Winter Spring

Chapter 2

.

.

...

Bandara Incheon semakin ramai dengan keluarnya sosok indah dengan rambut cokelat keemasan sebahu. Mengenakan coat ringan berwarna putih, dengan baju rajut berwarna putih menutupi lehernya membuat sosok itu tampak seolah salah satu malaikat yang sedang tersesat. Dengan celana dan sepatu berwarna cokelat muda, menyempurnakan penampilan elegannya. Sayang, matanya nampak kosong dan selalu menatap ke depan, terkesan dingin, misterius, namun entah kenapa terasa hampa.

Para wartawan tampak berkumpul mengerubuti sosok indah itu. berusaha menanyainya berbagai pertanyaan.

"Kim Jaejoong ssi, apakan pemotretan ini sangat penting hingga Anda harus terbang ke Korea?"

"Apa Anda juga akan mengadakan pameran di sini, Jaejoong ssi?"

"Bagaimana perasaan Anda menginjakan kaki anda kembali ke Korea, Jaejoong ssi?"

"Berapa lama anda akan berada di Korea, Jaejoong ssi?"

"Apakah Anda sekarang dalam ikatan kontrak dengan Cartier Korea?"

Dan masih banyak pertanyaan lainnya yang terlontar dari para wartawan yang mengerubunginya.

Yoochun dibuat kualahan menjawab berbagai pertanyaan tersebut. Ya, Jaejoong sama sekali tidak membuka bibirnya, hanya sesekali melempar senyum dan menyerahkan jawaban atas berbagai pertanyaan tersebut pada Yoochun.

"Yeobo, kenapa para wartawan itu mengerubuti Jaejoongie?" Heechul bertanya dengan penuh rasa penasaran.

"Sayang. Anak kita adalah pelukis terkenal dan model yang terikat dengan perusahaan sekelas Cartier Paris dan masih banyak lagi. Tentu saja dia terkenal." Siwon menjawabnya dengan santai, namun terkesan bangga dalam suaranya. Heechul, di lain pihak merasa heran.

"Sejak kapan Uri Joongie menjadi model?"

"Apa aku tidak bilang padamu?" Siwon menjawab pertanyaan Heechul dengan pertanyaan lagi.

"Ya. Dia memang tidak pernah memberi kabar apapun padaku." Heechul menjawab lirih, air mata I pelupuk matanya seolah siap jatuh begitu saja.

"Sayang. Aku juga tidak mengetahuinya dari email yang dia kirim. Kau tahu? Dia hanya mengirim email enam bulan sekali yang hanya berisi 'Appa, aku sehat dan baik-baik saja'. Aku mengetahuinya karena aku selalu mencari berita tentangnya." Siwon menjawab sambil terus merangkul bahu Heechul dan memperhatikan Jaejoong dari jarak yang sebenarnya tidak terlalu jauh.

"Aku merindukannya, Yeobo. Jaejoong kecilku." Heechul ingin sekali menangis dalam pelukan Siwon.

"Sayang, sudahlah."

"Lihat, dia bahkan sama sekali tidak tersenyum. Mana Jaejoongku yang selalu tertawa, Yeobo? Aku telah merusaknya." Heechul tidak kuasa lagi menahan air matanya yang kini dengan bebas membasahi pipinya.

"Ssshht. Tenanglah, Sayang. Mungkin Jaejoongie hanya lelah." Siwon berusaha menenangkan istrinya.

.

.

Setelah para wartawan itu selesai, Yoochun dan Jaejoong membukuk dan mengucapkan terima kasih pada mereka. Pada saat itulah, Siwon dan Heechul mendekati mereka.

"Jaejoongie sayang, akhirnya kau pulang, nak. Appa sangat merindukanmu." Siwon memeluk Jaejoong dengan erat, menyalurkan kerinduan yang selama ini selalu ia pendam kepada sang anak.

"Ya, Appa." Jaejoong hanya menjawab singkat dan sedikit membalas pelukan dari ayahnya, masih dengan wajah yang datar.

