Rated: T
Disclaimer: Karakter dan situasi seluruhnya milik Bunda Jo tercinta
Pairing: DraMione
Notes: GOMENASAAAAAIIIIIIIIIIIIIIII ! Maaf atas keterlambatan update yang sangat sangat sangat terlambat ini! *sujud nyembah-nyembah*. Shinju udah kerja sekarang, jadi bingung buat ngebagi waktu dan ngelanjutin fic ini. Jadi mohon maaaaaaaaaffff bgt yah. Tapi tenang, Shinju bakal tetep ngelanjutin fic ini sampai tamat ko dan Shinju usahain buat apdet secepat yang Shinju bisa. Shinju terdorong bwt terus ngelanjutin berkat reader semua yg baik hati. Shinju udah lama ngga apdet aja masih ada yg review, alert, sama favortiin fic Shinju ini. Huweeeeeee Shinju jadi terharu, Shinju Author yang jahat yah TT^TT. Makasiiiiiiiiih banget buat kalian semua. Terus baca fic Shinju ini ya, terus review, kritik dan saran kalian juga Shinju terima ko. Sekarang, selamat membacaaaaa… Semoga kalian suka. Mind to RnR?
Warning: OOC, GaJe, Typo, dll
My Enemy, My Rival, and My Love
BRAAAKKKK... bunyi pintu yang terjeblak terbuka mengagetkan penghuni yang berada di dalamnya. Blaise Zabini, Theodore Nott, dan Vincent Crabbe menoleh ke arah pintu dan mendapati seorang pemuda pirang berdiri di sana dengan wajah yang penuh emosi.
"Ada apa Draco, kenapa kau ke sini?" tanya Theo bingung.
"Bukan urusanmu Nott!" bentak Draco yang membuat Theo enggan bertanya lagi. Ia sangat paham watak sahabatnya itu, kalau ia sudah memanggilnya dengan nama keluarganya berarti ia sedang kesal atau marah. Dan kemarahan Draco yang kali ini sepertinya sesuatu hal yang sangat serius.
Draco berjalan cepat ke arah ranjang kosong yang tadinya memang miliknya itu sebelum ia pindah ke Asrama ketua murid dan langsung melemparkan tubuhnya untuk berbaring di atas ranjang tersebut.
"Demi Merlin, ada apa dengan pemuda yang satu ini. Datang-datang sudah marah-marah." keluh Blaise pelan, takut di dengar oleh Draco.
"Aku dengar itu Zabini!" teriak Draco kesal
Memilih untuk tidak memperparah mood Draco, Blaise akhirnya diam dan segera naik ke atas ranjangnya sendiri untuk tidur. Ia pikir, besok pasti ia akan segera tahu apa alasan Ketua Murid laki-laki mereka itu memilih untuk 'mengungsi' ke asrama Slytherin dan meninggalkan Ketua Murid perempuan sendirian di sana.
Paginya, begitu Blaise bangun, ia mendapati Draco sudah bangun terlebih dahulu – hal yang sangat jarang terjadi – dan hanya duduk diam di atas ranjangnya. Blaise menghampiri sahabatnya itu dan mencoba bertanya, "Ada apa denganmu sih mate?" dan yang di tanya hanya memalingkan wajahnya ke arah tembok batu.
"Tak mau bicara rupanya. Aahhh... terserah kau sajalah mate." kata Blaise menyerah.
"Ada apa sih dengannya?" tanya Theo sambil berbisik-bisik kepada Blaise, sedangkan Crabbe yang baru saja bangun langsung menyambar cemilannya lalu menatap bingung Draco sebentar, kemudian mengangkat bahu tak peduli dan melanjutkan kegiatan melahap kuenya itu.
Blaise yang ditanya Theo hanya bisa menggeleng dan mengangkat bahu. "Aneh." desis Theo sangat pelan.
Draco kemudian bangkit dari tempat tidur dan melangkah menuju kamar mandi. Setelah selesai mandi, Draco bersama Theo, Blaise, dan Crabbe bergegas ke Aula Besar untuk sarapan. Dan di depan pintu Aula, mereka bertemu dengan Hermione yang sedang berjalan sambil membawa buku-bukunya.
