Rated:T

Disclaimer: Karakter dan situasi seluruhnya milik Bunda Jo tercinta

Pairing: DraMione

Notes:Setelah 3 tahun hiatus. Sempet ada kepikiran buat ngehapus FF yang ini dan bikin yang baru. Tapi kalo ngga bisa nyelesain sesuatu yang udah terlanjur dibuat, ngga ada jaminan bakal bisa nyelesain hal yang akan dibuat selanjutnya. Jadi Shinju akan berusaha untuk nyelesain ini. Maaf ya kalo feel-nya mungkin kurang ngena sama chapter-chapter sebelumnya. Gaya bahasa Shinju juga berubah soalnya. Mind to RnR?

Warning:OOC, GaJe, Typo, dll

My Enemy, My Rival, and My Love

Draco Malfoy jatuh dari ketinggian nyaris sepuluh meter di atas tanah. Beruntungnya, berkat ketanggapan Hermione yang menyihir sebuah matras dari udara kosong, Draco jatuh di atas matras tersebut – meski dengan bunyi debam yang keras – tanpa menambah cedera yang dialaminya.

Segera saja, anak-anak Slytherin turun ke lapangan dan merubungi Draco untuk melihat keadaannya, mereka khawatir akan cedera yang dialami oleh sang Pangeran Slytherin. Akan tetapi, kerumunan tersebut dibubarkan oleh Madam Hooch yang kemudian menyuruh anggota tim Slytherin yang lain untuk membawa Draco ke rumah sakit.

Setelah kehebohan yang berlangsung di lapangan Quidditch, saat ini Hermione berdiri di koridor dekat pintu rumah sakit, sengaja menjaga jarak dari kerumunan anak-anak Slytherin – yang mayoritas anak perempuan – yang masih ingin memastikan keadaan Draco. Mereka sebenarnya ingin masuk ke rumah sakit, akan tetapi dilarang oleh Madam Pomfrey atas keinginan Draco yang hanya memperbolehkan teman-teman dekatnya saja yang menjenguknya.

"Kau tidak ingin menemuinya, Granger?" tanya sebuah suara dari arah belakang yang mengejutkannya. Blaise Zabini. Blaise tidak sendirian, dia diikuti oleh Pansy Parkinson, Theodore Nott, dan Vincent Crabbe. Sepertinya mereka hendak menjenguk Draco.

"Ku-kurasa tidak, Zabini," jawab Hermione pelan seraya menggelengkan kepalanya sebelum kembali menatap pintu rumah sakit.

"Oh ayolah, aku tahu kalau yang tadi menyelamatkan Draco itu kau kan?" kali ini Pansy yang berbicara. "Aku melihatmu mengacungkan tongkat sesaat setelah Draco terhantam Bludger," lanjutnya saat Hermione menunjukkan ekspresi kaget.

"Menurutku, orang yang telah menolongnya adalah orang yang paling berhak untuk berada di sampingnya saat ini. Lagipula kau mengkhawatirkan keadaannya kan?" kata Pansy lagi.

Hermione menggelengkan kepalanya lemah, "Sebaiknya aku tidak menemuinya dulu, aku hanya akan membuatnya semakin parah. Lagipula aku pasti tidak akan diizinkan masuk."

"Omong kosong. Aku rasa tidak seperti itu, Draco pasti akan merasa senang kalau ada kau," desah Pansy.

"Terima kasih atas penghiburanmu, tapi sebaiknya aku kembali ke asrama Ketua Murid saja," kata Hermione cepat-cepat kemudian berjalan pergi, seperti yang dikatakannya, kembali ke asrama Ketua Murid.

"Oh, dia keras kepala sekali!" pekik Pansy gemas.

Sorenya Hermione kembali lagi ke rumah sakit, ia masih merasa khawatir akan keadaan Draco namun belum memiliki nyali untuk masuk dan menyapanya. Dirinya juga merasa akan segera diusir oleh Madam Pomfrey atas permintaan Draco begitu ia menampakkan diri di ambang pintu rumah sakit.

