Rated: T
Disclaimer: Karakter dan situasi seluruhnya milik Bunda Jo tercinta
Pairing: DraMione
Notes: Chapter kedua. Bener-bener nggak nyangka, jadi niat beneran bikin fanfic. Moga-moga aja terus bertahan ampe tamat yah...
Warning: OOC, GaJe, Typo, dll
My Enemy, My Rival, and My Love
Draco tersentak bangun. Ia melihat ke arah jendela, matahari sudah lumayan tinggi pagi itu. Draco bergegas mandi, ia melihat si Ketua Murid perempuan sudah tidak ada. "Sial!" rutuk Draco dalam hati.
Selesai bersiap-siap, ia segera turun ke Aula Besar agar tidak ketinggalan sarapan. Di Aula, Draco melihat Hermione sedang menikmati sarapannya di meja Gryffindor. Draco menatapnya dengan kesal, tapi Hermione berpura-pura tidak melihatnya dan terus melanjutkan sarapannya. Draco duduk di meja Slytherin dengan bersungut-sungut.
"Hei mate, kau hampir saja ketinggalan sarapan." kata Blaise Zabini sambil menepuk pundak Draco.
"Yeah Blaise, dan aku akan menghukum seseorang yang membuatku mengalami ini." kata Draco kesal.
"Wah... pagi-pagi sudah ada yang membuatmu kesal rupanya. Siapa memangnya?" tanya Blaise.
"Si Nona-Sok-Tahu dari Gryffindor itu." jawab Draco dengan wajah siap membunuh.
"Hahaha... santai mate. Jangan bunuh dia, kan sayang kalau mengingat wajahnya yang cantik itu. Memang apa sih yang dia lakukan padamu?" kata Blaise santai.
Draco menatap sahabatnya itu dengan tatapan mencela. "Cih, cantik apanya? Dia tidak membangunkanku pagi ini. Aku benar-benar nyaris kesiangan gara-gara dia." kata Draco lagi.
"Well Draco, dia memang 'cantik'. Yah, setidaknya dia punya pesona tersendiri, dan – Hei! Kau bilang apa tadi? – dia tidak membangunkanmu? Memangnya dia biasa melakukan itu?" tanya Blaise dengan wajah tertarik.
"Kau bodoh sekali Blaise. Ya, dia biasa melakukan itu. Kalau dia sedang bangun lebih pagi." kata Draco. Ia mulai malas dengan percakapan ini, karena arah pembicaraanya sudah mulai berubah.
"Beruntung sekali kau! Bisakah kau memintanya membangunkan aku juga?" tanya Blaise dengan cengiran jahil di wajahnya.
"Boleh saja, kalau kau mau dikutuk dengan Kutukan Tak Termaafkan olehnya." kata Draco lagi. Dan kali ini si Ketua Murid laki-laki sudah benar-benar tidak mau melanjutkan percakapan itu lagi.
Draco melihat Hermione bangun dari meja makan dan meninggalkan aula besar. Dan ia tahu kemana Hermione akan pergi. Kelas Aritmanchy. Karena Draco juga akan ke sana nanti. Ia akan menghukum Hermione, dan itu akan lebih mudah untuk dilakukan – mengingat baik Potter maupun Weasley tidak ada yang mengikuti kelas itu. Draco segera mempercepat makannya untuk menyusul Hermione.
"Masih merajuk, Granger?" tanya Draco saat dia berhasil menyusul Hermione.
Hermione yang hendak membuka pintu kelas terlonjak kaget. "Mau apa kau Malfoy?" tanya Hermione curiga setelah ia pulih dari keterkejutannya.
"Well, kau membuatku hampir telat pagi ini, Granger. Tentu saja aku ingin menghukummu." kata Draco dengan wajah cuek.
"Menghukumku? Itu kan salahmu sendiri, Malfoy. Buktinya kemarin kau bisa bangun sendiri tanpa harus kubangunkan." kata Hermione datar.
"Kemarin adalah kemarin Granger. Dan sekarang kau harus dihukum." desis Draco.
Hermione memutar matanya kemudian berbalik dan meraih gagang pintu. "Huh, omong kos..." kata-kata Hermione terputus karena Draco telah menarik tangannya dan mendorong tubuhnya ke dinding kemudian menghimpitnya.
