Love, Life, Dancing!

.

.

.

.

.

Cast :

Oh Sehun (Sehun)

Xi Luhan (Luhan)

Kim Jongin (Kai)

Do Kyungsoo (Kyungsoo)

.

.

.

.

.

Please Enjoy ~

.

.

.

.

.

ByeolBaek

.

.

.

.

.

Love..

.

.

.

.

.

Life.

.

.

.

.

.

Dancing!


First Meet?

.

.

.

.

.

Dentuman musik menggema. Lampu-lampu sorot menyinari setiap sudut ruangan. Orang-orang yang berdansa di dancefloor. Asap rokok dan bau alkohol yang menyengat seakan menjadi pelengkap di club ini. Club ini cukup ramai. Kecuali kenyataan bahwa Club ini adalah Club khusus Gay.

Di meja bartender, seorang namja berkulit putih pucat kembali meneguk vodkanya lalu menatap kearah kerumunan orang yang sedang sibuk berdansa di dancefloor.

"Apa yang kau lakukan disini, Tuan Oh?"

Ia menoleh kesamping saat merasa seseorang menepuk bahunya. Ia mengernyitkan alisnya "Kau mengenalku?" Tanyanya pada seorang bartender yang ada disampingnya.

Orang itu menatapnya datar "Apa kau secepat itu melupakanku, Oh Sehun?" Ucapnya. Sehun memutar kursinya agar berhadapan dengan Bartender itu. Ia menelitinya 'Kulit Tan, Rahang tegas, Bibir tebal, dan Hidung pesek ... Kau?' "Ahh! Hai Hitam! Lama tak bertemu!" Sehun tersenyum.

Orang yang dipanggil Hitam itu memukul kepala Sehun "Kau selalu menyebalkan, Albino!" Ucapnya "Jadi? Apa yang kau lakukan disini?" Lanjutnya. Sehun hanya menggeleng "Aku tidak tahu" Ucapnya. Kai menatapnya datar. Sehun terkekeh pelan "Hh~ Kai-ah Kau bekerja di sini?" Tanyanya. Kai mengangguk "Apa kabar dengan mu CEO muda, Oh Sehun?" Ucapnya sambil mengeja kata CEO.

Sehun menghela nafasnya "Seperti biasa, mombosankan" Ucapnya. Kai menggeleng-gelengkan kepalanya "Kau masih sama seperti dulu, si Jenius yang Pemalas" Ejeknya. Sehun memutar bola matanya malas "Setidaknya aku bukan si Bodoh yang mengejar cinta Kakak Kelasnya" Balasnya. Wajah Kai sedikit memerah, menahan malu "Y-Ya! Jangan ungkit masalah itu!" Ucapnya.

Suasana kembali hening.

Kai melirik Sehun yang tengah sibuk mengaduk-aduk vodkanya "Sehun .." Panggilnya. "Hm?" Tanya Sehun tanpa menoleh.

Kai terlihat berpikir sebelum berbicara "Apa kau .. Masih suka menari?" Tanyanya ragu-ragu. Sehun menoleh "Hmm .. Ya, memangnya kenapa?" Tanyanya.

Kai tersenyum kecil "Apa kau mau bekerja di sini?" Tanyanya. Sehun mengernyitkan dahinya "Maksudmu?" Tanyanya. Kai nampak berfikir "Ngh .. Kita kekurangan penari" Ucapnya. Sehun terbelak, ia -sok- tahu dan memikirkan yang macam-macam "Kau mau aku menjadi seorang striptise?!" Tanyanya.

Kai terbelak, kenapa sahabat masa SMAnya ini selalu berfikiran yang negative sih?! "Ya! Bukan itu maksudku bodoh!" Ucapnya sambil memukul kepala Sehun. Sehun meringis pelan "Ya! Kenapa kau suka sekali memukul kepalaku?! Jika aku jadi bodoh sepertimu bagaimana?!" Ucapan Sehun membuat Kai memelototinya "Itu karena otakmu selalu berfikiran negative!" Ucap Kai.