Draco membuang mukanya, menolak menatap Hermione yang tentu saja membuat teman-temannya kaget setengah mati. Tak pernah sekalipun Draco membuang muka saat berpapasan dengan Hermione, bahkan saat mereka berdua masih bermusuhan dulu. Draco yang dulu selalu menghampiri Hermione dengan gaya angkuhnya dan mengganggu gadis itu, bukan malah berpura-pura tidak melihatnya dan bersikap seolah-olah gadis itu tidak ada.
"Hei, ada apa ini? Ada apa dengan kalian berdua?" tanya Theo bingung.
"Bukan apa-apa Nott." kata Draco menjawab pertanyaan Theo dingin.
"Apanya yang tidak apa-apa? Kau bahkan memanggil Theo dengan Nott." kata Crabbe yang akhirnya mulai gusar dengan kelakuan Draco yang menurutnya aneh itu.
"Berisik!" bentak Draco. "Dan kau! Minggir! Kau menghalangi jalanku, Darah Lumpur!" kali ini Draco menatap Hermione dan membentaknya, membuat teman-temannya ternganga.
Hermione yang tidak tahu harus berbuat apa hanya bisa berdiri diam terpaku. Dan karena Hermione tidak juga bergerak, Draco berjalan dan menabrak pundak Hermione dengan keras dan kemudian berhenti untuk membersihkan bahunya yang baru saja bersentuhan dengan bahu Hermione, seolah bahunya itu dipenuhi dengan kotoran, kemudian ia masuk ke Aula.
Teman-teman Draco mengikutinya masuk ke Aula, tapi sebelumnya, mereka memberikan pandangan meminta maaf kepada Hermione.
-o0o-
Hermione bergegas masuk ke dalam toilet, seharusnya sekarang ia sudah berada di kelas Ramuan, tapi suasana hatinya sedang buruk, jadi ia memutuskan untuk membolos. Bloody Hell! Kalau sampai murid-murid Hogwarts tahu kalau Hermione Granger, Ketua Murid mereka, siswi terpintar dan yang paling mematuhi peraturan sekolah, akhirnya memutuskan untuk membolos, pasti akan terjadi kegemparan, pikir Hermione.
Tapi hari ini ia memang sedang sedih. Ia sedih karena – ugh – Draco Malfoy. Draco marah juga menjauhinya, dan yang lebih parah, Draco kembali memanggilnya Darah Lumpur dan bersikap kasar padanya.
Darah Lumpur, bukankah sejak kematian Voldemort status darah sudah dihapus? Sekarang sudah tidak ada lagi sebutan Darah Murni, Darah Campuran, Darah Pengkhianat, dan tentu saja Darah Lumpur. Tapi Draco kembali mengungkit-ungkit status darahnya.
Namun kalau dipikir-pikir, ini semua memang salahnya. Karena ia juga mengungkit tentang tanda kegelapan yang dimiliki Draco, dan sepertinya itu sama saja dengan Hermione masih menuduh Draco sebagai pelahap maut yang kejam. Padahal, Draco sudah berubah sekarang, menjadi lebih baik dan lebih bersahabat, terutama kepadanya. Tapi, kini semua itu lenyap karena ulahnya sendiri. Hermione hanya bisa menangis dan merutuki kebodohannya.
Hermione terus dan terus berpikir tentang sebuah cara agar Draco memaafkannya. Tapi semuanya selalu berakhir di jalan buntu. Apa harus ada Troll lagi yang masuk ke kamar mandi? Seperti saat ia bertengkar dengan Harry dan Ron di kelas satu. Hermione bergidik membayangkannya. Tidak. Ia tidak mau berurusan dengan makhluk itu. Lagipula, ini seorang 'Draco Malfoy', seorang pemuda bangsawan yang egois dan selalu mementingkan dirinya di atas orang lain, bukan Harry ataupun Ron, sahabat-sahabatnya yang rela mempertaruhkan nyawa mereka demi menyelamatkan dirinya.