"Jangan main-main denganku, Granger. Atau kau akan rasakan akibatnya." kata Draco lagi.
Hermione merasa wajahnya mulai memerah karena ia berada dalam jarak yang sangat dekat dengan si Slytherin itu.
"Ma.. mau apa kau Malfoy?" tanya Hermione terbata.
"Sudah kubilang kan, aku mau menghukummu." bisik Draco pada Hermione.
Hermione merasa jantungnya berdetak lebih kencang dan wajahnya semakin merah saat ia merasakan hembusan nafas Draco menggelitik pipinya.
Draco tersenyum melihat reaksi Hermione. Ia mengangkat sebelah tangannya dan mulai mengelus pipi Hermione yang lembut. Ia semakin merapatkan tubuhnya dengan tubuh Hermione, mebuat Hermione merasa akan pingsan. Dan saat Draco mulai mendekatkan wajahnya ke wajah ketua murid perempuan, Hermione mendorong tubuhnya sekuat tenaga sampai Draco terhuyung mundur. Tapi tangan Draco sempat meraih tangan Hermione dan menariknya sampai punggung Hermione bertubrukan dengan dada bidang Draco.
"Jangan sampai terulang lagi Granger, atau..." bisik Draco, sengaja menggantungkan kalimatnya, sedang Hermione bergidik ngeri dan segera melepaskan diri dari Draco. Tak mau mendengar lanjutan dari kalimat Draco.
Draco tersenyum senang saat Hermione masuk ke kelas. Ia tahu ancamannya sudah cukup untuk membuat si ketua murid perempuan berhenti merajuk padanya. Tapi ia ingin membuat Hermion semakin tak berkutik.
-o0o-
Hermione sedang duduk di ruang rekreasi Gryffindor, di situ hanya ada dirinya dan Ginny. Murid-murid yang lain sedang makan siang di Aula.
"Kau ada masalah apa sih Mione?" tanya Ginny. Ia bingung melihat Hermione sejak tadi, mengajaknya makan lebih awal, mengajaknya ke ruang rekreasi yang sepi, dan setelah semua itu, Hermione hanya diam dan gelisah sambil sesekali menggumamkan keluhan yang tidak bisa Ginny dengar dengan jelas.
"Tidak ada Gin." jawab Hermione.
"Lalu apa alasanmu mengajakku kesini." tanya Ginny lagi.
"Loh, ini kan asramamu?" Hermione balik bertanya pada Ginny dengan bingung.
"Maksudku, kenapa saat tidak ada orang?" kata Ginny mulai tak sabar.
"Aku hanya ingin menyendiri." sahut Hermione pelan.
"Dari siapa? Dari Tuan Tampan itu?" tanya Ginny menggoda.
"Siapa?" tanya Hermione terkejut.
"Dari Malfoy, memang siapa lagi?" tanya Ginny lagi, dan sekarang wajahnya tersungging senyuman jahil.
Hermione mendengus mendengar kata-kata Ginny. Hermione memang gelisah karena Draco. Bukan, bukan gelisah seperti yang mungkin Ginny pikirkan. Ia gelisah karena Draco terus saja menggangunya seharian ini. Sepertinya, apa yang di lakukan oleh Draco pagi itu di depan kelas Aritmanchy belum cukup menurut si Ferret sial itu.
Draco dengan sengaja duduk di sebelah Hermione sepanjang pelajaran, dan itu tidak hanya berlaku di pelajaran Aritmanchy saja. Tapi di semua mata pelajaran. Murid-murid yang lain sampai terheran-heran karena tak biasanya si Pangeran Slytherin duduk di sebelah Hermione yang selalu mencari tempat duduk di depan – biasanya Draco duduk di belakang.
Selain itu, Draco selalu saja mencuri-curi kesempatan untuk membisikkan ancaman-ancamannya kepada Hermione. Dan itu membuat Hermione merasa sangat-sangat tidak nyaman.
"Ya, memang karena Malfoy. Tapi itu tak seperti yang kau bayangkan." kata Hermione.
"Memang apa yang kubayangkan?" kata Ginny sambil mengangkat sebelah alisnya – yang entah mengapa mengingatkan Hermione pada Malfoy.
"Kau pasti membayangkan ada sesuatu antara aku dan Malfoy. Dan jawabannya adalah tidak, oke." kata Hermione malas.
