Love, Life, Dancing!
.
.
.
.
.
Cast :
Oh Sehun (Sehun)
Xi Luhan (Luhan)
Kim Jongin (Kai)
Do Kyungsoo (Kyungsoo)
.
.
.
.
.
Please Enjoy ~
.
.
.
.
.
ByeolBaek
.
.
.
.
.
Love..
.
.
.
.
.
Life.
.
.
.
.
.
Dancing!
Miss ...
.
.
.
.
.
Sehun terdiam di ruangannya. Ia mengingat kembali ucapan Chanyeol di telfon tadi.
Flashback
"Hallo .."
"Sehun-ah, bisa bertemu denganku malam ini?"
"Aku .. Aku tak bisa, Chanyeol-ah .. Appa mengawasiku malam ini .."
"Ada yang ingin aku dan Baekhyun bicarakan padamu .. Kumohon~ ini tentang Luhan"
"Hhh~ Baiklah .. Akan ku pikirkan .."
"Bagus. Aku dan Baekhyun akan menunggumu di Bar .."
"Ne .."
'Pip'
Flashback End
Sehun menghela nafasnya, lalu memijat pelipisnya.
"Sehun .."
Sebuah suara membuatnya menoleh. Ia menemukan Appanya tengah menatapnya "Ne?" Tanyanya.
Appanya menatapnya tajam "Malam ini kau tidak boleh pergi kemana-mana" Ucapnya tegas.
Sehun menatap Appanya memelas "Tapi appa .. Aku sudah ada janji dengan Chanyeol .."
"Tidak boleh! Jangan membantah, Oh Sehun!" Potong Appanya.
Sehun mendesah berat lalu memejamkan matanya.
Appanya yang melihat itu mendekati Sehun lalu mengelus rambut anaknya sayang "Appa lakukan ini karena appa menyayangimu, Sehun" Ucapnya kemudian keluar dari ruangan Sehun "Pergilah makan siang, bukankah kau bilang kau sedang sakit?" Ucapnya sebelum menutup pintu ruangan Sehun.
Sehun membuka matanya saat merasakan Appanya sudah pergi "Kau mengekangku Appa. Kau tidak menyayangiku. Kau menyayangi reputasi perusahaanmu" Lirihnya lalu melihat kearah kalender meja yang ada di mejanya.
Ia tersenyum kecut saat melihat tanggal 12 April yang ia lingkari "Hn, bahkan aku yakin jika kau akan melupakan ulang tahunku lagi sama seperti tahun-tahun sebelumnya .." Ucapnya.
Ia menyenderkan punggungnya pada kursi yang ia duduki lalu menatap langit-langit ruangannya "Hyung .. Apa kau mengingat ulang tahunku?" Bisiknya.
"Hunnie, Selamat Ulang Tahun"
"Hunnie, Saengil Chukkaeyo .."
"Tenang saja,aku akan selalu menemani Hunnie jika Hunnie berulang tahun .."
"Saengil Chukkaeyo, Hunnie!"
Sehun tersenyum kecil 'Kau selalu mengingat ulang tahunku, Hyung .. Kau satu-satunya orang yang menemaniku setiap aku merayakan ulang tahunku .. Bahkan Appa saja selalu lupa kapan ulang tahunku ..' Batinnya.
.
.
.
.
.
Luhan duduk di ruang ganti pakaian khusus karyawan. Ini memasuki jam istirahat.
Ia melirik sebuah kalender yang menggantung di ruangan itu. Ia mendesah pelan lalu menunduk 'Sabtu nanti .. Sehun berulang tahun ..' Batinnya.
"Hunnie, Saengil Chukkae!"
"Terima kasih, Hyung .."
Luhan tersenyum kecil.
"Apa kau tak pernah merayakan ulang tahun bersama Appamu?"
"Aku tak pernah merayakan ulang tahun besama orang lain, hyung. Appa terlalu sibuk .. Aku selalu merayakannya sendiri .."
Senyuman Luhan menghilang 'Apa ia akan merayakan ulang tahunnya sendirian lagi ?' Batinnya.
"Luhan hyung" Seseorang duduk disampingnya.
