Winter Spring

Chapter 3

Yunho berdiri di balkon apartemen pribadinya. Hatinya resah karena berita yang disampaikan Changmin bahwa Jaejoong telah kembali ke , Yunho sangat merindukannya. Rasanya begitu sesak hingga untuk bernafas saja dia harus tersengal.

Dia ingin segera berlari menemui Jaejoongnya, meminta maaf atas apa yang pernah ia ucapkan, dan mengatakan kepadanya bahwa dirinya sangat mencintai Jaejoong. Namun sepertinya hal itu sangat sulit. Di dalam foto pemberitaan tersebut, terdapat foto Kim Jaejoong yang sedang memeluk lengan sosok laki-laki tampan di sebelahnya. Di foto yang lain dia sedang berada di dalam gendongan namja tampan itu.

Sakit. Hatinya terlalu sakit menerima kenyataan bahwa Jaejoongnya sedang berada di pelukan namja lain. Apakah dia benar-benar tidak memiliki kesempatan lagi? Inikah yang harus dibayar karena sudah menyakiti Jaejoong dulu?

"Jae, Aku mencintaimu, sangat mencintaimu. Hiks, aku merindukanmu." Yunho bergumam pelan sambil memegang pagar yang melindunginya agar tidak terjatuh dari lantai 25 apartemennya. Air mata seolah tidak dapat berhenti mengalir dari kedua matanya.

Yunho bukan orang yang mudah menangis sebenarnya. Dulu dia adalah sosok yang selalu tenang dan perhatian. Tidak pernah menunjukkan sisi lemahnya dan selalu mengatasi semuanya dengan tenang. Namun semuanya berubah sejak orang itu meninggalkannya. Tidak. Orang itu sama sekali tidak bersalah. Yunholah yang telah menyakitinya.

.

.

FLASHBACK

Yunho melihat Jaejoong berlari ke arahnya dengan air mata di kedua pipinya. Perih. Entah mengapa hatinya merasa sakit saat melihat Jaejoong menangis seperti itu. apa yang sebenarnya terjadi?

"Jae, apa yang terjadi? Kenapa kau menangis?" Yunho menghampiri Jaejoong dan memeluknya.

"Yun, hiks. Aku.. Aku.. Umma.." Jaejoong menjawab pertanyaan Yunho dengan terbata.

"Ada apa dengan umma, hum?" Yunho bertanya dengan lembut sambil mengusap air mata yang terus mengalir di kedua pipi Jaejoong.

Jaejoong tidak menjawab, namun dia mengeratkan pelukannya terhadap Yunho. Dia tidak ingin kehilangan Yunho. Yunho adalah orang yang sangat mengerti dirinya, selalu menghiburnya saat sang umma lebih mementingkan kakak perempuannya. Apakah yunho juga memiliki perasaan yang sama kepadanya?

"Yun, apa kau mau menjadi kekasihku?" Jaejoong bertanya pada Yunho saat dirinya sudah mulai tenang.

Yunho terperanjat, tentu saja. Tidak menyangka sahabat cantiknya ini mengatakan hal seperti ini.

"A-a-apa yang k-kau katakana, Jae? Hahaha, kau lucu sekali." Yunho berusaha menghindari tatapan mata Jaejoong.

"Aku tidak bercanda, Yun." Jaejoongpun menjawab dengan tidak kalah serius.

"J-jae, kau serius?" Yunho tergagap menjawap peryataan yang terlontar dari bibir Jaejoong.

"…"

"Jae, kau tau? Kita sama-sama pria. Dan…"

"Aku mencintaimu, Yun. Aku sangat mencintaimu." Jaejoong menjawab lirih pertanyaannya.

"Jae, ini salah, hm? Mungkin kau hanya terbawa suasana. Kita sahabat baik, dan…"

"TIDAK, JUNG YUNHO! AKU MENCINTAIMU!"

"KIM JAEJOONG SADARLAH! GAY ITU MENJIJIKAN! TIDAKKAH KAU TAHU?"

DEG

Sakit. Dada Jaejoong sesak mendengar apa yang diucapkan oleh Yunho. Sehina itukah dirinya di mata Yunho? Tidak masalah jika Yunho menolaknya, toh dia juga sudah tahu jika Yunho hanya menganggapnya sebatas teman. Tapi, menjijikkan?