Tidak seperti sebelumnya, kali ini Hermione berdiri tepat di samping pintu masuk rumah sakit yang saat ini kosong tanpa gerombolan penasaran anak-anak Slytherin, ia bersandar pada dinding batu dengan pandangan menerawang menatap langit-langit. Menebak-nebak keadaan Draco saat ini. Berusaha agar tidak memikirkan kemungkinan terburuk.

Penasaran, Hermione mengintip melalui celah pintu yang terbuka dan mendapati pasangan Mr. dan Mrs. Malfoy – Narcissa dan Lucius – tengah berbincang di depan sebuah ranjang yang diduga merupakan ranjang Draco. Dari raut wajahnya, mereka tampak cemas dan sedih.

Hermione hendak menarik diri karena merasa bersalah telah berusaha mengintip pertemuan yang seharusnya merupakan pertemuan untuk keluarga. Namun pada saat itulah Narcissa menangkap pandangan matanya dan segera berjalan cepat ke arahnya.

"Miss Granger," sapa Narcissa, segera setelah ia membuka pintu dan mendapati Hermione berdiri di baliknya. "Sedang apa berdiri di sini?" tanyanya.

"Sial, seharusnya tadi aku langsung kabur," batin Hermione. Hermione memang sudah berniat untuk kabur, namun terlambat karena Narcissa Malfoy tiba di hadapannya begitu cepat.

"Apa kau ingin menjenguk Draco?" tanyanya lagi.

"Er, aku ti-", "Harusnya kau langsung masuk saja kalau ingin menjenguk Draco" Narcissa memotong ucapan Hermione sambil tersenyum.

"Aku tidak ingin mengganggu" jawab Hermione pelan.

"Tidak, tidak. Kami tidak akan terganggu jika penyelamat anak kami yang ingin menjenguk, ayo!" kata Narcissa cepat seraya menarik pergelangan tangan Hermione dan menyeretnya masuk ke dalam rumah sakit.

"Eh?"

"Aku sudah mendengarnya dari Miss Parkinson," ujar Narcissa sambil mengedipkan sebelah matanya.

"Draco, dear, Miss Granger datang untuk menjengukmu," kata Narcissa begitu tiba di depan ranjang Draco.

Draco yang saat ini tengah terbaring di ranjang rumah sakit tampak sangat lemas, wajahnya pucat karena shock yang dialaminya, dan dari tubuhnya yang saat ini tengah bertelanjang dada, Hermione dapat melihat perban yang membalut bahu kirinya. Draco menatapnya dengan tatapan yang tidak dapat diartikan.

"Mau apa kau?" tanyanya ketus.

"Bagaimana keadaanmu?" balas Hermione balik bertanya.

"Bukan urusanmu!"

"Oh, tulang bahu kirinya retak, tapi seharusnya dapat sembuh setelah tiga hari dengan minum obat rutin, saat ini Draco masih lemas karena tekanan udara yang tinggi saat ia terjatuh dan rasa shock akibat kelalaiannya, dan Draco, kau tidak boleh seperti itu terhadap orang yang telah menyelamatkan nyawamu," kata Narcissa lembut namun dengan nada yang memperingatkan. "Seperti yang sudah kubilang, Miss Granger datang ke sini untuk menjengukmu."

"Aku tidak butuh dijenguk oleh seorang Darah Lumpur," kata Draco sengit sambil memalingkan wajahnya, seolah tak sudi menatap Hermione yang membuat hati Hermione sakit berdenyut-denyut.

"Draco!" kata Narcissa keras. "Kau tidak boleh berkata begitu kepada Miss Granger!" lanjutnya kesal.

"Tapi dia memang seorang Darah Lumpur!" sentak Draco keras kepala.

"Dear, tolong bicara padanya," kata Narcissa meminta pertolongan pada suaminya dengan nada mengancam.

Lucius Malfoy berdehem, "Status darah sudah dihapus, Draco. Cobalah untuk belajar menghormati orang lain," katanya datar dan tanpa ekspresi, seolah kalimat tersebut diucapkan dengan setengah hati dan Draco hanya mendengus mendengarnya, sama sekali tidak mempercayai kalimat yang baru saja diucapkan oleh ayahnya itu.

