Rated: T
Disclaimer: Karakter dan situasi seluruhnya milik Bunda Jo tercinta
Pairing: DraMione
Notes: Akhirnya kelar juga chapter ini, ini lanjutan pesta dansanya Hermione dan Draco. Let's enjoy read it and don't forget to preview too ^^V
Warning: OOC, GaJe, Typo, dll
My Enemy, My Rival, and My Love
"Malfoy, aku mau minum." pinta Hermione dengan wajah yang sangat lelah.
"Tidak, aku masih mau berdansa." kata Draco tanpa memperdulikan permohonan Hermione.
"Ayolah Malfoy... aku sudah letih, aku ingin duduk dan minum." pinta Hermione lagi.
Draco menatap hermione dengan tatapan tidak setuju, membuat gadis itu mendengus jengkel. "Kita sudah berdansa dua puluh lagu non-stop, kau tahu itu? Kakiku serasa mau copot, dan kau masih tidak mengizinkanku istirahat?" kata Hermione dengan nada mencela.
"Tidak." sahut Draco sambil memamerkan seringai menyebalkannya. Hermione hanya menghela napas, kemudian matanya beralih menatap teman-temannya yang sedang duduk di pinggir lantai dansa. Dilihatnya Ginny dan Lavender yang sedang tersenyum penuh arti kepadanya, Ron yang menahan geli melihat langkah dansanya yang sudah mulai tertatih-tatih, Harry dan Neville yang menatapnya dengan tatapan kasihan, dan Luna yang seperti melihat hal paling menakjubkan di dunia.
Hermione memfokuskan pandangannya menatap Harry, si Ketua Murid perempuan mencoba meminta pertolongan melalui tatapannya itu. Tapi, yang dimintai pertolongan hanya bisa menggeleng-geleng lemah dan mengangkat bahu. Hermione menghela napas lagi.
Kali ini, ia ganti menatap dengan tajam patner dansanya yang-tidak-punya-perasaan itu. Hermione akan berusaha untuk memberontak, ia mulai berusaha melepaskan genggaman tangannya dari tangan milik patner pirangnya. Akan tetapi, genggaman si pirang malah semakin erat, dan tangannya yang berada di pinggang Hermione juga menarik pinggang gadis itu semakin mendekat, memperkecil jarak di antara mereka. Dan seringainya itu kembali terkembang.
Draco mendekatkan wajahnya ke telinga Hermione dan kemudian berbisik, "Jangan pernah mencoba untuk kabur dariku, Granger." membuat Hermione melempar pandang mencela terhadap Draco.
Hermione, akhirnya, dengan pasrah melanjutkan dansanya dengan sang pewaris Malfoy tersebut. Akan tetapi, tak lama kemudian.
BRUUKKK!
Hermione terjatuh karena kelelahan. "Kau tidak apa-apa Granger?" tanya Draco sedikit khawatir.
"Aku lelah, Malfoy." kata Hermione menatapnya tajam. Draco hanya hanya menyeringai, entah sudah yang keberapa kali Hermione melihat Draco menyeringai sejak mereka berdua mulai berdansa.
"Baiklah kalau begitu." kata Draco sebelum ia menggendong Hermione ala bridal style, seperti pangeran yang menggendong tuan putri.
"AAAAAAA...!" jerit Hermione. "Malfoy, turunkan aku!"
"Katanya kau lelah?" tanya Draco memasang wajah bingung, tapi di mata kelabunya itu, Hermione melihat kilatan menggoda.
"Tapi... aku bisa jalan sendiri. Dan ini... ini sangat... sangat mengerikan." kata Hermione dangan wajah ngeri.
Tetapi, seakan tak mendengar ucapan gadis yang sedang digendongnya itu, Draco terus berjalan keluar Aula sambil mendekapnya, menuju Asrama Ketua Murid. Sepanjang jalan, orang-orang terus saja menatap mereka berdua dengan wajah terkejut dan ingin tahu.
Sesampainya di Ruang Rekreasi ketua murid, Draco menurunkan Hermione ke atas sofa, dan Hermione langsung menyandarkan badannya. Lelah.
"Kau tahu? Digendong seperti itu sangat mengerikan. Mengingatkanku akan terbang." kata Hermione dengan wajah shock dan takut. Draco hanya tersenyum dan kemudian menghempaskan tubuhnya di sebelah Hermione.
