Kuroko no Gakuen
Kuroko no Basuke merupakan milik Tadatoshi Fujimaki Sensei.
Author hanya menggunakan karakter yang dibuatnya sebagai bahan berimajinasi.
Pairing AkaKuro, Shonen Ai (jangan dibaca kalau tidak terbiasa), multichapter, cerita sedikit bertele-tele jadinya panjang, OOC
/Ini Fanfiction pertama newbie author jadi mohon bantuannya./
'…..' Pikiran karakter
"….." Pembicaraan karakter
/…../ Pesan penulis
Chapter 4 : Kencan Bersama (Part 1)
Pagi yang cerah datang menyapa Kuroko Tetsuya di tempat tidurnya. Pada hari Minggu itu, Ia terbangun cukup pagi jika dibandingkan dengan Minggu biasanya. Mungkin hal ini terjadi karena Ia akan pergi bersama temannya hari ini tapi ini bukan teman yang biasanya. Mereka bertemu dengan cara yang tidak biasa dan juga berteman dengan cara yang tidak biasa. Kuroko juga merasa bingung apakah Ia boleh menganggap Akashi sebagai temannya dan bagaimana pandangan Akashi terhadapnya.
Tadi malam Akashi meneleponnya untuk mengingatkan kembali mengenai rencana hari ini. Kuroko berpikir bahwa panggilan tersebut hanya sebentar dan sebenarnya Akashi hanya tinggal mengirimkannya email jika Ia hanya ingin mengingatkan dirinya. Tetapi panggilan tersebut berlangsung lama karena Akashi juga bertanya mengenai kabar Kuroko, apa saja yang dilakukannya hari ini, bagaimana hubungannya dengan teman sekelas, apa saja percakapannya dengan Rainbow Head, buku apa yang ingin dibelinya dan buku apa yang menjadi favoritnya. Kuroko tidak merasa keberatan untuk menjawab itu semua karena toh itu bukan rahasia yang harus disimpannya. Tapi Ia tidak menyangka kalau Akashi akan menanyakan banyak pertanyaan mengenai dirinya. Kuroko juga ingin bertanya kepada Akashi tapi Ia masih merasa segan dan belum ada saat yang tepat.
'Sebaiknya Aku langsung bangun saja.'
Kuroko bangun dan menuju ke bawah, mengucapkan selamat pagi pada ibunya dan melakukan aktivitas seperti biasanya sampai waktu menunjukkan baginya untuk berangkat. Kuroko berangkat lebih awal karena berpikir bahwa Akashi adalah seseorang yang sangat tepat waktu. Ia tidak mau terlambat. Kuroko tiba lebih cepat 10 menit dari waktu yang dijanjikan. Ia memutuskan untuk tetap menunggu di pintu masuk stasiun.
oOo
(Café Sebrang Stasiun)
Momoi Satsuku terlihat sedang memperhatikan seorang pemuda berambut biru muda yang menunggu di depan stasiun.
"Tetsu-kun sudah datang di depan stasiun. Ia datang lebih cepat, Kuroko memang teman yang baik."
Di sebelah Momoi duduklah seorang ganguro yang sedang memainkan handphone di tangannya. "Ia baru datang sekarang. Harusnya kita juga baru datang sekarang juga Satsuki."
"Tidak bisa Aomine-kun. Kita harus merencanakan seperti apa nanti saat kita mengikuti mereka."
Bersebrangan dengan Momoi terdapat pemuda berambut hijau yang juga memperhatikan pemua biru muda yang sedang menunggu tersebut. "Itu benar nanodayo. Kita harus menentukan kelompok karena kita akan mengikuti mereka secara terpisah. Tapi kita masih kekurangan dua orang lagi."
"Itu mudah. Kelompok 1: Midorima & Takao; Kelompok 2: Aku & Kagami; Kelompok 3: Satsuki, Kise, & Murasakibara." Aomine menjawab pertanyaan Midorima tanpa mengalihkan pandangannya dari layar handphone.
Kagami yang merasa namanya baru saja disebut merasa terpanggil dan menatap curiga orang yang duduk di sampingnya. "Kenapa Aku harus sekelompok denganmu Aomine?"
"Karena Aku memang ingin seperti itu. Kita berdua ini adalah ace, kita adalah kelompok terdepan untuk membuat kegiatan hari ini berhasil. Dan juga kita berdua sekelas dengan Kuroko sehingga kita paling terbiasa dengannya. Apa ada yang tidak setuju lagi?"