"Sebaiknya aku pergi saja dari sini agar Draco Malfoy bisa lebih tenang dan dapat beristirahat dengan baik" kata Hermione pelan.

"Tidak!" sahut Narcissa cepat. "Kau tidak boleh pergi, kau harus tetap di sini dan menjaga Draco,"

"Apa?!" kata Hermione dan Draco bersamaan, menatap Narcissa tidak percaya.

"Karena tidak ada yang bisa kupercaya lagi untuk merawatmu selain Miss Granger. Sebenarnya aku bisa saja meminta tolong Miss Parkinson, tapi kurasa akan sangat tidak bijak untuk meminta bantuannya ketika aku sudah mendengar bahwa Miss Parkinson tengah menjalin hubungan dengan Mr. Zabini," terang Narcissa sambil tersenyum manis. "Kau tidak akan menolak permohonanku kan? Aku tidak akan bisa tenang meninggalkan Draco sendirian di sini jika aku belum yakin bahwa ada seseorang yang dapat kupercaya untuk menjaganya," terang Narcissa lebih kepada Hermione sambil menekankan kata 'kupercaya'.

"Aku bukan anak kecil lagi."

"Dear, kita tidak boleh memaksa Miss Granger untuk merawat Draco. Dia pasti memiliki urusan lain yang lebih penting dan kita tidak boleh menambah bebannya," kata Lucius yang diikuti oleh tatapan setuju dari Draco. Narcissa hanya membalas keduanya dengan delikan mata tajam yang dengan cepat membuat Lucius terdiam. Narcissa kemudian kembali menoleh ke arah Hermione sambil terus tersenyum dengan pandangan mata memohon.

"Er, Aku – oh, Merlin – baiklah! Aku akan berusaha merawat Draco hingga sembuh," kata Hermione menyerah. Sebenarnya dirinya juga – entah kenapa – tidak begitu ingin menolak permintaan Narcissa, justru di dalam hatinya ia merasakan sebersit rasa senang.

"Oh, terima kasih Miss Granger. Sekarang aku bisa pulang dengan tenang tanpa khawatir lagi. Aku akan meminta Madam Pomfrey agar memberimu izin untuk merawat Draco," kata Narcissa lega seraya memeluk Hermione yang terkejut karena mendapat pelukan tiba-tiba.

"Baiklah, kami sebaiknya pulang kalau begitu. Lucius masih memiliki banyak urusan yang harus segera diurus. Benar kan, Dear?" katanya Narcissa lagi sambil menatap Lucius, meminta dukungan atas kalimatnya. Lucius hanya mengangguk mengiyakan meskipun sekilas terlihat raut keengganan pada wajahnya. Sepertinya ia masih ingin bersama Draco dan memastikan pewaris tunggalnya itu baik-baik saja, dirinya tidak begitu mempercayai Granger untuk merawat puteranya.

Begitu Narcissa dan Lucius mulai melangkah untuk meninggalkan rumah sakit, Hermione juga beranjak untuk setidaknya mengantar pasangan Malfoy ini sampai ke depan pintu rumah sakit.

"Oh, tidak perlu Miss Granger. Kau di sini saja bersama Draco. Kami bisa langsung pergi setelah meminta Madam Pomfrey memberikan izinnya padamu agar kau boleh merawat Draco," kata Narcissa cepat-cepat, melarang Hermione pergi dari sisi Draco.

"Sampai jumpa, Dear," kata Narcissa seraya mencium pipi Draco dan membelai kepalanya sayang, "Sampai jumpa Miss Granger." Dengan itu Narcissa pergi diikuti oleh Lucius – setelah menepuk pundak anaknya dan memberi satu kali anggukan tidak nyaman untuk Hermione.

Sepeninggal pasangan Mr. dan Mrs. Malfoy dari bangsal rumah sakit, kini tinggal Hermione dan Draco berdua di tempat itu. Hermione berdiri canggung di depan kasur Draco, bingung harus bersikap dan berbuat apa. Di dalam hatinya ia mulai merutuki dirinya sendiri yang telah menerima begitu saja permintaan Narcissa Malfoy tanpa pikir panjang.

