AITAKATTA

(Aku Ingin Bertemu)

Disclaimer : Kishimotto Sensei

WARNING !

Typo, AU, BadFic And many more

.

.

Don't Like, Don't Read ! I Warn You !

.

.

Happy Reading


"Apa Ibu menyayangiku?"

"Tentu saja Sarada" jawab Sakura

"Kalau begitu kenapa ibu menyembunyikan semua ini dariku, KENAPA?"

-DEG , Sakura tertohok. Hatinya terasa dihantam batu besar tatkala sang anak berkata demikian. Sakura sungguh menyesal atas kelakuannya selama ini, ia merasa kalau dirinya sudah gagal menjadi orang tua yang baik bagi sang anak.

Sarada bukan lagi anak bocah yang baru lahir kemarin, ia bisa saja menjadi tertekan kemudian melakukan hal yang nekat. Dengan segala kemampuan, Sakura menjawab pertanyaan yang menyakitkan itu.

"Cepat jawab pertanyaanku ibu? Hiks ..." lanjut Sarada diiringi isak tangisberharap semua ini hanyalah mimpi. "Siapa sebenarnya ayahku?"

Namun Sakura justru malah menatap Sasuke yang tengah terkulai lemas ditanah dengan tatapan sedih. Sakura masih bingung harus berkata apa, disisi lain ia merasa bahagia karena bisa bertemu kembali dengan suaminya namun masalah baru belum terpecahkan. Ia tinggal meyakinkan sang anak.

"Anak manis, lemparkan senjata itu padaku" Gaara mencoba merayu Sarada supaya ia menyerahkan kembali senjatanya. "Cepat kembalikan"

"KUBILANG DIAAMM !" –Doorrrr .. Sarada emosi hingga menarik pelatuknya, suara keras itu membuat ia sedikit kaget hingga Revolver-nya terjatuh, spontan orang-orang disana tiarap. Beruntung peluru itu tidak bersarang ditubuh Gaara.

"Baiklah Sarada akan ibu jelaskan semuanya. Papamu dulu sempat menginap dipenjara namun sekarang sudah bebas. Dan lelaki yang ada dibelakang ibu ini adalah teman lama ibu, dia hanya mengganti peran ayahmu saat berada dipenjara" terang Sakura. Penglihatannya mulai kabur karena air matanya terus mengalir dari iris emerald itu.

Sasuke yang tak jauh dari mereka sudah tak mampu mendengar kata-kata istrinya. Begitu beratkah cobaan yang dialami istrinya hingga seperti ini, mengurus anaknya seorang diri, ia rasa sudah mengecewakan dua wanita dalam hidupnya. Tidak, dibanding Sakura dirinya lah yang paling menderita. Ia tak sanggup membanyangkan selama hidupnya hanya mengecewakan orang yang ia sayangi.

Sarada tetap berharap semua yang diucapkan ibunya adalah bohong namun sang ibu harus memberitahukan kebenarannya karena seburuk apapun ayahnya tetap saja Sasuke itu adalah ayah kandung Sarada.

"Tapi pada akhirnya aku mengetahui semua ini dari dia" tunjuk Sarada pada Sasori. "Bukan dari mulut ibu. Jika saja dia tidak bicara apa ibu akan mengatakan semuanya?"

"Tidak, ibu hanya belum menentukan waktu yang tepat untuk memberitahukan semua ini padamu sayang. Sudahlah jangan bersedih, ayahmu sudah ada dihadapanmu sekarang" Sakura kembali bicara menyangkutkan Sasuke. Lelaki itu berharap Sarada bisa menerima keberadaannya, kepalanya perlahan terangkat keatas, melihat sang anak yang masih berbicara dengan ibunya.

"Lalu sekarang ibu mau apa setelah mengatakannya. Apa ibu fikir aku akan mudah menerima keberadaan dia sebagai ayah kandungku setelah pergi mengecewakan ibu, dan bahkan tidak mengetahuiku sebagai anaknya sendiri? Apa aku bisa bu? Hiks .." Emosi Sarada meledak disana.

