Rated: T

Disclaimer: Karakter dan situasi seluruhnya milik Bunda Jo tercinta

Pairing: DraMione

Notes: Ini dia chapter tentang pesta dansa untuk pairing Draco-Hermione yang kalian tunggu-tunggu *kepedean. Happy read and preview :))

Warning: OOC, GaJe, Typo, dll

My Enemy, My Rival, and My Love

"Pergi dan jadi pasanganku di pesta dansa nanti, Granger." kata Draco lirih.

Hermione terbelalak tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar dari mulut si Slytherin. Ia melepaskan diri dari pelukan Draco dan mengerjap-mengerjapkan matanya berkali-kali untuk menyerap kata-kata Draco barusan.

"Jawab aku Granger, jangan malah pasang wajah bodoh begitu." kata Draco, membuat Hermione segera pulih dari keterkejutannya. Sebagai gantinya, ia memegang kening si Ketua Murid laki-laki, membandingkan suhunya dengan suhu di keningnya sendiri.

"Tidak demam." kata Hermione beberapa saat kemudian.

Draco memutar matanya dan berkata, "Memang tidak, dasar gadis bodoh." Kemudian ia menatap Hermione lekat-lekat. "Kau mau tidak?" tanyanya.

"Well, atas alasan apa aku harus mau, Malfoy?" kata Hermione sinis. Tersinggung dengan perkataan Draco yang menyebut dirinya bodoh.

"Satu, kau kalah Granger. Seperti yang kau bilang barusan. Dan ini sebagai hadiah kemenanganku." kata Draco mengangkat bahu. "Dan yang kedua, kau tidak mau kan kalau si Weasley itu mengira kau tidak datang karena menangisinya dengan si Brown itu?" lanjutnya. Kali ini dengan nada mengejek dan seringai sinisnya.

"Kenapa harus itu sih yang kau minta?" kata Hermione malas.

"Karena hanya itu yang bisa kau berikan sebagai hadiah untukku… mungkin." kata Draco pura-pura berpikir. "Dan itu yang aku inginkan." desisnya dengan senyum nakal.

Hermione hanya melipat tangan dan cemberut mendengar perkataan Draco barusan. Ia berpaling dan menatap langit sore dengan semburat kemerahan yang mulai menghiasinya. Kemudian ia menghela napas panjang dan menyandarkan punggungnya ke bangku taman.

Draco menatapnya lembut, "Kau masih sedih?" tanyanya.

"Entahlah... aku masih merasakan rasa sesak yang menyakitkan." Kata Hermione sambil tersenyum pahit.

Dan Draco kembali menarik gadis Gryffindor itu ke dalam pelukannya. "Biarkan saja, nanti perlahan-lahan semuanya akan membaik." hibur Draco secara mengejutkan, ia sendiri bingung bisa mengucapkan kata-kata penghiburan semacam itu.

Hermione diam saja di dalam pelukkan Draco, tidak menjawab maupun berusaha melepaskan diri. "Kau masih marah padaku Granger?" tanya Draco, dan dijawab dengan gelengan oleh Hermione. Draco tersenyum. "Kau mau menerima tawaranku?" tanya Draco lagi.

Kali ini Hermione mengangguk. "Itu suatu keharusan untukku kan?" gumam Hermione pelan.

-o0o-

"Malfooooyyy... banguuuuuunnn..." teriak Hermione sambil menggedor pintu kamar Draco. Tak ada jawaban. Hermione mencoba membuka pintunya, ternyata tidak dikunci. Hermione masuk ke kamar Draco dan mendapati sang Pangeran Slytherin masih terbaring di atas ranjangnya dan hanya memakai celana tidurnya – seperti kebiasaanya, dan selimutnya berada sebatas mata kakinya.

Hermione duduk di tepi tempat tidur si Ketua Murid laki-laki dan mulai mengguncang-guncangkan tubuh pemuda itu. "Draco Malfoy, bangun... Hei, ayo bangun!" kata Hermione masih sambil menguncang-guncangkan tubuh Draco. Tapi Draco masih tidak bergeming.