"Huh, kau benar-benar gila, Malfoy." kata Hermione. "Pertama, kau terus saja mengajakku berdansa dan sama sekali tidak mau berhenti. Lalu, kau mengendongku seperti tadi. Tidakkah kau sadar? Semua mata memandang kita tadi." lanjutnya dengan wajah ditekuk. Sedangkan, pria yang sedang diomelinya itu hanya menyandarkan kepalanya pada tangannya yang bertumpu pada sandaran sofa sambil menatapnya dan terus tersenyum.
"Jangan tersenyum seperti itu terus, Malfoy." cela Hermione.
"Kau ini, dari tadi terus saja mengeluh. Memangnya kau sama sekali tidak menikmati pestanya." tanya Draco, ia mengubah ekspresi wajahnya menjadi serius.
Kaget atas perubahan ekspresi Draco yang mendadak, Hermione menjawab dengan gugup, "Bu-bukan begitu, tapi dari tadi kita berdansa terus." Ia takut menyinggung Draco.
"Jadi, kau tidak suka berdansa denganku?" tanya Draco lagi.
"Ti-tidak Malfoy. Aku hanya lelah terus-terusan berdansa. Tadi aku cu-cukup senang kok. Tidak terlalu buruk, hanya saja..." kalimat Hermione terputus, karena Slytherin yang di sebelahnya sudah tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha... Sudah, akui saja kalau kau suka berdansa denganku. Sangat-sangat menyukainya, ya kan? Hahahahaha..." kata Draco di sela-sela tawanya.
Hermione cemberut dan membuang mukanya. "Ayolah, jangan merajuk. Aku hanya bercanda." bujuk Draco.
"Kau menyebalkan, Malfoy." kata Hermione, membuat Draco terkekeh.
"Mau dansa lagi?" tiba-tiba Draco bangun dan mengulurkan tangannya kepada Hermione.
Hermione menatapnya dengan tatapan mencela. "Kau gila ya Malfoy? Memangnya yang tadi kurang cukup apa?" Draco hanya tersenyum dan tangannya masih tetap terulur.
"Aku lelah." kata Hermione. Draco hanya mengangkat sebelah alisnya.
"Tidak ada musik" lanjut Hermione, kini mata Draco memberi isyarat kepada Hermione untuk meraih tangannya.
"Kau benar-benar menyebalkan, Malfoy." kata Hermione, sebelum akhirnya dengan terpaksa ia bangun dan meraih tangan Draco. Mereka pun mulai berdansa lagi.
"Ini aneh, berdansa tanpa musik?" Hermione mulai memprotes. "Ssst..." bisik Draco.
Mereka berdua berdansa mengelilingi Ruang Rekreasi. Akhirnya, setelah lima kali putaran, gerakan mereka mulai melambat. Kedua tangan Hermione sekarang mengalungi leher Draco, dan tangan Draco, dua-duanya melingkari pinggang Hermione, kening mereka bersentuhan.
"Oh, ini sangat konyol." kata Hermione.
"Ayolah Granger, jangan protes terus." cela Draco.
Mereka terus melanjutkan dansa mereka, sampai Hermione merasa Draco menatapnya. Saat ia menatap balik, Draco mendekatkan wajahnya ke wajah Hermione, membuat gadis itu merasakan hembusan nafas sang pewaris Malfoy tersebut. Lalu Draco berbisik "Kau cantik sekali malam ini, Granger." lalu yang terjadi kemudian adalah sang Pangeran Slytherin mencium bibir milik sang putri Gryffindor.
Hermione sangat terkejut hingga terpaku selama beberapa detik. Setelah kesadarannya pulih, ia mendorong Draco dan segera berlari ke kamarnya, meninggalkan pemuda itu.
-o0o-
"Apa sih yang ia pikirkan?" kata Hermione setelah berada di dalam kamarnya. "Uuuughh.." ia berjalan ke depan cermin dan mendapati pantulan wajahnya yang saat ini merah padam. Ia perlahan meraba bibirnya, tempat yang tadi dicium oleh Draco.