"Ibu tidak kecewa. Buktinya hingga saat ini ibu menantikan kepulangan ayamu. Ibu masih mencintai ayahmu. Seburuk apapun dia tetaplah suamiku, ayah kandungmu Sarada. Percayalah, ayahmu itu sangat baik, setia kadang sedikit menjengkelkan dan dingin, hmm" Sakura berusaha tersenyum ditengah kalimatnya namun itu tetap tak mengalahkan rasa sedihnya.

Sarada memutar tubuhnya 180 derajat menghadap Sasuke yang sedang duduk ditanah. Lelaki itu tersenyum manis kearahnya, merentangkan kedua tangannya seolah memberi ruang untuk sang anak. Perlahan kakinya melangkah menghampiri Sasuke.

"Sakura apa kau lupa, kau harus menikah denganku" ucap Sasori yang masih mencengkram tubuh Sakura. "Sarada berikan senjata itu padaku" pinta Sasori pada Sarada.

"Ja-jangan berikan Sarada .. engh" cegah Sakura. Langkah Sarada terhenti.

"Tidak berikan saja padaku atau kau akan menderita" Balas Gaara yang tak ingin kalah.

"Jangan dengarkan dia, cepat berikan padaku kau ingin ibumu mati?" Sasori menggertak Sarada supaya ia memberikan senjata itu.

Sarada menggertakan giginya , kesal. Apa yang harus ia lakukan sekarang, kemana ia harus memberikan senjata ini.

Belum lagi ia harus menerima kenyataan bahwa sang ayah adalah seorang mantan napi, mantan penjahat. Benar-benar masalah yang berat untuk ukuran seoranga anak.

Ia merentangkan senjata api itu pada Sasori.

"Bukan kesana bocah, berikan padaku" teriak Gaara.

"K-kau tidak boleh menyuruh anak kecil untuk melakukan hal berbahaya !" Teriak Sasuke yang sedari tadi memperhatikan mereka.

"Bagus anak pintar" Sasori menyeringai.

"DAMEEEEE .." Sakura berteriak.

Tak diduga Sarada melempar senjata itu pada Gaara. Sarada menganalisa bahwa paman bertato kanji 'Ai' itu sangat membenci Sasori, dan sasarannya adalah Sasori. Tapi jika senjata itu diberikan pada Sasori maka sasarannya adalah Sasuke dan kemungkinan besar Gaara pun ikut terkena peluru.

-Hup .. Gaara menangkap senjata itu dan ...

Dorrr ..

Ia langsung menarik pelatuk kearah Sakura dan menggores tepat dikakinya. Sakura terkulai lemas dan ambruk ketanah. Ya maksud Gaara menembak Sakura bukan untuk menangkap Sasori melainkan menyelamatkan Sandra, khawatir Sakura yang tidak tahu apa-apa bisa terkena imbasnya juga. Sakura yang kakinya tertembak hanya merepotkan Sasori.

"Hoy Sakura berdiri , Sakuraaa" Sasori panik dan melepaskan Sakura yang lemas. Gaara berlari menghampiri Sasori dan membanting tubuhnya ketanah.

-BUK-. Gaara mengunci tubuh Sasori ia pun menarik pelatuknya lagi.

"Tch sial pelurunya habis" Umpat Gaara kesal karena ia kehabisan ammunisi.

Sasuke segera berlari menuju Sakura yang terkapar lemas. Ia menggendong Sakura ala Bridal Style , Sarada yang menyaksikan itu sempat tertegun. Ada hasrat lain yang terasa dihatinya, entah ia merasa senang melihat pemandangan ini.

"Jangan khawatir Sasuke, aku hanya menggoresnya sedikit. Istrimu baik-baik saja" Teriak Gaara pada Sasuke yang masih mengunci pergerakan Sasori.

Dengan paksa , Gaara mendorong saudaranya masuk kedalam mobil Sakura yang kebetulan ada didekat mereka.

"Ya terimakasih Gaara" balasnya. Kemudian mereka melaju dengan kecepatan penuh.

