Kuroko no Gakuen
Kuroko no Basuke merupakan milik Tadatoshi Fujimaki Sensei.
Author hanya menggunakan karakter yang dibuatnya sebagai bahan berimajinasi.
Pairing AkaKuro, Shonen Ai (jangan dibaca kalau tidak terbiasa), multichapter, cerita sedikit bertele-tele jadinya panjang, OOC
/Ini Fanfiction pertama newbie author jadi mohon bantuannya./
'…..' Pikiran karakter
"….." Pembicaraan karakter
/…../ Pesan penulis
love akashi-kun : Iya, susah banget ngebuat karakter ngak keluar jalur. Di fanfic ini Akashi tidak dibuat menjadi oreshi & bokushi tapi karakternya lebih ke yang bokushi.
Makasih buat review-nya
Chapter 6 : Belajar Darimu (Part 1)
Hari ini kelas 1-B mempunyai jam pelajaran olahraga yang sama dengan kelas 1-A. Siswa laki-laki akan melakukan basket di gymnasium dan siswa perempuan akan melakukan renang. Kuroko Tetsuya bersama-sama dengan Aomine Daiki dan Kagami Taiga berjalan bersama – sama menuju gymnasium. Aomine dan Kagami merasa sangat senang karena bisa bermain basket dalam pelajaran. Mereka bahkan merencanakan untuk one on one jika mereka diberikan waktu bebas. Kuroko tidak begitu ahli dalam pelajaran olahraga, oleh karena itu Ia merasa biasa – biasa saja. Tetapi hari ini kedua temannya berjanji untuk mengajarkan basket padanya.
"Jadi pada hari ini kita akan melakukan pelajaran olahraga bersama karena siswa perempuan melakukan pelajaran renang. Kalian juga akan melakukan kelas bersama lagi saat pelajaran renang berikutnya dan olahraga lain dengan tempat yang terbatas. Sekarang kita akan melakukan pemanasan secara berpasangan jadi bergabunglah dengan salah satu teman kalian." (Sensei)
Tiap murid mulai mencari pasangannya masing-masing. Kuroko yang mempunyai hawa keberadaan yang tipis biasanya baru mendapat pasangan di saat terakhir karena tidak ada yang sadar dengan keberadaan dirinya.
"Selamat pagi Tetsuya! Ayo kita melakukan pemanasan bersama."
"Ah, selamat pagi Akashi-kun! Um… baiklah, jadi selama ini Akashi-kun ada di kelas sebelah."
Akashi kemudian merasa sedikit kecewa. "Apakah diriku tidak cukup menarik sehingga kau tidak mencari tahu kelasku?"
Kuroko lalu memberikan ekspresi sedikit bingung. "Bukan begitu Akashi-kun. Sepertinya dulu Aku sudah pernah tahu kelasmu tapi Aku melupakannya begitu saja."
"Jadi kau mudah melupakanku Tetsuya. Baiklah, mulai hari ini kita akan lebih sering melakukan kegiatan bersama. Siang ini Aku akan makan siang bersamamu jadi Aku akan menemuimu di kelas nanti."
"Eh? Kau tidak perlu melakukan hal seperti itu. Kurasa Aku tidak akan melupakanmu dengan mudah lagi sekarang."
"Tidak. Kuantitas dalam berinteraksi merupakan hal yang penting untuk membentuk suatu hubungan. Jadi kita harus lebih sering bersama lagi."
'Hm, Aku tidak mengerti. Memangnya hubungan seperti apa?'
"Baiklah, ayo kita mulai pemanasannya. Kalian harus mengikuti gerakanku!" (Sensei)
Pemanasan segera dimulai dan pembicaraan mereka berdua terpotong. Setelah itu mereka semua diminta untuk berlari mengelilingi gymnasium selama 20 menit. Setelah berlari, mereka kembali ke bagian tengah gymnasium dan beristirahat selama 2 menit lalu melakukan latihan dribble.
Akashi masih terus menempel dengan Kuroko yang sedang terengah – engah. "Tetsuya apa kau ingin menjadi lebih baik dalam basket?"
"Ah, Aku mau Akashi-kun. Aku tidak terlalu pintar dalam olahraga."
"Kalau begitu kemarilah. Aku akan melatihmu."
Akashi kemudian melatih Kuroko dasar-dasar men-dribble bola. Kuroko menuruti semua apa yang dikatakan Akashi.
"Akashi-kun sepertinya kau terlalu dekat."
"Harus seperti ini jika sedang mengajarimu Tetsuya."