Dengan ekspresi yang biasa terpampang di wajahnya Takao menyetujui apa yang baru saja di dengarnya. "Aku senang bisa sekelompok dengan Shin-chan."
"Aku tidak keberatan nanodayo." Midorima menjawab sambil menaikan kacamatanya.
Sebagai satu – satunya orang yang belum bertemu teman sekelompoknya, tentu saja Momoi merasa cemas. "Aku tidak masalah. Tapi Aku tidak mau ditinggal sendiri disini jika mereka berdua benar-benar terlambat."
(5 menit kemudian)
"Maaf –ssu. Hah… hah… Aku terlambat. Tiba-tiba saja ada hal mendadak. Aah… capek." Kise Ryota datang dengan nafas terburu dan keringat yang mengalir di wajahnya.
Tanpa memberikan waktu istirahat Miorima langsung bertanya kepada Kise dengan nada sedikit ketus. "Ini sudah hampir waktunya mereka bertemu Kise. Kau yakin kalau Kuroko tidak melihatmu kan?"
"Eh… Kuroko-cchi sudah datang?"
"Sudah. Ia sudah menunggu di depan stasiun nanodayo."
"Tidak, kurasa Ia tidak melihatku –ssu. Ia tidak memperhatikan café ini."
"Aku akan segera menelepon Murasakibara nanodayo." Midorima langsung mengambil handphone-nya dan langsung memencet beberapa tombol.
oOo
Saat itu Kuroko sedang memperhatikan seorang anak SD yang sedang membaca jalur kereta api bersama anak lain yang terlihat lebih muda.
'Mungkin mereka adalah kakak-beradik yang ingin pergi ke suatu tempat.'
"Selamat pagi Tetsuya."
"Selamat pagi Akashi-kun."
Terlihat seorang pemuda berambut merah cerah yang sedang tersenyum ramah. Pemuda itu memakai celana jeans hitam dengan kaus merah yang dibalut jaket tipis berwarna putih.
"Apa kau sudah menunggu lama disini?"
"Tidak, Aku baru saja menunggu kira-kira lima menit."
"Ok, apa kau sudah siap melihat buku yang kau sukai?"
"Tentu saja sudah siap Akashi-kun."
"Ayo kita pergi Tetsuya."
(Café Sebrang Stasiun)
"Kau lama sekali Murasakibara. Akashi sudah sampai nanodayo."
Murasakibara datang dengan santai bersama benda – benda yang selalu setia dengan dirinya, berbagai macam cemilan.
"Maaf Mido-chin. Aku harus membeli snack kesukaanku dulu.~"
"Ah, mereka masuk kedalam stasiun. Kita harus segera bergerak." Momoi melihat Akashi dan Kuroko berjalan bersama memasuki stasiun.
"Momoi, Aku dan Takao akan mengikuti mereka terlebih dahulu. Kita tidak boleh kehilangan mereka nanodayo. Aku akan memberitahumu mengenai posisi mereka."
"Ok, Midorin. Berikutnya kau Kagami jadi kau harus bersiap-siap."
Midorima dan Takao segera keluar dari café dan berjalan ke stasiun.
"Baiklah, Aku akan bersembunyi dengan benar." (Kagami)
"…"
"…"
Aomine lalu bangkit dari tempat duuknya sambil melihat ke arah stasiun. Tentu saja Ia tidak lupa dengan pasangannya hari ini. "Ok, Kagami saatnya kita pergi. Kencan kita sudah dimulai."
"Ini bukan kencan Ahomine! Kenapa Aku harus membututi kencan orang lain jika Aku sendiri sedang berkencan."
"Ini kencan dengan gaya yang berbeda. Jadi Ayo segera bergerak!"
Kagami dan Aomine keluar dari café.
"Ki-chan, Mukkun sebentar lagi kita juga akan berangkat. Ki-chan pakai topi dan kacamata ini." Momoi lalu memberikan topi dan kacamata yang memang Ia siapkan untuk Kise.
oOo
(Di dalam Kereta)
"Takao melapor kepada Momoi. Pelaku sedang memojokkan Kuroko di dekat jendela dengan alasan kereta yang penuh. Ganti!" Sambil melihat ke sudut gerbong yang lain, Takao terkadang melapor kepada Momoi dengan bantuan headset yang ada di telinganya.
