THEORY

Masashi Kishimoto

zusshi-chan

Sasuke – 21

Naruto – 20

Sakura – 21

Hinata – 18

Neji – 18

Shikamaru - 25

Chapter 2

"Ah, itu sekretaris OSIS. Nara-san, tunggu!" Hinata berhenti sejenak ketika beberapa orang memanggilnya. Mereka dua orang dan semuanya laki-laki yang mengenakan pakaian baseball. Badan mereka tinggi dan kekar hingga bisa membuat Hinata tenggelam diantaranya. Anehnya raut wajah gadis itu tetap tenang dan tak menunjukkan rasa takut apapun.

"Kalau ini tentang masalah dana klub, sudah tidak ada yang perlu kukatakan." Ujar Hinata dingin.

"Tentu kami mengerti. Kami hanya akan menjelaskan kalau klub ini sudah banyak memberikan piala kejuaraan pada sekolah. Kalau kau tidak tahu, akan kusebutkan satu sa…"

"Kalau maksudmu piala yang dimenangkan sepuluh tahun lalu, itu bukan berarti memenuhi kriteria. Yang memenangkan piala itu adalah senior kalian yang sudah lulus dari sekolah ini. Mereka memberikan banyak hal pada sekolah, jadi OSIS saat itu juga memberikan penghargaan yang sepantasnya. Lalu, kalian? Apa yang sudah kalian berikan pada sekolah? Presensi latihan saja tidak ada. Bagaimana bisa kami memberikan dana pada klub yang hanya bisa berdiri di belakang senior-seniornya."

DUAK

Salah seorang dari mereka, geram dengan semua kritikan Hinata. Ia mendorong Hinata dan memojokkannya ke dinding. Hinata merasa sedikit linu pada pundaknya, namun Hinata tetap dengan wajah tenangnya, memandang balik laki-laki itu.

"Apa sulitnya, sih memberikan dana pada kami? Toh dana itu akan dipakai untuk kejuaraan di Koshien, dan kami juga bisa latihan. Kau ini tidak mengerti, ya?"

"Kau itu yang tidak mengerti." Hinata menendang perut laki-laki itu hingga ia jatuh tersungkur. "Kalau begitu caramu memohon, begini juga caraku menolak. Kalian harus berkorban sesuatu untuk mendapatkan sesuatu. Perlihatkan pada OSIS usaha kalian, dan kami akan memberikan dana seperti yang kalian mau."

Hinata berbalik dengan santai dan berjalan tanpa mempedulikan murid lain yang memperhatikan dirinya.

"Sekretaris OSIS, ternyata lebih kejam dari Ketuanya."

.

.

.

"Aku menyukaimu."

Aneh sekali. Berkali-kali Hinata mencoba melupakan kalimat keramat itu, tapi hal itu terus menghantui pikirannya. Ia bahkan sampai tidak bisa tidur. Yah, walaupun tugasnya tetap berjalan dengan baik.

Karena perkataan Sasuke, semua perasaan aneh berkecamuk di hati dan pikiran Hinata. Di satu sisi, ia merasa marah dan sedih. Jika benar Sasuke menyukainya, maka hal itu buruk bagi Sakura maupun Hinata. Sakura bisa membencinya karena dianggap merebut Sasuke. Meskipun terkadang rasa bencinya pada Sakura muncul, ia tidak bisa melepaskan ikatannya dengan Sakura sebagai saudara satu panti. Ia benci tapi juga menyayangi Sakura. Ia tetap mengharapkan kebahagiaan Sakura.

Yang paling penting, jika Sasuke memang serius, Sakura bisa berpaling pada Naruto. Pria itu selalu memperhatikan Sakura, bahkan di saat gadis itu sedih. Meskipun itu kecil kemungkinannya karena Sakura memiliki banyak teman pria, namun tetap saja Hinata cemas.

Akan lebih baik jika Sasuke hanya mempermainkannya, karena itu artinya ia hanya perlu marah pada Sasuke dan menyelesaikan urusan mereka. Hanya saja, bagaimana bisa pria itu tahu segalanya?

Hinata menghela napas. Ia memutuskan untuk duduk bersandar pada dinding, setelah beberapa menit melamun sambil memandang klub tenis yang sedang latihan, dari atap sekolah.

Angin berhembus perlahan dan dengan baiknya membantu Hinata menenangkan diri. Gadis itu terlena. Ia memejamkan mata, berusaha menutup diri dari permasalahannya. Tapi yang ada justru perkataan Sasuke yang terngiang-ngiang.