Dari kejauhan terlihat Aomine dan Kagami.
Aomine yang berdiri di sebelah Kagami mulai memperhatikan Akashi yang sedang melakukan pendekatan. "Akashi benar-benar memanfaatkan kesempatannya dengan baik ya Kagami."
"Hm, benarkah? Bagiku Ia hanya terlihat seperti pelatih yang sangat antusias terhadap muridnya, Aomine."
"Jadi bagimu terlihat seperti itu." Aomine menatap Kagami dengan heran. "Aku juga bisa menjadi pelatih yang sangat antusias bagimu. Mau coba?"
Kagami langsung menolak Aomine. "Tidak. Tidak mungkin Aku meminta rivalku untuk melatihku. Lagi pula gayamu itu freestyle."
"Kalau begitu Aku bisa mengajarkan hal lain."
"Aku tidak mau diajari oleh Ahomine."
"Justru karena kau Bakagami makanya harus diajari."
Setelah latihan dribble selesai. Mereka lanjut dengan latihan passing. Kuroko berpasangan dengan Akashi lagi.
"Supaya passing-mu bisa ditangkap dengan baik, akan lebih baik jika kau melakukan kontak terlebih dahulu dengan rekan tim-mu."
"Baik Akashi-kun."
Sekarang giliran Midorima dan Takao yang terlihat dari kejauhan.
Sambil mengambil bola Takao mengambil kesempatan untuk berbicara dengan Midorima. "Kenapa hanya Kuroko dan Akashi yang melakukan latihan secara berdua, Shin-chan?"
"Akashi meminta izin Sensei untuk memberikan latihan khusus bagi Kuroko." Midorima lalu mengoper bola yang dipegangnya dengan mantap.
"Jadi Ia juga bisa mempengaruhi guru. Shin-chan, kau tidak meminta izin juga supaya bisa berlatih denganku."
"Kenapa Aku harus melakukan itu nanodayo lagipula kau juga tidak pernah minta. Kau harus bertanya dulu, selain itu latihan khusus sebaiknya dilakukan setelah latihan inti selesai."
"Hahaha… Shin-chan memang perhatian. Tapi apa kau tidak capek kalau kau melatihku setelah latihan club-mu selesai?"
"Kau tahu kalau Aku terkadang suka latihan sendiri setelah latihan club-ku selesai. Kau bisa datang saat itu jadi kau tidak usah menungguku di luar lagi."
"Aku sangat terharu Shin-chan. Ternyata selama ini kau selalu tahu."
"Tidak selalu nanodayo. Kau hanya kebetulan duduk di depanku."
Setelah latihan passing selesai, murid-murid diberikan waktu bebas. Mereka boleh bertanding atau berlatih lagi. Kelas 1-B bertanding dengan kelas 1-A. Aomine mengajak Kagami untuk one on one. Mereka tidak diajak bertanding karena level mereka terlalu tinggi untuk diikuti oleh murid lain. Midorima mulai berlatih shooting dengan Takao. Akashi terus menempel dengan Kuroko.
"Yo! Bakagami. Ini waktunya Aku mengalahkanmu untuk kesekian kalinya." (Aomine)
"Diam kau! Aku pasti mengalahkanmu Ahomine!" (Kagami)
"Tetsuya, ayo kita one on one!" (Akashi)
"Akashi-kun, kau itu bukan Aomine-kun, jadi jangan katakan hal itu kepadaku." (Kuroko)
"Ini latihan khusus. Sekarang lewati Aku sambil men-dribble bola. Setelah itu kita akan latihan passing dengan cara yang berbeda." (Akashi)
"… Baiklah." (Kuroko)
Akhirnya pelajaran olahraga berakhir dan semua murid pergi untuk berganti baju dan mengikuti pelajaran berikutnya.
"Akashi-kun terima kasih untuk hari ini. Aku bisa mempelajari basket."
"Kalau kau mau, kau bisa belajar lebih banyak lagi Tetsuya."
Akashi dan Kuroko kembali ke kelasnya masing-masing kemudian mengikuti pelajaran berikutnya.
oOo
Bel tanda istirahat makan siang berdering. Aomine dan Kagami mengajak Kuroko untuk makan di atap sekolah. Oleh karena itu, Aomine pergi ke kantin untuk membeli makanannya bersama Kise. Kuroko dan Kagami lalu bersiap-siap untuk menuju ke atap. Kemudian tiba-tiba muncul Akashi dari pintu belakang kelas dan berjalan menuju ke Kuroko.
