AITAKATTA

(Aku Ingin Bertemu)

Disclaimer : Belong To Kishimotto sensei

WARNING !

AU, Typho's, BadFic and many more

.

.

If you dont like, dont read and click back !

.

.

.

Happy Reading !


Sasuke yang melewati jalan Kage melihat satu mobil polisi yang terbalik. Alisnya berkerut heran. "Apa jangan-jangan mereka –" Tanpa berfikir panjang, ia langsung tancap gas lagi menuju Sasori.

Gaara menepikan mobilnya ketepi sungai. Tangannya tak lepas dari Sasori, ia berontak berusaha melepaskan diri dari cengkraman kakaknya itu.

"Lepaskan aku Aniki, aku sudah mengakui kesalahanku kau mau apalagi"

"Diam brengsek , aku ingin bermain-main sebentar denganmu"

"Kakak macam apa kau ini" Gaara melayangkan pukulannya kemuka Sasori yang sudah terluka parah. Jiwanya bergejolak saat melampiaskan emosinya itu, Gaara seperti sedang kerasukan.

"Hahaha .. Matsuri lihat aku sekarang. Kau senang kan melihat sebajingan ini menderita"

Gaara tertawa lepas.

"HENTIKAN GAARA !"

.

.

.

Sakura masih duduk terdiam bersama Sarada dan Mitsuo. Keadaanya sedikit lebih baik dari sebelumnya, ia menggeser tubuhnya mendekati Mitsuo danmerengkuh pundaknya.

"Kau temannya Sara-chan" Sakura memulai pembicaraan

"…."

Tak ada jawaban, Sakura tersenyum lembut. Ia menoleh pada Sarada. "Apa temanmu seorang yang pemalu?"

Sarada terkekeh, orang judes tampang flat disebut pemalu. Ia tahu Mitsuo masih sedih karena memikirkan ayahnya, ia mencoba menghibur temannya itu.

"Ibu benar, walaupun kami baru berteman sebentar aku sudah tahu kalau Mitsu-kun itu sangat pemalu, hihi" Sarada member kode pada ibunya.

Kepala merahnya sedikit mendongkak, menampakan raut muka yang masih berantakan dengan air mata. Sempat-sempatnya mereka bisa tertawa dan bercanda disaat seperti ini, batinya.

"Apa yang kalian bicaran?" ucapnya judes

"Mitsu-kun , aku tahu perasaanmu bagaimana, aku sangat mengerti. Kita berada diposisi yang sama tapi aku tetap kuat padahal aku seorang perempuan. Yah ibu yang mengajariku supaya tetap kuat dan sabar untuk menhadapai cobaan, semua pasti ada jalannya. Kau tidak usah menangis bahkan masalahku lebih besar daripada kau, aku akan selalu disisimu" Sarada memegang kedua tangan temannya itu.

"Semua kita serahkan pada kami-sama semoga ayahmu baik-baik saja, dan papaku berhasil membawa pulang ayahmu" lanjut Sarada mencoba menangkan temannya.

"T-tapi Sasuke , maksudku paman Sasuke mencoba membunuh ayahku"

"Itu tadi, tapi sekarang dia sedang diperjalanan menuju ayahmu. Papaku sangat hebat, iya kan bu" Sarada menoleh pada Sakura.

Sakura merona merah. "I-iya Sara-chan"

Mobil Porche Silver melaju mendekati mereka, ia memarkirkan di pinggir jalan. Pandangan mereka tertuju pada mobil itu. Sakura sudah tahu itu adalah kakak Iparnya, Hana Inuzuka.

Benar , sang wanita turun dari mobilnya dengan membawa kotak P3K ditangannya.

"Kau menghubungi seorang dokter? Aku kan sudah mengobati luka ibu" Sarada bertanya pada Sakura , siapa dokter cantik yang menghampirinya itu.

"Papamu yang memanggilnya, dia Bibi Hana" ucap Sakura , kepalanya masih tak berani melihat sorot mata Hana yang memandangnya tajam.

"Bibi? Aku punya bibi?" Sarada kembali kaget.

Hana berjongkok guna menyamakan posisinya dengan Sakura. Ia membuka saputangan yang melingkar di kaki Sakura. Itu Sarada yang melakukannya, rupanya Sarada mempunyai bakat mengobati.

Hana membersihkan luka Sakura dengan alcohol. Sakura meringis kesakitan, perih sekali. Namun tak mengalahkan rasa perih dihatinya yang sudah melukai hati sang kakak.