"Jaejoongie, Anakku. Anakku sayang. Umma merindukanmu." Heechul memeluk Jaejoong penuh haru dengan air mata yang mengalir di pipinya.

"Ya, Umma." Kembali Jaejoong hanya menjawabnya dengan singkat.

"Lihatlah, kau kurus sekali, sayang. Sejak kapan kau mengubah warna rambutmu? Dan sejak kapan kau memakai anting? Astaga Joongieku tumbu menjadi sosok yang sangat indah." Heechul berkata sambil mengusap wajah Jaejoong, seolah memastikan bahwa sosok indah itu benar-benar puteranya.

Jaejoong diam saja, tidak menanggapi semua perkataan yang Heechul ucapkan. Dia bahkan cenderung menatap Heechul dengan pandangan sedikit tajam.

Sejujurnya, Jaejoong tidak tahu harus bersikap seperti apa. Ibunya yang selama ini selalu menomor duakan dirinya, bahkan tidak pernah memeluknya sebelumnya, kini sedang memeluknya dengan begitu erat, seperti yang selama ini selalu dia impikan. Ah bukan, yang dulu selalu dia impikan.

Heechul yang menyadari gelagat puteranya hanya menatap wajah sang putra dengan tatapan terluka. Tidak, dia bahkan tidak berhak untuk merasa terluka. Jaejoong jauh lebih terluka jika mengingat apa yang pernah terjadi dulu.

.

.

FLASH BACK

"Umma, aku mencintainya. Aku sangat mencintainya." Jaejoong berkata dengan air mata yang terus mengalir deras di pipinya, berusaha meyakinkan sosok yang sedang duduk di hadapannya ini tentang perasaannya.

"Kim Jaejoong. Jung Yunho adalah seorang pria. Begitu pula kau. Memang di masa sekarang pasangan sesama jenis bukan hal yang aneh, bahkan umma dan appa pun demikian. Tapi Umma mohon, mengalahlah pada kakakmu. Dia juga sangat mencintai Yunho. Umma mohon lupakan perasaanmu." Kim Heechul berusaha meyakinkan Jaejoong.

Jaejoong menangis semakin kencang. Dadanya seolah terasa terhimpit sesuatu yang sangat berat, membuatnya bahkan susah untuk sekedar bernafas. Dia terluka, sangat terluka. Bagaimana mungkin ibunya tega berkata demikian. Harusnya ibunya tahu, bagaimana dalamnya perasaan cinta yang dia rasa itu.

"Umma. Ini pertama kalinya umma berbicara berdua padaku. Setelah selama ini umma selalu tidak peduli padaku, setelah umma selalu mementingkan noona dari pada aku, dan sekarang, untuk pertama kalinya umma berbicara berdua denganku dan itupun juga menyangkut mengenai Ahra Noona? Baiklah umma, aku mengerti. Aku akan melupakan Yunho. Apa umma bahagia?" Jaejoong mengucapkannya dengan sangat pelan, sambil menatap Heechul dengan sorot mata penuh luka dan air mata yang tak berhenti mengalir. Tak lama kemudian Jaejoong berdiri dan keluar dari kamarnya. Berlari keluar menuju tempat paling aman menurutnya.

.

.

"Jaejoongie. Maafkan umma, sayang." Heechul berkata dengan lirih sambil menangis dan memegang tangan Jaejoong, menatap matanya seolah dia ingin menyampaikan ketulusan hatinya. Dia merasa bersalah kepada putra bungsunya ini, membuat dadanya terasa berdenyut kencang, sangat menyakitkan.

Jaejoong menatapnya nanar, masih dengan ekspresi datar. Jika mengingat masa-masa itu, hatinya masih terluka, sangat terluka. Dia tidak tahu harus berbuat apa. Jika dirinya adalah Jaejoong yang dulu, dia pasti akan langsung memeluk ummanya dan mengatakan tidak apa-apa. Jaejoong yang dulu adalah sosok yang baik, ramah, dan penyayang.