Luhan menoleh lalu tersenyum mendapati Taehyung yang duduk disampingnya "Ne?" Tanyanya. Taehyung tersenyum tipis "Hyung belum makan sedari tadi, ini hyung .. makanlah bekalku" Ucapnya sambil menyerahkan kotak bekalnya pada Luhan.
Luhan menggeleng "Tidak trimakasih, makan saja oleh mu .." Tolaknya halus. Taehyung menggeleng "Kau harus makan hyung. Lihatlah kau sangat kurus"Ucapnya.
Taehyung menaruh bekalnya di tangan Luhan "Makan saja hyung. Anggap saja ini ucapan trimakasihku untuk hyung, karena hyung sudah menolongku tadi" Ucapnya "Lagipula, aku sudah berbagi bekal dengan ... Umm .. Jungkook .." Lanjutnya lalu menunduk, wajahnya sedikit merona
Luhan melirik seorang namja manis yang tak jauh dari mereka. Namja manis itu mendongak, tatapan matanya bertemu dengan Luhan. Namja manis itu sedikit tersentak namun kemudian ia membungkuk sedikit lalu menunduk dengan wajah yang merona.
Luhan terkekeh lalu mengambil kotak bekal milik Taehyung "Baiklah, terimakasih, Taehyung .." Ucapnya. Taehyung tersenyum lalu mengangguk dengan wajah yang masih merona.
.
.
.
.
.
Sehun berjalan-jalan di kawasan gangnam. Ia memakai syal tebal hingga menutupi mulutnya dan juga topi. Baju formalnya sudah ia ganti dengan celana jans dan coat berwarna cream, ia akan berencana makan siang di salah satu restoran di kawasan gangnam yang tak jauh dari perusahaannya.
Ia berhenti tepat didepan sebuah restoran. Ia tersenyum kecil lalu melangkah ke dalam restoran itu.
.
.
.
"Luhan-ah"
Luhan yang sedang makan menoleh "Ung? Ne Xiumin hyung?" Tanyanya.
Xiumin menggaruk tengkuknya ragu "Ngh .. Aku akan pergi sebentar. Bisakah kau menggantikan posisiku sebagai pelayan? Aku sudah bilang pada bos" Ucapnya.
Luhan berhenti mengunyah "Baiklah" Ucapnya ramah. Xiumin tersenyum senang "Gomawo, Luhan-ah" Ucapnya. Luhan mengangguk.
.
.
.
Sehun duduk disalah satu meja yang ada didekat jandela. Ia membolak balik menu yang ada di restoran, memilih menu apa saja yang akan ia makan sambil menunggu pelayan yang datang.
"Selamat siang. Apa anda ingin memesan sesuatu?"
Sehun terdiam. Ia kembali mendengar suara ini .. What The F*ck?! Kenapa Luhan bisa ada di sini?!
"Tuan?"
'Oke Sehun, hanya perlu bersikap seakan kau tak mengenalnya. Yah ... tak mengenalnya ..' Batinnya
Sebenarnya ia agak ragu dengan pemikirannya tapi ia tengah panik dan tak tahu harus berbuat apa lagi.
Sehun mendongak dengan wajah datarnya lalu melipat kedua tangannya di dada "Aku pesan makanan yang paling enak dan terkenal di sini" Ucapnya acuh kemudian menatap keluar jendela.
Pelayan yang ada didepan Sehun terbelak. Ia mematung. Matanya menatap Sehun tak percaya "S-Sehun?" Bisiknya sangat pelan.
Merasa di tatap, Sehun yang tengah melihat keluar jendela menoleh kearah pelayan tadi "Apa lagi yang kau lakukan di sini? Cepat Pergi!" Usirnya.
Pelayan yang ada di hadapannya itu sedikit tercengang, matanya berkaca-kaca. Dan tanpa sepatah kata pun ia berlari menjauhi Sehun.
Sehun tahu, Luhan sakit hati dengan ucapannya itu. Ia melihat guratan kekecewaan, rindu, dan tak percaya pada mata Rusa milik Luhan.
Sehun menghela nafasnya berat "Bagus. Ini hari yang buruk!" Rutuknya.
.
.
.
Luhan berlari.
Ia menutup mulutnya, menahan isakan yang bisa keluar kapan saja. Tangisnya sudah pecah. Ia tak peduli ia menubruk beberapa orang temannya dan menghiraukan pertanyaan mereka. Hatinya sakit. Sangat sakit.