"Oh, ayolah Mione. Setelah kau putus dengan kakakku, kau harus punya cowok baru kan." kata Ginny dengan suara merayu.
"Memang, tapi bukan Malfoy. Dan jangan bahas dia lagi Ginny, kau tidak tahu bagaimana rasanya berhadapan dengannya setiap hari. Berhadapan dengan Troll yang mengamuk mungkin akan lebih menyenangkan." kata Hermione mulai kesal.
"Baiklah Hermione, lebih baik kau tenangkan pikiranmu dulu." kata Ginny mengalah.
Sementara itu di Aula besar, Draco tidak melihat Hermione di meja Gryffindor. Ia menyeringai mengetahui hal itu. Ia tahu kalau Hermione sengaja menghindarinya.
"Awas saja kalau sampai ia tidak jera juga." gumam Draco.
"Mate, kau melihat apa sih?" tanya Blaise.
"Tidak ada." jawab Draco.
"Hei, kok Granger tidak ada. Apa yang kau lakukan padanya?" tanya Blaise dengan nada menggoda.
"Aku tidak melakukan apapun, Blaise." kata Draco, ia tak suka dengan nada bicara Blaise.
"Masa? Tidak mungkin ia tidak ada jika kau tidak melakukan apapun padanya. Dan lagi seharian ini kau duduk di sebelahnya saat pelajaran. Mencurigakan." kata Blaise dengan tatapan curiga.
"Huh, memang kau pikir aku melakukan apa padanya?" kata Draco balik bertanya.
"Well, mungkin 'menciumnya'" jawab Blaise nakal.
Draco menyemburkan jus labu kuningnya yang mengenai wajah seorang anak kelas tiga, tapi Draco tak peduli. "Kau gila ya! Aku tak melakukan itu." kata Draco.
"Tidak atau belum? Ekspresimu mencurigakan mate. Lagipula kau tidak keberatan melakukan hal itu bukan?" goda Blaise lagi.
"Ia mendorongku tadi." kata Draco datar.
"Aahhh..." kata Blaise sambil mengangguk-angguk paham.
-o0o-
Hermione masuk dengan langkah gontai ke Ruang Rekreasi ketua murid. Dan ia terkejut melihat Draco yang sedang duduk bersandar di atas sofa walaupun ia sudah menduga akan adanya pewaris Malfoy itu – well, mereka memang berbagi ruangan kan. Draco masih mengenakan seragamnya, tapi kemejanya sudah tak terkancing lagi, dan dasinya sudah terkulai di sampingnya.
Draco menatap Hermione seperti ular yang sedang melihat mangsanya. "Bagaimana harimu, Granger?" tanya Draco. Sebenarnya, tanpa harus bertanyapun Draco sudah tahu kalau hari ini Hermione mengalami hari yang menyebalkan, karena tentu saja, Draco sendirilah penyebabnya.
Hermione membuang muka mendengar pertanyaan Draco. Dan saat Hermione berbalik hendak marah pada Draco, ia melihat Draco bangkit dari sofa yang didudukinya. Seketika itu juga, Hermione merasa wajahnya memerah. Ia teringat kejadian di depan kelas Aritmanchy.
Melihat perubahan wajah Hermione yang memerah saat melihat dirinya bangkit dari sofa, Draco dengan sengaja berjalan mendekati Hermione. "Ada apa, Granger?" tanyanya.
Hermione terlihat panik, "Ti..tidak ada, Malfoy."jawab Hermione gugup.
"Tapi, wajahmu..." kata Draco saat tiba di depan Hermione. "emm... memerah" lanjut Draco dengan suara berbisik tepat di telinga Hermione.
Hermione gelagapan dan secara refleks ia mundur dan berkata, "Bukan urusanmu!" dengan nada membentak sebelum ia berlari masuk ke kamarnya.
Draco tersenyum melihat pintu kamar Hermione yang terbanting menutup. "Sepertinya kau takut sekali Granger? Aku akan benar-benar menciummu kalau kau menyulitkanku" kata Draco sambil menyeringai.
