.
Winter Spring
Chapter 3
Jaejoong mengerjabkan matanya dan mulai membiasakan mata lelahnya itu. Dia tidur dalam pelukan Yoochun. Ah, dia tersenyum sambil menatap wajah Yoochun yang tidur dengan tenang. Tanpa diperintah, tangannya membelai lembut pipi Yoochun, berusaha untuk tidak membangunkannya.
"Hyung, terima kasih." Ucap Jaejoong lirih. Ini adalah ritual setiap pagi yang selalu dia lakukan.
"Selamat pagi, Jaejoongie, apa tidurmu nyenyak, hm?" Yoochun memeluk Jaejoong semakin erat dalam pelukannya.
"Hyung selalu bisa membuatku lebih baik. Gomawo." Jaejoong membalas pelukan Yoochun.
"Kau mau turun ke bawah dan sarapan?"
"…" Jaejoong tidak menjawab, namun sorot matanya kosong seolah enggan mendapatkan pertanyaan seperti itu.
"Jae, orang tuamu pasti sangat mengkhawatirkanmu. Sebaiknya kita turun dan sarapan, hm?"
"Hyung, aku sudah menceritakan semuanya kepadamu semalam bukan? Jadi aku harap kau mengerti dengan…"
"Aku mengerti, Jae. Sangat mengerti. Aku hanya tidak rela Jaejoongieku yang baik hati bersikap jahat pada keluarganya sendiri, terlepas dari apa yang pernah mereka lakukan padamu."
"Aku tidak melakukan apapun. Aku hanya berusaha menghindar. Apa Hyung tau? Hatiku sakit setiap menatap mereka. Dan setiap sudut rumah ini memiliki kenangan buruk untukku." Jaejoong menjawab dengan lirih.
"Jadi, apa yang bisa aku lakukan untuk membuat Jaejoongku nyaman, hm?" Yoochun berusaha membuat perasaan Jaejoong membaik.
"Hahaha, gendong aku, hm?" Jaejoong berkata dengan nada yang sangat manja dan mengedipkan matanya.
"Jaejoongie, aku tidak akan pernah bisa menolak aegyo-mu meski yang kau minta adalah nyawaku."
"Hyung, kau tau aku tidak mungkin melakukannya, kan?" Jaejoong menghambur ke pelukan Yoochun yang sudah berdiri di samping tempat tidurnya.
"Dan kau tau jika aku sangat mencintaimu, kan?" Yoochun membawa Jaejoong ke dalam dekapannya.
"Aku tau, Hyung. Dan aku mungkin akan mati jika Hyung meninggalkanku." Jaejoong menyamankan posisinya di dalam pelukan Yoochun yang bersiap membawa Jaejoong turun untuk sarapan.
.
.
.
Ddrrrt ddrrrrttt…
"Yeoboseo." Yunho menjawab ponselnya setengah terengah. Selain karena ini masih pagi, dia sedang melakukan olah raga dengan perlengkapan gym yang tersebar di apartemennya.
'Yunho-ya. Kau tau? Jaejoong sedang berada di rumah sekarang.'
"Ya, aku tau, Ahra noona. Lalu?"
'Kau tidak ingin kemari? Bicaralah padanya. Ini kesempatanmu mendapatkannya kembali.'
"Tapi noona, dia sudah memiliki kekasih. Aku melihatnya di media dia dipeluk seorang laki-laki di badara." Yunho berkata sambil menghembuskan nafasnya, berusaha menahan rasa sesak di dadanya.
'Apa yang kau maksud itu Yoochun? Dia adalah manajer Jaejoong. Aku tidak mau tau, kau harus ke sini. Sarapanlah bersama kami.'
"Noona, sepertinya itu bukan ide yang bagus, aku…"
'Berhentilah menjadi seorang pengecut Jung Yunho. Aku tunggu, dan dalam 30 menit harus segera sampai di sini.'
"Noona, tapi.. yeboseo? Yeoboseo? Aish." Yunho lalu melempar ponselnya ke sofa dan berniat mandi untuk segera pergi ke rumah Ahra dan Jaejoong.