"Aomine kepada Satsuki. Aku ada di gerbong sebelah mereka tapi Aku tetap bisa melihatnya. Ganti." Aomine memantau Akashi dan Kuroko dengan melihat jendela di pintu antar gerbong.
"Bagaimana kau bisa berkomunikasi dengan Momoi, Aomine?" Kagami merasa curiga dengan Aomine yang berbicara sendiri di balik tudung jaket-nya.
"Ini salah satu walkie-talkie yang berhasil didapatkan Satsuki." Aomine lalu memperlihatkan walkie-talkie yang terhubung dengan headset di telinga Aomine. "Sangat berguna hah! Oh ya apa kau juga ingin kupojokkan ke dinding sama seperti mereka Kagami? Aku akan melindungimu, gerbong ini cukup ramai."
"Aku tidak butuh perlindunganmu Baka! Kenapa kau selalu saja menggodaku?" Kagami lalu menghalangi dirinya dengan Aomine karena Aomine bergerak menekati dirinya.
"Karena menggoda adalah salah satu cara pendekatan Bakagami. Mukamu yang bersemu merah itu terlihat cute, hampir sama dengan warna rambutmu."
"Lebih baik kau diam saja Ahomine!"
Saat itu Kuroko sedang berdiri menghadap ke jendela. Ia memperhatikan pantulan bayangan dirinya dan Akashi. Ia sadar bahwa Akashi sedang menatapnya. Ia tidak tahu harus berkata dan berbuat apa karena tatapan itu membuatnya tidak nyaman. Ia tidak biasa diperhatikan oleh orang selain keluarganya. Akhirnya Kuroko memutuskan untuk berbalik ke arah Akashi.
"Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku Akashi-kun?"
"Tidak ada Tetsuya. Aku hanya ingin memandangimu. Aku ingin merekam semua gerak-gerikmu."
"Aku tidak banyak melakukan pergerakan. Jadi Kau tidak perlu selalu memandangiku."
"Aku suka melihat reaksimu karena kupandangi terus Tetsuya."
Kuroko sedikit menghembuskan napas sebagai tanda tidak puas. 'Hah… kalau ini Aku tidak bisa berkata-kata lagi.'
Kuroko lalu menatap Akashi dengan serius. "Maaf Akashi-kun, tapi Aku merasa tidak nyaman kalau dipandangi terus-menerus."
"Aku akan selalu memandangi dan mengawasimu jadi kau harus terbiasa."
"Kau tidak boleh mengucapkan kata 'selalu' semudah itu Akashi-kun."
"Aku ini absolute Tetsuya. Jika Aku mengatakan 'selalu', itu karena hal tersebut memang akan selalu terjadi. Jadi kau tidak perlu mempersoalkannya lagi."
'Kenapa Ia selalu bisa mengunci rapat-rapat mulutku.'
Yang dipandangi dengan serius, ternyata hanya mengeluarkan senyum menggoda. Dan hal ini membuat Kuroko sedikit tiak senang.
"Karena Aku mengenalmu Tetsuya."
'Lagi-lagi Ia menjawab tanpa mendengarku berbicara. Kalau begitu Aku tidak perlu berbicara dengannya kan? Toh Ia sudah tahu apa yang kupikirkan.'
"Tidak Tetsuya. Aku tetap ingin mendengar suaramu."
"…"
"Aku ingin mendengarmu Tetsuya jadi jangan diam terus."
"Tentu saja Aku akan bicara. Kalau tidak, kau akan berbuat semaumu kepadaku."
"Aku suka pemikiranmu Tetsuya."
"Jangan berpikir yang aneh-aneh Akashi-kun."
oOo
"Takao kepada Momoi. Akashi berbicara kepada Kuroko dan Ia mengeluarkan senyum menyeramkan, mungkin Ia sedang menggoda Kuroko. Ganti."
Midorima berbicara dengan suara pelan sambil memperhatikan teman berambut merahnya yang sedang mengusili orang di depannya. "Matamu itu memang sangat berguna di saat seperti ini ya Takao."
"Tentu saja, Aku sering menggunakannya untuk mengawasi Shin-chan."
"Jangan membuat dirimu terlihat seperti stalker Takao."
"Tapi Aku ingin selalu melihatmu Shin-chan."
Midorima lalu mengalihkan pandangannya kepada Takao. "Kau membuatku merinding Takao."