Sekali lagi gadis berambut coklat itu menghela nafas. Kenapa sih ia harus bingung karena Draco marah kepadanya? Kenapa tidak ia biarkan saja? Tapi, saat ini ia merasa membutuhkan – oh ayolah – Draco Malfoy sebagai patner ketua muridnya. Hermione mengacak rambutnya frustasi. Ia sama sekali tidak mendapatkan ide untuk masalah ini. Berniat untuk menyerah dan pasrah akan keadaan, Ketua Murid perempuan itu pun keluar dari toilet dan bergegas menuju Asrama Gryffindor.
"Mione! Kemana saja kau tadi?" tanya Ginny segera setelah ia sampai di Ruang Rekreasi Gryffindor.
"Tidak kemana-mana Gin." jawab Hermione singkat.
"Tidak kemana-mana gimana? Kau tidak masuk kelas Ramuan tadi, kau kemana?" tuntut Ginny frustasi. Gadis Weasley itu sejak tadi mengkhawatirkan Hermione dan punya firasat bahwa terjadi sesuatu. "Ayolah Mione, ceritakan padaku." lanjut Ginny.
"Iya, tapi tidak disini. Nanti malam saja. Kau mau kan menginap di Asrama Ketua Murid?" tanya Hermione, membuat si gadis berambut merah mengangkat alisnya bingung. "Kau mau tidak?" tanya Hermione sekali lagi karena melihat Ginny hanya diam saja.
"Iya iya aku mau." Sahut Ginny yang masih diliputi perasaan bingung.
-o0o-
"Mate kau sebenarnya kenapa sih?" tanya Blaise pada Draco saat mereka berada di Ruang Rekreasi Slytherin. "Jangan membuatku bingung." lanjutnya.
"Tidak kenapa-kenapa." sahut Draco tak acuh.
"Tidak mungkin tidak ada apa-apa kan kalau melihat kau seperti ini?!" kata Blaise.
"Memang aku kenapa?" tanya Draco.
"Demi Celana Merlin! Mate, kau mengungsi ke asrama Slytherin! Sesuatu yang tidak pernah terjadi sebelumnya."
"Aku hanya bosan di Asrama ketua murid. Apa itu salah?" kata Draco membela diri.
Blaise memutar bola matanya sebelum melanjutkan, "dan kau memanggil Nona Gryffindor itu dengan sebutan Darah Lumpur lagi setelah semua yang terjadi."
"Apa itu salah? Dia memang Darah Lumpur kan? Sekali Darah Lumpur tetap Darah Lumpur." jawab Draco dingin.
"Terserah kau lah Mate!" kata Blaise menyerah kemudian meninggalkan pemuda pirang itu sendirian.
"Semua gara-gara kau Granger!" rutuk Draco pelan setelah Blaise pergi.
-o0o-
"Kau berhutang penjelasan padaku Hermione Jean Granger." kata Ginny saat mereka berdua sudah berada di ruang Rekreasi Ketua Murid.
"Aku tau Ginny, ini aku mau cerita!" kata Hermione sebal.
"Kalau begitu ceritalah." kata Ginny lagi yang disambut dengusan Hermione. Kemudian sang Ketua Murid perempuan pun menceritakan duduk perkara tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Draco.
"Kalian berdua ini.." kata Ginny gemas setelah mendengar cerita Hermione, "benar-benar bodoh." lanjutnya, membuat Hermione mendelik. "Kenapa sih kau sampai membahas tanda kegelapan milik Malfoy?" tanya Ginny tak sabar.
"Aku tidak sengaja..." ujar Hermione pelan.
"Tsk kau ini.. tentu saja dia marah padamu kalau begitu. Rasanya pasti sama seperti ketika dia menyebutmu Darah Lumpur." kata Ginny.
"Ia, tapi dimana adilnya coba? Aku hanya mengatakan itu sekali. Sedangkan dia? Hampir seumur hidupku di Hogwarts dia mengataiku Darah Lumpur." desis Hermione kesal.
"Kau lupa ya? Dia Malfoy, harga dirinya terlalu tinggi untuk dilecehkan, walaupun itu hanya sekali!" kata Ginny memperingatkan.