'Eh? Akashi-kun. Ah, Aku lupa. Ia mengajakku untuk makan siang bersama.'
"Aku menyuruhmu untuk menungguku Tetsuya. Kau akan makan dimana?"
"Aku akan makan di atap bersama yang lain Akashi-kun."
"Baiklah. Ayo kita pergi ke atap."
Di samping Kuroko Kagami bertanya kepada Akashi. "Hari ini kau akan bersama kami, Akashi?"
"Iya, apa Tetsuya tidak bilang kepadamu Taiga."
Kagami lalu menggaruk – garuk kepalanya. "Um, Kuroko…"
Kuroko langsung berbicara kepada Akashi. "Maaf, Aku lupa Akashi-kun."
Akashi lalu berbicara dengan tegas. "Tetsuya, hilangkan beberapa hal di kepalamu dan gantikan itu dengan diriku. Bagaimana bisa kau semudah itu lupa kepadaku."
"Tapi Aku tidak bisa melakukannya begitu saja dan Aku tidak tahu caranya."
"Kau harus bisa mengatur kepalamu sendiri."
"… Aku akan mencobanya."
Mereka bertiga lalu berjalan ke atap. Disana ternyata sudah hadir Midorima, Murasakibara, Momoi, dan Takao.
"Uum~ Aka-chin, kau akan makan bersama kami hari ini?"
"Iya Atsushi"
Sejak Rainbow Head mengikuti Akashi dan Kuroko, mereka menjadi semakin sadar dengan perasaan yang dimiliki sang wakil kapten untuk Kuroko. Dan mereka bertanya – tanya apakah Kuroko juga mengetahui hal itu.
Beberapa menit kemudian Kise dan Aomine sampai di atap sekolah.
"Yo! Kami berdua sampai."
"Kalian lama sekali Daiki, Ryouta."
"Uwaah! Akashi-cchi ada disini. Dan… Kuroko-cchiiiii, Aku rindu padamu!"
Semua Rainbow Head dan Takao kecuali Akashi, Kuroko, dan Kise segera terpaku di tempat setelah mendengar perkataan Kise.
'Bodoh! Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu di depan Akashi!'
Saat Kise berlari menuju Kuroko, Akashi segera menghalangi Kise dan Ia menarik kerah baju Kise. Lalu membisikkan sesuatu yang hanya bisa didengar Kise dengan nada yang tajam. Matanya berkilat menatap Kise. Wajah Kise segera berubah pucat setelah diberikan tatapan seperti itu.
Akashi berbicara dengan suara rendah yang menekan tapi tetap pelan sehingga mungkin hanya Kise yang mendengar. "Apa kau mau mati hari ini Ryouta? Melakukan hal itu di depanku. Tetsuya bukan sesuatu yang bisa kau rindukan."
"Um... Maafkan Aku Akashi-cchi. Aku tidak mau mati hari ini."
"Jangan datang terlambat lagi hari ini! Kau akan kuberi lebih banyak lagi jika terlambat."
"Baiklah Akashi-cchi. Hiks… hiks…"
"Akashi-kun, kenapa tiba-tiba Kise-kun menangis? Tidak baik jika kau suka membuat orang lain menangis." Kuroko menatap Akashi dengan tidak puas.
"Itu memang kebiasaannya Tetsuya. Kau tidak perlu mempedulikannya. Ayo kita mulai makan!"
Mereka segera mulai makan dengan keadaan diam tapi akhirnya suasana bisa mencair setelah Takao mulai berbicara. Setelah itu percakapan yang ada saat makan siang kembali seperti semula.
Selama kegiatan makan berlangsung, Akashi tidak lupa untuk memperhatikan pemuda birunya.
"Akashi-kun kenapa kau menatapku terus?"
"Aku ingin tau cara makanmu seperti apa Tetsuya."
"Ini bukan cara yang spesial Akashi-kun.
"Tapi dirimu itu spesial."
Kuroko memutar bola matanya dalam hati. 'Lagi-lagi Ia melakukannya.'
Akashi kemudian berbicara kepada para Rainbow Head yang tergabung dalam tim basket. "Kalian ingat kan kalau saat kelas remedial ujian nanti dilakukan, kita mempunyai pertandingan di minggu itu. Jadi kalian semua harus lulus semua ujian tanpa terkecuali."
"Satsuki, pinjami aku catatanmu." (Aomine)
"Kau memang tidak bisa selamat tanpa diriku ya Aomine-kun." (Momoi)
"Aku juga mau Momoi-cchi! Catatanmu sangat rapi." (Kise)
"Eh?! Bagaimana ini!" (Kagami)
"Ada apa Kagamin?"