"Hahaha… Kau tidak mungkin takut denganku Shin-chan, karena kau sudah menjinakanku."
"Aku tidak mau menjadi owner-mu nanodayo dan Aku tidak takut denganmu."
"Kau tidak perlu malu Shin-chan."
Takao lalu kembali memegang headset-nya dan mengarahkan benda tersebut pada mulutnya. "Takao kepada Momoi dan Aomine. Sepertinya mereka akan turun di stasiun berikutnya. Ganti."
oOo
Kuroko dan Akashi sampai di stasiun yang mereka tuju dan mulai berjalan keluar. Sekelebat rambut warna-warni yang ditutupi topi dan tudung terlihat samar. Mereka mulai berjalan ke arah toko buku yang dituju. Setelah sampai mereka segera menuju ke bagian novel yang ada di lantai dua.
"Aku tidak tahu kalau di sekitar sini ada toko buku Akashi-kun."
"Ini adalah toko buku langgananku. Toko buku ini memang jarang didatangi oleh anak SMA. Mereka banyak menjual buku lain yang tidak dijual di toko buku lainnya. Kau pasti akan menyukai tempat ini."
"Dari luar tempat ini memang lebih terlihat seperti klub membaca pribadi daripada toko buku. Suasananya tenang dan ada ruangan khusus untuk membaca. Ini tempat yang bagus. Terima kasih karena sudah mengajakku Akashi-kun. Aku jadi tahu lokasi tempat buku lain yang menyenangkan."
"Kalau kau mau, lain waktu Aku bisa mengajakmu ke tempat lain. Kita bisa mengaturnya untuk kencan kita yang berikutnya."
Kuroko menatap Akashi dengan heran. "Apa kau selalu menganggap kegiatan pergi bersama temanmu itu kencan? Dan lagi Aku juga tidak yakin apakah kita ini teman atau tidak."
"Tidak, Aku hanya melakukannya denganmu karena kau lebih spesial dari teman Tetsuya. Jadi kau tidak perlu bingung soal hal itu lagi."
"Kita belum kenal selama berbulan-bulan. Bagaimana bisa Aku lebih spesial dari teman?"
"Karena kau spesial maka kau tidak membutuhkan waktu berbulan-bulan. Aku sudah melihatmu sejak awal kita masuk sekolah jadi itu bukan masalah."
"Maaf, tapi Aku tidak mempunyai pandangan yang sama denganmu."
"Sekarang memang belum tapi nanti kau akan mempunyai pandangan yang sama."
'Aku tidak mengerti apa yang dibicarakannya.' Kuroko lalu mengalihkan pandangannya dari Akashi.
"Nanti kau akan mengerti Tetsuya."
'Dia mulai lagi.'
"Membaca pikiranmu merupakan suatu tantangan tersendiri bagiku. Aku tidak bisa menghentikannya."
"Hah… sulit sekali untuk mengalahkanmu Akashi-kun."
Akashi tertawa kecil setelah mendengar pendapat Kuroko. "Kau sudah tahu moto hidupku Tetsuya."
(Di luar toko buku)
"Kita tidak bisa masuk begitu saja ke tempat ini, kita akan dicurigai nanodayo. Tempat ini tidak cukup ramai untuk menutupi kita. Sebaiknya tiga orang saja yang masuk."
Midorima memperhatikan toko buku sambil bersembunyi di balik gang kecil. Teman – temannya berkumpul di samping dan di belakang sambil memperhatikan tempat yang terlihat cukup elegan untuk ukuran mereka.
"Aku tidak tertarik dengan tempat ini, kalian saja yang masuk. Kami akan menunggu diluar. Ayo Bakagami!" Aomine lalu berjalan keluar dari gang sambil menarik pakaian Kagami.
Kagami langsung menarik tangan Aomine untuk lepas dari pakaiannya. "Memangnya kenapa kau harus tertarik dengan tempat ini?! Bodoh! Yang terpenting itu mengawasi Kuroko."
"Sudah-sudah. Ayo kita menunggu disana saja, Bakagami sayang."
"Aku bukan perempuan!"
Kagami tidak terima dengan perkataan Aomine sehingga Ia mengikutinya untuk berdebat. Kagami dan Aomine meninggalkan grup Rainbow Head.
"Aku juga tidak mau masuk~. Aku tidak bisa makan disana." Murasakibara melihat cemilannya dengan serius. Ia juga berpikir kira – kira cemilan apa yang Ia makan selanjutnya.