"Kenapa? Kau menyesal?" tanya Draco tiba-tiba, memecah keheningan. "Kau bisa pergi kalau kau mau."

"Aku tidak bisa, aku sudah berjanji," jawab Hermione.

"Untuk apa kau menepati janjimu kepada ibu seorang Pelahap Maut?" dengus Draco.

Hermione lama-kelamaan mulai kesal atas sikap Draco yang tidak juga membaik padanya dan sekarang mengungkit-ungkit kesalahannya kemarin, "Ibumu kan bukan Pelahap Maut sepertimu! Lagipula dia yang menyelamatkan Harry!" jawab Hermione ketus.

Draco membelalakkan matanya dengan ekspresi setengah terkejut setengah kesal atas perlawanan Hermione. "Tapi dia memintamu untuk merawat seorang pelahap maut!" kata Draco menekankan setiap suku kata pada kalimat yang diucapkannya, geram.

"Selama itu bukan permintaan seorang Pelahap Maut kurasa tidak masalah! Aku akan tetap di sini entah kau suka atau tidak! Aku juga tidak akan pergi meski kau berteriak-teriak mengusirku!" balas Hermione sengit sambil berjalan ke arah kursi yang berada di sebelah kasur Draco. Putri Gryffindor itu kemudian duduk dengan melipat tangannya di dada dan menyilangkan kakinya sebelum memberi tatapan menantang kepada si pirang Slytherin.

Hermione dan Draco saling mendelik satu sama lain, tidak ada yang mau mengalah, sama-sama keras kepala dan berusaha untuk saling menunjukkan kekesalan masing-masing.

Waktu segera berlalu dan dengan cepat sore berganti malam. Setelah memastikan Draco makan dan memaksanya untuk minum obat – yang sejak sore ditolak oleh Draco karena menurutnya obat itu sangat menjijikkan – Hermione meminta Draco untuk tidur dan beristirahat lebih cepat. Seolah lelah bertengkar, kali ini Draco menurut begitu saja dan mulai memejamkan matanya.

Hermione yang puas melihat Draco menuruti perintahnya, menyandarkan tubuhnya ke kursi dan berusaha untuk tidur juga. Akan tetapi, udara malam yang dingin dan posisi yang tidak nyaman membuat Hermione sulit untuk tidur. Berkali-kali ia bergerak dengan gelisah di kursinya.

"Kau mau tidur di atas kasur?" tanya Draco membuat Hermione membuka matanya.

"Madam Pomfrey akan membunuhku kalau aku berani tidur di atas kasur yang lain, aku kan bukan pasien," jawab Hermione pelan.

"Di kasurku kalau begitu," kata Draco yang menatapnya dengan mata mengantuk.

"Kau kan masih sakit, tidak mungkin kau tidur di kursi kan?" kata Hermione sambil menggelengkan kepalanya

"Siapa bilang aku akan tidur di kursi? Kau akan tidur di kasur ini bersamaku," balas Draco sengit dan membuat Hermione memberinya tatapan mencela meskipun terlihat jelas sorot mata keraguan dan ketakutan. "Tenang saja, aku tidak akan macam-macam. Kita akan tidur membelakangi satu sama lain," lanjut Draco.

Setelah menimbang-nimbang, demi kenyamanan dirinya sendiri, Hermione akhirnya menyetujui tawaran Draco, ia naik ke atas ranjang Draco dan berbaring dengan membelakangi Draco. Dalam kegelapan Hermione menatap tirai yang menjadi sekat antara kasur Draco dan kasur lain di bangsal rumah sakit sambil tersenyum. Meski dirinya dan Draco terus saja bertengkar sepanjang sore ini, dan meski Draco masih bersikap sangat ketus terhadapnya, setidaknya Draco sudah mau berbicara dengannya dan itu membuat Hermione merasa cukup senang. Kehangatan punggung Draco yang saat ini berada dibelakangnya perlahan membuat Hermione merasa nyaman dan mulai mengantuk.