TES

Air mata Jaejoong mengalir begitu saja. Dia tidak bisa mengontrol air mata yang mengalir ke pipinya. Hentikan. Siapa saja tolong hentikan rasa sakit yang menyiksa ini. Jaejoong kesulitan untuk bernafas.

"Sehina itukah aku di hadapanmu, Yunho-ya? Jaejoong berkata miris, menatap Yunho dengan tatapan nanar. Air matanya mengalir dengan deras di pipinya. Tidak, dia tidak boleh menangis dan menunjukkan kelemahannya. Dia harus kuat.

"Ti-tidak, Jae. K-kau salah paham. Bu-bukan itu m-maksudku. A-aku hanya.."

"Aku sebaiknya pulang."

Yunho tidak bisa mencegah Jaejoong yang sudah berlari kencang menuju rumahnya. Kenapa? Kenapa hatinya perih sekali saat melihat tatapan tersiksa Jaejoong? Kenapa dia tidak rela jika air mata itu jatuh dengan derasnya di pipi Jaejoong?

.

.

'Seandainya saat itu aku menghentikanmu dan menolak apa yang ada, apa kita akan bersama, Jae?' Yunho terduduk di lantainya dengan air mata yang mengalir deras, seolah menggambarkan rasa menyesal yang begitu dalam.

.

.

.

"Nah, kita sudah sampai. Ayo turun." Siwon mengajak semua yang berada di dalam mobil itu untuk turun. Mereka sudah sampai di halaman yang sangat luas sebuah rumah mewah yang luas.

Sepanjang perjalanan Jaejoong sangat diam dan hanya berkata 'ya' dan 'tidak' jika mendapatkan pertanyaan dari Siwon ataupun Heechul.

"Terima kasih, Paman." Yoochun pun bergegas turun dan segera mengangkat koper mereka di tangan kiri, dan memeluk bahu Jaejoong dengan lengan kanannya.

"Jae, apa kau masih lelah? Sini, uma tuntun, kasihan Yoochun harus membawa…"

"Shireo!" Jaejoong menjawab dengan singkat, namun dengan nada yang dingin dengan tangan yang memeluk lengan Yoochun semakin erat.

"Ah, keu-keure? Ba-baiklah. Um-umma tidak memaksa." Heechul tergagap meladeni Jaejoong. Jujur, hati Heechul sangat sakit mendengar putranya berbicara dengan nada yang sangat dingin kepadanya. Dia ingin sekai menangis, namun tidak. Dia harus sabar menghadapi putranya.

"Tidak apa-apa, bibi. Aku sudah biasa. Hahaha." Yoochun menjawab dengan santai dan melangkahkan kakinya menuju ke rumah dua lantai yang terbilang mewah itu.

Mereka berempat memasuki rumah mewah yang didominasi warna putuh tersebut. Terkesan mewah, namun sangat elegan.

"Jaejoongie.." Sosok perempuan cantik berambut panjang muncul dari dalam rumah. Wajahnya sangat cantik, dia memiliki mata yang sama dengan milik Jaejoong dan Heechul. Perempuan itu berdiri tidak jauh dari pintu dengan dua pelayang berada di samping kiri dan kananya untuk menyambut kedatangan mereka.

Jaejoong tidak merespon apapun pada perempuan itu. jaejoong dapat melihatnya, jika perempuan yang kini sedang berdiri di depannya ini merasa gelisah, entah apa yang ada di pikirannya. Sepertinya dia ingin mengatakan sesuatu, tapi dia ragu untuk melakukannya.

"Jae, a-aku.." Katanya terbata.

"Hyung, aku ingin tidur." Jaejoong berkata demikian sambil berjalan kea rah tangga. Baru beberapa anak tangga, dia kembali menoleh "Kamarku, apa masih sama?" Dia berkata dengan sangat datar kepada semua orang yang masih di bawah.

"Iya Joongie, kamarmu masih sama. Umma sama sekali tidak memindahkan apapun yang ada di dalamnya." Heechul menjelaskan dengan pelan, seolah dia takut Jaejong marah dengan penjelasannya.

"Oh, aku kira kalian sudah membuang barang-barang ku. Yoochun Hyung, ayo!" Jaejoong berkata sambil lalu begitu saja.

