Alpha and Omega [2]

HunHan

Original Remake by shawtysky

Original Written by Aratte for Attack on Titan Fanbook Light Novel 05

Warn!NC!;BxB;AU!Werewolf!

.

Beneran ini remake dari Attack on Titan. Ini remake, bukan plagiat. Baca baik-baik dari atas ya.

Ngelanjutin dari part sebelumnya yang remake dari Light Novel 04, kebelet ngetik lagi:')

Maaf ya hiatus terus, tugasnya numpuk terus nih:')

Doain biar bisa apdet kilat lagi kayak dulu:')

.

.

Ps : buat mvnlight, cepet post ff-nya. Titik gak pake koma :v

.

.

.

Aku Luhan.

Aku hanyalah seorang pemuda tampan berumur 25 tahun.

Aku menyukai hidupku yang sederhana dan dikelilingi orang-orang yang mencintaiku.

Aku tak membutuhkan apapun selain keluarga dan teman-temanku.

Cukup kedua orangtuaku, Yixing, Suho, Chen, Baekhyun, Kai, Kyungsoo.

Dan juga alfa-ku tentu saja.

Oh Sehun.

Alpha and Omega

Akhirnya aku bisa menamatkan kuliahku dengan nilai yang baik. Pada saat wisuda, semua keluargaku datang. Tak terkecuali alfa-ku.

Ibu memakai dress yang sangat apik dalam membingkai tubuhnya. Ayah dan Yixing memakai setelan jas hitam yang sama.

Namun mataku tetap terfokus pada Sehun. Walaupun hanya memakai kemeja putih dengan lengan kemeja yang ia tekuk hingga siku dan celana jeans hitam kesukaannya ─aku sampai hafal dengan pakaian favoritnya─, ia tetap berhasil memesonaku. Apalagi dengan rambut berwarna abu-abu keperakan dan obsidiannya yang selalu menjadi favoritku.

"Hey sayang, selamat atas kelulusanmu." Ibu dan Ayah memelukku dengan erat. Ibu berkata jika ia merasa baru kemarin ia menggendong dan menyanyikanku lullaby sebelum aku tidur. Yah, waktu memang terasa cepat.

"Hey, selamat atas kelulusanmu, ge. Aku akan menyusulmu beberapa bulan kedepan." Aku hanya tertawa mendengar perkataannya dan aku membalasnya dengan memeluk adikku erat.

Dan yang terakhir, aku beralih pada Sehun. Ia memandangku lekat-lekat dengan baju toga yang melekat di tubuhku.

"Selamat atas kelulusanmu, Lu."

Singkat memang. Tapi aku memakluminya. Sehun memang tipe orang yang pelit bicara dan ekspresi.

"Terimakasih, Sehun. Aku senang mendengarnya."ucapku sambil tersenyum padanya.

Hening.

"Beberapa hari setelah kelulusanmu, aku mengajakmu ke suatu tempat." Aku mengernyit heran. Kemana?

Seolah-olah ia tahu dari kernyitan heranku. "Kita ke rumah peninggalan kakakku. Di daerah Mokpo."

"Aku belum─"

"Aku sudah meminta izin pada kedua orangtuamu dan adikmu yang ─super─ protektif itu. Mereka mengizinkan." Aku hanya menurut pada alfa-ku saja. Tanpa pikir apapun, aku mengangguk mengiyakan.

"Aku senang dan bangga denganmu, Lu."

Ia memelukku setelahnya. Erat sekali, sampai-sampai aku bisa merasakan detak jantungnya. Berirama sama dengan degup jantungku.

Tanpa kami sadari, Yixing berkali-kali memotret diriku dan Sehun.

"Bagus untuk menghiasi album keluarga."gumamnya puas.

Alpha and Omega

2 weeks later…

Setelah berkemas dan berpamitan, kami benar-benar pergi ke Mokpo. Dengan menaiki motor hitam besarnya yang membelah jalanan. Selama berjam-jam perjalanan, aku terus memeluk pinggang alfa-ku dari belakang. Kepalaku bersandar di punggung tegapnya. Nyaman sekali, hingga tak terasa aku tertidur.