Wajahnya kembali memanas. Ia dapat kembali merasakan lembutnya bibir Draco saat bibir mereka bersentuhan. "Uuhhh... bagaimana ini? Dasar Ferret bodoh! Kenapa dia melakukan hal itu sih?" Hermione menghempaskan tubuhnya ke kasur, kemudian ia sadar kalau ia sudah sangat lelah dan ia pun tertidur tanpa mengganti pakaiannya.
Hermione terbangun dari tidurnya, ia baru saja bermimpi, mimpi yang – sebenarnya tidak terlalu – buruk. Ia bermimpi sedang berdansa dengan Draco di Aula Besar, dan Draco menciumnya di depan ratusan pasang mata. Kemudian, Hermione melihat Harry dan Ron menghampirinya dengan wajah marah dan mengatainya penghianat. Sedangkan Draco, tanpa memperdulikan Harry dan Ron, malah menariknya semakin dekat dan terus saja menciuminya.
Hermione menghela napas, ia bangkit dari kasurnya dan keluar dari kamarnya, ia hendak meminum air di dapur. Di luar, ia melihat Draco tertidur di atas sofa Ruang Rekreasi dengan rambut acak-acakan dan masih memakai jubah pestanya yang sebagian besar kancingnya sudah di copot.
Hermione terus berjalan ke dapur untuk melanjutkan niatnya, tetapi, saat ia kembali melewati Ruang Rekreasi, ia berhenti dan memandangi pemuda Malfoy yang tengah tertidur itu. Diangkatnya tongkat sihirnya sambil menggumamkan, "Accio selimut." Ia kemudian berjalan ke arah Draco dan menyelimutinya. Ia kemudian menyingkirkan rambut pirang Draco yang terjatuh di atas keningnya.
Saat ia berbalik untuk kembali ke kamarnya, ada yang menarik tangannya. Hermione membalikkan badannya, dan dilihatnya Draco tengah menatapnya. "Terima kasih, Granger." katanya sambil tersenyum.
"Sama-sama." balas Hermione.
Kemudian tanpa diduga, Draco bangkit berdiri, membuat Hermione refleks mundur ke belakang. "Kau belum mengganti bajumu?" tanya Draco.
"Be-belum, kau juga?" jawab Hermione.
"Aku lelah dan langsung tertidur." terang Draco.
"Oh." sahut Hermione singkat. Saat Hermione hendak berbalik lagi, Draco kembali menariknya. Hanya saja, sepertinya tarikannya ini terlalu kuat dan membuat dirinya sendiri kehilangan keseimbangan. Mereka berdua pun jatuh ke atas sofa.
Hening sejenak, mata mereka berdua saling menatap. Dan mungkin karena terbawa suasana, tangan Draco membelai rambut Hermione dan menyelipkannya ke telinga gadis itu. Hermione yang saat itu berada di atas tubuh Draco, merasakan wajahnya mulai memanas. Dan ketika Draco mendekatkan wajahnya, Hermione menghindar.
"Tidak Malfoy. Tidak..." kata Hermione pelan. Gadis berambut coklat itu bangkit dan berjalan mundur. Lalu ia berbalik menuju kamarnya. Draco yang ditinggal lagi oleh Hermione menjambak rambutnya dan membenturkan kepalanya ke sandaran sofa.
"Bodoh kau Draco..." kata Draco kepada dirinya sendiri.
-o0o-
Paginya, Hermione bangun dengan perasaan tidak karuan. Ia keluar kamar dan hendak membangunkan Ketua Murid laki-laki. Akan tetapi, begitu berada di depan pintu kamar Draco, Hermione ragu untuk mengetuk pintunya. Dan saat Hermione memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar Draco, pintunya tiba-tiba terbuka. Tampak sang pangeran Slytherin keluar dari kamarnya.
Hermione terlonjak terkejut dan nyaris terjungkal ke belakang kalau saja ia tidak reflek berpegang pada dinding. Draco dan Hermione saling menatap selama beberapa saat dan suasana berubah menjadi canggung. Hermione membuka dan menutup mulutnya, hendak mengatakan sesuatu. Tapi, tak ada satu kata pun yang berhasil keluar dari mulutnya. Akhirnya, ia hanya bisa menghela napas dan kemudian berbalik kembali ke kamarnya.