Tapi Jaejoong yang sekarang adalah sosok yang berbeda. Sosoknya kini begitu dingin, keras, egois, dan membentengi dirinya dengan dinding tebal raksasa sehingga orang lain susah mendekatinya. Namun di balik itu semua, dia hanya takut terluka, hingga dia menahan seluruh perasaan yang dia rasa. Lebih baik diam dan menampilkan wajah datar. Dengan begitu dia tidak akan terluka, begitu pemikirannya.

"Hyung, Aku lelah." Jaejoong berkata kepada Yoochun sembari menutup matanya. Demi Tuhan, dia lelah. Dia menarik Yoochun dan mengamit lengannya, dan menumpukan kepalanya di lengan kekar itu.

"Tuan dan Nyonya Kim, perkenalkan. Saya Park Yoochun, Manajer Jaejoongie. Saya adalah Sunbae Jaejoong di kampus. Maaf karena saya juga ikut datang sehingga akan merepotkan Anda." Yoochun memperkenalkan diri kemudian sedikit membungkuk. Dia tidak dapat sepenuhnya membungkuk karena tangannya yang tengah dipeluk oleh Jaejoong.

"Tidak merepotkan sama sekali Yoochun-ah. Terima kasih sudah membantu Jaejoong selama ini. Dan jangan terlalu formal. Kau boleh memanggil kami appa dan umma juga." Siwon menjawab dengan ramah, berusaha membuat Jaejoong dan Yoochun merasa nyaman.

"Ah, terima kasih. Tapi sebaiknya aku memanggil paman dan bibi saja, apa anda keberatan?" Yoochun berkata sambil tersenyum, berusaha tidak menyakiti perasaan orang tua Jaejoong.

"Tidak, Yoochun-ah. Tidak sama sekali." Heechul menimpali dengan senyuman.

"Hyung. Lelah." Jaejoong berkata sambil memeluk lengan Yoochun.

"Iya, chagie. Paman, apakah kita bisa jalan sekarang? Sepertinya Jaejoongie sangat lelah." Yoochun berkata demikian sambil mengusap rambut Jaejoong dengan lembut.

"Oh,i-iya tentu saja. Ayo." Siwon sedikit terperangah. Jaejoong sama sekali tidak berbicara padanya atau Heechul, justru mengungkapkan rasa lelahnya pada Yoochun.

Heechulpun demikian. Dia merasakan kedekatan Jaejoong dengan namja tampan bak cassanova ini dengan puteranya. Apakah pria ini kekasih Jaejoong? Iaingin menanyakan hal itu pada Jaejoong. Ah, tidak. Heechul mengurungkan niatnya, berusaha menghindari suasana tidak menyenangkan dengan puteranya. Siwon kemudian berjalan memimpin, baru beberapa langkah.

"Paman, maaf aku merepotkan. Bisakah paman menarik koper ini? Aku rasa Jaejoong sangat lelah." Yoochun berkata, meskipun dia sedikit merasa tidak enak pada Siwon.

Siwon memandang satu-satunya koper yang ada di antara mereka. Benar. Itu mengganggu pikirannya. Jaejoong selama ini selalu bepergian dengan membawa banyak koper. Kenapa sekarang mereka berdua hanya membawa satu koper?

"Tentu saja, Yoochun-ah. Kalian berua pasti lelah. Biar paman yang membawa. Apa kalian berdua hanya membawa sebuah koper saja?" Siwon mengambil alih koper yang berada d tangan Yoochun.

"Ya, paman. Seperti paman dan bibi tau, Jaejoong sangat praktis. Dia benci kerepotan." Jawab Yoochun santai.

DEG

Dada Heechul dan Siwon mendadak sakit. Tidak. Jaejong mereka sangat suka kerepotan, suka berdandan lama, suka membawa barang banyak kemana-mana, dan suka menenteng barang belanjaan. Mereka merasa berdosa, mereka seolah tidak mengenal anak merek sendiri. Orang tua macam apa mereka ini. Sebesar itukah perubahan yang dialami puteranya selama lima tahun?