"Apa masih sakit? Berterimakasihlah pada Gaara jika tidak kau akan dibawa kabur oleh lelaki jahanam itu" kata Sasuke mencoba menenangkan istrinya yang masih gemetar. Itu benar-benar diluar dugaannya. Sakura melingkarkan tangannya keleher Sasuke, memeluknya erat. Airmatanya kembali tumpah.

"Ibu" Sarada berlari kearah orang tuanya yang sedang terduduk ditanah, Sakura masuh duduk dipangkuan Sasuke. Ia menghamburkan pelukannya pada sang ibu, ada rasa canggung yang masih mengganjal dihatinya. Perlahan tangan kecilnya merangkul sang ayah, Sakura menatap Sasuke seolah memberi isyarat.

Sasuke memeluk anak perempuannya kedalam pelukan mereka. "Sarada, Tadaima" lirihnya, bibirnya terangkat keatas, Sasuke tersenyum bahagia.

"O-okaeri .. pa –" Sarada masih ragu memanggil papa pada Sasuke. "papa". Mereka larut dalam kebahagiaan, keluarga kecil ini akhirnya bisa bersama. Berkumpul merajut kebahagian, tak ada lagi kesedihan. Sasuke berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia akan menjalani hidup ini lebih baik dan tidak menyia-nyiakan segalanya karena keluarga adalah harta yang paling terindah.

Dok .. dok .. dok

"Saradaaaa tolong aku .. !"

"Oh Astaga aku melupakan Mitsuo-kun" Sasuke menepuk jidatnya. Bocah laki-laki itu benar-benar terlupakan oleh Sasuke. Mitsuo yang tidak tahu apa-apa kini menjadi korban, setidaknya Sasuke mengurungkan niat yang sebelumnya karena Sakura serta anaknya sudah kembali ketangannya.

"Sial kunci mobilnya hilang" Sasuke masuk kesemak-semak mencari kunci itu. Ia mencoba mencari cara lain demi mengeluarkan bocah malang yang terperangkap didalam mobil.

"Papa pecahkan saja kacanya" saran Sarada. Senang rasanya dipanggil papa.

"Ide bagus Sarada" Sasuke mengangguk, mencari sebuah batu besar.

"Sasuke-kun itu" Tunjuk Sakura pada benda keras itu. Sasuke mengangguk kemudian mengambil batu besar itu. Mencoba menghancurkan kaca mobil Karin. Ah ya wanita itu , semoga tidak mengetahui semua ini.

"Menepi Mitsuo, aku akan memecahkan kaca mobil" titah Sasuke pada anak malang yang terperangkap didalam mobil.

-Brak .. brak .. brak- Sasuke memukul kaca mobil dengan keras hingga menimbulkan sebuah retakan. Lama kelamaan kaca tersebut pecah berserakan, kepingan-kepingan kaca berhamburan kedalam mobil. Dengan hati-hati Mitsuo keluar , digendong Sasuke khawatir anak itu terluka.

"Haaah" Mitsuo menghela nafasnya lega karena bisa menghirup udara segar.

"Mitsuo-kun, daijobu desu ka?" Sasuke memeluk anak laki-laki itu, ia begitu khawatir sekali bersyukur Mitsuo tidak terluka, Sasuke sudah menganggap Mitsuo adalah anaknya juga karena Sasuke lebih menghabiskan waktu bersama anak ber-rambut merah itu. Raut mukanya begitu khawatir. "Maafkan aku Mitsu-"

"-Apa yang kau lakukan pada ayahku. Cepat kejar dia Sasuke" teriak Mitsuo kesal pada lelaki yang mengaku ayahnya itu, keadannya tampak begitu kacau. Keringat, air mata bercampur menjadi satu.

"Mitsu-kun , sekarang aku tahu. Semua rasa penasaranku sudah terjawab, kau adalah putra dari ayahku .. em maksudku paman Sasori. Karena kalian sangat mirip" Kata Sarada, rasa penasaran yang selalu membayanginya akhirnya terungkap sudah.