Di Aula Besar, Hermione melihat Draco sudah lebih dulu di sana, ia duduk di sebelah Blaise Zabini. Beberapa murid lainnya berbisik-bisik sambil menunjuk-nunjuk Hermione kemudian Draco. Hermione menatap mereka seolah berkata "Apa kau lihat-lihat, tidak sopan menunjuk-nunjuk orang!" dan mereka semua langsung terdiam. Si Ketua Murid perempuan akhirnya memutuskan untuk duduk di sebelah Ginny.
"Pagi Mione...?" sapa Ginny.
"Pagi Gin." balas Hermione.
"Bagaimana semalam?" tanya Ginny dengan ekspresi nakal.
"Apanya?" tanya Hermione bingung.
"Ayolah, Mione. Semalam kau kembali lebih dulu, apa yang terjadi?" tanya Ginny yang sekarang memasang ekspresi lelah yang di buat-buat.
Hermione tanpa sadar melirik ke arah meja Slytherin, dan tak sengaja matanya dan mata Draco bertemu, membuat pipi Hermione merona lagi.
"Nanti saja." Hermione melihat wajah Ginny yang sudah menunjukkan keinginan untuk memprotes dirinya, sebelum ia melanjutkan, "Hari ini kan semua mata pelajaran dikosongkan, aku pasti akan cerita padamu Gin." membuat gadis Weasley itu mengangguk.
Sedangkan di meja Slytherin, Draco yang sedang makan diganggu oleh Blaise.
"Hei Draco, semalam kau pamer sekali." kata Blaise membuat sebelah alisnya terangkat. "Mentang-mentang berpasangan dengan Tuan Putri." lanjut Blaise.
Draco hanya tersenyum sebelum membalas, "Akan kuberitahu Pansy kalau kau masih saja iri padaku soal ini."
"Heeeiiii... mate, jangan seperti itu..."
"Bilang padaku soal apa, Drake?" tanya Pansy yang tiba-tiba muncul di belakang Draco dan Blaise. Draco menatap Blaise yang saat ini sudah memberinya pandangan memohon yang teramat sangat.
"Tidak ada apa-apa, Pans." sahut Draco enteng.
"Oh... sepertinya kau tidak dalam mood yang terlalu bagus Drake? Kenapa? Kau kan semalam berhasil berpasangan dengan The Most Wanted Girl di Hogwarts." tanya Pansy.
"Bukan urusanmu, Pans." sahut Draco dingin.
"Kasar sekali ucapanmu padanya mate." Blaise membela Pansy.
"Dasar penjilat." sindir Draco dan Blaise hanya tersenyum.
Pansy melihat ke arah Hermione dan Draco secara bergantian. "Jangan bilang kau mengambil kesempatan darinya, Drake?" tanya Pansy dengan tatapan tidak percaya.
Draco hanya menatap Pansy dengan tatapan menantang kemudian mengangkat bahu.
"Oh, Drakie..." ucap Pansy putus asa. "Kau bodoh." desisnya. Draco menatapnya tak peduli dan kembali menekuni makanannya.
-o0o-
"Ayo Mione, cerita padaku..." desak Ginny. Mereka berdua sedang berada di kamar Ginny di Asrama Gryffindor.
"Alright Ginny, sabar." kata Hermione sambil menatapnya lelah.
"Cepat... apa yang terjadi." Ginny semakin mendesak Hermione.
"Baik-baik, semalam aku kelelahan karena, well, Malfoy terus menerus mengajakku berdansa tanpa mau berhenti. Lalu, ia menggendongku ke asrama ketua murid."
"Oohhh... Romantisnyaaaa..." pekik Ginny dengan mata berbinar-binar.
"Hhhhh... lalu ia mengajakku berdansa lagi di Ruang Rekreasi." kata Hermione lagi.
"Terus?" tanya si rambut merah penasaran.
"Ya kami berdansa. Dansa yang aneh, tanpa musik. Lalu..." Hermione sedikit merona sebelum melanjutkan, "sudah, begitu saja."
"Mione, sepertinya ada yang kau sembunyikan." kata Ginny serius. "Apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya.
"Ti-tidak Gin. Hanya seperti itu saja." jawab Hermione sedikit gugup.
"Kau tahu Mione, kau tidak bisa bohong. Terutama padaku. Apa Malfoy melakukan sesuatu padamu?" tanya Ginny lagi. Dilihatnya kepala Hermione sedikit tertunduk. "Misalnya... menciummu?" lanjutnya.