Luhan memasuki ruang ganti pakaian.
Ia menangis kencang. Luhan yakin bahwa itu Sehun, tapi kenapa Sehun bersikap seakan tak mengenalinya? Mengapa ia langsung memalingkan wajahnya dan tak mau menatapnya? "Hiks~Hiks Hiks~ A-Apa benar ia S-Sehun? Ke-Kenapa ia bersikap seakan ia t-tak mengenalku? Hiks~"Ucapnya.
Luhan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya, mencoba menghentikan tangisnya "Uuuh~ Hiks~"
'Tap Tap Tap'
Seseorang berjalan kearahnya.
'Tap'
Seseorang itu berhenti tepat di hadapannya lalu menyerahkan sebuah saputangan.
Luhan mendongak "T-Taehyung .." Ucapnya "Trimakasih .." Lanjutnya lalu mengambil saputangan milik Taehyung dan menghapus airmatanya.
Taehyung duduk disamping Luhan "Ada apa hyung?" Tanyanya. Luhan menggeleng lalu tersenyum kecut "Tidak ada apa-apa Taehyung-ah ..." Ucapnya. Taehyung menatapnya "Ceritalah hyung .." Ucapnya.
Luhan kembali menangis. Taehyung yang merasa iba, membawa Luhan pada pelukannya.
Taehyung mengusap punggung Luhan "Stt .. Hyung, kalau kau ada apa-apa, kau bisa cerita padaku .. Percayalah, aku bisa menyimpan rahasiamu sama seperti Baekhyun hyung .." Ucapnya. Luhan tersenyum kecil "Trimakasih, Taehyung-ah .." Ucapnya. Taehyung mengangguk "Ne .." Ucapnya.
Luhan melepaskan pelukannya. Mereka terkekeh bersama.
Tanpa mereka sadari, mereka sedari tadi diperhatikan oleh sorang namja yang tengah meremas pinggiran celananya. Matanya sedikit berkaca-kaca.
'Hyung ...'
.
.
.
.
.
Sehun masih duduk di mejanya. Pesanannya sudah datang dari beberapa menit lalu, namun ia sama sekali tak menyentuhnya.
"Permisi .."
Sehun menoleh dan mendapati seorang namja manis berseragam pelayan tengah menunduk hormat padanya "Permisi tuan, bolehkah saya duduk bersama anda?" Tanyanya.
Sehun mengangguk "Ya .. Silahkan" Ucapnya. Pelayan itu duduk di hadapan Sehun "Maaf sebelumnya, nama saya Jungkook" Ucapnya. Sehun mengangguk "Namaku Sehun" Ucapnya.
Jungkook tersenyum kecil "Maaf jika saya lancang, Sehun-sshi" Ucapnya. Membuat Sehun mengernyitkan dahinya "Memangnya ada apa?" Tanyanya. Jungkook terlihat berfikir "Apa tadi Luhan hyung yang mencatat pesanan anda?" Ucapnya.
Sehun terdiam sejenak sebelum mengangguk. "Tadi, Saya melihat Luhan hyung berlari sambil menangis. Apa ini ada hubungannya dengan anda, Sehun-sshi?" Ucapan Jungkook membuat Sehun terdiam.
Jungkook melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Sehun "Halo? Sehun-sshi?" Ucapnya. Sehun tersadar lalu sedikit membenahi cara duduknya "Ahh. Maafkan aku, mungkin ia tersindir oleh perkataanku tadi. Tolong sampaikan maafku padanya, Jungkook-sshi" Ucapnya.
Jungkook tersenyum "Tentu, Sehun-sshi .. maaf sudah mengganggu waktu anda. Saya permisi" Ucapnya kemudian pergi dari hadapan Sehun setelah sebelumnya membungkuk hormat pada Sehun.
.
.
.
Taehyung sudah selesai menyusun makanan yang akan dihidangkan. Ia tersenyum senang saat malihat hasil karyanya.
"Pesanan nomor empat siap!" Triaknya. Kemudian seorang pelayan datang lalu mengambilnya.