Hinata sudah mencoba melanjutkan hidupnya. Ia sudah membuat perencanaan matang tentang hidupnya. Karena ia memutuskan untuk melenyapkan rasa cintanya agar Naruto mendapatkan kebahagiaan dan Sakura tidak perlu diacuhkan Sasuke jika gadis itu bersama Naruto. Namun apa? Ia merasa usahanya sia-sia karena pertunangan itu dan belum sempat ia menerima kenyataan, Sasuke justru mempermainkannya. Hinata bahkan belum menata apa yang akan ia lakukan selanjutnya.

"Sasuke Uchiha. Kau benar-benar kurang ajar."

.

.

.

"Aku menyukaimu."

Hinata yakin seyakin-yakinnya kalau Sasuke sedang mabuk. Bagaimana bisa ia mabuk di pesta pertunangannya sendiri, dan mengatakan kalimat itu pada gadis lain?

"Sebaiknya kau tidak mabuk di pesta pertunanganmu. Kau seharusnya mengatakan hal itu pada gadis yang benar. Bisa gawat kalau kau mabuk di pesta pernikahanmu, dan justru mencium gadis lain."

"Aku tidak mabuk. Aku menyukaimu, Hinata."

Hinata terdiam sejenak. Mencoba mengamati gerak-gerik Sasuke, dengan begitu ia yakin Sasuke tidak mabuk. Tatapan Hinata menjadi lebih dingin dari sebelumnya dan menusuk Sasuke, meskipun pria itu tidak merasakan apapun. "Jangan bercanda. Ini bukan april mop, Uchiha."

"Oh, kalau ini april mop, aku justru mengatakan 'aku membencimu, Hinata. Sangat-sangat membencimu sampai ke tulang rusukku', bukankah begitu?"

Aneh, wajah Hinata memerah. Ini pasti karena alcohol. Benar. Ini pasti karena alcohol. Ini bukan karena pernyataan cinta busuk dari Sasuke. Hinata yakin itu dan ia tidak bisa membiarkan perasaan kesalnya semakin memuncak dan menghancurkan menara yang selama ini ia bangun. Melihat Neji sekilas dari arah lain, ia segera meninggalkan Sasuke dan menghambur pada Neji.

Hinata berhasil meraih lengan Neji. Pria itu sepertinya habis bertemu dengan temannya. Sepasang suami istri dengan rambut kehitaman, warna rambut asli yang sudah jarang ditemui oleh orang-orang jepang saat ini.

"Siapa?"

"Tuan dan Nyonya Uchiha. Mereka sahabat ayah dan ibu."

"Oh."

"Bagaimana? Sudah melihat Sakura?"

"Ne. Kita pulang saja sekarang."

"Aku belum sempat mencicip cake."

"Aku ingat semua cake-nya. Saat pertunanganku, akan kupesankan semua." Ujar Hinata beralasan. Ia ingin cepat-cepat pergi dari tempat itu. Ia tidak mau bertemu lagi dengan Sasuke dan dipermalukan pria itu karena semua perasaannya dapat dibaca. Pria itu seperti dapat membaca pikiran orang lain.

"Tanpa berpamitan?"

"Aku akan mengirim pesan pada Sakura."

"Baiklah."

.

.

.

"Nata… Hinata…"

Hinata terbangun perlahan ketika dirasa seseorang memanggilnya. Itu Neji.

"Kau baik-baik saja? Kudengar kau menghajar anggota klub baseball."

"Aku hanya menendang perutnya. Dia membuat bahuku memar."

Mendengar perkataan Hinata, Neji mengeraskan rahangnya dan sangat marah.

"Dasar bocah sialan! Masih untung klub itu tidak kububarkan. Kau tidak apa-apa, kan? Apa perlu ke rumah sakit?"

"Aku sudah meminta plester memar pada guru kesehatan. Aku baik-baik saja."

"Sebaiknya kau pulang ke rumah. Aku akan meminta Shikamaru mengantarmu."

Hinata tidak ingin membolos, tapi entah mengapa ia merasa sangat lelah. Entah itu karena luka memar di bahunya, atau mungkin permasalahannya. Hinata tidak tahu. Yang jelas ia menyetujui perkataan Neji untuk pulang ke rumah.

Ketika Hinata mengambil tasnya di kelas, Shikamaru sudah berbicara pada Orochimaru, wali kelas Hinata yang baru saja akan masuk kelas untuk memberikan pengumuman. Mereka berbicarra tentang ijin Hinata untuk pulang dan orochimaru menyetujuinya. Ia memang melihat keanehan Hinata sejak pagi.

