Rated: T
Disclaimer: Karakter dan situasi seluruhnya milik Bunda Jo tercinta
Pairing: DraMione
Notes: Huaaaa... Gomeeeennn baru bisa update, ceritanya udah di bikin dari sebelum UN dan udah rencana mau upload sebelum UN juga. Tapi ternyata pas udah nyampe tengah tiba-tiba buntu ide dan berlanjut sampe UN udah kelar... dan karena udah update... mind to RnR? :))
Warning: OOC, GaJe, Typo, dll
My Enemy, My Rival, and My Love
"Kau sudah punya rencana mate?" tanya Blaise saat pelajaran Sejarah Sihir. Draco yang sudah setengah tertidur langsung segar karena pertanyaan Blaise tadi.
"Belum Blaise, kau?" kata Draco balik bertanya. Sudah seminggu setelah pesta dansa, namun hubungan Draco dan Hermione masih tetap canggung. Selain suasana menjadi tidak menyenangkan, efek samping bagi Draco sendiri adalah ia harus membiasakan diri bangun pagi, karena nona Gryffindor itu tidak pernah membangunkannya lagi, dan kali ini Draco sudah tidak bisa mengancamnya.
Blaise menggeleng menjawab pertanyaan Draco. "Kalau Pansy?" tanya Draco lagi.
"Entahlah, tapi ia tidak bisa ditanya sekarang." bisik Blaise sambil mengarahkan kepalanya menunjuk Pansy yang sedang tertidur pulas karena mendengarkan penjelasan Profesor Binns, si guru hantu, tentang perang Raksasa yang memang luar biasa membosankan itu.
Draco menoleh ke depan dan mendapati Hermione yang memang duduk di depan, sedang sibuk mencatat apa yang diterangkan oleh Profesor Binns dengan tekun, sementara seisi kelas sudah memasuki alam mimpi dengan nyenyak, bahkan Harry dan Ron yang berada di sebelahnya sudah sampai mendengkur. Draco heran, apakah Hermione sudah kebal dengan dongeng dari Profesor Binns, atau ia sudah minum kopi sebelum masuk ke kelas? Atau malah, ia sudah memantrai dirinya sendiri dengan mantra anti ngantuk? Draco menggelengkan kepala membayangkan asumsi-asumsinya, ia kemudian merilekskan tubuhnya lalu menyandarkan kepalanya lagi di atas kedua tangannya yang terlipat rapi tak lama kemudian ia jatuh tertidur.
Sepertinya baru beberapa menit yang lalu ia terlelap, ia sudah merasa seseorang memanggil-manggilnya.
"Hei mate, bangun..." kata suara tersebut. Draco membuka matanya dan mendapati sosok jangkung dan berkulit gelap berada di hadapannya. "Pelajarannya sudah selesai." katanya lagi. Ternyata Blaise Zabini, pikir Draco saat pandangannya mulai jelas. Si Ketua Murid laki-laki mengucek-ngucek matanya dan melihat kelas yang sudah hampir kosong.
"Ayo, sudah waktunya makan siang." kali ini Pansy yang berbicara. Draco menurut dan bangun mengikuti Blaise dan Pansy, sebagian karena baru bangun jadi belum bisa memutuskan sendiri harus melakukan apa, dan sebagian lagi karena dorongan perutnya yang memang sudah sangat lapar.
Sesampainya di meja Slytherin, tangan Draco dengan lancar mencomot ayam panggang dan beberapa potong kentang goreng. "Drake, kau masih belum berbaikan dengan Granger?" tanya Pansy dan sekarang tangan Draco sudah mencomot muffin dan menaruhnya di sisi piring. Draco hanya menjawab dengan gelengan. "Kau sudah mencoba bicara dengannya saat di Asrama ketua murid?" tanya Pansy lagi.
"Sudah Pans, tapi ia selalu menghindariku. Aku juga sudah bilang padamu berkali-kali mengenai hal itu." kata Draco malas.
"Susah kalau begitu." sahut Blaise.