"Ayo, Joongie. Kau pasti lelah." Yochun berkata sambil menarik Jaejoong ke dalam pelukannya, membawanya dalam gendongan koalanya.

"Hyung, apa yang aku katakan mengenai panggilanku di depan umum?" Jaejoong menggerutu dalam gendongan Yoochun.

"Hahaha. Baiklah, Kim Jaejoong."

"Panggil aku héros."

"Hahahahaha. D'accord, Le héros. (Baiklah, Hero)"

"Baiklah, ayo Yoochun, kau pasti kelelahan membawa Jaejoong." Siwon kembali memimpin perjalanan mereka menuju mobil mereka, diikuti oleh Yoochun dan Heechul.

"Sama sekali tidak, paman."

Mereka kembali melanjutkan perjalanannya. Tanpa mereka sadari, Heechul kembali meneteskan air matanya. Hatinya terasa sakit. Meskipun masih tetap dengan tatapan datar dan dingin, namun Jaejoong berbicara lebih banyak kepada Yoochun daripada dirinya, sang ibu. Benarkah Jaejoong masih belum memaafkannya?

Ya, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, dia juga ingin Jaejoong bermanja padanya seperti yang dilakukannya pada Yoochun. Tapi bagaimana? Dirinya sendirilah yang merusak impian itu. bahkan dirinya jugalah yang menghancurkan karakter Jaejoong.

'Umma minta maaf sayang. Umma janji akan lebih memperhatikanmu. Umma sangat menyayangimu, nak.' Lirih Heechul dalam hati

.

.

"Rapat saya suahi sampai di sini. Tiga hari lagi kita akan kembali rapat untuk perbaruan ide konsep proyek ini. Selamat siang." Jung Yunho, menyudahi rapat yang dia pimpin selama berjam-jam.

Tidak perlu menunggu lama, Jung Yunho langsung meninggalkan ruang rapat dan kembali menuju ruangannya. CEO Jung Corp itu berjalan angkuh melewati beberapa orang yang menundukkan badan mereka ke arahnya.

Yunho adalah sosok CEO bertangan dingin yang mampu memajukan Jung Corp hanya dalam kurun waktu dua tahun. Setelah sang ayah, Jung Younghwa memutuskan untuk pension, dirinya langsung mengambil alih perusahaan tersebut.

Setelah kembali ke ruangannya, Yunho langsung menduduki kursi kerjanya, dan memutarnya sehingga menghadap ke jendela super besar yang ada di belakangnya.

'Musim gugur. Kau selalu suka berlari di antara daun-daun kering itu, Boo.' Yunho kembali merenungkan masa lalunya. Masa lalunya dengan sahabat yang sudah bersama dengannya sejak mereka berusia tujuh tahun.

Mereka bersekolah di sekolah yang sama, Dongbang School yang terdiri dari Elementary, Middle, dan High school. Mereka selalu sekelas dan bersahabat baik. Jaejoong yang cerewet dan ceria selalu membuat hari Yunho berwarna.

.

.

FLASH BACK

"Ya! Kim Jaejoong! Hosh! Jangan lari." Yunho berusaha mengejar sosok indah itu yang sedang berlarian di antara daun-daun yang tengah berguguran. Pohon-pohon maple yang tinggi menjulang dengan daun yang setengah mengering seolah menjadi saksi keindahan seorang Kim Jaejoong.

"Hahahaha. Ayo Jung bodoh. Ini sangat menyenangkaaaann." Jaejoong terus berlari, menerobos daun daun yang berjatuhan dari pohon-pohon tinggi di sekitar mereka.

Jung Yunho yang kelelahan berhenti mengejar Jaejoong yang terus berlari dan melompat-lompat, mengawasinya dari kejauhan.

'Kau sungguh indah, Jae.' Gumamnya dalam hati sambil mengukir senyum di bibirnya.

'Ah, tidak, tidak. Aku tidak boleh jatuh cinta padanya. Kita sama-sama lelaki, dan gay itu salah. Sadarlah Yunho.' Yunho kembali bergumam sambil memukul kepalanya dengan tangannya.