"Dia memang kurang semangat sejak tadi pagi. Sikapnya sendiri sudah dingin, tapi ia tampak memikirkan banyak hal. Ia lebih pendiam dari biasanya." Ujar Orochimaru sementara Shikamaru menunggu Hinata yang mengemasi barangnya.

"Sudah semua?" Tanya Shikamaru saat Hinata menghampiri kakaknya. Hinata mengangguk dan kemudian mendului Shikamaru. "Arigatou-sensei."

.

.

.

"Kau baik-baik saja?"

Shikamaru bertanya saat mobil sudah melaju menuju kediaman Nara, namun Hinata hanya diam saja. Ia duduk berpangku tangan, menghadap jendela mobil dan melihat bangunan terlewati mobil mereka.

Shikamaru tahu ada yang aneh semenjak Hinata mengunjungi pertunangan anak keluarga Uchiha, bersama Neji. Tapi Shikamaru lebih memilih diam dan mengamati. Ia sudah tidak bisa memperlakukan Hinata seperti dulu (saat pertama ayah dan ibunya membawa Hinata pulang), semenjak gadis itu merubah kepribadiannya.

Keluarganya mengadopsi Hinata saat gadis itu berusia lima tahun. Gadis itu anak teman ayahnya yang meninggal setahun sebelum mereka mengadopsi Hinata. Awalnya anak itu sangat ceria. Tak tampak seperti anak kecil yang sangat bersedih karena kehilangan orang tua. Tapi ketika masuk SMA, semuanya berubah. Entah apa yang mengubah gadis itu. Shikamaru merasa Hinata menjadi lebih dingin dari sebelumnya. Shikamaru pikir gadis itu sedang marah. Tapi itu berlangsung hampir 3 tahun lamanya dan tak ada yang tahu, mengapa Hinata menjadi dingin dan bertangan besi pada setiap pekerjaannya.

"Aku sudah menelpon Neji. Bagaimana kalau kita makan malam bersama? Semenjak aku menggantikan Ayah di kantor, kita jarang keluar makan bersama. Hanya kita bertiga. Bagaimana?"

"Hn…"

Oke, sekarang Hinata mulai menyerupai anak bungsu keluarga Uchiha. Ada apa sebenarnya dengan Hinata?

.

.

.

Restoran itu bukanlah restoran mewah. Tidak ada pertunjukkan musik dari pemain musik, ataupun pelayan pelayan berseragam. Restoran itu hanyalah restoran sederhana yang menyajikan makanan khas jepang. Hinata sengaja menolak ajakan kakaknya untuk makan di restoran mewah. Bukan karena alasan khusus. Ia hanya ingin mencoba hal lain untuk mengusir rasa tidak nyamannya sekarang.

"Aku tidak menyangka kau tahu tempat ini, Hinata." Neji mengamati suasana yang berbeda dari restoran sederhana ini. Ia baru pertama kali mengunjungi tempat seperti ini dan menurutnya restoran ini sangat unik bahkan tidak kampungan atau murahan meskipun harga makanannya murah.

"Aku pernah makan dengan Ino di sini. Ramennya sangat enak. Kupikir Nii-chan harus mencobanya." Hinata tersenyum tipis dan menurut Shikamaru, gadis itu mencoba menenangkan kedua kakaknya agar tidak khawatir.

"Aku akan mencobanya. Kalau memang enak, aku akan mengajak Temari dan Shikadai kemari."

"Shikadai pasti akan suka. Anak itu walaupun terlihat malas, tapi aku tahu ia akan suka yang seperti ini." Ujar Neji dengan sedikit tertawa.

Merek memesan beberapa mangkuk ramen dan minuman dingin, setelah pelayan memabawa mereka ke meja kosong dan mencatat pesanan. Suasana restoran makin ramai ketika malam semakin larut.

Neji dan Shikamaru mengobrol tentang rencana masa depan Neji yang ingin kuliah di Inggris, sementara Hinata hanya mengamati dan mulai berpikir bagaimana dirinya ke depan.

Hinata pikir sudah tidak ada gunanya. Ia tidak mau mengikuti arus yang dibuat Sasuke. Ia pikir itu hanya lelucon dan Sasuke juga pastinya tidak akan serius. Ia yakin Sasuke menganggapnya seseorang yang pantas untuk dijadikan bahan tertawaan karena sekarang pria itu tahu ia patah hati. Tapi ia sendiri masih belum yakin. Sasuke hanya di hari itu saja pria itu mengatakannya. Belum ada pergerakan lebih lanjut, meskipun Hinata sudah bingung setengah mati.

"Ah, Sasuke. Kau di sini?"