Tidak ada kalimat yang keluar dari mulut mereka.

Dirasa sudah selesai, Hana berdiri. Tapi Sarada mencegahnya.

"Tunggu sebentar. Aku mau bertanya padamu" Ucapnya memecah keheningan. Hana menautkan alisnya, menatap bosan bocah berkacamata itu.

"Apa kau ada hubungannya dengan papaku? Uchiha Sasuke? Jika iya kenapa aku baru melihatmu sekarang?"

Hana diserang satu pertanyaan dari bocah ini. "Memangnya apa urusanmu?"

"Tentu saja aku berhak tahu, atau jangan-jangan ibu menyembunyikan dia juga dariku?" Sarada beralih pada Sakura, perempuan bersurai pink itu kaget. Kenapa ia sampai lupa pada Hana juga, belum lagi Itachi.

"Ibu? … jangan bilang kalau kau – " Hana kaget sekali saat bocah itu memanggil ibu pada Sakura.

Sakura tak tahu harus berkata apa, Fugaku benar-benar tidak memberitahu perihal cucunya yang bernama Sarada ini pada Hana, bahkan pada ayahnya sekalipun ia rahasiakan. Hana kembali teringat pada sang suami, ia ingat dirinya tidak bisa memberikan seorang anak untuk suaminya dan untuk ayah mertuanya. Hatinya kembali teriris.

"Maaf kak , ini memang sulit dipercaya. Aku sudah tahu kalau ayah tidak memberitahukan tentang anaku pada kakak, Sasuke pun sama seperti kakak. Maafkan aku kak Hana" jelas Sakura.

Hana terisak, ia memeluk erat Sakura, perempuan itu kaget kenapa Hana tiba-tiba berubah fikiran yang tadinya membenci Sakura menjadi berubah 180derajat. Ya sedikitnya Sakura sudah merasa lega.

"Arigatou Sakura , Arigatou kau memang adikku. Aku sangat senang mendengar kau mempunyai anak, aku tidak tahu harus berkata apalagi. Itachi pasti akan sangat menyayangi keponakannya" Sakura mengangguk, ia mengerti perasaan kakaknya sekarang. Sakura tahu bahwa Hana divonis tidak bisa memiliki keturunan.

"Jangan khawatirkan itu, aku yang akan bicara pada ayah. Sakura maafkan kakak ya, kakak sudah salah paham padamu"

Sarada kembali tersenyum , ia senang sekali mempunyai seorang bibi seorang dokter. Iya , Sarada ingin sekali menjadi dokter."Jika aku punya bibi berarti aku punya paman juga"

Hana mengusap puncak kepala Sarada gemas. "Tentu , dia sama-sama tampan seperti papamu" Sarada tersenyum lebar , ternyata dia memiliki keluarga yang luar biasa. Sungguh ia sudah salah menilai. Dulu Sarada hidup hanya bersama sang ibu tapi tidak untuk sekarang.

"Ayo kita pulang, kau juga ikut bersama kami. Sasuke menyuruhku untuk merawatmu juga" Hana merangkul pundak Mitsuo yang sedari memperhatikan pertemuan keluarga Uchiha lagi.

Mitsuo ikut senang karena Sarada sudah berkumpul bersama keluarganya. Sepertinya Mitsuo sudah bisa memaafkan Sasuke, bukan saja peduli pada Sasori tapi pada dirinya juga.

.

.

.

"HENTIKAN GAARA !" Cegah Sasuke pada pria bertato kanji 'Ai' itu. Kedua pria berhelai merah itu sedang berjibaku dan Sasori nampaknya sudah tak mampu melawan karena kondisi tubuhnya sudah sangat lemah. Rupanya Gaara mendengar suara laki-laki yang sangat dikenalnya itu.

"Sasuke,, apa yang kau lakukan disini?"

"Lepaskan dia" jawabnya langsung pada Gaara. Sasori sesekali mengkorek kupingnya , kali saja dia salah dengar Sasuke tiba-tiba datang untuk mengehentikan Gaara. "Aku ingin kau berhenti memukuli dia" tunjuk Sasuke pada Sasori, ia turun dari motornya. Sasuke berjalan menhampiri kedua orang itu yang sedang terdiam menghentikan sejenak pertarungannya.