Hermione bangun dengan tubuh yang terasa berat, secara perlahan ia membuka matanya dan mendapati dirinya masih terbaring di kasur rumah sakit. Ia mencoba untuk bangun, akan tetapi terasa ada sesuatu yang menahannya. Setelah sadar sepenuhnya, Hermione mendapati bahwa Draco kini tak lagi tidur membelakanginya, akan tetapi telah berbalik dan saat ini tengah memeluknya dari belakang. Hermione mencoba melepaskan tangan Draco dari pinggangnya, namun Pangeran Slytherin itu hanya bergerak sedikit sebelum semakin mempererat pelukannya.

Tiba-tiba kepala Hermione terasa pusing dan jantungnya juga berdebar sangat cepat."Mungkin efek terlalu lelah," pikirnya. Hermione kemudian menatap ke arah tangannya yang saat ini berada di atas tangan Draco yang melingkari pinggangnya. Pemandangan tersebut membuat debaran jantungnya berpacu lebih cepat lagi. Panik, Hermione menyentak tangan Draco dan langsung bangkit berdiri.

Draco yang terkejut perlahan-lahan membuka matanya. "Apa yang kau lakukan, Granger?" tanya Draco dengan pandangan yang masih mengantuk, sepertinya tidak sadar bahwa sampai beberapa detik yang lalu Draco masih tidur sambil memeluk Hermione.

"Tidak ada apa-apa! Sudah pagi, sepertinya aku harus segera bersiap-siap. Kalau tidak aku akan terlambat sarapan dan mengikuti kelas," jawab Hermione cepat. Draco menaikkan sebelah alisnya, curiga atas sikap Hermione yang terkesan gugup.

"Sudah ya, aku pergi dulu," kata Hermione yang dengan segera bergegas meninggalkan rumah sakit, tidak mau membuat Draco lebih curiga dan menyadari apa yang baru saja terjadi.

-o0o-

"Mione, kudengar kau diminta Mrs. Malfoy untuk merawat Draco Malfoy?" tanya Ginny saat Hermione sarapan di Aula besar. Pertanyaan itu nyaris membuat Hermione tersedak salad tunanya. Hermione hanya menjawab pertanyaan Ginny dengan tatapan kau-tahu-darimana.

"Well, kau tahukan gosip cepat beredar di Hogswart?" jawab Ginny sekenanya. "Dan apakah benar kau yang menyelamatkan Malfoy?" tanya Ginny lagi dan Hermione hanya mengangkat bahu.

"Kau seharusnya tidak perlu terlalu baik padanya, Mione. Tidak cukupkah dengan hanya menolongnya? Kau tidak harus merawatnya juga, kan? Memangnya dia terjatuh karena kesalahanmu?" sembur Ron tidak terima.

"Mengapa kau yang sewot, Ron?" rajuk Lavender.

"Bukan begitu, aku hanya tidak terima sahabatku diperlakukan seperti peri-rumah!" balas Ron sambil memasukkan sepotong ayam ke mulutnya.

"Dia hanya membenci Malfoy, Lav. Kau tenang saja," ketus Ginny.

"Malfoy tidak memperlakukanku seperti peri-rumah, Ron. Setidaknya dia sudah mau bicara padaku lagi," terang Hermione mencoba meyakinkan sahabat yang pernah menjadi kekasihnya itu.

"Bicara padamu? Untuk mengataimu Darah Lumpur lagi?" dengus Ron.

"Oh, tidak bisakah kau berbahagia sedikit untuk Hermione?" pekik Ginny kesal. "Harry, tak bisakah kau mengajari sahabatmu ini agar bisa sedikit ber-positive thinking kepada orang lain?" ujar Ginny meminta bantuan kekasihnya.

"Tidak kalau orang itu adalah Malfoy, Gin!"

"Ron, setidaknya Hermione tidak lagi merasa terbebani saat harus berpatroli dengan Malfoy. Mereka kan patner, akan sulit jika mereka masih tidak saling berbicara antara satu sama lain" kata Harry mencoba sedikit melunakkan prasangka Ron.