Di kamar Hermione, Hermione menyandarkan tubuhnya di pintu. Kemudian ia berjalan ke arah meja rias lalu duduk. Ia memandang cermin yang memantulkan wajahnya yang masih merona. "Apa sih yang dipikirkan si Ferret kurang ajar itu? Dan lagi itu hanya masalah sepele. Aku hanya tidak membangunkannya tadi pagi, memangnya dia tidak bisa bangun sendiri!" marah Hermione kepada pantulan wajahnya sendiri di cermin.
Hermione menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya dan mulai menjerit frustasi. "Kenapa harus dia? Kenapa dia yang jadi ketua murid laki-laki?"
Hermione bangun, kemudian menghempaskan tubuhnya ke kasur. Ia menatap langit-langit kamar. Dan tiba-tiba bayangan kejadian tadi pagi saat ia berada di depan kelas Aritmanchy muncul. Tapi ia membayangkan dirinya yang tidak mendorong Draco. Wajah Hermione memerah lagi, dan ia menampar pipinya sendiri dengan keras. "Awww.." jerit Hermione.
"Duh, aku bisa gila kalau begini terus." keluh Hermione lagi.
-o0o-
Bulan sudah memasuki bulan Februari, dan suasana di Hogwarts mulai sedikit ramai karena suatu hal. Apalagi kalau bukan karena hari Valentine. Beberapa anak perempuan sibuk memikirkan tentang coklat yang akan di berikan pada pacarnya dan tentang bagaimana mendapatkan pacar bagi yang masih menjomblo. Belum lagi, Hogwarts akan mengadakan acara pesta dansa untuk Valentine kali ini. Sudah pasti akan ada banyak sekali Ramuan Cinta yang beredar secara ilegal mengingat betapa antusiasnya para murid dalam menyambut Valentine. Dan tugas ketua muridlah untuk mengatasi hal itu.
"Haaah... Valentine. Kita pasti akan sibuk sekali nanti." kata Hermione. Ia sedang duduk di sofa Ruang Rekreasi ketua murid sambil menikmati cemilan. Draco Malfoy sedang duduk di sebelahnya. Siang itu mereka sedang tidak ada jam pelajaran, dan mereka memutuskan untuk beristirahat di ruangan ketua murid.
"Yah, pasti akan ada banyak sekali gadis-gadis yang akan membuatku kerepotan." jawab Draco santai.
Hermione menatap Draco dengan pandangan mencela. "Bukan itu maksudku Malfoy. Pasti akan ada banyak sekali Ramuan cinta yang beredar." kata Hermione lagi.
"Dan aku juga harus berhati-hati pada setiap coklat yang akan kuterima" kata Draco.
"Percaya diri sekali kau?" kata Hermione dengan nada menyindir.
"Tentu saja, mengingat betapa populernya diriku." jawab Draco sembil memamerkan seringai kebangsaannya. "Tapi kurasa kau harus berhati-hati juga Granger. Kudengar McLaggen juga sedang berusaha memberimu Ramuan Cinta." kata Draco lagi, dan kali ini wajahnya memperlihatkan wajah yang serius.
Hermione segera teringat kepada Cormac McLaggen yang seasrama dengannya. Cowok itu memang sudah mengejarnya sejak mereka masih di kelas enam. Cowok sombong itu penasaran pada Hermione karena pernah meninggalkannya di Pesta Slughorn waktu itu.
"Well terima kasih atas perhatianmu. Aku akan berhati-hati." kata Hermione.
Draco mengangkat bahu."Jangan salah sangka, aku hanya tidak mau menanggung malu melihat patnerku bertindak tidak karuan karena pengaruh ramuan." kata Draco cuek.
"Oh terserah kau saja." kata Hermione malas.
Draco mengangkat sebelah alisnya. "Kau tidak membuat coklat, Granger?" tanya Draco.
"Aku membuatnya kok. Untuk Harry, Ron, Ginny, Neville, dan Luna." terang Hermione.
"Ron? Si Weasley? Kau membuatkan coklat untuknya?" tanya Draco heran.
"Ia, memang kenapa sih? Dia kan sahabatku." jawab Hermione enteng.
"Tapi dia kan mantanmu." jelas Draco.
"Oh ayolah, dia sahabatku sekarang – dulu juga begitu." kata Hermione berusaha tenang.
"Terserah, bagaimana denganku?" tanya Draco.
"Hah? Apanya?" tanya Hermione bingung.
"Kau tidak memberikan coklat untukku?" tanya Draco lagi.