DEG

Hinata terkejut luar biasa. Baru saja ia memikirkannya, pria itu tiba-tiba datang. Ia merasa Tuhan saat ini sedang menjahilinya. Bagaimana mungkin Sasuke bisa kemari. Tempat ini bukan restoran mewah selera keluarga Uchiha.

Hinata mencoba menenangkan diri. Ia berusaha berpikir positif. Yang dikatakan Sasuke pasti hanya lelucon. Sasuke tidak akan mungkin serius. Ia berharap Sakura datang, dengan begitu Sasuke akan lebih terkendali.

"Sendiri saja?" Tanya Neji.

"Hn."

"Duduklah, akan ku pesankan sesuatu. Kau mau apa?" Neji menoleh mencari pelayan sementara Sasuke malah memperhatikan Hinata.

"Onigiri dengan katsuoboshi"

"Baiklah," pelayan kembali ke meja mereka dan Neji meminta pesanan Sasuke.

"Kupikir kau tidak suka dengan tempat ini."

"Aku berhenti ketika melihat kalian masuk. Ah, Shikamaru. Aku tidak melihatmu kemarin."

"Maaf. Kemarin itu darurat. Aku sudah bersiap tapi perut temari berkontraksi lagi. Aku tidak bisa meninggalkannya sendirian di rumah sakit. Dia selalu cerewet tentang perawatnya."

"Ah, benar juga. Sudah berapa bulan?" Neji bertanya.

"Jadwal melahirkannya kira-kira tanggal sepuluh bulan depan. Aku harus bersiap mulai sekarang."

Mereka terus mengobrol dan Hinata hanya diam saja memperhatikan. Ini jauh lebih buruk dari perkiraan Hinata. Ia tidak menyangka Sasuke akan datang. Sekarang ia hanya perlu mengamati kalau-kalau Sasuke berkata aneh. Setelah itu, ia akan menghajar Sasuke sampai pingsan. Hinata pikir di saat seperti inilah kegunaan ban hitam judo miliknya.

"Bagaimana Sakura? Kapan kalian akan menikah?"

"Biasa saja. Meskipun sekarang ia makin cerewet tentang makananku. Ia tidak mengijinkanku makan di tempat seperti ini. Merepotkan."

"Hei, dia melakukan itu karena khawatir denganmu. Kau masih merokok, kan?"

"Belum juga menikah, dia sudah bertingkah seperti istriku." Ia lalu menatap Hinata dan mengangkat bibirnya sedikit. "Sudah lama aku berhenti. Dia tidak suka dengan asap rokok."

"Sakura pasti sangat hebat, bisa membuatmu berhenti merokok. Aku saja masih mencuri-curi pandang dari temari, untuk merokok." Gumam Shikamaru malas, namun pandangannya memperhatikan gerak-gerik Sasuke yang aneh.

Bohong. Itu bohong. Tidak peduli bagaimana Sasuke, Sakura akan menerimanya. Seingatku aku tak pernah melihat Sakura menolak Sasuke merokok. Ah, tapi…

"Merokok lagi Sasuke-kun?"

"Kenapa? Tidak suka?"

"Aku sih tidak masalah, tapi Hinata tidak suka. Lihat. Dia pergi karena asapnya."

Tidak… tidak mungkin. Itu sudah lama. Itu saat kami masih SMA. Bagaimana bisa ia…

berhenti karenaku?

"Aku ke toilet dulu." Hinata beranjak dan segera pergi. Ia tidak bisa menghajar Sasuke. Tidak ada perkataan aneh yang keluar. Meskipun gerak-geriknya itu aneh, tapi tidak ada alasan yang pantas untuk Shikamaru dan Neji jika ia menghajar Sasuke.

Hinata membasuh wajahnya. Ia berusaha menjernihkan pikirannya dan terus menghibur dirinya dengan berpikir positif.

Pasti Sakura pernah memintanya untuk berhenti merokok. Pasti begitu. Tidak mungkin karena aku. Tidak mungkin.

Hinata kembali mengamati pantulan dirinya di cermin toilet. Setelah tenang, ia keluar dari toilet.

"Sudah tenang?" Suara baritone Sasuke mengejutkannya. Hinata berhenti dan menatap Sasuke tajam. "Kenapa tatapanmu menakutkan? Memangnya aku berkata aneh?"

"Siapa yang menyuruhmu berhenti merokok?" Sasuke terdiam sejenak mendengar pertanyaan Hinata dan kemudian tersenyum.

"Setelah melarangku, sekarang kau mau aku merokok?"

"Apa?"

"Ah, kau marah? Jadi kau tak ingin aku merokok? Lalu bagaimana baiknya, hem?"