"Sasuke , aku memang tidak tahu kau dirasuki roh apa, yang jelas aku tidak mau dikasihani olehmu. Urusan kita sudah selesai, biar aku mati saja ditangan kakakku. Sekarang kau pergilah" tentu Sasori tidak mungkin percaya begitu saja atas tingkah yang dilakukan Sasuke. Ia yakin Sasuke menyiapkan rencana lain tak mungkin tiba-tiba ia berubah menjadi baik setelah apa yang dia lakukan pada Sasuke.

"Aku sudah terlanjur ada disini, asalkan kau tahu aku berada disini berkat anakmu. Dia memintaku untuk menolongmu"

DEG ..

Sasori membulatkan keedua matanya terkejut. Lelaki itu menyebut nama anaknya dengan pelan. "Mi-Mitsuo-kun" lirihnya. "Anak itu tidak layak memiliki seorang ayah sepertiku. Biar dia hidup bersama Karin saja, Mitsuo sangat membencikuuu !" teriaknya keras.

"KAU SALAH !" balas Sasuke dengan berteriak juga. "Seandainya kau tahu betapa dia menyanngimu Sasori, seburuk apapun dirimu kau tetaplah ayah dari anak itu dan Karin adalah istrimu. Semua belum terlambat Sasori, anakmu tidak mungkin membencimu. Aku tak bisa membayangkan hidupnya akan bahagia tanpa seorang ayah, dia akan kesepian. Dia sangat membutuhkan kasih sayangmu, Sasori" Sasuke benar-benar berupaya meyakinkan Sasori.

"Brengsek !" umpatnya. Lelaki itu menggertakan giginya kesal. 'apa-apaan Sasuke ini' batinnya.

"Pergi kau Sasuke aku tidak butuh bantuanmu. Semua ucapanmu bohong, aku tidak mempercayaimu" sambungnya.

Sasuke semakin mendekat sambil menjulurkan tangannya. "Cepatlah pergi denganku sebelum aku berubah fikiran"

Gaara yang merasa diganggu oleh kehadiran Sasuke merasa kesal. "Kau tidak mendengarnya Sasuke, pergi kau. Dia sudah pasrah dan memberikan nyawanya padaku" ucap Gaara sambil menodongkan Revolver-nya kearah Sasuke.

"Tidak , aku akan membawanya dia kepada Mitsuo. Dia sangat membutuhkan kehadiran ayahnya Gaara. Tolong mengertilah, seburuk apapun Sasori dia tetap adikmu. Semua yang kau lakukan tak akan menghidupkan kembali orang yang kau cintai itu"

Perlahan tangan kekarnya melepas cengkraman tubuh Sasori yang masih terkunci oleh tubuh Gaara. Ia bangkit perlahan bersamaan dengan Sasori.

"Kau benar Sasuke, dia memang adiku. Adik kandungku yang sudah mengahancurkan hidupku dan hidupmu. Mungkin dia memang harus kembali pada keluarganya" ucap Gaara sinis. "Pergilah" Gaara mendorongtubuhnya dengan kakinya secara kasar sehingga tubuhnya terdorong kedepan.

"Terimakasih Gaara, jadilah kakak yang baik" Sasuke tersenyum kearah lelaki bertampang menyeramkan itu.

Kakinya melangkah sedikit demi sedikit, pelan tapi pasti mendekati Sasuke. Sasori tersenyum pada laki-laki yang pernah ia hancurkan hidupnya, ia yakin Sasuke berkata yang sebenarnya dan bertekat menyelamatkan dirinya.

"Cepatlah Mitsuo sudah menunggumu dirumah" ucap Sasuke lega karena Sasori ternyata mau mendengarkannya begitupun Gaara mau melepaskan adiknya.

"Arigatou ... Sasuke" jawabnya.

-krek- Gaara menaikan senjatanya, membidik Sasori yang berjalan tergopoh-gopoh menghampiri Sasuke. "Sayonara ..

Dorrr ... Dorrr .. Dorrr .. tiga peluru melesat ketubuh Sasori.

...

...

...

...

Perlahan cairan liquid merah merembes tembus kebajunya dari dada Sasori. Semakin lama semakin melebar dan menyakitkan, langkahnya terhenti saat jarak mereka hanya tersisa satu meter saja.

Sasuke masih belum sadar apa yang terjadi beberapa detik yang lalu. Senyum yang barusaja tercipta diwajah tampan Sasuke perlahan menghilang seiring lelaki itu berhenti berjalan. Kakinya ambruk lemas bagai jelly disusul tubuhnya terjatuh ketanah.