Tanpa aku sadari, diam-diam tangan kirinya menggenggam tanganku yang masih melingkar di pinggangnya. Di balik helmnya, ia tersenyum tipis.

Pada pukul 18.00, kami sampai di rumah peninggalan kakak Sehun. Tak besar, namun terlihat asri dan luas karena dinding ruangannya didominasi oleh kaca. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, kecuali Sehun yang merasa tempat itu perlu dibersihkan.

Kami berjalan memasuki rumah itu. Kulihat Sehun membuka sebuah pintu yang ternyata terhubung dengan sebuah bengkel garasi. Tanpa mengganti pakaiannya, ia memasuki pintu itu dan mulai mengotak-atik motornya yang terparkir di sana.

Ia hanya melepas jaketnya dan menyisakan kaos hitam yang melekat di tubuhnya. Setelah mengotak-atik motornya sebentar, ia mulai membersihkan motornya. Membasahi dan melumurinya dengan air sabun. Sebagian menyiprat ke arahnya dan membuat gumpalan otot tubuh bagian depannya tercetak jelas dan terlihat olehku.

Daripada aku kembali mengalami siklus heat lagi hanya karena melihat abs-nya, aku memilih untuk membuatkannya teh kesukaannya.

.

Aku memasuki garasi dengan secangkir teh kesukaannya.

Obsidiannya bergerak mengikuti langkahku dengan intens. Sudah kubilang 'kan jika ia bukan tipe orang yang banyak bicara?

Aku duduk di kursi yang ada di sampingnya. "Kau sepertinya sangat menyukai motormu."

"Sejak ayah tiriku mengajarkanku untuk merakit barang-barang rongsokan menjadi barang yang tak terduga."

"Kau tidak takut kotor?"

"Kotor ada untuk dibersihkan. Dan aku sanggup melakukannya."

"Kau memang suka bersih-bersih, Sehuna."

Aku teringat dengan suatu kejadiaan saat ibu menyuruhku dan Sehun untuk membersihkan rumah. Aku selalu dimarahi oleh Sehun karena ─menurutnya─ aku tak bisa membersihkan debu-debu dan segala partikel pengotor kecil lainnya dengan becus. Aku merasa Sehun seperti Yixing. Mata mereka bahkan mungkin dapat melihat debu-debu kecil yang berterbangan dalam radius lima ratus meter.

"Aku dulu hidup di lingkungan yang kotor dan bau sehingga aku ingin menyapu bersih segalanya."

"Mungkin ibu dan Yixing sepertimu, Sehun. Mereka sangat peka dalam urusan kebersihan. Jika ada barang berdebu sedikit saja, mereka pasti akan mengomel habis-habisan dan pada akhirnya, aku yang menjadi sasaran kemarahan mereka. Mereka berkata bahawa aku adalah anak pemalas, jorok atau─"

Sehun menatapku intens.

Seketika aku gugup sendiri. "Ah, ceritaku membosankan ya?"

"Tidak. Aku tidak keberatan mendengarnya."

Aku jadi bersemangat untuk berbicara dengannya. "Sehuna, apa makanan kesukaanmu?"

Ia mengernyit seperti pertama kali melihat sesuatu. "Ya, pertanyaan apa itu? Aku tak punya makanan kesukaan."

"Aku hanya ingin tahu. Kau 'kan suka teh. Mana mungkin kau hanya menyukai minuman berkafein rendah seperti itu?"

Sehun memandangku datar. "Aku suka makanan yang cocok dimakan dengan teh."

"Contohnya?"

"Roti?"

"Ah baiklah. Bagaimana dengan warna favoritmu? Ah, pasti hitam 'kan?"

"Apa yang penting dari warna favoritku?"

"Sebenarnya memang tidak penting sih. Kata Chen, warna kesukaan kita dapat mengungkap kepribadian kita."