"Bagaimana kalau kita minta pendapat dan bantuan dari si Weasley?" tanya Pansy yang di sambut dengan tatapan mencemooh milik Draco.
"Dari pria bodoh itu? Aku ti-"
"Bukan 'dia' Drake, tapi si gadis Weasley, Ginny Weasley. Dia kan dekat dengan Granger." sela Pansy saat tahu kalau Draco salah mengira Weasley yang ia maksud.
"Oh..." jawab Draco singkat.
"Bagaimana menurutmu?" tanya Pansy sambil menatap Draco, Blaise juga tengah menatap Draco, menunggu jawaban.
"Boleh dicoba." jawab si Pangeran Slytherin sambil mengangkat bahu.
"Bagus, nanti aku akan tanya padanya dan akan langsung kuberi tahu padamu." kata Pansy lagi, dan Draco hanya mengangguk sambil meneruskan makannya.
-o0o-
Sore ini Draco tengah berjalan menuju perpustakaan. Menurut Ginny yang sehabis makan ditemuinya dan Pansy – sebenarnya Draco tidak mau ikut, karena hanya akan mendapat pandangan yang sulit diartikan milik Ginny - untuk dimintai pendapat, sebaiknya Draco mencoba berbicara kepada Hermione saat gadis itu sedang berada di perpustakaan. Karena menurut Ginny juga, Hermione akan lebih memilih meneruskan bacaannya ketimbang menghindari seseorang.
Sesampainya di perpustakaan, Draco langsung menyapukan pandangannya ke seluruh ruang perpustakaan untuk mencari Hermione. Dan ia menemukan Ketua Murid perempuan itu sedang duduk di salah satu meja di pojokan perpustakaan, sedang membaca. Draco menghampirinya secara perlahan, ia meraih sebuah buku tanpa melihat judulnya lalu duduk di depan Hermione dan berpura-pura membaca buku itu.
Hermione menoleh ke arahnya dan kemudian buru-buru menundukkan kepalanya untuk menghadapi bukunya lagi. Draco hanya tersenyum kecil begitu mengetahui kalau perkataan Ginny benar. Hermione tidak menghindarinya, gadis itu tetap berada di tempatnya, walaupun menolak untuk memandang Draco.
"Sedang apa kau, Granger?" tanya Draco.
"Membaca, kau tidak bisa lihat?" jawab Hermione berusaha untuk cuek dan di jawab dengan O yang panjang dan pelan oleh Draco. "Mau apa kau ke sini, Malfoy." kali ini ganti Hermione yang bertanya curiga kepadanya, tapi masih menunduk melihat ke arah bukunya.
"Mau baca, kau tidak bisa lihat?" balas Draco.
Hermione mengangkat mukanya untuk melihat Draco, kemudian ia melihat buku yang dipegang Draco untuk mengetahui judul buku tersebut. Dan saat ia melihat judul buku tersebut, ia mengernyit. "Kau membaca buku seperti itu, Malfoy?" tanyanya.
Draco membalik bukunya dan terkejut melihat judul bukunya itu, 'Dongeng Anak : Barnie dan Sepuluh Troll Penari Balet'. Ia kemudian mencoba untuk tetap bersikap cool dan menjawab, "Apa salahnya membaca dongeng sekali-sekali." katanya dengan alis terangkat dan senyum mengejek.
Hermione hanya tersenyum-senyum sebelum akhirnya tertawa terbahak-bahak melihat kebodohan Draco. "Hahaha... kau konyol sekali, hahahahaha..." kata Hermione di sela-sela tawanya.
"Sudah cukup, jangan tertawakan aku lagi, Granger." kata Draco kesal karena ditertawakan.
"Hahaha... maaf Malfoy. Tapi sungguh, itu lucu sekali. Coba kau lihat tampangmu sendiri tadi, hahaha..." kata Hermione lagi, masih tertawa.
"Kubilang cukup, Granger!" kata Draco, wajahnya sedikit memerah karena malu sekarang. Hermione pun akhirnya – dengan susah payah – berhenti tertawa.