Sarada menoleh pada Sasuke. "Papa , selamatkan ayah Mitsuo-kun. Aku tidak mau temanku merasa sedih dan kesepian karena kami mempunyai rasa sakit yang sama. Aku merasakan rasa sakit Mitsuo, aku mohon papa" pinta Sarada pada sang ayah. Mendengar permintaan konyol sang anak membuat tubuh Sasuke menegang seketika, apa ia bercanda beberapa menit yang lalu pria itu hampir membunuhnya dan sudah menghancurkan keluarganya.

Namun semua perasaan pribadinya ia urungkan dihadapan Sarada, Sasuke akan mengikuti kemauan anaknya dan Mitsuo. Dia bersumpah demi apapun menyelamatkan Sasori itu keinginan anaknya. Jika mengikuti egonya mungkin Sasuke tidak peduli orang itu terluka bahkan mati sekalipun , kemudian ia pergi dari tempat itu dan pulang menuju rumahnya.

"Sarada .." Lirih Sasuke.

Sakura memeluk pergelangan tangan Sasuke, ia tak mau ditinggal lagi oleh suaminya.

"Sasuke jangan pergi .. hiks"

"Tidak Sakura aku harus menyelamatkan Sasori. Mitsuo sangat membutuhkan dia" Sasuke membalas memeluk Sakura yang masih terisak. "Tunggu disini bersama anak-anak, aku akan menelepon kak Hana untuk menjemputmu dan mengobati lukamu" Sasuke menggendong Sakura yang masih lemas kemudian menempatkan di sebuah teras rumah kosong. Bernaung dibawah sinar matahari, Sarada memberi pertolongan pertama pada ibunya dengan mengeluarkan sapu tangan dari tasnya , mencegah pendarahan sedangkan Mitsuo duduk meringkuk sambil memeluk lututnya tak jauh dari mereka.

"Kak Hana tidak akan mau menjemputku, dia sudah sangat marah padaku" Sakura merunduk , mengingat kembali masalah bersama kakak iparnya itu.

Sasuke mengulum senyum. "Daijobu , Kak Hana sangat baik. Percayalah padaku" Sasuke menepuk puncak kepala Sakura.

Sakura tersenyum kearah sang suami pertanda ia mengizinkan. "Baiklah, selamatkan ayah Mitsuo" Ucap Sakura sambil merangkul tubuh bocah itu yang sedang dilanda kesedihan.

"Maafkan bibi ya Mitsu-kun" Sakura mengusap puncak kepala Mitsuo. Anak itu terisak larut dalam kesedihan.

Sasuke berjalan menuju motor Sasori yang tergeletak ditengah jalan, rasa sakit dan ngilu menjalar disekujur tubuhnya terpaksa harus ditahan. Beruntung kunci motor masih menggantung, Sasuke pun menaiki motor sport hitam milik Sasori kemudian menghidupkan mesinnya dan melaju dengan kecepatan penuh, melesat menuju Sasori yang dalam bahaya.

Oo0oO

"Aniki kau mau bawa aku kemana? Aku harus kembali membawa anakku" ucap Sasori setengah teriak pada Gaara. Saat ini mereka sedang berada didalam mobil menuju suatu tempat.

"Khawatirkan dirimu sendiri, karena sebentar lagi kau akan segera meninggalkan anak istrimu" desis Gaara. Hatinya bergejolak marah , ingin segera melenyapkan saudaranya itu.

"Saudara macam apa kau ini, sudah kubilang kejadian itu bukan aku pelakunya, Matsu –"

"URUSAI ! jangan sebut nama itu lagi bedebah kau !" Gaara membanting stir dengan kasar, beberapa mobil yang dilewatinya ia hantam juga. Menerobos lampu merah dan membuat kemacetan dijalan.

Sasuke yang tak jauh dari mereka, mungkin terpisahkan jarak kurang lebih 100 meter. Ia dapat menebak kemacetan ini disebabkan oleh Gaara. Sasuke memacu motornya dengan kecepatan penuh, dengan lihai ia menyalip diantara kendaraan yang berjejer.

"Tch ini sangat merepotkan sekali, jika saja bukan karena keinginan Sarada aku tak sudi menyelamatkannya" ucap Sasuke kesal, tentu saja kesal.

"Orang itu jika dibiarkan akan semakin membuat masalah, Gaara"

.