.
.
"Umma, umma sedang masak apa? Dan dimana appa?" Ahra mendatangi Heechul di dapur dan mendudukkan dirinya di meja makan. Meskipun Ahra pernah kursus memasak, tapi dia tidak jago memasak. Tidak seperti seseorang.
"Umma membuat dwenjang chigae dan bulgogi. Itu dua masakan favorit Joongie. Umma harap dia masih menyukainya. Appa sedang meeting, pagi-pagi tadi dia sudah berangkat." Heechul berkata dengan riang, berharap Jaejoong akan memakan masakannya dengan lahap seperti dulu.
"Jaejoong pasti menyukainya, Umma. Masakan umma adalah yang terbaik." Ahra mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Terima kasih, Ahra-ah." Heechul menatap Ahra sendu dan Ahrapun sepertinya mengerti.
"Umma…"
"Tidak apa-apa, Ahra-ah. Umma hanya merindukan Joongie kecil umma, hiks. Dia anak yang manis dan sangat ceria. Bagaimana mungkin dia berubah menjadi seperti itu? hiks."
"Umma, aku juga merasa bersalah padanya. Kita harus mengembalikan Jaejoong kita yang dulu." Ahra memeluk ummanya dengan erat.
Ding dong~
"Ah, sepertinya dia sudah datang. Aku akan membuka pintu, umma."
"Kau mengundang tamu, Ahra-ah?"
"Aku mengundang Yunho, umma. Aku rasa dia juga berhak melihat Jaejoongie karena dia yang paling terpuruk atas kepergiannya."
"Tapi umma rasa, itu akan memperburuk keadaan."
"Umma, percayalah padaku."
Ahra kemudian berlari kea rah pintu utama dan membuka pintu untuk Yunho. Mereka berdua kembali memasuki dapur yang menjadi satu dengan ruang makan.
"Selamat pagi, Ahjumma. Maaf merepotkan pagi-pagi sekali." Yunho menundukkan tubuhnya memberi salam hormat kepada Heechul.
"Jangan terlalu formal, Yunho-ya. Duduklah di meja makan, sebentar lagi masakannya selesai."
"Terima kasih, Ahjumma."
Merekapun akhirnya disibukkan dengan kegiatan masing-masing. Heechul yang kembali memasak, Ahra yang mengurusi pekerjaan kantornya karena dia kini menjadi manajer pemasaran di kantor sang Appa, dan Yunho yang berkutat dengan ponselnya.
Tap.. tap..
Suara anak tangga membuat mereka semua menoleh. Mata mereka terbelalak menatap Yoochun, bukan, lebih tepatnya seseorang yang berada di dalam gendongan Yoochun.
"Selamat pagi, semua." Yoochun berjalan dan mendudukkan dirinya di meja makan, masih dengan Jaejoong dalam pangkuannya.
Semua orang termasuk Yunho menatap Yoochun dan Jaejoong dengan tatapan aneh. Yunho benci melihatnya. Dia tidak suka Jaejoongnya disentuh oleh orang lain. Yoochun yang mengerti keadaan berusaha memperbaiki suasana.
"Jae, kau tidak ingin duduk sendiri?" Yoochun bertanya pada Jaejoong.
"Shireo!" Jaejoong menjawab dengan dingin dan tegas, membuat Yunho tertegun. Apa yang barusan berkata dengan nada dingin dan mematikan itu adalah Jaejoong?
"Baiklaah." Yoochun menghembuskan nafasnya dengan pelan. Dia tau Jaejoong tidak siap menghadapi keluarganya, tunggu. Siapa pria yang duduk berseberangan dengan dirinya di meja makan ini?
"Maaf, aku tidak melihatmu kemarin. Aku Park Yoochun." Yoochun mengulurkan tangan kanannya dengan tangan kiri masih memeluk Jaejoong.
"Jung Yunho."