"Kau ke sini... benar-benar karena ingin membaca buku itu, Malfoy?" tanya Hermione sambil menggigit bibir bawahnya agar tidak tertawa. Ia akan sangat geli kalau ternyata pewaris Malfoy itu benar-benar ke perpustakaan untuk membaca buku seperti itu.
"Tid- eh, ya. Eh, tidak! Aku mau baca, tapi bukan buku ini, Granger." kata Draco dengan ekspresi menantang.
"Lalu?" tanya Hermione.
Draco hanya mendengus kesal sebelum bangkit dari kursi dan mencari buku yang lain. Ia berjalan ke arah rak buku, Hermione memperhatikannya, lalu mengambil buku secara asal lagi, dan kembali terkejut saat melihat judulnya, yang kemudian secara refleks dilemparnya. 'Dua Puluh Tips Ampuh Bagi Pecinta Sesama Jenis'. Draco bergidik memandang buku yang sekarang tergeletak di lantai itu dengan tatapan jijik. Hermione tertawa terbahak-bahak melihat Draco dan – tentu saja – judul bukunya. Si Pangeran Slytherin melotot ke arah Hermione, menyuruhnya diam sebelum menaruh buku tadi ke tempat asalnya. Ia kemudian mencari buku lagi dengan hati-hati – tak mau kejadian tadi terulang lagi – dan mengambil buku berjudul 'Sejarah Perkembangan Sapu Terbang Modern' lalu duduk kembali di depan Hermione.
Draco menyadari tatapan Hermione yang belum teralihkan darinya. "Jangan memandangku terus seperti itu, Granger. Nanti kau bisa jatuh cinta padaku." kata Draco memperingatkan. Dan secara tak terduga, bukannya mencela, Putri Gryffindor yang berada di depannya itu justru merona. "Hei... apa-apaan ini? Wajahmu kok merah, Granger?" tanya Draco.
"Ti-tidak." kata Hermione gugup.
"Kau tidak bisa mengelak, Granger. Wajahmu merah. Jangan-jangan kau benar-benar jatuh cinta padaku?" kata Draco dengan nada menggoda.
"Sembarangan! Bukan begitu! Aku hanya jadi teringat soal..." Hermione tidak meneruskan kata-katanya, sepertinya tidak sanggup. Draco sendiri jadi terdiam mendengarnya, karena ia tahu apa yang dimaksud Hermione.
"Sudah, lupakan saja Granger." kata Draco akhirnya.
"Apa?" tanya Hermione.
"Kau mendengarku, Granger. Lupakan! Kalau kau memang tak mau mengingatnya." kata Draco tajam.
"Gampang sekali kau bicara, Malfoy! Setelah kau menciumku, dengan mudahnya kau memintaku untuk melupakannya! Kau tahu tidak? Aku jadi bingung harus bersikap bagaimana kalau bertemu denganmu gara-gara hal itu!" omel Hermione dalam satu tarikan nafas , ia sedikit emosi.
"Makanya, kubilang lupakan! Daripada kau terus-terusan bersikap aneh dan menghindariku. Aku jadi bingung menjalani tugas Ketua Murid denganmu." aku Draco. Ia memang bingung menjalani tugasnya sebagai Ketua Murid kalau Hermione menjauhinya, apalagi dua hari lagi adalah giliran ia dan Hermione untuk patroli bersama. Akan sangat tidak nyaman kalau mereka diam-diaman.
Hermione hanya bisa terdiam, ia memang akan merasa tidak enak jika diam-diaman saat bertugas dengan Draco jika biasanya mereka bertengkar dan adu pendapat. Tapi, melupakan fakta bahwa Draco telah menciumnya, hampir dua kali malah, memangnya semudah itu? Dan tidak mungkin ia meminta Draco bertanggung jawab dengan menikahinya seperti yang dibilang Ginny. Satu-satunya cara memang melupakan kejadian itu, walau Hermione tidak yakin kalau ia mampu.