"Malfoy! Kau susah sekali sih dibangunkan!" kata Hermione mulai tak sabar. Draco mulai membuka matanya, dan Hermione tersenyum melihatnya. Draco duduk sambil merenggangkan tangannya, tiba-tiba ia merangkul Hermione kedalam pelukannya. Hermione terkesiap.

"Apa yang kau lakukan Malfoy?" bentak Hermione sambil melepaskan diri dan bangkit dari tempat tidur patnernya itu.

Draco hanya menatapnya sebentar lalu menguap dan mengaruk belakang kepalanya. Hermione memperhatikannya namun tetap waspada, Draco yang hanya memakai celana tidurnya, dengan rambut berantakan dan mata masih agak bengkak dan setengah terpejam – pengaruh dari bangun tidur. Tampak sangat lucu, bahkan tampak mempesona dan errr... seksi.

"Apa yang kau lihat?" tanya Draco ketus.

"Tidak ada. Sebaiknya kau segera bangun. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk kita. Kita tidak akan sarapan di Aula, mengingat kita sudah sangat telat karena kau susah dibangunkan." jawab Hemione cepat dan berusaha mengalihkan pembicaraan. Berharap Draco tidak menyadari bahwa dari tadi ia sedang memandangi pemuda Slytherin itu.

Hermione baru akan berbalik pergi ketika Draco menarik tangannya. Memaksa wajahnya sejajar dengan wajah Draco sendiri. Abu-abu bertemu coklat. Mata kelabu itu menatapnya tajam. "Kau pikir aku tidak tahu kalau kau dari tadi memandangiku." kata Draco dengan suara nyaris berbisik. "Kenapa? Apa aku mempesona ketika bangun tidur? Apa aku terlihat seksi? Atau... apa aku 'menggairahkan' pada saat seperti ini?"kata Draco lagi, kali ini ada kilatan menggoda pada matanya.

Hermione mundur beberapa langkah. Namun Draco bangkit dari tempat tidurnya dan bergerak maju mendekati Hermione. Draco mencondongkan wajahnya untuk melihat Hermione lebih dekat. Gadis itu gelagapan dan wajahnya mulai memerah. Bibir Draco bergerak kearah telinga Hermione, membuat gadis itu berdebar setengah mati, sebelum berkata. "Ayo kita sarapan."

Draco segera berbalik dan berjalan ke arah Ruang Rekreasi ketua murid, meninggalkan gadis yang masih terbengong-bengong itu sambil tersenyum jahil.

"Oh ia, Malfoy" kata Hermione saat mereka sedang sarapan di Ruang Rekreasi ketua murid. Draco menatapnya, menunggu kelanjutan apa yang ingin disampaikan oleh Ketua Murid perempuan. "Aku lupa memberitahumu, aku belum punya gaun untuk pesta nanti."

Draco memutar matanya. "Sudah seminggu berlalu setelah aku mengajakmu kan Granger? Dan kau baru membicarakan itu sekarang." sindir Draco.

"Aku lupa. Benar-benar lupa. Dan aku tidak sempat untuk membelinya kalaupun aku ingat." kata Hermione lagi.

"Kau tidak perlu membelinya." kata Draco.

"Maksudmu?" tanya Hermione bingung.

Draco bangkit dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamarnya. Tak lama kemudia ia kembali dengan membawa tas belanjaan. Ia kemudia melempar tas itu kepada Hermione. "Itu gaunmu." kata Draco menjawab tatapan bingung dari Hermione.

"Ap... Maksudku, kapan kau membelinya?" tanya Hermione, masih dengan tatapan bingung.

"Saat ke Hogsmeade." jawab Draco singkat.

Hermione mengerutkan keningnya, kemudian menatap Draco kesal. "Jadi kau sudah menyiapkannya? Kau be-"

"Sudah kubilang kan? Aku akan menang." Jawabnya sambil mengangkat bahu. Si Putri Gryffindor tercengang melihatnya. "Aku sudah selesai sarapan, sekarang aku mau bersiap-siap untuk kelas pertama hari ini." katanya lagi sambil berbalik menuju kamarnya.

-o0o-

"Pagi Mione, kau terlambat sekali pagi ini, sampai tidak ikut sarapan di Aula." kata Ginny melihat Hermione baru datang di kelas Ramuan pagi itu.