Sehun memutar bolamatanya malas "Lalu apa?" Tanyanya. "Menjadi seorang Dancer bersama temanku" Ucap Kai.

Sehun terdiam.

.

.

.


.

.

.

Seorang namja bermata rusa tengah menatap keluar jendela kamarnya. Melihat bintang-bintang yang indah malam ini.

'Cklek'

"Luhan.."

Merasa ada yang memanggilnya, ia menoleh "Ne?" Tanyanya pada namja manis yang tengah berdiri di abang pintu. Namja itu masuk lalu menutup pintu kamar Luhan "Ada yang ingin aku bicarkan padamu .." Ucapnya.

Luhan menatap namja itu "Ada apa, Baekhyun-ah?" Tanyanya. Baekhyun menghela nafasnya lalu menatap Luhan ragu-ragu "D-Dia .. Kembali .." Ucapnya. Luhan mengernyit kebingungan "Dia?" Tanyanya.

Baekhyun mengangguk kemudian menundukan kepalanya "Hmm .. D-Dia .. O-Oh Sehun .." Bisiknya. Luhan terbelak "O-Oh S-Sehun?!" Tanyanya. Baekhyun mengangguk.

Luhan terdiam ditempatnya.

Baekhyun menatap Luhan "L-Luhan?" Panggilnya. Luhan tak merespon. Baekhyun menghela nafasnya, benar kata kekasihnya -Chanyeol-. Seharusnya Luhan jangan dulu diberi tahu tentang berita ini.

Baekhyun berbalik "Jika kau membutuhkanku, kau bisa memanggilku" Ucapnya kemudian berjalan keluar. Menyisakan Luhan yang kembali menatap kearah langit namun, tatapan matanya kosong.

.

.

.


.

.

.

Sehun berbaring sambil menatap langi-langit kamarnya. Ia memikirkan tawaran Kai tadi.

'Apa aku harus menerimanya?'

'Ini impianku ..'

'Tapi jika Appa mengetahui hal ini bagaimana?'

'Tamatlah riwayatmu, Oh Sehun'

Berbagaimacam pikiran berkecamuk dalam otaknya.

FlashBack

Sehun menatap Kai malas "Jika aku menjadi Dancer lalu mengabaikan tugasku di perusahaan sialan itu, Appa akan membunuhku" Ucapnya datar.

Kai mengelap tangannya yang sedikit kotor lalu menatap Sehun "Dengar dulu .." Ucapnya. "Kau tidak akan berada di sini setiap hari .." Sehun mulai menatapnya serius. "Kau hanya akan bekerja disini seminggu sekali, hanya di hari Sabtu. Saat club sedang ramai" Ucapnya. Sehun mengangguk mengerti.

Kai tersenyum kecil "Bagaimana?" Tanyanya. Sehun terdiam. Kai menghela nafasnya "Ayolah Sehun, Club ini tidak mungkin hanya mengandalkan satu orang saja. Lagi pula, aku tahu kau masih memendam impianmu itu. Sehun-ah, Ini kesempatan besar agar kau bisa mewujudkannya tanpa sepengetahuan Ayahmu" Ucapnya.

Sehun berfikir, ucapan Kai ada benarnya juga. Ini kesempatan untuknya mewujudkan impiannya tanpa sepengetahuan Ayahnya. Setelah sekian menit ia berfikir, kemudian ia mengangguk "Baiklah, akan kupikirkan nanti" Ucapnya.

Kai tersenyum cerah "Hubungi aku jika kau sudah membuat keputusan" Ucapnya. Sehun mengangguk.

FlashBack End

Sehun memejamkan matanya. Ia teringat masa lalunya dulu.

"Hyung! Hyung! Lihatlah! Aku bisa melakukan headspin!"

"Hunnie jangan laukan itu! Nanti kau terjatuh!"

Sehun tersenyum kecil saat mengingat memori itu, memori bersama orang yang sangat ia sayangi.

"Hyung .. Maafkan aku .."