"Baiklah." kata Hermione akhirnya.
"Baiklah apa?" tanya Draco.
"Baiklah, aku akan melupakannya." kata Hermione lagi.
"Bagus." sahut Draco lebih kepada dirinya sendiri. Akan tetapi, entah kenapa hatinya merasakan sedikit kekecewaan, yang langsung ditepis olehnya. Ia kemudian bangkit dari kursinya, hendak beranjak pergi.
"Mau kemana kau, Malfoy?" tanya Hermione.
"Sudah waktunya makan malam."
-o0o-
"Jadi, bagaimana Mione?" tanya Ginny saat ia suda berada di Aula Besar untuk makan malam.
"Apanya yang bagaimana?" tanya Hermione bingung.
"Kau dan Malfoy... apa kalian sudah berbaikan?" tanya Ginny lagi. Ia sudah tidah mampu lagi menahan senyumannya.
Hermione menatap bungsu keluarga Weasley itu bingung, kemudian seolah mengerti apa yang terjadi sebenarnya, ia berbalik memandang Ginny dengan tatapan menuduh.
"Jangan menatapku seolah aku baru saja ketahuan mencuri permen milikmu, Mione. Ceritakan saja apa yang terjadi." kata Ginny lagi dengan cengiran lebar menghiasi wajah cantiknya.
"Jadi kau yang menyuruh Malfoy menemuiku di perpustakaan?" tanya Hermione tak mempedulikan permintaan Ginny.
"Yah... sebenarnya bukan aku yang menyuruhnya, ia hanya minta pendapatku. Jadi bagaimana?" jawab Ginny.
"Malfoy? Minta pendapatmu? Apa dunia sudah gila?" tanya Hermione sarkastik.
"Kurasa begitu, dan jangan acuhkan pertanyaanku Hermione Jean Granger. Sejak tadi aku bertanya padamu, bagaimana hubunganmu dan Malfoy sekarang?" tanya Ginny lagi, ia sudah terlihat kesal karena pertanyaannya tidak ditanggapi oleh si Ketua Murid perempuan.
"Tidak gimana-gimana, Gin." jawab Hermione asal.
"Apanya yang tidak gimana-gimana?" tanya Ginny masih dengan nada kesal.
"Baiklah-baiklah, kami sudah berbaikan. Jangan ngambek begitu dong Gin..." kata Hermione mencoba untuk merayu Ginny.
"Kejadiannya gimana? Aku tahu itu bakal berhasil, tapi tidak semudah itu kan?" tanya Ginny yang sudah kembali bersemangat untuk mengorek informasi.
"Yah, ia hanya salah mengambil buku dan wajahnya menjadi sangat lucu, dan semuanya jadi lebih normal. Itu saja." jelas Hermione singkat.
"Memangnya ia mengambil buku apa?" tanya Ginny penasaran.
"Kau kan tidak perlu tahu sampai sedetail itu, Gin." cela Hermione.
"Ayolah Mione, akukan hanya ingin tahu." desak Ginny.
"Baiklah... ia mengambil buku 'Dongeng Anak : Barnie dan Sepuluh Troll Penari Balet'dan ' Dua Puluh Tips Ampuh Bagi Pecinta Sesama Jenis'." terang Hermione sambil berusaha sekeras mungkin agar tidak tertawa. Akan tetapi, si pemberi pertanyaan malah tertawa terbahak-bahak membuat seisi Aula menoleh ke arah mereka, termasuk Draco yang menatap curiga ke arah Hermione.
"Hahahaha... benarkah? Aku tidak tahu kalau Malfoy seceroboh itu." kata Ginny sedikit berbisik dan menahan diri agar tidak terkikik.
"Ssssttt..." bisik Hermione menyuruhnya diam.
-o0o-
Sudah dua hari lewat sejak akhirnya mereka berbicara lagi di perpustakaan. Sebenarnya waktu itu lebih karena keberuntungan – dan kecerobohan – Draco. Karena ia salah mengambil buku, sampai dua kali malah, Hermione akhirnya dapat berbicara dengan santai lagi kepadanya. Dan sekarang, – Draco merasa sangat beruntung – Hermione kembali membangunkannya tiap pagi, jadi ia tidak perlu sering-sering lagi terlambat sarapan.