Sial, kenapa dia malah memojokkanku? Aku bertanya begini bukan karena aku tertarik padanya.

"Mau kau merokok atau tidak, itu bukan urusanku. Kalau kau mau merokok, silahkan saja. Jadi menjauhlah dariku, toh aku juga tidak peduli kau mati dengan rokokmu atau tidak." Sasuke tersenyum tipis mendengarnya. Hinata tak mengerti maksudnya apa tapi ia sedikit lega ketika Sasuke meninggalkannya. Ia lalu kembali ke meja mereka, tapi Sasuke kembali menariknya ke tempat semula. Ternyata ia meminta rokok pada seorang pengunjung.

"Mari kita buktikan apa kau benar-benar yakin dengan perkataanmu."

"Tak perlu dibuktikan, aku sudah sangat yakin dengan perkataanku."

"Benarkah? Apa jaminannya?"

"Ini perkataanku. Aku tidak harus menjamin apapun."

"Untuk menunjukkan keseriusanmu, Hyuga-san. Ah sekarang kau Nara, ya." Sasuke berkata seakan sedang bermain-main dengan Hinata. Gadis itu menatap tajam Sasuke dan kemudian merebut rokok dari tangan Sasuke. Sasuke tersenyum penuh kemenangan. Hinata rupanya tetap mengkhawatirkan….nya.

"Ini, merokoklah sepuasmu!" Hinata menarik tangan Sasuke dan meletakkan batang rokok yang sudah tersulut di tangan itu. Sasuke terkejut. Rupanya Hinata tidak menyerah untuk jauh dari perangkapnya.

Sasuke kembali ke meja mereka dengan rokok tersulut yang masih utuh.

"Kupikir kau benar-benar berhenti merokok." Ujar Neji mengingatkan.

"Sebenarnya iya, tapi seseorang memberiku ini. Jadi kenapa harus ditolak?" Sasuke tersenyum sambil melirik Hinata. Gadis itu membuang muka seakan tidak peduli. "Aku pergi merokok dulu."

.

.

.

Sasuke tiba setelah merokok dan acara makan malam berjalan lancer. Sasuke tidak lagi menggoda Hinata, dan gadis itu kembali mengawasi kalau-kalu Sasuke berkata hal aneh.

"Langsung pulang, Sasuke?" Tanya Shikamaru saat mereka di luar restoran.

"Aku harus ke kantor. Ada yang tertinggal."

Ketiga pria itu masih mengobrol, sementara Hinata tampak menyadari sesuatu. Ada puntung rokok yang masih penuh, tergeletak begitu saja di tanah. Ada bekas bakar dan sedikit gepeng di ujungnya. Seperti terinjak. Hinata kemudian menatap Sasuke dan pria itu membalas Hinata dengan senyuman tipis.

Dia… tidak mungkin serius, kan?

.

.

.

"Onii-chan."

"Hn?" Shikamaru dan Neji berdeham bersamaan. Sekarang mereka sedang dalam perjalanan pulang. Shikamaru menyetir, Neji di depan bersama Shikamaru, dan Hinata di belakang.

"Aku ingin mengatakan sesuatu. Bisakah kita berhenti sejenak?"

"Kenapa tidak di rumah saja, Hinata?" ujar Neji, karena ia tahu Shikamaru sedang fokus menyetir.

"Ini tentang masa depanku. Aku hanya ingin kalian saja yang tahu." Neji terdiam. Tak biasanya Hinata terlihat serius. Neji jadi teringat Hinata diam saja di restoran. Mungkin Hinata ingin menceritakan hal ini, tapi tidak bisa karena ada Sasuke.

"Shikamaru, hentikan mobilnya sekarang."

Shikamaru tampak mengerti maksud Neji. Ia menepikan mobil di pinggir jalan dan memberikan Hinata sedikit ketenangan karena kakaknya mengabulkan permintaannya.

"Jadi, bagaimana Hinata?"

"Setelah aku lulus SMA, aku ingin menikah."

Benar. Inilah yang benar.

"Aku tidak peduli calonnya siapa. Aku hanya ingin menikah setelah lulus."

Kau sudah melakukan hal yang tepat Hinata. Ini semua untuk mengobati semua sakit hati konyol ini. Untuk menyelesaikan sakit hati menahun yang tak kunjung sembuh. Untuk menghilangkan rasa cintanya pada Naruto. Dan… untuk menghindari Sasuke uchiha.

Kau sudah melakukan yang terbaik selama tiga tahun ini. Inilah hadiah terbaik untukmu, Hinata.

"Kumohon, kak. Nikahkan aku, setelah lulus SMA."