DEG
Tunggu, apa Jaejoong salah dengar? Jung Yunho ada di sini? Dia semakin mengeratkan pelukannya di leher Yoochun, meskipun Yoochun tidak menyadarinya karena pikiran Yoochun juga sedang mencerna ucapan laki-laki itu. Jadi ini laki-laki yang dicintai Jaejoong?
"Hyung, apa aku memiliki jadwal hari ini?" Jaejoong bertanya masih berada di pelukan Yoochun.
"Jae sayang, kasihan Yoochun jika harus memelukmu." Heechul berkata sambil meletakkan makanan di meja makan.
"Tidak apa bibi, aku sudah biasa. Ya, Jae. Kau aka nada meeting dengan Cartier Korea di restoran YJ Hotel makan siang nanti. Setelah itu kita akan survey lokasi pemotretan untuk brand burberry."
"Kau ada meeting di Hotelku, Jae? Aku bisa mengantarmu." Yunho bertanya, berusaha mencari kesempatan berbicara dengan Jaejoong.
"Tidak perlu." Jaejoong menjawab singkat.
"Ah, begitukah? Ba-baiklah." Yunho pun sedikit kaget mendapati Jaejoong yang sangat dingin seperti ini. Dia tidak pernah menyangka bahwa Jaejoong akan berubah sedrastis ini.
"Sudah, sudah. Ayo makan dulu. Jae, umma membuat dwenjang chigae dan bulgogi, semoga kau menyukainya. Makanlah yang banyak. Kau juga Yoochun-ah. Dan yunho juga."
Heechulpun mendudukkan dirinya di kursi makan bersebelahan dengan Ahra.
"Jae, mau makan sendiri atau aku suapi?" Yoochun bertanya dan menyebabkan semua orang menoleh pada Jaejoong yang masih setia di dalam dekapan Yoochun.
"Aku akan makan sendiri." Jaejoong mendudukkan dirinya disebelah Yoochun dan berhadapan dengan Heechul.
"Minumlah tehmu dulu, Jae." Heechul menyarankan.
"Hm." Jaejoong menjawab singkat dan siap meminum tehnya.
"Uhuuuk uhuuk… Akh, uhhuk.."
"JAE!" semua orang panik melihat Jaejoong terbatuk dan kesulitan bernapas.
"Jae, chagi. Apa yang kau rasakan?" Yoochun segera membawa Jaejoong kembali dalam dekapannya, meski secara tidak sadar dia memperoleh pandangan membunuh dari Yunho.
"Uhuuukk.. uhuuuk. Hyu-hyungh.. seessaaahhkk.." Jaejoong berusaha menjelaskan dengan air mata mengalir di pipinya.
Yoochun menatap cangkir teh yang telah diminum Jaejoong, mencium aromanya, dan meminumnya sedikit.
"Cinamon." Yoochun bergumam.
Yoochun segera menggendong tubuh Jaejoong ala bridal ke kamarnya, diikuti oleh semua orang yang tampak panik melihat kondisi Jaejoong. Yoochun merebahkan Jaejoong di atas kasur, dan segera mencari sesuatu dalam tas mereka.
"Jae, minum ini." Yoochun menyodorkan sebuah obat pada Jaejoong..
"Jae, hiks." Heecul merasa sangat panik melihat Jaejoong tidak dapat bernafas.
"Uhuuk. Uhuukk.." Jaejoong meminum obatnya, kemudian Yoochun memasangkan selang yang terhubung dengan tabung kecil ke hidung Jaejoong. Menunggu keadaan Jaejoong membaik dan nafasnya teratur.
"Gwenchana?" Yoochun mendudukkan dirinya di samping Jaejoong dan mengelus rambut Jaejooong. Jaejoong hanya mengangguk lemah, masih dengan air mata mengalir di pipinya meski nafasnya sudah mulai teratur.
"SIAPA YANG MEMBUAT TEH ITU? JAWAB!" Yoochun murka dan berteriak di hadapan Heechul, Ahra, dan Yunho.
"A-aku ya-yang membuatnya, Yoochun-ah." Hechul menjawab dengan pelan.