Hari ini sendiri adalah hari dimana mereka diwajibkan untuk patroli bersama. Tugas patroli bersama itu memang hanya seminggu sekali. Di hari-hari lain biasanya mereka patroli dengan Prefek dan bergantian. Tetapi biasanya pun, mereka lebih memilih patroli bersama dibandingkan dengan Prefek. Tapi tidak berlaku untuk minggu kemarin. Dan malam ini, akhirnya mereka berdua bisa patroli bersama lagi.
"Hei Granger, kau sudah mengerjakan tugas Aritmanchy?" tanya Draco.
"Sudah, kenapa? Kau mau melihat pekerjaanku?" tanya Hermione membuat Draco mendengus.
"Jangan samakan aku dengan Potter dan Weasley." kata Draco dengan nada mengejek, dan saat Hermione membuka mulutnya untuk membela kedua sahabatnya itu, Draco menyela, "Tak perlu membela mereka, kau pikir aku tidak tahu? Aku cuma mau tanya."
"Terserah kau saja, Malfoy." kata Hermione lagi.
"Ssst..." bisik Draco. Ia merasa mendengar sesuatu dari arah lemari sapu yang berada tak jauh dari tempat mereka berdiri. Hermione diam dan ikut menajamkan telinganya. Mereka berjalan perlahan ke arah lemari sapu tersebut, dan kemudian membuka pintunya secara serempak. Mereka terkejut mendapati sepasang anak Ravenclaw yang kira-kira kelas empat itu tengah berciuman. Kedua anak Ravenclaw itu juga terkejut karena kepergok oleh kedua Ketua Murid dan langsung memisahkan diri.
"Wah wah wah... lihat apa yang kita temukan malam ini." kata Draco sambil menyeringai licik.
"Pasangan cinta? Di lemari sapu? Manis sekali..." kata Hermione dengan nada semanis madu namun tidak dapat menyembunyikan efek mengerikan yang dibuatnya dan sempat membuat Draco menoleh terkejut ke arahnya namun kemudian tersenyum menang ke arah tangkapannya lagi seolah mendapatkan mangsa besar.
"Apa yang hukuman yang pantas kita berikan untuk mereka berdua, Granger?" tanya Draco membuat kedua pasangan Ravenclaw tersebut ketakutan.
"Hukuman? Oh kita tidak bisa seperti itu kepada dua orang yang sedang di mabuk cinta, Malfoy. Itu terlalu kejam." kata Hermione, dua anak Ravenclaw tadi terlihat lega. "Siapa nama kalian?" tanya Hermione.
"Michelle Palmora," jawab si Ravenclaw cewek. "Thomas Root" jawab yang cowok.
"Tap-"
"Diam Malfoy," potong Hermione yang membuat Draco sedikit tersinggung karena disuruh diam. "Kita harus memberikan hadiah kepada mereka bukan?" lanjut Hermione sambil tersenyum manis kepada si Ketua Murid laki-laki, senyum yang sangat manis, namun malah membuat yang melihatnya akan merinding ketakutan, dan Draco balas tersenyum mengetahui maksud Hermione.
"Detensi, tiga hari berturut-turut, dan karena kalian sangat suka dengan lemari sapu jadi menyortir semua sapu di lemari sapu yang ada di seluruh Hogwarts, dari yang layak sampai tidak, dan susun sesuai panjang dari sapu. Kesalahan tidak di tolelir, satu milimeter sekalipun. Dan tidak ada sihir." putus Hermione.
"Kami tentunya akan mengawasi pekerjaan kalian, agar sesuai dengan apa yang diperintahkan." sambung Draco.
"Kalian boleh pergi." kata Hermione yang lebih terdengar seperti perintah.
Setelah itu mereka kembali berkeliling kastil dan tidak menemukan pelanggar peraturan yang lainnya.