"Aku tidak tidak begitu mengerti dalam pelajaran dan nilaiku sangat buruk terutama di Bahasa Jepang. Tapi bukannya nilai ujian tidak berhubungan sama sekali dengan pertandingan basket." Kagami berbicara sambil menggaruk – garuk kepala dang mengalihkan pandangannya.
"Aku bisa mengajarimu kalau itu adalah Bahasa Jepang, Kagami-kun."
"Eh benarkah Kuroko? Aku mohon bantuanmu."
"Tapi bagaimana dengan pelajaran yang lain, Bakagami?" (Aomine)
"Um… Aku akan mengusahakannya…"
"Satsuki, buat rencana belajar sebelum ujian. Kita akan memastikan mereka lulus semua." (Akashi)
"Baiklah Akashi-kun."
"Tetsuya bagaimana dengan nilai-nilaimu?"
"Um… nilai-nilaiku…"
"Tetsu ada di kisaran rata-rata. Tidak bagus dan juga tidak buruk." (Aomine)
"Kalau begitu kau akan ikut dengan kami Tetsuya. Kau bisa sekaligus mengajari Taiga."
"Shin-chan, Aku juga mau diajari." (Takao)
"Hah… tidak ada pilihan lain nanodayo. Kita akan mulai hari ini Takao."
"Yeeeey! Belajar di rumah Shin-chan."
Setelah itu mereka melanjutkan makan siang masing-masing. Masa itu adalah masa dimana murid-murid SMA Teikou akan mempersiapkan dirinya untuk ujian. Kuroko juga mulai membuka kembali catatannya dan mulai me-review pelajaran yang ada. Ia menawarkan diri untuk mengajari Kagami jadi dia harus menyiapkan yang terbaik.
oOo
Dua hari kemudian, Kuroko mendapatkan email dari Momoi bahwa mereka akan mengadakan belajar bersama di rumah Kagami besok Minggu. Momoi juga memberitahu waktu dan alamat rumah dari Kagami. Kuroko sudah mempersiapkan bahan review untuk Kagami dan mengira – ngira soal seperti apa yang akan keluar nanti. Ia tidak sabar untuk menantikan kegiatan ini karena ini adalah pertama kalinya Ia akan belajar bersama di rumah teman SMA-nya. Ia jarang belajar bersama-sama dengan temannya jadi hal seperti ini selalu membuatnya sedikit bersemangat.
Hari belajar bersama akhirnya tiba. Kuroko saat itu sedang berjalan menuju rumah Kagami. Seharusnya tidak lama lagi Ia akan menemukan sebuah gedung apartemen.
"Ah sepertinya itu adalah gedungnya."
Kuroko segera mempercepat langkahnya dan masuk ke halaman gedung tersebut. Ia melihat ada sebuah gerobak besar yang ditarik dengan sepeda diletakkan dekat tempat parkir sepeda. Lalu Kuroko masuk ke gedung dan Ia melihat Midorima dan Takao.
"Selamat pagi Midorima-kun, Takao-kun."
Midorima dan Takao langsung menengok ke belakang. "Eh, Kuroko? Apa kau sejak tadi sudah berada disini?"
"Tidak. Aku baru saja sampai Midorima-kun."
"Ohh selamat pagi, biasanya kau selalu saja sudah ada secara tiba-tiba." (Midorima)
"Selamat pagi Kuroko! Perkenalkan ini adalah Tanuki-chan. Lucky item untuk Cancer hari ini." (Takao)
"Selamat pagi Tanuki-chan." 'Lucu juga, Tanuki itu membawa basket di tangannya.'
"Siapa yang menyuruhmu untuk memberinya nama Takao?"
"Dengan begitu akan terlihat lebih lucu Shin-chan."
"…." Midorima kemudian menatap lucky item miliknya dengan serius. Perlahan terlihat seikit semburat merah di wajahnya.
"Ayo kita segera naik keatas!" (Takao)
Ketiga orang tersebut masuk kedalam lift dan menuju lantai dimana tempat Kagami berada. Mereka tiba dan keluar dari lift tersebut kemuian menuju tempat Kagami. Midorima lalu membunyikan bel pintu. Beberapa menit kemudian pintu terbuka dan keluarlah Aomine.
Aomine memberi salam dengan santai. "Selamat datang di rumah Kagami Taiga! Ia sekarang sedang mempersiapkan makanan di dapur."
"Selamat pagi Aomine-kun."
"Oh, pagi Tetsu. Ayo segera masuk kedalam."