Taehyung tersenyum kecil namun senyuman itu hilang digantikan dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan "Jungkook ?" Gumamnya saat melihat seorang pelayan -Yang menurut Taehyung adalah Jungkook- tengah berbincang-bincang dengan salah satu pelanggan restoran ini.
Setelah beberapa lama memperhatikannya. Kemudian ia melihat Jungkook membungkuk hormat sebelum meninggalkan orang itu. Dahinya mengernyit heran. Pasalnya, dari semua pegawai di sini, Jungkook dikenal pemalu dan tidak banyak bicara, kecuali padanya.
Ya, semua pegawai tahu itu.
.
.
.
Jungkook berjalan kearah dapur. Ia berniat untuk menyampaikan amanat dari Sehun.
Ia memasuki ruang ganti pakaian "Luhan hyung?" Panggilnya.
Ia mencari Luhan keseluruh ruangan namun ia tak menemukan Luhan di situ. Kemudian ia melirik toilet. Ada suara gemercik air dari sana. Mungkin Luhan ada di sana.
Jungkook memutuskan untuk duduk disalah-satu kursi yang ada di situ. Ia mengetuk-ngetuk sepatunya di Lantai sambil menunggu Luhan keluar.
'Tap Tap Tap'
Ia mendongak saat mendengar langkah seseorang "H-Hyung?" Tingkahnya seketika menjadi gugup saat melihat siapa yang ada dihadapannya.
"Apa yang kau lakukan disini?" Suara itu menyapanya. Jungkook menunduk "A-Aku mencari Luhan Hyung .." Ucapnya.
Jantung Jungkook berdegup saat orang itu menghela nafasnya lalu duduk disampingnya "Luhan hyung ada di toilet" Ucap Orang itu. Jungkook mengangguk "A-Apa yang kau lakukan disini, Taehyung hyung?" Tanyanya.
Taehyung menoleh "Aku mengikutimu" Ucapnya. Jungkook mendongak menatapnya "Apa?" Tanyanya.
Taehyung terkekeh kecil "Apa kau tidak mendengarku tadi? Aku mengikutimu, Sayang" Ucapnya lalu mengusak sayang rambut Jungkook. Jungkook terdiam, ia kembali menunduk. Pipinya memanas.
"K-Kenapa?" Tanya Jungkook. Tahyung terdiam "Sebenarnya aku ingin menanyakan sesuatu padamu" Ucapnya.
Jungkook masih terdiam, ia menunggu Taehyung sendiri yang mengatakannya. "Apa yang kau bicarakan dengan namja itu?" Tanya Taehyung.
Jungkook tersentak "A-apa maksudmu?" Tanyanya.
Taehyung menatapnya "Namja yang berada dimeja nomor dua belas" Ucap Taehyung. "Kau melihatku?" Tanya Jungkook. Taehyung mengangguk "Aku tak sengaja melihatmu" Ucapnya.
Jungkook terdiam "Nggh .. A-Aku hanya menanyakan sesuatu .." Bisiknya. Taehyung terdiam "Menanyakan Sesuatu?" Tanyanya.
Jungkook mengangguk "Eum. Sebelum Luhan Hyung menangis, ia sempat mencatat pesanan dari namja itu .. Dan aku hanya menanyakan kenapa Luhan Hyung menangis .." Ucapnya.
'Cklek'
Pintu toilet terbuka.
Luhan keluar dengan raut wajah yang lebih baik dari sebelumnya.
Ia sedikit tersentak saat melihat Jungkook dan Taehyung tengah berada di ruang ganti "Eh? Jungkook? Taehyung? Apa yang kalian lakukan disini?" Tanyanya.
Jungkook menunduk "A .. A-ku ingin berbicara padamu, Hyung .." Ucapnya malu-malu. Luhan tersenyum kecil. Ia bisa memaklumi karena selain pegawai yang termuda, Jungkook juga seorang yang pemalu "Ada apa?" Ucapnya.
Jungkook menatapnya "A .. Namja itu .. Ia meminta maaf padamu .." Ucapnya. Luhan mengernyitkan alisnya "Namja itu?" Tanyanya.
Jungkook mengangguk "Ne .. Namja yang berada di meja nomor dua belas .. Oh Sehun .." Ucapnya. Luhan terdiam kemudian tersenyum kecil pada Jungkook "Trimakasih telah menyampaikannya padaku, Jungkook-ah" Ucapnya.