"Ah, Jae. U-umma tidak m-mungkin membuangnya. Dan para pelayan juga belum menyiapkan kamar untuk Yoochun. Yoochun-ah, bisakah tunggu sebentar? Biar para maid menyiapkan kamar untukmu dan…"

"Tidak. Yoochun hyung akan tidur bersamaku." Kata Jaejoong memutus kata-kata Heechul dengan kasar dan kembali melangkah.

Semua orang seolah terpaku menatap Jaejoong yang seperti itu. Perkataan Jaejoong sangat dingin dan terkesan kasar. Ahra juga tidak kalah kaget menghadapi adiknya yang seperti ini.

"Jae, bicaralah yang sopan!" Ahra sedikit membentak Jaejoong, dan seketika itu juga Jaejoong menghentikan langkahnya.

"Hyung, sepertinya memang kita harus tinggal di hotel. Hubungi taksi segera! Sepuluh menit!" Jaejoong berkata, kemudian membalikkan tubuhnya dan kembali menuruni tangga. Tidak, dia tidak akan memarahi siapapun. Dia hanya ingin keluar dari sini.

"Jae? Apa kau serius? Baiklah aku akan.." Yoochun sudah menyiapkan ponselnya untuk memenuhi keinginan Jaejoong.

Heechul yang memahami situasi kemudian memeluk tangan Jaejoong, mencegahnya pergi dari rumah mereka.

"T-ti-tidak perlu, Yoochun-ah. Joongie, kalian tidak perlu tinggal di hotel. Maaf jika kau merasa tidak nyaman, kembalilah ke kamarmu, hm? Umma akan menyiapkan makanan favoritmu. Kau masih suka dwenjang chigae? Biar umma masakkan untukmu, hm?" Heechul berkata sambil memegang dan mengusap tangan Jaejoong dengan lembut.

Demi Tuhan air matanya bisa jatuh sekarang juga menatap putranya seperti ini. Putra manisnya yang selalu manja dan ceria, kenapa semua menjadi serumit ini?

"Terserah saja. Hyung, ayo." Jaejoong melepaskan tangan Heechul dan menuju ke kamarnya.

Kamarnya masih belum berubah, berwarna putih dan biru muda lembut dengan banyak dekorasi dan boneka gajah. Jaejoong menatap kamarnya dengan pandangan yang sulit diartikan. Tempat tidur king size di sebelah kirinya dengan terdapat meja kecil dan lemari super besar berurutan di sebelah kanannya.

Di sebelah kanan lemari itu, terdapat dinding pajangan yang banyak tergantung medali penghargaan. Ya, sejak dulu Jaejoong sering mengikuti kompetisi melukis, menyanyi, dan modelling. Dan hasilnya memang spektakuler. Namun Jaejoong merasa sakit saat melihat dinding pajangan itu.

.

.

FLASHBACK

"Umma, aku besok ada lomba melukis, bisakah umma mengantarku?" Jaejoong kecil bertanya sambil menatap Hecchul takut-takut.

"Joongie, umma harus menemani Noona kursus memasak." Heechul menjawab sambil berlalu melewatinya.

.

Umma, bisakah umma menemaniku lomba menyanyi besok?" Jaejoong kecil menatap Heechul dengan tatapan memohong dengan sangat.

"Joongie, kau kan tau besok jadwal Noona les piano." Heechul menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari majalah yang ia baca.

.

"Umma, lihat, aku juara satu lomba menyanyi dan mendapatkan medali ini." Jaejoong kecil dengan bangga menunjukkan medalinya.

"Apa yang kau banggakan dari menyanyi? Lihat Ahra, dia juara tiga lomba matematika. Lain kali ikutlah lomba yang bermanfaat." Heechul berkata dengan memarahi Jaejoong.

.

.

"Ehm, bibi, paman, nona, apa aku sebaiknya menunggu maid menyiapkan kamar untukku?" Yoochun bertanya takut-takut. Pasalnya dia tidak begitu memahami apa yang menyebabkan Jaejoongie cantiknya bersikap sedemikian dingin kepada orang tuanya. Yoochun menganggap itu adalah sifat alami Jaejoong karena memang sejak pertama tiba di Paris, Jaejoong selalu dingin pada tiap orang.