"Ya... si pangeran tidur itu sulit sekali dibangunkan." gerutu Hermione sambil melirik Draco yang sedang bersama-sama anak Slytherin yang lainnya dengan tatapan sebal.

"Malfoy?" tanya Ginny.

"Siapa lagi memangnya?" Hermione balik bertanya dengan ketus. Ginny hanya terkikik melihat Hermione yang cemberut. "Kenapa kau tertawa?" tanya Hermione semakin sebal.

Namun, sebelum Ginny dapat menjawab pertanyaan Hermione, Slughorn sudah memasuki kelas.

"Selamat pagi anak-anak, pagi yang cerah bukan?" kata Slughorn berbasa-basi. "Dan untuk menyambut pagi yang indah ini, kita akan membuat Ramuan Lekat." kata Slughorn lagi yang disambut dengan pandangan tertarik dari para siswa. "Ramuan ini sejenis dengan Ramuan Cinta. Hanya saja, efeknya mempunyai sedikit perbedaan. Jika Ramuan Cinta berpengaruh pada akal sehat, Ramuan Lekat lebih secara fisik." lanjut Slughorn.

Beberapa murid mulai berkasak-kusuk mengenai ramuan ini. "Ada yang bisa menjelaskan lebih rinci tentang ramuan ini?" tanya Slughorn. Dan seperti yang sudah diduga olehnya – bahkan mungkin seisi kelas – teracung tangan mungil milik Hermione Granger, si Ketua Murid perempuan.

"Yes, Miss Granger." kata Slughorn mempersilahkan.

"Ramuan ini memang sedikit mirip dengan Ramuan Cinta. Tetapi, ramuan ini tidak membuat pemakainya menjadi tergila-gila tak terkendali kepada si pemberi sebagaimana efek Ramuan Cinta. Ramuan ini hanya mebuat si pemakai menjadi – kalau tidak bisa dikendalikan – tak bisa jauh dari orang pertama yang ia lihat setelah memakai ramuan tersebut. Tubuhnya akan bergerak mendekati orang tersebut tanpa disadari, tapi selama si pemakai dapat mengendalikan diri, efeknya cukup bisa diatasi. Penggunaannya bisa dengan diminum atau cukup dioles ke tubuh, efeknya tetap sama kuat." jawab Hermione dalam satu tarikan napas dan membuat seisi kelas terbengong-bengong.

"Sepuluh angka untuk Gryffindor." teriak Slughorn senang yang disambut tepuk tangan meriah dari murid Gryffindor. "Dan sekarang adalah saatnya untuk kalian membuatnya, kerjakan dengan teliti, karena pengerjaannya cukup rumit. Waktu kalian satu jam." lanjut Slughorn, dan seluruh siswa langsung bergerak mengambil bahan dan peralatan untuk segera mengerjakan ramuan tersebut.

Saat pengerjaan, seperti yang biasa terjadi, beberapa murid mulai melancarkan aksi intip mengintip kuali orang yang ada di sebelahnya. Tampak Harry yang tengah kerepotan dengan ramuannya, ia cukup frustasi karena cara pembuatan ramuan tersebut tidak ada di buku ramuan 'Pangeran Berdarah Campuran-nya'. Jadi ia hanya bisa mengandalkan intruksi dari buku resminya saja – yang menurutnya tidak akurat.

Sedangkan Hermione, ia tidak menemukan kesulitan sama sekali dalam pembuatan ramuan tersebut. Dan saat ini, ia tengah menyelesaikan proses akhirnya. Dilihatnya warna ramuan tersebut sudah sewarna kelopak bunga matahari, tinggal selangkah lagi untuk membuat ramuan itu berwarna keemasan. Si Ketua Murid perempuan memasukkan beberapa batang kayu manis dan hasil yang diinginkannya terlihat.