"Hunnie .. Kau mau kemana? Jangan tinggalkan aku .."

Senyuman di wajah Sehun sirna, ia membuka matanya. Ia tak ingin mengingat hal itu. Hal dimana ia membuat orang itu menangis.

"Hyung .." Gumamnya.

"Aku merindukanmu .." Bisiknya.

Sehun mengacak-ngacak rambutnya frustasi, kemudin ia bangkit lalu mengambil ponsel yang ada di saku celananya. Ia menelfon seseorang.

"Hallo, Kai? Aku menerima tawaranmu .."

"..."

Sehun mengangguk "Baik, Aku akan datang besok malam"

"..."

"Ne, Aku harap Appa tak akan mengetahuinya"

"..."

"Baiklah! Baiklah! Dasar cerewet!"

"..."

"Menjijikan! Ne .."

'Pip'

Setelah memutuskan sambungan dengan Kai, ia menggerutu pelan "Apa-apaan itu? Tuan Muda Oh. Itu menjijikan" Ucapnya. Sehunpun beranjak memasuki kamar mandi.

.

.

.


.

.

.

'Drrrt .. Drrt'

Kai yang tengah asik dengan kegiatannya membersihkan meja bar terhenti saat merasakan ponselnya bergetar.

"Oh Sehun" Gumamnya kemudian ia mengangkatnya.

"..."

"Jinjja? Kau menerimanya? Syukurlah. Besok malam kau harus datang kemari dan bertemu dengan Bosku. Dan aku akan mengenalknmu pada Dancing Machine disini"

"..."

"Berdoalah semoga ayahmu tak mengetahui hal ini"

"..."

"Tapi kau harus tetap berhati-hati Sehun-ah, kau tahu kan 'mata' ayahmu ada dimana saja untuk mengawasimu. Kau harus menggunakan penyamaran yang bagus agar tak mudah untuk diketahui"

"..."

"Ahaha .. Baiklah kalau begitu, aku tunggu kau besok malam, Tuan Muda Oh"

"..."

'Pip'

Kai terkekeh pelan saat Sehun memutuskan sambungan telfonnya "Dasar anak itu, tak pernah berubah" Ucapnya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

.

.

.


.

.

.

Luhan masih setia melihat keluar jendela kamarnya, tatapannya sudah tak lagi kosong. Ia merenungkan sesuatu...

"Hunnie~ Kau harus mengajariku gerakan itu~ Ku mohon .."

"Hmm .. Baiklah! Baiklah! Kemari Hyung. Aku akan mengajarkannya padamu"

Luhan menutup matanya. Sekelebat bayangan bersama orang itu terlintas di benaknya.

"Hunnie .. Jangan tinggalkan aku .."

"Pergilah Hyung!"

Luhan menghela nafasnya. Hatinya sakit. Sangat sakit saat orang itu mengusirnya lalu pergi meninggalkannya. Setetes Liquid mengalir dari mata cantiknya. Dengan gerakan cepat ia menghapusnya.

"Tidak .. Aku tidak boleh menangis lagi! Dia akan membenciku jika aku menangis!" Bisiknya.

Pusing memikirkan itu, Luhan beranjak kearah tempat tidurnya lalu memasukkan dirinya kedalam selimut tebal miliknya.

"Selamat malam .." Ucapnya entah pada siapa, kemudian ia memejamkan matanya lalu terlelap.

.

.

.


.

.

.

Esok malamnya, Sehun kembali datang ke Club itu.

Ia menggunakan topi hitam, kaca mata hitam, scraft hitam, celana jeans, dan cost yang juga berwarna hitam dan ditambah sepatu kets. Orang-orang bahkan tak sadar jika dia seorang Oh Sehun, CEO muda perusahaan terbesar di Korea.

Ia duduk duduk menunggu Kai disalah satu kursi yang ada di situ.