"SASORI !" dengan cepat Sasuke meraih tubuh pria itu yang sudah tak berdaya.

"Gaara kenapa kau –"

"Hahahahaha , nikmat sekali rasanya. Aku sudah puas , terimakasih Matsuri aku sudah melakukan perintahmu untuk membunuh dia , hahaha" Gaara tertawa lepas sambil menengadah ke langit-langit.

"Bertahanlah Sasori" Sasuke menarik tubuh pria itu lebih dalam.

"Ti-dak .. seperti-nyah .. inilah akhir hi-dup-ku .. Kau me-mang or-ang yang pa-ling aku ben-ci set-elah Ga-ara "

"Tidak akan aku biarkan. Aku sudah berjanji pada Mitsuo dan Sarada akan membawamu pulang. Aku akan menelepon Ambulan" Sasuke hendak mengeluarkan ponselnya namun ia segera dicegah oleh tangan Sasori.

"Tidak ada gunanya .. sebentar lagi a-ku ak-an se-gera per-gi" ucapnya dengan seuara yang semakin mengecil. "Dengarkan ini baik-baik dan masukan kedal-am hati-mu Sasu-ke kare-na ini kata ter-akhirku" lanjutnya , perlahan mata Hazel itu tertutup dan sedikit mengeluarkan cairan bening. Sasuke yang masih tak percaya orang brengsek macam Sasori akan berakhir seperti ini. Sasuke mendekatkan telinganya pada Sasori.

Deg ...

Deg ...

Deg ...

"Sa-sasukehh .. aku akan se-la-lu mencintai istri-mu hingga a-ku mati ... dan sa-tu lagi ... to-long ja-ga Mitsuo untuk-ku. Aku ... sa-ngat ... mem-benci ...mu ... Arigatou"

Deg ...

Mata hazel itu telah tertutup sempurna dan detakan jantung terakhir sudah lolos dari tubuh Sasori, ia sudah benar-benar tak bisa menahan rasa sakitnya dari awal pengejaran Sasuke hingga detik ini. Ditambah Gaara meloloskan tiga peluru sekaligus tepat dihatinya. Ya lelaki berhelai merah wajah bayi itu sudah tewas dan menghembuskan nafas terakhirnya dipangkuan Sasuke.

"Sasori ... aku akan menjaga Mitsuo untukmu. Aku tahu didalam didalam dirimu masih tersimpan hati yang baik juga" lirih Sasuke. Sepertinya ia mendapat pelajaran baru dibalik semua peristiwa ini.

Sayup-sayup terdengar sirine mobil polisi, makin lama makin terdengar jelas dan beberapa sampai disana. Gaara panik berusaha melarikan diri dari polisi.

"Gaara anda sudah tidak bisa melarikan diri, dari tempat ini sudah dikepung oleh satuan polisi"

"Tangkap dia !"

Sekelompok polisi segera mengejar Gaara yang berusaha melarikan diri , sayang dia kalah jumlah polisi dengan cepat menangkapnya dan segera mengambil senjata ditangannya.

Salah satu polisi menghampiri Sasuke. "Jangan khawatir , Gaara sudah kami tangkap"

Sasuke masih merundukan kepalanya, ia berusaha berbicara didepan polisi tersebut. "T-tapi dia sudah mati" ucap Sasuke campur emosi.

"Maaf kami terlambat dikarenakan salah satu dari kami ada yang terkena senjata Gaara jadi semuanya terhambat. Kami akan segera mengatasi masalah ini" Tegas sang polisi pada Sasuke.

Pria berhelai raven tersebut hanya mengangguk pasrah.

'Gomen Mitsu-kun aku tidak bisa menyelamatkan ayahmu. Sarada maafkan papa sudah mengecewakanmu'

Oo0oO

Suasana masih terasa sejuk dan damai disebuah tempat ini. Terdapat pepohonan rindang yang masih diselimuti embun pagi yang segar. Udara dingin yang menusuk kulit namun terhirup masih segar karena ini masih pagi hari.