"Huh... melakukan hal seperti itu di lemari sapu? Yang benar saja." keluh Hermione begitu mereka sampai di Ruang Rekreasi ketua murid. Mereka sedang duduk di sofa sekarang.
"Memang kenapa?" tanya Draco dengan wajah dibuat sepolos mungkin.
"Seperti tidak ada tempat lain yang lebih layak saja." kata Hermione sambil menghela napas.
"Yah... kalau terdesak, bukan hal yang mustahil kan?" tanya Draco sambil mengangkat bahu.
Hermione mengangkat alisnya dan menatap Draco dengan tatapan menuduh. "Apa?" tanya Draco yang tidak suka Hermione menatapnya seperti itu.
"Kau pernah melakukan hal yang seperti itu, Malfoy?" tanya Hermione.
"Well, kalau mau jujur sih pernah..." kata Draco cuek.
"Kalau begitu kau tidak berhak menghukum mereka tadi. Kaulah yang memberi contoh tindakan mereka tadi." kata Hermione tajam.
"Heii... kan bukan aku yang menyarankan itu ke mereka." kata Draco tidak mau disalahkan.
"Tapi, tetap saja kau pernah melakukan itu, Malfoy. Dan kau, dengan tidak merasa berdosa, malah ikut menghukum mereka, padahal kau sendiri pantas dihukum." kata Hermione lagi.
"Tidak apa-apa kan? Aku kan ketua murid, jadi sudah sepantasnya aku menghukum mereka. Lagipula itu semua sudah berlalu, Granger." kata Draco yang sekarang tengah menatap patnernya yang tengah marah atas tindakan yang pernah dilakukan di masa lalunya itu. Hermione hanya menghela nafas sebelum menggelengkan kepalanya.
"Ada apa sih, Granger? Kok kau jadi sensitif begitu? Jangan bilang kau cemburu?" tanya Draco sedikit menggoda. Hermione hanya menatapnya seolah ia baru saja mengatakan kalau Hermione itu murid terbodoh di Hogwarts walaupun ia membaca ribuan buku setiap harinya.
"Cemburu? Pada Ferret sepertimu? Demi Merlin... kau pikir kau siapa?" tanya Hermione jengke sambil bangkit dari sofanya.
Draco memasang seringainya lalu berdiri dan berjalan mendekati Hermione secara perlahan dan menatapnya seperti seekor ular yang sedang mengincar mangsanya. "Aku?" desisnya. "Aku ini Draco Malfoy, pewaris tunggal tahta kerajaan bisnis keluarga Malfoy, Pangeran Slytherin, sang Cassanova. Dan kau tahu? Tidak akan ada satupun wanita di dunia ini yang mampu menolak pesonaku." lanjut Draco masih dengan desisan yang mampu membuat siapaun yang mendengarnya akan merinding.
"Aku wanita, Draco. Dan aku tidak tertarik padamu." tantang Hermione sambil mendongak menatap pemuda pirang yang sudah berada di depannya itu. Walaupun begitu, ia tidak dapat menyembunyikan fakta bahwa jantungnya berdetak dua kali lebih kencang.
"Oh ya? Yang benar saja..." kata Draco dengan senyum mengejek. Perlahan-lahan Draco mencondongkan kepalanya ke kepala Hermione membuat si gadis berambut coklat merona, namun sebelum Hermione sempat melakukan apapun.
"Wah, wah, wah... aku mendapat tontonan bagus nih." kata sebuah suara.
Draco dan Hermione tersentak kaget dan langsung menoleh ke sumber suara. Tampak Si-Anak-Yang-Bertahan-Hidup tengah terbang di atas Fireboltnya di depan – Draco dan Hermione tidak tahu sejak kapan – jendela yang terbuka.
"Ha-Harry... sejak kapan ka- maksudku... ada apa kau kesini?" tanya Hermione gugup, sedangkan Draco membuang mukanya menatap pintu kamar di belakangnya.