Tak lama kemudian Kai datang "Hai Sehun, Maaf membuatmu menunggu" Ucapnya. Sehun menghela nafas "Mana Bosmu?" Tanyanya To The Point. Kai duduk di hadapannya "Dia belum datang. Bagai mana jika aku kenalkan saja kau dengan temanku? Dia adalah Dancing Machine di sini" Ucapnya. Sehun mengangguk.

Kai nampak sedang berbicara dengan seseorang di telfon. Tak lama, ia memutuskan sambungannya "Ia akan kemari." Ucapnya. Sehun mengangguk "Aku ingin namaku disamarkan" Ucapnya. Kai memutar bolamatanya malas "Sok misterius sekalu" Cibirnya. Sehun menatapnya datar "Kau yang menyuruhku untuk menyamar" Ucapnya.

Tak lama, seorang namja manis bermata rusa menghampiri mereka "Kai-ah, apa aku terlambat?" Tanyanya.

Sehun tertegun, walau tak bisa melihat wajahnya, Sehun tahu pemilik suara ini. Suara yang sudah lama ia rindukan.

"Tidak Deer, kenalkan ini temanku" Ucap Kai sambil menunjuk kearah Sehun yang tengah menunduk.

Namja yang dipanggil Deer itu duduk di samping Kai lalu mengulurkan tangannya kearah Sehun "Annyeong~ Namaku Luhan, tapi kau bisa memanggilku Deer jika di sini. Itu nama panggilanku" Ucapnya.

Sehun menatap uluran tangan Luhan lalu menjabatnya "Kau bisa memanggilku Odult" Ucapnya. Luhan tersenyum "Lalu namamu?" Tanyanya.

"Namanya Se-"

"Kau tidak perlu mengetahui namaku" Ucap Sehun memotong ucapan Kai.

Luhan mengangguk mengerti "Baiklah, karena kita sekarang adalah teman. Akan kutunjukan ruangan dimana aku biasa bersiap-siap" Ucapnya. Kai dan Luhan bangkit disusul oleh Sehun.

Kai menatap Sehun "Baiklah, kau bersenang senanglah degan Luhan. Aku akan kembali bekerja. Sampai jumpa Odult, Deer" Ucapnya lalu bepamitan. Menyisakan Sehun dan Luhan yang masih diam.

"Ayo.. Ikuti aku" Luhan menarik tangan Sehun lembut agar mengikutinya. Sehun terdiam, sudah lama sekali ia tak merasakan tangan hangat ini.

.

.

.

.

.

Mereka telah sampai disebuah ruangan, mungkin lebih pantas disebut dengan kamar karena ada Kasur berukuran King size, lemari pakaian, Tempat untuk make up, Sofa, Televisi, dan Meja belajar serta Kaca besar.

Luhan menunukan beberapa kostum yang biasa ia pakai "Tapi aku tak tahu berapa ukuran badanmu, kurasa kau lebih besar dariku" Ucapnya. Sehun mengangguk.

Luhan meregangkan tubuhnya "Ugh, aku harus mandi dan bersiap" Ucapnya "Odult, jika kau mau melihat-lihat silahkan saja. Aku akan pergi mandi dulu" Sambungnya sambil tersenyum. Hati Sehun menghangat, kemudian ia mengangguk. Luhanpun memasuki kamar mandi.

Sehun melihat keluar jendela lalu melepas kaca matanya "Apa kau melupakan ku?" Gumamnya. "Apa kau akan membenciku jika suatu saat nanti kau mengetahui diriku yang sebenarnya?" Bisiknya.

Sehun menunduk dalam "Hyung .. Mianhae ..." Bisiknya.

.

.

.

Luhan terdiam didepan washtafel ia menatap kebawah.

'Aku seperti mengenalinya ..'

'Ia siapa? Mengapa ia tak ingin memberitahukan namanya?'

'Entahlah ... Suaranya sangat familiar di telingaku ..'

'Apa ia ... Sehun?'

Luhan menggeleng ketika pemikiran itu masuk kedalam benaknya "Itu tak mungkin Sehun ..." Bisiknya lalu beranjak untuk mandi.

.

.

.