"Waktu habis." kata Slughorn akhirnya. Ia kemudian berkeliling melihat hasil yang dibuat oleh para siswa, dan ketika sampai di meja Hermione, wajahnya menjadi sangat cerah. "Oh, Miss Granger. Sudah pasti ramuan ini telah mencapai tingkat sempurna dan layak di pakai. Dilihat dari warnanya, oh... Kau memang luar biasa Miss Granger." katanya dengan wajah terkagum-kagum. "Dua puluh poin lagi untuk Gryffindor." katanya lagi.

Hermione tersenyum senang sebelum akhirnya guru ramuannya berbicara lagi, "Dan untukmu Miss, kau berhak mendapatkan satu botol penuh ramuan hasil pekerjaanmu ini." Membuat beberapa murid perempuan menatap iri kepada Hermione.

"Terima kasih, Sir." kata Hermione sopan. Tetapi wajahnya tidak dapat menyembunyikan perasaannya yang sedang senang.

Bel berdering dan para siswa beranjak pergi meninggalkan kelas Ramuan. Saat meninggalkan kelas, Hermione melihat Draco sedang menyeringai kepadanya. Membuat Hermione segera memalingkan wajah dan menarik Ginny pergi.

-o0o-

"Hermione, lihat PR Astronomi dong." pinta Harry sambil nyengir memelas kepada Hermione. Saat ini, Hermione tengah menghabiskan sore di Ruang Rekreasi asrama Gryffindor.

"Aku juga dong. Sulit sekali nih." tambah Ron dengan tatapan yang tak kalah memelas.

"Ugh... kalian ini memang kebiasaan." kata Hermione sebal, tapi ia tetap memperlihatkan hasil pekerjaannya kepada Harry dan Ron.

"Demi celana dalam Merlin, kapan sih kalian bisa berhenti mengandalkan Hermione?" bela Ginny.

"Ya ampun Gin, ini memang sulit sekali..." jawab Ron masih dengan tatapan memelas yang di sambut dengan dengusan Ginny. Sedangkan Harry, ia memilih menyalin tugas Hermione dengan tenang dan tanpa komentar. Menghindari omelan.

Di sela-sela 'mengerjakan tugasnya', Harry menoleh ke Hermione dan bertanya, "Kau sudah dapat pasangan untuk pesta nanti, Mione?"

Hermione menatap si Anak-Yang-Bertahan-Hidup dengan sedikit malu-malu. "Sudah" jawabnya singkat.

"Siapa?" tanya Ginny tertarik.

Hermione menghela napas dan mengalihkan pandangannya, wajahnya sedikit merona. "Malfoy." jawabnya lagi, dan kali ini suaranya hanya terdengar seperti bisikan tapi cukup jelas untuk di dengar teman-temannya.

"Apa?" kali ini Ron yang bersuara, dan dari suaranya tampak bahwa ia tidak setuju akan hal ini. "Kau bilang siapa tadi?" tanyanya untuk memperjelas.

"Draco Malfoy." desis Hermione, kali ini ia menatap Ron dengan tatapan tajam.

"Kau gila ya, Mione! Memangnya tidak ada cowok lain? Kenapa harus dia sih!" kata Ron mulai memprotes.

"Semuanya kan gara-gara kau, Ronald Weasley" rutuk Hermione dalam hati. "Memangnya seharusnya aku berpasangan dengan siapa Mr. Weasley? Si McLaggen itu?" tanya Hermione dengan nada kesal.

"Well, a-aku tidak bilang McLaggen. Tapi bukan si Ferret itu juga, Mione." jawab Ron gugup.

"Oh... jadi aku harusnya tidak datang dengan siapapun, begitu? Sedangkan kalian enak-enakan dengan pasangan masing-masing, aku harus duduk di pinggir sendirian seperti kambing congek?" kata Hermione, ia sudah benar-benar kesal sekarang. Ia merasa sendirian, mengingat sahabat-sahabatnya sudah punya pasangan masing-masing, ia merasa ditinggal oleh mereka.

"Bu-bukan begitu maksud..." kalimat Ron terpotong karena dilihatnya Hermione sudah memanjat lubang lukisan Nyonya Gemuk, meninggalkan ruang rekreasi Gryffindor menuju asrama Ketua Murid.

Dan di asrama Ketua Murid, Draco dibuat bingung dengan Hermione yang datang dengan wajah kesal dan langsung masuk ke kamarnya yang diiringi bantingan pintu.