"Kau membelanya? Kau sama sekali tidak membantuku Ginevra Weasley!" dengus Hermione. Dan yang membuat Hermione semakin kesal adalah gadis Weasley itu malah tertawa terbahak-bahak.
"Hahaha maaf Mione... tapi ini lucu sekali... hahahahaha" tawa Ginny sampai ia mengeluarkan air mata.
"Apanya yang lucu?" tanya sang ketua murid perempuan sambil mendelik ke arah gadis berambut merah tersebut yang tentu saja akhirnya membuat gadis itu terdiam walaupun masih tetap tersenyum-senyum geli.
"Begini, masa kau, Hermione Granger, yang jelas-jelas gadis terpintar di Hogwarts, meminta bantuan kepadaku?" jawab Ginny.
"Loh memang kenapa? Memangnya ada masalah? Aku kan tidak ah-" kata-kata Hermione terpotong kembali karena gadis Weasley itu kembali tertawa terbahak-bahak. "Kenapa lagi sih Gin?" tuntut Hermione sebal.
"Maaf, maaf.. tapi kau segitu frustasinya ya? Hanya gara-gara Malfoy? Merlin... dunia sudah mau kiamat ya?" ledek Ginny.
"Jangan meledekku!" kata Hermione sambil menekuk wajahnya.
"Iya iya sudah.. jangan marah Mione. Aku akan membantumu." kata Ginny akhirnya.
"Terima kasih Gin. Tapi sekarang aku harus gimana kalau bertemu Malfoy?" tanya Hermione tidak bersemangat.
"Hmm.. aku tidak tahu. Mungkin sebaiknya kau menghindarinya dulu untuk sementara waktu." jawab Ginny.
"Aku rasa juga begitu."
Keheningan menyelimuti mereka berdua yang larut akan pikiran masing-masing, sampai akhirnya, "Kau jadi menginap kan Gin?" tanya Hermione.
"Ia jadi."
-o0o-
Seharian ini, seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, Hermione berusaha menghindari Draco. Bukan hal yang sulit sebenarnya, karena sepertinya Pangeran Slytherin itu juga sedang menghindari Hermione – atau tidak sudi bertemu? Kemungkinan terakhir membuat Hermione merasa sedih lagi. Hell ia sedih karena Draco Malfoy? Menggelengkan kepalanya, Hermione melangkahkan kakinya menuju menara Astronomi. Ia merasa ingin menyendiri dulu, dan ia memutuskan toilet bukanlah tempat yang baik untuk melakukan hal itu.
Seperti yang sudah diduganya, menara itu kosong. Hari sudah larut dan ia bisa melihat langit malam yang indah, dengan hamparan bintang-bintang yang cemerlang. Melihat pemandangan itu membuat sang Putri Gryffindor merasa sedikit lega. Ingin rasanya ia teriak, namun ia urungkan tentu saja. Ia tidak mau dengan bodohnya membangunkan penghuni Hogwarts yang sudah terbuai di alam mimpi dan memergoki dirinya – yang seorang Ketua Murid – melanggar jam malam dan menyusup masuk ke menara Astronomi – walaupun sebenarnya ia bisa berdalih sedang berpatroli.
Angin malam berhembus membelai lembut pipinya, gadis berambut cokelat lebat itu memejamkan mata untuk menikmati sensasi hembusan angin yang menerpa wajahnya. Bersandar pada dinding batu, tubuhnya seolah merasa lelah, akhirnya terduduk di lantai yang dingin. Matanya terasa berat dan perlahan mulai menutup, segalanya semakin terasa nyaman saat sebuah tangan yang kokoh mendekapnya erat dan memberinya kehangatan.