"Hah… Aku kurang begitu cocok dengan tempat ini –ssu."
"Baiklah, ayo kita masuk Midorin, Takao-kun!"
Momoi, Takao, dan Midorima masuk kedalam toko buku.
oOo
''Akashi-kun, Aku ingin melihat bagian yang lain."
"Baiklah Tetsuya. Ayo kita kesana."
Di balik rak – rak buku yang cukup tinggi terlihat dua orang pemuda dan seorang gadis yang tidak tertarik dengan buku sama sekali meskipun mereka ada di toko buku. Perhatian mereka justru tertuju kepada dua remaja yang mungkin bisa disebut sebagai sepasang saudara.
"Kyaaa! Mereka terlihat sangat dekat dan terlihat seperti pasangan normal." Dalam hati Momoi sedikit terkejut karena melihat sisi temannya yang berbeda dengan biasanya. Akashi terlihat berbeda kalau sudah berhadapan dengan Kuroko.
Midorima menaikan kacamatanya dan memberikan komentar. "Mereka tidak terlihat normal nanodayo. Kuroko tidak menunjukkan ekspresinya sama sekali dan Akashi seperti mengeluarkan seringai yang tersembunyi. Ini seperti melihat singa yang berjalan dengan kelinci aneh. Si Kelinci tidak begitu peduli dengan Si Singa dan Si Singa sedang memikirkan cara terbaik untuk memakannya."
"Imaginasimu cukup hebat Shin-chan." Takao berusaha menahan tawanya. Ini baru pertama kalinya Ia mendengar temannya yang serius tersebut berimajinasi.
"Mereka terlihat serasi meskipun Akashi-kun sedikit berbahaya tapi itulah cinta." Momoi menatap kedua temannya di sebrang seperti sedang menonton film drama.
"Aku lebih melihat obsesi daripada cinta nanodayo."
"Ternyata kau cukup mengerti hal seperti ini Shin-chan."
"…"
"Midorin, Takao-kun, kita mendekat ke rak yang ada disana."
Kuroko dan Akashi mengelilingi beberapa bagian yang ada di toko buku tersebut kemudian Takao, Midorima, dan Momoi yang mengikuti dari belakang. Sesekali Akashi mencoba untuk melihat ke arah penguntitnya tetapi Midorima selalu menyadarinya lebih dulu sehingga mereka bisa langsung bersembunyi.
"Akashi-kun menyeramkan~. Ia mengeluarkan aura gelap sambil melihat kemari. Apakah kita sudah ketahuan?" Momoi merasa cemas melihat keadaan mereka yang hampir saja ketahuan.
"Kurasa belum nanodayo. Kalau Ia sudah mengetahuinya Ia akan langsung mengirimkan pesan mengancam kepada kita untuk berhenti."
"Kurasa kita harus mengikutinya dengan jarak yang lebih jauh lagi Shin-chan."
"Mereka sepertinya menuju ke ruang baca nanodayo. Kita akan mudah terlihat jika masuk kesana. Sebaiknya kita segera keluar Momoi. Kita bisa melihat mereka dari café yang ada disana. Ruang baca terlihat dari luar karena mengunakan kaca besar."
Momoi, Takao, dan Midorima segera keluar dan berjalan ke café. Disana ternyata sudah ada Aomine dan Kagami. Mereka sudah duduk berdua di dekat jendela dan merupakan tempat yang cocok untuk mengawasi toko buku tersebut.
"Jadi dari tadi kalian disini Kagamin?" Momoi berbicara sambil bertolak pinggang. Ia lalu melihat teman kecilnya yang sedang meminum minumannya. Momoi berharap semoga Aomine tidak menyusahkan Kagami tadi.
"Tidak, tadi kami berjalan – jalan kesana sebentar. Bagaimana dengan Kuroko dan Akashi?"
"Mereka mencari buku dan melihat – lihat sekeliling toko. Akashi beberapa kali merasa curiga jika ada yang mengawasi mereka tapi sepertinya kami belum ketahuan nanodayo."
"Apa ada yang mencurigakan dengan mereka?" (Kagami)
"Tetsu-kun bersikap seperti biasa, tanpa ekspresi dan Akashi-kun memang selalu terlihat mencurigakan."