Paginya, kekesalan Hermione belum juga mereda. Ia bergegas pergi setelah membangunkan Draco. Di sepanjang jalan menuju Aula, Hermione diganggu oleh beberapa murid perempuan yang berusaha merayunya agar memberikan Ramuan Lekat miliknya untuk menggaet cowok yang diinginkan menjadi pasangan di pesta Valentine nanti, yang tentu saja ditolak mentah-mentah oleh Hermione ditambah semprotan kekesalannya.

Sementara itu di tempat lain, Harry dan Ron sedang mencari Hermione untuk – sebenarnya hanya Ron saja – meminta maaf setelah diceramahi yang di lengkapi oleh omelan dari Ginny, tentang Hermione yang kesepian karena kedua sahabatnya itu mulai sibuk dengan urusannya sendiri dan tentang tidak ada salahnya kalau Hermione datang dengan Draco Malfoy.

Draco baru saja keluar dari asrama Ketua Murid, saat dilihatnya Harry dan Ron berdiri di depan lukisan.

"Hai, Malfoy." sapa Harry canggung. "Kau lihat Hermione tidak?" tanyanya.

Draco mengangkat sebelah alisnya begitu mendengar pertanyaan Harry. "Bukankah kalian 'sahabatnya'? Kenapa tanya padaku?" tanya Draco dengan nada menyindir.

"Well, kan kau yang seasrama dengannya sekarang, dan lagi ia sedang marah pada kami. Dan kami di sini untuk err... minta maaf." jawab Harry gugup.

"Sudah kuduga." kata Draco, membuat Ron sedikit kesal. "Semalam ia datang dengan wajah kesal dan langsung mengurung diri di kamar. Dan oh... apa aku sudah bilang kalau dia membanting pintu." lanjut Draco, dan kali ini ia menatap Ron, membuat pemuda berambut merah itu bertambah kesal.

"Makanya kami ke sini untuk minta maaf." kata Harry lagi untuk mencairkan suasana.

"Apa yang kalian perbuat sampai dia marah?" tanya Draco.

"Aku tidak menyetujuinya pergi ke pesta denganmu." jawab Ron sambil memberi Draco Death Glare.

"Bukan urusanmu sebenarnya dia pergi dengan siapa,Weasley." celetuk Draco ketus.

"Urusanku kalau dia perginya denganmu." balas Ron.

"Hei, kalian berdua! Sudahlah!" kata Harry mulai tidak sabar. Kedua pemuda itu sekarang menatapnya dengan tatapan menantang. "Kami disini hanya untuk minta maaf pada Hermione, Malfoy, bukan untuk ribut denganmu." lanjutnya.

"Terserah kau." sahut Draco tak peduli.

"Baiklah, kami pergi Malfoy. Oh ia... aku bisa minta tolong?" tanya Harry, membuat Draco mengangkat sebelah alisnya – Harry Potter meminta tolong kepada Draco Malfoy? "Tolong jaga Hermione, untuk kami, untukku. Dia adalah – sudah seperti – saudara perempuan kami yang berharga." kata Harry dengan tatapan memohon.

"Well, baiklah. Tapi Potter, tolong kau juga lebih sering perhatikan dia." kata Draco akhirnya yang disambut dengan senyuman Harry.

-o0o-

Akhirnya, hari Valentine yang ditungu-tunggu pun tiba. Sejak sarapan, siswa Hogwarts sudah melancarkan aksi 'memberikan coklat' kepada incaran mereka. Hermione sedang menuju ke Asrama Gryffindor, ia hendak memberikan coklat kepada sahabat-sahabatnya dan hari ini pelajaran ditiadakan untuk persiapan pesta nanti malam.

Sesampainya di Asrama Gryffindor, Hermione mendapati sahabat-sahabatnya sedang berada di Ruang Rekreasi. Dilihatnya, Harry dan Ginny sedang duduk berdua di sofa, Neville sedang duduk di depan perapian, sedangkan Ron – Hermione menghela napas melihatnya – sedang duduk di atas karpet berdua dengan Lavender Brown.