Namun sayang pagi hari yang indah dan cerah ini menjadi pagi yang sangat buruk bagi seorang wanita berhelai Merah darah dan seorang bocah laki-laki yang serupa warnanya dengan wanita itu. Isakan tangis menderu-deru , semakin lama semakin kencang. Wanita itu sedang menangis sambil berlutut memegang batu Nisan disalah satu makam yang masih terlihat baru. Bahunya bergetar hebat sampai salah satu tangan menyambutnya. Tangan seorang pria berhelai raven ditemani perempuan cantik yang berstatus sebagai istrinya.

"Maafkan aku Karin" lirih Sasuke mencoba menenangkan wanita bernama Karin itu.

"Aku memang membenci dia tapi entah kenapa disaat dia sudah pergi aku mulai bisa menerima dia sebagai suamiku. Kenapa Sasuke kenapaaa ? Hiks ..." Karin menyeka air matanya dengan punggung tangan.

"Aku sudah berusaha semampuku tapi takdir berkata lain" Sasuke menghentikan sejenak kalimatnya. "Disaat kematiannya Sasori berkata bahwa aku harus menjaga Mitsuo-kun karena dia begitu menyayangi anaknya dan aku yakin stidaknya Sasori menyimpan perasaan padamu"

Sarada menoleh pada Sasuke kaget. "Papa .."

Sasuke menoleh dan mengusap puncak kepala sang putri. "Tidak perlu memasang tampang seperti itu, aku masih papamu Sara-Chan" jawab Sasuke. Kemudian Sarada berjalan mendekati temannya yang sedang menatap lirih makam sang ayah.

"Iya papa ^_^ " jawabnya.

"Kau dengar apa kata papaku barusan, ayahmu sangat menyayangimu hingga dia pergi. Jika kau butuh sesuatu aku dan papa akan selalu ada untukmu " Sarada merangkul pundak teman laki-lakinya itu. Ia tersenyum manis.

"Hemm" balasnya.

Sakura ikut berlutut didepan Karin. "Karin , aku tak menyangka teman sekantorku ikut serta dalam masalah ini. Jika saja aku mengetahuinya dari awal, mungkin-"

"Sudahlah Sakura, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Kumohon tinggalkan kami" lirih Karin yang masih setia memeluk batu Nisan itu.

Sasuke merangkul pundak Sakura seolah memberi peringatan. "Kami pamit pulang ya Karin, jaga dirimu baik-baik"

Dan keluarga Uchiha pun pergi meninggalkan tempat pemakan umum yang tak jauh dari kota.

.

.

Saat ini Sasuke sedang didalam mobil ditemani Sakura yang duduk disampingnya sedangkan Sarada berada di kursi belakang sesekali melihat keluar kaca jendela, memandangi pemandangan kota Konoha, mereka masih setia dengan keheningan. Ada rasa canggung dihati Sakura, ini nampak seperti kali pertamanya mereka bertemu.

"Sasu / Saku" Ucap mereka bersamaan. Keduanya membuka pembicaraan dan secara kebetulan mereka bertanya disaat yang sama pula.

"Sasuke-kun saja duluan"

"Tidak kau saja Sakura"

Sakura menghela nafasnya dan mengusap dadanya yang sedikit bergetar. "Apa tubuhmu masih terasa sakit?" Tanya Sakura malu-malu. Oke pria yang ada disampingnya ini sukses membuat Sakura kembali pada masa lalu, masa disaat mereka pertama kali kencan namun bedanya sekarang mereka sudah ada bocah berkacamata itu.

"Hana-nee chan merawatku dengan baik jadi kau tak usah khawatirkan aku" Jawabnya lembut namun masih fokus menyetir.

"Syukurlah"

"Bicara tentang Nee-chan , kudengar kalian sudah kembali akur. Apa yang membuat dia bisa memaafkanmu?" kini Sasuke yang bicara.

"Sarada. Dia yang membuatku kembali diterima. Aku juga tidak mengerti disaat dia mengetahui Sarada anak kita , kak Hana begitu bahagia hingga menangis. Apa mungkin dia merindukan putranya? " jawab Sakura yang sedikit demi sedikit bisa kembali mengendalikan dirinya dari kecanggungan.

"Kau tidak tahu Sakura?"

"Ng..." Sakura memasang tampang tak mengerti.

"Nee-chan divonis tidak bisa memiliki keturunan"

Sakura tersentak kaget saat mendengar kenyataan yang begitu berat untuk seorang wanita macam Hana. Ya seorang dokter memang tidak selamanya sempurna, ironis sekali. Betapa malangnya nasib kakak iparnya itu, Sakura kembali mengucapkan syukur kepada kami-sama karena diberi keturunan yang begitu hebat, sebuah harta yang terindah untuknya begitu juga Sasuke.