-o0o-
Hermione tersentak membuka mata, ia bangun dan memandang berkeliling. Ia berada di kamarnya. Bukankah semalam ia berada di Menara Astronomi? Siapa yang memindahkannya? Atau dirinya yang tanpa sadar berjalan sendiri kembali ke Asrama Ketua Murid? Tidak, tidak mungkin. Masa ia sama sekali tidak ingat. Kemudian ia teringat perasaan hangat saat seseorang mendekap tubuhnya. Ya benar, seseorang telah membawanya kembali ke kamarnya. Tapi siapa? Belum lagi perasaan hangat itu masih begitu terasa. Tanpa sadar ia memeluk tubuhnya sendiri. Sepertinya semalam ia berada dalam dekapan orang itu sepanjang tidurnya.
Gadis itu memaksa otak cemerlangnya berpikir. Siapa? Siapa orang itu? Ia berjalan mondar-mandir di dalam kamarnya. Tiba-tiba langkahnya terhenti. Memangnya siapa lagi yang tahu kata sandi untuk masuk Asrama ketua murid selain dirinya dan Malfoy. Terkejut dengan pemikiran yang baru saja terlintas di otaknya, Hermione sontak berlari ke arah kamar Draco. Dan tanpa mengetuk dulu, ia membuka pintunya dengan penuh harap. Tapi, yang ia dapati hanya kamar kosong. Ia berdiri terpaku di depan pintu kamar, harapannya sirna sudah. Menghela nafas, gadis itu melangkah gontai kembali ke kamarnya, bersiap-siap untuk menghadapi hari ini.
-o0o-
Hermione bertemu Draco di kelas Arhitmancy, tapi Draco tetap sama, tak acuh terhadapnya, seolah-olah ia tak ada. Dalam hati ingin rasanya ia menjerit. Bertengkar dan beradu argumen dengan Draco jauh lebih baik daripada tidak diacuhkan seperti ini. Ia merasa hampir gila dengan situasi ini. Terlebih saat ia teringat kalau ia berpikir bahwa Draco-lah yang mengantarnya kembali ke kamar. Jujur saja, ia merasa – ugh – senang membayangkan hal itu. Tapi Draco tetap dingin dan mengabaikannya. Sekalipun bicara, hanya kata-kata hinaan yang menyakitkan yang tak mampu ia balas.
Tanpa di duga, Draco menoleh ke arahnya dan menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan. Namun, saat Hermione balas menatapnya, Draco segera mengalihkan pandangannya dan kembali mengabaikannya.
"Mione, kau tak apa?" tanya Harry saat mereka bertemu di Ruang Rekreasi Gryffindor. Hermione membalasnya dengan gelengan kepala. "Kau terlihat pucat Mione." lanjut Harry.
"Aku tak apa Harry..." jawab Hermione memaksakan sebuah senyuman.
"Kau bisa cerita, Mione." kata Harry, tak ada jawaban, Hermione hanya menatap kosong perapian. "Apa ini ada hubungannya dengan Malfoy?" tanya Harry lagi, membuat Hermione tersentak dan segera memandang wajah sahabatnya itu.
"Aaah... Sudah kuduga, pasti Malfoy. Kalian berdua aneh belakangan ini."
"Aneh?"
Harry mengangguk, "Kalian tidak saling menyapa – bertengkar lebih tepatnya, dan kalian berdua terlihat murung."
"Murung? Malfoy murung?" Ia sama sekali tak menyadari kalau Malfoy juga murung.
"Ya, Mione. Kau tidak menyadarinya? Ada apa sebenarnya?" tanya Harry.
"Dia marah padaku" Hermione menunduk. Harry mengangkat sebelah alisnya dan raut wajahnya menunjukkan pertanyaan 'mengapa?'. "Karena aku... aku membahas tanda kegelapan di lengannya."
Harry menghela nafas, "Ia pasti sangat tersinggung." Hermione mengangguk pelan. Dengan lembut Harry membelai kepala sahabatnya itu. "Aku tidak menyalahkanmu ataupun Malfoy dalam hal ini. Kau pasti masih trauma, dan tanda kegelapan pasti akan mengingatkanmu pada masa-masa kelam yang pernah kita lalui. Dan Malfoy, ia pasti merasa dianggap penjahat saat seseorang mengungkit tanda kegelapan miliknya." merangkul pundak Hermione, Harry melanjutkan. "Bersabarlah Mione, Malfoy pasti akan segera melupakan kemarahannya dan semua akan kembali normal. Bersikaplah seperti Hermione yang biasa, aku sedih melihatmu terus-terusan murung, Ginny dan Ron juga pasti sedih Mione. Ingat kalau kau masih punya kami."