Harry tidak dapat menahan cengirannya lagi. "Tidak apa-apa, aku hanya mau memastikan kau baik-baik saja Hermione." katanya. "Dan oh Mione, bisakah kau besok menemuiku? Aku ada urusan denganmu." kata Harry lagi.
"Ya, uh-oh baiklah." jawab Hermione.
"Yasudah kalau begitu, lanjutkan kegiatan kalian." kata Harry dengan cengiran jahil di wajahnya.
Setelah ditinggal oleh Harry, baik Hermione maupun Draco hanya bisa terdiam. "Sudah malam, aku mau tidur dulu." kata Hermione kepada Draco.
"Ya." jawab Draco. Hermione-pun melangkah ke kamarnya.
"Dan..." Draco mengangkat alis dan menatap Hermione yang sepertinya hendak mengatakan sesuatu. "Kau juga, sebaiknya... tidurlah." lanjut Hermione.
"Ya."
-o0o-
Pagi itu, setelah menemui Harry yang ternyata hanya minta pendapatnya tentang hasil PR Herbologi yang dibuat oleh pemuda berkacamata itu, Hermione bergegas menuju ke kelas Aritmanchy-nya.
"Hai Hermione, kau mau kemana?" tanya sebuah suara yang ternyata berasal dari McLaggen.
"Hai Mac. Aku mau ke kelas Aritmanchy." jawab Hermione sopan.
"Oh... boleh aku mengantarmu?" tanya McLaggen lagi. Dan sebelum Hermione sempat menjawab, McLaggen sudah menggandeng tangannya dan menyeret Hermione ke kelas Aritmanchy.
Sesampainya di kelas Aritmanchy, Hermione bertemu Draco yang baru saja berpisah dengan Blaise Zabini. Draco memandang dirinya dan McLaggen bergantian dengan tatapan sinis. "Ada apa ini?" ejeknya.
"Bukan urusanmu Malfoy!" bentak McLaggen dan Draco hanya mengangkat sebelah alisnya kemudian berganti menatap Hemione. Si Ketua Murid perempuan malah menatapnya dengan tatapan memohon pertolongan yang membuat Draco langsung tahu apa yang terjadi.
"Lepaskan dia, McLaggen." perintah Draco dalam nada yang berbahaya.
"Sudah kubilang bukan urusanmu, Malfoy!" balas McLaggen sengit.
Draco kemudian menarik tangan Hermione dan melepaskannya dari tangan McLaggen sebelum berkata, "Urusanku Mac, karena gadis ini milikku." Draco menatap MacLaggen dengan tatapan membunuh yang paling menusuk.
McLaggen mengeluarkan umpatan-umpatan dan kemudian pergi meninggalkan Draco dan Hermione berdua.
"Apa-apaan sih kau, Malfoy?" kata Hermione memarahi Draco.
"Loh, kan kau sendiri yang minta ditolong." protes Draco.
"Ia! Tapi apa maksudmu dengan mengatakan kalau aku ini milikmu. Nanti bisa ada gosip-gosip yang beredar!" marah Hermione lagi.
"Itu bukan hal yang penting untuk dipedulikan, Granger." kata Draco cuek.
"Terserah kau lah!" kata Hermione sambil berjalan masuk ke kelas Aritmanchy dan membanting pintunya.
Hermione berjalan ke arah meja paling depan dengan tergesa-gesa, ada yang mengusik pikirannya. Perkataan Draco tadi yang menyatakan bahwa dirinya adalah gadis sang Malfoy muda itu sebenarnya sama sekali tidak membuatnya merasa kesal. Justru ia merasakan perasaan yang, entahlah, seperti... bahagia. Namun ia berusaha menepis kuat-kuat perasaan itu.
Ia menolehkan kepalanya ke belakang dan ia mendapati sang Pangeran Slytherin itu telah mengambil tempat duduknya di barisan paling belakang. Ia menatap pemuda itu dan mulai merasakan detak jantungnya yang terasa lebih cepat dari sebelumnya. Tersadar akan hal itu, Hermione menunduk dan mambanturkan kepalanya ke meja sambil mengucapkan berbagai sumpah serapah agar ia segera tersadar.