"Ya tuhan aku baru tahu Sasuke-kun. Itachi-nii pasti sangat sedih, semoga mereka diberi ketabahan dan kekuatan. Aku bangga pada mereka bisa bertahan hingga sekarang disaat batu besar menimpa mereka. Kuharap Kak Hana mendapat keajaiban, iya kan Sasuke" Ucap Sakura yang sesekali mengepalkan kedua tangannya didada. Sedangkan Sasuke hanya membalasnya dengan senyuman.

"Kau juga sebentar lagi akan mendapat keajaiban itu" Balas Sasuke seraya menggoda istrinya.

Sakura mengerutkan dahinya tak mengerti. "Maksudmu?"

"Aku memang tidak tahu apa saja yang kau lakukan saat aku dipenjara, salah satunya kau berubah menjadi seorang pemabuk. Sekalipun aku ini sudah terlanjur kotor dengan hal-hal yang berbau obat dan alcohol aku tak pernah mengajarimu untuk mabuk" ada nada menyesal disana, Sasuke benar-benar tidak menyukai kelakuan buruknya ditiru oleh sang istri.

Waktu itu setelah ia bertemu dangan Hana saat ia bilang bahwa Sakura bersama Sasori , hatinya begitu hancur dan terasa Sakit. Sasuke memutuskan pergi ke kafe sekedar meneguk beberapa sake untuk menenangkan fikirannya. Dia masih dalam keadaan sadar karena Sasuke tau dan masih ingat pada dirinya sendiri berjanji untuk tidak menyentuh minuman-minuman berbahaya itu.

Tak ia sangka, wanita yang beberapa jam lalu telah menghancurkan hatinya datang kesana dengan tampang kusut dan air mata berleleran dimana-mana.

Derup jantung Sasuke berdetak tak karuan , ingin sekali memeluk wanitanya itu kedekapannya, menenangkan hatinya, mengusap airmatanya. Tapi egonya berkata lain, Sakura sudah mengingkari janjinya, Sakura sudah berkhianat padanya.

Sasuke memutuskan untuk menyembunyikan wajahnya disana supaya ia tak diketahui oleh Sakura.

"Permisi tuan apa anda baik-baik saja?" Ucap Sakura bertanya padanya. Sumpah demi tuhan Sasuke ingin kembali mendengar suara itu, suara yang selama ini ia rindukan. Tapi ia tetap pada posisinya , menyembunyikan wajahnya yang sendu.

"Permisi" Panggilnya lagi.

Egonya telah kalah oleh rasa penasaran, ia mengangkat wajahnya untuk menatap sekilas wanita yang sedari tadi memanggilnya itu. Sasuke melihat ada raut kecemasan yang tercetak diwajah ayunya. Ingin rasanya Sasuke berteriak bahwa dia sangat sakit hati.

Tanpa Sakura sadari kalau Sasuke sedang memperhatikan gelagatnya, ia sudah menghabiskan beberapa botol sake. Sasuke tahu kalau Sakura sedang dilanda masalah , tapi seberat apa sih masalahnya dibanding dirinya. Harusnya Sasuke yang mabuk berat bukan Sakura.

Sasuke hanya mengusap dadanya sekilas, dan ia akan berpura-pura mabuk berat juga didepan Sakura.

"Hik ~ Kau seperti suamiku?" CTARRR .. tepat sekali dia memang suamimu, baka ! Inner Sasuke.

"Ng .. kau mengganggu saja nona tidak lihat aku sedang tidur. Aku lelah sekali hari ini, bahkan hatiku juga terasa sakit saat melihat wanita yang kucintai bersama orang lain. Sakitt sekali, hik~" Ucapnya dengan nada yang dibuat-buat seolah-olah sedang mabuk, matanya sesekali menerjap-nerjap kearah Sakura. Ia berniat menyindir Sakura dan berharap wanita itu sadar pada dirinya sendiri. Tapi dia terkejut saat menjawab.

"Hahaha benar-benar brengsek sekali wanita itu yah , mengacuhkan laki-laki setampan kau .. Hik~" Balasnya dengan polos. Entah itu efek mabuk atau bukan yang jelas Sakura sangat tidak peka.