Hermione tertegun memandang Si-anak-yang-bertahan-hidup yang berada di sampingnya itu. Harry benar, ia tidak sendiri, ia masih memiliki sahabat-sahabatnya. Ia tidak boleh terus-terusan sedih dan mebuat sahabatnya ikut sedih juga. Harry tersenyum memandangnya, membuat Hermione langsung memeluknya dan menangis di dadanya, menumpahkan segala perasaanya. Harry kembali membelai rambut Hermione dengan sayang. Ia membiarkan gadis itu menangis dan terus menangis, karena ia tau, dengan begitu perasaannya akan lega dan kembali ceria lagi keesokan harinya.
Tiba-tiba matanya menangkap sesosok gadis berambut merah sedang memperhatikan mereka berdua, gadis itu tersenyum penuh pengertian ke arahnya dan ia balas tersenyum pada kekasihnya itu.
-o0o-
Pagi ini Hermione terbangun dengan perasaan yang jauh lebih baik. Setelah menangis semalaman, perasaanya benar-benar lega. Ia memang masih kecewa Draco belum juga kembali menempati kamarnya yang menandakan ia masih belum mau bertemu Hermione. Tapi toh, hari ini ia punya semangat baru tanpa harus memedulikan Draco Malfoy.
Ia sarapan di Aula Besar dengan wajah yang sumringah, membuat teman-temannya tersenyum senang melihat dirinya kembali menjadi Hermione yang biasa. Tapi memang, sebisa mungkin ia tidak berada di dekat anak-anak Slytherin terlebih jika ada Draco di sana. Ia tidak mau sampai harus 'berbicara' dengan Draco yang sekarang dan kemudian terluka lagi.
"Oh, Merlin. Dimana buku itu?" keluh sang putri Gryffindor. Ia mencari buku 'Mantra-mantra Populer dari Masa ke Masa' untuk mengerjakan PR Mantra-nya.
"Mencari sesuatu Hermione?" tanya seseorang yang berdiri di belakangnya. Hermione berbalik dan mendapati Cormac Mclaggen tengah tersenyum ke arahnya. Mencoba untuk sopan, Hermione balas tersenyum ke arahnya.
"Oh, hai Mac. Ak sedang mencari buku 'Mantra-mantra Populer dari Masa ke Masa' untuk melengkapi esaiku.
"Maksudmu buku ini?" tanya Mclaggen sambil menunjukkan sebuah buku yang di pegangnya. "Maaf, aku baru saja selesai memakai buku ini." lanjutnya.
"Oh, tidak apa-apa Mac. Boleh kupinjam?" tanya Hermione.
"Tentu saja."
Setelah mengambil buku itu, Hermione bergegas untuk pergi. Namun tangan Mclaggen menarik tangannya untuk menahannya. "Mau kemana?" tanyanya.
" –Er, ke Aula Besar untuk maka siang." jawab Hermione.
"Kita bisa pergi kesana bersama kalau begitu." sahut Mclaggen. Dan tanpa menunggu jawaban Hermione, ia menyeret gadis itu ke Aula Besar dan menggenggam tangannya.
Mereka tiba di Aula yang sudah penuh dengan anak-anak yang hendak makan siang. Kedatangan mereka yang tiba-tiba membuat seluruh anak memperhatikan mereka dan Hermione menduga, Mclaggen sengaja melakukan itu.
Dengan masih menggandeng tangan Hermione, Mclaggen menariknya ke meja Gryffindor. Tangan mereka yang saling bertaut membuat beberapa murid berbisik-bisik dan mulai menggosip.
Di meja Slytherin, Draco yang hendak menyuapkan potongan domba panggang ke mulutnya menghentikan pergerakannya saat melihat pemandangan tersebut. Ia membeku seketika. Nafsu makannya langsung hilang saat melihat Hermione bersama Mclaggen tiba di Aula besar. Ia membanting sendoknya, tidak jadi makan.