"Hai guys." sapa Hermione kepada sahabat-sahabatnya itu. "Coba tebak, apa yang dibuat oleh Peri Cinta untuk kalian semua." kata Hermione sambil nyengir.

"Hmm... coba kutebak." kata Ginny pura-pura berpikir. "Pasti coklat." lanjutnya dengan cengiran senang.

"Hahaha... kau benar sekali, Gin." kata Hermione sambil tertawa. Dan secara otomatis sahabat-sahabatnya langsung mengerubunginya untuk mendapatkan coklat.

"Wah ini enak sekali, Mione." kata Ron yang langsung memakan coklatnya. Membuat Hermione tersenyum senang.

"Hermione, bisa aku bicara berdua denganmu sebentar." kata Lavender gugup. Hermione hanya mengangguk, dan mereka menuju pojok ruangan dimana tak akan ada yang akan mendengar mereka.

"Mione, aku ingin err... memberimu ini." kata Lavender sambil menyodorkan sekotak coklat. Hermione menatapnya bingung. "Ini sebagai ucapan terima kasih, karena err... membiarkan Ron kembali kepadaku." kata Lavender lagi.

"Oh Lav, kau tidak perlu melakukan ini. Lagipula, aku melakukannya karena menurutku kau gadis yang baik untuk Ron." kata Hermione akhirnya – dengan perasaan sedikit tidak enak hati kepada gadis di depannya.

"Ia... tapi itu pasti suatu hal yang berat untuk dilakukan." kata Lavender sambil menunduk.

"Yah, tapi itu bukan masalah, selama kalian bahagia." kata Hermione lagi. Kemudian Hermione merangkul Lavender kembali ke tempat kawan-kawan mereka berkumpul.

"Hei Lav, kau mau coba coklat ini? Enak loh." kata Ron menawarkan coklat dari Hermione kepada Lavender.

"Ya." kata Lavender sambil mengangguk senang.

"Mione, kau jadi pergi ke pesta dengan si 'Pangeran tampan'?" kata Ginny membuat Harry tersedak.

"Jadi." jawab Hermione singkat.

"Tampan? Apa maksudmu Ginny." kata Harry dengan nada mencela.

"Well, dia memang tampan kan?" kata Ginny dengan nada menggoda yang membuat Harry cemberut. "Oh ayolah Harry, kau lebih tampan darinya." kata Ginny geli melihat pacarnya itu ngambek.

"Siapa sih maksud kalian?" tanya Lavender bingung.

"Itu loh, Lav. Hermione akan pergi ke pesta nati malam dengan Draco Malfoy, si Pangeran Slytherin." kata Ginny sambil melirik Hermione jahil.

"Hah? Benarkah? Aku sungguh tidak menyangka, Mione." kata Lavender lagi, kali ini pacar Ron itu ikut tersenyum jahil seperti Ginny.

"Oh sudahlah, itu bukan sesuatu yang membanggakan juga. Malah akan lebih baik kalau bukan dengan dia." celetuk Ron dengan nada menghina yang disambut dengan pelototan Ginny dan Lavender yang membuatnya langsung diam.

"Yasudah, aku mau kembali ke asrama untuk beristirahat. Bye semua" kata Hermione yang sedari tadi diam saja.

Di depan lukisn Nyonya Gemuk, Hermione bertemu dengan McLaggen. "Hai Mione, aku dari tadi mencarimu. Ternyata kau di sini." kata McLaggen.

"Ada apa memangnya kau mencariku?" tanya Hermione.

"Aku hanya ingin memberimu ini." kata McLaggen lagi sambil menyodorkan bungkusan – yang diduga – berisi coklat. Ia kemudian melihat coklat yang ada di tangan Hermione. "Err... dari siapa coklat itu?" tanya McLaggen curiga.

"Dari Lavender, terima kasih Mac." kata Hermione sopan.

Dan saat Hermione berjalan pergi. "Uh-oh Hermione." panggilnya membuat Hermione menoleh. "Kau mau pergi ke pesta bersamaku nanti malam?" tanya McLaggen lagi.

Hermione mengangkat alisnya, "Maaf Mac, tapi aku sudah punya pasangan untuk nanti malam." kata Hermione lagi, kemudian pergi meninggalkan McLaggen sendirian.