"Untuk apa, kan katanya kau pasti dapat banyak coklat dari gadis-gadis di luar sana." jawab Hermione.
Draco tersenyum mengejek. "Yah, memang sih. Tapi apa kau tidak mau memberiku coklat terima kasih karena sudah menjagamu?" tanya Draco yang membuat Hermione memutar bola matanya.
"Terserah kau sih. Tapi ingat pada taruhan kita. Itu masih berlaku, Granger." kata Draco sambil berdiri kemudian pergi meninggalkan ruangan ketua murid.
Hermione tidak jadi memasukkan kue kering yang ia pegang ke dalam mulutnya, tangannya terhenti di udara saat mendengar kalimat terakhir Draco. Beberapa hari ini Hermione sudah tidak memikirkan hal itu, karena Draco sudah tidak pernah membahasnya lagi. Tapi tiba-tiba Draco berkata seperti itu, dan mau tidak mau Hermione kepikiran akan hal itu. Tapi Hermione mencoba untuk tidak mempedulikan hal itu. Ia melanjutkan kegiatannya menikmati cemilan yang ada di hadapannya.
Sore itu, tiba-tiba Profesor McGonaggal memanggil Hermione dan Draco. "Kalian harus bertugas saat kunjungan ke Hogsmeade minggu ini. Jadi kalian harus pergi berdua." kata McGonaggal.
"Apa? Kenapa harus?" jerit Hermione.
"Mengingat kita harus mengantisipasi atau lebih tepatnya memperkecil masuknya Ramuan Cinta yang mungkin akan dibeli di Hogsmeade nanti. Jadi kalian harus melakukannya, Miss Granger." jelas McGonaggal membuat Hermione terdiam pasrah.
"Baiklah, kuharap kalian mengerti. Dan tolong laksanakan tugas itu sebaik mungkin." kata McGonaggal lagi.
"Yes Profesor" kata Hermione dan Draco bersamaan.
Setelah McGonaggal pergi Hermione menatap Draco dengan tatapan lelah. "Oh... mimpi apa aku semalam?" kata Hermione frustasi.
"Hmm... sepertinya kau mimpi indah semalam." kata Draco pura-pura berpikir.
"Kau bercanda ya? Ini pasti hari tersialku." kata Hermione dengan nada mengejek. Draco memamerkan seringainya yang membuat Hermione muak dan segera pergi meninggalkannya.
Tapi ternyata si pangeran Slytherin malah mengikutinya ke asrama ketua murid. Hermione meliriknya dengan tatapan sebal, tapi Draco berjalan dengan santai dengan wajah penuh percaya diri yang membuat siapa saja yang melihatnya akan menoleh dua kali.
"Kau ikut pesta dansa nanti, Granger?" tanya Draco tiba-tiba.
"Hah? Apa katamu?" tanya Hermione menghentikan langkahnya.
Draco ikut berhenti dan menatap patnernya itu. "Oh, ayolah Granger. Memangnya kau tuli apa?" kata Draco sambil memutar matanya.
Hermione menghela nafas kemudian berkata, "Tidak, aku tidak berminat."
"Oh, begitu." kata Draco seolah paham. Dan saat Hermione berjalan lagi, Draco melanjutkan, "atau..."
"Atau apa?" Hermione berhenti lagi, kemudian menatap Draco gusar.
Draco mengangkat bahu,"Atau kau berharap si Weasley itu akan mengajakmu, Granger?" tanya Draco.
"Demi Merlin. Tidak, Malfoy! Aku tidak mengharapkan hal itu. Dan, ahhhh... aku tahu, kau pasti mau mengingatkanku tentang taruhan itu kan? Perlu kau tahu, aku tidak lupa! Dan aku juga tidak akan kalah. Ingat itu!" kata Hermione marah kemudian meninggalkan Draco yang hanya tersenyum.
-o0o-
Hari minggu yang tidak diinginkan Hermione pun tiba. Ia harus pergi ke Hogsmeade bersama oarang yang menurutnya paling menyebalkan di dunia. Draco Malfoy. Hermione sengaja menghindari Draco beberapa hari ini. Ia tidak pulang ke asrama ketua murid dan malah mengungsi di asrama Gryffindor. Tapi sekarang, ia berdiri di depan gerbang dan menunggu si-pirang-congkak-yang-menyebalkan itu.