"Tidak semua warna dapat mengungkapkan kepribadian kita. Mungkin itu hanya khayalan semata saja."

Hening lagi. Aku hampir kehabisan pertanyaan.

"Oh ya Sehuna, apakah sepasang alfa dan omega yang terikat perkawinan tak kasat mata bisa terpisah?"

Ia menatapku intens sekali lagi. "Tentu saja. Kau bisa membentuk tali perkawinan baru bahkan dengan pasangan alfa-mu yang sebenarnya. Istilahnya, kau bisa berselingkuh walaupun telah menikah. Realistis."

"Tapi perkawinan itu berbeda."

"Kau bisa lihat Vivian. Ia alfa yang tak terikat ikatan apapun. Ia bebas dan tak terikat apapun."

Aku memandangnya sedikit terluka. "Jadi, kau menyukai kebebasan seperti itu?"

"Aku sudah biasa terkena masalah seberat apapun."

"Jadi, kau menganggap jika terikat dengan seorang omega adalah sebuah masalah yang berat bagimu?"

"Sesuatu yang membuatku terikat? Tentu saja."

Ulu hatiku pedih.

Namun seakan-akan seperti ditakdirkan bersama, ia mengernyit seperti merasakan sakit hatiku. "Tapi, aku tak pernah menyesal jika aku memang ditakdirkan untuk menjadi alfa-mu, Lu."

Aku berdiri dan berjalan mendekatinya.

Bohong jika aku tak menginginkannya saat ini.

Walaupun berada di luar jadwal siklus omega in heat.

Tanganku berada di rahangnya. Mengusapnya dengan hati-hati. Obsidiannya menatapku waspada. Tanganku beralih dari rahangnya ke lengannya.

Baru aku sadari jika kulit Sehun sangat hangat, bahkan cenderung panas.

Ia berdeham, bermaksud menyadarkanku.

"Eh? Maaf."kataku. Walaupun telah berucap seperti itu, aku masih meneruskan kegiatanku mengusap bisepnya.

"Untuk apa meminta maaf? Kau boleh menyentuh alfa-mu. Aku tak bisa menolak."

Dadaku berdesir hebat.

Mungkin peristiwa ini tak terjadi dua kali dalam hidupku menjadi pasangan omega-nya.

Aku mengangkat hati-hati kaos hitamnya hingga terlihat otot-otot yang terbentuk di perutnya. Saat aku ingin menyentuhnya, dehaman Sehun mengintrupsiku.

"Kukira kau sedang tidak dalam siklus omega in heat-mu. Kau bernafsu juga ingin disentuh olehku." Ia menyeringai tipis ke arahku.

"Bukankah semua omega memang ingin menyentuh alfa-nya?"

"Tidak di luar musim kawin setahuku."

"Jadi aku tidak boleh menyentuhmu sekarang?"

Ia terdiam, namun matanya tetap menatapku.

Aku tetap meneruskan kegiatanku. Lekukan otot-otot perutnya benar-benar membuatku kagum, sekaligus iri.

"Kau iri dengan ototku, Lu?" Ia bertanya dengan nada mengejeknya seperti biasa.

"Siapa yang tak iri? Ini tubuh alfa yang sempurna."

"Kalau kau senang mengusap dan memijat otot perutku, cobalah lakukan hal yang sama dengan ototku yang lain." Aku sontak terdiam dan melihat wajahnya. Seringai di wajahnya semakin melebar.

"Apa yang kau tunggu? Bukankah kau juga menginginkannya?"

Seumur hidupku, aku tak pernah menolak tantangan. Jadi, aku memberanikan diri untuk duduk di hadapannya. Lebih spesifiknya di pangkuannya.

Aku menatap matanya yang juga menatapku dalam-dalam. Aku mulai memberanikan diri untuk mengalungkan kedua tanganku ke lehernya dan mulai menempelkan bibirku dengan bibirnya.

Mungkin menurutnya, ciumanku hanya ciuman setara bocah sekolah menengah.