Sesampainya di Asrama Ketua Murid, Hermione tidak mendapati keberadaan Draco. Ia kemudian berjalan ke kamarnya untuk beristirahat. Ia menaruh coklat pemberian McLaggen dan Lavender ke atas meja riasnya. Kemudian ia melihat gaun pemberian Draco digantung di depan lemari pakaiannya. Setelah itu ia langsung menghempaskan tubuhnya ke atas kasur dan tertidur.

Hermione terbangun saat mendengar seseorang mengetuk pintu kamarnya. Orang itu berteriak-teriak di depan pintu menyuruhnya bangun. Begitu membuka pintu, tampak Draco Malfoy yang sudah brepakaian rapi dan mengenakan jubah pestanya.

"Ya ampun, kau ini. Bukannya siap-siap, malah tidur." omel Draco.

"Duh, kau cerewet sekali, Malfoy." kata Hermione. Kemudian matanya menangkap tumpukkan coklat di meja. "Kau panen rupanya." lanjut Hermione.

"Ya begitulah. Tapi aku tidak mau memakannya. Setelah kuperiksa, semua coklat itu positif mengandung Ramuan Cinta." kata Draco sambil menggeleng gelengkan kepala.

"Hmm... begitu. Bisa kau periksa coklat itu juga?" tanya Hermione sambil menunjuk coklat dari McLaggen yang berada di atas meja riasnya.

"Yang mana? Dua-duanya?" tanya Draco karena di tempat yang ditunjuk Hermione ada dua coklat.

"Tidak, yang ini saja. Ini dari McLaggen." kata Hermione mengambil coklat dari McLaggen dan menyodorkannya kepada Draco.

"Kalau yang itu?" tanya Draco sembil melirik coklat yang satu lagi.

"Itu dari Lavender." jawab Hermione singkat.

"Oh, pacar si Weasley itu mau menyogokmu ya?" kata Draco dengan nada menyindir.

"Kau tidak boleh begitu, Malfoy. Dia gadis yang baik." kata Hermione membela Lavender dan Draco hanya mengangkat bahu.

Saat Hermione sedang bersiap-siap untuk mandi, terdengar suara Draco, "Ya ampun Granger, si McLaggen itu gila ya?" tanyanya.

"Kenapa sih memangnya?" tanya Hermione penasaran.

"Dia ingin meracunimu atau apa? Coklat ini mengandung Ramuan Cinta yang dosisnya cukup untuk seluruh siswa Hogwarts." kata si Ketua Murid laki-laki dengan tatapan horor.

"Apa? Dia mau membuatku jatuh cinta atau membunuhku?" kata Hermione kaget dan dengan tatapan horor yang sama.

"Yasudahlah Granger, itu kau urus nanti. Sekarang kau siap-siap, aku berangkat duluan. Oke?" kata Draco sambil berjalan menuju pintu keluar.

"Key..." gumam Hermione pelan.

-o0o-

Hermione baru saja selesai bersiap-siap, dan sekarang ia sedang menatap pantulan dirinya di cermin. Gaun pemberian Draco terlihat sangat pas dan melekat dengan indah di tubuhnya. Gaun itu berwarna hijau kecoklatan, tanpa lengan, tanpa hiasan apapun – entah berlian atau manik-manik – yang menempel pada gaun itu, dengan rok pendek di depan, namun memanjang ke belakang. Dan pada saat berjalan, gaun itu akan melambai anggun. "Sangat indah" pikir Hermione.

Sebagai pelengkap gaun itu, Hermione memakai high heels dan kalung berwarna silver. Sedangkan rambutnya, ia gelung ke atas dan menyisakan sedikit rambut yang menjuntai dan membingkai wajahnya. Ia juga memakai mahkota daun untuk menghias rambutnya itu. Hermione merasa seperti peri Slytherin, mengingat perpaduan warna yang ia pakai.

Setelah selesai bersiap-siap, Ia bergegas menuju Aula Besar. Tetapi, saat di depan ruang Ketua Murid, ia melihat Ginny, Harry, Ron, Lavender, Neville, dan Luna sedang menunggunya.