"Merindukanku, Granger." tanya seseorang yang mengagetkan Hermione.
Hermione berbalik dan mendapati Draco Malfoy sedang berdiri menatapnya.
"You wish, Malfoy." kata Hermione malas.
"Sudah beberapa hari ini kau tidak kembali ke asrama sejak hari itu, Granger. Menghindariku ya?" tanya Draco lagi.
Hermione hanya menggumam tidak jelas seperti "Itu kau sudah tahu." kemudian mendengus jengkel. Draco hanya tersenyum melihat kelakuan Hermione.
Mereka kemudian berpatroli mengawasi murid-murid yang sedang berbelanja. Mereka sangat sibuk memperhatikan ke toko mana para siswi itu pergi – terutama yang ke toko lelucon Zonko.
"Granger, aku pergi dulu sebentar. Kau bisa patroli sendiri kan?" tanya Draco tiba-tiba membuat hermione melempar pandang mencela kepadanya. "Benar-benar hanya sebentar." kata Draco lagi.
"Terserah." sahut Hermione singkat. Draco pun pergi meninggalkannya sendirian.
Setelah Draco pergi, Hermione melanjutkan lagi mengawasi murid-murid Hogwarts yang lain. Kemudian, tiba-tiba ada sesseorang yangmenepuk punggungnya.
"Hai Hermione!" sapa Ginny. Di belakang Ginny ada seseorang yang sangat familiar bagi Hermione dan sedang tersenyum kepadanya.
"Hai Mione, kau patroli sendirian?" tanya Harry. Ia terlihat membawa beberapa belanjaan, yang diyakini Hermione sebagai belanjaan milik Ginny.
"Ya, seperti yang kau lihat, Harry. " jawab Hermione.
"Kemana Malfoy?" tanya Harry lagi, ia menengok ke kanan dan ke kiri mencari si pirang.
"Oh, dia bilang dia mau pergi sebentar." kata Hermione sambil tersenyum. "Kalian juga hanya berdua? Mana Ron?" lanjutnya.
Ginny dan Harry terdiam mendengar perkataan Hermione dan kemudian saling pandang. "Ron tidak ikut Mione, dia pergi bersama err... Lavender." kata Ginny takut-takut dan Harry hanya tersenyum merasa bersalah.
"Oh." jawab Hermione singkat. Tapi ia merasa hatinya seperti dihantam sesuatu yang keras.
"Hai Malfoy! Darimana saja kau?" kata Harry tiba-tiba sambil memandang ke arah belakang Hermione. Dan benar saja, Draco sudah kembali sambil membawa beberapa belanjaan.
"Hanya sedikit berbelanja, Potter." jawab Draco singkat.
"Tega sekali kau meninggalkan Mione sendirian." kata Harry.
"Aku hanya sebentar kok." sahut Draco lagi tapi dengan tatapan minta maaf.
"Oh sudahlah, kami pergi dulu ya. Kalian lanjutkan patroli kalian. Selamat bersenang-senang." kata Ginny menarik lengan Harry sambil memandang Hermione dengan pandangan penuh arti.
Setelah Ginny dan Harry pergi, Draco dan Hermione melanjutkan patroli mereka. Dan kali ini mereka mulai menggeledah belanjaan para murid dan menemukan beberapa Ramuan Cinta, dan semakin siang, hasil geledahan mereka semakin banyak.
Akhirnya, Hermione dan Draco kembali ke Hogwarts. Tapi, mereka masih melanjutkan penggeledahan di depan pintu Hogwarts.
"Mereka itu tidak percaya pada diri mereka sendiri ya? Kenapa sih harus menggunakan ini semua?" tanya Hermione sambil menggeleng-gelangkan kepala melihat banyaknya Ramuan Cinta yang berhasil mereka sita.
"Yah, mungkin." jawab Draco tidak peduli sambil mengangkat bahu.
Hermione memalingkan wajahnya menatap Draco, kemudian matanya tertuju pada belanjaan Draco yang terbilang cukup banyak untuk ukuran cowok.
"Kau ingin jadi bintang pesta ya?" sindir Hermione dengan satu alis terangkat.
Draco menatap belanjaannya. "Tentu saja. Aku harus tampil mempesona." kata Draco dengan cengiran lebar yang membuat Hermione mendengus keras.