Mereka bertiga lalu masuk dan menutup pintu. Mereka melepas sepatu dan segera bergerak menjauhi genkan.
"Sayang! Ketiga tamu kita sudah datang!" (Aomine)
"Apa maksudmu dengan 'Sayang' hah! Jangan bertindak seperti tuan rumah!" (Kagami)
"Tidak kah kau pernah membayangkan seperti apa kira – kira jika ada teman yang berkunjung ke rumahmu dimana kau sudah tinggal bersama pasanganmu."
"Aku tidak pernah membayangkan hal itu! Lagipula kenapa kau membayangkannya sekarang!"
Rumah Kagami merupakan apartemen yang cukup besar untuk dihuninya sendiri. Kagami seharusnya tinggal bersama Ayahnya tetapi pada akhirnya Ia hanya tinggal sendiri. Perabotan di dalamnya sederhana dan terdapat beberapa alat olahraga serta majalah-majalah basket.
"Huwah! Tempatmu cukup besar Kagami. Apa kau tinggal sendiri saja disini?" (Takao)
"Ah, sekarang Aku memang tinggal sendiri Takao."
"Kau tidak bersama Momoi, Aomine?" (Midorima)
"Tidak. Aku malas bangun lebih pagi untuk bersiap-siap kesini jadi tadi malam Aku menginap disini. Ini hari Minggu jadi seharusnya Aku bisa tidur lebih lama dari hari biasanya."
"Tetapi Aku dengar kau selalu tidur di kelas nanodayo."
"Selamat pagi Kagami-kun. Kau sedang membuat apa?"
"Ah pagi Kuroko! Aku sedang membuat cemilan untuk kita belajar nanti. Siap tahu ada yang lapar."
"Tenang saja, Murasakibara-kun dan kau pasti akan lapar."
"Benda apa yang kau bawa itu Takao?" (Kagami)
"Ini Tanuki-chan milik Shin-chan. Ia tidak bisa meninggalkannya di rumah makanya ikut dibawa kemari."
"Jadi kau sekarang bermain dengan patung hewan Midorima." (Aomine)
"Itu adalah lucky item untuk hari ini nanodayo."
"Aomine siapkan gelas-gelas dan barley tea untuk mereka! Oh ya, siapkan gelasnya lebih banyak lagi untuk yang belum datang!"
"Baik Kagami sayang!"
"Jangan memanggilku dengan sebutan itu lagi! Kau mau kuhajar hah?!"
"Nanti kau bisa sedih kalau menghajarku Bakagami."
"Justru Aku akan mendapatkan kedamaian kalau berhasil menghajarmu Ahomine!"
"Hahahahahaha…. Hahhhahah…."
"Diam Takao"
'Mereka suka sekali membuat keributan. Untung, Kise-kun belum ada disini.'
Tiba-tiba terdengar bunyi dering bel pintu. Aomine segera keluar dari ruangan dan menuju pintu masuk. Tak lama kemudian muncul Momoi dan Kise yang masuk kedalam ruangan.
"Uwaaah! Tempat ini besar Kagami-cchi!" (Kise)
"Jadi kau hanya tinggal sendirian saja di tempat sebesar ini. Pantas saja Aomine-kun betah main kesini. Kenapa kau tidak bilang kalau kau menginap disini Aomine-kun? Aku kan jadi ke rumahmu dulu tadi." (Momoi)
"Kau tidak harus selalu tahu dimana keberadaanku Satsuki."
"Pagi Kagami-cchi! Kapan-kapan Aku akan main ke rumahmu. Aku akan menemanimu disini. Kau sedang apa?"
"Aku baru saja selesai menyiapkan cemilan. Sekarang Aku akan membersihkan ini." (Kagami)
"Eh, jadi kau sudah membuat sesuatu. Padahal Aku juga mau membuat cemilan." (Momoi)
"Satsuki, hari ini kita akan belajar untuk ujian bukan untuk membuat senjata biologis." (Aomine)
"Huh! Aomine-kun baka! Kemampuanku sudah berkembang tahu."
"Iya, senjata biologisnya sekarang lebih ampuh kan?"
"Dasar ganguro! Aomine baka!"
Bel pintu kembali berbunyi. Kali ini yang masuk adalah Akashi dan Murasakibara.
"Pagi!~ Maaf mengganggu. *kruk*kruk*kruk" (Murasakibara)
"Maaf sudah membuat kalian menunggu." (Akashi)
"Selamat pagi Momoi-san, Murasakibara-kun, Akashi-kun." (Kuroko)
"Huwaah! Sejak kapan kau ada dibelakangku Kuroko-cchi?! Dan kau melupakanku."