"Wah Mione, kau cantik sekali." seru Ginny begitu melihat Hermione.

"Ia, kau sangat-sangat cantik malam ini." kata Lavender menambahkan.

Hermione hanya tersenyum senang mendengar semua pujian itu. Ia kemudian menatap Harry dan Ron. Harry tampak tersenyum kepadanya, dan Ron tampak melongo menatapnya.

"Kau bahkan lebih cantik dibanding saat kau menghadiri Yulle Ball, Mione." kata Harry, masih tersenyum kepadanya.

"Ya, hanya saja kau pergi dengan si Ferret itu. Akan merusak pemandangan pastinya." kata Ron sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.

"Mereka pasti akan tampak sangat serasi." kata Luna dengan suaranya yang seperti melamun dan disambut dengan dengusan Ron.

"Makasih Lun. Oia, ini coklat untukmu. Aku belum sempat memberikannya tadi."kata Hermione.

"Terimakasih Hermione, sebaiknya kita pergi sekarang. Kurasa sang pangeran sudah tidak sabar menunggu." kata Luna lagi.

Mereka semua-pun pergi ke Aula Besar bersama-sama. Di Aula Besar, Draco sedang menunggu Hermione sambil mengobrol dengan teman-teman Slytherinnya. Berkali-kali ia menoleh ke arah pintu untuk melihat siapa yang datang.

"Kau kenapa sih mate?" tanya Blaise Zabini.

"Aku sedang menunggu seseorang." sahut Draco singkat.

"Siapa sih, Draco? Sampai kau tegang begitu." tanya Pansy yang saat ini menjadi pasangan Blaise.

Draco hanya menarik napas dalam dan menjawab, "Hermione Granger."

"Hah? Apa? Kau berpasangan dengan si Tuan Putri?" tanya Blaise kaget.

"Memangnya dia mau?" sahut Pansy.

"Ya, tentu saja dia mau. Memangnya siapa yang berani menolak Draco Malfoy?" jawab Draco kesal dengan pertanyaan meragukan kedua sahabatnya itu. Dan pada saat Draco menoleh lagi ke arah pintu, ia melihat seseorang yang ditunggunya berada di depan pintu Aula.

"Mate, your princess is coming" kata Blaise.

Draco menatap Hermione dengan mata terbelalak dan tanpa sadar mulutnya terbuka. Menurutnya, gadis Gryffindor itu terlihat sangat cantik malam ini, dan gaun yang ia belikan, tampak sangat pas dikenakan oleh gadis itu. Seolah-olah hanya dibuat untuknya. Saat Draco menyadari bahwa Hermione sedang menatapnya, Draco menggelengkan kepala dan segera menutupnya, kemudian menghampiri pasangannya malam ini.

"Waw Granger. Tak kusangka, gaun itu terlihat cocok untukmu." kata Draco dengan wajah yang sedikit salah tingkah.

"Yah, tapi aku terlihat seperti peri Slytherin. Lihat saja warnanya." kata Hermione sambil memandangi gaunnya, membuat Draco terkekeh.

"Tapi kau terlihat sangat cantik." bisik Draco tepat di telinga Hermione, membuat pipi gadis itu merona. Dan tepat pada saat itu juga, suara musik mulai mengalun memenuhi ruangan. Terlihat beberapa pasangan mulai turun ke lantai dansa.

"Shall we?" tanya Draco mengulurkan tangan dengan tubuh membungkuk.

Hermione langsung menyambut tangan Draco, dan mereka-pun ikut turun ke lantai dansa dan mulai berdansa.

-o0o-

Notes: Gomen minna, baru bisa update... kemaren-kemaren sibuk banget ujian praktek produktif ampe begadang-begadang, jadi g punya waktu buat nulis deh... Maaf juga ga bisa double chapter updatenya, soalnya masih harus ngurusin ujian-ujian yang lainnya. Buat chapter selanjutnya, tentu aja tentang pestanya pasangan Dramione hehehe *udah punya rencana adegan bagus buat di tulis. Tungguin ya, dan jangan lupa klik R-E-V-I-E-W di bawah ini... ^_^