Dan saat Hermione mulai fokus ke arah barang-barang sitaannya. Draco menatap Hermione lekat-lekat. Hermione yang menyadari tatapan Draco menoleh pada Draco. "Apa?" tanyanya.
"Kau benar-benar tidak akan pergi ke pesta, Granger?" tanya Draco.
"Sudah kubilang kan." kata Hermione yang kemudian mengalihkan pandangan ke arah botol-botol Ramuan cinta – yang disamarkan menjadi botol obat batuk, dll. Suasana menjadi hening.
"Kenapa sih, kau menanyakan itu terus? Memangnya kau mau mengajakku?" tanya Hermione.
"Well, aku kasihan saja pada McLaggen. Dia pasti sangat mengharapkanmu." jawab Draco dengan tatapan penuh belas kasih.
Hermione mendengus."Terimakasih atas perhatianmu pada McLaggen. Dan kau sendiri akan ke pesta bersama siapa, Raja Pesta?" tanya Hermione setengah mengejek.
"Hmm... aku belum memutuskan. Soalnya banyak gadis yang mengajakku sih." kata Draco.
"Oh sudahlah... aku sudah malas mendengarmu membanggakan diri." kata Hermione malas. "Lebih baik kita bawa barang-barang ini ke McGonaggal sekarang." lanjutnya. Dan merekapun pergi ke kantor McGonaggal.
Setelah mereka memberikan barang-barang 'jarahan' mereka kepada McGonaggal, yang disambut dengan tatapan puas sang Kepala Sekolah. Mereka kembali ke Asrama ketua murid. Dan saat di perjalanan menuju asrama, mereka berdua melihat sebuah pemandangan yang membuat mereka berdua shock. Ron Weasley dan Lavender Brown sedang berduaan di lorong yang agak sepi. Dan bukan hanya itu saja, mereka berdua berciuman.
Langkah Hermione terhenti melihat pemandangan di depannya, dan Draco, ia tampak melihat Hermione dengan tatapan khawatir. Tiba-tiba Hermione berlari pergi meninggalkan semuanya, dan secara refleks, Draco mengejarnya.
Hermione berlari ke arah bangku taman, dan Draco melihatnya duduk di bangku itu. Menangis. Secara perlahan, Draco berjalan mendekati Hermione. Dapat dilihatnya bahu gadis itu bergetar. Ia kemudian duduk di sebelah Hermione, tangannya dengan canggung membelai punggung Hermione, berusaha menenangkannya.
"A-aku tidak tahu kalau seperti ini..." kata Hermione sesegukan. "Aku pikir aku su-sudah bisa melupakannya." lanjutnya. "Ta-tapi saat melihatnya tadi, di sini rasanya sakit sekali." kata Hermione sambil memukul-mukul dadanya. "Aku memang bodoh!. aku memang bod..." kalimat Hermione terhenti karena jari Draco menempel di bibirnya, menyuruhnya diam.
Kemudian Draco merangkul pundak Hermione dan kemudian menarik gadis itu ke dalam pelukannya, membiarkannya menangis. Hermione menangis tersedu-sedu di pelukan Draco. Menumpahkan segala perasaan sedihnya di pundak pemuda Slytherin itu.
Sampai saat si Ketua Murid perempuan merasa lebih tenang, ia mengangkat kepalanya dan menatap patnernya, kemudian berkata, "Kau mau apa Malfoy?"
"Hah? Apa?" tanya Draco bingung.
"Kau menang, aku kalah. Taruhan itu... kau ingat?" jelas Hermione.
"Oh, itu. Hanya sesuatu yang simpel, Granger." jawab Draco, matanya tampak menerawang.
"Apa?" tanya Hermione lagi.
"Pergi dan jadi pasanganku di pesta dansa nanti, Granger."
-o0o-
Notes: Wah.. selesai juga chapter duanya. Yang ini lebih panjang dari chapter 1nya loh... hehehe. Oia, seneng banget deh liat reviewnya... makasih banget semuaaaa... jadi makin semangat. Tapi buat chapter 3 kayanya bakal ditunda updatenya, mau ujian praktek soalnya. Jadi mau fokus dulu. Gomenasai. Oia jangan lupa diklik review-nya yah. :))