"Yoochun-ah. Apa kalian tinggal bersama di Paris?" Siwon bertanya dengan tatapan seolah mengintimidasi Yoochun.

"Ya, paman. Kami tinggal bersama. Awalnya Jaejoong tinggal bersama orang tuaku dan aku, kemudian saat Jaejoong membeli rumah sendiri, dia memintaku untuk menemaninya." Yoochun menjelaskan.

"Apa kalian sekamar?" Heechul bertanya, tidak dapat menyembunyikan rasa penasarannya.

"Ya. Tapi paman dan bibi tidak perlu cemas, kami tidak melakukan apapun seperti yang kalian pikirkan. Jaejoong mengalamin insomnia akut. Dia susah tidur di malam hari, aku hanya tidur bersamanya untuk memeluk dan membelai rambutnya, karena dengan begitu dia akan bisa tidur dengan tenang. Dan dia juga gampang terbangun saat sudah tertidur." Yoochun menjelaskan dengan lirih, seolah dia takut bahwa apa yang dilakukannya adalah salah.

"Insomnia?" Siwon, Heechul, dan Ahra tentu saja kaget mendengarnya. Jaejoong yang mereka kenal adalah Jaejoong yang bisa tidur kapan saja dan dimana saja, serta sangat sulit dibangunkan.

"Yoochun-ah. Sejak kapan Jaejoong menderita insomnia?" Heechul bertanya, dengan mata sembab dan air mata yang siap mengalir kapan saja.

"Sejak aku pertama mengenalnya dia suda seperti itu. saat ku Tanya dia bilang 'aku sulit tidur karena sering mimpi buruk sejak junior high, dulu aku punya sahabat yang selalu memeluk dan membelai rambutku jika kita menginap dan itu membuatku nyaman.' Begitu katanya."

Air mata Heechul sudah semakin tidak terbendung lagi. Entah berapa kali ia menangis hari ini. Hatinya terasa sangat sakit, mengingat Jaejoongnya berubah menjadi sosok yang sangat berbeda. Tidak, tidak, Heechul tidak mungkin berani marah pada Jaejoong, karena bagaimanapun juga dia yang membuat puteranya tersiksa seperti ini. Dan dia tahu dengan pasti, siapa sahabat yang dimaksud dalam cerita Yoochun.

"Datangi Joongie, Yoochun-ah. Hiks, susul dia, dan temani dia selalu. Aku mohon, hiks, kau untuk selalu di sisinya dan menemaninya." Heechul memegang tangan Yoochun masih dengan berurai air mata.

"Bibi, aku sudah berjanji pada Jaejoong bahwa aku akan melindunginya hingga dia sendiri yang memintaku untuk pergi. Jadi bibi tidak perlu khawatir. Dan tolong hentikan air mata bibi. Hatiku sakit jika melihat orang menangis" Yoochun berkata sambil memegang tangan Heechul.

Yoochun kemudian pergi menyusul Jaejoong yang sudah terlebih dahulu masuk ke kamarnya. Di bawah, Heechul, Siwon, dan Ahra menatap kepergian Yoochun dengan tatapan yang sulit di artikan.

'Joongie, umma akan mengembalikan sifat ceriamu, nak. Umma janji.'

'Jae, Noona akan menebus semuanya dan aku sendiri yang akan menggiring Yunho ke pelukanmu.'

'Jae, appa akan selalu melindungi dan menyayangimu. Appa tidak akan membiarkanmu pergi lagi dari rumah ini.'

.

.

.

.

.

.

.

T.B.C.

.

.

.

.

.

Special Thanks:

bijin YJS: hahahaha :D makasih banyak yaa atas review yang menyemangati. Saya jadi makin semangat buat lanjutin, hehe..

herojaejae: hehehe, makasih banyaaak ^^

.7399: hihihi, ini udah lanjut. Semoga tidak mengecewakan yaa~ ^^

jaelous: sip, ini udah update. Makasih banyak yaa~ ^^

KjLiey: hihihi, makasih banyak yaaa~

Yjnokokoro: hehehe, semoga menikmatii~

.

.

.

.

.

.

Terima kasih untuk teman-teman pembaca yang sudah mereview ff saya yang masih seumur jagung ini.

Saya akan berusaha lebih baik lagi kedepannya.

Terima kasih banyaaakkk~ Fighting! ^^

.

.

-Alexa-