"Yun, apa yang kau lakukan? Hahaha, kau seperti orang bodoh." Jaejoong meledeknya sambil tertawa.

"Kim Jaejoong, kita sudah kelas 2 senior high dan kau masih berulah seperti anak TK? Siapa yang seperti orang bodoh?" Yunho menjawab pernyataan Jaejoong dengan santai.

'Ups, sepertinya aku salah bicara.' Yunho membatin kala melihat bibir Jaejoong mengerucut, pipi menggembung, dengan mata yang berkaca-kaca. Setelah bertahun-tahun mengenal Jaejoong, dia tahu bagaimana saat Jaejoong sedang ngambek.

"Dasar Jung Yunho bodoh." Kim Jaejoong lalu meninggalkan Yunho sendiri dengan ekspresi kesal.

"Ya, Kim Jaejoong, tunggu aku." Yunhopun berlari mengejar Jaejoong yang terlebih dahulu lari meninggalkannya.

.

.

'Aku sangat merindukanmu, Jaejoongie.' Yunho menghembuskan nafasnya dalam, masih memandang pohon-pohon yang daunnya mulai mengering.

Cklek

"Hyung!" Sosok tinggi dan tampan tiba-tiba masuk ke dalam ruangan Yunho.

"Apa kau tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu, Jung Changmin?" Yunho kini telah berbalik dan menghadap adiknya, Jung Changmin. Changmin masih duduk di bangku kuliah dan usianya masi 19 tahun. Namun jangan salahkan dirinya jika dia lebih tinggi dari sang kakak yang usianya sudah 23 tahun itu.

"Aku ingin menyampaikan berita penting, Hyung. Lihat ini." Changmin yang tahu bahwa sang kakak tidak suka basa-basi, akhirnya menunjukkan ponselnya.

"Apa maksudmu?" Yunho mengernyitkan dahinya, tidak mengerti apa yang dimaksud oleh sang adik.

"Ish, Hyung. Baca beritanya!" changmin gemas menghadapi hyungnya satu ini.

Mata Yunho bergerak gelisah membaca headline berita online tersebut.

'Kim Jaejoong, Pelukis dan Model terkenal dari Paris Tiba di Korea Pagi Ini.'

"Jaejoongie.." Yunho bergumam pelan, sangat pelan.

"Aku tahu kau pasti akan menyukai berita ini, Hyung." Changmin berkata sambil tersenyum bangga, seolah dia membawakan kabar yang spektakuler yang akan membuat sang Hyung tercinta akan melompat kegirangan karena bahagia.

Namun ternyata Changmin Salah. Ekspresi Yunho sangat kaget, takut, dan khawatir yang mencampur menjadi satu. Matanya berembun, dan perlahan namun pasti, air mata itupun jatuh.

"Hy-Hyung.." Changmin berucap lirih begitu menyadari yang terjadi pada Hyungnya.

"Boo.." Yunho berucap lirih sambil menatap berita yang terpampang di ponsel milik Changmin.

.

.

.

.

T.B.C.

.

.

.

.

.

.

Special Thanks:

.7399: iya ini ff debut saya, mohon bantuanyaaa.^^

herojaejae: makasih banyak ya atas reviewnya ^^

yurashi11: sip, ini sudah dilanjut. Terima kasih ^^

zhoeuniquee: hehe, terima kasih, ini sudah dilanjut ya~ ^^

bijin YJS: hihi, saya juga suka sama YUNJAE :D, masih belum tau sih akan ada berapa chapter, tapi sepertinya ga akan banyak, mungkin ga lebih dari 10, Makasih banyak yaaa^^

Lee Ha Jae: Iyaa, makasih banyak yaa~ ^^

laraswati63: makasih banyak sudah review ^^ mohon bantuannya..

.

.

.

.

Hai, terima kasih atas tanggapan baiknya teman-teman semuanyaa, saya jadi semangat nih buat nulis, hehe..

Terima kasih buat yang sudah membaca dan me review ff debut saya ini.

Saya akan berusaha lebih baik lagi untuk segala kekurangannya. Fighting!