Jungkook tersenyum senang lalu mengangguk. Namun Taehyung yang ada di sampingnya terdiam melihat Luhan. Ia tahu, senyuman Luhan bukan sebuah senyuman tulus. Namun sebuah senyum terpaksa.
Luhan berpamitan meninggalkan ruangan itu. Menyisakan Jungkook dan Taehyung yang masih ada di ruangan itu.
Jungkook berubah canggung "A-Aku akan kembali bekerja .." Ucapnya sambil menunduk. Ia berdiri namun Taehyung menahannya saat hendak meninggalkan tempat itu "Tunggu" Ucap Taehyung.
Jungkook terdiam di tempat "N-Ne?" Tanyanya. Taehyung ikut berdiri, kemudian ia berdiri dihadapan Jungkook "A-Apa malam ini kau ada acara?" Tanyanya. Jungkook menunduk, ia merona "T-Tidak" Jawabnya.
Taehyung menghela nafasnya, mencoba membuang kegugupannya "M-Malam ini .. A-aku ingin mengajakmu bertemu dengan Hyungku .." Ucapnya.
Jungkook terdiam, wajahnya memanas hingga sampai ke telinganya. Taehyung memegang kedua bahunya "Apa kau mau?" Tanyanya.
Jungkook meremas seragamnya, demi apapun ia sangat gugup jika terlalu dekat dengan Taehyung 'Apa yang harus aku lakukan?' Batinnya. Taehyung melepaskan tangannya "Aku tak memaksa" Ucapnya sambil tersenyum kecil.
Jungkook tau, ada sedikit nada kekecewaan dalam kalimat Taehyung. Ia sedikit menggigit bibirnya kemudian ia menatap Taehyung "A-Aku .. Baiklah, A-Aku mau .." Ucapnya malu-malu.
Taehyung tersenyum lalu membawa Jungkook pada pelukannya "Trimakasih .." Ucapnya. Jungkook tersenyum kecil lalu mengangguk.
.
.
.
.
.
Luhan tengah memperhatikan sosok Sehun dari jauh. Ia menatapnya sendu 'Sehunnie ... Apa kau lupa padaku?'
Luhan teringat akan kata-kata Jungkook padanya tadi. Ia mengatakan bahwa Sehun meminta maaf atas perlakuannya. Tapi batinnya sedikit ragu akan hal itu.
Luhan menggeleng kemudian beranjak ke meja yang di tempati oleh Sehun untuk menyerahkan bill. Sungguh, ia tak ingin melakukan ini tapi ia sudah berjanji pada Xiumin untuk menggantikannya sebagai pelayan. Dan Luhan bukanah orang yang suka ingkar janji.
"Permisi Tuan .." Luhan membungkuk hormat pada Sehun. Sehun dengan secepat mungkin merubah mimik wajahnya saat matanya bertemu dengan mata Luhan.
Luhan terdiam, begitu juga dengan Sehun. Mereka saling bertatapan, sangat dalam. Bahkan Sehun bisa melihat jelas gurat kesedihan di mata Luhan. Berbalik dengan Sehun, Luhan hanya melihat tatapan dingin. Dan itu membuat hatinya kembali teriris.
Luhan memutuskan kontak matanya, ia tak ingin kembali menangis "Maaf tuan, ini billnya .." Ucapnya sopan kemudian menaruh bill dihadapan Sehun.
Sehun terdian sebentar lalu menaruh beberapa lembar won di bill itu. Luhan kembali membungkuk hormat saat mengambil Bill itu "Trimakasih tuan .. Silahkan datang lagi dilain waktu .." Ucapnya sambil tersenyum.
Sehun tertegun. Oh, ia sudah tak tahan lagi ingin memberitahu Luhan bahwa ia sangat merindukannya.
Saat Luhan hendak berbalik, namun Sehun menahan tangannya "T-Tunggu .. Luhan-sshi" Ucapnya. Luhan sedikit tersentak kemudian berbalik "Ada yang bisa saya bantu, tuan?" Tanyanya.
Sehun terdiam. Entah mengapa lidahnya terasa kelu untuk sekedar mengatakan 'Aku merindukanmu', ia menatap Luhan "M-Maafkan perkataanku tadi .. Aku .. Tak bermaksud membuatmu menangis .." Akhirnya kalimat itu lah yang keluar dari mulutnya.