"Cih, Apa benar kau ibu dari Jaejoong? Kau ingin membunuhnya? KENAPA KAU MEMASUKKAN CINAMON PADA TEH JAEJOONG?" Yoochun berteriak murka pada Heechul, tidak peduli lagi jika itu membuatnya dibenci Heechul.
"Cinamon? Bibi, apa kau tidak tau kalau Jaejoongi alergi cinnamon? Dia bisa sesak nafas dan tersengal jika memakannya." Yunho menjelaskan dan berusaha berjalan mendekati Jaejoong, meski pada akhirnya langkahnya terhenti karena Yoochun menahannya.
"A-apa? Jae, maafkan umma. Umma tidak tau, hiks. Maaf." Heechul menghambur menuju Jaejoong dan berusaha memeluknya.
"Pergi." Jaejoong berkata dengan lemah sambil memalingkan mukanya dari Heechul.
"Sebaiknya kalian semua pergi. Aku akan menjaganya."
"Tapi, Yoochun-ah. Apa tidak sebaiknya memanggil dokter?" Ahra berusaha memperbaiki suasana.
"Tidak. Kalian keluar saja. Aku akan menemaninya. Dan bibi, aku minta maaf sudah membentakmu" Yoochun mengusir halus semua orang yang ada di dalam ruangan itu.
"Gwenchana, Yoochun-ah. Aku ibu yang buruk." Heechul meninggalkan ruangan bersama dengan Ahra dan Yoochun fokus menenangkan Jaejoong yang perlaha-lahan mulai mengantuk. Tanpa sadar masih ada seseorang yang ada di ruangan itu.
"Kenapa kau masih di sini, Jung Yunho?"
"Aku ingin memastikan dia baik-baik saja."
"Selama ada aku, dia akan baik-baik saja."
Hening sejenak, Yunho memperhatikan Yoochun yang mengelus pelan rambut Jaejoong, kemudian melihat wajah tenangnya meski mengenakan selang oksigen kecil yang disiapkan oleh Yoochun.
"Aku mencintainya."
"Cih. Jung Yunho, bagaimana mungkin kau mengatakan itu? Kau tunangan Ahra."
"Sudah tidak lagi. Aku memutuskannya beberapa di hari Jaejoong pergi."
"Lalu berharap Jaejoong akan kembali padamu? Sebaiknya jangan bermimipi."
"Aku akan membuatnya kembali padaku."
"Aku sarankan jangan terlalu memaksakan diri. Dan sebaiknya kau keluar dari sini."
Yunho tau, meskipun dia kesal setengah mati pada namja yang ada di depannya ini, dia memang harus keluar. Jaejoong butuh istirahat dan dia tidak mau mengganggu waktu istirahat Jaejoong.
.
.
Yunho kembali menuju ruang makan, menyusul Ahra dan Heechul yang sudah mendudukkan diri mereka di sana sambil memakan sarapan mereka, meski sedikit tidak bernafsu.
"Yunho-ya. Apa kau tau tentang alegi Jaejoong?"
"Iya, Ahjumma. Aku pertama kali mengetahui saat senior high, saat itu kita makan dorayaki dan Jaejoong sesak nafas seperti tadi."
"Astaga, aku ibu yang sangat buruk. Hiks."
"Umma.."
"A-apa kau juga mengetahui bahwa Jaejoong menderita insomnia?"
"Ya, aku mengetahuinya saat dia menginap di rumahku, saat itu tengah malam dan dia masih belum tidur, saat aku tanya dia bilang 'Aku sering mimpi buruk, Yunho-ya. Umma memarahiku dalam mimpiku hingga aku susah tidur.' begitu katanya."
"Oh, astaga puteraku, hiks.. Apa yang sudah aku lakukan?"
Yunho mengerti perasaan Heechul. Sangat mengerti. Dia juga merasa sangat terpukul. Terlebih lagi melihat Jaejoong yang seolah berubah menjadi sosok lain yang sangat dingin dan tidak peduli dengan orang lain. Dia merasa bersalah, menurutnya, karena dirinyalah Jaejoong berubah. Ditambah dengan Yoochun yang sepertinya tidak akan mudah disingkirkan dari sisi Jaejoong.