-o0o-
"Hei, Granger. Apa kau lihat lencana Quidditchku?" tanya Draco setengah mendobrak pintu kamar Hermione, untung saja Hermione telah selesai mengganti pakaiannya.
"Kau bisa mengetuk pintu dulu kan, Malfoy? Dan aku tidak melihat lencanamu itu." kata Hermione sambil memutar matanya.
"Masa kau tidak lihat?" tanya Draco memaksa.
"Tidak, dan sekarang keluar dari kamarku." usir Hermione, "Dan satu lagi, sudah berapa kali kubilang, tak bisakah kau memakai bajumu saat berada di Asrama?" kata Hermione sambil mendorong Draco yang memang hanya mengenakan celana panjangnya itu keluar dari kamarnya.
"Jawabannya tidak." kata Draco.
Hermione berhenti mendorong Draco saat ia melihat tangannya menyentuh lengan Draco yang tergambar tanda kegelapan dan ia tertegun. Selama ini ia memang sering melihat draco bertelanjang-dada, tapi ia sama sekali tidak memperhatikan tanda kegelapan milik pemuda di depannya itu. Dan begitu ia melihat tanda kegelapan itu, mau tak mau ia merasakan rasa takut dan gelisah, mengingat teror-teror yang pernah dilaluinya.
"Apa?" tanya Draco. Si Ketua Murid laki-laki mengikuti arah pandangan Hermione dan ia segera menarik lepas tangannya dari Hermione begitu mengetahui kalau gadis itu sedang menatap tanda kegelapan yang tergambar di lengannya. Hermione menatap Draco yang kini sudah membuang muka, menolak memandangnya.
"Ap-apa itu tidak bisa hilang?" tanya Hermione gugup.
"Tidak." jawab Draco singkat.
"Pasti bisa, itu pasti bisa hilang. Kita harus, aku akan mencari cara untuk mengh-" kata-kata Hermione terputus saat menyadari bahwa Draco menatap tajam ke arahnya.
"Itu tidak akan bisa hilang." kata Draco tajam membuat Hermione menelan ludahnya.
"Tap-tapi."
"Kenapa kau begitu ingin menghilangkannya." kata Pewaris Malfoy itu dengan nada dalam dan berbahaya. "Apa kau takut? Apa kau tidak merasa nyaman melihatnya?" Dan melihat Hermione yang diam saja, Draco melanjutkan. "Kau pasti menganggapku makhluk yang berbahaya sekarang, penyakit yang harus dijauhi."
"Bu-bukan begi-" kata-kata Hermione terpotong.
"DIAM KAU! JANGAN MEMBELA DIRI! KAU SAMA SAJA DENGAN YANG LAINNYA! MEMBUATKU TERLIHAT SEPERTI SEORANG PENJAHAT! YA! AKU MEMANG JAHAT! TAPI ITU DULU! TAK BISAKAH KALIAN MELIHAT PERUBAHANKU SEKARANG? MENERIMAKU APA ADANYA?" bentak Draco.
"Ma-Malfoy." kata Hermione mencoba meraih tangan Draco.
"Jangan sentuh aku! Kau, Darah Lumpur!" bentak Draco lagi. Ia kemudian pergi dengan membanting pintu meninggalkan Asrama ketua murid dan meninggalkan Ketua Murid perempuan itu sendirian.
-o0o-
Notes: Hmmm... kayanya ceritanya gimanaaaa gitu ya, Shinju aja bingung ngungkapinnya. Menurut reader gimana? Bagus? Jelek? Please di review... Oh ia, mw sekalian promosi. Shinju juga bikin fic pairing RosPius loh... hehehe judulnya 'Get You!' sama buat yang suka boyband Hey!Say!JUMP, temen Shinju bikin fanfic judulnya 'Jumping Danzes' oke segitu aja... jangan lupa di R.E.V.I.E.W yaaa :DD