Aomine akhirnya mulai memandang teman – temannya yang baru saja datang. "Berarti Akashi belum berbuat apa-apa kepada Tetsu kan?"
"Akashi tidak akan melakukan kegiatan yang mencolok dan sembrono nanodayo. Ia akan menyerang mentalnya secara diam-diam."
"Hah… hal seperti itu takkan pernah bisa kita cegah." (Aomine)
"Mana Kise dan Murasakibara?"
"Seperti biasa, Murasakibara membeli cemilan dan Kise ikut supaya dia bisa jalan-jalan. Dia memang tidak bisa diam." (Kagami)
"Ah Tetsu-kun duduk disana." Momoi berhasil melihat rambut Kuroko dari kejauhan.
oOo
Sementara itu dengan Kuroko dan Akashi.
"Kita bisa duduk disini Tetsuya. Tempat ini tidak terlalu dekat dengan jendela."
Akashi menunjuk salah satu tempat bagian belakang. Mereka lalu berjalan mendekati tempat tersebut dan mulai duduk dengan posisi berhadapan.
"Buku seperti apa yang kau beli Akashi-kun?"
"Ini buku mengenai psikologi manusia, ditulis oleh psikiater yang sudah bekerja diluar negeri selama 30 tahun. Didalam buku ini juga disertakan cerita mengenai pasien-pasien yang pernah ditanganinya."
"Jadi kau tertarik dengan buku seperti itu Akashi-kun?"
"Ya, Aku tertarik mengenai cara bagaimana manusia berpikir lalu bertindak."
"Hm, Aku tidak begitu mengerti mengenai apa yang dipikirkan seseorang. Aku hanya melihat kira-kira kebiasaan seperti apa yang dikeluarkannya pada suatu situasi. Dari sana Aku memperkirakan seperti apa dirinya dan kira – kira apa yang dipikirkannya."
Akashi selalu merasa senang setiap kali mendengar perkataan Kuroko mengenai dirinya sendiri. Ia bisa mendapatkan informasi yang sulit untuk dicari.
"Apa pendapatmu mengenai diriku Tetsuya?"
"Kau masih misteri bagiku Akashi-kun. Kau masih belum menunjukkan kepadaku semua yang ada dirimu. Kau menunjukkan dirimu sebagai siswa teladan yang populer dan dapat diandalkan tetapi mungkin kau hanya tidak mau kalah dengan orang-orang di sekitarmu. Kau selalu ingin jadi yang terbaik, kau selalu menganggap dirimu benar karena itu semua orang harus mendengarkanmu."
"Kau mengenal moto hidupku dengan baik Tetsuya."
"Tetapi kau terlihat arogan Akashi-kun. Dan terkadang orang lain menjadi sedikit takut denganmu."
"Aku tidak arogan Tetsuya. Aku hanya mengatakan hal yang memang ada dalam diriku. Aku hanya jujur bukan menyombongkan diri. Dan kau tidak perlu takut denganku, Aku tidak akan menyakitimu."
"Tetapi tidak mungkin ada orang yang tidak pernah kalah atau salah Akashi-kun?"
"Aku tidak pernah kalah sebelum ini Tetsuya dan Aku akan membuat hal itu terus berlanjut. Seorang Akashi tidak boleh kalah."
"Hm… saat ini Aku tidak bisa berkata apa-apa lagi."
"Ok, bagaimana kalau sekarang kau membaca bukumu dan ceritakan padaku apa yang sudah kau baca."
"Kau tidak mau membaca buku ini? Kau tidak masalah dengan spoiler?"
"Aku suka mendengarmu bercerita, itu tidak masalah Tetsuya."
"Hm, baiklah."
Akashi dan Kuroko masing-masing mulai membaca bukunya. Sementara itu dengan kelompok Rainbow Head yang mengawasi di café, mereka semua sudah berkumpul secara lengkap. Murasakibara sudah membeli cemilan yang diperlukannya dan sekarang Ia sedang makan kue. Yang lain mulai bergantian mengawasi dengan teropong yang dibawa Momoi.
"Mereka sekarang sedang membaca buku. Terkadang Akashi berhenti membaca dan memandangi Tetsu. Ternyata lucu juga melihatnya seperti itu dengan Tetsu. Aku tidak percaya kalau Ia akan tertarik dengan Tetsu atau mungkin karena itu Tetsu makanya Ia bisa tertarik."