"Whoa! Kau kenapa mate?" tanya Blaise, sedangkan yang ditanya hanya diam dan cemberut. "Apa karena tuan putri datang dengan seekor kodok buruk rupa?" goda Blaise tak ayal membuat Draco mendengus geli.
"Hei hei hei... ada apa ini? Kukira kau kembali membenci Granger. Tapi sepertinya kau cemburu melihatnya bersama si kodok itu tadi." sambung Theo.
"Aku memang membencinya." sahut Draco datar.
"Ya ya ya... terserah kau lah mate. Aku tak mengerti apa maumu belakangan ini. Bersikap murung, marah-marah, dan sekarang cemburu."
"Aku tidak cemburu Blaise." balas Draco dan Blaise hanya mngangkat bahu kemudian melanjutkan makannya.
Draco mengambil kembali sendoknya dan menyuapkan beberapa potong domba panggang ke mulutnya dan kemudian berhenti, nafsu makannya benar-benar hilang. Dan sekarang ia memandang ke arah meja Gryffindor dan melihat Mclaggen yang sedang mengelap mulut Hermione, mencoba membersihkan sisa-sisa makanan di bibir gadis itu. Merasa muak, Draco berdiri dari tempat duduknya dan berjalan pergi meninggalkan Aula Besar.
-o0o-
Beberapa hari ini Draco menjadi sangat sibuk, ia terus menerus berlatih Quidditch untuk pertandingan melawan Ravenclaw. Ia bahkan mengabaikan tugasnya sebagai Ketua Murid, dan ia tak perlu repot-repot berdebat dan diomeli oleh Hermione karena sepertinya gadis itu enggan bicara dengannya, sama halnya dengan dirinya sendiri.
"Hei mate! Aku yakin kita pasti akan menang melawan Ravenclaw minggu depan." kata Blaise ceria. "Kita luar biasa!" lanjutnya lagi.
Draco menyeringai mendengar kata-kata Blaise. "Tentu saja, tapi itu saja tidak cukup. Target kita adalah Gryffindor."
"Yeah, dan kita pasti menang kali ini." tambah Theo yang tiba-tiba sudah berada di samping Blaise. Draco hanya menanggapi perkataan Theo dengan seringaian.
Dalam perjalanannya kembali ke Asrama Slytherin, Draco dan anggota Tim Quidditch Slytherin melihat Hermione yang membelakanginya – sepertinya – sedang bersembunyi dari seseorang. Ia berada di balik tembok, dan kepalanya sebentar-sebentar mengintip, takut kalau-kalau ada yang datang.
Draco menatapnya dari kejauhan dengan bingung, sebelah alisnya terangkat sebelum bertanya. "Sedang apa dia?"
"Sepertinya sedang bersembunyi." jawab Theo.
"Buat apa dia bersembunyi? Memangnya dia anak kecil yang sedang main petak umpet?" kata Draco sambil mengeluarkan dengusan mengejek.
Blaise menatap Draco dengan sebelah alis yang terangkat juga. "aku rasa dari Mclaggen mate."
"Mclaggen? Memangnya kenapa dengan Mclaggen?" kali ini Theo yang bertanya.
"Mclaggen mengejarnya Theo, kau tidak tahu?" tanya Blaise yang dijawab gelengan oleh Theo. "Yah, aku rasa dia memang sedang bersembunyi dari Mclaggen. Kemarin aku melihat cowok kodok itu sedang menyudutkannya, mencoba menciumnya secara paksa sepertinya." kata Blaise sambil terus menatap Draco, menunggu reaksinya.
Draco menatap Blaise dengan tatapan tidak percaya, dan tidak dapat dipungkiri, Blaise melihat kilatan amarah disana. "Untungnya aku lewat, dan si kodok itu langsung mundur dan pergi saat melihatku." lanjut Blaise sambil tersenyum.
Tatapan Draco sekarang kembali memperhatikan Hermione. Ia memandang gadis itu dengan khawatir. Tapi ia kemudian menghela nafas lega saat gadis itu berjalan pergi – kembali ke Asrama Ketua Murid sepertinya – tanpa ada yang mengikuti.