Kali ini yang dilihat oleh si gadis Weasley adalah wajah Hermione yang berubah menjadi merah padam.
"Ya Tuhan, Mione! Itukah yang terjadi? Malfoy? Menciummu?" pekik Ginny dan Hermione mengangguk pelan. "Dan bagaimana rasanya?" tanya Ginny, membuat Hermione menatapnya seolah gadis itu sudah sinting, tapi ia hanya tersenyum menunggu jawaban Hermione.
"Entahlah, terasa ganjil, tapi... lembut." Hermione menundukkan kepalanya dalam-dalam, menyembunyikan wajahnya yang semakin merah.
"Oohhh Mione, apakan kalian sudah jadian?" tanya Ginny tanpa basa-basi dan si Ketua Murid perempuan melirik sadis padanya.
"Tentu saja tidak Ginerva Weasley! Kau berpikir apa sih!" tanya Hermione sedikit emosi.
"Tapi kalian 'berciuman' kan?" tanya Ginny sambil nyengir yang membuat Hermione sebal setengah mati.
"Tapi tidak berarti kami 'jadian' kan?" Hermione menjawab pertanyaan Ginny dengan pertanyaan. "Dan lagi, sejak 'kejadian' itu kami jadi canggung – lebih tepatnya aku sih... Aku bingung harus bersikap seperti apa kalau bertemu dengannya." lanjut Hermione.
"Bersikap saja seperti biasa, seolah-olah tak terjadi apa-apa." saran Ginny.
"Mudah bagimu bicara, Gin. Karena kau pasti tidak tahu bagaimana rasanya kalau orang yang selama ini selalu berdebat dan bertengkar denganmu – dan cukup menyebalkan menurutmu – tiba-tiba menciummu." keluh Hermione.
"Aku memang tidak tahu, Hermione. Well, bagaimana kalau..." Ginny menggantung kalimatnya, membuat sang Ketua Murid perempuan penasaran. "Kalau kau meminta tuan muda Malfoy itu bertanggung jawab padamu karena sudah berani menciummu Hermione, dengan menikahimu tentunya. Hahahahaha..." tawa si rambut merah meledak yang justru membuat si rambut coklat memberengut kesal.
"Aku menyesal menceritakan ini padamu!" kata Hermione marah.
"Aku hanya bercanda, Mione. Ayolah... jangan ngambek begitu." bujuk Ginny
"Terserahlah! Aku mau kembali ke asrama Ketua Murid saja, kau sama sekali tidak membantuku! Dan ingat! Jangan beritahu Harry ataupun Ron, mengerti?" kata Hermione panjang-lebar.
"I'll promise." jawab Ginny yang masih terkikik geli. Kemudian Hermione beranjak pergi dan kembali ke Asrama ketua murid.
-o0o-
Draco sedang duduk di sofa sambil menatap perapian sampai Hermione datang. Gadis itu terkejut melihat Draco berada di situ. Draco menatapnya sebelum berdiri menghampiri patnernya itu untuk memberikan penjelasan. Ia melihat Hermione sangat gugup saat ia sudah semakin dekat.
"Darimana kau?" tanya Draco.
"Bu-bukan urusanmu Malfoy." sahut Hermione gugup.
"Cepat jelaskan padanya Draco." batin Draco.
Draco melihat wajah Hermione yang mulai memerah lagi – entah sudah yang keberapa kalinya Draco melihat wajah Hermine memerah sejak kejadian itu, namun entah kenapa Draco justru menyukai itu.
"Ayo Draco Malfoy, kau hanya perlu mencari alasan seperti biasa kan." kata suara dalam hatinya lagi.
"Granger, aku..." kalimat Draco terhenti, karena ia tidak tahu apa yang harus ia katakan.
Hermione mengangkat alisnya, siap menunggu kelanjutan kalimat Draco. Tapi, tiba-tiba saja kaca jendela diketuk – digedor lebih tepatnya, dan seseorang berteriak memanggil, "Oooii.. Dracooooo...". Tampak Blaise Zabini di atas sapu terbangnya sedang memasang cengiran lebar kepada mereka berdua.