Sasori tercengang kaget memperhatikan kebrutalan kakakknya itu bak kemasukan setan. Sumpah demi apapun ia sangat ketakutan sekali. Gaara ingin membuat jera adiknya dan mengakui kesalahan yang sudah ia perbuat.

"Kau sudah membuat keributan dikota ini Gaara" ucap Sasori setengah teriak

Gaara hanya membalasnya dengan seringai tajamnya.

Dan polisi sepertinya sudah bergerak cepat , mencium aroma keributan didaerah disrtik Konoha. Jalanan semakin ramai dipadati oleh mobil polisi yang lalu-lalang. Sasuke tak menyangka hari ini menjadi hari terbesar dan akan mengukir sejarah dalam hidupnya.

.

.

"Polisi akan segera mengetahui keberadaan mu, aku disini akan berperan sebagai korban dan kau akan mendapat hukuman sebagai tersangka pembunuhan dan satu lagi seorang buronan senilai 10 juta Ryo" Sasori menggertak sambil sesekali mengusap pelipisnya yang lebam.

"Jika aku sudah membalaskan dendamku, tak peduli akan kembali masuk kempenjara atau bahkan mati sekalipun karena aku akan merasa puas melihatmu menderita. Kau sudah menghancurkan hidupku bahkan teman satu sel ku juga Sasuke dia mengalami hal yang sama dengannku. Kau berhak mendapatkan ini bajingan " Gaara menendang perutnya dengan keras sehingga tubuhnya terdorong kebelakang.

"C-cukup , hen-tikan Gaara. Aku mengaku salah padamu, ma-maaf .. uhukk"

"Hahahaha ... maaf katamu? Belum cukup bagiku untuk meminta maaf. Kau benar-benar makhluk hina"

.

Sasuke hampir mendekati mobil mereka, lajunya agak sulit karena didepan banyak kendaraan belum lagi dibelakang banyak mobil polisi. Lampu lalu-lintas menunjukan warna merah, pertanda semua kendaraan berhenti, Sasuke terpaksa berhenti juga.

Ia mengerem motornya dengan paksa. "Kenapa harus berhenti !" Sasuke memukul tank motor tak berdosa itu, terhenti beberapa detik saja jarak mereka semakin menjauh, jika ia menerobos maka habislah sudah ia ditangan polisi karena melanggar lalu lintas.

Sasuke merogoh ponselnya, mencari nama seseorang. –klik, ia menekan tombol hijau , menyambungkan panggilan dengan seseorang. "Cepaattlahhh angkat teleponnyaaa" Sasuke gemas.

" Ne Sasuke-kun?" suara seorang permpuan menjawab telepon Sasuke.

"Nee-chan tolong jemput Sakura Distrik Konoha di jalan Kage. Saat ini dia membutuhkan pertolongan Nee-chan" Sasuke mulai mengkhawatirkan Sakura.

"Demo ,, Sakura –"

"Cepatlah , tolong istriku. Disana ada Sarada dan Mitsuo. Beri dia pertolongan pertama juga" Sasuke memotong kalimat kakaknya. Benar, Hana rupanya masih marah pada Sakura. Sekilas Sasuke mendengar tarikan nafas yang terdengar bosan.

"Huftt .. baiklah aku akan menjemputnya" –piip- telepon diputus sepihak oleh Hana.

Sasuke kembali memasukan ponselnya, ia kembali melihat rambu lalu lintas yang masih belum berubah.

"Ayolah .. ayolahhh" –ting- lampu berganti menjadi hijau. Sasuke lega dan kembali memacu motornya. "Yosh … "

.

.

Sang polisi yang berhasil menemukan si pembuat keributan jalanan ini mencoba mengentikannya. "Percepat lajunya" Suruhnya pada polisi yang memegang kemudi sehingga jarak mereka bersebalahan dengan mobil Gaara. Ia mengambil sebuah pengeras suara dan menyembulkan setengah kepalanya ke jendela mobil.