Namun, seorang omega bisa menjadi lebih agresif daripada alfa-nya sendiri.

Awalnya memang ciumanku sangat kaku, namun aku mulai menghisap dan menggigit bibir tipisnya. Aku menolehkan kepalaku ke kanan dan kiri untuk mencari posisi yang pas untuk melumat bibirnya.

Lalu Sehun membalas ciumanku dengan mendadak. Bahkan aku tak tahu jika lidahnya telah masuk ke dalam rongga mulutku. Lidahnya meliuk dan membelai langit-langit mulutku. Aku mengerang. Seumur-umur, mulutku tak pernah terasa sesensitif ini.

Sambil berciuman, tangannya bergerak gelisah. Masuk ke dalam kemejaku dan membelai tulang punggungku. Aku mengerang lagi.

Tangannya bergerak turun. Jemari Sehun bergerak gesit melepas celanaku. Aku bahkan sampai takjub dengan kecepatan tangannya yang melucuti celanaku hingga aku telanjang di bagian bawah.

Tangan Sehun mengusap pahaku dengan perlahan namun menghantarkan sensasi aneh dan menggelitik. Lalu, tangannya bergerak lagi menuju milikku. Sedangkan tangannya yang lain bergerak menggesek lubangku. Kedua tangannya bergerak seirama dan itu semakin membuatku bergetar. Kedua tanganku mencengkram erat bahunya dan bibirku tak henti-hentinya mengeluarkan desahan halus.

Nafas hangatnya menyentuh leherku. Lalu bibirnya mulai menandaiku dengan noda-noda merah keunguan. Tanda jika aku miliknya. Milik seorang Oh Sehun.

Aku menggeliat lemah. Saat bibirnya menandaiku dan kedua tangannya memanjakan milikku dan lubangku. Mau tak mau aku harus menerima setiap rangsangannya.

Kemudian, salah satu tangannya beralih ke nipple-ku. Ia memuntir dan menariknya hingga kemerahan. Aku mengerang keras dan mendongak ke atas. Bibir Sehun kembali memanjakan leherku. Menjilati, mengulum, menghisap atau bahkan menggigitnya. Setiap rangsangannya membuatku bisa menjerit nikmat seperti pelacur.

Dari leher, bibirnya menuju dadaku. Lidahnya menjilati kedua nipple-ku tanpa ada niatan untuk mengulumnya. Aku merintih memohon padanya untuk mengulum dan memilinnya di dalam mulutnya. Ia hanya terkekeh kecil lalu menuruti kemauanku. Mulutnya benar-benar terlatih.

Tangannya menarik dan membuka kedua kakiku lebar-lebar. Mempertontonkan milikku dan lubangku. Aku sudah ereksi.

Ia memijat milikku dengan pelan hingga rasanya tersiksa. Aku tak bisa menahan rintihanku. Aku terus merintih dan gerakan Sehun berubah menjadi kocokan pelan. Aku menjerit nikmat.

Jari-jarinya beralih untuk memasuki lubangku.

"Ahhh…" Sulit bagiku untuk menahan erangan dari semua rangsangan yang diberikan oleh Sehun. Jarinya bergerak liar di dalam liangku hingga ujung jarinya menyentuh sesuatu yang membuatku memekik nikmat.

"Katakan apa yang kau inginkan, Luhan."ujarnya tepat di telingaku. Suaranya memberat karena nafsu.

Aku bingung dan tak bisa menjawab pertanyaannya.

"Kalau kau tak menjawab, aku akan berhenti."

"Nghhh─" Aku menghindari tatapan intensnya padaku.

"A-aku ingin kau menyentuhku, S-sehunhh…"pintaku dengan lirih. "Tubuhku menginginkanmu."

"Gerakkan pinggulmu maju." Aku mengerti maksudnya. Aku harus mencari kenikmatanku sendiri. Maka dari itu, aku berani menggerakkan pinggulku maju sesuai dengan kemauannya. Aku memejamkan mataku karena tak tahan. Aku mendengar Sehun menggeram rendah khas seorang alfa sejati.