Selang beberapa menit, Sehun mendengar suara pintu dibuka dari arah kamar mandi. Luhan sudah berkostum lengkap. Dengan sesegera mungkin ia memakai kembali kacamatanya.

Luhan yang melihat itu menatap Sehun bingung "Kenapa kau memakai kacamatamu lagi? Lepas saja. Tak apa-apa" Ucapnya. Sehun menggeleng "Aku lebih suka memakai kacamata" Sebisa mungkin ia mencari alasan. Luhan mengernyitkan dahinya "Walau itu kacamata hitam?" Tanyanya. Sehun mengangguk.

Luhan menghela nafasnya 'Kau misterius sekali..' Batinnya. Dengan jahil ia mendekat kearah Sehun lalu mencoba melepaskan kacamata itu, namun Sehun berhasil menghindar "Apa yang kau lakukan?!" Ucap Sehun.

Luhan kembali mendekat "Aku hanya ingin mengetahui wajahmu~ Kau tidak memberitahuku namamu. Setidaknya beri tahu aku wajahmu ~" Ucapnya yang masih berusaha melepas kacamata Sehun karena dari tadi Sehun selalu menghindar.

Sehun menggeleng "Sudah kubilang aku lebis suka menggunakan kaca mata" Ucapnya. Luhan mengembungkan pipinya kesal, lalu berhenti "Oh Ayolah ~ Aku hanya ingin melihat wajahmu saja ~" Ucapnya. Sehun kembali menggeleng "Tidak boleh" Ucapnya.

Luhan menatap Sehun kesal, namun sadar akan kasur miliknya yang ada di belakang Sehun, dengan tiba-tiba ia mendorong Sehun ke kasurnya dan mengunci keduatangannya "Ya!Apa yang kau lakukan?!" Ucap Sehun sedikit keras, ia memberontak. Oh ayolah, ia belum siap untuk menunjukan wajahnya.

Luhan tersenyum senang, perlahan ia menggerakan tangannya kearah kacamata milik Sehun.

'Cklek'

Seseorang masuk dengan lancangnya, dan itu membuat Luhan menoleh kesal. Sedangkan yang dipandang membeku di ambang pintu "Astaga Deer! Apa yang akan kau lakukan pada temanku?!" Ucap Orang itu. Luhan bangkit dari posisinya "Temanmu tak ingin menunjukan wajahnya padaku, Kai-ah!" Ucapnya kesal sambil menunjuk Sehun yang juga telah bangkit.

Kai menggeleng-gelengkan kepalanya "Sudah! Deer, ini waktunya kau tampil. Dan kau Odult, Bos menunggumu diruangannya. Luhan mendengus kesal 'Kenapa ia menggangguku? Padahal tinggl sedikit lagi ~ T-T' Kemudian ia berjalan keluar dengan menghentak-hentakan kakinya dan menyisakan Sehun dan Kai yang masih terdiam di ruangan itu.

Kai menggaruk tengkuknya canggung "M-Maafkan dia, dia memang sedikit kekanak-kanakan" Ucapnya. Sehun menggeleng lalu tersenyum tipis "Tak apa" Ucapnya 'Dia memang kekanak-kanakan' Lanjutnya dalam hati.

Kai tersenyum "Baiklah! Ayo ikuti aku, bos sudah menunggumu" Ajaknya. Sehun mengangguk.

.

.

.

.

.

.

.

.

To Be Countinue~

A/N : Oke, saya tahu untuk chapter ini aneh T-T. Maafkan saya T-T saya akan berusaha membuatnya lebih baik untuk chapter depan dan akan saya perpanjang lagi. Jadi, untuk segala kekurangan dalam chapter ini. Saya mohon maaf sebesar-besarnya (Deep Bow)

Terimakasih untuk semua yang sudah me riview. Maaf saya tidak bisa membalasnya satu-satu (Bow)

Dan Terimakasih untuk kalian semua yang sudi membaca fanfiction aneh saya ini ^^ Sekali lagi terimakasih banyak ^^