"Aku kembali ke kamarku dulu." kata Hermione buru-buru dan langsung pergi. Draco memutar matanya saat melihat Blaise sebelum berjalan ke arah jendela dan membukanya.
"Ada apa?" tanya Draco ketus.
"Whoa... judes amat kau mate." kata Blaise sambil masuk ke Ruang Rekreasi melalui jendela.
"Ada apa?" ulang Draco sekali lagi.
"Emm... tidak ada apa-apa sih mate, aku hanya rindu padamu." kata Blaise masih dengan cengiran lebarnya. Draco mengeluarkan suara seolah-olah mau muntah membuat si Zabini terkekeh.
"Sebenarnya aku hanya mau memastikan." kata Blaise lagi, kali ini wajahnya menjadi serius.
"Memastikan apa?" tanya Draco curiga.
"Apa benar yang dikatakan Pansy, kalau kau menci-" kalimat yang dilontarkan Blaise dengan semangat terputus karena Draco membekap mulutnya.
"Jangan lanjutkan, atau kau mau kulempar dari sini!" ancam Draco.
Blaise mengangguk dan Draco melepaskan bekapannya. "Baiklah-baiklah... tapi aku mau tanya, itu benar atau tidak?" tanya Blaise sambil duduk di atas sofa.
Draco memandangnya sinis, lalu memalingkan wajahnya sebelum menjawab, "Benar." Kemudian ia duduk di sebelah Blaise sebelum melanjutkan, "Dan mumpung kau ada di sini, aku mau kau membantuku."
"Membantu apa?" tanya Blaise.
"Membantuku mencari cara menjelaskan kepadanya atau apalah itu, terserah kau. Hubungan kami jadi aneh semenjak itu." kata Draco sambil mengarah ke pintu kamar Hermione.
"Sekarang?" tanya Blaise lagi.
"Tidak, Bodoh. Aku butuh kau dan Pansy untuk mebantuku menyusun rencana dan mencari waktu yang tepat." kata Draco mulai habis kesabaran.
"Baiklah, aku akan bilang Pansy nanti." kata Blaise akhirnya. Lalu suasana menjadi hening dengan satu penyihir berkulit pucat dan satu penyihir berkulit gelap duduk terdiam menatap perapian.
"Mate..." kata penyihir berkulit gelap memecah keheningan, yang hanya di sahuti dengan 'hnn' saja oleh si pucat. "Apa kau menyukainya?" lanjutnya.
Draco mengangkat alisnya dan memandang sahabatnya itu dengan tatapan kau-sudah-gila-ya.
"Ayolah, katakan saja." desak Blaise.
"Aku tidak tahu Blaise. Aku belum tahu. Aku merasa sama saja seperti sebelum-sebelumnya, tidak ada yang berubah. Tidak ada yang istimewa." sahut Draco datar.
"Lalu? Kenapa kau melakukan itu?" tanya Blaise lagi.
"Entahlah, mungkin hanya terbawa suasana." jawab Draco.
"Hah! Alasan konyol mate. Kau memang ingin kan?" ejek Blaise dan Draco hanya mengangkat bahu. "Kenapa kau mau repot-repot memberi penjelasan padanya?" lanjutnya.
"Aku tidak suka bersikap canggung, terlebih ia patnerku. Tak mungkinkan bekerja-sama dengan seseorang dengan suasana canggung?" jelas Draco, dan Blaise Zabini hanya ber-o panjang sebelum akhirnya ia pamit untuk kembali ke Asrama Slytherin.
-o0o-
Notes : Gomennasai... chapter keempatnya lebih pendek dibanding yang kemaren . . Abis Shinju agak bingung bikin chapie yang ini, buntu ide. Udah gitu bentrok sama UAS dan UN produktif. Jdi Shinju juga bingung mau ngelanjutin apa belajar -3- . Tapi akhirnya selesai juga, walau mungkin kurang memuaskan reader yah... Shinju bakal usahain chapter depan bakal lebih baik lagi. Mau makasih juga sama atacchan dan Rey619 yang rajin banget review, buat reviewer yang lain juga makasiiiihhhh banget, buat silent reader juga. Tapi pliiiisssss banget, di review yah... Shinju butuh banget pedapat, saran, dan kritik kalian. So? Diklik tombol review di bawah ini ya... :)))