.
.
"Jae, apa kau mau langsung pulang, atau bagaimana?"
Saat ini Jaejoong dan Yoochun sedang berada di dalam taksi setelah memenuhi jadwal Jaejoong untuk melakukan meeting dan suvey lokasi.
"Terserah Hyung saja."
"Apa kau masih sesak nafas? Aku ingin memebelikanmu beberapa pakaian untuk datang ke interview besok. Apa kau keberatan? Apa aku harus membelinya sendiri?"
"Tak apa, Hyung. Aku sebaiknya ikut denganmu."
.
.
"Hyung. Apa kau tak mau menghabiskan makananmu? Biar aku yang menghabisannya."
"Jung Changmin. Bagaimana mungkin hanya makanan saja yang ada di pikiranmu?"
"Hahaha. Hyung, memang ada apa? Apa hyung sudah bertemu dengan Jaejoong Hyung?"
"Haa..h~ Kau tau? Dia sangat berubah."
"Benarkah? Apa dia menjadi semakin buruk rupa?"
"Enak saja. Dia semakin mempesona, kau tau? Hanya saja dia menjadi sosok yang sangat dingin sekarang. Dia bahkan tidak mau berbicara denganku."
"Itu sih hal yang wajar, Hyung. Apa Hyung lupa pernah menyakitinya dulu? Ditambah lagi kabar pertunangan Hyung dengan Ahra noona. Dijamin dia semakin membencimu."
"Bisa tidak kau tidak memperkeruh suasana?"
"Ups, maaf. Aku hanya mengingatkan, bahwa aku masih kesal padamu karena sudah membuat Jae Hyung menangis dan pergi dariku saat itu."
.
.
FLASH BACK
"Jae Hyung!" Changmin kaget bukan main mendapati Jaejoong berada di halaman rumahnya dalam keadaan mengenaskan. Matanya bengkak dan sembab, bukti bahwa dia habis menangis.
"Changmin-ah. Kau baru pulang?" Jaejoong berusaha menyembunyikan kesedihannya.
"Hyung, mau cerita?"
"Hiks.. Changmin-ah.."
Jaejoong pun menangis dengan keras di dalam pelukan Changmin. Changmin sendiri dalam hati merutuki kekejaman Hyungnya yang sudah melukai hati Hyung cantiknya, Kim Jaejoong.
"Hyung. Masih banyak lelaki lain yang lebih baik. Lupakan saja hyungku yang bodih itu. ayo, aku antar pulang."
"Gomawo, Changmin-ah."
Changmin pun akhirnya mengantar Jaejoong pulang menuju rumahnya yang memang tidak jauh dari rumah miliknya. Namun ternyata kesedihan Jaejoong tidak hanya sampai di situ.
"Hyung, sebaiknya aku antar hyung ke kamar."
"Terima kasih, Changmin-ah."
Saat Changmin dan Jaejoong memasuki ruang tamu rumahnya, mereka mendengar percakapan Heechul dan Ahra yang sedang mengobrol.
"Ahra-ah. Kata Jung Ilwoo, Jung Yunho sudah mau menerima perjodohannya denganmu. Apa kau senang?" Heechul berkata sambil mengusap kepala Ahra dengan lembut.
"Umma benarkah? Gomawo umma, umma adalah yang terbaik." Ahra langsung memeluk Heechul saat itu juga.
Sakit. Hati Jaejoong sakit mendengar semuanya. Changmin memeluk bahu Jaejoong erat dan segera membimbing Jaejoong menuju kamarnya. Heechul mengetahuinya, bahwa Jaejoong mendengar apa yang dia katakan. Menurut Heechul ini yang terbaik, Jaejoong tidak seharusnya menyukai laki-laki seperti dirinya. Putranya harus normal.
"Changmin-ah. Hiks." Jaejoong memeluk Changmin. Mereka berdua duduk di atas tempat tidur Jaejoong.
"Hyung. Jangan menangis." Hati Changmin sakit melihat Jaejoong menangis seperti ini.