"Terserahlah, aku sudah memperingatkanmu, Mione," kata Ron menyerah.

"Hey! Cukup kalian semua! Jangan berbicara seolah-olah aku benar-benar senang merawat Malfoy!" kata Hermione gusar.

"Tapi kau memang senang kan, Mione? Buktinya tadi wajahmu berseri-seri saat mengatakan bahwa Malfoy sudah bicara lagi padamu," cecar Ginny.

"Aku memang senang, karena seperti kata Harry, aku akan merasa sangat terbebani jika masih tidak berbicara dengan Malfoy saat kami harus patroli berdua," kata Hermione memberi alasan.

"Oh, tidak bisakah kau sedikit lebih jujur?!"

Hermione hanya terdiam dan kembali menekuni salad tuna yang harus dihabiskannya. "Jadi apa yang terjadi, Mione?" tanya Ginny pantang menyerah.

Hermione mengangkat wajahnya hanya untuk memberi Ginny tatapan bingung. "Ayolah, jangan berpura-pura bodoh. Semalam kau menginap di rumah sakit untuk menemaninya kan? Apa yang terjadi?"

"Ginny..." desah Hermione lelah.

"Apa?! Kau menginap bersamanya?! Kau ini perempuan! Apa yang kau pikirkan, sih?! Bagaimana kalau orang-orang menganggapmu perempuan mu-"

"RON, CUKUP!" bentak Hermione dan Ginny bersamaan. "Aku bukan adikmu, Ron! Jadi jangan perlakukan aku dengan sikap kakak over protective-mu!" kata Hermione kesal.

"Sebagai adikmu, jangan pernah juga kau berpikir untuk mengaturku semacam itu, Ron! Atau aku akan mengutukmu dengan Kutukan-Kepak-Kelelawar!" ancam Ginny yang membuat Lavender terkikik namun memberi tatapan prihatin yang tidak meyakinkan kepada Ron saat kekasihnya itu menoleh ke arahnya. "Jadi? Apa yang terjadi?" tanya Ginny yang sudah menoleh ke arah Hermione lagi.

"Tidak ada yang terjadi, Gin. Tak bisakah kau berhenti mengarang yang tidak-tidak?"

"Aku tidak sedang mengarang, Mione. Aku melihat wajahmu sangat merah saat baru masuk ke Aula Besar. Pasti terjadi sesuatu."

Perkataan Ginny tersebut membuat Hermione mau tidak mau teringat kejadian di rumah sakit, saat ia terbangun dan mendapati Malfoy memeluknya dari belakang. Wajah Hermione mulai memanas.

"NAH! Ini dia yang kumaksud, wajah ini! Apa yang terjadi, Mione!" tuntut Ginny. Hermione hanya bisa memandang Ginny lelah. Kepekaan Ginny yang di atas rata-rata membuat Hermione merasa terpojok. Ia hanya berharap kali ini saja Ginny mengabaikannya.

"Cepat ceritakan padaku, Hermione Granger. Atau aku akan marah padamu."

-o0o-

Draco sudah boleh kembali ke Asrama Ketua Murid pada sore hari dan Hermione membantunya setelah menyelesaikan seluruh pelajaran hari itu. Madam Pomfrey memperingatkan Hermione untuk memastikan bahwa Draco akan menghabiskan obatnya meskipun nanti bahunya sudah bisa digerakkan.

"Kau mau minum apa?" tanya Hermione setelah mereka berdua sampai di Asrama Ketua Murid, sedang yang ditanya hanya diam saja menatapnya. "Malfooooooy! Hei, kau mau minum apa?" tanya Hermione lagi, kali ini sambil melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Draco.

"Lupakan itu. Sekarang lebih baik kau jelaskan padaku apa yang terjadi tadi pagi?" tanya Draco dingin.

"Ti-tidak ada," jawab Hermione terbata-bata. "Oh iya Malfoy, sekarang sudah waktunya kau minum obat kan?"

"Jangan coba-coba mengalihkan pembicaraan, Granger. Jelaskan padaku!" perintah Draco.