Luhan terdiam namun kemudian mengulum senyumnya "Tak apa-apa tuan .." Ucapnya. Sehun melepaskan tangannya dari tangan Luhan "Ada yang bisa saya bantu lagi, tuan?" Tanya Luhan. Sehun menggeleng. Luhan kembali membungkuk hormat "Saya permisi .." Ucapnya lalu berlalu.
Tanpa Sehun sadari, Luhan menggigit bibirnya. Air mata itu kembali mengalir dari pelupuk matanya.
.
.
.
.
.
.
.
Seorang anak lelaki tengah duduk dipinggiran danau yang tak jauh darinya.
'Puk'
Ia merasakan sebuah tangan menepuk pundaknya. Ia menoleh, mendapati anak lelaki yang manis -menurutnya- tengah tersenyum padanya.
"Hallo .." Sapa anak lelaki yang manis itu.
Ia terdiam, tak berniat untuk membalas sapaan anak itu. Ia lebih memilih menoleh kembali kearah danau.
Anak manis itu mengembungkan pipinya kesal. Kemudian ia duduk disamping anak lelaki yang tengah menatap danau.
Ia menoleh kearah anak lelaki yang ada di sampingnya "Kau siapa? Kenalkan aku Luhan" Ucapnya sambil tersenyum lalu menjulurkan tangannya dihadapan anak lelaki itu.
Anak lelaki itu sedikit menoleh namun tidak mendongak, ia menatap uluran tangan Luhan "Ung? Aku Sehun.." Tanpa membalas uluran tangan Luhan.
Luhan menghela nafasnya lalu menurunkan tangannya. Ia mendongak sebentar kearah langit lalu kembali menoleh kearah Sehun "Aku baru melihatmu disini .. Apa kau orang baru di sini?" Tanyanya.
Sehun mencabuti kecil rerumputan yang ada didekat sepatunya "Hmm .. Ya .." Jawabnya.
Luhan tersenyum cerah hingga matanya menyipit, ia lalu menggenggam sebelah tangan Sehun"Baiklah Sehun. Sekarang kita teman" Ucapnya.
Sehun mendongak menatap Luhan. Ia tertegun melihat senyuman Luhan yang bisa terbilang terlalu over. Ia tersenyum kecil lalu kembali menunduk melihat kearah sepatunya "Terimakasih .." Ucapnya.
Senyum Luhan memudar, digantikan dengan raut wajah bingung "Huh? Trimakasih?" Tanyanya. Sehun mengangguk "Trimakasih telah menjadi teman pertamaku .." Ucapnya.
Luhan terdiam. Ia masih mentap Sehun bingung "Teman pertamamu?Apa kau tidak pernah berteman sebelumnya?" Tanyanya.
Sehun menggeleng "Tidak .. Semua temanku takut pada Appaku .." Lirihnya.
Luhan menatap iba pada Sehun. Ia mengeratkan genggaman tangannya lalu tersenyum kecil "Tenanglah .. Aku akan selalu menjadi temanmu" Ucapnya.
.
.
.
.
.
.
.
.
To Be Countinue ~
A/N : Hallo ~ Saya kembali ^^ Apa kabar semuanya? Maaf untuk kalian yang menginginkan part untuk KaiSoo atau ChanBaek, Saya belum bisa menunjukannya di chapter ini (Bow) Saya benar-benar minta maaf. Saya sengaja menambahkan BTS VKook couple (walaupun sebenarnya saya menyukai JinV) ^^
Oh iya, ada yang bertanya pada saya di PM. Ia bertanya apa gender saya dan berapa umur saya. Untuk 'Kamu' yang menanyakan Gender saya, saya Perempuan ^^ dan untuk umur, mungkin kamu atau mungkin kalian para readers bisa menebaknya ^^
Cha, seperti biasa. Saya meminta maaf atas semua kekurangan di chapter ini. Saya tahu ada part yang aneh di chapter ini karena saya sedang tidak mood untuk mengedit cerita ini. Saya mohon maaf atas itu (Deep Bow)
.
.
.
Untuk akhir kata ..
Mind to Review? ^^