"Mobil sedan abu-abu dengan nomor polisi 201 KH 7640 diharapkan berhenti. Kami dari tim kepolisian akan menangkap anda karena sudah melanggar lalu lintas dan membuat keributan di sekitar kota"

Gaara dan Sasori kaget , secepat itukah polisi bergerak. Sasori mengulum senyum kemenangan. "Tamat kau" desis Sasori.

Tanpa ada sepatah katapun , Gaara mengambil sesuatu di saku bajunya. Itu adalah magazine, Sasori yang tadinya senang kembali kaget.

"Jangan berfikir aku bodoh mencuri senjata tanpa magazine" Gaara memasukan beberapa magazine kedalam Revolver-nya yang disetting menjadi semi otomatis. Tangannya tetap pada setir kemudi, perlahan kaca mobil terbuka dan menampakan kepala merah darahnya yang langsung disambut oleh polisi.

"Bu-kankah dia, Sabaku Gaara , salah satu tahanan Tokyo yang kabur. Berani sekali dia menampakan diri didepan polisi" batin si polisi tercengang kaget.

"Sabaku , anda buronan polisi Tokyo. Hentikan mobilmu sekarang juga, anda kami tahan" Sang polisi kembali berbicara pada pengeras suara. Seolah tuli, Gaara tak mengindahkan ocehan polisi-polisi itu.

"Hentikan mobilmu sekarang juga, kau sudah tidak bisa lari lagi" lanjutnya.

Gaara mengeluaran senjatanya "Diam kalian semua". Sontak kedua polisi tercengang kaget , tak disangka tersangka membawa senjata api.

"Shimatta !" Polisi kaget mencoba membanting setir namun nihil dengan cepat Gaara segera menarik pelatuk, dan …

-Dorrrrrrr- Satu peluru mengenai polisi.

-Dorrrrrr- satu lagi ia melayangkan peluru ke ban mobil polisi hingga terguling dan terjatuh ketengah jalan.

Gaara menyeringai "Begitulah cara mengehentikan mereka"

"Aho , kau fikir dengan menembak mereka akan menyelesaikan semuanya. Kau malah semakin diincar oleh mereka !"

"Diam atau kau kutembak mulutmu" desisnya. Sasori bungkam.

.

.

Kedua polisi segera berhamburan keluar, khawatir mobil yag mereka tumpangi bisa meledak kapan saja. Beruntung sang polisi masih selamat karena Gaara menembak dibahu sang polisi, ia meraih walkie talkie-nya dan mencoba menghubungi polisi lain "Darurat ... patroli 402 kepada kantor pusat ... Darurat ! patroli 402 kami menemukan buronan tahanan nomor 365 yang kabur dari sel bawah tanah Tokyo, saat ini dia ada di jalan Kage menuju jalan Jendral Sarutobi" kata polisi itu yang masih menahan rasa sakit dan menenangkan diri ditepi jalan mencoba menghubungi polisi lainnya. Mereka juga turut mengejar buronan yang bernama Gaara dari beberapa hari lalu dan bekerja sama dengan kepolisian Tokyo.

-srekkk "Tolong sebutkan ciri-ciri mobilnya dan sebutkan nomor platnya, Ganti" Balas salah satu polisi disebrang sana.

"Baik , tersangka menggunakan mobil sedan perusahaan berwarna abu-abu dengan nomor polisi Konoha , 201 KH 7640, dia membawa senjata api berupa Revolver kemungkinan senjata api itu tidak memiliki izin, Ganti"

"Lakukan pencegahan agar kami dapat mengejarnya, Ganti"

"Sudah kami lakukan, salah satu tim kepolisian kami terkena tembakan. Tolong beritahu kepolosian Tokyo mengenai kasus ini, ganti"

"Yo kai !"

.

.

Sebagian masyarakat ketakutan melihat kejadian ini, semuanya hampir terlibat dan jalanan semakin macet.

"Ibu ada apa ini sebenarnya?" Tanya seorang anak pada ibunya

"Entahlah nak, setelah ini kita pulang kerumah dan menonton berita" Saran sang ibu, ia menengadah ke langit , menyaksikan sebuah helicopter menuju arah yang sama bersama mobil-mobil polisi itu.

"Kami-sama semoga tidak terjadi sesuatu"


To Be Continue