"Nona kau cantik sekali, apa kau mau jadi istriku?"balasnya , siapa tahu Sakura mengenalnya tapi kemungkinan hanya beberapa persen Sakura ingat Sasuke. Pertama karena efek mabuk dan kedua Sasuke merubah tampilannya yang dulunya bergaya rambut chiken butt sekarang menjadi terlihat lebih dewasa dengan sedikit memanjangkan rambutnya hingga menutupi sebelah mata kanannya.

"Ah aku jadi teringat suamiku yang sudah meninggal akibat kecelakaan kereta api, hik~. Sasuke-kun aku mencintaimu huwaaaaaa"

Sasuke mendapat celah dan akan memanfaatkan situasi ini, tanpa diduga Sakura membicarakan perihal masalahnya pada Sasuke. Kemudian dia bertanya soal dirinya kenapa Sasuke meninggal. Dan ternyata benar itu ulah Sasori lagi, dendamnya terhadap Sasori kini menjadi berlipat.

Mengingat rindunya pada sang istri begitu besar, Sasuke tak bisa lagi menahan hasratnya untuk melakukan hubungan suami istri disana. Ia sadar tempat itu mana, tapi apa boleh buat Sasuke benar-benar tidak peduli.

Kemudian pagi-pagi buta Sasuke terbangun dengan keadaan yang kacau. Ia mengancingkan baju Sakura yang terbuka indah dihadapannya dan memberesakan tempat itu kemudian pergi meninggalkannya disana sendirian. Bukannya tidak peduli dan tidak ingin memberitahu bahwa dirinya masih hidup. Tapi Sasuke sudah menyimpan skenario disana.

.

.

"Bagaimana kau tahu aku pergi ke kafe? Apa aku mabuk berat Sasuke-kun, apa saja yang kulakukan saat mabuk Sasuke-kun?" Tanya Sakura khawatir. Ini memang kali pertamanya ia minum hingga mabuk berat. Mungkin karena terlalu stress terhadap Sasori saat ia dicium paksa olehnya.

"Rahasia" Jawab Sasuke genit.

"Aahhh~ Sasuke-kun kumohon beritahu aku" rengek Sakura manja.

Sarada yang merasa menjadi lalat di antara mereka, mencoba masuk kedalam percakapan kedua orang tuanya.

"Kalian benar-benar tidak menganggapku ada disini ya. Ya ampun harusnya tadi aku naik taksi saja" cibir Sarada seraya melipat tangannya didada kesal.

Sakura terkekeh melihat tingkah anaknya yang sama persis denganSasuke dulu, ya dia benar-benar fotokopiannya Sasuke. Mulai dari mata, rambut bahkan sifat dingin dan menyebalkannya.


" ... beri aku waktu satu jam Shisui , kami akan segera sampai di Tokyo. Jangan sampai presdir Akimichi-san dan Lady Tsunade mengetahui masalah ini sebelum aku tiba disana. Tolong sampaikan pada ibuku kalau Sasuke dan aku sedang menuju kesana" Tampak garis wajah kekhawatiran tercetak jelas diwajah Uchiha Sulung itu yang sedang berbicara lewat telepon bersama pria yang ia rekrut sebagai Sekertarisnya.

Itachi yang sedang berada didalam mobil yang kebetulan memang akan pulang dengan tiba-tiba mendapat kabar buruk dari Shisui.

"Disini hanya ada Nyonya Mikoto, Obito dan saya. Tuan Fugaku masuk rumah sakit baru tadi pagi dan sekarang kondisinya cukup mengkhawatirkan. Cepatlah jika bisa bawa Sasuke kembali karena sepertinya ayahmu sangat ingin bertemu dengan dia"


To Be Continue ...


A/N : Yuhuuu Mei Dateng update Aitakatta yang sepertinya bau bau Owari sudah tercium, hehehe. Mohon maaf apabila fic ini terlalu bertele-tele. Ini fic drama yang cukup panjang pertamaku, masih tahap belajar dan aku mohon bantuannya dari senpai-senpai *ojigi*

Ditunggu reviewnya yaa , aku sangat berharap .. hehehe.. *KissuKissu*

Big Thanks to : Haruno, Rizaru, SaSaSarada-Chan, AAAlovers, lightflower22, Sa'adah337, sitiNaya Uchiha, ayuniejung, wedusgembel41, Algheesa H, Kazoumi Inoue, Guest , yang numpang buka doang dan silent readers semuanya terimakasih banyank ..