"Kh─kau milikku 'kan, Luhan?" Tentu saja itu pertanyaa yang retoris sekali.

"Tentu saja aku milikmu, Sehun. Kau alfa-ku. Hanya kau yang memilikiku."

"Baguslah. Lagipula, takkan pernah ada alfa yang dapat memuaskanmu seperti ini bukan?"

Tentu saja Sehun benar. Hanya dia yang dapat membuatku puas seperti ini, karena dialah satu-satunya alfa-ku.

Aku omega-nya. Aku tawanan-nya. Dan aku takluk di bawah kuasa dan kendali-nya.

Dia melepaskan celananya dan terlihat organnya yang juga ereksi sepertiku. Pinggulku refleks terangkat dan mengarahkan lubangku pada miliknya. Dan aku memilih untuk langsung menghentakkan miliknya ke dalam. Dan, rasanya sangat menyakitkan.

Kedua tanganku meremat pundaknya erat. Mataku terpejam menahan sakit. Telingaku mendengar geraman dan desahan lirihnya saat miliknya masuk ke dalam lubangku.

Tanpa menunggu lama, aku menghentakkan tubuhku ke atas dan ke bawah lengkap dengan desahanku. Hasrat liar tersampaikan. Badanku terguncang karena gerakanku sendiri. Tangannya membantuku untuk menaikturunkan tubuhku di atasnya.

Lubangku menjepit miliknya dan membatasi ruang geraknya. Ia menggeram keras dan semakin menaikturunkan pinggulku.

"Akhh─nikmat, Sehunhh…"

Aku menjerit dan terserang klimaks yang mengotori tubuh atasnya.

Ia menggeram dan mengerang keras. Sehun semakin menaikturunkan tubuhku walaupun tubuhku sudah lemas karena terserang klimaks tadi.

"L-luhanhh…" Ia mendesah sambil memanggil namaku.

"Y-ya S-sehunh?"

"Aku akan mengeluarkannya di dalam. Kemungkinan besar kau akan hamil."

Aku membeku.

"Luhan─" Sehun membenamkan wajahnya di ceruk leherku. "Kau tahu itu karena kita telah terlibat perkawinan tak kasat mata. Suka atau tidak suka."

Aku mengangguk mengiyakan. "Em… apa kau dan aku akan terikat?"

Ia berdecak dan mendesis. "Berhenti berkata seperti di film-film picisan di TV, Luhan."

Aku hanya tertawa. "Lalu? Kau akan menyebutnya apa?"

Ia mengangkat kepalanya dan menghadapku. "Tetaplah bersamaku sampai perkawinan seperti binatang ini selesai."

Aku menepuk lengannya. "Dasar babo. Kita memang setengah binatang."

Ia tertawa sebentar lalu mulai melanjutkan kegiatannya tadi. Badanku kembali terhentak-hentak lagi. Aku meracau tak jelas karena kelenjar prostatku terus menerus disentuh oleh ujung organnya.

"Argh─Luhan, sebentar lagi─"

Aku makin mengetatkan lubangku dan itu membuatnya semakin mengerang. Aku benar-benar ingin menelan benihnya.

Dan beberapa saat kemudian, Sehun menyentakkan lahar panasnya di dalam tubuhku.

Aku tersengal keras di ceruk lehernya. Sehun mendongakan kepalanya dan mengatur nafasnya. Jelas sekali jika ia sudah puas.

Sehun mengangkatku dan melepaskan miliknya dari lubangku. Beberapa tetes cairannya menetes dari lubangku.

"Maaf mengotori bengkelmu, Sehun."

Namun ia berkata sekali lagi, "Kotor ada untuk dibersihkan. Dan aku sanggup melakukannya."

Dan yah…

Aku tak perlu merasa bersalah padanya.

.

.

.

Aaaaaaaaa….. Ini abal banget NC-nya:'))))))

Keep review yaaa:')))))