"Maafkan Aku Kise-kun."
"Tetsu-kuuun!"
"Eh~ Kuro-chin sudah ada disini?"
"Selamat pagi Tetsuya." Setelah tersenyum kepada Kuroko, Akashi langsung mengubah wajahnya menjadi keras. "Daiki, Ryouta, Shintaro, Atsushi, Taiga, Satsuki, Takao, dan Tetsuya. Apa kalian sudah siap untuk belajar hari ini. Aku berharap kalian tetap serius walaupun ini adalah hari libur. Dan terima kasih untuk Taiga karena sudah menyediakan tempat."
'Dia hanya memberi salam kepada Kuroko saja!'
Mereka semua kemudian mulai duduk berkeliling di sekitar meja dan mulai menyiapkan alat tulis dan buku yang diperlukan.
"Disini kita mempunyai tiga orang yang mempunyai kemungkinan sangat besar untuk gagal. Taiga, Daiki, Ryouta, kalian harus mendapatkan perlakuan khusus. Untuk sesi pertama kita akan mempelajari ilmu alam. Atsushi dan Satsuki akan belajar dengan Tetsuya dan Kazunari. Kemudian Daiki, Taiga, dan Ryouta, kalian akan menghadapi Aku dan Shintaro." Akashi menajamkan tatapannya yang ditunjukan untuk Aomine, Kise, dan Kagami.
'Dia mengatakan menghadapi bukan mengajari.'
"Baiklah ayo kita mulai. Pelajari sebisa kalian dalam dalam rentang waktu ini lalu kita akan mengadakan tes singkat."
Sesi belajar pertama dimulai. Terdapat dua perbedaan suasana antara kedua kelompok tersebut. Terdapat suasana yang menegangkan di kelompok Akashi, bahkan Midorima juga merasa sedikit tegang. Tetapi itu berhasil membuat ketiga orang tersebut berkonsentrasi.
Setelah sesi belajar selesai, diadakan tes singkat dimana suatu soal yang sudah disiapkan sebelumnya dibagikan kemudian dijawab.
Tes singkat selesai dan semua jawaban dikumpulkan kemudian langsung diperiksa Akashi dengan cepat.
Untuk bagian awal, Akashi mulai dengan Aomine. "Daiki kenapa kau selalu menjawab semua pertanyaan dengan huruf katakana?"
Tanpa merasa curiga Aomine langsung menjawab Akashi. "Oh, itu adalah gayaku dalam menjawab soal."
Akashi lalu mengeluarkan senyuman yang sedikit mengerikan dengan penekanan pada perkataan yang dikeluarkannya. "Daiki, jika kau mau, kau bisa belajar di rumahku untuk menulis huruf hiragana yang baik dan benar. Kita juga bisa sekaligus belajar Bahasa Jepang. Aku tahu suatu cara dimana kau bisa belajar dengan cepat."
Dengan instingnya Aomine merasakan suatu bahaya dari perkataan Akashi barusan. "Tidak usah Akashi. Aku akan belajar sendiri saja."
Sekarang giliran Kagami. "Taiga, apa kau ingin bercita-cita sebagai komedian?"
Kagami menatap Akashi dengan bingung. "Er, tidak."
"Tapi jawaban dan alasan yang kau berikan ini seperti kau sedang bermain 'Tsukkomi Terbaik!' dengan si pembuat soal dimana Akulah yang membuat soal ini. Apa kau mau bermain denganku Taiga?" Nada suara yang digunakan juga dikeluarkan untuk menegaskan kata – katanya.
"Tidak Akashi. Aku tidak mengajakmu bermain."
Yang terakhir adalah Kise. "Ryouta, kenapa sebagian jawabanmu ngawur?"
Kise sudah panic duluan saat melihat Aomine dan Kagami. "Maaf Akashi-cchi. Aku tidak tahu harus menjawab apa lagi."
"Kalian bertiga benar – benar membutuhkan pelatihan khusus hah?" (Akashi)
"…"
"Baiklah kita akan lanjut ke pelajaran selanjutnya. Aku ingin melihat kemampuan kalian secara keseluruhan."
Kegiatan belajar dan selalu diakhiri dengan tes singkat. Terkadang formasi belajar berubah bergantung pada pelajaran yang ada.