"Sudah kubilang tidak ada apa-apa! Aku baru ingat, aku ada tugas Herbologi, aku mau mengerjakan tugas dulu. Kau sebaiknya segera minum obatmu lalu pergi tidur," kata Hermione cepat seraya bergegas menuju kamarnya.

"Kau tidak bisa melarikan diri, Granger! Tidak dengan alasan murahan seperti itu!" Draco dengan cepat mengejarnya dan berhasil menangkap Hermione tepat sebelum ia menutup pintu kamarnya. "Cepat jelaskan padaku!" kali ini Draco memojokkan Hermione setelah memaksa masuk ke kamar gadis itu. Dengan tangan kanannya Draco memerangkap sang Puteri Gryffindor di antara dirinya dan dinding kamar Hermione.

Hermione menunduk untuk menghindari tatapan Draco, namun pada saat itulah Hermione menangkap sesuatu yang terpatri pada lengan kiri Draco dan seketika tatapannya berubah menjadi tatapan horor.

Draco mengikuti arah pandang Hermione dan mendapati bahwa gadis itu kini sedang menatap anda kegelapan yang berada di lengan kirinya. "Kau.." desis Draco marah sebelum kemudian berbalik untuk meninggalkan Hermione. "Kurasa kau tidak akan menjawab pertanyaan seorang Pelahap Maut!"

Sadar atas apa yang baru saja diperbuatnya, dengan panik Hermione menangkap tangan Draco untuk menahannya agar tidak pergi. "Maaf," bisik Hermione pelan, ia tidak mau mengulang kesalahan yang sama yang membuat Draco tidak mau berbicara kepadanya selama berminggu-minggu.

"Kau harus menjelaskan kejadian tadi pagi kalau begitu. Kau membuatku terbangun tiba-tiba dan tanganku sakit sekali saat itu," Hermione kembali menunduk, tidak mau menjawab pertanyaan Draco. Dia benar-benar sudah lelah menghadapi pertanyaan itu sejak tadi pagi. Ginny saja masih ngembek terhadapnya karena tidak mau menjawab pertanyaan itu, sekarang Malfoy yang menuntutnya untuk menjawab pertanyaan yang sama.

Dengan gerakan cepat gadis kebaangaan Gryffindor itu mendorong tubuh Draco yang saat ini sedang lengah. Draco terdorong mundur dan Hermione berlari melarikan diri ke seberang ruangan kamarnya. Geram, Draco kemudian mengejarnya dan detik berikutnya mereka berdua sudah berkejar-kejaran seperti sepasang kucing dan anjing mengelilingi kamar Hermione.

"Granger!" teriak Draco tak sabar setelah berhasil menangkap Hermione untuk kedua kalinya. Akan tetapi, gerakan Draco yang tiba-tiba itu membuat Hermione kehilangan keseimbangan sehingga tubuhnya membentur rak bukunya.

"Awas!" teriak Draco. Ia kemudian merunduk untuk melindungi Hermione agar tidak tertimpa buku-buku yang jatuh. "Cairan apa ini?" tanya Draco heran saat tubuhnya tersiram sesuatu. Rupanya tak hanya buku-buku saja yang berjatuhan dari rak Hermione, melainkan juga sebuah botol bening berisi sebuah cairan. Botol tersebut terjatuh dan pecah tepat di depan mereka, akan tetapi tutupnya yang terbuka saat jatuh membuat isinya menumpahi mereka berdua.

"Oh tidak..." kata Hermione dengan pekikan tertahan saat menyadari botol apa yang barusan pecah dan cairan yang menyiram mereka berdua.

"Ada apa?" tanya Draco heran.

"Oh tidak, oh tidak, oh tidak!" kata Hermione histeris, Draco hanya memberinya pandangan mencela seolah menganggapnya terlalu berlebihan dan penuh drama.

"RAMUAN LEKAT!"

-To be Continued-

Notes: Akhirnyaaaa! Alurnya terlalu cepatkah? Atau terlalu lambat? Sekali lagi maafkan Shinju yang baru kembali setelah 3 tahun lebih. Please R.E.V.I.E.W