Jaejoong menangis dalam pelukan Changmin cukup lama.
"Changmin-ah, sepertinya aku akan pergi." Jaejoong berkata masih dalam pelukan Changmin.
Changmin melepaskan pelukannya. "Apa maksudmu, Hyung?"
"Kau tau? Aku mendapat beasiswa ke paris, aku akan kuliah seni di sana. Tadinya aku tidak akan mengambilnya, tapi sepertinya aku berubah pikiran."
"Hyung.."
"Aku sudah mendapatkan tiket pesawat untuk keberangkatan lusa. Sepertinya aku benar-benar akan pergi."
"Hyung, kau tau? Aku sangat menyayangimu. Jangan pergi."
"Kau tunggu di sini sebentar, Changmin-ah. Aku akan menemui appaku."
Jaejoong tidak menunggu jawaban Changmin dan langsung pergi meninggalkan kamarnya. Changmin menuju dengan cemas. Bagaimanapun kecil kemungkinannya seorang Kim Siwon akan mengijinkan Kim Jaejoong pergi ke Paris seorang diri.
Cklek..
"Hyung, kau sudah kembali?"
"Ya, dan appa menyetujuinya."
"Benarkah? Semudah itu?"
"Aku mengancamnya. Aku bilang aku akan mati jika terus tersiksa di sini. Dan dia akhirnya setuju."
"Hyung, kau benar-benar meninggalkanku?"
"Changmin-ah, menginaplah di sini sampai aku berangkat. Aku butuh teman, dan hanya kau yang kupunya."
"Baiklah, Hyung. Apapun untukmu."
Changmin menuruti keinginan Jaejoong untuk tinggal di sana. Semua orang di rumah itu sudah mengetahui bahwa Jaejoong akan ke Paris. Namun mereka bersikap biasa seolah tidak ada yang berubah. Changmin tetap setia menemani Jaejoong hingga keberangkatannya.
Di Bandara
"Jae, berhati-hatilah di sana. Kau ingat? Jangan melakukan hal-hal ceroboh, jangan menerima tawarang orang asing, dan jaga dirimu baik baik." Kim Siwon menasehati puteranya yang akan pergi ke Paris.
"Ya, Appa."
"Saat liburan musim panas nanti, appa akan menemanimu kemanapun kau mau, Jae."
"Ya, appa. Terima kasih." Jaejoongpun memeluk Siwon dengan erat.
"Yeobo, Jaejoong hanya akan kuliah, musim panas nanti juga akan kembali untuk berlibur. Kau terlalu berlebihan." Heechul mencela suaminya yang terlihat khawatir membiarkan Jaejoong sendiri. "Lagipula dia laki-laki."
"Umma, Ahra noona jaga diri kalian." Jaejoong hanya berkata singkat tanpa memeluk mereka. "Dan Changmin-ah. Terima kasih banyak." Jaejoong memeluk Changmin dengan sangat erat.
"Hyung, aku akan menunggumu hingga kau kembali, dan kita akan kembali bersenang-senang." Changmin berkata dengan riang, seolah ingin menutupi kesedihan yang menimpanya.
"Jangan, Changmin-ah. Jangan menungguku." Jaejoong berkata dengan lirih, nyaris tak terdengar. "Sebaiknya aku segera masuk, selamat tinggal semuanya."
Jaejoong melangkahkan kakinya menuju pintu masuk keberangkatan pesawat. Changmin hanya mengawasi dari jauh menghilangnya punggung sosok yang sangat ia kagumi itu.
"Siwon-ah. Kau terlalu berlebihan, dia tidak akan apa-apa." Heechul berkata, masih dapat didengar oleh Changmin.
"Aku merasa aka nada peristiwa buruk, Heechul-ah. Dan itu akan membuatmu merasa sangat sedih."
Changmin melihat Siwon mengatakan itu dan berpaling dari Heechul dan Ahra. Dan dirinya bersumpah dia melihat air mata mengalir dari pipi seorang Kim Siwon.