"Sekarang kita akan belajar dengan Tetsuya untuk Bahasa Jepang. Jadi jika kalian bertiga berani membuat Tetsuya menangis dengan ketidakmampuan yang kalian miliki, Aku akan memberikan hukuman fisik pada masing-masing dari kalian." (Akashi)
Kuroko lalu menatap Akashi dengan kesal. "Kau tidak boleh berkata seperti itu kepada temanmu Akashi-kun. Dan Aku juga bukan anak yang cengeng."
'Untung Kuroko/Tetsu/Kuroko-cchi itu kurang ekspresi.'
"Baiklah ayo kita mulai."
(Beberapa jam kemudian)
"Huwaaah! Akhirnya selesai juga. Apa kalian tidak merasa kalau soal yang diberikan Akashi-cchi itu lebih sulit dari yang diberikan Sensei?"
/ Akashi sedang menerima telpon diluar /
Sesi belajar sudah selesai dan sekarang mereka sudah bebas untuk melakukan kegiatan lain.
"Bagaimanapun juga julukan 'Miracles' baginya bukan hanya berarti untuk basket. Julukan itu juga berlaku untuk akademik." Aomine beristirahat sambil tiduran di lantai. Otaknya merasa lelah setelah sudah lama tidak dipakai untuk memikirkan pelajaran sekolah. "Tapi bagiku itu tidak masalah selama bukan berkaitan dengan basket."
"Kau terlalu masa bodoh Aomine. Kalau kita tidak bisa melewati ini, kita tidak akan ikut bertanding." Kagami sekarang sedang meletakkan kepalanya di meja yang mereka gunakan untuk belajar.
"Tentu saja Aku bisa melewati ini, Aku tidak sebodoh dirimu Taiga-chan."
"Kenapa kau memanggilku seperti itu?!" Posisi duduk Kagami langsung tegak lagi.
"Kita sedang berada di rumahmu jadi tidak ada salahnya kalau Aku memanggil namamu. Oh ya, kau juga boleh memanggil namaku."
"Huh! Aku tidak mau. Dan jangan panggil Aku seperti itu lagi."
"Baiklah, tapi kau tidak usah malu kalau kita sedang berdua saja Bakagami."
"…" "Aku benar-benar ingin menghajarmu Ahomine!"
"Hah~, kalian berdua mulai lagi. Kalian pasti bisa memberikan tontonan yang menarik dalam reality show mengenai pasangan yang baru saja menikah –ssu." (Kise)
"Shin-chan kita juga bisa ikut acara itu." (Takao)
"Diam Takao! Mereka itu hanya Ahomine dan Bakagami." (Midorima)
"Kaga-chin~ Aku lapar!" (Murasakibara)
"Ah, baiklah. Aku akan menyediakan makanan yang sudah kubuat."
"Aku akan membantumu Kagamin." (Momoi)
"Kagami-kun, biar kubantu."
"Ah, baiklah. Hm Kuroko, kemana saja kau tadi?"
"Aku duduk di belakangmu Kagami-kun."
"Jangan duduk di belakangku Kuroko. Bagaimana kalau Aku tiba-tiba menabrakmu."
"Entah kenapa, Akashi-kun selalu memperhatikanku. Karena itu Aku duduk di belakangmu supaya pandangannya sedikit terhalang. Dengan begitu Aku tidak akan merasa selalu diperhatikan."
"Oh ya? Aku tidak menyadarinya sama sekali."
"Tentu saja. Akashi-kun membuatmu sangat fokus tadi."
"Benar. Ia bisa menyerangku kalau tahu Aku mengalihkan perhatianku. Tapi kira – kira kenapa Ia memperhatikanmu ya?"
"Ia pernah bilang kalau diriku ini spesial."
"Kau memang spesial Tetsu-kun. Aku akan hanya pernah bertemu sekali dengan orang sepertimu dan kau adalah orangnya. Jadi jangan merasa rendah diri lagi." (Momoi)
"…"
"Makanan sudah siap! Ayo kita makan!" (Kagami)
Semua orang mulai bergerak ke meja yang ada di dekat dapur. Mereka mulai mengambil makanan yang ada dan mulai ada. Kagami ternyata juga menyediakan kue. Ia mulai memotong kue tersebut dan meletakannya di piring. Saat itu juga, Akashi masuk kembali kedalam dan bergerak ke tempat mereka. Setelah beberapa lama, makanan yang ada mulai habis.
"Hmm~, nyam nyam… Ini enak."
"Kau boleh menghabiskannya Murasakibara."
Setelah kegiatan makan selesai, mereka mulai menyalakan TV dan mengobrol. Kegiatan belajar sudah selesai jadi selanjutnya adalah kegiatan bebas.
