapa ibu menyembunyikan semua ini dariku, KENAPA?"
.
.
To Be Continue