Tidak ada yang tau, bahwa kepergian Jaejoong adalah untuk waktu yang cukup lama. Sangat lama hingga mampu merubah kebencian Changmin pada Yunho menjadi kejengkelan tak berujung. Cukup lama untuk menyadarkan Siwon bahwa putra bungsunga sangat lelah hidup di dalam keluarganya. Cukup lama untuk membuat Heechul sadar bahwa dirinya yang secara tidak langsung mengusir sang putera dari rumahnya sendiri. Cukup lama untuk menyadarkan Ahra bahwa Yunho bukan miliknya, dan sejak awal memang bukan miliknya. Dan cukup lama untuk menyadarkan Yunho bahwa Jaejoong adalah seseorang yang membawa separuh nafasnya pergi jauh dari dirinya.
.
.
"Kau tidak perlu mengingatkanku, Changmin-ah."
Changmin menatap Yunho untuk segera membalas Yunho dengan kata-kata tajam lainnya. Namun dia mengurungkan niatnya karena melihat mata Yunho yang berkaca-kaca memperlihatkan kerapuhan hati kakaknya ini. Changmin mengalihkan pandangannya ke luar restoran dan menatap keramaian mall untuk menghindari menatap kakaknya. Namun yang dilihat adalah pemandangan lain.
"Jae Hyung.." Changmin bergumam pelan.
Yunho yang kaget akhirnya mengikuti arah pandang Changmin. Hatinya terasa sakit, seolat belati yang telah menancap di sana digerakkan untuk mencabik-cabik hatinya. Mereka melihat Jaejoong berjalan dalam pelukan Yoochun sambil mengerucutkan bibirnya. Astaga, Jaejoong terlihat sangat bahagia.
"Jaejoong-ah.." Yunho merintih dalam sakitnya, memperhatikan Jaejoong yang sepertinya sangat nyaman dalam pelukan Yoochun, tanpa sadar air matanya jatuh, satu persatu hingga membasahi pipinya yang tirus.
"Hy-hyung.." Changmin terkejut melihat ekspresi Yunho. Jujur dia membencinya karena sudah membuat Jaejoong Hyung yang sangat ia sayangi pergi. Tapi dia adalah saksi bahwa Yunho juga tersiksa karena kepergian Jaejoong. Apakah masih belum cukup hukuman yang didapatkan Yunho? Apa Hyungnya ini tidak bisa bahagia?
.
.
.
.
T.B.C.
.
.
.
Special Thanks
.7399: terima kasih ya sudah menunggu, semoga sukaaa^^
jealous: ini sudah update. Makasih banyak yaaa
KjLiey: sip, kali ini special buat kamu, saya panjangin ceritanya, hehehe
Yjnokokoro: makasih banyak yaaa^^
KjLiey: Makasih banyak yaaa, semoga sukaa^^
Jung Jjyunie dmcp: Hihihi, makasih banyaaaakkk^^
Endhaiueo: hehe, makasih yaaa^^
QuinnessA: Siip, makasih yaaaa^^
Name Tika lee: hehe, pasti diselesaikan kok, terima kasih banyaaaakk^^
Catty: sip, makasih banyak yaaaa^^
Meybi: terima kasih banyaaaakkk^^
antnia8: sip, terima kasih banyaaaaakk^^
hanchul yunjae: makasih banyak yaaa, fighting!^^
Kyu: hahaha, kok ide kamu sama kaya ide saya ya? Saya juga emang akan bawa ortu Yoochun, tapi ga sekarang, hehehe. Makasih yaaaa^^
.
.
.
Aaargh, maafkan saya yak arena baru sempat update. Saya habis sakit karena datang bulan dan itu sangat menyiksa, hiks. Mianhaeyo…
Saya akan update cepat dalam minggu ini karena sudah tidak sakit. Terima kasih sudah menungguuu, dan saran-sarannya sangaaaat membantu saya. Saya sangat senang sekali mendapat respon yang sangat bagus atas FF debut saya ini, terima kasih banyaaaakkkk *Deep Bow*?
.
.
-Alexa-