"Taiga, terima kasih hari ini kau sudah bersedia memberikan tempatmu dan menyediakan makanan bagi kami." (Akashi)
"Ah, tidak apa-apa. Aku juga harus berterima kasih pada kalian karena sudah mengajariku."
"Kalau begitu Aku dan Tetsuya permisi dulu. Kami akan pulang duluan."
"Eh? Aku akan pulang duluan." (Kuroko)
"Aku akan mengantarmu sampai rumah Tetsuya."
"Aku bisa pulang sendiri Akashi-kun."
"Tidak, kita akan pulang bersama."
"Kenapa?"
"Karena Aku menginginkannya."
'Apa yang dipikirkannya?'
"Sebaiknya kau menurut saja Kuroko. Walaupun kau terus ribut dengannya, pada akhirnya kau pasti akan pulang bersama dengannya nanodayo." (Midorima)
"Baiklah Akashi-kun, Aku akan pulang. Teman-teman Aku pulang duluan. Kagami-kun terima kasih atas makanannya."
"Sampai jumpa lagi kalian berdua!"
Akashi dan Kuroko keluar dari tempat Kagami dan bergerak ke bawah untuk keluar dari gedung apartemen. Mereka lalu mulai berjalan ke arah rumah Kuroko.
"Akashi-kun, kenapa kau ingin pulang bersamaku?" (Kuroko)
"Apa kau benar-benar tidak tahu jawabannya Tetsuya? Bukankah sudah jelas tadi." (Akashi)
"Kenapa hanya bersama dengan diriku? Kita juga bisa pulang bersama yang lain."
"Aku harus pulang sekarang dan mereka masih ingin berada disana. Lagipula, kalaupun kita pulang pada waktu yang bersamaan, kita takkan berjalan ke arah yang sama."
"Kalau begitu kau tidak perlu mengantarku."
"Sudah kubilang kalau Aku menginginkannya Tetsuya."
"Jadi kau hanya mau menghabiskan waktu bersamaku."
"Akhirnya kau mengerti apa yang kuinginkan."
"Tapi justru hal itu yang paling tidak Aku mengerti."
"Aku tertarik denganmu Tetsuya. Jadi Aku ingin menghabiskan waktu bersamamu lebih sering."
"…." "Aku tidak tahu harus berkata apa Akashi-kun."
"Kau tidak perlu berbicara kalau memang tidak ingin."
"…."
"Apa kau baru pertama kali mengalami hal seperti ini?" (Akashi)
"Iya." "Apa ini juga pertama kalinya bagi Akashi-kun?" (Kuroko)
Akashi lalu tersenyum hangat. "Iya dan Aku senang dengan jawabanmu. Memang itu yang kuharapkan."
"Apa kau juga ingin agar diriku tertarik denganmu?"
"Tentu saja Tetsuya. Hal itu sudah tergambar dengan jelas kan."
"Jadi Akashi-kun mau agar Aku selalu memperhatikanmu, selalu muncul dimana saja kau berada, mengajakmu bermain, membaca pikiranmu, pergi kencan denganmu, dan pulang bersamamu?"
"Aku tidak masalah dengan itu tapi sebaiknya kau melakukannya dengan caramu sendiri."
"…." "Baiklah, Aku akan memikirkan cara yang tepat."
"Jadi, kau mulai tertarik denganku Tetsuya?"
"Aku tertarik dengan Akashi-kun yang tertarik denganku. Aku ingin tahu kenapa kau bisa tertarik denganku."
"Hahaha, kau memang menarik Tetsuya. Aku memang tidak salah memilihmu."
"Tolong jangan anggap Aku sebagai mainan Akashi-kun."
"Kau bukan mainan, Aku tidak bisa menganggapmu seperti itu. Tapi Aku sangat senang jika kau mau bermain denganku."
"Baiklah, kapan-kapan Aku akan mengajakmu bermain."
'Hm, Akashi-kun tersenyum senang.'
.
.
.
Bagaimana dengan chapter ini? Pasti kurang ya, idenya lagi sedikit buntu. Karakternya juga semakin OOC. Tapi waktu buat yang ini ngak nyangka kalau sampai 3rb kata, awalnya mau dibagi dua tapi tanggung, ya sudahlah! Makasih banyak bagi yang udah follow dan favorite!
*Jika ada typo, bisa langsung beritahu.
*Jangan lupa reviewnya, saran & kritik pasti diterima
*Waktu update selanjutnya belum tahu kapan soalnya ide belum terlalu jelas