Di bagian ujung bangku terlihat pemuda rambut kuning yang sedang ngambek dengan mata sedikit berkaca – kaca. "Tidak! Akashi-cchi mau mengambil Kuroko-cchi –ssu. Hiks…hiks…"
"Tetsu-kun memang menarik Aomine-kun. Kau harus belajar menyukai seseorang dengan serius jika mau mengerti." (Momoi)
"Kurasa Aku tidak pernah main-main Satsuki."
"Aku yang pertama kali tertarik dengan Kuroko-cchi –ssu! Dia tidak boleh mengambilnya begitu saja. Hiks…hiks…"
Kagami lalu menatap Aomine dengan tatapan mengejek. "Kau bermain dengan Mai-chan, Aomine. Kau tidak boleh seenaknya memikirkan wanita dengan pikiran yang kotor."
"Itu hanya hobi dan apa kau cemburu Kagami? Aku bisa berhenti bermain dengan Mai-chan tetapi kau harus jadi penggantinya." Sekarang giliran Aomine yang tersenyum mengejek meski dengan tatapan yang hangat.
Kagami langsung naik pitam dengan muka yang ingin menyaingin warna rambutnya. "Aku ini bukan wanita Ahomine! Kenapa kau selalu menggodaku!"
"Kyaaa! Aomine-kun menggoda Kagamin!"
"Huwah…! Akashi-cchi memandangi Kuroko-cchi lagi –ssu." Sekarang teropong sudah berpindah ke tangan Kise.
"Karena Aku ingin dan suka melakukannya Kagami. Dengan begitu perhatianmu akan ada padaku." (Aomine)
"Aku tidak mau bicara lagi denganmu Ahomine!"
"Aku suka wajahmu yang merah itu Bakagami."
"…"
"Hahaha… kalian melakukannya lagi. Aku tidak percaya kalian melakukannya di depan kami. Apakah mereka selalu seperti ini Shin-chan?" Hari ini Takao merasa puas karena Ia bisa banyak tertawa dengan hanya melihat ke orang – orang di dekatnya.
Midorima hanya menghela napas setelah melihat kelakuan Aomine dan Kagami. "Mereka bodoh jadi tidak ada yang bisa kita lakukan lagi Takao."
"Apa yang harus kulakukan –ssu? Kuroko-cchi tidak boleh tertangkap oleh Akashi-cchi. Hiks… hiks…"
"Aku tidak bodoh Midorima! Kalau Aomine memang iya." (Kagami)
"Tapi Kagami tidak masalah kalau Aku bodoh kan?" (Aomine)
"…" Kagami mencoba untuk diam tetapi akhirnya Ia berbicara juga. "Sudah kubilang kalau Aku tidak mau bicara lagi denganmu, Ahomine."
"Aku ini bodoh Bakagami." (Aomine)
"…"
Takao langsung tertawa lagi. "Hahaha… mereka melakukannya lagi Shin-chan. Aku tidak akan pernah bosan kalau seperti ini."
Kise yang dari tadi diabaikan akhirnya bertanya langsung kepada teman – temannya. "Kenapa kalian tidak ada yang peduli denganku dan Kuroko-cchi –ssu?"
"Aku peduli dengan Tetsu tapi tidak denganmu Kise."
"Tetsu-kun itu spesial, Ia tidak akan semudah itu tertarik dengan Akashi-kun, Ki-chan."
"Bagaimana bisa Kuroko tertarik denganmu kalau kau selalu menangis terus Kise." (Kagami) / Maaf Kise! Author selalu membuatmu menagis. /
"Kuroko pernah bilang kalau Ia tidak suka denganmu nanodayo. Jadi kau menyerah saja Kise."
"Kau tidak boleh menyuruh orang lain menyerah semudah itu, Shin-chan. Kau harus menyuruh Kise mencoba dulu lalu Ia baru akan benar-benar sadar dengan kenyataan yang sebenarnya."
"Itu sama saja menyuruhnya kalah Takao."
"Kalian jahat sekali –ssu!"
"Kise-chin~ kalau kau selalu memberiku cemilan, Aku akan peduli denganmu."
"Huwah! Kalian semua memang jahat –ssu!"
.
.
.
*Wah! Chapter yang ini jadinya panjang banget.
*Jika ada typo, bisa langsung beritahu.
*Jangan lupa reviewnya, saran & kritik pasti diterima
*Waktu update selanjutnya belum ditentukan