"Ada apa mate? Sepertinya kau lega akan sesuatu." tanya Blaise.
"Tidak." jawab Draco dingin dan Blaise hanya tersenyum penuh arti.
-o0o-
Hari itu begitu cerah, suasana di Hogwarts pun sedang ramai. Murid-murid terlihat sangat bersemangat akan suatu hal. Dan itu tentu saja karena pertandingan Quidditch Ravenclaw melawan Slytherin. Mereka semua berbondong-bondong ke lapangan Quidditch sehabis sarapan, tak sabar menanti pertandingan yang akan segera dimulai.
Berbeda dengan murid lainnya, seorang gadis malah berjalan menuju kamarnya yang berada di Asrama Ketua Murid, seolah tak terpengaruh akan euforia pertandingan tersebut. Ia menghempaskan tubuhnya di atas kasur yang empuk dan merenggangkan otot-ototnya yang tegang.
Ya, Hermione Granger, Ketua Murid Putri memutuskan untuk tidak menonton Quidditch hari karena ia tidak penasaran, dia sangat penasaran tentu saja, terlebih karena pemenang pertandingan hari ini nantinya akan melawan Gryffindor – asramanya – yang sudah lebih dulu menang dalam pertandingan Gryffindor melawan Hufflepuff .
Tapi hari ini dia merasa – entahlah – sepertinya enggan menonton pertandingan tersebut dan ingin istirahat di kamarnya. Perlahan rasa kantuk datang menyerang dan ia mulai terlelap.
Hermione terbangun saat mendengar teriakan riuh dari arah lapangan Quidditch. Pertandingan sepertinya sudah berlangsung cukup lama sejak ia tertidur tadi. Buru-buru Hermione berlari ke arah jendela, sepertinya ada sesuatu yang terjadi. Perasaannya tiba-tiba menjadi tidak enak, dan ia mengkhawatirkan Draco.
Terdengar gaung langkah kaki dengan sekelebat bayangan yang menampilkan sosok seorang gadis berambut coklat tengah berlari di sepanjang koridor Hogwarts. Sang Ketua Murid Putri terengah-egah saat mencapai lapangan Quidditch. Perasaannya tak menentu karena mengkhawatirkan seseorang. Dan benar saja, orang yang sedang ia khawatirkan itu tengah saling dorong di atas sapu terbang sambil berusaha mengejar sebuah benda – yang ia yakini sebagai snitch.
Mereka berdua terbang di ketinggian yang cukup mengkhawatirkan, sulit melihat dengan jelas apa yang terjadi di atas sana. Yang jelas, mereka berdua tengah bersaing untuk memperebutkan kemenangan atas asrama masing-masing. Lalu hal yang mendebarkan – sekaligus paling ditunggu-tunggu tiba – seseorang berhasil menangkap snitch itu dan mengklaim kemenangan bagi asramanya. Hermione terpekik senang saat mengetahui bahwa Draco-lah yang berhasil meangkap snitch.
Namun, tak lama setelahnya, kekhawatiran Hermione terbukti saat sebuah Bludger dengan ganasnya terlempar dan menyerang pemuda berambut pirang tersebut. "Awas!" pekik Hermione. Terlambat, Bludger itu menghantam Draco tepat di bahu kirinya. Kehilangan keseimbangan, Pangeran Slythrein tersebut jatuh dari sapunya dan terjun bebas ke arah tanah. Refleks Hermione mengangkat tangannya dan mengacungkan tongkat sihirnya.
-o0o-
Notes: Hmmm… gimana? Baguskah? Jelekkah? Cukup atau kurang memuaskan? Aaaahhh Shinju butuh pendapat kalian. Shinju ngga bisa menilai sendiri soalnya. Kalo buat Shinju sih, ngga akan ada puasnya, bakal terus ngerasa ada aja yang kurang T_T . Bagus jeleknya kalian yang nilai ya… Maaf kalo kurang memuaskan._.v. Di R.E.V.I.E.W yaaaaaaa…. :DD
